Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Trombosis vena dalam adalah suatu keadaan terjadinya gumpalan darah (trombus) pada pembuluh darah balik (vena) dalam di daerah tungkai bawah. Setiap tahunnya diperkirakan terdapat 1 di antara 1000 orang menderita kelainan ini. Dari jumlah tersebut, kurang lebih satu sampai lima persen penderita meninggal akibat komplikasi yang ditimbulkan. Trombus yang terbentuk di tungkai bawah tersebut dapat lepas dari tempatnya dan berjalan mengikuti aliran darah, disebut dengan emboli. Emboli yang terbentuk dapat mengikuti aliran darah hingga ke jantung dan paru. Biasanya emboli tersebut akan menyumbat di salah satu atau lebih pembuluh darah paru, menimbulkan suatu keadaan yang disebut dengan embolisme paru (pulmonary embolism). Tingkat keparahan dari embolisme paru tergantung dari jumlah dan ukuran dari emboli tersebut. Jika ukuran dari emboli kecil, maka akan terjadi penyumbatan pada pembuluh darah paru yang kecil, sehingga menyebabkan kematian jaringan paru (pulmonary infarction). Namun jika ukuran emboli besar maka dapat terjadi penyumbatan pada sebagian atau seluruh darah dari jantung kanan ke paru, sehingga menyebabkan kematian. Salah satu pengobatan komplemen dan alternatif yang efektif dan aman untuk trombosis vena dalam adalah dengan nattokinase.
Nattokinase adalah salah satu jenis pangan fungsional yang dibuat dari

natto, suatu makanan hasil dari fermentasi kedelai dengan bantuan bakteri Bacillus subtilis natto. Natto merupakan makanan populer di Jepang, dan sudah dikonsumsi selama lebih dari 1000 tahun. Dari suatu penelitian yang dilakukan oleh Dr. Hiroyuki Sumi dari Department of Physiology, Miyazaki Medical College, Jepang, ternyata lendir dari natto mengandung enzim nattokinase, yang dapat meningkatkan kemampuan tubuh secara natural untuk memecah bekuan darah. Penggunaan nattokinase untuk mencegah terjadinya tombosis vena dalam telah dibuktikan dalam salah satu penelitian yang dilakukan oleh Cesanore MR, et al, yang diterbitkan dalam jurnal

Angiology tahun 2003. Penelitian tersebut melibatkan 186 orang yang akan menjalani penerbangan jarak jauh selama kurang lebih 7 jam. Dari 186 orang tersebut, 94 orang diberikan 2 kapsul nattokinase 2 jam sebelum penerbangan dan 6 jam setelah mendarat. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dari 94 orang yang diberikan nattokinase sebelum dan setelah penerbangan jarak jauh tidak ada yang mengalami trombosis vena dalam maupun trombosis vena luar. Sedangkan dari 92 orang yang tidak diberikan nattokinase sebelum dan setelah penerbangan terdapat 5 orang yang mengalami trombosis vena dalam dan 2 orang yang mengalami trombosis vena luar. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa nattokinase secara signifikan dapat mencegah terjadinya trombosis vena pada penerbangan jarak jauh.

I.2 Tujuan I.2.1 Mahasiswa mampu menganalisa asuhan keperawatan pada lansia dengan kasus DVT dengan mengintegrasikan biologi, biokimia, anatomi, fisiologi, patologi, patofisiologi, farmakologi dan diet. Mahasiswa mampu menampilkan perilaku yang profesional dan mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi dengan pasien DVT, khususnya dengan lansia.

I.2.2

I.3 Rumusan Masalah I.3.1 I.3.2 I.3.3 I.3.4 I.3.5 I.3.6 I.3.7 I.3.8 Apa yang dimaksud dengan DVT Apa itu trombisit? Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi DVT? Bagaimana patofisiologi dari DVT? Apa saja farmakologi untuk pasien DVT? Apa gizi yang tepat untuk pasien DVT? Bagaimana penatalaksanaan penyakit DVT? Bagaimana asuhan keperawatan bagi pasien DVT?

BAB II ISI

2.1 Definisi DVT Trombosis vena dalam adalah suatu keadaan terjadinya gumpalan darah (trombus) pada pembuluh darah balik (vena) dalam di daerah tungkai bawah. Setiap tahunnya diperkirakan terdapat 1 di antara 1000 orang menderita kelainan ini. Dari jumlah tersebut, kurang lebih satu sampai lima persen penderita meninggal akibat komplikasi yang ditimbulkan.

