Anda di halaman 1dari 70

DIKLAT PEMBENTUKAN AUDITOR ANGGOTA TIM

AIP
KODE MA : 1. 160

AKUNTABILITAS INSTANSI PEMERINTAH

2011
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGAWASAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN Edisi Keenam


PusatPendidikandanPelatihanPengawasan

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

PUSATPENDIDIKANDANPELATIHANPENGAWASAN BADANPENGAWASANKEUANGANDANPEMBANGUNAN

2011

AkuntabilitasInstansiPemerintah
DikeluarkanolehPusatPendidikandanPelatihanPengawasanBPKP dalamrangkaDiklatSertifikasiJFATingkatPembentukanAuditorAnggotaTim EdisiPertama EdisiKedua(RevisiPertama) EdisiKetiga(RevisiKedua) EdisiKeempat(RevisiKetiga) EdisiKelima(RevisiKeempat) EdisiKeenam(RevisiKelima) : : : : : : Tahun1998 Tahun2000 Tahun2002 Tahun2003 Tahun2007 Tahun2011

Perevisi Pereviu Editor

: Wakhyudi,Ak.,M.Comm : LindaEllenTheresia,S.E.,Ak.,M.B.A : DaissyErdianthy,S.E.,Ak.,M.Ak.

ISBN 979-3873-00-0

PusdiklatwasBPKP
Jl.BeringinII,Pandansari,Ciawi,Bogor16720 Telp.(0251)82490018249003 Fax.(0251)82489868248987 Email Website eLearning

:pusdiklat@bpkp.go.id :http://pusdiklatwas.bpkp.go.id :http://lms.bpkp.go.id

Dilarangkerasmengutip,menjiplak,ataumenggandakansebagianatau seluruhisimodulini,sertamemperjualbelikantanpaizintertulisdari PusatPendidikandanPelatihanPengawasanBPKP.

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

KATAPENGANTAR
Komitmen pemerintah untuk mewujudkan pemerintah yang transparan dan akuntabel serta bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme pada berbagai aspek pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan dituangkan dalam UndangUndang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN. Komitmen ini sudah menjadi agenda yang harus dilaksanakan guna tercapainya transparansi dan akuntabilitas publik, tidak terkecuali komitmen APIP untuk selalu meningkatkanperansertanyadalammewujudkanpemerintahanyangbaik. Untukmenjagatingkatprofesionalismeaparatpengawasan,salahsatumedianyaadalahpendidikandan pelatihan (diklat) Sertifikasi Jabatan Fungsional Auditor (JFA) yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan perubahan sikap/perilaku auditor pada tingkat kompetensi tertentu sesuaidenganperannya. Guna mencapai tujuan di atas, sarana diklat berupa modul dan bahan ajar disajikan dengan sebaik mungkin. Evaluasi terhadap modul dilakukan secara terus menerus untuk menilai relevansi substansi modul terhadap perubahan lingkungan yang terjadi, oleh karena itu modul ini ditujukan untuk memutakhirkan substansi modul agar sesuai dengan perkembangan profesi auditor, dan dapat menjadi referensiyanglebihbergunabagiparapesertadiklatsertifikasiJFA. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi atas terwujudnyamodulini. Ciawi,Desember2011 KepalaPusdiklatPengawasanBPKP MeidyahIndreswari,S.E.,Ak.,M.Sc.,Ph.D.,CKM NIP195705021984032001

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

ii

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

DAFTARISI

KATAPENGANTAR.................................................................................................................. DAFTARISI.............................................................................................................................. BABI PENDAHULUAN ................................................................................................ A. B. C. D. BABII A. B. C. D. E. F. BABIII A. B. C. D. E. F. A. B. C. A. B. C. LatarBelakangdanIstilahPenting................................................................ KompetensiDasardanIndikatorKeberhasilan............................................. UraianSingkatIsiModul................................................................................ MetodePembelajaran................................................................................... RevolusiManajemenSektorPublik............................................................... PergeseranParadigmadariNPMkeGovernance......................................... KarakteristikGoodGovernance..................................................................... KonsepAkuntabilitas.................................................................................... KebijakanAkuntabilitasdiIndonesia ............................................................. LatihanSoal................................................................................................... PerencanaanStrategis................................................................................... PerencanaanKinerjaTahunan ....................................................................... PenetapanKinerja/PerjanjianKinerja(KontrakKinerja)............................... PenentuanIndikatorKinerjaUtama(IKU).................................................... HubunganIndikatorKinerjaUtamadenganIndikatorKinerjaKunci........... LatihanSoal ................................................................................................... PengukuranKinerja....................................................................................... EvaluasiKinerja............................................................................................. LatihanSoal ................................................................................................... PrinsipPrinsipPenyusunanLAKIP................................................................ KewajibanPenyusunanLAKIP ....................................................................... LatihanSoal ...................................................................................................

i iii 1 1 4 5 5 7 7 8 9 11 13 16 19 21 28 33 40 41 42 45 45 47 53 55 55 56 57 59

GOODGOVERNANCEDANAKUNTABILITAS......................................................

PERENCANAANKINERJA..................................................................................

BABIV PENGUKURANDANEVALUASIKINERJA...........................................................

BABV LAPORANAKUNTABILITASKINERJAINSTANSIPEMERINTAH(LAKIP)................

DAFTARPUSTAKA............................................................................................................

Pusdiklatwas BPKP

iii

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

iv

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

BabI PENDAHULUAN
A. LATARBELAKANGDANISTILAHPENTING

Sejak diterbitkannya Inpres Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, instansi pemerintah wajib mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi serta kewenangan pengelolaan sumber dayanya dengan menyusun laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (LAKIP). Dalam rangka penerapan UndangUndang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan berbagai peraturan pelaksanaannya, pelaporan keuangan dan kinerja di lingkungan instansi pemerintah juga merupakan bagian yang penting guna meningkatkan akuntabilitas dan kinerja birokrasi pemerintahan. Penyusunan LAKIP merupakan salah satu unsur penting dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP). Sama halnya dengan fungsi manajemen pada umumnya, SAKIP meliputi kegiatan perencanaan kinerja, pengukuran kinerja, evaluasi kinerja, dan pelaporan kinerja. Untuk dapat mengembangkan SAKIP dengan baik pada instansi pemerintah diperlukan adanya komitmen dan kesungguhanuntukmengikutiketentuanyangsudahditetapkan. Dalam modul ini terdapat beberapa istilah yang sangat erat kaitannya dengan pengembangan SAKIP. Untuk memudahkan peserta diklat dalam mempelajari dan memahami modul ini, berikut disajikan beberapaistilahpentingyaitusebagaiberikut: 1. Instansi Pemerintah adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menurut peraturan perundangundangan yang berlaku terdiri dari: Kementerian, Lembaga Pemerintah Non Kementerian, Kesekretariatan Lembaga Tinggi Negara, Markas Besar TNI (meliputi: Markas Besar TNI Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut), Kepolisian Republik Indonesia, Kantor Perwakilan Pemerintah RI di Luar Negeri, Kejaksaan Agung, Perangkat Pemerintahan Provinsi, PerangkatPemerintahanKabupaten/Kota,danlembaga/badanlainnyayangdibiayaidarianggaran negara. 2. Akuntabilitas adalah kewajiban untuk menyampaikan pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan kolektif suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

pertanggungjawaban. 3. Kinerjainstansipemerintahadalahgambaranmengenaitingkatpencapaiansasaranataupun

tujuan instansi pemerintah sebagai penjabaran dari visi, misi, dan strategi instansi pemerintah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatankegiatan sesuai denganprogramdankebijakanyangditetapkan. 4. Akuntabilitas kinerja adalah perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan program dan kegiatan yang telah diamanatkan para pemangku kepentingan dalam rangka mencapai misi organisasi secara terukur dengan sasaran/target kinerja yang telah ditetapkan melalui laporan kinerja instansi pemerintah yangdisusunsecaraperiodik. 5. Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) adalah rangkaian proses yang sistematis dari berbagai komponen, alat, dan prosedur yang dirancang untuk mencapai tujuan manajemen kinerja, yaitu perencanaan, penetapan kinerja dan pengukuran, pengumpulan data, pengklasifikasian, pengikhtisaran, dan pelaporan kinerja pada instansi pemerintah, dalam rangka pertanggungjawabandanpeningkatankinerjainstansipemerintah. 6. Perencanaan Strategis,adalahsuatu prosesyangberorientasipadahasilyangingin dicapaiselama kurun waktu 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahun secara sistematis dan berkesinambungan dengan memperhitungkan potensi, peluang, dan kendala yang ada atau yang mungkin timbul. Prosesinimenghasilkansuaturencanastrategisinstansipemerintah,yangsetidaknyamemuatvisi, misi, tujuan, sasaran, strategi, kebijakan, dan program serta ukuran keberhasilan dan kegagalan dalampelaksanaannya. 7. PerencanaanKinerjaadalahprosespenetapankegiatantahunandanindikatorkinerjaberdasarkan program, kebijakan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam rencana strategis. Hasil dari proses iniberuparencanakinerjatahunan(RKT). 8. Pengukuran Kinerja adalah proses kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program, kebijakan, sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam mewujudkan visi, misi, dan strategi instansi pemerintah. Proses ini dimaksudkan untuk menilai pencapaian setiap indikator kinerja guna memberikan gambaran tentang keberhasilan dan kegagalan pencapaian tujuan dan sasaran. Selanjutnya, dilakukan pula analisis akuntabilitas kinerja yang menggambarkan keterkaitan pencapaian kinerja kegiatan dengan program dan kebijakan dalam rangka mewujudkan sasaran, tujuan, visi, dan misi

Pusdiklatwas BPKP


sebagaimanaditetapkandalamrencanastrategis. 9.

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Laporan Kinerja adalah dokumen yang berisi gambaran perwujudan akuntabilitas kinerja kementerian, lembaga, pemerintah daerah, instansi pemerintah di berbagai tingkatan, dan institusi yang menggunakan serta mengelola sumber daya negara, yang disusun dan disampaikan secarasistematikdanmelembaga.

10.

Laporan Akuntabilitas Kinerja adalah laporan kinerja tahunan. Laporan akuntabilitas lazimnya juga dimaksudkan sebagai laporan kinerja. Jadi, laporan akuntabilitas kinerja sama dengan LAKIP dan LAKIPpadadasarnyasamadenganlaporankinerjatahunan.

11.

Entitas Akuntabilitas Kinerja adalah unit instansi pemerintah yang melakukan pencatatan, pengolahan,pengikhtisaran,danpelaporandatakinerja.

12.

Laporan akuntabilitas kinerja K/L adalah dokumen yang berisi gambaran perwujudan akuntabilitas kinerjakementerian/lembaga.

13.

Laporan akuntabilitas kinerja unit organisasi adalah dokumen yang berisi gambaran perwujudan akuntabilitaskinerjaunitorganisasieselon1.

14.

Laporan akuntabilitas kinerja unit kerja mandiri adalah dokumen yang berisi gambaran perwujudan akuntabilitas kinerja pada unit kerja yang mengelola anggaran tersendiri dan/atau unityangditentukanolehpimpinaninstansimasingmasing.

15.

Laporan akuntabilitas kinerja pemerintah provinsi/kabupaten/kota adalah dokumen yang berisi gambaranperwujudanakuntabilitaskinerjapemerintahprovinsi/kabupaten/kota.

16.

Laporan akuntabilitas kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah dokumen yang berisi gambaranperwujudanakuntabilitaskinerjaSatuanKerjaPerangkatDaerah.

17.

Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan kegiatandalamsatuprogram.

18.

Indikator Kinerja adalah ukuran keberhasilan yang akan dicapai dari program dan kegiatan yang telahdirencanakanatausasaranyangakandicapai.

19.

Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumber daya manusia), barang

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

modal termasuk peralatan dan teknologi, dana, atau kombinasi dari beberapa atau semua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentukbarang/jasa. 20. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukungpencapaiansasarandantujuanprogramdankebijakan. 21. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang hendak atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas terukur. Kinerja juga dapat diartikan sebagaiunjukkerjadanhasilkerja. 22. Perjanjian kinerja adalah lembar/dokumen yang berisikan penugasan dari pimpinan instansi yang lebih tinggi kepada pimpinan instansi yang lebih rendah untuk melaksanakan program/kegiatan yang disertai dengan targettarget kinerja yang digambarkan dengan capaian suatu indikator kinerja. 23. Program adalah penjabaran kebijakan kementerian negara/lembaga dalam bentuk upaya yang berisisatuataubeberapakegiatandenganmenggunakansumberdayayangdisediakan.

B.
1.

KOMPETENSIDASARDANINDIKATORKEBERHASILAN
KompetensiDasar Peserta pendidikan dan pelatihan (diklat) memahami konsep akuntabilitas kinerja instansi pemerintah sebagai salah satu langkah stratejik dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik (good governance). Hal ini selaras dengan pengertian internal auditing untuk memberikan keyakinan yang memadai dan jaminan kualitas terhadap berfungsinya unsurunsur manajemen risiko,sistempengendalian,danprosestatakelola(governance)padainstansiauditan.

2.

IndikatorKeberhasilan Peserta diklat mampu menjelaskan konsep akuntabilitas, perencanaan stratejik, perencanaan kinerja, penetapan kinerja, pengukuran kinerja, evaluasi/analisis kinerja, dan pelaporan kinerja instansi pemerintah sebagai media pertanggungjawaban instansi pemerintah dalam menjalankan tugaspokokdanfungsinya.

Pusdiklatwas BPKP


C. URAIANSINGKATISIMODUL

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Modul ini menguraikan tentang gambaran umum, pengertian/definisi akuntabilitas, keterkaitan antara akuntabilitas dengan good governance, proses penyusunan perencanaan kinerja yang terdiri atas perencanaan stratejik, perencanaan kinerja tahunan, dan penetapan kinerja, proses pengukuran kinerja, proses pengevaluasian/penganalisisan kinerja, serta pemahaman tentang pelaporankinerjainstansipemerintah.

D.

METODEPEMBELAJARAN

Pembelajaranmodulinidilakukandenganmenggunakanmetodesebagaiberikut. 1. TatapMuka Dalam sesi tatap muka, instruktur menjelaskan substansi yang berkaitan dengan materi sesuai dengan modul disertai contohcontoh nyata dalam pelaksanaannya. Proses pembelajaran dilakukan secara interaktif dengan sistem komunikasi dua arah (two ways communication) antara instruktur dengan peserta diklat. Proses pembelajaran dua arah tersebut diharapkan dapat menciptakan suasana kelas yang dinamis dan dapat memotivasi peserta diklat untuk saling bertukar pengalaman sesuai dengan latar belakang masingmasing. Agar proses pembelajaran dapatberlangsungsecaraefektifdanefisien,makaparapesertadiklatperlumenyadaripentingnya mempelajari modul ini dan mempersiapkan komentar, pertanyaan, saran, atau studi kasus yang relevandenganisimodulinisebelumprosespembelajarandidalamkelasdilaksanakan. 2. DiskusidanLatihanSoal Diskusi dan latihan soal sangat dianjurkan untuk lebih meningkatkan pemahaman peserta terhadap isi modul ini. Pada sesi diskusi, instruktur berperan sebagai fasilitator dengan memberikan kesempatan kepada para peserta diklat untuk bertanya, memberikan pendapat atau saran, dan berdiskusi mengenai substansi yang berkaitan dengan akuntabilitas instansi pemerintah. Pada akhir sesi diskusi, instruktur menyimpulkan hasil pemikiran para peserta menjadi suatu simpulan pemikiran hasil diskusi yang lengkap dan bulat. Sedangkan latihan soal bermanfaatuntukmemberikangambarankepadapesertadiklatmengenaijenisdantipesoalyang terdapat pada akhir setiap bab dan soalsoal yang pernah diujikan pada periode sebelumnya. Latihan soal ini diharapkan dapat membantu peserta diklat untuk lebih mengenal soalsoal yang akandikerjakanpadasaatujian.

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

BabII GOODGOVERNANCEDANAKUNTABILITAS

IndikatorKeberhasilan Setelahmempelajaribabini,diharapkanparapesertadiklatdapatmenjelaskanmengenai konsepgoodgovernancedanakuntabilitaspadainstansipemerintah.

A.

REVOLUSIMANAJEMENSEKTORPUBLIK

Seiring dengan meningkatnya peran swasta dan masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan, manajemen sektor publik telah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Hal ini antara lain dipicu olehpemikiranOsbornedanGaeblerdalambukunyaReinventingGovernment(1992)ataupemerintahan wirausaha. Perubahan tersebut pada dasarnya diarahkan pada penciptaan manajemen publik yang handaldanmempertajamsertameningkatkankualitaspenyelenggaraanadministrasipublik.Konsep dan sistem administrasi publik yang kaku, struktural/hirarkis, dan birokratis telah ditinggalkan dan sebagai gantinya telah dikembangkan suatu konsep manajemen publik yang fleksibel dan berorientasi kepada pasar. Dalam paradigma manajemen sektor publik yang baru, birokrasi pemerintah dibuat seefisien dan seefektif mungkin sehingga mereka dapat bergerak fleksibel dalam mengikuti tuntutan masyarakat dan perubahan lingkungan. Paradigma baru ini dianggap sebagai solusi atas berbagai label negatif yang melekat pada sektor publik yaitu dengan mengacu pada kaidahkaidah terhadap new public management(NPM). Perubahan ini bukan perubahan sederhana dalam management style administrasi publik. Akan tetapi, perubahan ini merupakan perubahan peranan pemerintah dalam masyarakat dan hubungan antara pemerintah dengan masyarakatnya. Paradigma baru ini merupakan tantangan langsung atas berbagai fungsi prinsip administrasi publik yang telah diyakini sebagai paradigma terpenting selama hampir 20 abad. Dalam paradigma baru, birokrat dan pemerintah bukanlah satusatunya provider barang dan jasa masyarakat. Perspektif ini menempatkan organisasi swasta sebagai mitra pemerintah untuk menyediakan berbagai kebutuhan publik. Pemerintah berperan dalam memfasilitasi kebutuhan masyarakatnya melalui subsidi, pengaturan perundangundangan dan pengaturan kontrak. Keterbukaan pemerintah juga ditekankan dalam paradigma baru ini, yang ditunjukkan dengan diadopsinya berbagai

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

prinsip dan sistem manajemen sektor swasta ke dalam sektor publik untuk memperbaiki kinerja birokrasi. Dalam mekanisme dan pola hubungan ini akuntabilitas yang ada tidak hanya mengalir dari bawah ke atas, dalam arti pegawai secara hirarkis mempertanggungjawabkan kegiatan yang dilakukannya kepada pejabat di atasnya, namun pertanggungjawaban juga dilakukan kepada pihak luar (eksternal) organisasi publik(misalnyamasyarakatataupunkepadasektorswasta).

B.

PERGESERANPARADIGMANEWPUBLICMANAGEMENTKEGOVERNANCE

Orientasi privatisasi yang terdapat pada new public management tidak berarti bahwa peran pemerintah berkurang. Peran pemerintah ini tetap terwujud dengan munculnya peranan pengaturan (regulations) terhadap keterlibatan sektor swasta dan juga dengan memanage respon yang efektif terhadap tuntuntan sosial dan ekonomi masyarakat. World Bank (1997) menyebutkan bahwa meskipun terjadi kecenderungan privatisasi terhadap berbagai kegiatan pemerintah, hal ini tidak berarti bahwa peran pemerintah menjadi berkurang. Peran pemerintah masih sangat penting/dominan dalam manajemen pembangunan. Peran pemerintah mungkin akan berkurang dalam memberikan arahan dan petunjuk dari pusat pemerintahan. Akan tetapi, pemerintah masih tetap bertanggung jawab terhadap perancangan dan pelaksanaan kebijakan publik, terutama yang berkaitan dengan transformasi ekonomi, pengurangan kemiskinan, peningkatan kinerja sektor pertanian, ketenagakerjaan, fasilitas sosial dan umum,sertapengelolaanlingkunganhidup. Hal lain yang mendukung bahwa peran pemerintah masih sangat dibutuhkan dalam pelayanan publik adalahkenyataanbahwaprinsipekonomidanefisiensitidakselaudapatditerapkanpadasemuaaktivitas pemerintah (misalnya fasilitas sosial dan fasilitas umum). Pemerintahan yang modern tidak hanya mencakup efisiensi dan peningkatan keekonomisan, tetapi juga merupakan hubungan akuntabilitas antara negara dengan warga negara, dimana warga negara tidak diberlakukan hanya sebagai konsumen tapi juga sebagai warga Negara yang memiliki hak untuk mendapatkan jaminan atas kebutuhan dasar dan menuntut pemerintah untuk bertanggung jawab atas berbagai kebijakan yang dilakukan. Hal ini merupakan perubahan pandangan dalam manajemen publik dari penekanan pada hubungan antara negara dengan pasar ke hubungan antara negara dengan warga negaranya. Pandangan ini dikenal dengangovernance.GovernanceataukepemerintahandiartikanolehUNDPsebagai: the exercise of political, economic and administrative authority in the management of a countrys affairs at all levelcomprises the complex mechanisms, processes and institutions through which citizens and groups articulate their interests, mediate their differences and exerciselegalrightsandobligations(UNDP,1995).

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Dengankatalain,governancemeliputiberbagaikewenanganbaikyangmenyangkutkewenanganpolitik, ekonomi, dan administrasi berinteraksi satu dengan lainnya. Hubungan ini mencakup hubungan yang komplekantarberbagaikewenangandalamsemualevelpemerintahandalambentukmekanisme,proses dan pembentukan institusi dimana masyarakat dan kelompok masyarakat dapat menyampaikan keinginan,mengaturberbagaiperbedaan,danjugamendapatkanjaminanhukum(danpengaturannya). Konsep ini lebih luas dari fungsi dan kapasitas sektor publik, akan tetapi konsep ini berkaitan dengan manajemen proses pembangunan yang melibatkan pemerintah, swasta, dan masyarakat. Hubungan semua pihak ini bukan merupakan kerangka kegiatan yang terpisah melainkan dalam kerangka keterpaduan dan kerja sama yang harmonis untuk pencapaian tujuan dan kepentingan bersama. Tujuan interaksisosialpolitikekonomidalam pengertianiniadalah tercapainyasuatu keseimbangandansinergi dalam pemenuhan kebutuhan dan kepentingan masingmasing institusi dalam satu keselarasan dan keseimbangan.

C.

KARAKTERISTIKGOODGOVERNANCE

Dalam rangka mengembangkan strategi yang lebih implementatif, terdapat banyak karakteristik dan prinsip tentang GG. Salah satu yang menjadi tonggak penting adalah karakteristik GG yang dirumuskan pada deklarasi Manila, yaitu transparan, akuntabel, adil, wajar, demokratis, partisipatif, dan responsive. Masingmasingkarakteristikdijelaskanlebihlanjutsebagaiberikut: 1. Transparan mengindikasikan adanya adanya kebebasan dan kemudahan didalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai bagi mereka yang memerlukan. Informatif, mutakhir, dapat diandalkan, mudah diperoleh dan dimengerti adalah beberapa parameter yang digunakan untuk mengecekkeberhasilantranparansi. 2. Akuntabel dimana semua pihak (baik pemerintah, swasta dan masyarakat) harus mampu memberikan pertanggungjawaban atas mandat yang diberikan kepadanya (stakeholdersnya). Secara umum organisasi atau institusi harus akuntabel kepada mereka yang terpengaruh dengan keputusanatauaktivitasyangmerekalakukan. 3. Adildalamartiterdapatjaminanbagimasyarakatuntukmendapatkanpelayanandankesempatan yang sama dalam menjalankan kehidupannya. Sifat adil ini diperoleh dari aspek ekonomi, sosial dan politik. Adil ini juga berarti terdapat jaminan akan kesejahteraan masyarakat dimana semua masyarakat merasa bahwa mereka memiliki hak dan tidak merasa diasingkan dari kehidupan masyarakat.

