Anda di halaman 1dari 10

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU MENGENAI MANDI, CUCI DAN KAKUS DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PADA

REMAJA PUTRI YANG TINGGAL DI SEKITAR SUNGAI BEDADUNG DESA GUMELAR KECAMATAN BALUNG-JEMBER Aristha Dwi Wirapraja*, Lilik Zuhriyah**, Rita Rosita*** Abstrak Keputihan merupakan masalah kesehatan reproduksi yang hampir 75% perempuan di semua usia mengalaminya, baik itu keputihan fisiologis dan patologis. Remaja termasuk kelompok yang rentan terhadap masalah keputihan. Hal ini dikarenakan pada fase ini remaja mengalami peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa sehingga pengetahuannya sangat terbatas mengenai keputihan, terutama pada remaja putri yang mempunyai aktivitas Mandi, Cuci dan Kakus (MCK) di sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku mengenai kegiatan MCK terhadap kejadian keputihan pada remaja putri yang tinggal di sekitar sungai Bedadung. Jenis penelitian ini adalah Observasional Analitik dengan pendekatan Cross Sectional pada remaja putri berusia 10-21 tahun. Data penelitian diperoleh melalui kuesioner dan wawancara kemudian di analisa dengan uji Regresi Logistik. Dari 50 sampel didapatkan hasil remaja dengan pengetahuan baik 74%, sikap baik sebanyak 54%, perilaku buruk sebanyak 58% dan kejadian keputihan mencapai 70%. Hasil uji statistik membuktikan ada hubungan antara perilaku (p=0,001 ORadj=7,887; 95% C.I= 1,671-37,224) dan sikap (p=0,006 ORadj=6,049; 95% C.I= 1,050-34,856) dengan kejadian keputihan. Dapat disimpulkan bahwa sikap dan perilaku remaja mempunyai kontribusi terhadap kejadian keputihan, sehingga remaja putri hendaknya memiliki sikap dan perilaku yang baik mengenai higienitas organ reproduksi untuk menghindari kejadian keputihan. Kata kunci: Pengetahuan, Sikap, Perilaku, Keputihan Abstract Fluor albus is a reproductive health problem that almost 75% of women at all ages experienced, both physiological and pathological. Female adolescent is a group that had susceptible to fluor albus problems. This is because at this stage adolescent experience a transition from childhood to adulthood, so they have limited knowledge about fluor albus, especially in female adolescent who have taking a bath, washing, and urinating/defecating (Mandi, Cuci, Kakus/MCK) activity particularly on the river. The purpose of the research was to know the contribution of knowledge, attitude and behavior regarding MCK activities to the incidence of fluor albus among female adolescent living near at Bedadung river. The study was analityc observational with cross sectional approach in female adolescent aged 10-21 years. Data were obtained through questionnaires and interviews then analyzed with logistic regression test. Of the 50 samples obtained, 74% respondents have high knowledge, 54% had positif attitude, 58% had bad behavior and 70% experience fluor albus. The result of test proved that there is contribution from behavior (p = 0.001 ORadj=7,887; 95% C.I= 1,671-37,224) and attitude (p = 0.006 ORadj=6,049; 95% C.I= 1,050-34,856) to the incidence of fluor albus. It was concluded that attitude and behavior of adolescents have a contribution with the incidence of fluor albus, so that female adolescent should have good attitude and good behavior about hygiene of the reproductive system to avoid the occurrence of fluor albus. Keywords: Knowledge, Attitude, Behavior, Fluor Albus

* Mahasiswa Program Studi S1 Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya


** Lab Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya *** Lab Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