Trombosis Vena Dalam adalah kondisi dimana terbentuk bekuan dalam vena sekunder akibat inflamasi /trauma dinding vena atau karena obstruksi vena sebagian yang ditandai dengan kemerahan, kehangatan,kepekaanpembengkakan. Trombosis Vena Dalam (DVT) menyerang pembuluhpembuluh darah system vena dalam. Serangan awalnya disebut trombosis vena dalam akut. Emboli paru-pariu merupakan resiko yang cukup bermakna pada trombosis vena dalam. Kebanyakan trombosis vena dalam berasal dari ekstrimitas bawah. Banyak yang sembuh spontan, dan sebagian lainnya berpotensi membentuk emboli. Penyakit ini dapat menyerang satu vena bahkan lebih. Vena-vena di betis adalah vena-vena yang paling sering terserang. Trombosis pada vena poplitea, femoralis super fisialis, dan segmen-segmen vena ileofemoralis juga sering terjadi. Trombus yang terbentuk di tungkai bawah tersebut dapat lepas dari tempatnya dan berjalan mengikuti aliran darah, disebut dengan emboli. Emboli yang terbentuk dapat mengikuti aliran darah hingga ke

jantung dan paru. Biasanya emboli tersebut akan menyumbat di salah satu atau lebih pembuluh darah paru, menimbulkan suatu keadaan yang disebut dengan embolisme paru (pulmonary embolism). Tingkat keparahan dari embolisme paru tergantung dari jumlah dan ukuran dari emboli tersebut. Jika ukuran dari emboli kecil, maka akan terjadi penyumbatan pada pembuluh darah paru yang kecil, sehingga menyebabkan kematian jaringan paru (pulmonary infarction). Namun jika ukuran emboli besar maka dapat terjadi penyumbatan pada sebagian atau seluruh darah dari jantung kanan ke paru, sehingga menyebabkan kematian. Thrombosis adalah keadaan dimana terjadi pembentukan massa bekuan darah intravaskuler, yang berasal dari konstituen darah, pada orang yang masih hidup. Dalam pengertian yang luas thrombus dapat bersifat fisiologik disebut sebagai hemostatic thrombus yang berguna untuk menutup kerusakan dinding pembuluh darah setelah injury, dapat juga bersifat patologik, disebut sebagai pathologic thrombus, thrombus yang justeru dapat menyumbat lumen pembuluh darah. Pada umumnya yang dimaksud dengan thrombosis ialah pembentukan pathologic thrombus. Thrombosis dapat terjadi pada arteri, disebut sebagai thrombosis arteri (arterial thrombosis), dapat juga terjadi pada vena disebut sebagai thrombosis vena (venous thrombosis). Thrombus arteri berbeda sifatnya dengan thrombus vena. Komponen thrombus arteri sebagian besar terdiri dari platelet (thrombosit) diselingi oleh anyaman fibrin, komponen eritrositnya sangat rendah sehingga thrombus berwarna putih disebut sebagai white thrombus.. Sedangkan thrombus vena sebagian besar terdiri dari sel darah merah disela-sela anyaman fibrin, komponen thrombosit sangat sedikit, thrombus berwarna merah disebut sebagai red thrombu. Thrombophilia adalah suatu keadaan dimana sesorang lebih mudah mendapat thrombosis dibandingkan dengan orang normal. Thrombophilia dapat disebabkan karena faktor-faktor yang didapat sehingga disebut acquired thrombophilia, dapat juga disebabkan oleh karena faktor-faktor yang diturunkan, disebut sebagai hereditary thrombophilia. Ada juga yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan thrombophilia hanyalah hereditary thrombophilia.

2.2 Trombosit Trombosit adalah bagian dari beberapa sel-sel besar dalam sumsum tulang yang berbentuk cakram bula, ovale, bikonkaf, tidak berinti, dan hidup sekitar 10 hari. Trombosit ( platelet ) berdiameter kurang lebih 2 m, jumlah normal 150.000-450.000/mm. Tempatnya 1/3 di dalam limpa sebagai cadangan, sisanya disirkulasi. Trombosit berperan dalam pembekuan darah dan mengubah bentuk dan kualitas setelah berikatan dengan pembuluh yang cidera. Ada beberapa kelainan pada trombosit yang meliputi: 1. Trombositopeni, yaitu berkurangnya jumlah trombosit dibawah normal. Dapat terjadi karena: penurunan produksi, terjadi bila sum sum tulang terganggu.Meningkatnya destruksi, terjadi akibat trombosit yang beredar berhubungan dengan mekanisme imun. Akibat pemakaian yang berlebihan pengenceran trombosit.Terjadi karena transfusi yg dibiarkan dalam waktu singkat dg memakai darah murni yg disimpan sehingga mengakibatkan hemostatik pada resipien. 2. Trombositosis, yaitu meningkatnya jumlah trombosit pada peredaran darah di atas normal. 3. Trombositemi, yaitu peningkatan jumlah trombosit oleh proses yg ganas. 2.3 Faktor Yang Mempengaruhi DVT.
1) Imobilitas (Keadaan Tak Bergerak)