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

4. Wajar dalam arti jaminan atas pemerintah terhadap pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat (standar). Hal ini mensyaratkan bahwa semua kelompok, terutama kelompok yang lemah, memilikikesempatanuntukmeningkatkankesejahteraannya.Untukalasanini,dalammemberikan pelayanankepadamasyarakatpemerintahharusmenyediakanstandarpelayananuntukmenjamin kesamaan(fair)dankonsistensipelayanan. 5. Demokratis dalam arti terdapat jaminan kebebasan bagi setiap individu untuk berpendapat/mengeluarkan pendapat serta ikut dalam kegiatan pemilihan umum yang bebas, langsung,danjujur. 6. Partisipatif dalam arti terdapat jaminan kesamaan hak bagi setiap individu dalam pengambilan keputusan (baik secara langsung maupun melalui lembaga perwakilan). Dalam kaitannya dengan partisipasi ini, terdapat tuntutan agar pemerintah meningkatkan fungsi kontrol terhadap manajemen pemerintah dan pembangunan dengan melibatkan organisasi nonpemerintah. Peran organisasinonpemerintahsangatpentingdalamkonteksinikarenadiyakiniorganisasiinimemiliki kontak yang lebih baik dengan masyarakat miskin, memiliki hubungan yang baik dengan daerah pedalamandanpedesaan,mampumenyediakanmetodealternatifpelayananpublikdenganharga yang murah dan sebagai mediator dalam menyampaikan berbagai pandangan dan kebutuhan masyarakat. 7. Tanggap/peka/responsif yang berarti bahwa dalam melaksanakan kepemerintahan semua institusi dan proses yang dilaksanakan pemerintah harus melayani semua stakeholders secara tepat,baikdandalamwaktuyangtepat(tanggapterhadapkemauanmasyarakat). Berdasarkan konsep di atas, dapat dilihat bahwa good governance mempunyai tujuan yang lebih besar dari sekedar manajemen yang efisien dan penggunaan sumber daya yang ekonomis. Good governance adalah strategi untuk menciptakan institusi masyarakat yang kuat, dan juga untuk membuat pemerintah/publik sektor semakin terbuka, responsif, akuntable dan demokratis. Di samping itu, konsep good governance jika dikembangkan akan menciptakan modern governance (baik good national governance maupun good local governance) yang handal yang tidak hanya menekankan aktivitasnya dalam kerangka efisiensi tetapi juga akuntabilitasnya di mata publik. Yang tidak kalah pentingnya, penerapan good governance sangat berperan dalam pencegahan dan pemberantasan praktikpraktik KKN. Hal ini berarti bahwa dengan adanya good governance maka penyalahgunaan fasilitas publik untuk kepentinganpribadidapatdihindarkansemaksimalmungkin.

10

Pusdiklatwas BPKP


D. KONSEPAKUNTABILITAS

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Good governance tidak hanya terkait dengan efisiensi, tapi juga berkaitan dengan akuntabilitas berbagai penyelenggaraan kepentingan publik kepada stakeholdernya. Ide dasar dari akuntabilitas adalah kemampuanseseorangatauorganisasiataupenerimaamanatuntukmemberikanjawabankepadapihak yang memberikan amanat atau mandat tersebut. Semua unit organisasi, apakah dipilih atau ditunjuk, dikatakan akuntabel ketika mereka mampu menjelaskan dan mempertanggungjawabkan semua tindakan/kegiatan yang mereka lakukan, dan menerima sanksi untuk tindakan yang tidak layak (tidak dapatdipertanggungjawabkan). Konsep dan aplikasi akuntabilitas sebenarnya sudah ada namun seiring dengan perubahan lingkungan tuntutan akuntabilitas menjadi semakin besar. Secara garis besar terdapat 4 model akuntabilitas. Perkembangan model ini lebih banyak dipengaruhi karena perubahan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. 1. ModelTradisionalWestminster Model ini menyebutkan bahwa garis pertanggungjawaban akuntabilitas adalah dari bawah ke atas (hierakhis), dan garis kewenangan (otoritas) dari atas ke bawah atau akuntabilitas ministerial. Model akuntabilitas ini sesuai dengan konsep birokrasi yang diterapkan oleh Weber sehingga disebut juga sebagai administrative accountability. Dalam konsep ini, setiap individu memberikan pertanggungjawaban terhadap suatu tugas spesifik yang diberikan kepadanya kepada atasannya secarahirarkis.Halinidilakukansebagaibentukkontrolatasanterhadapkinerjabawahan. ModelTradisionalWestminstermemilikibeberapakelemahan,yaitu: a. Ide pertanggungjawaban yang menekankan pada penjelasan dan pembenaran atas suatu tindakandianggaptidakcukupdigunakanuntukmelihatkinerjasuatutindakan. b. c. 2. Hubungandalampertanggungjawabanyangbersifatinterpersonal. Kontrolyangbersifattopdown.

Modeltradisionalyangdikembangkan(upward,inwarddanoutward) Model ini merupakan jawaban terhadap adanya beberapa kelemahan dalam model tradisional Westminster. Dengan berbagai kelemahan tersebut dan tuntutan global terhadap transparansi dan kejujuran organisasi pemerintah, maka dikembangkan konsep pertanggungjawaban akuntabilitas yang tidak hanya dari bawah ke atas, tetapi juga bersifat ke dalam (perorangan) dan

Pusdiklatwas BPKP

11

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

ke luar (masyarakat). Untuk mendukung akuntabilitas internal dan eksternal ini, pendukung konsep ini menyarankan diciptakannya berbagai mekanisme dan sistem akuntabilitas seperti pengembangan jaminan kebebasan mendapatkan informasi dan pembentukan berbagai lembaga independen yang bertujuan untuk mengontrol kinerja sektor publik seperti ombudsman dan lembagaperadilanyangkuat. a. ModelStone Dalammodelinipertanggungjawaban/akuntabilitasdibagidalam5kategori,yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) b. KontroldariParlemen(DPR); Managerialism; Pengadilan/Lembagasemiperadilan; PerwakilanMasyarakat; Pasar(konsumenpengusaha).

ModelJaringanKerja(JaringanyangKompleks) Para pihak yang terkait satu dengan yang lain membentuk suatu jaringan kerja yang kompleks dan saling memberikan kontribusi dan informasi. Model ini menekankan pada polahubunganyangterjalindalamsuatukerjasama.Dalamsuatusistemkerjasama,semua pihak yang terkait saling melakukan komunikasi, pemberian informasi dan hubungan kerja yangsalingmelengkapiuntukmencapaitujuandarijaringankerjayangdibuat.

Selain model akuntabilitas yang menekankan pada cara dan institusi pendukung dalam pelaksanaan akuntabilitas, terdapat faktor lain yang penting, yaitu mekanisme akuntablitas. Pengembangan mekanismeakuntabilitasdiarahkanuntukmeningkatkan: 1. 2. 3. 4. 5. kejelasantugasdanperan, hasilakhiryangspesifik, prosesyangtransparan, ukurankeberhasilankinerja, konsultasidaninspeksipublik.

Mekanisme akuntabilitas juga meliputi beberapa aspek, yaitu siapa yang harus melakukan akuntabilitas, kepada siapa akuntabilitas ini dilakukan, untuk apa akuntabilitas dilakukan, dan bagaimana proses

12

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

akuntabilitas dilaksanakan. Mekanisme akuntabilitas ini sangat bervariasi dan sangat ditentukan oleh keputusan atau aktivitas yang dilakukan suatu organisasi mengikat organisasi secara internal atau mengikatsecaraeksternal. Kepada siapa kita harus bertanggung jawab, tergantung pada siapa yang memberi kita mandat dan seberapa besar berbagai tindakan yang kita lakukan mempengaruhi orang lain. Pertanggungjawaban dapat diberikan kepada masyarakat (pelanggan), pemerintah pusat dan daerah (termasuk dalam hal ini Presiden, Menteri, Bupati, Walikota, Gubernur, Pejabat Struktural dalam Birokrasi Pemerintah), organisasi kemasyarakatan/NGOs, organisasi pemerintah lainnya misalnya BUMN, dan lembaga penilai organisasipublikyangdiaturdalamundangundang. Mulgan, Richard (2003) dalam bukunya Holding Power to Account, membuat matriks mekanisme akuntabilitaspemerintah.Contohdarimatriksyangdikembangkanadalahsebagaiberikut:

E.

KEBIJAKANAKUNTABILITASDIINDONESIA

Pengembangan kebijakan akuntabilitas di Indonesia pada dasarnya disebabkan oleh dua hal penting, yaitu: pertama, adanya tuntutan internal (masyarakat Indonesia) antara lain agar sektor publik semakin transparandanmampumempertanggungjawabkanatasberbagaikebijakandantindakanyangdilakukan yangditujukanuntuk menyelesaikandanmemenuhi tuntutanpublik.Kedua,adalahtuntutanperubahan

Pusdiklatwas BPKP

13

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

dalam lingkungan global dalam hal manajemen sektor publik misalnya tuntutan Good Governance dan PerformanceManagement. Kebijakan akuntabilitas di Indonesia dimulai sejak dikeluarkannya TAP MPR RI Nomor XI/MPR/1998 dan dan UU No. 28/1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari KKN. Dalam UU No. 28/1999disebutkanbahwaazaspenyelenggaraankepemerintahanyangbaikmeliputi: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. AzasKepastianHukum. AzasTertibPenyelenggaraanNegara. AzasKepentinganUmum. AzasKeterbukaan. AzasProporsionalitas. AzasProfesionalistas. AzasAkuntabilitas.

Azas akuntabilitas di sini diartikan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negarasesuaidenganketentuanperundangundanganyangberlaku. Sistem AKIP pada dasarnya harus dapat menggambarkan kinerja instansi pemerintah yang sebenarnya, secarajelas(berdasardatayangtepat danakurat)dantransparankepadapublik(pemberi amanah),dan pihakpihak yang berkepentingan/stakeholders, mengenai kemampuan (keberhasilan atau kegagalan) setiap pimpinan instansi pemerintah/unit kerja dalam melaksanakan misi, tugas pokok, fungsi, dan kewenangannya.Semuanyaitudiarahkanpadaupayauntukmendorong(DjokoSusilo,2005): 1. 2. 3. 4. 5. percepatanreformasibirokrasi; penerapanprinsipprinsipgoodgovernancedanfungsifungsimanajemenkinerjasecarataatasas; pencegahanterjadinyaKKN; pengelolaandanadansumberdayalainnyamenjadiefisiendanefektif; pengukuran tingkat keberhasilan dan atau kegagalan setiap pimpinan instansi pemerintah/unit kerjadalammenjalankanmisi,tujuandansasaranorganisasiyangtelahditetapkan; 6. penyempurnaan struktur organisasi, kebijakan publik, sistem perencanaan dan penganggaran, ketatalaksanaan,metodadanprosedurpelayananmasyarakat; 7. kreativitas,produktivitas,sensitivitas,disiplindantanggungjawabaparaturnegara.

14

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Dalam tataran praktis, Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah wujud nyata penerapan akuntabilitas di Indonesia. Inpres ini mendefinisikan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) sebagai pertanggungjawaban keberhasilan atau kegagalan misi dan visi instansi pemerintah dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui seperangkat indikator kinerja. Dalam konteks AKIP ini, instansi pemerintah diharapkan dapat menyediakan informasi kinerja yang dapat dipahami dan digunakan sebagai alat ukur keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian tujuan dan sasaran tersebut. Inpres Nomor 7 Tahun 1999 dijabarkan lebih lanjut dalam Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 589/IX/6/Y/99 tentang Pedoman Pelaporan Akuntabilitas Instansi pemerintah. Pada tahun 2003, pedoman tersebut diperbaiki dengan Keputusan Kepala LAN Nomor 239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Pelaporan AkuntabilitasKinerjaInstansiPemerintah. Perbaikan ini dilakukan sesudah mendapatkan saran dan masukan dari berbagai instansi pemerintah yangmenerapkankebijakanakuntabilitasini.Tujuanperbaikanantaralain: 1. untuk menyempurnakan sistem lama yang belum dapat memperlihatkan keterkaitan antara kegiatankegiatanyangdilaksanakandengansasaran,tujuan,misidanvisi; 2. 3. memudahkanimplementasi; mendoronginstansipemerintahuntukdapatmenyusunLAKIPdenganlebihobjektif.