PENDAHULUAN Fluor Albus atau keputihan merupakan cairan yang keluar dari vagina selain darah haid. Keputihan merupakan salah satu masalah yang sejak lama menjadi persoalan serta tidak mengenal batasan usia, berapa pun usia seorang wanita, bisa terkena keputihan. 1 Data penelitian tentang kesehatan reproduksi wanita menunjukkan 75% wanita di dunia menderita keputihan paling tidak sekali umur hidup dan 45% di antaranya bisa mengalaminya sebanyak dua kali atau lebih. Sedangkan sebanyak 15% perempuan pernah mengalami keputihan patologis dikarenakan infeksi, terutama banyak disebabkan oleh jamur kandida. 1,2 Khusus pada masa remaja, perempuan harus mengetahui tentang keputihan dan penyebabnya secara dini, karena menurut WHO pada masa peralihan anak-anak ke masa dewasa terdapat perubahan-perubahan fisiologis wanita khususnya, seperti pada daerah organ reproduksi yang dapat menjadi masalah pada remaja jika tidak mengetahui permasalahan seputar organ reproduksinya dan hal tersebut merupakan pengalaman yang baru bagi remaja wanita. Menurut penelitian Depkes (2003) di daerah Jakarta, kejadian keputihan banyak disebabkan oleh bakteri kandidiosis vulvovaginitis dan ini juga dikarenakan banyak perempuan yang tidak mengetahui cara membersihkan daerah vaginanya. 3 Masalah kesehatan reproduksi menjadi perhatian bersama karena dampaknya luas menyangkut berbagai aspek kehidupan dan menjadi parameter kemampuan negara dalam menyelenggarakan pelayaran kesehatan terhadap masyarakat. Apalagi menurut survei yang dilakukan FKMUI, hanya 45,1% remaja Indonesia mempunyai pengetahuan yang baik tentang organ reproduksi, pubertas, menstruasi dan kebersihan diri. 4,5 Mengenai hal tersebut, masalah kesehatan reproduksi khususnya keputihan rentan terjadi pada remaja yang harus beradaptasi dengan perubahan fisik pada dirinya. Lingkungan sekitar tempat tinggal menambah kerentanan remaja mengalami keputihan, mengingat hampir semua perempuan usia reproduksi mengalaminya. Pemukiman yang berada di pinggiran sungai menjadi salah satu contoh dimana lingkungan juga menjadi hal yang sangat vital dalam menjaga kesehatan reproduksi selain perilaku individu masingmasing. Sungai Bedadung merupakan sungai yang melintasi beberapa desa di kabupaten Jember, salah

satunya desa Balung. Letaknya yang bersebelahan dengan jalan raya memudahkan untuk diakses oleh pengguna jalan raya, dimana banyak dijumpai sepanjang aliran sungai warganya melakukan aktivitasnya di sungai, seperti mandi, mencuci pakaian, membuang hajat, bahkan ada yang membuang sampah. Menurut warga kebiasaan ini sudah lama dilakukan mulai dari nenek moyang mereka, walaupun sebenarnya warga tidak mengalami kesulitan dalam mendapatkan kebutuhan air bersih. Perilaku inilah yang diwariskan kepada generasi muda, tak terkecuali pada remaja putri. Melihat kenyataan itulah, penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku mengenai kegiatan MCK dengan kejadian keputihan pada remaja putri yang tinggal di sekitar sungai Bedadung desa Gumelar Balung-Jember. Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi dan acuan untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Serta dapat digunakan membantu petugas kesehatan atau instansi terkait untuk mengambil inisiatif atau kebijakan mengenai fenomena MCK di sungai. METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang di-gunakan adalah penelitian observasional analitik dengan pengambilan data menggunakan pendekatan studi cross-sectional. Populasi dan Sampel Populasi adalah remaja putri yang tinggal di sekitar pinggiran sungai Bedadung di desa Gumelar kecamatan Balung-Jember. Sampel diambil menggunakan cara purposive sampling dimana sampel yang memenuhi kriteria inklusi yang ditentukan peneliti dimasukkan menjadi responden penelitian selama kurun waktu Desember 2012 Februari 2013. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria inklusi; remaja usia 10-21 tahun, belum menikah, tinggal di sekitar sungai Bedadung, melakukan kegiatan MCK di sungai. Kriteria eksklusi; belum pubertas, responden menolak berpartisipasi. Variabel Penelitian Variabel Independen; Variabel Independen yang digunakan adalah tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku. Variabel Dependen; Variabel dependen pada penelitian ini adalah kejadian keputihan.

