Anda di halaman 1dari 4

DAYA KECAMBAH (VIABILITAS) BENIH berdasarkan ruang lingkup kegiatan berdasar pedoman yang berlaku secara internasional (mengacu

ISTA: international seed testing assosiation), sebagai berikut: 1. Menentukan metode uji perkecambahan 2. Menyiapkan media perkecambahan 3. Menyiapkan benih 4. Menyemai/ mengecambahkan benih 5. Mengevaluasi kecambah 6. Melaporkan dan menyimpan hasil uji Tujuan dari melakukan uji daya kecambah benih adalah untuk mengkaji dan menetapkan nilai setipa contoh benih yang perlu diuji selaras dengan faktor kualitas benih (Kartasapoetra ,2003). Parameter yang digunakan dapat berupa presentase keccambah normal berdasarkan penilaian terhadap struktur tumbuh embrio yang diminati secara langsung. Atau secara tidak langsung dengan hanya melihat gejala metabolisme benih yang berkalitan dengan khidupan benih. Presentase perkecambahan adalah presentase kecambah normal yang dapat dihasilkan oleh benih murni pada kondisi yang menguntungkan dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan. Uji perkecambahan baku Uji Perkecambahan Baku atau SGT (Standard Germinator Test) merupakan pengujian yang paling banyak digunakan oleh pihak yang terlibat dalam kegiatan pengujian benih, dengan metode yang yang sangat sederhana namun dapat memberikan hasil yang yang optimal. Oleh karena itu Uji Perkecambahan Baku ini merupakan salah satu pengujian benih yang dilakukan kegiatan pembenihan di seluruh dunia. Metode palksanaan Uji Perkecambahan Baku ialah sebagai berikut: Kertas stensil dibasahi sebanyak 2 lembar untuk 50 buah benih yang akan diuji. Penyusunan benih dalam 5 baris masing-masing 10 biji. Kemudian basahkan lagi 1 lembar kertas stensil, gunakan sebagai penutup. Lipat kedua sisi kertas kira-kira 1,5 cm kearah dalam, kemudian gulung kertas menjadi 4 bagian. Dilakukan masing-masing 2 atau 4 ulangan. Letakkan digerminator secara mendatar. Lakukan pengamatan pada hari ke 3, 5, 7. 2.4 KEKUATAN KECAMBAH (VIGOR) BENIH. Vigor benih adalah sifat benih yang merupakan kemampuan benih tersebut untuk berkecambah dengan seragam, cepat dan menghasilkan bibi normal dari berbagai kondisi lingkungan dilapangan. Sebagai hasil penelitian yang dilakukan dengan seksama, dapat diketahui bahwa terddapat hubungan yang demikian erat antara kecepatan perkecambahannya benih yang vigor. Ternyata dari adanya kenyataan bahwa benih yang kecepatan berkecambahnya tinggi, tanaman yang dihasilkannya akan lebih tahan terhadap keadaan atau lingkungan yang kurang menguntungkan (Kartasapoetra, 2003). Dengan demikian jelas bahwa keccepatan berkecambahnya benih merupakan aspekk penting dari vigor tanamannya, serta memberi indeks vigor dari setiap kelompok benih. Karena itu perlu pula melakukan pengujian tentang kakuatan kecambah benih tersebut. Pada hakikatnya vigor benih harus relevan dengan tingkat produksi yang berarti bahwa dari benih yang memiliki vigor tinggi akan dapat dicapai tingkat produksi yang tinggi. Pada pengujian, untuk memudahkan penilaian, maka kelompok benih yang dinilai terlebih dahulu digolongkan atas kecambah normal, abnormal dan mati. Kemudian dari kecambah normal digolongkan lagi atas kecambah normal yang kuat tumbuhnya (vigor) dan kecambah normal yang kurang kuat tumbuhnya (less vigor). Penilaian dilakukan dengan membandingkan kecambah satu dengan kecambah lainya dari satu substrat (S. Sadjad Dkk Dalam Soetopo) Index Value Test Index value test merupakan suuatu cara pengujian untuk mengetahui kekuatan suatu