AdapunkebijakanlainyangterkaitdenganSistemAKIPdiIndonesiaadalah: 1. UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Undangundang ini mewajibkan adanya integrasi dari sistem akuntabilitas kinerja dan sistem penganggaran serta penerapan anggaran berbasiskinerjapadaseluruhinstansipemerintah. 2. UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara; yang mengamanatkan penyusunan PP tentang Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (PP Nomor 8 Tahun 2006) dan PP tentang SistemPengendalianInternpemerintah(SPIP)yangdiaturdalamPP60Tahun2008. 3. UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Dalam UU ini disebutkan bahwa Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional terdiri atas perencanaan pembangunan yang disusun secara terpadu oleh Kementerian/Lembaga dan perencanaan pembangunan oleh Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya. Tahapan Perencanaan Pembangunan Nasional meliputi: 1) Penyusunan Rencana, 2) Penetapan Rencana, 3) Pengendalian Pelaksanaan Rencana, dan 4) Evaluasi Pelaksanaan Rencana. Dalam konsep manajemen kinerja, keseluruhan proses perencanaan ini mengarah pada upaya akuntabilitas berbagai tapan kegiatan yang dilaksanakan padasektorPublik.

Pusdiklatwas BPKP

15

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

4. Inpres No. 5/2004 berkaitan dengan penyusunan penetapan kinerja sebagai upaya peningkatan kualitaspenerapansistemAKIPselamaini. 5. 6. PerpresNo.9/2005yangmewajibkansetiapInstansiPemerintahuntukmelaksanakanSistemAKIP. Inpres nomor 4 Tahun 2011 tentang Percepatan Peningkatan Kualitas Akuntabilitas Keuangan Negara yang mengamanatkan Kepala BPKP untuk melaksanakan (1) asistensi kepada kementerian/lembaga/ pemerintah daerah untuk meningkatkan pemahaman bagi pejabat pemerintah pusat/daerah dalam pengelolaan keuangan Negara/daerah, meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan, dan meningkatkan kualitas laporan keuangan dan tata kelola,(2)evaluasiterhadappenyerapananggarankementerian/lembaga/pemerintahdaerah,dan memberikan rekomendasi langkahlangkah strategis percepatan penyerapan anggaran, dan (3) audit tujuan tertentu terhadap programprogram strategisnasional yang mendapat perhatian publik dan menjadi isu terkini, dan (4) rencana aksi yang jelas, tepat, dan terjadwal dalam mendorongpenyelenggaraanSPIPpadasetiapkementerian/lembaga/pemerintahdaerah. Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi pemerintah (SAKIP) merupakan instrumen yang digunakan instansi pemerintah dalam memenuhi kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan misi organisasi (LAN, 2004, hal. 63). Sebagai suatu sistem, SAKIP terdiri dari komponen komponen yang merupakan satu kesatuan, yakni perencanaan kinerja, pengukuran dan evaluasi kinerja, serta pelaporan kinerja. Komponen dalam SAKIP ini menceminkan semua proses yang ada dalam manajemen kinerja. Bab berikut membahas unsusunsur SAKIP yaitu perencanaan kinerja, pengukuran danevaluasikinerja,sertapelaporankinerjadalambentukLAKIP.

F.

LATIHANSOAL

Pilihlahjawabanyangpalingtepatdiantaraa,b,c,dand! 1. Perubahanmanajemensektorpublikterutamabertujuanuntuk. a. b. c. d. mendorongpartisipasimasyarakatdalampengambilankeputusanpemerintahan meningkatkan peran serta masyarakat dan sektor swasta dalam perwujudan tata kelola pemerintahanyangbaik meningkatkan dominasi para penyelenggara pemerintahan dalam memberikan arahan terhadapterwujudnyagoodgovernance menjawab tuntutan pihak IMF setelah terjadinya krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997

16

Pusdiklatwas BPKP


2.

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Dalam rangka menutupi kelemahan model akuntabilitas tradisional Wesminster, maka dikembanganmodel. a. b. c. d. Stone ReinventingGovernment AkuntabilitasTunggal AkuntabilitasBersyarat

3.

Inpres Nomor 4 Tahun 2011 memberikan kewenangan penuh untuk memperbaiki sistem pengendalian dan kualitas akuntabilitas keuangan Negara dalam rangka mewujudkan good governance.Kewenanganinidiberikankepada. a. b. c. d. BPKPselakuinstansiPembinaSPIP MenteriKeuangan UKP4 MenpandanReformasiBirokrasi

4.

InpresNomor7Tahun1999mengaturtentang. a. b. c. d. PercepatanPemberantasanKorupsi PenyusunanPenetapanKinerja/KontrakKinerjaInstansiPemerintah AkuntabilitasKinerjaInstansiPemerintah SistemPelaporanKeuangandanKinerjaInstansiPemerintah

5.

Padahakikatnya,SAKIPdikembangkandiIndonesiadengantujuanuntuk. a. b. c. d. percepatanrenumerasibirokrasi penerapan prinsipprinsip good governance dan fungsifungsi manajemen kinerja secara taatasas mendorongterjadinyaKKN pengelolaandanadansumberdayalainnyakepadapihakasingsecaraefisiendanefektif

Pusdiklatwas BPKP

17

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

18

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

BabIII PERENCANAANKINERJA

IndikatorKeberhasilan Setelahmempelajaribabini,diharapkanparapesertadiklatdapatmenjelaskan tentangperencanaankinerjayangmencakupperencanaanstrategis, perencanaankinerjatahunan,kontrakkinerja,penentuanIndikatorKinerjaUtama, danhubunganIndikatorKinerjaUtamadenganIndikatorKinerjaKunci. Dalam penerapan sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (SAKIP), perencanaan strategis merupakan langkah awal yang harus dilakukan oleh instansi pemerintah agar mampu menjawab tuntutan lingkungan strategis lokal, nasional dan global dalam tatanan Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia. Dengan pendekatan perencanaan strategis yang jelas, instansi pemerintah dapat menyelaraskan visi dan misinya dengan potensi, peluang, dan kendala yang dihadapi dalam upaya peningkatan akuntabilitas kinerjanya. Instrumen atau alatalat lain yang digunakan untuk mewujudkan perencanaan strategis ke dalam realitas dan melakukan langkah operasional adalah melakukan pengelolaan (manajemen) berbasis kinerja. Pengelolaan kinerja di lingkungan instansi pemerintah meliputi perencanaan strategis (perencanaan jangka menengah), perencanaan kinerja tahunan, penetapan kinerja, pengukuran kinerja, pelaporan kinerja, evaluasi kinerja, dan pengintegrasiannya denganmanajemenpersonel(humanresourcemanagement). SkemamengenaisiklusManajemenBerbasisKinerjadapatdilihatpadagambar1dibawahini:

Pusdiklatwas BPKP

19

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Gambar1:SiklusManajemenBerbasisKinerja Sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah merupakan suatu tatanan, instrumen, dan metode pertanggungjawabanyangintinyameliputitahaptahapsebagaiberikut. 1. 2. 3. 4. PenetapanPerencanaanStrategis, PengukuranKinerja, PelaporanKinerja, Pemanfaataninformasikinerjabagiperbaikankinerjasecaraberkesinambungan.

Siklusakuntabilitaskinerjainstansipemerintahdapatdigambarkansebagaiberikut.

Gambar2:SiklusAkuntabilitasKinerjaInstansiPemerintah

20

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Siklus akuntabilitas kinerja instansi pemerintah seperti terlihat pada gambar 2 di atas dimulai dari penyusunan perencanaan strategis (Renstra) yang meliputi penyusunan visi, misi, tujuan, dan sasaran serta menetapkan strategi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Perencanaan strategis ini kemudian dijabarkan dalam perencanaan kinerja tahunan yang dibuat setiap tahun. Rencana kinerja ini mengungkapkan seluruh target kinerja yang ingin dicapai (output/outcome) dari seluruh sasaran strategis dalam tahun yang bersangkutan serta strategi untuk mencapainya. Rencanakinerjainimerupakantolokukuryangakandigunakandalampenilaiankinerjapenyelenggaraan pemerintah untuk suatu periode tertentu. Dalam setiap tahun juga disusun dokumen Penetapan Kinerja atau Kontrak Kinerja, yang merupakan berisikan sasaran berupa outcome dan output yang harus dicapai dalam periode satu tahun anggaran. Setelah rencana kinerja ditetapkan, tahap selanjutnya adalah pengukuran kinerja. Dalam melaksanakan kegiatan, dilakukan pengumpulan dan pencatatan data kinerja. Data kinerja tersebut merupakan capaian kinerja yang dinyatakan dalam satuan indikator kinerja. Dengan diperlukannya data kinerja yang akan digunakan untuk pengukuran kinerja, maka instansi pemerintah perlu mengembangkan sistem pengumpulan data kinerja, yaitu tatanan, instrumen, dan metode pengumpulan data kinerja. Pada akhir suatu periode, capaian kinerja tersebut dilaporkan kepada pihak yang berkepentingan atau yang meminta dalam bentuk Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). Tahap terakhir, informasi yang termuat dalam LAKIP tersebut dimanfaatkan bagiperbaikankinerjainstansisecaraberkesinambungan.

A.

PERENCANAANSTRATEGIS

Perencanaan strategis merupakan proses yang sistematis dalam pembuatan keputusan di masa yang akandatangyangpenuhrisiko,denganmemanfaatkansebanyakbanyaknyapengetahuanantisipatifdan mengorganisasikannya secara sistematis untuk usahausaha melaksanakan keputusan tersebut dan mengukur hasilnya melalui umpan balik yang sistematis. Oleh karenanya, perencanaan strategis bukan sekedar seperti perencanaan anggaran belanja modal (capital budgeting) atau sekedar rencana kerja jangka menengah (5 tahunan). Perencanaan strategis lebih merupakan wahana bagi para pemimpin instansi dan seluruh staf/anggota dalam menskenariokan dan menentukan masa depan organisasi instansimereka. Perencanaan strategis juga memberikan arah dan sekaligus menentukan apa yang ingin dihasilkan, apa yang ingin dicapai dan apa yang ingin diubah. Dengan demikian, proses perencanaan strategis yang menghasilkan dokumen Rencana Strategis (Renstra) akan dapat digunakan dalam mengukur akuntabilitaskinerjasebuahentitas.

