Anda di halaman 1dari 3

DIAGNOSA MALARIA

KURNIA FITRI JAMIL Bagian/SMF. Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran UNSYIAH/ RSUD. Dr. Zainoel Abidin BANDA ACEH

Seperti pada penyakit infeksi pada umumnya, diagnosa penyakit malaria didasarkan dengan ditemukannya parasit (plasmodium) dalam darah tepi penderita. Diagnosa malaria perlu ditegakkan segera dan dilakukan penanganan yang tepat sebab bila tidak ditangani akan berlangsung berat dan mengakibatkan kematian. Diagnosa yang tepat dan cepat merupakan bagian yang penting dalam penanganan kasus malaria sehingga penyakit malaria dapat segera diobati dan kematian dapat dicegah. Bukan Cuma itu juga penyebaran penyakit malaria dapat segera dihentikan dan penggunaan obat yang tidak perlu dapat dihindarkan. Diagnosa malaria didasarkan atas criteria klinis ( clinical diagnosis) di lengkapi/ ditunjang dengan pemeriksaan darah untuk deteksi malaria ( parasitological diagnosis) Diagnosa klinis spesifisitasnya rendah dan diagnosis parasitologik mempunyai spesifisitas yang tinggi tetapi sering tidak tersedia. Karenanya perlu dicari alat lain untuk membantu menegakkan diagnosis yang mempunyai spesifitas dan sensitivitas yang tinggi. ( Rapid Diagnosis Test = RDT ) Rekomendasi WHO untuk diagnosa klinis : 1. Daerah dimana risiko malarianya rendah, diagnosa malaria uncomplicated (ringan) harus didasarkan atas kontak malaria dan adanya riwayat demam 3 hari tanpa ada tanda penyakit lain 2. Daerah yang risiko malarianya tinggi, diagnosa klinis didasarkan adanya demam dalam 24 jam terakhir dan/ atau adanya anemia ( pucat di tangan ) Beberapa pertimbangan dalam diagnosa yang perlu diketahui ialah : 1. Tidak ada gejala klinis maupun gejala komplikasi yang khas untuk perlangsungan penyakit malaria, semua manifestasi klinis dapat merupakan gejala dari penyakit lain. 2. Ditemukannya parasit dalam darah TIDAK selalu merupakan penyebab dari gejala penyakit yang terjadi waktu tersebut. Banyak individu di daerah endemik dengan parasitemia tidak memberikan gejala-gejala malaria. 3. Pada malaria berat sering tidak ditemukan parasit di darah tepi karena adanya sekuestrasi parasit ke jaringan. Keadaan ini sering juga terjadi para penderita dengan pengobatan profilaktis dan pengobatan yang tidak adekuat.

Diagnosa parasitologik: 1. Tetes darah tebal Tetes darah tebal bila diperiksa oleh tenaga yang terlatih dapat mendeteksi adanya parasit 5 - 10 parasit/ uL Bila diperiksa 100 lapang pandangan dengan minyak emersi ( 6x okuler & 100 x objektif --> 600 kali) setara dengan pemeriksaan 0,25 uL darah. Syarat pemeriksaan tetes tebal : - tehnik pembuatan baik: (slide bersih, penusukan benar, teknik pembuatan baik tebal/ tipisnya, pengecatan baik ) - pembaca slide perlu pengalaman dan latihan. Hitung parasit pada tetes tebal : dihitung berdasar leukosit ( eritrosit sudah lisis )/ 200 leukosit atau per 500 leukosit Contoh : 1500 parasit/ 200 leuko Bila leukosit 8000/ uL, hitung parasit : 8000/ 200 x 1500 par. = 60.000/uL Penilaian : Htung parasit < 100.000/ uL , mortalitas < 1% Hitung parasit > 500.000/ uL, mortalitas > 50 % Catatan : - baik untuk parasitemia rendah - kurang baik bila parasit padat - bila waktu tidak tepat hasil negatif - perlu diulang tiap 4 - 6 jam, bila sudah 3 - 5 kali pemeriksaan hasilnya negative, bukan penyakit malaria. - adanya bentuk sizon pada darah tepi juga menunjukkan infeksi berat - kemoprofilaktik/ partial terapi menurunkan parasitemia dibawah level deteksi sehingga sulit di deteksi parasit nya - bila sulit ditemukan parasit, dapat dicari pigmen malaria pada monosit - artefact sering dikelirukan sebagai parasit - deteksi parasit pada BMP dapat dipertimbangkan sebagi metode khusus. ( intradermal aspirasi/ kerokan kulit ) - provokasi dengan adrenalin sudah tidak digunakan karena tidak dipercaya dan mengandung bahaya. 2. Hapusan darah tipis : Digunakan sebagai sarana untuk identifikasi species parasit, bentuk dan stadium dari plasmodium akan tampak lebih jelas. Pada parasitemia yang rendah sulit dikerjakan. Pada parasitemia yang tinggi dapat dipakai untuk melakukan hitung parasit berdasarkan jumlah eritrosit. Dilakukan per 1000 eri atau per 10.000 eritrosit.

