Anda di halaman 1dari 10

Presentasi Kasus: Neurodermatitis

Kepaniteraan Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Periode 22/3/10-24/4/10


Nama: Nurul Hafiez bin Fijasri NIM: 11-2009-084 Fakultas Kedokteran UKRIDA

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA BAGIAN PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RUMAH SAKIT HUSADA
Nama NIM Dr. Pembimbing : Nurul Hafiez bin Fijasri : 11-2009-084 : Dr. Hendrik K.Adjie, Sp.KK

A. IDENTITAS Nama Jenis Kelamin Umur Agama Alamat Pekerjaan Status pernikahan Suku B. ANAMNESIS Anamnesis dilakukan dengan: Autoanemnesis Dilakukan pada tanggal 31 Maret 2010 Jam 10:00 pagi Keluhan utama Keluhan tambahan : Os merasa gatal-gatal yang berterusan di tangan dan lutut sejak 2 tahun yang lalu. : Os juga merasa kulit bagian yang gatal semakin menebal, semakin membesar dan tidak membaik. : Tn. Thin Nen Fie. : Lelaki. : 51 tahun. : Kristen : Jalan Pademangan 3, Gang 21/303, RT 009, RW 007, Pandemangan Timur, Jakarta Utara. : Pedangan makanan. : Berkahwin : Jawa

Riwayat perjalanan penyakit: 2 tahun yang lalu, os merasa gatal di jari tangan kanannya dan di lutut kanan. Os meyatakan keluhan gatalnya semakin dirasakan apabila waktu malam atau hendak tidur dan sesudah selesai dari kerja.Os mengaku merasa keluhannya hilang tiap kali menggaru yang kemudiannya menjadi kebiasaannya tiap hari. Os mengaku kulit yang digaru menjadi sedikit kemerahan namun meyangkal adanya rasa nyeri tiap kali menggaru. Os juga menyatakan
2

kulitnya dirasakan semakin menebal di tempat yang gatal dan kadang-kadang terlihat kulit yang menggelupas. Os meyatakan pernah berubat 2 bulan sebelumnya namun tidak ada perbaikan. Os menyatakan bagian kulit yang gatal semakin menebal terlihat berwarna putih sewaktu kering. Os meyangkal lesi ini menyebar dengan cepat. Os meyangkal lesi di kulitnya berubah baik dari warna, batas, ataupun lokasi sejak mulai dirasakan. Os mengaku tidak menggunakan sarung tangan sewaktu mencampurkan bahan yang dimasaknya sewaktu dagang dan merasakan gatalnya berpunca dari itu. Os meyangkal adanya penyakit diabetes, darah tinggi, asthma, penyakit ginjal, penyakit saluran hempedu, alergi dan sebarang penyakit lainnya dan meyangkal mengkonsumsi sebarang obat-obatan. Os meyangkal adanya ahli keluarganya yang menghidap keluhan yang sama. Riwayat penyakit dahulu: Os meyangkal menderitai sebarang penyakit.

C. STATUS GENERALIS Keadaan umum Kesedaran Status gizi Suhu Tekanan darah Berat badan Mata Gigi THT : Baik : Compos mentis : Baik : Afebris : 120/80mmHg : 70kg : konjuntiva anemis (-), skera ikterik (-), sekret (-). : Caries dentis (-). : Mukosa hiperemis (-), abses peritonsiler (-), T1-T1.

D. STATUS DERMATOLOGIS Distribusi Lokasi dan efloresensi : Regional : Regio jari tengah manus dektra - Likenifikasi, hipopigmentasi dengan batas tidak jelas, skuama halus. : Regio lutut dektra - Likenifikasi, hipopigmentasi, skuama halus, eritema di tengah lesi, hiperpigmentasi di daerah perbatasan. : Regio siku dektra dan sinistra - Likenifikasi, hipopigmentasi dengan batas tidak jelas, skuama halus, hiperpigmentasi di daerah perbatasan.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG/ANJURAN PEMERIKSAAN 1. Test kulit alergi untuk menyingkirkan diagnosa dematitis atopic 2. Test kerokan kulit dengan KOH10% untuk menemukan tanda infeksi jamur. F. RESUME Seorang laki-laki, umur 51 tahun datang dengan gatal-gatal yang berterusan di tangan sikut kanan dan kiri dan lutut kanan sejak 2 tahun yang lalu, kulit di bagian yang gatal semakin menebal, semakin membesar 1-2 inci dari awalnya dan tidak membaik. Gatal juga dirasakan menghilang setelah digaru, namun gatal semakin dirasakan pada saat istirahat dan malam hari, Riwayat tidak memakai sarung tangan saat mencampurkan makanan sewaktu dagangan. Pada pemeriksaan fizik didapatkan: Regio jari tengah manus dektra - Likenifikasi, hipopigmentasi dengan batas tidak jelas, skuama, hiperpigmentasi di darah perbatasan. : Regio lutut dektra - Likenifikasi, hipopigmentasi dengan batas tidak jelas, skuama, hiperpigmentasi di daerah perbatasan. Regio siku dektra dan sinistra - Likenifikasi, hipopigmentasi dengan batas tidak jelas, skuama, hiperpigmentasi di daerah perbatasan. G. DIAGNOSIS i. ii. Diagnosa Kerja Diagnosa banding : Neurodermatitis sirkumskripta : Dermatitis atopik : Psoriasis : Tinea korporis

