Anda di halaman 1dari 2

Jenis vaksin virus influenza yang digunakan untuk mengimunisasi manusia di seluruh dunia adalah vaksin virus mati,

karena vaksin virus hidup dapat bereplikasi dan dianggap berbahaya. Vaksin yang ada saat ini diproduksi dari virus yang ditumbuhkan dalam telor ayam yang subur dan dibunuh menggunakan formalin atau a-propiolakton. Vaksin dapat berupa virus utuh yang merupakan hasil pemisahan protein dengan detergen atau formulasi antigen permukaaan yaitu, hemaglutinin dan neuraminidase dari ketiga galur virus yang disarankan oleh WHO.1

Vaksin Virus Mati Utuh Vaksin virus mati sangat berhasil dipakai untuk mencegah penyakit influenza. Setiap dosis vaksin mati saat ini mengandung 15 g virus influenza A H1N1, H3N2, dan virus influenza B. Vaksin mati diperkirakan mempunyai efikasi protektivitas 60-90% pada anak-anak dan orang dewasa, dan lebih rendah pada orang tua. Vaksin ini sudah diakui sangat aman dan ditoleransi dengan sangat baik.7

Keamanan Vaksin Virus Mati Utuh Vaksin virus utuh lebih sering menimbulkan reaksi samping pada anak-anak kecil dibandingkan dengan formula vaksin terpisah/subunit yang hanya mengandung antigen protein permukaan murni. Walaupun demikian, hasil penelitian terakhir membuktikan bahwa vaksin influenza mati yang utuh juga cukup aman diberikan pada penderita asma dan penyakit kronis yang lain. Reaksi ikatan yang sering terjadi pada imunisasi vaksin influenza mati yang utuh adalah eritema, nyeri, dan pembengkakan pada tempat suntikan yang terjadi 12-24 jam sesudah imunisasi. Kadangkadang terjadi indurasi. Gejala lokal sering terjadi pada orang dewasa. Gejala sistemik yang terjadi adalah suhu tubuh sedikit meningkat dalam 48 jam sesudah imunisasi. Gejala yang lain adalah nyeri otot, nyeri sendi, sakit kapala, dan badan lemas. Gejala ini muncul pada sekitar 650% orang yang mendapat imunisasi. 16

Vaksin Subunit/Terpisah/Split Vaccine Sebelum berkembangnya teknologi purifikasi vaksin untuk memperoleh vaksin yang sangat murni, maka pabrik pembuat vaksin mengembangkan teknik pemisah protein virus dengan menggunakan eter atau deterjen, sehingga toksigenitas vaksin yang terjadi pada manusia dapat dikurangi. Vaksin tersebut sudah banyak digunakan di dunia, dan terutama disarankan untuk

anak yang berumur kurang dari 12 tahun.5 Vaksin subunit yang diberikan 1 kali dosis cukup untuk mengimunisasi orang yang sudah mendapat imunisasi atau yang sudah mempunyai memori imunologi terhadap antigen atau epitop virus yang dapat melindungi (epitop protektif). Sebaliknya vaksin terpisah/subunit ini kurang imunogenik untuk orang yang tidak memiliki memori terhadap antigen karena belum pernah mendapat imunisasi atau belum pernah terinfeksi virus influenza. Oleh karena itu, disarankan untuk memberikan dua kali dosis.

Indikasi Vaksin Influenza Orang tua yang berumur lebih dari 65 tahun. Petugas rumah sakit yang merawat penderita penyakit kronis. Orang dewasa dan anak-anak yang menderita penyakit paru atau sistem kardiovaskuler kronis, termasuk anak yang menderita penyakit asma. Orang dewasa dan anak-anak yang menderita penyakit yang perlu dikontrol secara teratur setiap tahun, misalnya penyakit diabetes melitus, gangguan fungsi ginjal,

hemoglobinopati, dan penyakit penekanan sistem imun. Anak dan dewasa muda (umur 6 bulan sampai 18 tahun) yang mendapat pengobatan aspirin jangka panjang, yang mungkin mempunyai risiko sindrom Reye bila menderita penyakit influenza. Wanita dengan kehamilan trimester kedua atau ketiga pada saat terjadi musim influenza.

Kontraindikasi Vaksin Influenza Vaksin ini tidak boleh diberikan pada anak berumur kurang dari 6 bulan, karena pada kelompok umur ini vaksin sering menimbulkan gejala panas. Pada anak yang berumur kurang dari 12 tahun sebaiknya diberikan vaksin influenza yang terpisah/subunit. Orang yang menderita penyakit saluran napas yang ringan dapat diberikan imunisasi vaksin influenza. Orang yang alergi terhadap protein telor dapat diimunisasi tetapi harus diberikan secara hati-hati.