Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KIMIA ANALITIK PEMICU 2: Potensiometri Awas, Banyak Perhiasan Mengandung Zat Berbahaya

OLEH: ALAN TRY PUTRA SAMAD/1206254403 ANDRA BERNAMA/1206238311 HENDRIK/1206261264 JULIUS FERDINAND/1206254731 SHOFIYYAH TAQQIYAH/1206250090

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK OKTOBER 2013

DAFTAR ISI
BAB I: PENDAHULUAN .............................................................................................................. 3 I.1 LATAR BELAKANG ........................................................................................................... 3 I.2 RUMUSAN MASALAH ....................................................................................................... 3 I.3 TUJUAN ................................................................................................................................ 3 I.4 HAL-HAL YANG PERLU DIPELAJARI ............................................................................ 4 BAB II: ISI ...................................................................................................................................... 5 II.1 Bahaya Potensi Penggunaan Logam Berat Sebagai Perhiasan ............................................. 5 II.2 Metode Analisis Elektrokimiawi untuk Menganalisis Darah atau Serum ............................ 7 II.3 Metode Analisis Elektrokimiawi untuk Menentukan Kandungan Ion Logam Cr pada Sampel Perhiasan yang Diuji ...................................................................................................... 8 II.4 Kebutuhan Penambahan Senyawa Penjaga Kekuatan Ion dalam Larutan atau TISAB ....... 9 II.5 Menentukan Konsentrasi Krom pada Sampel dengan Metode Potensiometri Sample Addition ..................................................................................................................................... 11 II.6 Menentukan Kemiringan Kurva Kalibrasi ......................................................................... 12 II.7 Pemilihan Metode Potensiometri, Apakah dengan Metode Standard Addition atau Sample Addition ..................................................................................................................................... 13 BAB III: PENUTUP ..................................................................................................................... 15 III.1 KESIMPULAN ................................................................................................................. 15 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 16

BAB I: PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Ada ungkapan beauty is pain yang berarti kecantikan adalah rasa sakit. Hal ini ada benarnya bagi para peneliti yang baru saja menemukan hal baru seputar perhiasan murah yang dijual merek-merek fashion high-street ternama. Istilah costume jewelery, atau yang lebih dikenal perhiasan palsu berukuran besar memang digemari banyak wanita karena bisa membuat tampilan semakin lengkap. Namun setelah diteliti, perhiasan macam ini memiliki sejumlah zat karbon metal berbahaya seperti lead, cadmium, chromium, mercury, hingga arsenic. The Ecology Center, California, yang memprakarsai penelitian ini membeli sejumlah perhiasan sebanyak 99 barang dari retail Claire, Forever 21, dan H&M di beberapa tempat di Amerika Serikat. Jeffrey Weidenhamer, Ph.D, Profesor kimia dari Ashland University, menemukan dari 99 perhiasan tersebut, 25% mengandung kandungan berbahaya yang melewati batas yang ditentukan oleh Komisi Perlindungan Konsumen. Penelitian menggunakan sinar X-ray dan melihat kandungan metal murah yang mudah meleleh. Bahaya terbesar terjadi bila anak kecil bermain dengan perhiasan ini dan memasukkannya ke dalam mulut. Tak dipungkiri sebagian besar perhiasan ini juga dibeli oleh anak kecil yang seringkali tanpa disengaja menggigiti perhiasan.