Pusdiklatwas BPKP

21

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Prosespenyusunanrencanastrategisorganisasiyangberorientasikepadahasilyangingindicapaiselama kurun waktu tertentu, (biasanya 35 tahun) dengan memperhitungkan potensi, peluang dan kendala yang ada atau mungkin timbul. Analisis terhadap lingkungan organisasi baik internal maupun eksternal merupakan langkah yang sangat penting dalam memperhitungkan kekuatan (strengths), kelemahan (weakness), peluang (opportunities), dan tantangan/kendala (threats). Analisis terhadap unsurunsur tersebut sangat penting dan merupakan dasar bagi perwujudan visi dan misi serta strategi instansi pemerintah. Dokumen yang dihasilkan dari proses perencanaan strategis disebut Rencana Strategis atau populer disebut Renstra. Format Renstra meski variatif dalam praktiknya, namun setidaknya mengandung informasitentanghalhalsebagaiberikut: 1. Where do we want to be? Merupakan arah masa depan organisasi yang ingin dituju (visi, tujuan, dansasaranstrategis). 2. Where are we now? Analisis organisasi tentang nilainilai luhur yang dimiliki, kekuatan, kelemahan, kesempatan dan kendala organisasi (SWOT analysis) serta tugas pokok dan fungsi utamaorganisasiyangmenunjukkanalasanutamakeberadaanorganisasi(misi). 3. Howdowegetthere?Merupakanlangkahlangkahstrategisyangdilakukanolehorganisasidalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Langkahlangkah ini biasanya dituangkan dalamkebijakan,programdankegiatanorganisasi. 4. How do we measure our progress? Berkaitan dengan cara organisasi menetapkan ukuranukuran keberhasilan pelaksanaan misi dalam mencapai tujuan dan sasaran organisasi. Karenanya, setiap tujuan dan sasaran yang ditetapkan harus dapat terukur dengan seperangkat indikator kinerja yangidealnyamerupakanindikatorkinerjaoutcomeatausetidaknyaoutput. ManfaatyangdiperolehdaripenyusunanRenstraantaralainsebagaiberikut. 1. 2. 3. 4. 5. Merencanakanperubahandalamlingkunganyangdinamisdankompleks. Mengelolaorganisasiuntukmencapaikeberhasilan. Mengantisipasimasadepan. Menyesuaikantuntutanperubahanlingkungan. Selalumemfokuskantindakanorganisasidenganmisimemberikanpelayananterbaik(prima)pada masyarakat.

22

Pusdiklatwas BPKP


6. 7. 8. Meningkatkankomunikasi.

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Mengaturpenggunaansumberdayaorganisasisupayaefisiendanefektif. Meningkatkanproduktivitas.

KomponenRenstradalamSAKIPmeliputi:(1)Pernyataanvisidanmisi;(2)Perumusantujuandansasaran besertaindikatorkinerja;(3)Uraiantentangcaramencapaitujuandansasaran(strategi)yangdijabarkan kedalam kebijakan dan program. Uraian lebih lanjut mengenai analisis strategis (analisis SWOT), visi, misi, tujuan, sasaran, strategi mencapai tujuan dan sasaran (melalui penyusunan dan pelaksanaan programdankegiatan)secarasingkatdiuraikansebagaiberikut. 1. AnalisisStrategi Pimpinan dan seluruh komponen organisasi harus selalu mengelola organisasinya sesuai dengan dinamika kompleksitas perubahan dan tuntutan masyarakat. Meningkatnya tranparansi dalam pengelolaan sumber daya dan informasi menyebabkan semakin terbukanya kesempatan bagi sektor publik untuk berkompetisi dengan sektor swasta dalam pemenuhan kebutuhan publik. Menciptakan organisasi publik yang mampu memenuhi dan melayani serta mampu bersaing dalam borderless world economy membutuhkan pengarahan strategi dan akuntabilitas. Pada tahap inilah, organisasi sektor publik perlu mengenali dan menguasai berbagai informasi lingkungan strategisnya. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan strategi yang tepat dan valid dalam penyusunanrencanastrategik,yangakandigunakansebagaidasarpembuatanrencanaaksi. Terdapat tiga langkah penting dalam pembuatan pengarahan stategi, yaitu pencermatan lingkungan strategis, faktorfaktor kunci keberhasilan, dan analisis untuk kepentingan penyusunan strategi. Kegiatan pencermatan lingkungan strategis adalah untuk mengenali kekuatan dan kelemahan internal organisasi dan memahami peluang dan tantangan eksternal organisasi sehingga organisasi dapat mengantisipasi perubahanperubahan di masa yang akan datang. Di samping itu, dengan menggunakan informasi dari hasil pencermatan tersebut organisasi lebih berkemampuanuntukmengambillangkahlangkahdalamjangkapanjang. Atas dasar pencermatan lingkungan strategis atau analisis lingkungan maka disusun faktorfaktor kunci keberhasilan (ctritical success factors/CSFs). CSFs dapat didefinisikan sebagai aspekaspek tertentu yang dapat menunjukkan keberhasilan suatu organisasi. Aspekaspek ini harus sesuai dengan apa yang ingin dicapai oleh organisasi. Pemimpin adalah sumber utama dalam proses identifikasi CSFs ini, meskipun sumber lain dari dalam organisasi maupun dari luar organisasi juga dapat dimanfaatkan. Kepemimpinan memegang kontrol utama karena mereka yang akan

Pusdiklatwas BPKP

23

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

mengarahkan dan menggerakkan organisasi, sehingga berbagai keputusan tentang arah dan apa yangingindicapaiorganisasimerupakanbentukkomitmendariseorangpemimpin. Dalam penyusunan strategi, hasil CSFs dianalisis sesuai dengan kondisi dan kebutuhan organisasi. Analisis diarahkan pada penilaian lingkungan organisasi melalui proses analisis lingkungan organisasi,yangmeliputikondisi,situasi,keadaan,peristiwadanpengaruhpengaruhdidalamdan di sekeliling organisasi yang berdampak pada kehidupan organisasi berupa kekuatan internal, kelemahan internal, peluang eksternal dan tantangan eksternal. Beberapa metode bisa digunakan untuk melakukan analisis dan salah satu yang dapat digunakan adalah analisis SWOT (Strenghts, Weakness,Opportunities,Threats). 2. Visi Penyusunan Visi berkaitan dengan pandangan ke depan menyangkut ke mana organisasi harus dibawa. Visi merupakan bayangan organisasi di masa depan dan biasanya berisi citacita dan citra yang ingin diwujudkan organisasi. Menurut A.C. Hax dan N.S. Majluf dalam buku Strategic Management: An Integrated Perspective yang dikutip dalam Modul Diklat Teknis Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Kementerian Dalam Negeri dan LAN, visi menjawab pertanyaan what do we want to become?. Vision statement thinking about what is our business in the future?, or about our mission in the future. A vision is a statement about the future, spoken or written today; it is a process of managing the present from a stretching view of the future. Visi adalah pernyataan yang diucapkan atau ditulis hari ini, yang merupakan proses manajemen saat iniyangmenjangkaukedepan. Visi harus mampu memberikan gambaran tentang area kerja suatu organisasi berupa pernyataan yangmerupakansaranauntuk: a. b. mengkomunikasikanalasankeberadaanorganisasidalamartitujuandantugaspokok, memperlihatkan framework hubungan antara organisasi dengan stakeholders (sumber daya manusiaorganisasi,konsumen,danpihaklainyangterkait), c. 3. Misi Visi yang telah kita peroleh harus kita terjemahkan ke dalam panduan yang lebih pragmatis dan konkret (membumi) yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengembangan strategi dan aktivitasdalamorganisasi.Untukitudibutuhkanmisi.Pernyataandalammisilebihtajamdanlebih menyatakansasaranutamakinerjaorganisasidalamartipertumbuhandanperkembangan.

24

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

rinci jika dibandingkan dengan visi. Misi adalah sesuatu yang harus diemban oleh organisasi sebagai penjabaran dari visi. Misi adalah pernyataan mengenai halhal yang harus dilaksanakan oleh organisasi bagi pihakpihak yang berkepentingan. Pernyataan misi mencerminkan segala sesuatu penjelasan tentang tindakan, produk atau pelayanan yang ditawarkan untuk memenuhi kebutuhanataumenyelesaikanpermasalahanmasyarakat. 4. Tujuan Tujuan adalah sesuatu (apa) yang harus dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu tertentu (biasanya antara 15 tahun). Acuan dalam pengembangan tujuan adalah pernyataan visi dan misi serta didasarkan pada analisis strategis. Dalam kerangka pikir manajemen strategis, tujuan tidak harus merupakan targettarget yang bersifat kuantitatif dari suatu organisasi. Pencapaian tujuan merupakan ukuran dari keberhasilan kinerja faktorfaktor kunci keberhasilan suatu organisasi. Oleh karena itu, tujuan merupakan bagian integral dari proses manajemen strategis yang di dalamnya mengandung usaha untuk melaksanakan suatu tindakan. Untuk itu tujuan haruslah menegaskan tentang apa (what) yang secara khusus (spesifik) harus dicapai dan kapan (when). Pencapaiantujuandapatmenjaditolokukuruntukmenilaikinerjaorganisasi. Kriteriadalampenyusunantujuanantaralainadalahsebagaiberikut. a. b. c. Tujuanharusserasidanmengklarifikasimisidanvisi. Pencapaiantujuanberkontribusiuntukpencapaianvisidanmisi. Tujuan sesuai dengan hasil analisis strategis dan sesuai dengan isuisu strategis yang berkembang. d. Tujuan cenderung untuk secara esensial tidak berubah, kecuali terjadi pergeseran lingkungan,ataudalamsuatutujuanyangstrategishasilyangdiinginkantelahdicapai. e. Tujuan biasanya secara relatif berjangka panjang, yaitu sekurangkurangnya tiga tahun atau lebih. Namun demikian, pada umumnya jangka waktu tujuan disesuaikan dengan tingkat organisasi,kondisi,posisidanlokasi. f. Tujuan harus dapat mengatasi kesenjangan antara tingkat pelayanan saat ini dengan yang diinginkan. g. h. Tujuanmenggambarkanhasilyangdiinginkan(kondisiyangdiinginkan). Tujuan menggambarkan arah yang jelas dari organisasi, tetapi belum menetapkan ukuran ukuranspesifikataustrategi. i. Tujuanharusmenantang,namunrealistikdandapatdicapai.

Pusdiklatwas BPKP

25

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

5. Sasaran Sasaran adalah hasil yang akan dicapai secara nyata oleh organisasi, gambaran hal yang ingin diwujudkan organisasi melalui tindakantindakan guna mencapai tujuan. Fokus sasaran adalah aksi, yaitu kegiatan yang bersifat spesifik, terinci, dapat diukur dan jelas periode waktunya (lebih pendek dari tujuan). Penyusunan sasaran sangat penting untuk dilakukan karena merupakan tonggak dalam penyusunan strategi. Bentuk dari sasaran adalah pernyataan tugastugas (tugas khusus) yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu (biasanya bersifat jangka pendek). Dengan demikian, karateristik yang harus dipenuhi dalam penyusunan sasaran adalah SMART (Specific, Measurable, Aggressive and Attainable, Resultoriented, Timebound), dengan penjelasan sebagaiberikut: a. Specific, sasaran harus spesifik karena merupakan panduan (guidance) dalam organisasi dalammelakukantugasnya. b. Measurable, sasaran harus dapat diukur. Sasaran tersebut merupakan standar yang dapat dipakai untuk mengukur keberhasilan kinerja organisasi. Dimensi yang dapat diukur antara laindimensikuantitas,kualitas,waktu,tempat,anggaran,maupunpenanggunggugat. c. Aggressive and Attainable, sasaran harus kuat (jelas), menantang dan dapat dicapai atau diwujudkan. d. ResultsOriented, sasaran harus mencerminkan dan mampu menspesifikasikan hasil yang ingindicapai. e. 6. Timebound,sasaranharusmemilikijangkawaktuyangjelasdanjangkapendek.

Strategi(CaraMencapaiTujuandanSasaran) Setelah menetapkan apa (what) dan kapan (when) sasaran yang akan dicapai, langkah selanjutnya adalah menentukan bagaimana hal tersebut dicapai atau menentukan strategi pencapaian tujuan dan sasaran. Strategi ini diterjemahkan sebagai penyusunan kebijakan dan program agar berbagai tujuandansasaranyangtelahditetapkandapatdicapai.Strategiberkaitandenganhalhalberikut. a. b. c. d. Bagaimanatargettargetkinerjayangharusdipenuhi? Bagaimanaorganisasiakanmemberikanperhatianpadapelanggan? Bagaimanaorganisasiakanmemperbaikikinerjapelayanan? Bagaimanaorganisasiakanmelaksanakanmisinya?

