Anda di halaman 1dari 13

7

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kegiatan usaha pembenihan ikan dewasa ini sudah berkembang, baik sekala kecil (Back yard), sekala sedang, maupun sekala besar. Terkait dengan usaha tersebut, maka kebutuhan akan ketersediaan benih sangat mutlak. Dalam pemeliharaan larva, kebutuhan akan pakan menjadi faktor penentu. Keterbatasan tersedianya jasad pakan merupakan factor bagi pembatas bagi kehidupan larva ikan. Di unit-unit penbenihan, jasad pakan harus dipasok secara lumintu dan cukup ketersediaanya. Kesulitan dalam penyediaan jasad pakan alami tersebut merangsang manusia untuk menciptakan pakan buatan untuk pemeliharaan larva ikan. Kebutuhan larva akan asam amino essensial pada umumnya dapat dipenuhi oleh pakan buatan, akan tetapi untuk kebutuhan asam lemak essensial masih belum cu kup, sedangkan kandungan asam lemak essensial, sangat menentukan tingkat kelulushidupan larva yang dipelihara. Disinilah peranan pengting pakan alami (artemia) sebagai pemasok asam lemak essensial. Ketersedian makanan pada usaha pembenihan ikan sangat di perlukan terutama pada masa larva, merangsang ikan untuk memakannya, ukurannya relative kecil, mempunyai kandungan protein tinggi dan mudah di cerna oleh larva ikan. Artemia sp merupakan pakan alami yang banyak digunakan oleh petani karena artemia sp mempunyai kelebihan-kelebihan dibandingkan dengan Janis pakan almi lainnya. Kelebihan-kelebiahan itu adalah 1) Artemia sp dijual di pasaran dalam bentuk kista (Cysta) sehingga mudah dan praktis dalam penggunaannya, 2) Artemia sp

7 mempunyai ukuran yang tepat bagi berbagai jenis ikan dan udang, 3) Artemia

spdapatberadaptasi terhadap berbgai lingkungan dan dapat tumbuh dengan kepadatan tinggi, dan 4) Artemia sp mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi serta beberapa asam lemak asam lemak yang paling penting untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan dan udang (MUDJIMAN, 1989). Dalam laporan praktikum Budidaya Laut dan Muara Pantai ini akan dibahas teknik kultur masal Zooplankton (Artemia sp) pada skala laboratorium dengan menggunakan kadar garam (salinitas) 10 ppt. 1.2. Tujuan Tujuan pelaksanaan praktikum kultur pakan alami ini adalah supaya mahasiswa dapat mengetahui teknik kultur masal Artemia sp dalam skala laboratorium, untuk mengembangkan ilmu pengetahuan lebih lanjut dengan menyumbangkan pikiran sesuai dengan kemampuan yang ada dalam rangka meningkatkan sumberdaya manusia. 1.3. Manfaat Sedangkan manfaat yang diperoleh dari praktikum Artemia adalah supaya mahsiswa mengetahui berapa kadar garam (salinitas) yang sesuai dalam penetasan

Artemia sp pada skala laboratorium dan dapat diterapkan kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Oleh karena itu dalam praktikum ini dibagi beberapa kelompok dengan kadar garam yang berbeda.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Dalam dunia hewan, artemia atau yang dikenal dengan Brine Shrimp termasuk dalam filum Arthropoda, kelas Crustacea, subkelas Branchipoda, ordo Anostraca, famili Artemidae, genus Artemia dan spesies Artemia salina Leach. Mula-mula nama spesesnya Cancer salinus, yang diberikan oleh Linneus dalam tahun 1778. akan tetapi nama itu kemudian oleh Leach dalam tahun 1819 menjadi Artemia salina yang kemudian sampai sekarang. (MUDJIMAN, 1989). Sifat ekologi artimia brrvariasi tergantung pada strainnya. Secara umum artemia tumbuh dengan baik pada kisaran salinitas 30 50 ppt, pH 7,5 8,.5, oksigen terlarut diats mg/l sampai dan suhu 25 37 0C. akan tetapi kista artemia yang kering sangat tahan terhadap suhu yang ekstrim dari 273 100 0C, pada kandungan amoniak yang tinggi yaitu hingga 90 ppm, dan termasuk hewan Eurokosibion yaitu hewan yang mempunyai kisaran toleransi yang lebar akan kandungan oksigen terlarut 1 mg/l sampai mencapai kejenuhan 150 % (ISNAN SETYO dan KURNIASTUTI, 1995). Artemia mempunyai ukuran yang cocok untuk lebar bukaan mulut larva ikan,mempunyai nilai konversi dan efisiensi yang tinggi, mudah dalam penggunaannya dalam penanganannya dan dapat tumbuh dengan kepadatan yang tinggi (CHOLIK dan DAULAY, 1986) Faktor makanan mempunyai peranan yang penting dalam pertumbuhan individu, untuk merangsang pertumbuhan yang optimal di perlukan jumlah dan mutu makanan yang tersedia dalam jumlah yang cukup dan dengan kondisi perairan (MUDJIMAN, 1995)