benih, jika benih semakin banyak berkecambah pada waktu yang lebih singkat maka semakin besar vigor benih tersebut. Metode pelaksanaan pengujian dengan IVT sama dengan pengujian SGT hanya saja pengamatan dilakukan setiap hari sampai hari ke 7 dengan perhitungan pada hari ketiga atau hari ke empat sebagain penilaian atau perhitungan pertama. Dan apabila menurut penilaian atau perhitungan pertama tersebut ternyata benih yang berkecambah normal adalah sejumlah lebih dari 75% dari keseluruhan benih yang disemikan dalam rangka pengujian, kecepatan berkecambahnya benih tersebut adalah tinggi (Kartasapoetra, 2003). Uji Laju Pertumbuhan Kecambah Uji laju pertumbuhan benih ini mengacu pada pertumbuhan radicle dan plumule, jika kecambah dengan pertumbuhan radicle dan plumule lebih panjang serta berat kering kecambah tinggi, maka benih dianggap mempunyai kekuatan kecambah yang tinggi. Metode uji laju petumbuhan kecambah: 2 lembar kertas stensil dilipat 2 bagian namun tidak sama. Setelah dilipat kemudian kertas tersebut dibasahi, dan tempatkan 15 buah benih yang akan di uji. Susun biji dengan posisi radicle mengarah ke 2/3 lebar. Kemudin biji di tutup dengan kertas stensil yang telah dibasahi pula. Lipat pinggir kertas sekitar 1,5 cm kearah dalam kemudian gulung kertas tersebut. Letakkan kertas tersebut kedalam kaleng kemudian masukkan kedalam germinator. Amati pada hari ke 7, hitung kecambah normal dan abnormal. Ukur panjang radicle dan plumule pada benih normal. Setelah itu potong bagian radicle dan plumule menggunakan cutter atau silet. Masukan kedalam amplop radicle dan plumule tadi, kemudian letakkan kedalam oven dengan suhu 700C selama 24 jam. Timbang berat keringhnya.

C. Tinjauan Pustaka Biji merupakan cara yang paling umum untuk membiakkan tanaman,menyerbuk sendiri, dan juga digunakan oleh tanaman menyerbuk silang secara meluas. Dalam istilah agronomi, biji yang digunakan untuk tujuan pembiakan disebut benih, untuk membedakan dengan segala biji yang mungkin merupakan produk agronomi yang akan dikonsumsi sebagai pangan atau bahan industri (Harjadi, 1979). Salah satu faktor penting yang menentukan tingkat hasil tanaman adalah benih. Benih bersama dengan sarana produksi lainnya seperti pupuk, air, cahaya, iklim menentukan tingkat hasil tanaman. Meskipun tersedia sarana produksi lain yang cukup, tetapi bila digunakan benih bermutu rendah maka hasilnya akan rendah. Benih bermutu mencakup mutu genetis, yaitu penampilan benih murni dari varietas tertentu yang menunjukkan identitas genetis dari tanaman induknya, mutu fisiologis yaitu kemampuan daya hidup (viabilitas) benih yang mencakup daya kecambah dan kekuatan tumbuh benih dan mutu fisik benih yaitu penampilan benih secara prima dilihat secara fisik seperti ukuran homogen, bernas, bersih dari campuran, bebas hama dan penyakit, dan kemasan menarik (Anonim, 2010).

Pengujian benih ditujukan untuk mengetahui mutu atau kualitas benih. Informasi tersebut tentunya akan sangat bermanfaat bagi produsen, penjual maupun konsumen benih. Karena mereka bisa memperoleh keterangan yang dapat dipercaya tentang mutu atau kualitas dari suatu benih (Sutopo, 1993). Uji kadar air dilakukan untuk mengetahui kandungan air pada benih. Kadar air benih ini mempengaruhi lama daya simpan benih. Kadar air benih yang aman berkisar antara 7% - 8%. Pada kadar air tersebut benih dapat tahan disimpan hingga 1,5 tahun pada kondisi benih terhindar dari panas dan cahaya matahari langsung (Anonim, 2009). Adanya banyak air dalam benih, maka pernafasan akan dipercepat sehingga benih akan banyak kehilangan energi. Pernafasan yang hebat disebabkan oleh air yang ada dalam biji dan temperatur lingkungan. Penyimpanan benih yang baik harus memperhatikan dua hal, yaitu sifat asli benih dan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi benih. Antar kedua hal tersebut terdapat hubungan erat yang dapat mempunyai pengaruh yang menguntungkan atau merugikan terhadap viabilitas benih (Anonim, 2011).