I.2 RUMUSAN MASALAH


1. Potensi bahaya penggunaan perhiasan murah ditinjau dari sisi jenis bahan yang digunakan 2. Metode analisis elektrokimia apa yang dapat digunakan untuk menganalisis kandungan logam krom dalam perhiasan murah, yang mana metode ini dapat juga digunakan untuk menganalisis darah atau serum 3. Rancangan analisis ion krom dengan metode potensiometri langsung 4. Keperluan dan waktu penambahan senyawa TISAB pada larutan analit 5. Menentukan konsentrasi krom dengan metode sample addition dan membuktikan rumus metod sample addition 6. Menentukan kemiringan kurva kalibrasi, yang mana adalah ukuran respon elektroda ion selektif 7. Pemilihan metode potensiometri: standard addition atau sample addition untuk menganalisis larutan sampel yang memiliki konsentrasi tinggi

I.3 TUJUAN
1. Melihat dan memahami bahaya logam-logam berat yang sering digunakan dalam perhiasan murah

2. Memahami prinsip kerja dari potensiometri 3. Memahami konsep dan prinsip kerja dari metode-metode potensiometri: langsung, standard addition, dan sample addition

I.4 HAL-HAL YANG PERLU DIPELAJARI


1. Jenis-jenis logam berat yang berbahaya bagi tubuh 2. Potensi bahaya dari logam-logam berat yang berbahaya bagi tubuh 3. Pengertian potensiometri 4. Prinsip kerja potensiometri 5. Alat-alat yang diperlukan dalam metode analisis dengan potensiometri 6. Jenis elektroda yang digunakan dalam metode analisis dengan potensiometri 7. Pengertian metode potensiometri langsung 8. Prinsip kerja metode potensiometri langsung 9. Persamaan dalam metode potensiometri langsung 10. Penambahan TISAB pada potensiometri langsung 11. Pengertian metode potensiometri standard addition 12. Prinsip kerja metode potensiometri standard addition 13. Pengertian metode potensiometri sample addition 14. Prinsip kerja metode potensiometri sample addition 15. Persamaan dalam metode potensiometri sample addition

BAB II: ISI


II.1 Bahaya Potensi Penggunaan Logam Berat Sebagai Perhiasan
Timbal merupakan logam berat yang sangat beracun, dapat dideteksi secara praktis pada seluruh benda mati di lingkungan dan seluruh sistem biologis. Sumber utama timbal adalah makanan dan minuman. Komponen ini beracun terhadap seluruh aspek kehidupan. Timbal menunjukkan beracun pada sistem saraf, hemetologic, hemetotoxic dan mempengaruhi kerja ginjal. Rekomendasi dari WHO, logam berat Pb dapat ditoleransi dalam seminggu dengan takaran 50mg/kg berat badan untuk dewasa dan 25 mg/kg berat badan untuk bayi dan anak-anak. Timbal merupakan salah satu jenis logam berat yang terjadi secara alami yang tersedia dalam bentuk biji logam, dan juga dalam percikan gunung berapi, dan bisa juga di peroleh di alam (WHO HECA undated). Karena meningkatnya aktivitas manusia, seperti pertambangan dan peleburan, dan pengunaannya dalam bahan bakar minyak, dan juga masih banyak lagi di gunakan dalam pembuatan produk lainnya sehingga kandungan timbal di biosphere telah meningkat dalam 300 tahun terakhir (NHMRC 2009). Timbal bisa masuk dalam lingkungan dan tubuh manusia dari berbagai macam sumber seperti bensin (petrol), daur ulang atau pembuangan baterai mobil, mainan, cat, pipa, tanah, beberapa jenis kosmetik dan obat tradisional dan berbagai sumber lainnya (WHO 2007). Di kebanyakan negara berkembang, sumber utama kontak dengan timbal berasal dari bensin bertimbal. Selain itu juga, berbagai consumer product seperti yang disebutkan diatas dan makanan juga bisa mengandung timbal (Meyer et al 2003). Pengaruh timbal pada kesehatan anak sangat banyak sekali termasuk diantaranya mengurangi perkembangan IQ, hyperactive, susah dalam belajar, masalah dalam bersikap seperti kurang peduli dan aggressive, rusak alat pendengaran dan lemah pertumbuhan (Meyer et al 2003). Kandungan timbal Keracunan Timbal di Indonesia dalam darah lebih dari 50 ug/dL bisa menyebabkan rusaknya ginjal dan anemia. Konsentrasi timbal 100 micrograms per deciliter dalam darah anak bisa menyebabkan penyakit serius, coma, sawan atau kematian (Kessel I & OConnor 1997). Kontaminasi timbal di Indonesia bisa berasal dari kosmetik, perhiasan dan cat. Celak merupakan salah satu kosmetik untuk mata, hampir sama dengan maskara, banyak digunakan oleh wanita di Timur Tengah. Celak merupakan salah satu hadiah berharga bagi masayarakat Indonesia pada musim haji. Sebuah penelitian oleh Ashban et al (2004) menemukan bahwa banyak celak dari Saudi Arabia terkontaminasi dengan timbal. Di tambah lagi, beberapa perhiasa dari Cina telah di temukan mengandung racun kimia seperti timbal dan cadmium (Nugraha F 2010). Perhiasan ini memiliki potensial sebagai penyebab keracunan timbal di Indonesia karena produk ini murah dan mudah di dapat di pasar.

