Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASKEP DEPARTEMEN PEDIATRIK RUANG 15 HIDROCELE

Disusun Oleh : Mohamad Daroini NIM 0910720054

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

A. DEFENISI Hidrokel adalah penimbunan cairan dalam selaput yang membungkus testis, yang menyebabkan pembengkakan lunak pada salah satu testis. Penyebabnya karena gangguan dalam pembentukan alat genitalia external, yaitu kegagalan penutupan saluran tempat turunnya testis dari rongga perut ke dalam skrotum. Cairan peritoneum mengalir melalui saluran yang terbuka tersebut dan

terperangkap di dalam skrotum sehingga skrotum membengkak. Hidrokel adalah penimbunan cairan dalam selaput yang membungkus testis, yang menyebabkan pembengkakan lunak pada salah satu testis. Penyebabnya karena gangguan dalam pembentukan alat genitalia external, yaitu kegagalan penutupan saluran tempat turunnya testis dari rongga perut ke dalam skrotum. Cairan peritoneum mengalir melalui saluran yang terbuka tersebut dan

terperangkap di dalam skrotum sehingga skrotum membengkak. (Pramono,Budi . 2008) B. ETIOLOGI

1. Hidrokel yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena : a. belum sempurnanya penutupan prosesus vaginalis sehingga terjadi aliran
cairan peritoneum ke prosesus vaginalis atau

b. belum sempurnanya sistem limfatik di daerah skrotum dalam melakukan


reabsorbsi cairan hidrokel.

2. Pada orang dewasa, hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan
sekunder. Penyebab sekunder dapat terjadi karena didapatkan kelainan pada testis atau epididimis yang menyebabkan terganggunya sistem sekresi atau reabsorbsi cairan di kantong hidrokel. Kelainan pada testis itu mungkin suatu tumor, infeksi, atau trauma pada testis atau epididimis. Kemudian hal ini dapat menyebabkan produksi cairan yang berlebihan oleh testis, maupun obstruksi aliran limfe atau vena di dalam funikulus spermatikus. C. TANDA DAN GEJALA 1. 2. Pembesaran skrotum dan perasaan berat. Biasanya nyeri ringan kecuali di sebabkan oleh infeksi epididimis akut.

D. KLASIFIKASI 1. Berdasarkan kapan terjadinya, yaitu :

a. Hidrokel primer Hidrokel primer terlihat pada anak akibat kegagalan penutupan prosesus vaginalis. Prosesusvaginalis adalah suatu divertikulum peritoneum

embrionik yang melintasi kanalis inguinalisdan membentuk tunika vaginalis. Hidrokel jenis ini tidak diperlukan terapi karena dengansendirinya rongga ini akan menutup dan cairan dalam tunika akan diabsorpsi. b. Hidrokel sekunder Pada orang dewasa, hidrokel sekunder cenderung berkembang lambat dalam suatu masa dandianggap sekunder terhadap obstruksi aliran keluar limfe. Dapat disebabkan oleh kelainantestis atau epididimis. Keadaan ini dapat karena radang atau karena suatu proses neoplastik.Radang lapisan mesotel dan tunika vaginalis menyebabkan terjadinya produksi cairanberlebihan yang tidak dapat dibuang keluar dalam jumlah yang cukup oleh saluran limfedalam lapisan luar tunika. 2. Menurut letak kantong hidrokel dari testis, yaitu : a. Hidrokeltestis Kantong hidrokel seolah-olah mengelilingi testis sehingga testis tak dapat diraba. Pada anamnesis, besarnya kantong hidrokel tidak berubah sepanjang hari. b. Hidrokelunikulus Kantong hidrokel berada di funikulus yaitu terletak disebelah cranial dari testis, sehingga pada palpasi, testis dapat diraba dan berada diluar kantong hidrokel. Pada anamnesis kantong hidrokel besarnya tetap sepanjang hari. c. Hidrokel Komunikan Terdapat hubungan antara prosesus vaginalis dengan rongga peritoneum sehingga prosesus vaginalis dapat terisi cairan peritoneum. Pada anamnesis kantong hidrokel besarnya dapat berubah-ubah yaitu bertambah pada saat anak menangis. Pada palpasi kantong hidrokel terpisah dari testis dan dapat dimasukkan kedalam rongga abdomen. E. PATOFISIOLOGI Hidrokel adalah pengumpulan cairan pada sebagian prosesus vaginalis yang masih terbuka. Kantong hidrokel dapat berhubungan melalui saluran mikroskopis dengan rongga peritoneum dan berbentuk katup. Dengan demikian cairan dari rongga peritoneum dapat masuk ke dalam kantong hidrokel dan sukar kembali ke rongga peritoneum. Pada kehidupan fetal, prosesus vaginalis dapat berbentuk kantong yang mencapai scrotum. Ujung bawah kantong ini mengelilingi testis dan disebut tunika vaginalis. Apabila terjadi atrofi pada ujung proksimal dan tengah sehingga bagian distal yang mengelilingi testis tetap terbuka, maka terjadi hidrokeltestikularis. Hidrokel dapat ditemukan dimana saja sepanjang funikulus spermatikus, juga dapat ditemukan di sekitar testis yang terdapat dalam rongga perut pada undensensus testis. Hidrokel infantilis biasanya akan menghilang dalam tahun pertama, umumnya tidak memerlukan pengobatan, jika secara klinis tidak

