Anda di halaman 1dari 23

TUGAS SKILL LAB

PEMERIKSAAN SISTEM MOTORIK Oleh: KELOMPOK F


Rizky Ratnawati Meytrisna Ajeng Z Annisa Kinanti Asti Vina Nadiyah Hajjah ` Eny Nurmaida Devani Bagus Aprinda Natiti Putri Ariani Vony Safitri Y usmarina Fauziyah Damayanti Fajrina Muflihah A Febrina Sylva Fridayanti Hilwa Alfi Fauziyah Robitha Kartika Sari Sharfina Dea Resita Azharini (112010101010) (112010101014) (112010101016) (112010101018) (112010101019) (112010101020) (112010101031) (112010101039) (112010101040) (112010101054) (112010101058) (112010101063) (112010101081) (112010101082) (112010101088)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER 2013

PEMERIKSAAN MOTORIK
Pada pemeriksaan sistem motorik, tiap bagian badan yang dapat bergerak harus dilakukan : 1. Inspeksi 2. Pemeriksaan tonus otot atau pemeriksaan gerakan pasif 3. Pemeriksaan kekuatan otot atau pemeriksaan gerakan aktif

1. INSPEKSI Pada inspeksi diperhatikan sikap, bentuk, ukuran, dan kemungkinan adanya gerak abnormal yang tidak dapat dikendalika. a. Sikap Memperhatikan sikap secara keseluruhan dan sikap tiap bagian tubuh pada saat pasien berdiri, duduk, berbaring, bergerak, dan berjalan. Pasien berdiri dan berjalan : Pasien dengan gangguan serebelum berdiri dengan muka membelok ke arah kontralateral terhadap lesi, bahunya pada sisi lesi agak lebih rendah, dan badannya miring ke sisi lesi. Penderita penyakit Parkinson berdiri dengan kepala dan leher dibungkukkan ke depan, lengan dan tungkai berada dalam fleksi. Bila ia jalan, tampak seolah-olah hendak jatuh ke depan, gerakan asosiatifnya terganggu, lengan kurang dilenggangkan, dan terlihat tremor kasar, terutama di tangan.

Pada anak dengan distrofia muskulorum progresiva terlihat lordosis yang jelas. Bila ia berjalan, panggul seolah-olah berputar dengan tujuan agar tungkai menjadi tumpuan berat badan.

Pada penderita hemiparese oleh gangguan sistem piramidal, lengan berada dalam sikap fleksi, sedangkan tungkai dalam ekstensi. Tungkai bergerak sirkumduksi saat berjalan. Pada pasien dengan paraparese jenis sentral, cara berjalannya seperti gunting, yaitu tungkai seolah-olah menyilang. Penderita dengan gangguan di serebelum berjalan dengan kaki mengangkang, demikian juga penderita tabes dorsalis. Selain itu, penderita tabes dorsalis selalu melihat ke bawah memperhatikan kaki dan jalannya, sebab kalau tidak, ia akan jatuh. Pasien polineuritis berjalan seperti ayam, yaitu tungkai difleksikan tinggi-tinggi, jalan dengan memfleksikan persendian lutut, supaya dapat mengangkat kakinya yang kurang mampu melakukan dorsofleksi. Pada anak yang sedang meronta atau orang dewasa yang gelisah, bagian yang paretis terlihat kurang digerakkan. b. Bentuk : Perhatikan adanya deformitas c. Ukuran 1) Perhatikan apakah panjang badan tubuh sebelah kiri sama dengan yang kanan. Orang dewasa yang mengalami lumpuh sejak masa kanak-kanak, ukuran ekstremitas yang lumpuh lebih pendek daripada yang sehat. 2) Perhatikan besar (isi) dan kontur (bentuk) otot, adakah atrofi atau hipertrofi. Besar / isi : Jika terdapat hipertrofi atau atrofi maka bandingkan dengan otot sisi lainnya dan ukurlah kelilingnya, pengukuran dilakukan dengan menyebutkan tempat di mana dilakukan pengukuran, biasanya digunakan tonjolan tulang sebagai patokan, misalnya 3 cm di atas olekranon, atau patella atau tonjolan lainnya. Bentuk otot : Hal ini dilakukan ketika otot dalam keadaan beristirahat dan berkontraksi. Bila didapatkan atrofi, kontur biasanya berubah atau berkurang.