Kadmium (Cd) adalah logam kebiruan yang lunak, dan merupakan racun bagi tubuh manusia. Waktu paruhnya 30 tahun dan dapat terakumulasi pada ginjal sehingga ginjal mengalami disfungsi. Jumlah normal kadmium di tanah berada di bawah 1 ppm, tetapi angka tertinggi (1700 ppm) dijumpai pada permukaan sampel tanah yang diambil di dekat pertambangan biji seng (Zn). Kadmium lebih mudah diakumulasi oleh tanaman dibandingkan dengan ion logam berat lainnya seperti timbal. Logam berat ini bergabung bersama timbal dan merkuri sebagai the big three heavy metal yang memiliki tingkat bahaya tertinggi pada kesehatan manusia. Menurut badan dunia FAO/WHO, konsumsi per minggu yang ditoleransikan bagimanusia adalah 400-500 g per orang atau 7 mg per kg berat badan. Kadmium yang terdapat dalam tubuh manusia sebagian besar diperoleh melalui makanan dan tembakau, hanya sejumlah kecil berasal dari air minum dan polusi udara. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Laegreid (1999) dalam Charlene (2004), pemasukan Cd melalui makanan adalah 10-40 mg/hari, sedikitnya 50% diserap oleh tubuh. Merkuri (Hg) disebut juga air raksa, merkuri merupakan logam yang secara alami ada dan merupakan satu-satunya logam yang pada suhu kamar berwujud cair. Logam murninya berwarna keperakan, cairan tak berbau, dan mengkilap. Bila dipanaskan sampai suhu 357C, Hg akan menguap. Merkuri termasuk logam berat berbahaya, yang dalam konsentrasi kecilpun dapat bersifat racun. Pemakaian merkuri dalam krim pemutih dapat menimbulkan berbagai hal, mulai dari perubahan warna kulit yang pada akhirnya dapat menyebabkan bintik-bintik hitam pada kulit, alergi, iritasi kulit serta pemakaian dengan dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan permanen otak, ginjal, dan gangguan perkembangan janin bahkan paparan jangka pendek dalam dosis tinggi juga dapat menyebabkan muntah-muntah, diare dan kerusakan paru-paru serta merupakan zat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker) pada manusia (BPOM, 2006). Arsenik diakui sebagai komponen esensial bagi sebagian hewan dan tumbuhtumbuhan, namun demikian arsenik lebih populer dikenal sabagai raja racun dibandingkan kapasitasnya sebagai komponen esensial. Arsen jika terhirup, dapat menyebabkan iritasi saluran pernafasan, disertai nyeri tenggorok, batuk, nafas yang dangkal, dan edema paru. Jika terkena kulit dapat menyebabkan iritasi. Jika terkena mata dapat menyebabkan iritasi dan gangguan penglihatan. Jika tertelan, dapat menimbulkan gangguan pernafasan hingga edema paru. Gejala saluran pencernaan: mual, muntah, nyeri perut, dan diare. Gejala kardiovaskular: hipotensi, takikardia, syok, dan kematian. Dapat terjadi asidosis metabolik dan rhabdomiolisis. Gejala neurologis: letargi, agitasi, atau delirium. Gejala hematologi: pansitopenia, terutama leukopenia dan anemia. Bila korban bisa bertahan dari gagal jantung, dan setelah mencapai stadium pemulihan, dapat ditemukan gejala sisa, terutama neuropati periferal dan garis Mees pada kuku jari. Gejala dermatologis: biasanya muncul terlambat.