disertai hernia inguinalis. Hidrokel testis dapat meluas ke atas atau berupa beberapa kantong yang saling berhubungan sepanjang processus vaginalis peritonei. Hidrokel akan tampak lebih besar dan kencang pada sore hari karena banyak cairan yang masuk dalam kantong sewaktu anak dalam posisi tegak, tapi kemudian akan mengecil pada esok paginya setelah anak tidur semalaman. Pada orang dewasa hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan sekunder. Penyebab sekunder terjadi karena didapatkan kelainan pada testis atau epididimis yang menyebabkan terganggunya sistem sekresi atau reabsorpsi cairan di kantong hidrokel. Kelainan tersebut mungkin suatu tumor, infeksi atau trauma pada testis atau epididimis. Dalam keadaan normal cairan yang berada di dalam rongga tunika vaginalis berada dalam keseimbangan antara produksi dan reabsorpsi dalam sistem limfatik. F. MANIFESTASI KLINIS Gambaran klinis hidrokel kongenital tergantung pada jumlah cairan yang tertimbun. Bila timbunan cairan hanya sedikit, maka testis terlihat seakan-akan sedikit membesar dan teraba lunak. Bila timbunan cairan banyak terlihat skrotum membesar dan agak tegang. Pasien mengeluh adanya benjolan di kantong skrotum yang tidak nyeri. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya benjolan di kantong skrotum dengan konsistensi kistus dan pada pemeriksaan penerawangan menunjukkan adanya transiluminasi. Pada hidrokel yang terinfeksi atau kulit skrotum yang sangat tebal kadang-kadang sulit melakukan pemeriksaan ini, sehingga harus dibantu dengan pemeriksaan ultrasonografi. G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Diagnosis hidrokel dapat dibuat dengan transiluminasi skrotum. Bila dilakukan transiluminasi pada hidrokel terlihat translusen, terlihat benjolan terang dengan masa gelap oval dari bayangan testis. Pemeriksan USG dapat dipertimbangkan apabila hasil pemeriksaan transiluminasi tidak jelas yang disebabkan oleh tebalnya kulit skrotum pasien. Dengan hasil USG berwarna keabuabuan. H. PATHWAY

I.

PENATALAKSANAAN MEDIS Hidrokel pada bayi biasanya ditunggu hingga anak mencapai usia 1 tahun dengan harapan setelah prosesus vaginalis menutup, hidrokel akan sembuh sendiri; tetapi jika hidrokel masih tetap ada atau bertambah besar perlu dipikirkan untuk dilakukan koreksi. Tindakan untuk mengatasi cairan hidrokel adalah dengan aspirasi dan operasi.

1.