Metode Pengumpulan Data Responden diminta untuk mengisi jawaban atas pertanyaan yang ada pada kuesioner. Informasi tentang pengetahuan dan sikap responden bisa langsung dijawab dengan kuesioner yang telah diberikan, sedangkan informasi perilaku dan kejadian keputihan dilakukan melalui wawancara untuk memperjelas maksud pertanyaan yang diberikan peneliti dan menjaga privasi. Analisis Data Analisis data yang digunakan; 1) analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Keseluruhan data yang ada dalam kuesioner diolah dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. 2) analisis bivariat untuk melihat kemungkinan hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Dalam penelitian ini menggunakan analisis uji regresi logistic sederhana untuk mengetahui pengaruh signifikan antara variabel independen dengan dependen yang didasarkan atas p 0,05. 3) analisis multivariat yang digunakan adalah uji statistik regresi logistic untuk mengetahui hubungan lebih dari satu variabel independen dengan dependen. sehingga akan diperoleh variabel

independen manakah yang berpengaruh besar terhadap variabel dependen. HASIL PENELITIAN Pada penelitian ini, jumlah responden adalah 50 orang, dengan karakteristik penelitian sebagai berikut; berdasarkan usia remaja putri yang menjadi responden pada penelitian ini didapatkan remaja dengan usia 14-17 tahun (remaja awal) 52%, usia 10-13 tahun (pra remaja) 42% dan usia 18-21 tahun (remaja lanjut) sebesar 6%. Berdasarkan pendidikan terakhir yang ditempuh, remaja dengan pendidikan terakhir SMP merupakan yang terbesar dengan presentase 50%, kemudian berturut-turut pendidikan terakhir SMA sebesar 32% dan SD sebesar 18%. Sedangkan berdasarkan lama mendapatkan menarche yang berarti rentang waktu responden mendapatkan menarche sampai penelitian ini dilakukan, remaja putri dengan lama mendapatkan menarche 1-2 tahun merupakan yang terbanyak, kemudian disusul remaja dengan lama mendapatkan menarche 3-4 tahun sebanyak 36% dan remaja dengan lama mendapatkan menarche 5-6 tahun sebanyak 8%. Dengan usia responden saat mendapatkan menarche rata-rata pada usia 12 tahun ( = 12,12; SD=0,895; min-max=10-14).(Tabel 1)

Usia

Pendidikan Lama Mendapatkan Menarche

Tabel 1 Karakteristik Responden N 10-13 tahun 21 (Pra remaja) 14-17 tahun 26 (Remaja awal) 18-21 tahun 3 (Remaja lanjut) SD 9 SMP 25 SMA 16 1-2 tahun 29 3-4 tahun 17 5-6 tahun 4

% 42 52 6 18 50 32 58 34 8

Variabel independen pada penelitian ini adalah pengetahuan, sikap dan perilaku, sedangkan variabel dependen pada penelitian ini adalah keputihan dengan hasil penelitian didapatkan

sebagai berikut; berdasarkan tingkat pengetahuan responden 74% mempunyai pengetahuan baik dan 26% responden mempunyai pengetahuan kategori buruk. (Tabel 6)

Tabel 2 Gambaran Tingkat Pengetahuan Responden Berdasarkan Pokok Pertanyaan Kuesioner No. Pokok Pertanyaan Benar Salah Total 1. n % n % n % 1. Ciri keputihan patologis 32 64 18 36 50 100 2. Syarat air bersih 22 44 28 56 50 100 3. Ciri keputihan fisiologis 45 90 5 10 50 100 4. Tanda infeksi kelamin 20 40 30 60 50 100 5. Cara menjaga kebersihan organ 43 86 7 14 50 100 intim saat menstruasi 6. Cara membasuh organ intim 14 28 36 72 50 100 7. Penyebab keputihan patologis 33 66 17 34 50 100 8. Pencegahan keputihan patologis 13 26 37 74 50 100 9. Penyabab keputihan fisiologis 42 84 8 16 50 100