Berdasarkan pemaparan mengenai bahaya beberapa bahan logam berat yang terkandung dalam perhiasan murah atau kosmetik murah, bahan-bahan tersebut sangatlah berbahaya menurut kami.

II.2 Metode Analisis Elektrokimiawi untuk Menganalisis Darah atau Serum


Analisis elektrokimia adalah metode analisis kualitatif maupun kuantitatif senyawa kimia, yang reaksinya dipengaruhi oleh arus listrik, beda potensial, dan daya hantar listrik. Sebenarnya, analisis elektrokimia merupakan sekelompok metode yang menggunakan prinsip elektrokimia yang digunakan untuk menentukan analisis kuantitatif dan kualitatif suatu sampel dengan mencari tahu dan menggunakan sifat-sifat kelistrikan sampel (cuplikan) tersebut. Ada beberapa metode analisis dalam analisis elektrikimia, antara lain : 1. Potensiometri Mempelajari hubungan konsentrasi dengan beda potensial 2. Konduktometri Mempelajari hubungan konsentrasi dengan daya hantar listrik 3. Coulometri Mempelajari hubungan konsentrasi dengan muatan listrik 4. Polarografi Mempelajari hubungan konsentrasi dengan beda potensial dan daya hantar listrik Nah, pada soal disebutkan bahwa di laboratorium tempat diadakan penelitian untuk menguji sampel perhiasan, terdapat sejumlah alat antara lain pH meter/voltmeter, titrator, dan sebuah elektroda standar kalomel jenuh serta elektroda indikator untuk analisis zat besi. Dari alat-alat penelitian yang telah disebutkan, dapat disimpulkan bahwa peneliti menggunakan metode potensiometri untuk menganalisis darah atau serum. Kadar zat besi dalam darah kita dapat ditentukan dengan menggunakan prinsip potensiometri langsung. Potensiometri merupakan salah satu metode analisis dengan berdasar pada pengukuran perbedaan tegangan dari sel elektrokimia. Potensiometri umum digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi, dan dewasa ini kerap kali digunakan untuk mengukur konsentrasi ion dalam suatu larutan yang dianalisis (analit). Pada soal disebutkan bahwa terdapat dua elektroda, yaitu elektroda kalomel jenuh sebagai elektroda acuan, dan suatu elektroda indikator untuk analisis besi. Sebenarnya, elektroda indikator untuk analisis besi ini digunakan untuk menganalisis darah atau serum, dan elektroda indikator yang dipakai untuk menganalisis darah atau serum tersebut adalah elektoda membran. Pada elektroda membran, tidak ada elektron yang diberikan oleh atau kepada membran tersebut. Sebagai gantinya, suatu membran membiarkan ion-ion jenis tertentu menembusnya, namun melarang ion-ion lain

sehingga elektroda ini sering disebut sebagai elektroda ion selektif (ISE). . Membran yang digunakan dalam kasus ini haruslah bersifat inert terhadap larutan uji (darah), selektif terhadap ion Fe, memiliki kepekaan yang baik, memenuhi nilai sensitivitas teoritis dan dapat dicetak sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Metode dengan prinsip potensiometri langsung ini cukup menguntungkan dalam penentuan konsentrasi suatu ion karena memerlukan biaya yang relatif rendah (voltmeter dan elektroda yang digunakan dapat dengan mudah didapatkan dengan harga yang relatif murah). Metode potensiometri langsung juga dapat digunakan untuk menguji sampel lain. Oleh karena itu metode ini juga dapat digunakan untuk mengetahui kandungan ion Cr dalam sampel perhiasan yang akan diuji.