Aspirasi Aspirasi cairan hidrokel tidak dianjurkan karena selain angka

kekambuhannya tinggi, kadang kala dapat menimbulkan penyulit berupa infeksi. Beberapa indikasi untuk melakukan operasi pada hidrokel adalah :

a. Hidrokel yang besar sehingga dapat menekan pembuluh darah b. Indikasi kosmetik c. Hidrokel permagna yang dirasakan terlalu berat dan mengganggu pasien dalam
melakukan aktivitasnya sehari-hari. 2. Hidrokelektomi Pada hidrokel kongenital dilakukan pendekatan inguinal karena seringkali hidrokel ini disertai dengan hernia inguinalis sehingga pada saat operasi hidrokel, sekaligus melakukan herniografi. Pada hidrokel testis dewasa dilakukan

pendekatan scrotal dengan melakukan eksisi dan marsupialisasi kantong hidrokel sesuai cara Winkelman atau plikasi kantong hidrokel sesuai cara Lord. Pada hidrokel funikulus dilakukan ekstirpasi hidrokel secara in toto. Pada hidrokel tidak ada terapi khusus yang diperlukan karena cairan lambat laun akan diserap, biasanya menghilang sebelum umur 2 tahun. Tindakan pembedahan berupa hidrokelektomi. Pengangkatan hidrokel bisa dlakukan anestesi umum ataupun regional (spinal). Tindakan lain adalah dengan aspirasi jarum (disedot pakai jarum). Cara ini nggak begitu digunakan karena cairan hidrokelnya akan terisi kembali. Namun jika setelah diaspirasi kemudian dimasukkan bahan pengerut (sclerosing drug) mungkin bisa menolong. J. KOMPLIKASI

1. Hematom pada jaringan skrotum yang kendor 2. Kalau tidak ditangani segera, penumpukan cairan ini bisa mengganggu
kesuburan dan fungsi seksualnya.

3. Infeksi testis.
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

1. Identitas klien yang mencakup nama, jenis kelamin, umur, alamat, pekerjaaan. 2. Anamnese
Anamnese berkaitan tentang lamanya pembengkakan skrotum dan apakah ukuran pembengkakan itu bervariasi baik pada waktu istirahat maupun pada keadaan emosional (menangis,ketakutan).

3. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, hidrokel dirasakan sesuatu yang oval atau bulat, lembut dan tidak nyeri tekan. Hidrokel dapat dibedakan dengan hernia melalui beberapa cara :

a.

Pada saat pemeriksaan fisik dengan Transiluminasi/diaponaskopi berwarna merah terang, dan hernia berwarna gelap.

hidrokel

b. Hidrokel pada saat di inspeksi terdapat benjolan yang hanya ada di scrotum,
dan hernia di lipatan paha.

c.

Auskultasi pada hidrokel tidak terdapat suara bising usus, tetapi pada hernia terdapat suara bising usus.

d. Pada saat di palpasi hidrokel terasa seperti kistik, tetapi pada hernia terasa
kenyal.

e. Hidrokel tidak dapat didorong, hernia biasanya dapat didorong. f.


Bila dilakukan transiluminasi pada hidrokel terlihat transulen, pada hernia tidak.

4. Kaji sistem perkemihan 5. Kaji setelah pembedahan : infeksi, perdarahan, disuria, dan drainase 6. Lakukan transluminasi test : ambil senter, pegang skrotum, sorot dari bawah ; bila
sinar merata pada bagian skrotum maka berarti isinya cairan (bila warnanya redup B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Pre operasi a. b. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan skrotum Resiko kerusakan integritas kulit : skorotum berhubungan dengan adanya gesekan dan peregangan jaringan kulit skrotum.

c. Perubaan body image : citra tubuh berhubungan dengan perubahan bentuk


skrotum.

d. Ansietas pada orangtua berhubungan dengan kondisi anaknya dan kurang


pengetahuan merawat anak. 2. Post operasi a. b. Resiko infeksi berhubungan dengan insisi post op. Deficit pengetahuan orangtua berhubungan dengan nkondisi anak : prosedur pembedahan, perawatan post op,program pentalaksanaan. c. Nyeri berhubungan dengan gangguan pada kulit jaringan, trauma pembedahan.

C. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI 1. Pre op a. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan skrotum Tujuan : Diharapkan setelah dilakukan intervensi, rasa tidak nyaman berkurang bahkan hilang dengan Kriteria hasil : 1) Pembengkakan skrotum berkurang