Misalnya perjalanan dan duduk yang berkepanjangan, seperti penerbangan-penerbangan pesawat yang panjang ("economy class syndrome"), mobil, atau perjalanan kereta api, opname di rumah sakit, operasi, trauma pada kaki bagian bawah dengan atau tanpa operasi atau gips, kehamilan,termasuk 6-8 minggu setelah partum, kegemukan. 2) Hypercoagulability (Pembekuan darah lebih cepat daripada biasanya) Misalnya Obat-obat (contohnya, pil-pil pengontrol kelahiran, estrogen), merokok, kecenderungan genetik, polycythemia (jumlah yang meningkat dari sel-sel darah merah), kanker.

3) Trauma pada vena Misalnya seperti patah tulang kaki, kaki yang memar, komplikasi dari prosedur yang invasif dari vena. 2.4 Patofisiologi Penyabab utama trombosis Vena belum jelas, tatapi ada tiga kelompok faktor pendukung yang dianggap berperan penting dalam pembentukannya yang dikenal sebagai TRIAS VIRCHOW; Stasis aliran darah vena, terjadi bila aliran darah melambat, seperti pada gagal jantung atau syok; ketika vena berdilatasi, sebagai akibat terapi obat, dan bila kontraksi otot skeletal berkurang, seperti pada istirahat lama, paralysis ekstremitas atau anastesi.Hal-hal tersebut menghilangkan pengaruh dari pompa vena perifer, meningkatkan stagnasi dan pengumpulan darah di ekstremitas bawah. Cedera dinding pembuluh darah, diketahui dapat mengawali pembentukan thrombus. Penyebabnya adalah trauma langsung pada pembuluh darah, seperti fraktur dan cedera jaringan lunak, dan infuse intravena atau substansi yang mengiritasi, seperti kalium klorida, kemoterapi, atau antibiotic dosis tinggi. Hiperkoagulabilitas darah, terjadi paling sering pada pasien dengan penghentian obat antikoagulan secara mendadak. Kontrasepsi oral dan sejumlah besar diskrasia. Pathway DVT Usia (penuaan)

Bedrest yang lama

Faktor resiko terjadinya DVT

Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan

Jarang bergerak

PD rusak

PD mengalami kelainan.

Darah membeku Aliran darah terhambat Terjadi penumpukan

Pola persepsi kognitif

Bengkak Kemerahan Nyeri Inflamasi Resiko infeksi pola persepsi kognitif

Aliran darah

pengosongan vena

Rangsangan trobosit vena

Paru-paru meningkat

volume & tekanan vena CO meningkat

Emboli paru -sesak napas. - nyeri dada - TD menurun - cyanosis - detak jantung cepat

gangguan aliran darah kekulit Penimbunan darah di ekstermitas gangguan mobilitas kerusakan mobilitas fisik pola aktivitas & latihan trombus melekat di PD resiko embolisasi Sikulasi O2 terganggu