7 Jenisa makanan alami yang di makan oleh ikan sangat beragan, tergantung pada jenis ikan dan tingkat umur, banyak ikan yang baru saja belajar mencari makan,pertamatama makanan yang mereka makan adalah plankton. Pada umumnya banyak ikan yang pada mula-mulanya memakan plankton nabati (phytoplankton). Kemudian mereka beralih mencari makanan zooplankton seperti Artemia sp. Udang renik air asin (Artemia sp) adalah jenis plankton yang merupakan makanan bermutu bagi jenis ikan, udang, dan kepiting. Selain untuk makanan ikan dalam bentuk hidup dan segar. Artemia dapat juga kita gunakan sebagai campuran dalam meramu makanan buatan, selain terlebih dahulu kita keringkan dan kita giling menjadi tepung. Bahkan bukan hanya untuk meramu makanan buatan bagi ikan, melainkan juga untuk hewan-hewan ternak lainya didarat, oleh karena itu Artemia juga kaya protein tepungnya dapat mengganti tepung ikan atau tepung kepala udang. (MUDJIMAN, 1989). Keunggulan Artemia di bandingkan yang makanan hidup lainnya menurut SORGELOOS dalam TAMPUBOLON (1995) yaitu kandungan nutrisinya yang cukup tinggi, carapace yang tipis dan sifatnya yang merupakan mangsa bergerak. Artemia hidup secra planktonik pada perairan berkadar garam 5 150 permil. Bahkan beberapa Strain temia dapat hidup pada air dengan salinatas 300 permil. Toleransi artimia tehadap suhu cukup luas yaitu antara 6 - 35 0C, tetapi suhu optimal antara 25 31 0C, derajat keasaman atau pH yang optimal. Untuk kehidupan artemia berkisar antara 7,3 8,4 (PRIYOAMBODO dan WAHYUNINGSIH, 2000). Selanjunya MUDJIMAN (1984) juga menyatakan bahwa yang merangsang proses penetasan media tersebut perlu disinari dengan lampu neon (TL) yang dipasang

7 wadah. Untuk keperluan itu dapat dipasang 2 buah lampu neon 60 watt sejauh 20 cm dari dinding wadah. Kista arteima diratakan dalam wadah transparan yang bagjian dasarnya berbentuk kerucut. Selain itu bisa juga digunakan galon bekas air mineral yang dipotong bagian dasar atau bahkan bisa mengguanakan stoples ukuran 3 5 liter (PRIYOAMBODO dan WAHYUNINGSIH, 2000). Sebelum ditetaskan terlebih dahulu direndam selama 1 jam didalam air tawar. Kemudian disaring sambil disemprotkan. Setelah itu maka dimasukkan kista tersebut kedakam masing-masing wadah. Selanjutnya waktu aerasi dengan aerator, dan disamping wadah dipasang lampu 40 watt yang berjarak 20 cm dari wadah (MUDJIMAN, 1984) kemudian dilakukan pengukuran kualitas air. Sebelum perhitungan dilakukan terlebih dahuilu aerasi dimatikan. Kemudian bagian ats wadah penetasan ditutup dengan kain/plastik hitam sedangkan bagian bawahnya disinari. Setelah itu ditunggu antara 5 10 menit. Dengan cara demikian maka cangkang telurnya akan mengapung sedangkan naupli akan menggumpal di bawah

III. BAHAN DAN METODE

3.1. Waktu dan Tempat Praktikum Kultur Pakan Alami ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 12 Juli 2013 bertempat di Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Teuku Umar. 3.2. Alat dan Bahan Adapun alat yang digunakan adalah botol aqua ukuran 1 liter, aerator garam dapur dengan konsentrasi 35 ppt, air dan DO meter (untuk mengukur DO dan suhu air). Sedangkan bahan yang digunakan adalah cysta Artemia. 3.3. Metode praktikum Praktikum di laksanakan dengan metode pengamatan dan perlakuan langsung terhadap objek praktikum. 3.4. Prosedur Praktikum Siapkan wadah kultur Artemia ukuran 1 liter yang telah di bersihkan, kemudian larutkan garam dapur dalam 1 liter air kemudian hidupkan aerator. Setelah itu masukan 1gr Cysta Artemia ke dalam wadah kultur selama 24 jam kemudian amati perkembangan Cysta Artemia sampai menetas.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Dari praktikum yang telah di lakukan di proleh hasil: Pada kelompok III artemianya menetas padahal garam yang diberikan 35 gr/l. dan dari kelompok lain juga berhasil menetas. Cysta Artemia yang menetas terlihat melayang di muka perairan di dalam wadah Cysta Artemia yang tidak menetas terlihat mengapung pada permukaan perairan dalam wadah. HR = 200 100 % 250

= 80 % Dari rumus yang diatas Cysta Artemia yang menetas sekitar 80 %.

4.2. Pembahasan Dari praktikum yang di laksanakan terlihat bahwa Cysta Artemia yang menetas terlihat melayang-layang pada air dalam wadah, ini menunjukan sifat planktonik dari Artemia tersebut (YURISMAN et al, 2004). Sedangkan Cysta Artemia yang tidak menetas akan terlihat mengapung pada permulaan air dalam wadah bersama cangkang Artemia yang telah menetas. Kepadatan Cysta dalam penetasan, berkisar 3 5 gram/liter media penetasan. Media penetasan adalah air laut dengan salinitas 28 30 ppt, wadah penetasan sebaiknya berbentuk kerucut dengan pengudaraan yang cukup besar. Pada bagian bawah wadah

7 penetasan sebaiknya dibuat cerah (tembus cahaya) karena akan memudahkan dalam pemanenan naupli artemia yang mempunyai sifat fototakisis positif. Setelah 12 24 jam dapat dilakukan pemanenan. Dalam pemanenan, terlebih dahulu aerasi dimatikan (15 30) menit kemudian naupli dicuci dengan air laut bersih, agar sisa cangkang tidak masuk dalam bak pemeliharaan larva, yang diduga sebagai media tumbuhnya jamur (BALAI BUDIDAYA LAMPUNG, 1999). Artemia yang masih nauplius maupun yang sudah dewasa dapat berfungsi sebagai pembawa nutrisi penting, zat warna, argensia propylatic dengan proses bionkapsulasi ISNANTSETYO dan KURNIASTUTY (1995). Cysta Artemia yang kering tahan terhadap suhu yang ekstrim, 73-1000 C, pada kandungan amoniak yang tinggi yaitu higga ppm dan 1 mg/l. Selama pengamatan praktikum suhu air kualitas air yaitu sekali yakni pada waktu mamasukkan Cysta Artemia. Adapun hasil pengukuran diperoleh suhu 25 0C. Artemia hidup secra planktonik pada perairan berkadar garam 5 150 permil. Bahkan beberapa Strain temia dapat hidup pada air dengan salinatas 300 permil. Toleransi artimia tehadap suhu cukup luas yaitu antara 6 - 35 0C, tetapi suhu optimal antara 25 31 0C, derajat keasaman atau pH yang optimal. Untuk kehidupan artemia berkisar antara 7,3 8,4 (PRIYOAMBODO dan WAHYUNINGSIH, 2000).

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan Bahwa dalam kadar garam 35 gr. Artemia sp menetas hal ini bisa saja dikarenakan banyaknya jumlah garam yang diberikan. Keunggulan Artemia di bandingkan dengan jenis makanan yang lain adalah jasad ini di perjualkan belikan dalam bentuk Cysta. Sifat Artemia adalah dapat beradaptasi dengan berbagai lingkungan, dapat tumbuh dengan kepadatan yang tinggi dan kandungan nutrisi yang tinggi. Pemanenan Artemia berumur 14-18 hari berukuran 8-10 mm,. daya tetas Artemia dan ketulusan hidupnya sangat di pengaruhi oleh kondisi lingkungan, tempat penetasan, kondisi lingkungan yang di butuhkan oleh Artemia untuk mendukung daya penetasan antara lain salinitas, oksigen terlarut, temperatur, cahaya, serta keasaman media agar. 5.2. Saran Agar Kultur Pakan Alami ini dapat berjalan dengan lancar dan baik dimasa yang akan datang diharapkan alat yang digunakan cukup lengkap sehingga memudahkan dalam praktikum dan dibutuhkan juga bimbingan dari asisten atau dosen dalam

pelaksanaan praktikum yang akan datang. Untuk mendapatkan hasil yang baik sebaiknya kerjasama sesama praktikan bisa berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

BALAI BUDIDAYA LAMPUNG. 1999. Pembenihan Ikan Kakap Putih (Lates calcalifer. Lampung CHOLIK dan DAULY, 1986 Kultur Pakan Alami. Badan Penelitian dan Pangembangan Pertanian. ISNANTSETYO, A dan KURNIASTUTI. 1995 teknik Kultur Phytoplankton. Pakan Alami untuk Pembenihan Organisme Laut. Kanisius. Yogyakarta 107 hal. MUDJIMAN, A. 1984, Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.. MUDJIMAN, A. 1998. Udang Renik Air Asin (Artemia salina). Bharatara. Jakarta. 149 hal. PRIYAMBODO, A dan KURNIASTUTI. 1995. Teknik Kultur Phytiplankton Pakan Alami Organisme Laut. Kanisius. Yogyakarta. TAMPUBOLON, M. 1998. Pertumbuhan dan Kelulushidipan Larva Ikan Jambalsiam (Pangasius sutcy, fowler) dengan pemberian Artemia yang diperkaya Asam Lemakesensial. Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau (tidak diterbitkan). YURISMAN et al, 2004. Penuntun Kultur Pakan Ikan Alami. Fakul;tas Perikanan dan Ilmu kelautan Univesitas Riau.

7 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR................................................................................ DAFTAR ISI............................................................................................... I. PENDAHULUAN......................................................................... 1.1. Latar Belakang......................................................................... 1.2. Tujuan...................................................................................... 1.3. Manfaat.................................................................................... II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................ III. BAHAN DAN METODE.............................................................. 3.1. Waktu dan Tempat................................................................... 3.2. Bahan dan Alat......................................................................... 3.3. Metode Pratikum...................................................................... 3.4. Prosedur pratikum.................................................................... IV. HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................... 4.1. Hasil......................................................................................... 4.2. Pembahasan.............................................................................. V. KESIMPULAN DAN SARAN..................................................... 5.1. Kesimpulan.............................................................................. 5.2. Saran ....................................................................................... DAFTAR PUSTAKA i ii 1 1 2 2 3 6 6 6 6 6 7 7 7 9 9 9

KATA PENGANTAR

Dengan rahmat puji syukur kehadirat ALLAH SWT, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada Penulis sehingga dapat menyelesaikan laporan ini yang berjudul budidaya Artemia sp . Saya selaku Penulis menyadari bahwa di dalam pembuatan laporan ini tidak lepas dari kesalahan atas penulisan laporan ini. Untuk itu dalam kesempatan ini kami selaku Penulis menghanturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar besarnya kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam membuat laporan ini. kami selaku Penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang di miliki sehingga dapat selesaikan dengan baik. Penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan, saran dan usul untuk kesempurnaan laporan ini. Akhirnya Penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Meulaboh, 12 Juli 2013

Penulis

LAPORAN PRAKTIKUM KULTUR PAKAN ALAMI

BUDIDAYA Artemia sp
OLEH

KELOMPOK KETUA ANGGOTA

: III : Risal Fahmi : Nanda Elvian : Sandy Mutia Malide : Musfirah

PROGRAM STUDI PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS TUEKU UMAR MEULABOH 2013

Anda mungkin juga menyukai