26

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Strategibisamengalamiperubahansetiapsaatsesuaidenganlingkunganyangmempengaruhinya. Strategi tidak bersifat statis melainkan dinamis. Strategi atau cara mencapai tujuan dan sasaran dituangkan dalam kebijakan dan program dalam kurun waktu 5 (lima) tahun. Jabaran dari strategi adalahkebijakandanprogram. Kebijakan adalah ketentuanketentuan yang telah ditetapkan oleh yang berwenang untuk dijadikan pedoman, pegangan atau petunjuk dalam pengembangan ataupun pelaksanaan program/kegiatan guna tercapainya kelancaran dan keterpaduan dalam perwujudan sasaran, tujuan,sertavisidanmisiinstansipemerintah. Program adalah kumpulan kegiatan yang sistematis dan terpadu untuk mendapatkan hasil yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa instansi pemerintah ataupun dalam rangka kerja sama denganmasyarakat,gunamencapaisasarantertentu. Agar strategi dapat diterapkan dengan baik, perlu diminta komitmen pimpinan puncak, terutama dalam menentukan kebijakan organisasi. Hal ini terjadi karena keberhasilan program sangat erat kaitannya dengan kebijakan instansi. Dalam rangka itu perlu diidentifikasi pula keterkaitan antara kebijakan yang telah ditetapkan dengan program dan kegiatan sebelum diimplementasikan. Kebijakan tersebut perlu dikaji terlebih dahulu untuk meyakinkan apakah kebijakan yang telah ditetapkanbenarbenardapatdilaksanakan. 7. DokumenRenstra Dalam Modul SAKIP Lembaga Administrasi Negara (2004) disebutkan bahwa cakupan renstra meliputi:(1)Pernyataanvisi,misi;(2)PerumusanTujuandanSasaranbesertaindikatorkinerjanya; (3) Uraian tentang cara mencapai Tujuan dan Sasaran (strategi) yang dijabarkan kedalam Kebijakan dan Program. Dalam modul LAN ini juga disajikan formulir untuk mempermudah pembuatanrenstra(dasarpenyusunanrenstra).Formulirinimemperlihatkanketerkaitanvisi,misi, tujuan,sasaransertakebijakandanprogram.

Pusdiklatwas BPKP

27

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

FormulirRS RencanaStrategis Tahun..........s.d........... Instansi :.......... Visi :.......... Misi :.......... Tujuan 1 Uraian 2 Sasaran Indikator 3 CaraMencapaiTujuandan Sasaran Kebijakan Program 4 5 Keterangan 6

Sebagaialternatif,ModulSAKIPLAN(2004)memberikanoutlineRenstra,yaitu: RENCANASTRATEGIS Pengantar BabI BabII Pendahuluan Memuatlatarbelakang,asumsiasumsi,manfaat,danlainlain TugasPokokdanFungsi Memuattugaspokokdanfungsisebagaimanadituangkandalamlandasanhukum instansimasingmasing AnalisisStrategis Memuathasilanalisisstrategis:analisislingkungan,CSFs,danSWOT RencanaStrategis MemuatVisi,Misi,Tujuan,Sasaran,sertaStrategi(KebijakandanProgram) Penutup

BabIII BabIV BabV

B.

PERENCANAANKINERJATAHUNAN

Perencanaan kinerja tahunan merupakan langkah penjabaran renstra dalam targettarget tahunan yang cukup terinci. Perencanaan kinerja tahunan ini juga merupakan suatu media yang akan menghubungkan antara renstra atau dokumen perencanaan kinerja jangka menengah dengan kebutuhan anggaran yang diperlukan untuk mencapai kinerja organisasi dalam suatu tahun tertentu. Targettarget kinerja tahunan ini boleh jadi sudah ditetapkan dalam menyusun renstra. Akan tetapi, rincian dan informasi tambahan

28

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

tentang penetapan target kinerja ini dapat dilakukan setiap tahun, sehingga lebih dapat ditetapkan denganlebihakurat. Perencanaan kinerja mengandung arti bahwa instansi pemerintah harus merencanakan apa yang akan dilaksanakan (program, kegiatan) dan apa hasilnya (outcome, output). Perencanaan kinerja sesungguhnya tidak saja merencanakan apa yang akan dikerjakan, akan tetapi sekaligus menetapkan target (quantitative objective) hasil yang ingin dicapai. Oleh karena itu, perencanaan kinerja yang baik akan sangat tergantung dari pengumpulan data pelaksanaan tahuntahun sebelumnya, pemetaan sumber daya/kekuatan yang ada, dan ketepatan penentuan asumsiasumsi ataupun prognosis/ proyeksi kedepan. Modul SAKIP (LAN, 2004) menyebutkan bahwa dokumen dalam rencana kinerja antara lain berisikan informasimengenai: 1. 2. 3. Sasaran,IndikatorKinerja,danTargetyangakandicapaipadaperiodeyangbersangkutan. Programyangakandilaksanakan. Kegiatan,IndikatorKinerja,danTargetyangdiharapkandalamsuatukegiatan.

Dokumen tersebut dituangkan dalam bentuk Formulir Rencana Kinerja Tahunan (RKT), yaitu sebagai berikut. FormulirRKT RencanaKinerjaTahunan Tahun.......... Instansi:.......... Sasaran Uraian 1 Rencana Indikator Tingkat Program Uraian Kinerja Capaian (Target) 2 3 4 5 Kegiatan Indikator Kinerja 6 Satuan 7 Rencana Ket. Tingkat Capaian (Target) 8 9

Sebagai perbandingan, Formulir RKT berdasarkan Permenpan Nomor 29 tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah untuk tingkat Kementerian/Lembaga/Pemerintah Provinsi/Pemerintah kabupaten dan Kota, Unit Organisasi Eselon I Kementerian/LembagadanSKPD,sertaunitkerjamandiriadalahsebagaiberikut.

Pusdiklatwas BPKP

29

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

FORMULIRRENCANAKINERJATAHUNAN TINGKATKEMENTERIAN/LEMBAGADANPEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA Kementerian/LembagaProvinsi/Kab/Kota Tahun SasaranStrategis 1 PetunjukPengisian: 1. 2. 3. 4. 5. Header(a)diiisinamakementerian/lembaga/pemerintahprovinsi/kabupaten/kota. Header(b)diisidengantahunanggaran. Kolom (1) diisi dengan sasaran strategis kementerian/lembaga/pemerintah provinsi/kabupaten/ kotasesuaidengandokumenrencanaperencanaanjangkamenengah. Kolom (2) diisi dengan indikator kinerja atas sasaran strategis dari kementerian/lembaga/ pemerintahprovinsi/kabupaten/kotadalamkolom(1). Kolom(3)diisidenganangkatargetdarimasingmasingindikatorkinerjasasaranstrategis. :(a) :(b) IndikatorKinerja 2 Target 3

30

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

FORMULIRRENCANAKINERJATAHUNAN TINGKATUNITORGANISASIESELONIKLDANSATUANKERJA PERANGKATDAERAH(SKPD) UnitEselonIKementerian/Lembaga/SKPD Tahun SasaranStrategis 1 PetunjukPengisian: 1. 2. 3. 4. 5. Header(a)diiisinamaunitorganisasieselonkementerian/lembaga/SKPD. Header(b)diisidengantahunanggaran. Kolom (1) diisi dengan sasaran strategis unit organisasi eselon kementerian/lembaga/SKPD sesuai dengandokumenrencanaperencanaanjangkamenengah. Kolom (2) diisi dengan indikator kinerja atas sasaran strategis dari unit organisasi eselon kementerian/lembaga/SKPDdalamkolom(1). Kolom(3)diisidenganangkatargetdarimasingmasingindikatorkinerjasasaran. :(a) :(b) IndikatorKinerja 2 Target 3

Pusdiklatwas BPKP

31

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

FORMULIRRENCANAKINERJATAHUNAN TINGKATUNITORGANISASIESELONII/UNITKERJAMANDIRIK/L UnitEselonII/UnitMandiriK/L Tahun SasaranStrategis 1 PetunjukPengisian: 1. 2. 3. 4. 5. Header(a)diiisinamaunitorganisasieselonII/UnitMandirikementerian/lembaga. Header(b)diisidengantahunanggaran. Kolom (1) diisi dengan sasaran strategis unit organisasi eselon II/Unit Mandiri kementerian/lembagasesuaidengandokumenrencanaperencanaanjangkamenengah. Kolom (2) diisi dengan indikator kinerja atas sasaran strategis dari unit organisasi eselon II/Unit Mandirikementerian/lembagadalamkolom(1). Kolom(3)diisidenganangkatargetdarimasingmasingindikatorkinerjasasaran. :(a) :(b) IndikatorKinerja 2 Target 3

32

Pusdiklatwas BPKP


C.

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

PENETAPANKINERJA/PERJANJIANKINERJA(KONTRAKKINERJA)

Dokumen penetapan kinerja merupakan suatu dokumen pernyataan kinerja/ kesepakatan kinerja/perjanjian kinerja antara atasan dan bawahan untuk mewujudkan target kinerja tertentu berdasarkan pada sumber daya yang dimiliki oleh instansi. Penetapan kinerja juga menggambarkan capaian kinerja yang akan diwujudkan oleh suatu instansi pemerintah/unit kerja dalam suatu tahun tertentudenganmempertimbangkansumberdayayangdikelola. Tingkatcapaiankinerjatertentuinimembutuhkanbeberapainformasi,antaralain: 1. 2. 3. 4. sasaranstrategisorganisasiataukondisiyangingindiwujudkanorganisasi; output(hasilkegiatan)danatauoutcome(hasilprogram); indikatorkinerjaoutputdanatauoutcome; perkiraanrealististentangtingkatcapaian.

Pada dasarnya, dokumen penetapan kinerja dapat dimanfaatkan oleh setiap pimpinan instansi pemerintahuntuk: 1. 2. 3. memantaudanmengendalikanpencapaiankinerjaorganisasi; melaporkancapaianrealisasikinerjadalamLaporanAkuntabilitasKinerjaInstansiPemerintah; menilaikeberhasilanorganisasi.

Dalam penyusunan dokumen penetapan kinerja agar memperhatikan: kontrak kinerja antara Presiden dengan menteri, dokumen perencanaan jangka menengah, dokumen perencanaan kinerja tahunan, dan dokumenpenganggarandanataupelaksanaananggaran. ContohFormulirPenetapanKinerja

Pusdiklatwas BPKP

33

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

34

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Pusdiklatwas BPKP

35

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

36

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Pusdiklatwas BPKP

37

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

38

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Pusdiklatwas BPKP

39

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

D. PENENTUANINDIKATORKINERJAUTAMA(IKU)
Dalam kaitannya dengan penerapan perjanjian kinerja atau kontrak kinerja atau dokumen penetapan kinerja (PK), yang perlu juga diperhatikan adalah penggunaan IKU (Indikator Kinerja Utama) yang menjadi ukuran keberhasilan unitunit atau entitas organisasi tertentu. Ukuranukuran atau indikator indikator keberhasilan ini (yang merupakan IKU) haruslah termasuk yang diperjanjikan di dalam dokumen perjanjian kinerja. Selain itu janji tentang pencapaian target kinerja dari IKU tersebut, juga dapat disertakan indikator output atau outcome yang sangat membantu atau menjelaskan ataupun melengkapi gambaran keberhasilan yang diungkapkan dengan memakai IKU. Berikut ini dijelaskan mengenaicarapenyusunanIKUpadamasingmasingdokumenperencanaankinerja. 1. PenentuanIKUpadaPenyusunanRenstra Pedoman penyusunan dan pelaporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah yang disusun oleh LAN (Lembaga Administrasi Negara) memuat petunjuk menentukan target pencapaian sasaran denganmenentukanrencanacapaianindikatorpencapaiansasaran. Agar perencanaan berbasiskan kinerja menjadi lebih terukur hendaknya di dalam Renstrapun harus sudah ditentukan indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur kemajuan dan keberhasilaninstansiyangbersangkutan. 2. PenentuanIKUpadaPenyusunanRKT Pada proses penyusunan RKT, penentuan indikator kinerja untuk setiap kegiatan sudah mulai ditentukan secara rinci. Kegiatankegiatan yang akan dilaksanakan dan rinciannya (subkegiatan) terdapat indikator kinerja berupa keluaran dan dicantumkan pula target capaiannya. Sedangkan indikator yang lebih tinggi, yaitu hasil dari program beberapa instansi telah mengidentifikasi dan menentukan indikator hasil program tersebut. Akan tetapi, dalam petunjuk PP 21 Tahun 2004 memang tidak ada keharusan untuk menentukan target capaian pada tahun yang direncanakan atashasilprogramini. Walaupun tidak ada kewajiban dalam penyusunan RKAKL untuk menetapkan target hasil program, sebaiknya indikator keberhasilan program yang berupa hasil program maupun indikator lainnya sudah ditentukan. Perbaikanperbaikan dalam perencanaan terutama pada penyusunan RKT seharusnya juga menjadi perhatian instansi pemerintah seperti dianjurkan pada buku pedomanpenyusunandanpelaporanakuntabilitaskinerjainstansipemerintah.