Pada keadaan pseudo-hipertrofi, ukuran otot tampak lebih besar, namun tenaganya berkurang karena jaringan otot diganti oleh jaringan lemak atau jaringan ikat. Hal ini didapatkan pada distrofia muskulorum progresiva, dan terjadi di otot betis dan gluteus. d. Gerakan involuter (abnormal yang tidak terkendali) Gerakan abnormal merupakan kontraksi otot-otot volunter yang tidak terkendali . Gerakan abnormal dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan keadaan. Diantara gerakan abnormal yang tidak terkendali yang dapat dikenali adalah : tremor, khorea, atetose, distonia, balismus, spasme, tik, fasikulasi, dan miokloni. Nilainya secara klinis dalam menentukan diagnosis dan lokalisasi penyakit saraf dapat sangat besar, oleh karena itu harus diamati dengan baik. Gerakan abnormal ini dapat mengenai tiap bagian tubuh dan timbul karena terlibatnya berbagai bagian sistem motorik, misalnya : korteks, serabut desenden korteks, ganglia basal, batang otak dan pusat-pusatnya, serebelum dan hubunganhubungannya, medulla spinalis, serabut saraf perifer, atau ototnya sendiri. Sifat gerakan dipengaruhi oleh letak lesi dan kelainan patologiknya. Lesi pada tempat yang berlainan kadang dapat menyebabkan gerakan yang identik, dan proses patologis yang berlainan pada tempat yang sama kadang dapat mengakibatkan bermacam bentuk gerakan abnormal. Pada pemeriksaan gerakan abnormal kita harus mengobservasi penampilan klinisnya dan manifestasi visualnya, menganalisis pola gerakan dan komponenkomponennya. Untuk mengetahui gerakan abnormal ini dapat dibantu dengan palpasi, terlebih bila gerakannya sangat lemah dan terbatas pada sebagian dari kelompok otot.

a. Tremor

Tremor adalah suatu gerakan gemetar yang berirama dan tidak terkendali, yang terjadi karena otot berkontraksi dan berelaksasi secara berulang-ulang. Ia dapat melibatkan satu atau lebih bagian tubuh. Jenis tremor yang perlu kita kenal adalah tremor normal atau fisiologis, tremor halus (disebut juga tremor toksik) dan tremor kasar. 1) Tremor fisiologis didapatkan bila anggota gerak ditempatkan pada posisi yang sulit, atau bila kita melakukan gerakan volunter dengan sangat lambat. Tremor

yang terlihat pada orang normal yang sedang marah atau ketakutan merupakan aksentuasi dari tremor fisiologis ini. 2) Tremor halus dianggap juga sebagai tremor toksik. Contoh yang khas adalah tremor yang dijumpai pada penderita hipertiroid. Tremor ini terutama terjadi pada jari dan tangan. Kadang-kadang tremor ini sangat halus dan sukar dilihat. Dapat dilihat dengan cara, menempatkan kertas di atas jari-jari kemudian akan tampak kertas tersebut bergetar walaupun tremor belum jelas terlihat. Tremor toksik ini didapatkan pula pada keracunan nikotin, kafein, obat-obatan seperti adrenalin, efedrin, atau barbiturat. 3) Tremor kasar, salah satu contohnya ialah tremor yang didapatkan pada penyakit Parkinson. Ini merupakan tremor yang lambat, kasar, dan majemuk. Pada penyakit Parkinson, gerakan jari-jari mirip gerakan membuat pil (pill rolling tremor). Contoh lainnya adalah tremor intensi. Tremor intensi merupakan tremor yang timbul waktu melakukan gerakan volunter dan menjadi lebih nyata ketika gerakan hampir mencapai tujuannya. Tremor ini merupakan tremor kasar, dan dapat dijumpai pada gangguan serebellum. Pada tes tunjuk-hidung pada pasien dengan gangguan di serebelum, tremor menjadi lebih nyata pada saat telunjuk hampir mancapai hidung. Tremor juga dapat dikelompokkan berdasarkan kecepatan dan irama gerakannya,

letak dan frekuensi serta beratnya:


1) 2)

Tremor aksi, terjadi ketika otot dalam keadaan aktif. Tremor istirahat, terjadi ketika otot sedang beristirahat. Meskipun penderita sedang beristirahat total, lengan atau tungkainya bisa terus gemetaran. Tremor ini bisa merupakan pertanda dari penyakit Parkinson.