Kematian mendadak

- sesak napas

pola aktivitas

-perfusi jar. Tdk efektif

2.5 Farmakologi DVT ( trombolitik ) Dan Implikasi Keperawatannya.


2.5.1 Antikoagulan digunakan untuk mencegah pembekuan darah

dengan jalan menghambat pembentukan atau menghambat fungsi beberapa faktor pembekuan darah. Antikoagulan dibagi menjadi tiga bagian, yang meliputi: 1) Heparin: Heparin merupakan satu-satunya antikoagulan yang diberikan secara parenteral dan merupakan obat terpilih bila diperlukan efek yang cepat misalnya untuk emboli paru-paru dan trombosis vena dalam, oklusi arteri akut atau infark miokard akut. 2) Antikoagulan oral:Seperti halnya heparin, antikoagulan oral berguna untuk pencegahan dan pengobatan tromboemboli. Untuk pencegahan, umumnya obat ini digunakan dalam jangka panjang. 3) Antikoagulan pengikat ion kalsium: Natrium sitrat dalam darah akan mengikat kalsium menjadi kompleks kalsium sitrat. Bahan ini banyak digunakan dalam darah untuk transfusi, karena tidak tosik. Tetapi dosis yang terlalu tinggi umpamanya pada transfusi darah sampai 1.400 ml dapat menyebabkan depresi jantung. 2.5.2 Antitrombolitik adalah obat yang dapat menghambat agregasi trombosit sehingga menyebabkan terhambatnya pembentukan trombus yang terutama sering ditemukan pada sistem arteri. Aspirin, sulfinpirazon, dipiridamol, tiklopidin dan dekstran merupakan obat yang termasuk golongan ini. 2.6 Penatalaksanaan Pada Kasus DVT Dan Implikasi Keperawatannya. Tujuan penanganan medis DVT adalah mencegah perkembangan dan pecahnya thrombus beserta risikonya yaitu Embolisme Paru dan mencegah tromboemboli kambuhan. Terapi antikoagulan dapat mencapai kedua tujuan itu. Heparin yang diberikan selama 10 12 hari dengan infuse berkelanjutan, dapat mencegah berkembangnya bekuan darah dan tumbuhnya bekuan baru. 4-7 hari sebelum terapi heparin intravena berakhir, pasien mulai diberikan antikoagulan oral. Pasien mendapat antikoagulan oral selama 3 bulan atau lebih untuk pencegahan jangka panjang. Penatalaksanaan Keperawatan: 1. Tirah baring, peninggian ekstremitas yang terkena, stoking elastic, dan analgetik untuk mengurangi nyeri adalah tambahan untuk terapi ini. Biasanya diperlukan tirah baring 5 7 hari setelah terjadi DVT. Ketika pasien mulai berjalan, harus dipakai stoking elastik. Berjalan-jalan akan lebih baik daripada berdiri atau duduk lama-lama. Latihan di tempat tidur, seperti dorsofleksi kaki melawan papan kaki, juga dianjurkan.

2. Kompres hangat dan lembab pada ekstremitas yang terkena dapat mengurangi ketidaknyamanan sehubungan dengan DVT. Analgetik ringan untuk mengontrol nyeri, sesuai resep, akan menambah rasa nyaman. Penyuluhan pasien yang menjalani terapi antikoagulan: 1. 2. 3. 4. Minum tablet antikoagulan pada waktu yang sama setiap hari, biasanya antara jam 08.00 09.00 pagi. Mengenakan atau membawa identitas yang menunjukan bahwa sedang memakai antikoagulan. Mematuhi setiap kunjungan untuk uji darah. Jangan minium salah salah satu obat berikut tanpa persetujua dokter. ( vitamin, obat flu, antibiotic, aspirin, minyak mineral, dan obat antiradang ) Karena obat tersebut mempengaruhi kerja antikoagulan. Hindari alcohol, karena dapat mengganggu respon tubuh terhadap antikoagulan. Hindari perubahan pola makan, diet yang drastic atau perubahan kebiasaan makan yang mendadak. Jangan minum obat Caumadin, kecuali dianjurkan oleh dokter atau perawat. Jangan menghentikan Coumadin yang telah direpkan kecuali atas saran dokter atau perawat. Apabila berobat ke dokter lain, tunjukkan bahwa sedang memakai antikoagulan. Hubungi dokter pribadi ebelum mencabut gigi atau pembedahan elektif. Apabila muncul salah satu tanda berikut, laporkan segera kepada dokter: Pingsan, pusing, atau semakin lemah. Sakit kepala atau perut yang berat Warna urine merah atau cokelat Adanya perdarahan, seperti luka yag tidak berhenti berdarah Lecet yang bertambah ukurannya, perdarahan hidung atau perdarahan abnormal pada setiap bagian tubuh. Tinja merah atau hitam Kulit kemerahan Hindari cedera yang dapat mengakibatkan perdarahan.