Pada hakekatnya vigor benih harus relevan dengan tingkat produksi, artinya dari benih yang bervigor tinggi akan dapat dicapai tingkat produksi yang tinggi. Vigor benih yang tinggi dicirikan antara lain tahan disimpan lama, tahan terhadap serangan hama penyakit, cepat dan merata tumbuhnya serta mampu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi baik dalam keadaan lingkungan tumbuh yang sub optimal. Pada umumnya uji vigor benih hanya sampai pada tahapan bibit. Karena terlalu sulit dan mahal untuk mengamati seluruh lingkaran hidup tanaman. Oleh karena itu digunakanlah kaidah korelasi misal dengan mengukur kecepatan berkecambah sebagai parameter vigor, karena diketahui ada korelasi antara kecepatan berkecambah dengan tinggi rendahnya produksi tanaman. Rendahnya vigor pada benih dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain faktor genetis, fisiologis, morfologis, sitologis, mekanis dan mikrobia (Sutopo, 1984). Komposisi kimia benih mempengaruhi kadar air keseimbangan benih dengan lingkungannya. Jumlah kelembaban benih pada saat keseimbangan berkaitan langsung dengan kimia benih (Sadjad, 1993). Penentuan kadar air benih dan suatu kelompok benih sangat penting untuk dilakukan karena laju kemunduran suatu benih dipengaruhi pula oleh kadar airnya (Sutopo, 1984). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian kadar air benih ini adalah contoh kerja yang digunakan merupakan benih yang diambil dan ditempatkan dalam wadah yang kedap udara, karena itu penetapan kadar air, jika contoh kerja yang digunakan telah terkontaminasi udara luar maka kemungkinan besar kadar air benih yang diuji bukan merupakan kadar air benih yang sebenarnya karena telah mengalami perubahan akibat kontaminasi udara dari lingkungan (Anonymous, 2011). Umumnya pada tanaman legume dan padi-padian, ovule atau tepatnya embryosac yang sedang mengalami proses fertilisasi mempunyai kadar air kira-kira 80%. Dalam berapa hari kemudian kadar air ini meningkat sampai kira-kira 85%, dan pelan-pelan menurun secara teratur (Kamil, 1986).

Benih merupakan material yang higroskopis, memiliki susunan yang kompleks dan heterogen. Air merupakan bagian yang fundamental terdapat demikian rupa dalam benih, artinya terdapat di setiap bagian benih. Kadar air benih karena keadaan yang higroskopis itu tergantung pada lembab relative dan temperature. Apabila tekanan uap dalam benih ternyata lebih besar daripada tekanan udara disekitarnya, maka uap air akan menerobos dan keluar dari dalam benih, dan begitu pula sebaliknya. Apabila tekanan uap di dalam benih sama kuatnya dengan tekanan uap di luar benih, maka dalam keadaan demikian tidak akan terjadi pergerakan. Kondisi ini dikatakan kadar air yang seimbang ( Katrasapoetra, 1986).

Di dalam batas tertentu, makin rendah kadar air benih makin lama daya hidup benih tersebut. Kadar air optimum dalam penyimpanan bagi sebagian besar benih adalah antara 6% 8%. Kadar air yang terlalu tinggi dapat menyebabkan naiknya aktivitas pernafasan yang dapat berakibat terkuras habisnya bahan cadangan makanan dalam benih. Selain itu merangsang perkembangan cendawan patogen di dalam tempat penyimpanan. Tetapi perlu diingat bahwa kadar air yang terlalu rendah akan menyebabkan kerusakan pada embrio. Air yang terdapat dalam benih dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu air bebas dan air yang terikat. Pada perhitungan kadar air benih, yang dihitung persentasenya hanyalah air bebas, karena air inilah yang dapat bergerak bebas di dalam benih dan mudah untuk diuapkan (Anonim, 2009). Kadar air adalah hilangnya berat ketika benih dikeringkan sesuai dengan teknik atau metode tertentu. Metode pengukuran kadar air yang diterapkan dirancang untuk mengurangi oksidasi, dekomposisi atau hilangnya zat yang mudah menguap bersamaan dengan pengurangan kelembaban sebanyak mungkin (Kartasapoetra, 2006). Metode pengeringan oven telah mempertimbangkan bahwa hanya air saja yang diuapkan selama pengeringan. Namun, bagaimanapun juga senyawa yang mudah menguap mungkin ikut menguap yang akan menyebabkan hasil pengukuran over estimation. Dengan demikian, kadar air yang ditentukan dengan metode oven mungkin saja tidak merepresentasikan kadar air benih yang sesungguhnya (Poulsen, 1994). Kadar air benih selalu berubah tergantung kadar air lingkungannya, karena benih memiliki sifat selalu berusaha mencapai kondisi yang equilibrium dengan keadaan sekitarnya. Kadar air benih yang selalu berubah sesuai dengan keadaan sekitarnya itu sangat membahayakan kondisi benih karena berkaitan dengan laju deteriorasi benih yang pada akhirnya akan berpengaruh pada persentase viabilitas benih. Untuk mengatasi masalah perubahan kadar air benih tersebut, setelah benih diproses dengan kadar air tertentu maka benih tersebut harus dikemas dengan bahan pengemas yang dapat mempertahankan kadar airnya untuk jangka waktu tertentu. Benih tersebut harus disimpan di ruangan dengan persentase RH tertentu, agar kadar airnya tetap stabil. Penentuan kadar air benih dari suatu kelompok benih sangat penting untuk dilakukan. Karena laju kemunduran suatu benih dipengaruhi pula oleh kadar airnya (Sutopo, L. 1985)