2) 2)Klien merasa nyaman, nyeri klien berkurang bahkan hilang 3) Skala nyeri 0-3 Intervensi Keperawatan : a) Kaji skala, karakteristik dan lokasi nyeri yang dialami klien sesuai dengan PQRST. Rasional : mengidentifikasi nyeri akibat gangguan lain. b) Catat petunjuk nnonverbal seperti gelisah, menolak untuk bergerak, berhati-hati saat beraktifitas dan meringis. Rasional : mendeskripsikan tingkat nyeri c) Ajarkan pasien untuk memulai posisi yang nyaman atau tekhnik relaksasi misalnya duduk dengan kaki agak dibuka dan nafas dalam. Rasional : mengurangi sensasi nyeri. d) Berikan tindakan nyaman massage punggung, mengubah posisi dan aktifitas senggang. Rasional : mengurangi sensasi nyeri. e) Observasi dan catat pembesaran skrotum ( bila perlu ukur tiap hari), cek adanya keluhan nyeri. Rasional : menjadi acuan dalam perrkembangan terapi yang sudah diberikan. f) Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi. Rasional : mengurangi sensasi nyeri. b. Resiko kerusakan integritas kulit : skorotum berhubungan dengan adanya gesekan dan peregangan jaringan kulit skrotum. Tujuan :Diharapkan setelah dilakukan intervensi, kerusakan integritas kulit tidak terjadi. Kriteria hasil : Tidak ada lecet dan kemerahan di sekitar area pembesaran. Intervensi Keperawatan : a) Kaji adanya tanda kerusakan kulit seperti lecet dan kemerahan sekitar area pembesaran ( lipatan paha ). Rasional: mengetahui lebih dini gejala kerusakan kulit untuk dilakukan intervensi selanjutnya. b) Berikan salep atau pelumas. Rasional : mencegah kerusakan kulit. c) Kurangi aktifitas klien selama sakit. Rasional : mencegah kerusakan yang lebih parah. d) Berikan posisi yang nyaman : abduksi. Rasional: memberikan sirkulasi bagi aliran darah.

e)

Anjurkan

klien

menggunakan

pakaian

yang

longgar

terutama

celana.

Rasional : mencegah iritasi yang lebih parah. c. Perubaan body image : citra tubuh berhubungan dengan perubahan bentuk skrotum. Tujuan :Diharapkan setelah dilakuakan intervensi, klien tidak merasa bahwa penyakitnya adalah suatu penderitaan, dan pada bayi, orangtua harus memahami bahwa penyakit ini dapat disembuhkan. Kriteria hasil : Keluarga sabar menghadapi kondisi anaknya. Intervensi Keperawatan :

a. Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang kondisi dan pengobatan, dan ansietas
seubungan dengan situasi saat ini Rasional: mengidentifikasi luas masalah dan perlunya intervensi.

b. Perhatikan perilaku menarik diri pada keluarga, tidak efektif menggunakan


pengingkaran atau perilaku yang mengindikasikan terlalu mempermasalahkan tubuh dan fungsinya. Rasional: indicator terjadinya kesulitan menangani stress terhadap apa yang terjadi.

c. Tentukan

tahap

berduka.

Perhatikan

tanda

depresi

berat/lama.

Rasional : identifikasi tahap yang pasien sedang alami memberikan pedoman untuk mengenal dan menerima perilaku dengan tepat. Depresi lama menunjukan intervensi lanjut.

d. Akui kenormalan perasaan.


Rasional : pengenalan perasaan tersebut diharapkan membantu orangtua pasien untuk menerima perilaku dan mengatasinya secara efektif.

e. Anjurkan orang terdekat untuk memperlakukan pasien secara normal dan bukan
sebagai orang cacat. Rasional: menyampaikan harapan untuk mengatur situasi dan membantu perasaan harga diri dan orang lain.

f. Yakinkan keluarga bahwa penyakit ini dapat disembuhkan dan tetap sabar
menghadapi kondisi anaknya. Rasional: memperkuat keyakinan keluarga dan memberikan semangat yang mempertahankan harga diri keluarga dan menghindari kecemasan yang berlebihan. d. Ansietas pada orangtua berhubungan dengan kondisi anaknya dan kurang pengetahuan merawat anak Tujuan :Diharapkan setelah dilakukan intervensi, orangtua memahami, dan mengerrti tentang prognosa dan diagnose penyakit yang dialami oleh anaknya.