5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. a) b) c) d) e) f) g) h)

10

i)

wanita harus memberitahu dokter apabila ada dugaan hamil. Dalam penatalaksanaan ini juga perlu didukung oleh hasil laboratorium. Beberapa pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan untuk membantu diagnosis trombosis vena dalam antara lain: 1. Ultrasonografi. Pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara untuk membentuk gambaran aliran darah melalui pembuluh darah arteri dan pembuluh darah balik pada bagian tungkai yang terkena. (doppler )pemeriksaannya TCD. 2. Tes D-Dimer. Pemeriksaan ini mengukur kadar D-Dimer dalam darah yang biasanya dikeluarkan ketika bekuan darah memecah. 3. Venografi. Pemeriksaan ini merupakan suatu standar baku (gold standard) pada trombosis vena dalam. Pada pemeriksaan ini suatu pemindai akan diinjeksikan ke dalam pembuluh darah balik, kemudian daerah tersebut akan dirntgen dengan sinar X. Jika pada hasil foto terdapat area pada pembuluh darah balik yang tidak terwarnai dengan pemindai maka diagnosis trombosis vena dalam dapat ditegakkan.

2.7

Gizi Pada Lansia Dengan DVT. Vitamin K adalah nama generik untuk beberapa bahan yang diperlukan dalam pembekuan darah yang normal. Vitamin ini di anjuran jika pasien sudah mengalami perdarahan. Bentuk dasarnya adalah vitamin K1 (filokuinon), yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan, terutama sayuran berdaun hijau. Kebanyakan
sumber vitamin K didalam tubuh adalah hasil sintesis oleh bakteri di dalam sistem pencernaan. Anda dapat memperoleh

vitamin K dari makanan seperti hati, sayur-sayuran berwarna hijau yang berdaun banyak, sayuran sejenis kobis (kol) dan susu. Vitamin K dalam konsentrasi tinggi juga ditemukan pada susu kedelai, teh hijau, susu sapi, serta daging sapi dan hati. Jenis-jenis makanan probiotik, seperti yoghurt yang mengandung bakteri sehat aktif, bisa membantu menstimulasi produksi vitamin ini. 2.8 Asuhan Keperawatan DVT.

KASUS Tn. Hasan (67 thn) dirawat dengan diagnosa medis DVT. Dari hasil pengkajian didapatkan data klien mempunyai riwayat bedrest dalam waktu lama, lumpuh kaki kanan, betis kanan klien tampak bengkak, kemerahan. Klien mengeluh nyeri pada kaki kanannya dengan skala nyeri 6, mengeluh kakinya kemeng. TD 150/80 mmHg, Nadi 88 x/menit, RR 18 x/menit, suhu 36 C.

11

PENGKAJIAN Nama : Tn. Hasan Umur : 67th Dx. Medis : DVT DS : Pasien mengatakan mempunyai riwayat bedrest dalam waktu lama, kaki kanan lumpuh. Pasien mengeluh nyeri pada kaki kanannya dengan skala nyeri 6. Pasien mengeluh kakinya kemeng. DO : Betis kanan klien tampak bengkak dan kemerahan. TD : 150/80 mmHg, Nadi 88 x/menit, RR 18 x/menit, Suhu 36. ANALISA DATA Data Problem Etiologi Agen cedera (fisik).

DS : Pasien mengeluh Nyeri akut. nyeri pada kaki kanannya dengan skala nyeri 6. Pasien mengeluh kakainya kemeng. DO : Betis kanan klien tampak bengkak dan kemerahan. TD : 150/80 mmHg, Nadi 88 x/menit, RR 18 x/menit, Suhu 36 C. DS : Pasien mengatakan mempunyai riwayat bedrest dalam waktu lama, kaki kanan lumpuh. DO : TD : 150/80 mmHg, Nadi 88 x/menit, RR 18 x/menit, Suhu 36 C. Kerusakan mobilitas fisik.

Intoleransi aktivitas.

12

RUMUSAN DIAGNOSA 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera (fisik) ditandai dengan pasien mengeluh nyeri pada kaki kanannya dengan skala nyeri 6, pasien mengeluh kakainya kemeng, betis kanan klien tampak bengkak dan kemerahan, TD : 150/80 mmHg, Nadi 88 x/menit, RR 18 x/menit, Suhu 36 C. 2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan intoleransi aktivitas ditandai dengan pasien mengatakan mempunyai riwayat bedrest dalam waktu lama, kaki kanan lumpuh, TD : 150/80 mmHg, Nadi 88 x/menit, RR 18 x/menit, Suhu 36 C