40

Pusdiklatwas BPKP


3. PenentuanIKUpadaPenyusunanPK

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Dokumen penetapan kinerja, berdasarkan Inpres Nomor 5 Tahun 2004 harus disusun oleh setiap instansi pemerintah sebagai perwujudan komitmen instansi dalam mencapai sasaran dan tujuan yang diinginkan. Indikator kinerja dan targettarget output maupun outcome sudah harus dicantumkandidalamdokumenini. Sinergi dan koordinasi antar satuan kerja atau antar unit organisasi sangat penting untuk mewujudkan hasilhasil program. Pada penyusunan dokumen penetapan kinerja (performance agreement). yang terpenting adalah pencantuman target hasil (outcome) dan targettarget keluaran (output). Sedangkan masalah pendanaan dari anggaran dapat diperkirakan dari pagu anggarankeseluruhanyangditerimainstansi. lndikator kinerja yang disajikan di dalam dokumen penetapan kinerja (persetujuan kinerja) hendaknya adalah IKU yang menggambarkan keberhasilan instansi (atau unit organisasi) yang menyusunnya. Walaupun demikian, indikatorindikator penyeimbang dan indikatorindikator yang sangatberhubungandenganpencapaiantujuanorganisasijugadapatdisajikan.

E.

HUBUNGANLNDIKATORKINERJAUTAMADENGANINDIKATORKINERJAKUNCI

Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Evaluasi Pelaksanaan Pemerintahan Daerah menyebutkan bahwa Pemerintah akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pemerintahan di daerah dengan menilai capaian seperangkat indikator kinerja kunci (IKK) untuk setiap urusan yang dibebankan kepada masingmasing daerah. Capaian setiap indikator kinerja kunci untuk setiap urusan tersebut akan menunjukkan seberapa jauh suatu daerah mampu melaksanakan urusan yang didelegasikanPemerintahkepadasetiapdaerah. Dengan dilakukannya evaluasi ini, maka setiap daerah akan didorong untuk melaporkan berbagai capaian kinerja setiap urusan yang dilaksanakannya sesuai dengan indikator kinerja kunci yang ditetapkan oleh Pemerintah. Selanjutnya capaian setiap indikator kinerja kunci ini akan dituangkan dalam berbagai laporan pelaksanaan pemerintahan daerah yang disampaikan kepada Pemerintah, terutamadalamLaporanPelaksanaanPemerintahanDaerah(LPPD). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa antara indikator kinerja utama (IKU) dan indikator kinerja kunci (IKK) bukan merupakan suatu pertentangan, namun lebih kepada fokus penilaian manajemen. IKK ditetapkan oleh Pemerintah dalam hal ini melalui Kementerian Dalam Negeri untuk setiap urusan yang dilaksanakan oleh setiap daerah. IKK ini disusun dan ditetapkan Pemerintah berdasarkan standar
Pusdiklatwas BPKP

41

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

pelayanan minimal yang telah ditetapkan oleh Kementerian/Lembaga teknis terkait. Di sisi lain, IKU disusun dan ditetapkan sendiri oleh setiap organisasi dalam rangka mengukur keberhasilan organisasi secara menyeluruh dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi. IKU disusun dan ditetapkan tidak didasarkan atas pelaksanaan standar pelayanan minimal semata, namun dalam rangka mengukur kinerjaorganisasidalamrangkamemberikanpelayananmaksimalkepadamasyarakatdanstakeholder.

F.

LATIHANSOAL

Pilihlahjawabanyangpalingtepatdiantaraa,b,c,dand! 1. SistemAKIPatausistemmanajemenberbasiskinerjadiawalidenganpenyusunan. a. b. c. d. 2. IndikatorKinerja PerencanaanKinerja PerjanjianKinerja AkuntabilitasKinerja

Dokumenpenetapankinerjakementerian/lembagadisampaikankepada. a. b. c. d. Presiden MenpandanReformasiBirokrasi MenteriKeuangan MenteriSekretarisNegara

3.

Dalampenetapanmisi,instansipemerintahtidakperlumemperhatikankriteriaberikutini. a. b. c. d. Menjelaskantindakan,produkataupelayananyangditawarkan. Memilikisasarantentangpublikyangakandilayani. Kualitas tindakan, produk dan pelayanan yang ditawarkan memiliki daya saing yang meyakinkanmasyarakat. Produkyangditawarkanbersifatumum(tidakspesifik).

4.

Dalam Permenpan Nomor 29 Tahun 2010 dinyatakan bahwa penyusunan penetapan kinerja harus memperhatikan. a. b. c. d. kontrakkinerjaantaraPresidendenganmenteri dokumenperencanaanjangkamenengah dokumen perencanaan kinerja tahunan, dan dokumen penganggaran dan atau pelaksanaan anggaran Jawabana,b,dancbenar

42

Pusdiklatwas BPKP


5.

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Padadasamya,IndikatorKinerjaUtama(IKU)disusundengantujuan. a. b. c. d. menjadiukurankeberhasilanunitunitatauentitasorganisasitertentu mengidentifikasikan kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dihadapi oleh organisasidimasayangakandatang memberikancitrapositifbagiorganisasikarenasudahmengimplementasikanSAKIP menentukankapabilitaspimpinanorganisasidalammengelolasumberdayaorganisasi ~

Pusdiklatwas BPKP

43

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

44

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

BabIV PENGUKURANDANEVALUASIKINERJA

IndikatorKeberhasilan Setelahmempelajaribabini,diharapkanparapesertadiklatdapatmenjelaskan tentangpengukurandanevaluasikinerjainstansipemerintah.

A. PENGUKURANKINERJA

MenurutPedomanPenyusunanPelaporanAkuntabilitasKinerjaInstansiPemerintah,pengukurankinerja digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan/kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi instansi pemerintah. Pengukurandimaksudmerupakanhasildarisuatupenilaian(assessment)yangsistematikdandidasarkan pada kelompok indikator kinerja kegiatan yang berupa indikatorindikator masukan, keluaran, hasil, manfaat,dandampak. Pengukuran kinerja merupakan suatu alat manajemen yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. Selanjutnya, dikatakan bahwa pengukuran kinerja juga digunakan untuk menilai pencapaian tujuan dan sasaran (goals and objectives) dengan elemen kunci sebagaiberikut. 1. 2. 3. 4. Perencanaandanpenetapantujuan. Pengembanganukuranyangrelevan. Pelaporanformalatashasil. Penggunaaninformasi.

Pengukuran adalah aktivitas pembandingan antara sesuatu dengan alat ukurnya. Oleh karena itu, instrumen penting dalam pengukuran adalah alat ukurnya sendiri. Alat ukur kinerja adalah ukuran kinerja (performance measures) atau jika tidak ada alat ukur yang lebih akurat cukup menggunakan indikator kinerja (performance indicators). Oleh karenanya, kadangkadang istilah ukuran kinerja dan indikatorkinerjamenjadisinomimyangsangatdekat.

Pusdiklatwas BPKP

45

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Pengukuran kinerja di lingkungan instansi pemerintah dilakukan sesuai dengan peran, tugas dan fungsi masingmasing instansi pemerintah, sehingga lebih mengandalkan pada pengukuran keberhasilan instansi pemerintah yang dilakukan secara berjenjang dari tingkatan unit kerja sampai pada tingkatan tertinggi organisasi suatu instansi. Oleh karena itu, diperlukan berbagai indikator kinerja di berbagai tingkatan. Misalnya indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur kinerja pelaksanaan kegiatan. Denganindikatoritudiharapkanpengelolakegiatan,atasandanpihakluardapatmengukurkeberhasilan pelaksanaankegiatantersebut. Untuk mengatasi berbagai kerumitan pengukuran di berbagai tingkatan dan agregasinya untuk mengambil simpulan, seringkali digunakan beberapa indikator kinerja utama. Indikator kinerja utama (IKU) ini dipilih di antara berbagai indikator yang paling dapat mewakili dan menggambarkan apa yang diukur. Pengukuran kinerja di berbagai tingkatan dilakukan dengan mengacu pada dokumen perencanaan kinerja,penganggarandanperjanjian kinerja.Berbagaitingkatanitu mempunyai,tugaspokokdanfungsi dantanggungjawabmasingmasingyangberbedaantarasatutingkatandengantingkatanyanglain. Tingkatanentitasakuntabilitasitudapatdikategorikansebagaiberikut: 1. 2. 3. 4. 5. entitasakuntabilitaskinerjasatuankerjaatauEselonIIpadaInstansiPemerintahPusat; entitasakuntabilitaskinerjaunitorganisasiEselonI; entitasakuntabilitaskinerjakementeriannegara/lembaga; entitasakuntabilitaskinerjaSKPD; entitasakuntabilitaskinerjaPemerintahProvinsi/Kabupaten/Kota.

Seluruh entitas tersebut wajib menyusun rencana kinerja, melaksanakan kegiatan/program dan memantau realisasi capaian berbagai indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur terwujudnya output atau outcome sampai sasaran strategis Kementerian/Lembaga. Oleh karena itu, pengukuran kinerjajugadilakukanpadasetiaptingkatantersebut,yaitu: 1. pengukurankinerjahasilkegiatanatauoutputuntukentitasakuntabilitaskinerjasatuankerjaatau EselonIIpadaPemerintahPusat; 2. pengukuran kinerja hasil program atau outcome untuk entitas akuntabilitas kinerja unit organisasi EselonI; 3. pengukuran kinerja pencapaian sasasaran strategis K/L untuk entitas akuntabilitas kinerja kementeriannegara/lembaga;

46

Pusdiklatwas BPKP


4. 5.

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

pengukurankinerjahasilprogramdankegiatanuntukentitasakuntabilitaskinerjaSKPD; pengukurankinerjahasilprogramuntukentitasakuntabilitaskinerjaPemerintahDaerah.

Instrumen pengukuran kinerja dengan menggunakan berbagai formulir pengukuran kinerja dapat dibedakanpadasetiaptingkatantersebutdiatas.

B.

EVALUASIKINERJA

Evaluasi atau analisis adalah proses untuk mengurai suatu kondisi sehingga diperoleh pemahaman yang lebihmendalam.Analisismerupakan kebalikandari sintesis,yaituprosesuntukmenyatukan kondisi,ide, atau objek menjadi sesuatu yang baru secara keseluruhan. Oleh karena itu, analisis kinerja paling tidak dilakukan dengancaramelakukananalisisadanyabedakinerja(performancegapanalysis),yaitumelihat beda (gap) antara yang sudah direncanakan dengan realisasinya atau kenyataannya. Jika terdapat gap yang besar, maka perlu diteliti sebabsebabnya berikut berbagai informasi kendala dan hambatan termasuk usulan tindakantindakan apa yang diperlukan untuk memperbaiki kondisi tersebut. Keseluruhanhasilanalisiskinerjaselanjutnyadituangkandalampelaporanakuntabilitaskinerja. Dalamsistemakuntabilitaskinerjainstansipemerintah(SAKIP)analisiskinerjadilakukanterhadapkinerja instansi pemerintah sesuai dengan entitas akuntabilitas kinerja dengan memanfatkan hasil dari aktivitas pengukurankinerjayangtelahdilakukan. Oleh karena itu, adalah penting untuk mengidentifikasi entitas yang melaporkan akuntabilitas kinerja. Akuntabilitas kinerja di tingkat Kementerian/Lembaga sudah tentu menyangkut halhal yang lebih besar, lebih penting, dan terkait dengan hasilhasil pembangunan nasional yang bersifat strategis. Jika dibandingkan dengan laporan akuntabilitas kinerja Unit Kerja Organisasi tingkat Eselon I, maka akuntabilitas kinerja di tingkat unit kerja eselon I lebih rinci dan lebih operasional, demikian seterusnya sampaiketingkatandibawahnya. Pengukuran dan analisis kinerja yang dilakukan pada tingkat Kementerian/Lembaga disarankan terbatas pada pencapaian sasaransasaran strategis kementerian/lembaga. Dengan demikian, K/L hanya melaporkan halhal yang penting atau strategis saja, dan kemudian halhal yang lebih rinci dan lebih operasionaldilaporkanunitkerjaeselonIataueselonIIdibawahnya. Pengukuran kinerja di tingkat unit kerja organisasi eselon I, sebaiknya meliputi pelaporan sasaran strategis unit kerja tersebut dan juga kinerja pelaksanaan kegiatan atau output unit di bawahnya.