3)

Tremor yang disengaja, terjadi jika seseorang membuat gerakan yang disengaja. Tremor ini bisa terjadi pada seseorang yang memiliki kelainan pada serebelum (otak kecil) atau penghubungnya. Yang sering

menyebabkan terjadinya tremor ini adalah sklerosis multipel. Tremor yang disengaja juga bisa terjadi pada penyakit neurologis lainnya, stroke atau alkoholik menahun. Tremor yang disengaja lebih lambat daripada tremor esensial serta menyebabkan gerakan yang lebih luas dan serabutan.
4)

Tremor esensial merupakan tremor yang biasanya mulai timbul pada masa dewasa, yang secara perlahan menjadi semakin nyata dan tidak memiliki penyebab yang pasti. Tremor esensial biasanya bersifat ringan dan tidak

menunjukkan adanya penyakit yang serius, tetapi bisa mengganggu, yaitu mempengaruhi tulisan tangan, menyebabkan kesulitan dalam menggunakan perkakas dan mempermalukan penderitanya. Keadaan ini bisa diperberat oleh stres emosional, kecemasan, kelelahan, kafein atau obat perangsang yang diresepkan oleh dokter. Obat-obatan (terutama untuk asma dan emfisema) juga bisa memperburuk tremor esensial.
5) 6)

Tremor senilis adalah tremor esensial yang timbul pada usia lanjut. Tremor familial merupakan tremor esensial yang terjadi di dalam satu keluarga.

b. Khorea

Kata khorea berasal dari kata Yunani yang berarti menari. Pada khorea gerak otot berlangsung cepat, tiba-tiba, aritmik, dan kasar yang dapat melibatkan satu ekstremitas, separuh badan atau seluruh badan. Hal ini dengan khas terlihat pada anggota gerak atas (lengan dan tangan), terutama bagian distal. Pada gerakan ini tidak didapatkan gerakan yang harmonis antara otot-otot penggerak, baik antar otot yang sinergis maupun antagonis.

Bila pasien diminta meluruskan lengan dan tangannya, didapatkan hiperekstensi pada falang proksimal dan terminal, dan pergelangan tangan berada dalam fleksi dengan sedikit dipronasikan. Hal ini menjadi lebih jelas bila pasien diminta

mengangkat lengannya ke atas. Jari-jari tangan biasanya akan diregangkan, dan ibu jari diabduksikan dan terarah ke bawah.

Bila pasien diminta menggenggam tangan pemeriksa, terasa tenaga genggaman tidak konstan (tidak tetap) melainkan berfluktuasi, terasa melemah kemudian menguat lagi dan seterusnya.

Bila khorea melibatkan lidah, didapatkan kesukaran berbicara atau mengunyah. Jika penderitanya diminta mengeluarkan lidah, hal ini dilakukannya secara mendadak dan kemudian ditariknya kembali.

Gerak khorea dapat dibuat nyata bila pasien disuruh melakukan dua macam gerakan sekaligus, misalnya ia disuruh menaikkan lengannya ke atas sambil menjulurkan lidah. Gerakan khorea didapatkan dalam keadaan istirahat dan menjadi lebih hebat bila

ada aktivitas dan ketegangan. Khorea menghilang bila penderitanya tidur. Gerakan khorea antara lain dijumpai pada penyakit khorea Sydenham, khorea Huntington, dan khorea gravidarum. c. Athetosis

Kata athetosis berasal dari kata Yunani yang berarti berubah. Athetosis adalah gerakan memutar yang lambat dan terus menerus, biasanya pada kaki dan tangan. Korea dan athetosis bisa terjadi secara bersamaan, dan disebut koreoathetosis. Berlainan dari khorea yang gerakannya berlangsung cepat, mendadak, dan terutama melibatkan bagian distal, maka athetosis ditandai oleh gerakan yang lebih lamban, seperti gerak ular, dan melibatkan otot bagian distal, dapat cenderung menyebar ke proksimal. Atetosis dapat dijumpai pada banyak penyakit yang melibatkan ganglia basal.

d. Distonia

Distonia adalah kelainan gerakan dimana kontraksi otot yang terus menerus menyebabkan gerakan berputar dan berulang atau menyebabkan sikap tubuh yang abnormal. Gerakan tersebut tidak disadari dan kadang menimbulkan nyeri, bisa mengenai satu otot, sekelompok otot (misalnya otot lengan, tungkai atau leher) atau seluruh tubuh. Pada beberapa penderita, gejala distonia muncul pada masa kanak-kanak (5-16 tahun), biasanya mengenai kaki atau tangan. Beberapa penderita lainnya baru menunjukkan gejala pada akhir masa remaja atau pada awal masa dewasa.