H. PENATALAKSANAAN 1. Non farmakologi Edukasi pasien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal, sebaiknya dikompres dengan es sehingga rasa gatal membaik. Edukasi pasien untuk manjaga higenis untuk mengelakkan infeksi sekunder seperti memotong kuku pendek. Hindari gigitan serangga, dan bahan-bahan yang mengiritasi kulit.
5

2. Farmakologi Sistemik R/ Loratadin tab 10 mg No. X 1 d.d tab o.n Topikal R/ Doxepin Cream 5% tube No. I 4 d.d u.e R/ Triamcinolone acetonide Cream 0.1% tube No. 1 4 d.d u.e R/ Aquphor Ointment tube No. 1 4 d.d u.e Pro : Tn. Thin Nen Fie Umur : 51 tahun

I. PROGNOSIS Ad vitam Ad fungsionam Ad sanationam : Dubia ad bonam. : Dubia ad bonam : Dubia ad bonam

J. PENGAWASAN PERJALANAN PENYAKIT Kontrol kembali setelah obat habis. Edukasi pasien secara berterusan.

TINJAUAN PUSTAKA NEURODERMATITIS SIRKUMSKRIPTA (NS)

1. Sinonim Nama lain neurodermatitis sirkumskripta (NS) ialah liken simpleks kronikus, istilah ini dipakai pertama kali oleh Vidal oleh kerana itu juga dikenali dengan istilah liken Vidal. 2. Definisi Peradangan kulit kronis, gatal, sirkumskrip, ditandai dengan kulit tampak tebal dengan garis kulit tampak lebih menonjol (likenifikasi) menyerupai kulit batang kayu, akibat garukan atau gosokan yang berulang-ulang kerana berbagai rangsangan pruritogenik. NS bukan merupakan suatu proses yang primer melainkan seseorang itu merasakan gatal pada satu tempat di kulit dengan atau tanpa kelainan dan meyebabkan trauma mekanikal di titik likenifikasi. 3. Etiopatogenesis Pruritus (gatal) memainkan peranan sentral dalam timbulnya pola reaksi kulit berupa likenifikasi dan pririgo nodularis. Hipotesis mengenai pruritus dapat oleh karana adanya penyakit yang mendasari misalnya pada gagal ginjal kronis, obstruksi saluran hempedu, limfoma Hodgkin, hipertiroid, peyakit kulit seperti dermatitis atopik, dermatitis kontak alergik, gigitan serangga, dan aspek psikologik dengan tekanan psikologi. NS dijumpai di regio kulit yang bisa digaruk. Pruritus akan menginduksi garukan yang berakir dengan lesi klinikal tetapi patofisiologi yang mengakibatkannya masih belum diketahui. Ada beberapa jenis kulit yang lebih mudah untuk mengalami likenifikasi seperti kulit yang mudah mengalami kondisi ekzema seperti pada dermatitis atopik. Ada hubungan antara jaringat saraf central dan perifer dan produk sel inflamasi dalam persepsi pruritus dan perubahan yang berlaku pada NS. Antara faktor yang memainkan peranan pada derajat NS adalah lesi primer, faktor psikis, dan kekuatan pruritus yang dirasakan pasien. Pada prurigo nodularis, jumlah eosinofil meningkat. Eosinofil berisi protein X dan protein kationik yang dapat menimbulkan degranulasi sel mas. Jumlah sel langerhans juga bertambah banyak. Saraf yang berisi CGRP (calcitonin gene-related peptide) dan SP (substance P), bahan imunoreaktif, jumlahnya di dermis bertambah pada prurigo nodularis, tetapi tidak pada neurodermatitis sirkuskripta. SP dan CGRP melepaskan histamin dari sel mas yang selanjutnya akan memicu pruritus. Ekspresi factor pertumbuhan saraf p75 pada membrane sel schwan dan sel
7