Pusdiklatwas BPKP

47

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

SedangkanunitkerjaeselonII,mengukurdanmelaporkanberbagaioutputpadaunitnyabesertasubsub outputnya. Berikutdisajikanilustrasipengukurankinerjadiberbagaitingkatanbaikuntukpemerintahpusatmaupun pemerintahprovinsi/kabupaten/kota:

48

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Pusdiklatwas BPKP

49

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

50

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Pusdiklatwas BPKP

51

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

52

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

C.

LATIHANSOAL

Pilihlahjawabanyangpalingtepatdiantaraa,b,c,dand! 1. Pengukuran kinerja merupakan aktivitas yang dilakukan untuk menilai keberhasilan atau kegagalanmanajemenorganisasi,denganelemenkunci. a. b. c. d. 2. perencanaandanpencapaiantujuan pengembanganukuranyangrelevan pelaporanhasilsecaraformalatauinformal monitoringhasilsecaraformal

Pengukurandananalisiskinerjayangbersifatstrategisdilaksanakanpadatingkatan. a. b. c. d. kementerian/lembaga eselon1 eselon2 SKPD

3.

Pengukuran kinerja hasil program atau outcome dilaksanakan untuk entitas akuntabilitas kinerja unitorganisasisetingkat. a. b. c. d. eseloni eselon2 SKPD unitkerjamandiri

4.

Pengukuran dan evaluasi kinerja Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasionaldilaksanakanoleh. a. b. c. d. ItjenKementerianDiknas BPKP Mendiknas DirjenPendidikanTinggiKementerianPendidikanNasional

5.

Sasaran strategis Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Tengah pada formulir pengukuran kinerja SKPDdiisiberdasarkanpada. a. b. c. d. sasaranstrategisDinasPUProvinsiJawaTengahpadadokumenRenstra sasaranstrategisDinasPUProvinsiJawaTengahpadadokumenRKT sasaranstrategisDinasPUProvinsiJawaTengahpadadokumenPenetapanKinerja sasaranstrategisDinasPUProvinsiJawaTengahpadadokumenPengukuranKinerja

Pusdiklatwas BPKP

53

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

54

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

BabV LAPORANAKUNTABILITASKINERJA INSTANSIPEMERINTAH(LAKIP)

IndikatorKeberhasilan Setelahmempelajaribabini,diharapkanparapesertadiklatdapatmenjelaskan mengenaiprinsipprinsippenyusunanLAKIPdankewajibanpenyusunanLAKIP. Salah satu bentuk Laporan Kinerja yang digunakan dalam sektor publik di Indonesia adalah LAKIP. LAKIP dipakai sebagai media akuntabilitas bagi instansi pemerintah. Laporan akuntabilitas kinerja adalah laporan kinerja tahunan yang berisi pertanggung jawaban kinerja suatu instansi dalam mencapai tujuan/sasaranstrategisinstansi.

A.

PRINSIPPRINSIPPENYUSUNANLAKIP

Penyusunan LAKIP harus mengikuti prinsipprinsip yang lazim, yaitu laporan harus disusun secara jujur, objektif,dantransparan.Disampingitu,perlupuladiperhatikanprinsipprinsiplain,seperti: 1. Prinsippertanggungjawaban(adanyaresponsibilitycenter),sehinggalingkupnyajelas.Halhalyang dikendalikan(controllable)maupunyangtidakdapatdikendalikan(uncontrollable)olehpihakyang melaporkanharusdapatdimengertipembacalaporan. 2. Prinsip pengecualian, yang dilaporkan adalah halhal yang penting dan relevan bagi pengambilan keputusan dan pertanggungjawaban instansi yang bersangkutan. Misalnya halhal yang menonjol baik keberhasilan maupun kegagalan, perbedaanperbedaan antara realisasi dengan sasaran/standar/rencana/budget, penyimpanganpenyimpangan dari rencana karena alasan tertentu,dansebagainya. 3. Prinsip perbandingan, laporan dapat memberikan gambaran keadaan masa yang dilaporkan dibandingkandenganperiodeperiodelainatauunit/instansilain.

Pusdiklatwas BPKP

55

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

4. Prinsip akuntabilitas, sejalan dengan prinsip pertanggungjawaban dan prinsip pengecualian, maka prinsip ini mensyaratkan bahwa yang terutama dilaporkan adalah halhal yang dominan yang membuatsuksesataugagalnyapelaksanaanrencana. 5. Prinsipmanfaat,yaitumanfaatlaporanharuslebihbesardaripadabiayapenyusunannya.

Di samping itu, perlu pula diperhatikan beberapa ciri laporan yang baik seperti relevan, tepat waktu, dapat dipercaya/diandalkan, mudah dimengerti (jelas dan cermat), dalam bentuk yang menarik (tegas dan konsisten, tidak kontradiktif antar bagian), berdaya banding tinggi, berdaya uji (verifiable), lengkap, netral,padat,danterstandarisasi(untukyangrutin).

B.

KEWAJIBANPENYUSUNANLAKIP

Padadasarnya,instansiyangwajibmenyusunlaporanakuntabilitaskinerjaadalah: 1. 2. 3. 4. 5. Kementerian/Lembaga; PemerintahProvinsi/Kabupaten/Kota; UnitOrganisasiEselonIpadaKementerian/Lembaga; SatuanKerjaPerangkatDaerah; Unit kerja mandiri, yaitu unit kerja yang mengelola anggaran tersendiri dan/atau unit yang ditentukanolehpimpinaninstansimasingmasing. Selanjutnya,jangkawaktupenyampaianLAKIPuntukinstansipemerintahpusatdiatursebagaiberikut. 1. LaporanAkuntabilitasKinerjatingkatKementerian/LembagadisampaikankepadaPresidenmelalui MenteriNegaraPendayagunaanAparaturNegaradanReformasiBirokrasiselambatlambatnya2,5 (duasetengah)bulansetelahtahunanggaranberakhir. 2. Laporan Akuntabilitas Kinerja tingkat unit organisasi eselon I dan unit kerja mandiri pada Kementerian/LembagadisampaikankepadaMenteri/PimpinanLembaga. 3. Waktu penyampaian Laporan Akuntabilitas Kinerja tingkat unit organisasi eselon I dan unit kerja mandiri pada Kementerian/Lembaga sebagaimana dimaksud pada butir 2 di atas diatur tersendiri olehMenteri/PimpinanLembaga. Sedangkan jangka waktu penyampaian LAKIP untuk instansi pemerintah daerah mengikuti ketentuan sebagaiberikut.

56

Pusdiklatwas BPKP


1.

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

Laporan Akuntabilitas Kinerja tingkat Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi selambatlambatnya3(tiga)bulansetelahtahunanggaranberakhir.

2.

Laporan Akuntabilitas Kinerja tingkat SKPD dan unit kerja mandiri pada Pemerintah Provinsi/Kabupaten/KotadisampaikankepadaGubernur/Bupati/Walikota.

3.

Waktu penyampaian Laporan Akuntabilitas Kinerja tingkat SKPD dan unit kerja mandiri sebagaimanadimaksudpadabutir2diatasdiaturtersendiriolehGubernur/Bupati/Walikota.

C.

LATIHANSOAL

Pilihlahjawabanyangpalingtepatdiantaraa,b,c,dand! 1. LAKIPwajibdisusunoleh. a. b. c. d. 2. Kementerian/Lembaga UnitOrganisasiEselon2padakementerian/Lembaga BiroKeuanganSetjenKementerianPerindustrian InspektoratBidangInvestigasiItjenkementerianKeuangan

LAKIPpemerintahprovinsi/kabupaten/kotadisampaikankepada. a. b. c. d. MenteriDalamNegeri MenteriKeuangan KepalaBPKP KetuaBPK

3.

LAKIPpemerintahprovinsi/kabupaten/kotadisampaikanselambatlambatnya. a. b. c. d. 2bulansetelahtahunanggaranberakhir 2,5bulansetelahtahunanggaranberakhir 3bulansetelahtahunanggaranberakhir 4bulansetelahtahunanggaranberakhir

4.

Unit kerja organisasi eselon I pada Kementerian/Lembaga dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)melaporkanpencapaiantujuan/sasaranstrategisyangbersifat. a. b. c. d. hasil(outcome)danataukeluaran(output)penting. hasil(outcome)pentingsaja keluaran(output)pentingsaja hasil(outcome)danataukeluaran(output)pentingdantidakpenting

Pusdiklatwas BPKP

57

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

5. Dalam penyajian mengenai pencapaian sasaran dalam LAKIP sekurangkurangnya memuat informasitentang. a. b. c. d. realisasipencapaianindikatorkinerjautamaorganisasi penjelasanyangmemadaiataspencapaiankinerja pembandingan capaian indikator kinerja sampai dengan tahun berjalan dengan target kinerja5(lima)tahunanyangdirencanakan semuajawabanbenar ~

58

Pusdiklatwas BPKP

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

DAFTARPUSTAKA
______,InpresNomor7Tahun1999tentangAkuntabilitasKinerjaInstansiPemerintah. ______, Inpres Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi. ______,UndangUndangNomor25Tahun2004tentangSistemPerencanaanPembangunanNasional. Lembaga Administrasi Negara dan BPKP, Akuntabilitas dan Good Governance,2000, Jakarta. Lembaga Administrasi Negara (LAN), Pedoman Penyusunan dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja InstansiPemerintah,2003,Jakarta. Peraturan Menpan Nomor 29 tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan PelaporanAkuntabilitasKinerjaInstansiPemerintah. PeraturanMenpanNomor9Tahun2007tentangPedomanUmumPenetapanIndikatorKinerjaUtamadi LingkunganInstansiPemerintah. PeraturanMenpanNomor20Tahun2008tentangPetunjukPenyusunanIndikatorKinerjaUtama. PusdiklatwasBPKP,ModulAkuntabilitasInstansiPemerintah,EdisiKelima,2007. KementerianPANdanReformasiBirokrasi,ModulPenyusunanLAKIP,2010. Kementerian Dalam Negeri dan Lembaga Administrasi Negara, Modul Diklat Teknis Akuntabilitas Kinerja InstansiPemerintah,2007. KomisiPemberantasanKorupsiRepublikIndonesia,RencanaStrategisTahun20082011. Lembaga Administrasi Negara (LAN), Modul Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Edisi Kedua,2004,Jakarta. Djoko Susilo, Good Governance Melalui Implementasi SAKIP, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara,2005,Jakarta. Stone, Bruce., Administrative Accountability in The Westminster Democraties: Towards a New ConceptualFramework,1995. Mulgan,Richard.,HoldingPowertoAccount,Palgrave,2003,NewYork. WorldBank,WorldDevelopmentReport(Summary),WorldBank,1997,WashingtonD.C. ~
Pusdiklatwas BPKP

59

Akuntabilitas Instansi Pemerintah

60

Pusdiklatwas BPKP

Anda mungkin juga menyukai