Kriteria hasil : cemas yang dialami orangtua klien berkurang bahkan hilang. Intervensi Keperawatan : a) Beritahu dan jelaskan tentang prognosa dan diagnose penyakit yang dialami oleh anaknya. Rasional: menghilangkan kecemasan orangtua klien karena ketidaktahuan tentang prosedur. d. Jelaskan tindakan yang akan dilakukan terhadap anaknya sebelum tindakan dilakukan. Rasional: menghilangkan kecemasan orangtua klien karena ketidaktahuan tentang prosedur. e. Libatkan orangtua dalam perawatan terhadap anaknya. Rasional: mengindari persepsi yang salah dan membantu menghilangkan kecemasan pada anak. f. Berikan informasi bahwa penyakit ini dapat hilang dengan sendirinya. Rasional: menghilangkan kecemasan orangtua klien karena ketidaktahuan tentang prosedur.

2. Post operasi a. Resiko infeksi berhubungan dengan insisi post op. Tujuan : diharapkan resiko terjadinya infeksi tidak terjadi kriteria hasil : Berkurangnya tanda-tanda peradangan seperti kemeraha-merahan, gatal, panas, perubahan fungsi. Intervensi Keperawatan : a) Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas walupun menggunakan sarung tangan steril. Rasional : mengurangi kontaminasi silang b) Batasi penggunaan alat atau prosedur invasive jika memungkinkan

Rasional : mengurangi jumlah lokasi yang dapat menjadi tempat masuk organisme c) Gunakan teknik steril pada waktu penggatian balutan/penghisapan/berikan lokasi perawatan, misalnya Jalur invasive Rasional : mencegah masuknya bakteri, mengurangi risiko infeksi nosokomial d) Gunakan sarung tangan/pakaian pada waktu merawat luka yang terbuka/antisipasi dari kontak langsung dengan sekresi ataupun ekskresi

Rasional : mencegah penyebaran infeksi/kontaminasi silang. b. Deficit pengetahuan orangtua berhubungan dengan nkondisi anak : prosedur pembedahan, perawatan post op,program pentalaksanaan.

Tujuan: Diharapkan setelah diberikan intervensi, klien memahami dan mengerti tentang prosedur pembedahan, perawatan setelah operasi dan pengobatanya. Kriteria hasil : klien menyatakan pemahamannya proses penyakit, pengobatan dan potensial komplikasi. Intervensi keperawatan: a) Kaji ulang pembatasan aktivitas pascaoperasi. Rasional: mencegah komplikasi lanjut dari pergerakan dan aktivitas yang berlebihan. b) Dorong aktivitas sesuai toleransi dengan periode istirahat periodic Rasional : mencegah kelemahan, meningkatkan penyembuhan, dan lekas kembali pulih normal. c) Diskusikan perawatan insisi, termasuk mengganti balutan, pembatasan mandi, dan kembali ke dokter untuk mengangkat jahitan/ pengikat. Rasional : pemahaman meningkatkan kerjasama dengana program terapi, meningkatkan penyembuhan dan program perbaikan. d) Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medic, contoh peningkatan nyeri; edema/eritema luka, adanya drainase, demam. Rasional: upaya intervensi menurunkan risiko komplikasi serius contoh lambatnya penyembuhan. c. Nyeri berhubungan dengan gangguan pada kulit jaringan, trauma pembedahan. Tujuan : Diharapkan setelah diberikan terapi, nyeri klien berkurang bahkan hilang. Kriteria hasil: skala nyeri 0-3 dan kllien tidak menangis serta gelisah. Intervensi Keperawatan : a) Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, beratnya (0-10). Selidiki dan laporkan perubahan nyeri dengan cepat. Rasional: berguna dalam pengawasan keefektifan obat, kemajuan penyembuhan. b) Pertahankan istirahat dengan posisi semifowler. Rasional : gravitasi melokalisasi eksudat inflamasi. c) Dorong ambulasi dini. Rasional : meningkatkan normalisasi fungsi organ. d) Berikan aktivitas hiburan. Rasional: focus perhatian kembali, meningkatkan relaksasi, dan dapat

meningkatkan kemampuan koping. e) Berikan analgetik sesuai indikasi. Rasional: intervensi terapi lain contoh batuk dan ambulasi.

DAFTAR PUSTAKA

Didi, Hidrokel, www.generalhealth.com., 2008 Rifki, M., Hidrokelektomi, www.bedahumum.wordpress.com., 2008 Anonim, Masa Skrotum, www.medicastore.com., 2005 Purnomo, Basuki B., Dasar-Dasar Urologi, edisi kedua, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang, 2003 : 140-145, 186

Anda mungkin juga menyukai