II.3

Metode Analisis Elektrokimiawi untuk Menentukan Kandungan Ion Logam Cr pada Sampel Perhiasan yang Diuji
Oleh karena kita telah melihat bahwa penentuan kandungan atau konsentrasi lebih mudah menggunakan metode potensiometri langsung, maka dari itu kita dapat menggunakan metode ini untuk menentukan kandungan ion logam Cr pada sampel perhiasan yang diuji. Untuk mengetahui kandungannya, maka larutan elektrolit yang digunakan adalah larutan elektrolit yang mengandung Cr yang berasal dari perhiasan, atau dengan kata lain, larutan elektrolit berasal dari perhiasan yang dilarutkan. Setelah itu, kita memasang elektroda jenis pertama, yaitu elektroda logam Cr sebagai elektroda indikator. Untuk mencari konsentrasi atau kandungan ion Cr yang diuji, kita dapat mencarinya melalui persamaan metode potensiometri langsung berikut ini :

Kemudian substitusi persamaan sehingga persamaan diatas menjadi

ke dalam persamaan diatas

oleh karena

, maka persamaannya menjadi :

Sedangkan untuk mencari konsentrasi anion larutan analitnya adalah hampir sama dengan cara diatas :

Apabila kita urutkan dari awal, maka tahap-tahap untuk melakukan metode ini adalah : 1. Memasang elektroda dan analit sedemikian rupa sehingga hampir mirip seperti sel volta. Kemudian praktikan mengukur respon instrumen (potensial elektroda yang terbaca) dan menghitung nilai K ( ) 2. Setelah itu mensubtitusikan pX dengan log[X] dimana [X] adalah konsentrasi zat X dalam larutan analit

II.4 Kebutuhan Penambahan Senyawa Penjaga Kekuatan Ion dalam Larutan atau TISAB
TISAB diperlukan untuk menjaga agar komposisi dari larutan analit dan larutan buffer standar tetap sama sehingga kekuatan ionic keduanya sama, sehingga proses perhitungan potensiometrik pada analitnya dapat memiliki keakuratan yang tinggi. Sebagai contoh adalah uji coba potensiometrik untuk menentukan kandungan ion fluoride dalam air minum. Kedua sampel dan standar dicampurkan ke dalam larutan yang berisi sodium klorida, sebuah buffer asetat dan sitrat. Larutan campurannya memiliki konsentrasi yang tepat sehingga sampel dan standar keduanya memiliki kekuatan ionic yang sama. Metode ini menyediakan pengukuran konsentrasi fluoride dengan cepat dalam kisaran part-per-million dengan tingkat akurasi 5% kesalahan.