INTERVENSI Tgl/jam 1 juli 2010 09.00 WIB No 1. Tujuan Nyeri pada pasien dapat diatasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam. Dengan kriteria hasil : Pasien mengatakan nyeri berkurang Skala nyeri < 3. Kaki tidak kemeng. TD : sistol : 100-150 mmHg. Diastol : 60 80 mmHg. 3. Ajarkan tekhnik distraksi dan relaksasi saat pasien merasa nyeri. 2. Lakukan kompres hangat. Intervensi 1. Monitor skala nyeri pasien setiap 2 jam. Rasional 1. Pasien mengalami nyeri dengan skala 6, maka perlu dilakukan monitor skala nyerinya. 2. Kaki pasien tampak bengkak dan kemerahan (sudah terjadi inflamasi) maka diberikan kompres hangat supaya vasodilatasi dapat melancarkan aliran darah. 3. Dengan teknik distraksi pasien dapat mengalihkan pikirannya dan dengan teknik relaksasi pasien bisa lebih rileks, sehingga dapat Ttd

13

mengurangi rasa nyeri yang dirasakan. 4. Pasien mengeluh 4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik. nyeri, dengan skala nyeri 6. Sehingga diberikan obat analgetik untuk mengurangi rasa nyeri. 2. Pasien dapat kembali beraktivitas dengan normal setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7 x24 jam. Dengan kriteria hasil : Kaki kanan dapat digerakan. Pasien dapat melakukan kegiatan sehari-hari 2. Beri balutan perban dan lakukan ROM pasif pada pasien. 1. Monitor TTV sebelum dan sesudah pasien mendapat tindakan. 1. Pasien mengalami gangguan dengan mobilitasnya, maka perlu dilakukan pengukuran TTV agar bisa mengetahui status kesehatan pasien dan menentukan dalam tindakan selanjutnya. 2. Penggunann perban akan melancarkan aliran darah selain itu Kaki kanan pasien mengalami kelumpuhan, dan tentu susah untuk digerakkan, maka diberikan latihan ROM pasif agar kaki kanannya tidak semakain kaku. 3.Anjurkan pasien untuk banyak 3.Kondisi fisik pasien belum kuat

14

beristirahat.

untuk banyak melalukan aktivitas, jadi dianjurkan untuk banyak beristirahat. Karena saat beristirahat dapat mengembalikan energi.

4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antikoagulan.

4. obat antikoagulan dapat membantu mencegah terjadinya pembekuan darah karena pasien terjadi pembekuan darah di kakinya maka perlu diberi obat antikoagulan

5. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi

5. dilakukannya fisioterapi dapat membantu pasien untuk dapat melakukan aktivitas mandirinya.

BAB III PENUTUP

15

3.1 Kesimpulan DVT ( deep vein thrombisis ) merupakan pembekuan darah di vena dalam yang disebabkan oleh tidak adanya aktivitas yang dilakukan, sehingga pembuluh darah balik menjadi terhambat. Pembekuan tersebut kemudian mengalami embolisis (pecahnya thrombus ) dan akan menyebar ke organ vital lainnya yang kemudian akan menjadi emboli paru ( jika masuk ke dalam paru-paru ). Jadi tindakan keperawatan dalam menangani penyakit ini dapat dilakukan tirah baring dan pemberian obat antikoagulan yang dapat mengencerkan bekuan darah tersebut (throbus).

3.2 Saran Diharapkan agar kita selalu beraktivitas dan menghindari posisi yang mengakibatkan tersumbatnya pembuluh darah balik ( seperti duduk dalam waktu lama dan tidak menggerakkan kaki sedikit pun ) ini akan sangat memicu untuk terjadinya DVT.

Daftar pustaka

A. Price, Sylvia. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit,Edisi 6 Volume 1. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

16

C. Guyton, Arthur. 1996. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Engram, Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal- Bedah, volume 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Gibson, J.M. 1996. Mikrobiologi dan Patologi Modern Untuk Perawat. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Himawan, Sutisna.1994. Patologi . Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
http://www.dharmahealthcare.com/?news=ya&bid=171 http://www.fortunestar.co.id/penyakit-kardiovaskular/53-kanker-vena-dalam.html http://ismar71.wordpress.com/2007/12/14/trombus/ http://www.malaysiaairlines.com/hq/ms/bkinfo/trvlinfo/dflight/health/health-tips.aspx http://www.ufarmed.com/medical-stocking.html http://vitadocs.com/id/medical_encyclopedia/deep_vein_thrombosis_dvt__blood_clots_in_the_legs/

Santosa,Budi. 2005-2006. Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta : Prima Medika. Stevens, J.M. 2000. Ilmu Keperawatan. Jakarta : EGC. Tambayong, jan. 2000. Patofisiologi untuk keperawatan. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Wilkinson, Judith. M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC. Himawan, Sutisna.1994. Patologi . Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tambayong, jan. 2000. Patofisiologi untuk keperawatan. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Wilkinson, Judith. M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC.