Anda di halaman 1dari 9

sensitivitas tiap individu terhadap alkohol bervariasi, seperti hlnya sensitivitas untuk racun lainnya.

adapun LD50 yaitu dosis mematikan untuk 50% dari hewan yang diiuji dari zat kimia, yang dinyatakan dalam milgran per kilogram berat badan (mg/kg). semakin besar dosis yang dibutuhkan untuk menciptakan 50% hewan uji meninggal, semakin kecil nilai LD50. Methanol metabolisme dan kinetik (Pritchard. 2007) : mudah diabsorbsi melalui semua rute dan terdistribusi baik di cairan tubuh meskipun dimetabolisme secara luas, namun hanya sedikit yang diekskresikan dari paru dan ginjal ekskresi methanol relatif lambat 9waktu paruh sekitar 24 jam) dengan metabolit utama sebagai asam format dalam urin dampak kesehatan pada paparan akut (Pritchard. 2007) : metanol bersifat toksik melalui ingesti, inhalasi dan paparan perkutan paparan awalnya menghasilkan depresi sistem syaraf pusat, diikuti periode laten asimtomatik asidosis metabolik dan toksisitas okuler, dimana dapat menyebabkan kebutaan pada manifestasi selnjutnya. koma dan kematian efek jangka panjang meliuti kebutaan, manifestasi lain dan kerusakan permanen sistem syaraf pusat dampak esehatan pada paparan kronik (Pritchard. 2007) : paparan inhalasi jangpa panjang pada metabol dapat sebabkan nyeri kepala dan iritasi mata metanol tidak dianggap sebagai mutagen , karsinogen , atau toksik pada sistem reproduksi manusia

Toksisitas akut metanol barvariasi meliputi depresi sistem syaraf pusat yaang diikkuti periode laten yang bervariasi durasinya, yaitu 8-36 jam dengan rata rata 48 jam. Selanjutnya disusul asidosis metaboilk, nyeri kepala, mual muntah dan tanda toksisitas okuler. Toksisitas okuler dapat bervariasi dari fotofobia, pandangan berkabut atau kabur sebagai penanda akuitas visual menurun hingga

kebutaan. Kadar ingesti 4-10ml methanol pada orang dewasa dapat sebabkan keusakan permanen (Pritchard. 2007). Koma dan kematian dapat terjadi pada paparan jumlah banyak. Dipertimbangkan bahwa dosis 300 000 mg/kg merupaka minimal lethal dose melalui jalur ingesti. Pada intoksikasi berat, jika penderita masih hidup dapat teradi kerusakan permanen sistem syaraf pusat yang bermanifestasi parkinsonianlike condition dan kebutaan permanen (Pritchard. 2007). Data mengenai efek kronik metanol pada manusia masih terbatas. Bagaimanapun, paparan inhalasi kronik pada konsentrasi rendah methanol dapat sebabkan nyeri kepala dan iritasi mata (Pritchard. 2007). Tidak ditemukan dapat mutagenitas pada manusia. Methanol tidak memiliki struktur kimia yang diketahui potensi mutagen dan hasil studi in vitro pada hewan ditemukan negatif. Methanol pula tidak diklasifikasi sebagai toksik pada sistem reproduksi. Bagaimanapun, toksisias fetal dapat sebagai efek sekunter toksisitas maternal. Penelitian pada hewan menunjukkan resiko pada fetus di stadium awal perkembangan (Pritchard. 2007). metanol mudah diabsorbsi melalui inhalasi, ingesti dan paparan dermal. dari seluruh methanol yang diinhalasi, sekitar 60-80% diabsorbsi oleh paru. distrubusi cepat dan menyebar melalui cairan tubuh. konsentrasi pada organ dan jaringan bergantung dari kandungan air dalam organ. melalui ingesti, konsentrasi puncak tercapai pada 30-90 menit (Pritchard. 2007). methanol diabsorbsi dengan cepat di traktus gastrointestinal melalui ingesti. sekali diabsorbsi, volume distrubusi setara dengan cairan tubuh, konsentrasi puncak dalam darah 30 60 menit, dengan volume distribusi 0,6 L/kgBB dan berat molekul 32 g/mol. Methanol dimetabolisme terutama di hepar dan diekskresikan terutama di ginjal (Kraut and Kurtz, 2008) simptomatologi : intoksikasi dengan ethilen glikol, methanol dan isopropanol adalah intoksikasi ingesti yang paling sering terjadi. methanol adalah alkohol bertoksisitas tinggi yang ditemukan di berbagai produk komersial. dari 2862 kasus paparan methanol di tahun 1998, dilporkan 19 meninggal. hal ini mencerminkan kematian 0,1% dari seluruh paparan dan 2% kematian karena intoksikasi. minimum lethal dose yang

diperhitungkan sekitar 10ml, namun pasih ada laporan pasien bertahan hidup setelah ingesti > 400ml tanpa sequele (Abramson and Singh,2010). Jika intoksikasi methanol tidak diobati atau terapi dimulai setelah full-blown syndrome terjadi, maka mortalitas intoksikasi methanol menjadi tinggi. Pada 3 penelitian dengan total pasien berjumlah > 400 orang, mortalitas bervariasi antara 8 36%, namun meningkat 50 80% ketika kadar serum bikarbonat <10mEq/L dan atau pH <7,1 ketika terapi dimulai (Kraut and Kurtz, 2008) Full blown syndrome atau dikenal juga sebagai alcohol withdrawal syndrome adalah sekumpulan tanda dan gejala yang muncul setelah seseorang mengurangi atau berhenti mengonsumsi alkohol setelah intake alkohol berlebih jangka panjang. penggunaan berlebih ini menyebabkan tingkat toleransi, physical dependence dan alcohol withdrawal syndrome. sindrom ini sebagian besar gejala timbul akibat sistem syaraf pusat yang menjadi berstatus hiper eksitabilitas. sindrom ini dapat meliputi kejang dan delirium tremens, sebagai wujud dari excito-neurotoxicity. sedative hypnotic merupakan efek alkohol yang berpotensi menyebabkan ketergantungan. sindrom withdrawal ini merupakan hasil neuro adaptasi dari paparan kronik alkohol. alkohol withdrawal ini ditandai oleh eksitabilitas neuropsikiatrik dan gangguan otonom seperti obat sedative-hypnotik. (Dart, 2003). Tanda dan gejala sindrom bervariasi dari ringan seperti gangguan tidur, kecemasan hingga berat seperti delirium, halusinasi dan kejang. ringan beratnya gejala dipengaruhi berbagai faktor seperti usia, genetik, derajat intake alkohol, lamanya seseorang konsumsi alkohol dan pengalaman detoksifikasi sebelumnya (Geldert et al,2005) Intoksikasi methanol umumnya disebabkan akumulasi asam format. gejala klinis utama sebelum dimetabolise yaitu sistem syaraf pusat. durasi efek ini pendek dan diikuti periode laten. periode laten ini disebabkan asam format membutuhkan waktu untuk berakumulasi, dan berlangsung 14-18jam atau lebih dengan pengobatan (Abramson and Singh,2010). periode laten diikuti dengan temuan sistemik dari akumulasi asam format. methanol dimetablise menjadi formaldehid. formaldehid dibantu enzim

formaldehid dehidrogenasi berubah menjadi asam format. asam format kemudian dimetabolisme menjadi CO2 dan H2O dibantu tetrahidrofolat di hepar. Asidosis

metabolik dapta menjadi berat, pH < 7 merupakan prediktor terkuat akan kematian. pasien dengan pH < 7 beresiko kematian 20x lebih besar daripada pH >7. efek SSP pada stadium ini meliputi nyeri kepala, letargi, kejang, delirium hingga koma. Penderita intoksikasi yang sudah mengalami kejang atau koma memiliki resiko kematian 10x daripada pasien tanpa dua gejala tersebut (Abramson and Singh,2010). intoksikasi okuler dapat prominen, meliputi fotofobia, sentral skotoma, defek lapang pandang, daya akomodasi pupil menurun dan kesulitan adaptasi dengan cahaya. disfungsi pupil juga dapat menjadi prediktor untuk mortalitas. penemuan funduskopik meliputi hiperemis, edema diskus optikus dan atropi optik. gangguan okuler ini disebabkan efek langsung sitotoksik dari asam format terhadap retina. selain efek mata dan sistem syaraf pusat ini, methanol berefek secara sistemik hingga menimbulkan mual, muntah, diaphoresis dan abdominal pain yang umumnya disebabkan pankreatitis (Abramson and Singh,2010). abnormalitas laboratorium : Akumulasi asam format menghasilkan gap anion yang tinggi yang menyebabkan asidosis metabolik. sebagian anion gap merupakan hasil peningkatan produksi laktat. methanol juga menghasilkan osmolar gap. kadar serum 32 mg/ld meningkatkan osmolaritas serum sebanyak 10 mOsm/kg. namun biasanya pasien intoksikasi methanol ditemukan kadar osmolar normal (kenaikan <10 mOsm/kg) jika gejala muncul lambat dan methanol sudah dikonversi menjadi asam format. asam format tidak berkontribusi pada osmolaritas karena sifatnya yang berimbang dengan kadar natrium (Abramson and Singh,2010). Nilai normal osmolaritas serum 285 290 mOsm/L yang dipengaruhi natrium dan ion penyeimbang lain seperti bikarbonat, klorida, dan glukosa serta urea. osmolaritas dapat dihitung menggunakan rumus (Kraut and Kurtz, 2008) :

Atas dasar tersebut, osmolaritas dapat menjadi pendukung diagnosis intoksikasi methanol meskipun kadar normal tak menyingkirkan diagnosis intoksikasi (Abramson and Singh,2010).

Gambar 1. Patofisiologi Efek Methanol (Brent, 2009)

Gambar 2. Intoksikasi Alkohol (Kraut and Kurtz, 2008)

Gambar 3. Volume Distribusi, Rute Eliminasi Dan Kinetik Eliminasi (Kraut and Kurtz, 2008)

Methanol sendiri tak banyak bertanggung jawab atas efek yang tak diharapkan dari ingesti methanol, melainkan produk metabolismenya. Methanol

dimetabolisme menjadi formaldehid, kemudian dioksidasi menjadi asam format. Asam format adalah penyebab kerusakan retina dan nervus optikus pada penderita intoksikasi berat. Meskipun metabolisme utama berlokasi di hepar, sebagian metabolisme juga nyata terjadi di retina yang bersifat toksik bagi retina sendiri (brent, 2009). Metabolisme methanol terutama terjadi di hepar, dibantu enzim alkohol dehidrogenase (NAD). Ethanol, sebagai substrat kompetitif alkohol

dehidrogenase, dapat digunakan untuk menghambat metabolsme methanol, yang diikuti hemodialisis untuk menyingkirkan seluruh subsrat dan metabolit yang bersifat toksik tersebut. Namun perlu diingat bahwa ethanol sendiri dapat menyebabkan perubahan status mental, hipoglikemi dan pancreatitis (Brent, 2009). methanol merupakan substansi yang cukup berbahaya bagi manusia dan sering digunakan di praktik perindustrian seperti cairan pembersih wiper, antifreeze , bahan bakar model pesawat dan campuran pada ethanol. Amerika Serikat mendapatkan laporan 1000 2000 kasus intoksikasi alkohol setiap tahunnya (sekitar 1% dari selurh kasus intoksikasi). kadar methanol yang berpotensi toksik bervariasi antara 15-5000 ml dari 40% solution hingga 60-600 ml dari methanol murni. resiko intoksikasi methanol dapat meningkat dengan kadar tetrahidrofolat hepar yang rendah, sehingga mendukung pembentukan asam format (Kraut and Kurtz, 2008). asidosis metabolik dan masalah visual menjadi tanda khusus (hallmark) intoksikasi, yang disebabkan metabolit methanol. formaldehid mengacaukan keseimbangan fosforilasi oksidatif retina pada pengujian in vitro, namun secara in vivo formaldehid cepat dimetabolisme menjadi asam format dengan waktu paruh di darah hanya 1-2 menit. Pada penelitian yang dilakukan Hovda et al,2005 tanda dan gejala klinis yang paling sering muncul pada intoksikasi methanol meliputi gangguan visual (55%), dispnoe (41%), dan gejala gastrointstinal symptoms (43%). dua puluh empat persen pasien datang dengan keadaan koma dan 67% dari mereka meninggal kemudian. Penelitian Hovda et al tahun 2001 yang dipublikasikan tahun 2007 dalam outbreak keracunan methanol massal di Estonia menampilkan data gejala klinis pasien. Sampel dibagi menjadi 3 grup, yaitu grup

1 ( bertahan hidup tanpa sekuel), grup 2 ( bertahan hidup dengan sekuel) dan grup 3 (meninggal). Kadar Methanol pada grup 1 yaitu rerata 26,6 mmol/L, grup 2 rerata 71,4 mmol/L dan grup 3 rerata 110 mmol/L. pengolahan data hasil penelitian pun menunjukkan perbedaan signifikan antara grup 1 dan 2, dengan antara grup 1 dan 3, namun tidak signifikan antara grup 2 dan 3.

gambar 4. gejala klinis intoksikasi alkohol (Hovman, 2007)

DAFTAR PUSTAKA

1. Pritchard. 2007. Methanol, Toxicological Overview. Health Protection Agency. diakses tanggal 15 September 2013 dari

http://www.hpa.org.uk/webc/HPAwebFile/HPAweb_C/1194947357226 2. Stuart Abramson and Ajay K. Singh. 2010. Treatment of the Alcohol Intoxications : Ethylene Glycol, Methanol and Isopopanol. American Journal of the Medical Sciences: March 2010 - Volume 339 - Issue 3 - pp 276-281. doi: 10.1097/MAJ.0b013e3181c94601 3. Jeffrey Brent, M.D., Ph.D 2009. Fomepizole for Ethylene Glycol and

Methanol Poisoning. The New England Journal of Medicine 2009; 360:22162223. DOI: 10.1056/NEJMct0806112 4. Jeffrey A. Kraut and Ira Kurtz. 2008. Toxic Alcohol Ingestions: Clinical Features, Diagnosis, and Management. Clinical journal American Society of Nephrology 5. Dart, Richard C. 2003. Medical Toxicology (3rd ed.). USA: Lippincott Williams & Wilkins. pp. 139140. ISBN 978-0-7817-2845-4. 6. Gelder et al,2005 p188. Psychiatry 3rd Ed. oxford:New York. 7. Hovda KE, Hunderi OH, Tafjord AB, Dunlop O, Rudberg N, Jacobsen D. 2005. Methanol outbreak in Norway 20022004: Epidemiology, clinical features and prognostic signs. Journal Internal Medicine. 258 :181 190,2005 8. Hovda KE, Jacobsen D, Paasma R, Tikkerberi A,. 2007. Methanol mass poisoning in Estonia: Outbreak in 154 patients. Clinical Toxicology. 45 :152 157,2007