TISAB diperlukan jika kekuatan ionic sampel sangat besar sehingga dapat mempengaruhi kurva kalibrasi. Karenanya, jika sampel memiliki tingkat kekuatan ionic yang setara dengan buffer yang digunakan, TISAB tidak perlu ditambahkan ke dalam perhitungan potensiometrik. Penambahan TISAB paling sering digunakan untuk mengukur aktivitas ion florida. Bila menggunakan fluorida elektroda ion sensitif fluorida sudah lazim jika kita menambahkan larutan TISAB. Reagen ini memiliki tiga fungsi , yaitu penyesuaian pH , penyedia kekuatan ion tinggi konstan dan pelepasan fluorida dari bentuk kompleks . Penyesuaian pH ke nilai konstan diperlukan karena elektroda ion sensitif fluorida responsif terhadap perubahan konsentrasi ion hidroksida terutama pada pH tinggi. pH 5,5 merupakan taraf optimum untuk penentuan fluorida. Pada pH ini ada sedikit hubungan sebagai HF atau HF- dan itu adalah nilai yang mudah dicapai menggunakan asetat atau buffer sitrat . Namun perairan relatif tercemar dan dengan penyangga yang memadai , seperti halnya dengan air laut , tidak memerlukan penyangga. Fungsi kedua TISAB solusi adalah untuk memberikan kekuatan ion relatif tinggi untuk memastikan bahwa sambungan liquid junction diminimalkan dan untuk memberikan latar belakang kekuatan ionik konstan sehingga meminimalkan variasi antara sampel dan standar . larutan yang umum digunakan menggabungkan reagen kompleks yang akan merilis fluorida dari senyawa kompleks tersebut . Aluminium adalah interferent utama meskipun zat besi ( III ) dan magnesium ( II ) juga dapat menyebabkan masalah. Decomplexing reagen terjadi pada sitrat , CDTA ( trans - l , 2 diaminocyclohexane - N , N , N ' asam ' - tetra - asetat ) , tiron ( Pyrocatechol 3,5disodium disulfonat ) , tris ( tris ( hidroksimetil metilamin ) ) , manitol , trietanolamin dan salisilat. Hal di atas akan muncul untuk menjadi ketidaksetujuan untuk reagen decomplexing yang paling efektif dan situasi dibuat lebih membingungkan melalui penggunaan berbagai konsentrasi TISAB - solusi dan penerapan tidak jelas singkatan untuk nama solusi . Kemampuan larutan TISAB untuk melepaskan fluoride akan sangat tergantung pada komposisi total larutan analit dan apa yang terbaik untuk perairan alami yang relatif murni belum tentu yang terbaik untuk campuran limbah yang kompleks . Sitrat pada konsentrasi yang tepat adalah salah satu TISAB - solusi yang paling efektif tetapi di mana ada supression besar dari fluoride karena aluminium penting untuk memastikan penyimpangan waktu yang cukup antara penambahan dan pengukuran potensi untuk memungkinkan pengompleksan berlangsung. Penambahan Larutan tak diketahui, bertujuan untuk meningkatkan intensitas signal untuk menunjukan keaktifan larutan pokok.

II.5 Menentukan Konsentrasi Krom pada Sampel dengan Metode Potensiometri Sample Addition
Metode sample addition digunakan hanya untuk menentukan konsentrasi larutan sampel. Sehingga, dengan menggunakan sample addition, konsentrasi larutan sampel yang sebelumnya tidak diketahui akan diketahui. Metode sample addition hampir serupa dengan metode standard addition. Umumnya, metode ini digunakan apabila sampel tersedia dalam jumlah sedikit, memiliki matriks kompleks, atau berada dalam konsentrasi tinggi. Metode ini dilakukan dengan menambahkan sampel pada larutan standar, sejenis dengan cara yang dilaksanakan pada metode standard addition. Langkah kerja metode sample addition melalui mekanisme standard addition adalah sebagai berikut : 1. Dalam standard addition terdapat dua jenis larutan: sampel dan larutan standar. Kedua larutan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam empat labu erlenmeyer yang berbeda. Akan tetapi, pada labu keempat, larutan standar tidak ditambahkan, yang hanya dimasukkan adalah larutan analit (sampel). 2. Larutan standar yang dimasukkan ke dalam tiga labu Erlenmeyer dimasukkan dalam volume yang berbeda-beda untuk setiap labu. Sebagai contoh, pada labu pertama dimasukkan 30 mL, pada labu kedua dimasukkan 60 mL, dan pada labu ketiga dimasukkan 90 mL. 3. Pada sample addition, larutan yang dituangkan berbeda komposisinya. Larutan standar yang kita tuang, kita buat dalam jumlah volume yang sama pada keempat labu yang diisi dengan larutan standar. Akan tetapi, untuk larutan sampel, larutan tersebut hanya dimasukkan ke dalam tiga labu dalam besar volume yang berbeda. Sebagai contoh, untuk labu pertama dimasukkan 25 mL, untuk labu kedua dimasukkan 50 mL, dan untuk labu ketiga dimasukkan 75 mL. 4. Setelah itu, barulah dilakukan teknik potensiometri seperti biasa. Dan untuk mencari tahu konsentrasi dari sampel, kita dapat mencarinya melalui persamaan berikut: (persamaan berikut juga sebagai pembuktian rumus perhitungan pada sample addition) 1. Potensial sel tanpa larutan sampel (Sebelum penambahan sampel; hanya terdapat larutan standar) 2. Potensial sel setelah ditambah larutan sampel ( )