Penyebab

Para ahli yakin bahwa distonia terjadi karena adanya kelainan di beberapa daerah di otak (ganglia basalis, talamus, korteks serebri), dimana beberapa pesan untuk memerintahkan kontraksi otot diolah. Diduga terdapat kerusakan pada kemampuan tubuh untuk mengolah sekumpulan bahan kimia yang disebtu neurotransmiter, yang membantu sel-sel di dalam otak untuk berkomunikasi satu sama lain. Gejala-gejala distonik bisa disebabkan oleh: Cedera ketika lahir (terutama karena kekurangan oksigen) Infeksi tertentu Reaksi terhadap obat tertentu, logam berat atau keracunan karbon monoksida Trauma Stroke. Sekitar 50% kasus tidak memiliki hubungan dengan penyakit maupun cedera, dan disebut distonia primer atau distonia idiopatik. Selebihnya merupakan distonia keturunan yang sifatnya dominan. Distonia juga bisa merupakan gejala dari penyakit lainnya, yang beberapa diantaranya diturunkan (misalnya penyakit Wilson). Gejala Gejala awal adalah kemunduran dalam menulis (setelah menulis beberapa baris kalimat), kram kaki dan kecenderunagn tertariknya satu kaki keatas atau kecenderungan menyeret kaki setelah berjalan atau berlari pada jarak tertentu. Leher berputar atau tertarik diluar kesadaran penderita, terutama ketika penderita merasa lelah. Gejala lainnya adalah tremor dan kesulitan berbicara atau mengeluarkan suara. Gejala awalnya bisa sangat ringan dan baru dirasakan hanya setelah olah raga berat, stres atau karena lelah. Lama-lama gejalanya menjadi semakin jelas dan menyebar serta tak tertahankan. Klasifikasi distonia Berdasarkan bagian tubuh yang terkena: 1. Distonia generalisata, mengenai sebagian besar atau seluruh tubuh 2. Distonia fokal, terbatas pada bagian tubuh tertentu 3. Distonia multifokal, mengenai 2 atau lebih bagian tubuh yang tidak berhubungan

4. Distonia segmental, mengenai 2 atau lebih bagian tubuh yang berdekatan 5. Hemidistonia, melibatkan lengan dan tungkai pada sisi tubuh yang sama, seringkali merupakan akibat dari stroke.

Beberapa pola distonia memiliki gejala yang khas: 1. Distonia torsi, sebelumnya dikenal sebagai dystonia musculorum deformans atau DMD. Merupakan distonia generalisata yang jarang terjadi dan bisa diturunkan, biasanya berawal pada masa kanak-kanak dan bertambah buruk secara progresif. Penderita bisa mengalami cacat yang serius dan harus duduk dalam kursi roda. 2. Tortikolis spasmodik atau tortikolis merupakan distonia fokal yang paling sering ditemukan. Menyerang otot-otot di leher yang mengendalikan posisi kepala, sehingga kepala berputar dan berpaling ke satu sisi. Selain itu, kepala bisa tertarik ke depan atau ke belakang. Tortikolis bisa terjadi pada usia berapapun, meskipun sebagian besar penderita pertama kali mengalami gejalanya pada usia pertengahan. Seringkali mulai secara perlahan dan biasanya akan mencapai puncaknya.

Sekitar 10-20% penderita mengalami remisi (periode bebas gejala) spontan, tetapi tidak berlangsung lama. 3. Blefarospasme merupakan penutupan kelopak mata yang tidak disadari. Gejala awalnya bisa berupa hilangnya pengendalian terhadap pengedipan mata. Pada awalnya hanya menyerang satu mata, tetapi akhirnya kedua mata biasanya terkena. Kejang menyebabkan kelopak mata menutup total sehingga terjadi kebutaan fungsional, meskipun mata dan penglihatannya normal. 4. Distonia kranial merupakan distonia yang mengenai otot-otot kepala, wajah dan leher. 5. Distonia oromandibuler menyerang otot-otot rahang, bibir dan lidah.

Rahang bisa terbuka atau tertutup dan penderita mengalami kesulitan berbicara dan menelan. 6. Disfonia spasmodik melibatkanotot tenggorokan yang mengendalikan proses berbicara. Juga disebut disfonia spastik atau distonia laringeal, yang menyebabkan kesulitan dalam berbicara atau bernafas. 7. Sindroma Meige adalah gabungan dari blefarospasme dan distonia oromandibuler, kadang-kadang dengan disfonia spasmodik.

8. Kram penulis merupakan distonia yang menyerang otot tangan dan kadang lengan bawah bagian depan, hanya terjadi selama tangan digunakan untuk menulis. Distonia yang sama juga disebut kram pemain piano dan kram musisi. 9. Distonia dopa-responsif merupakan distonia yang berhasil diatasi dengan obatobatan. 10. Salah satu variannya yang penting adalah distonia Segawa

Mulai timbul pada masa kanak-kanak atau remaja, berupa kesulitan dalam berjalan. Pada distonia Segawa, gejalanya turun-naik sepanjang hari, mulai dari kemampuan gerak di pagi hari menjadi ketidakmampuan di sore dan malam hari, juga setelah melakukan aktivitas.

e. Balismus Balismus (hemibalismus) ialah gerak otot yang datang tiba-tiba, kasar dan cepat, dan terutama mengenai otot-otot skelet yang letaknya proksimal, sedangkan pada khorea, gerak otot kasar, cepat, dan terutama melibatkan otot-otot yang agak distal.

f.

Spasme Spasmus merupakan gerakan abnormal yang terjadi karena kontraksi otot-otot yang biasanya disarafi oleh satu saraf. Spasme klonik mulai tiba-tiba, berlangsung sebentar dan dapat berulang-ulang. Spasme tonik dapat berlangsung lama dan terus menerus. Spasme klonik menyerupai kontraksi otot yang terjadi pada waktu faradisasi. Spasme dapat timbul karena iritasi saraf perifer atau otot, tetapi dapat juga timbul karena iritasi di suatu tempat, mulai dari korteks sampai ke serabut otot. Contoh dari spasme ialah trismus, rhisus sardonikus, dan hiccup/cegukan. Trismus merupakan spasme tonik otot pengunyah, dan rhisus sardonikus adalah spasme tonik pada otot fasial.

g. Gerenyet (Tic) atau Tik pada anak-anak

Gerenyet urat syaraf (Tics) adalah gerakan tidak disengaja yang cepat tanpa tujuan, berulang-ulang tetapi tidak berirama yang secara virtual identik terhadap satu dengan lain. Mereka bisa ditekan tetapi hanya untuk waktu yang singkat dan hanya dengan upaya sadar.

Gerenyet urat syaraf bisa sederhana atau kompleks. Gerenyet urat syaraf ringan, seperti kedipan berlebihan, meringis, atau sentakan kepala, bisa diawali sebagai gelisah mannerisms. Gerenyet urat syaraf kompleks, seperti yang terjadi pada sindrom Tourette, seringkali menyerupai bagian-bagian pada perilaku normal.

Penyebab Gerenyet urat syaraf, khususnya gerenyet urat syaraf ringan, bisa terjadi dengan sendirinya. Kebanyakan gerenyet urat syaraf dimulai selama masa kanak-kanak dan hilang tanpa pengobatan. Atau gerenyet bisa terjadi sebagai bagian dari gangguan lain, seperti penyakit Huntington, gangguan obsessive-compulsive, beberapa infeksi, atau sebuah stroke. Beberapa obat-obatan dan racun menyebabkan gerenyet urat syarat.

Gejala Sebelum gerenyet urat syaraf terjadi, orang bisa merasakan dorongan untuk melakukan gerenyet urat syaraf. Dorongan tersebut serupa dengan keinginan untuk bersin atau menggaruk rasa gatal. Ketegangan terbentuk, biasanya pada bagian tubuh yang terkena. Gerenyet urat syaraf tersebut kadangkala bisa di tunda untuk hitungan detik sampai menit, tetapi biasanya segera menjadi mengganggu. Kebanyakan orang mengalami masalah pengendalian gerenyet, khususnya selama mengalami stress emosi. Meskipun begitu, beberapa orang bisa menekan beberapa gerenyet, biasanya dengan susah payah. Memberi perhatian terhadap gerenyet urat syaraf, terutama sekali pada anak-anak, bisa membuat gerenyet urat syaraf tersebut memburuk.
h. Fasikulasi Fasikulasi merupakan gerakan halus, cepat, dan berkedut dari satu berkas (fasikulus) serabut otot atau satu unit motorik. Satu unit motorik ialah satu sel neuron motorik, aksonnya serta semua serabut otot yang disarafinya. Gerak fasikulasi biasanya tidak menyebabkan gerakan pada persendian, kecuali bila fasikulasi terdapat di jari-jari. Dalam hal sedemikian kadang terjadi gerakan pada persendian.

Penyebab fasikulasi belum jelas benar, iritasi pada sel neuron motorik dapat menimbulkan fasikulasi. Adanya fasikulasi dapat dibuat lebih nyata dengan jalan memberikan rangsang mekanis pada otot tersebut, misalnya dengan pukulan. Fasikulasi mempunyai nilai prognostik pada penyakit degeneratif yang melibatkan sel neuran motorik, misalnya ALS (sklerosis amiotrofik lateral). Makin banyak fasikulasi, makin cepat progresivitas penyakit. Kadang-kadang fasikulasi dijumpai pada orang yang normal. Dalam hal demikian, fasikulasi tidak disertai atrofi, Fenomena yang serupa (yang disebut miokimia) dapat menyebabkan kontraksi spasmodik m.

orbicularis oculi, m. levator palpebra superior atau otot wajah lainnya. Hal ini merupakan keadaan yang benigna dan dapat dicetuskan oleh kelelahan atau kecemasan. Fasikulasi benigna dan miokimia sering menimbulkan rasa takut pada penderitanya, yang mengasosiasikannya dengan penyakit yang berat.

i.

Mioklonik Mioklonik ialah gerakan yang timbul karena kontraksi otot secara cepat, tiba-tiba, sebentar, aritmik, asinergik, dan tidak terkendali. Otot yang berkontraksi dapat meliputi sebagian dari satu otot, seluruh otot atau sekelompok otot-otot tanpa memandang asosiasi fungsional otot tersebut. Gerak mioklonik ini terutama didapatkan pada otototot ekstremitas dan badan, tetapi ia sering juga difus dan meluas, dan melibatkan otot muka, rahang, lidah, faring, dan laring. Ia timbul secara paroksismal, pada waktu yang tidak tertentu, baik pada saat istirahat maupun pada waktu sedang aktif. Namun demikian, ia dapat menjadi lebih hebat bila ada rangsang emosional, mental, taktil, visual, atau rangsang auditoar. Dapat berkurang bila ada gerakan volunter. Dapat timbul pada saat pasien hendak tertidur, dan biasanya menghilang bila sudah tertidur. Gerakan miokloniK dapat kecil sehingga tidak menyebabkan gerakan pada persendian, tetapi bila ia mengenai seluruh otot atau sekelompok otot, gerakannya dapat kuat sehingga mengakibatkan gerakan klonik pada ekstremitas. Gerakan dapat sedemikian hebat, sehingga satu anggota gerak seolah-olah terlempar dengan tiba-tiba atau dapat menyebabkan penderita terjatuh.

2. PEMERIKSAAN TONUS OTOT Tonus Otot : Yaitu tegangan / tahanan otot saat relaksasi / kendor terhadap gerakan pasif. Syarat pemeriksaan: Pasien harus tenang dan bersikap santai Ruang periksa harus tenang, tidak terlalu dingin atau panas.

Penilaian tonus otot : Laporan penilaian : Normal Meningkat Menurun 1) Tes fleksi dan ekstensi Jika tonus sangat meningkat maka pemeriksa mendapat kesulitan untuk menekukkan dan meluruskan lengan & tungkai di sendi siku & lutut. Jika tonus hilang, maka dalam menekukkan & meluruskan lengan & tungkai pasien, tidak dirasakan adanya tahanan Apabila terdapat tahanan yang terasa secara sinambung , maka tonus otot yang meningkat itu disebut spastisitas. Bila tahanan itu hilang timbul secara berselingan sewaktu bagian anggota gerak ditekuk dan diluruskan disebut rigiditas. 2) Test Kepala Jatuh

Kepala pasien yang berbaring terlentang diangkat dengan tangan kanan pemeriksa, kemudian kepala dilepaskan dan ditangkap oleh tangan kiri si pemeriksa yang sudah disiapkan untuk menangkap kepala yang jatuh itu.

Pada spastisitas & rigiditas kepala tidak langsung jatuh. Jika tonus rendah, kepala langsung jatuh.

3) Test tungkai Bergoyang Menurut Wartenberg Pasien diperiksa sambil duduk dengan kedua tungkai digantung, kemudian sipemeriksa meluruskan salah satu tungkai pasien dan secara tiba-tiba tungkai itu dilepaskan. Tungkai bawah pasien akan bergoyang goyang kian kemari bagaikan bandul lonceng jika ada hipotonia. Bila hipertonia maka gerakan hanya dua tiga kali saja kemudian berhenti bergoyang.

Hipotonia : pada palpasi sekelompok otot terasa kendor, anggota gerak dapat digoyangkan dengan mudah & tahanan otot sewaktu difleksikan & diekstensikan tak terasa. Refleks tendon menurun / tidak ada Terdapat pada :

Kelainan LMN : poliomyelitis, polyneuritis, lesi traumatic saraf perifer, distrofi muskulorum progresif. Penyakit serebellar Lesi transversal medulla spinalis spinalis akut. Spastisitas : tahanan yang berlangsung secara sinambung sewaktu gerakan fleksi & ekstensi anggota gerak dilakukan. Refleks tendon meningkat. Tenaga otot menurun.

Hipertonia : keadaan tonus otot yang meninggi dapat bersifat spastic / rigid. Rigiditas : hipertonia yang pada penilaian tonus otot dirasakan adanya tahanan yang hilang timbul secara berselingan. Refleks tendon tidak terlalu meningkat. Tenaga otot tidak menurun.

3. PEMERIKSAAN KEKUATAN OTOT : Penilaian kekuatan otot ini merupakan salah satu pemeriksaan yang harus dilakukan pada pemeriksaan neurology.

Kekuatan otot yang diperiksa : Sewaktu otot melakukan gerakan (power, kinetic) Sewaktu menahan / menghambat / melawan gerakan (static). Kadang kelemahan otot baru diketahui bila penderita disuruh melakukan serentetan gerakan pada satu periode (endurance).

Pada pemeriksaan ini dinilai kekuatan (kontraksi) otot. Untuk memeriksa adanya kelumpuhan, kita dapat menggunakan 2 cara berikut : 1) Pasien disuruh menggerakkan bagian ekstremitas atau badannya dan pemeriksa menahan gerakan ini. 2) Pemeriksa menggerakkan bagian ekstremitas atau badan pasien dan pasien menahan. Contohnya, untuk menilai kekuatan otot biseps ada 2 macam : cara 1 : Pasien diminta memfleksikan lengan bawahnya dan kita menghalangi usahanya ini. cara 2 : Pemeriksa mengekstensikan lengan bawah pasien dan pasien diminta menghalangi (menahan) usaha ini. Jadi dengan kedua cara tersebut dapat dinilai tenaga otot. Dokter umumnya menggunakan cara 1, yaitu pemeriksa yang menahan. Bila pasien yang disuruh menahan, ditakutkan kekuatan yang dilakukan oleh dokter terlalu besar. Bila pasien lumpuh total, tidak sulit untuk memastikannya, namun bila ia lumpuh sebagian atau parsial, tidak mudah memastikan atau menilainya. Tenaga orang yang normal berbeda-beda. Misalnya, tenaga seorang atlit angkat besi jauh lebih kuat daripada tenaga seorang juru tulis. Tidak selalu mudah membedakan parese (lumpuh) ringan dari tidak ada parese. Kita mungkin mendapat pertolongan dari beberapa hal berikut yaitu : 1. Keluhan pasien (mungkin ia mengemukakan tenaganya berkurang). 2. Otot dibagian yang simetris tidak sama tenaganya. 3. Berkurangnya kelancaran gerakan. Parese ringan kadang-kadang ditandai oleh menurunnya kelancaran gerakan. 4. Didapatkan gejala lain, misalnya : arefleksi, atrofi, hiperrefleksi, dan refleks patologis. Penilaian kekuatan otot dapat dinilai secara kualitatif dengan :

0 : Tidak ada kontraksi otot. 1 2 3 4 5 : Kontraksi otot tanpa gerakan yang nyata 0 10% : Dapat menggerakkan / menggeser lengan tanpa adanya beban 11 25% : Dapat mengangkat lengan melawan gaya berat 26 50% : Dapat mengangkat lengan ditambah dengan tahanan 51 75 % : Dapat mengangkat lengan melawan gaya berat & beban tahanan maksimum beberapa kali tanpa tanda-tanda kelelahan 76 100%.

1) Pemeriksaan kekuatan otot Kepala Pada paralisis agitans (sindrom Parkinson), kepala ditekukkan ke depan; pada meningitis, penderita berbaring dengan kepala dikedikkan ke belakang Pada gangguan di serebelum, kepala terrotasi sedikit ke arah kontralateral dari lesi. Periksa apakah ada tahanan jika kepala digerakkan secara pasif Pada radang selaput otak didapatkan kaku kuduk Pada tortikolis juga didapatkan tahanan, demikian juga pada spondilitis servikal Gerakan aktif diperiksa dengan menyuruh pasien menekukkan kepala ke depan, ke belakang, ke samping kiri, dan kanan, serta melakukan gerakan rotasi. Pemeriksa menilai tenaganya, dan membandingkan tenaga gerakan ke kiri dan ke kanan.

2) Pemeriksaan anggota gerak atas Perhatikan apakah ada atrofi otot tenar, hipotenar, dan otot intrinsik tangan. Periksa gerakan jari-jari : bagaimana tenaga fleksi, ekstensi, abduksi, dan aduksi. Periksa tenaga menggenggam. Hal ini dilakukan dengan menyuruh pasien menggenggam jari pemeriksa dan kemudian pemeriksa menarik lepas jari tersebut. Gerakan di pergelangan juga diperiksa, dan ditentukan tenaganya pada gerakan pronasi dan supinasi. Fleksi dan ekstensi pada persendian siku, juga diperiksa. Gerakan pada persendian bahu diperiksa dengan menyuruh pasien menggerakkan lengan yang diekstensi, pada bidang frontal dan sagital, dan juga melakukan rotasi pada persendian bahu. Selain itu, juga gerakan bahu ke atas, bawah, depan, dan ke belakang diperiksa. Setelah itu, periksalah otot pektoralis mayor, latisimus dorsi, seratus magnus, deltoid, biseps, dan triseps.

Deltoid. Pasien diminta mengangkat lengannya yang diluruskan ke samping sampai di bidang horizontal. Pemeriksa menilai tenaganya waktu melakukan gerakan ini.

Biseps. pasien diminta memfleksikan lengan siku (posisi supinasi). Pemeriksa menilai tenaga fleksi lengan bawah ini. Triseps. pasien diminta mengekstensikan lengan bawah (posisi fleksi). Pemeriksa menilai tenaga ekstensi ini.

3) Pemeriksaan otot tubuh Erektor spina. Bila pasien sedang berdiri, suruh ia mengambil suatu barang dari lantai, jika pasien menderita kelemahan m. erector spina, ia sukar berdiri kembali. Pasien melakukannya dengan bantuan tangan, yaitu dengan menempatkan tangannya pada lutut atau paha, kemudian mendorongnya sampai ia dapat berdiri lagi. Kadang terlihat juga adanya lordosis.

Otot dinding perut Pasien yang sedang berbaring diminta mengangkat kepalanya, pemeriksa

memperhatikan area perut sekitar pusar. Biasanya pusar beranjak ke arah otot yang sehat. Minta pasien batuk, otot yang lemah akan membonjol. Perhatikan apakah pasien dapat duduk dari sikap berbaring tanpa mendapat bantuan dari tangannya. Otot yang ikut bekerja dalam hal ini ialah otot dinding perut dan otot iliopsoas.

Inervasi otot anggota gerak atas : Pemeriksaan otot oponens digiti kuinti ( C7,C8,T1,saraf ulnaris) Pemeriksaan otot aduktor policis ( C8,T1 , saraf ulnaris ). Pemeriksaan otot interosei palmaris ( C8,T1,saraf ulnaris ). Pemeriksaan otot interosei dorsalis ( C8,T1, saraf ulnaris ).

Pemeriksaan abduksi ibu jari. Pemeriksaan otot ekstensor digitorum (C7,8,saraf radialis ). Pemeriksaan otot pektoralis mayor bagian atas ( C5-C8). Pemeriksaan otot pektoralis mayor bagian bawah ( C5-C8). Pemeriksaan otot latisimus dorsi ( C5-C8, saraf subskapularis). Pemeriksaan otot seratus aterior ( C5-C7,saraf torakalis ). Pemeriksaan otot deltoid ( C5,C5, saraf aksilaris ). Pemeriksaan otot biseps ( C5,C6, saraf muskulokutaneus ). Pemeriksaan otot triseps ( C6-C8, saraf radialis ).

4) pemeriksaan otot anggota gerak bawah Untuk ini diperiksa gerakan pada : persendian jari-jari, pergelangan kaki, lutut, paha. Selain itu juga diperiksa otot kuadriseps femoris, iliopsoas, aduktor, abductor, dan fleksor tungkai bawah.

Kuadriseps femoris Lutut (tungkai bawah) diekstensikan, pemeriksa menahan gerakan

Iliopsoas Pasien berbaring dan lutut difleksikan. Kemudian paha difleksikan lebih lanjut sambil ditahan.

Otot aduktor Pasien berbaring pada sisinya dan tungkai berada dalam ekstensi. Kemudian tungkai ini diaduksikan sambil ditahan.

Otot abduktor Tungkai diabduksikan melawan tahanan.

Fleksor tungkai bawah Tungkai bawah difleksikan sambil ditahan. Dengan demikian dapat pula dinilai otot-otot yang memplantarfleksikan dan mendorsofleksikan kaki dan jari-jari.

Inervasi otot anggota gerak bawah :

Pemeriksaan otot kuadriseps femoris ( L2-L4, n.femoralis ). Pemeriksaan otot aduktor ( L2-L4, n.obturatorius) Pemeriksaan otot kelompok hamstring (L4,L5,S1,S2, n.siatika ) Pemeriksaan otot gastroknemius ( L5,S1, S2, n. tibialis ) Pemeriksaan otot fleksor digitorum longus ( S1, S2, n.tibialis)