perineum meningkat, mungkin ini akan menghasilkan hiperplasi neural. 4. Gejala Klinis Penderita mengeluh gatal sekali, bila timbul pada malam hari akan dapat menggangu tidur. Rasa gatal memang tidak terus menerus, biasanya pada waktu tidak sibuk, bila muncul sulit ditahan untuk tidak digaruk. Penderita merasa enak bila digaruk setelah luka baru hilang rasa gatalnya untuk sementara kerana diganti dengan rasa nyeri. Lesi biasanya tunggal, pada awalnya berupa plak eritematosa, sedikit edementosa, lambat laun adema dan eritema menghilang, bagian tengah berskuama dan menebal, likenifikasi dan ekskoriasi, sekitarnya hiperpigmentasi, batas dengan kulit normal tidak jelas. Gambaran klinis dipengaruhi juga oleh lokasi dan lamanya lesi. NS tidak biasa terjadi pada anak tapi pada usia dewasa ke atas dengan puncak insiden antara 30-50 tahun. Wanita lebih sering menderita daripada pria. Letak lesi dapat timbul di mana saja tapi biasa ditemukan di scalp, tengkuk, samping leher, dengan bagian ekstensor, pubis, vulva, skrotum, perianal, paha bagian medial, lutut, tungkai bawahlateral, pergelangan kaki bagian depan, dan punggung kaki. NS di daerah tengkuk (lichen nuchae) umumnya hanya pada wanita berupa plak kecil di tengah tengkuk atau dapat meluas sampai ke sklap. Biasanya skuamanya banyak dan menyerupai psoriasis. Variasi klinis NS dapat berupa prurigo nodularis akibat garukan atau korekan tangan penderita yang berulang-ulang pada suatu tempat. Lesi berupa nodus berbentuk kubah, permukaan mengalami erosi tetutup krusta dan skuama, lamat laun menjadi keras dan berwarna lebih gelap (hiperpigmentasi). Lesi biasanya multiple, lokalisasi tersering di ektremitas, berukuran mulai beberapa milimiter sampai 2 cm.

5. Histopatologi Gambaran histopatologik NS beruapa ortokeratosis, hipergranulosis, akantosis dengan rete ridges memanjang teratur. Bersebukan sel radang lmfosit dan histiosit di sekitar pembuluh darah dermis bagian atas, fibroblast bertambah, kolagen menebal. Pada prurigo modularis akantosis pada bagian tengah lebih tebal, menojol lebih tinggi dari permukaan, sel schwan berproliferasi,dan terlihat hiperplasi neural. Kadang terlihat krusta yang menutup sebagian dermis.
8

6. Diagnosis Diagnosis NS didasarkan gambaran klinis, biasanya tidak terlalu sulit. Namun perlu difikirkan penyakit kulit yang lain yang memberikan gejala gatal misalnya liken planus, liken amiloidosis, psoriasis, dan dermatitis atopic. 7. Pengubatan Secara umum perlu dijelaskan pada penderita bahawa garukan akan memperburuk keadaaan penyakitnya oleh kerana itu harus dihindari. Untuk mengurangi rasa gatal dapat diberikan antipruritus, kortikosteroid topical atau intralesi, produk ter. Antihistamin dapat yang mempunyai efek antihistamin contohnya hisroksin, difenhidramin, prometazin atau tranquilizer. Dapat pula diberikan secara topical krim doxepin 5% dalam jangka pendek (I minggu). Kortikosteroid yang dipakai biasanya berpotensi kuat, bila perlu ditutup dengan penutup impermeable, kalau masih tidak berhasil dapat diberikan suntikan intralesi. Selep kortokosteroid dapat pula dikombinasi dengan ter yang yang mempunyai efek antiinflamasi. Ada pula yang mengobati dengan UVB dan PUVA. Perlu dicari kemungkianan ada penyakit yang mendasari, bila ada harus diubati. Prognosis bergantung pada penyebab pruritus dan status psikologik penderita.

Daftar Pustaka
9

1.
2.

Djuanda A., Djuanda S., Hamzah M., Aisah S., editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi Keempat, Jakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007. Daniel J Hogan, Lichen Simplex Chronicus, available at http://emedicine.medscape.com/article/1123423-overview. Siregar, Saripati Penyakit Kulit Edisi Kedua, Palembang, Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, 2003.

3.

10