3. Potensial total

Setelah mendapatkan hasil seperti yang diatas, ternyata hasilnya berbeda dengan yang ada di soal pemicu. Ini berarti bahwa persamaan yang ada di dalam pemicu adalah salah, selain itu tidak sesuai dengan persamaan :

II.6 Menentukan Kemiringan Kurva Kalibrasi


Kurva kalibrasi larutan Cr2+ terhadap beda potensial sel didapat melalui dua langkah. Pertama, untuk mencari slope grafik, kita harus membuat grafik perbandingan antara log [Cr2+] terhadap beda potensial sel terlebih dahulu. Persamaan hubungan konsentrasi dengan beda potensial yang digunakan yaitu :
Konsentrasi Larutan Cr2+ [Cr2+] (mol/L) 3.75 7.5 15 30 60 120 240

Volume Cr (L) 0.2 0.1 0.05 0.025 0.0125 0.00625 0.003125

2+

Log10 Konsentrasi Larutan Cr2+ [Cr2+] 3.75 7.5 15 30 60 120 240

Beda Potensial Sel (E) (V) -0.0356 -0.0178 0.0004 0.0168 0.0349 0.0528 0.0704

0.001563 0.000781 0.000391 0.000195

479.8464 960.3073 1918.159 3846.154

479.85 960.31 1918.16 3846.15

0.0893 0.1071 0.1255 0.1429

Berdasarkan keterangan pada pertanyaan pemicu, diketahui bahwa massa jenis larutan Cr2+ adalah 750 mg/L. Sedangkan, agar dapat dimasukkan ke dalam rumus, kita harus mendapatkan besar konsentrasi dari setiap volume larutan. Setelah kita mendapatkan besar konsentrasi untuk setiap volume larutan, kemudian kita mencari log10 dari konsentrasi. Selanjutnya, kita membuat grafik dari table diatas :

Beda Potensial Sel (E) (V)


0.2 Beda Potensial Sel (E) 0.15 0.1 0.05 0 0 -0.05 1000 2000 3000 4000 5000 y = 4E-05x + 0.0265 R = 0.6044 Beda Potensial Sel (E) (V) Linear (Beda Potensial Sel (E) (V))

Log10 [Cr2+]

Dari grafik diatas, kita mendapatkan bahwa besar gradien atau kemiringan kurva adalah sebesar 4E-05 atau sebesar yang digunakan adalah sebesar . Berarti, ukuran respon elektroda ion selektif . Perlu diketahui mengapa gradien yang terlihat

pada grafik adalah sebesar 4E-05 karena pada saat pembuatan grafik, grafik dibuat dengan software Microsoft Excel sehingga untuk menuliskan menjadi 4E-05. , Excel menuliskannya

II.7 Pemilihan Metode Potensiometri, Apakah dengan Metode Standard Addition atau Sample Addition
Metode yang tepat digunakan untuk menganalisis sampel yang memiliki konsentrasi tinggi adalah dengan menggunakan metode sample addition. Metode sample addition digunakan pada saat sampel yang diuji memiliki konsentrasi yang tinggi, sampel yang tersedia sedikit, dan sampel yang mengandung matriks kompleks. Konsentrasi yang tinggi pada sampel, dengan menggunakan sample addition akan membuat konsentrasi sampel pada larutan campuran (sample, standard, pelarut) tersebar merata tanpa

memerlukan volume sampel yang banyak pada tiap volume dari larutan standar yang ada di tiap labu. Sedangkan metode standard addition digunakan pada saat konsentrasi larutan sampel yang diujo tidak begitu tinggi dan jumlah sampel yang tersedia cukup banyak.