Pengecatan pada kedua jenis sediaan dapat dengan Giemsa ( 15-30 menit) atau Fileds(5-20 menit). Contoh ; hasil malaria dilaporkan 50 parasit/ 1000 eritrosit ( parasitemia 5 % ) Beberapa jenis pemeriksaan serologik ialah : Deteksi Antigen Deteksi antigen secara qualitative yaitu histidine rich protein II (HRPII). Merupakan tes strip yang mengandung antibodi spesifik terhadap HRP-II. Bila pada sampel ada antigen malaria (HRP-II) akan timbul warna merah. Parasight F hanya akan mendeteksi P. falsiparum dan tidak plasmodium spesies lain ( vivax, ovale etc). Sensitivity 95,7 % dan spesificity 86,6%. Waktu pemeriksaan 7 menit, dapat dilakukan pada klinik yang sederhana atau studi lapangan, tanpa intrument dan semua reagen dan strip dalam satu kit. Sensitivitas deteksi parasit 10 parasit/ uL. Saat ini telah direkomendasikan oleh WHO untuk sarana yang tidak ada fasilitas mikroskopik atau untuk RS di Unit Gawat Darurat untuk menggunakan tes berbasis antigen ini yang dikenal sebagai Rapid Diagnostic Test ( RDT). Kit tes ini bermacam-macam seperti PF test, Paracheck, ICT dll. Test ada yang hanya khusu untuk P. falsiparum , ada yang untuk 2 plasmodium ( Falcip + viviks) dan ada yang 3 plasmodium atau 4 plasmodium. Test lain yaitu parasit LDH menggunakan 3-acetyl pyridine NAD (APAD) sebagai co-enzym dalam membentuk APADH yang diukur secara spektrofotometri. Semua ke-4 jenis spesies dapat dideteksi dengan sensitivitas tertentu : ovale, malariae, vivax dan falsiparum yaitu 1000, 1700, 1900 dan 10.800 parasit/ uL. Tes ini dikenal sebagai OPTIMAL test Beberapa catatan untuk tes RDT : 1. Tes RDT hanya tes antigen yaitu bagian dari plasmodium. Tes ini dapat dipakai sebagi tes awal/ skrening test dan dapat dipakai untuk pedoman pengobatan ( ACT). Tes ini kurang bermanfaat atau positif semu pada orang sehabis menderita malaria , karena setelah sembuh/ hilangnya parasit, tes RDT dapat masih positif sampai 2 minggu. 2. Semua tes RDT sebaiknya dilakukan konfirmasi tes mikroskopik pada laboratorium yang ditunjuk. 3. Tes RDT tidak dapat dipoakai untuk melakukan follow up apakah pasien sudah sembuh atau belum dari penyakit malaria. PUSTAKA : 1. WHO; Guidelinesfor the treatment Malaria. WHO Geneve 2012.