BAB III: PENUTUP


III.1 KESIMPULAN
1. Ada banyak sekali perhiasan-perhiasan murah yang tersebar di sekitar kita. Padahal perhiasan tersebut banyak mengandung logam berat seperti, lead, cadmium, chromium, raksa, dan lain-lain. Bahaya yang ditimbulkan pun juga sangat besar seperti disfungsi ginjal, kerusakan pada otak dan bagian-bagian tubuh, kanker, bahkan sampai dengan kematian 2. Ada banyak cara untuk menganalisis kandungan logam-logam berat tersebut dalam perhiasan-perhiasan murah, tetapi metode yang dianggap paling mudah dan tepat untuk digunakan ialah metode analisis potensiometri. Potensiometri merupakan salah satu metode analisis dengan berdasar pada pengukuran perbedaan tegangan dari sel elektrokimia. Di dalam analisis dengan potensiometri, terdapat beberapa metode yang digunakan antara lain metode potensiometri langsung, metode standard addition, dan metode sample addition 3. Metode potensiometri langsung adalah metode analisis dengan potensiometri yang mana dilakukan dengan cara merangkaikan larutan analit (sebagai larutan elektrolit) dan elektroda-elektroda sedemikian rupa sehingga menjadi seperti sel galvani. Kemudian voltmeter ditempatka untuk mengukur respon dari elektoda indikator. Metode standard addition adalah metode yang menggunakan larutan standar (sudah diketahui konsentrasinya) yang dicampur dengan larutan sampel untuk mencari konsentrasi dari larutan sampel. Sedangkan, metode sample addition adalah metode yang mekanismenya sama dengan larutan standar hanya saja berbeda dalam pemberian porsi volume larutan standar pada masing-masing labu.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. The Methode of Standard Addition. http://www.tau.ac.il/~advanal/StandardAdditionsMethod.htm, diakses pada tanggal 14 Oktober 2013 , pukul 18.23 Anonim. Kurva Kalibrasi. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16428/1/Appendix.pdf, diakses pada tanggal 14 Oktober 2013 , pukul 15.23 Crouch, Holler, Skoog, West. 2004. Fundamentals of Analytycal Chemistry 8th edition. Canada : Thomson Learning Inc. Badan POM RI. (2010). ARSENIK TRIOKSIDA. Jakarta: Sentra Informasi Keracunan Nasional (SiKer Nas) Pusat Informasi Obat dan Makanan.page.3 Gandjar, I.G., dan A. Rohman. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Yokyakarta: Pustaka Pelajar Kissi Parengkuan, Fatimawali, Gayatri Citraningtyas. (2013). Analisis Kandungan Merkuri Pada Krim Pemutih Yang Beredar Di Kota Manado. Manado: PHARMACON Jurnal Ilmiah Farmasi UNSRAT Vol. 2 No. 01. Page.2 Shevla, G.1990. Vogel : Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro. PT. Kalman Media Pusaka : Jakarta Suherni. (2010). Keracunan Timbal di Indonesia. Australia: The LEAD Group Inc Underwood,A.L. 1980. Analisa Kimia Kuantitatif. Erlangga : Jakarta Widaningrum, Miskiyah, dan Suismono. (2007). Bahaya Kontaminasi Logam Berat Dalam Sayuran dan Alternatif Pencegahan Cemarannya. Jakarta: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian Vol. 3 2007

Anda mungkin juga menyukai