Berdasarkan tingkat sikap mengenai kejadian keputihan, remaja putri yang mempunyaisikap baik sebanyak 54% dan remaja

putri yang mempunyai sikap buruk sebanyak 46%. (Tabel 6)

Tabel 3 Gambaran Tingkat Sikap Responden Berdasarkan Pokok Pertanyaan Kuesioner Setuju Tidak Setuju Total No. Pokok Pertanyaan n % n % N % 1. Melakukan MCK di sungai 21 42 29 58 50 100 walaupun fasilitas MCK di rumah ada. 2. Masyarakat sulit mengubah 24 48 26 52 50 100 kebiasaan MCK di sungai. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Saya mengganti pembalut kalau pembalut sudah penuh darah. Sebaiknya membasuh organ intim yang benar adalah mengusap alat kelamin dari depan ke belakang. Menggunakan bedak tabur untuk menjaga kebersihan organ intim. Mengganti celana dalam sebaiknya kalau basah saja. Keputihan patologis bisa saja akibat sering MCK di sungai. Mencuci baju dengan berbasahbasahan merupakan kebiasaan yang saya lakukan di sungai. 36 40 23 6 20 28 72 80 46 12 40 56 14 10 27 44 30 22 28 20 54 88 60 44 50 50 50 50 50 50 100 100 100 100 100 100

Sementara itu untuk variabel perilaku mengenai kejadian keputihan, didapatkan remaja putri yang mempunyai perilaku kategori baik 48% dan

remaja putri yang mempunyai perilaku kategori buruk sebanyak 52%. (Tabel 6)

Tabel 4 Gambaran Tingkat Perilaku Responden Berdasarkan Pokok Pertanyaan Kuesioner Ya Tidak Total No. Pokok Pertanyaan n % n % n % 1. MCK di sungai karena ajakan 25 50 25 50 50 100 teman. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Keingintahuan mengenai keputihan lebih jauh. MCK 3 kali seminggu. Membasuh organ intim dari depan ke belakang. Mengganti celana dalam hanya 1 kali sehari. Membilas dengan sabun setiap kali selesai buang air kecil. Mencuci pakaian dengan langsung turun ke sungai. Menggunakan pentiliner. 39 19 28 18 22 24 15 78 38 56 36 44 48 30 11 31 22 32 28 26 35 22 62 44 64 56 52 70 50 50 50 50 50 50 50 100 100 100 100 100 100 100

Variabel dependen pada penelitian ini adalah keputihan, dengan hasil penelitian yang didapatkan remaja putri yang mengalami keputihan

sebanyak 70% dan remaja yang tidak mengalami keputihan sebanyak 30% (Tabel 6).

Tabel 5 Gambaran Keluhan Kejadian Keputihan yang Dialami Responden No. 1. Warna Lendir Jumlah Keluhan Keputihan a. Jernih b. Putih keruh c. Kuning kehijau-hijauan a. Berupa bercak-bercak b. Sedang c. Banyak a. Tidak ada b. Gatal-gatal c. Pedih atau nyeri a. Ya b. Tidak a. Cair sedikit lembek seperti jel b. Kental Total Ya N 26 6 3 14 17 4 28 6 1 8 27 28 7 35 % 74,3 17,1 8,6 40 48,6 11,4 80 17,1 2,9 22,9 77,1 80 20 100

2.

3.

Rasa sakit

4. 5.

Berbau amis Konsistensi lender

Berdasarkan ciri-ciri diatas yang banyak dialami responden dapat disimpulkan bahwa rata-rata

remaja putri mengalami kejadian keputihan fisiologis 71,1% dan hanya sebagian kecil yakni 22,9% yang mengalami keputihan patologis.

Tabel 6 Variabel Penelitian Baik Buruk Total Baik Buruk Total Baik Buruk Total Ya Tidak Total N 37 13 50 27 23 50 21 29 50 35 15 50 % 74 26 100 54 46 100 42 58 100 70 30 50

Variabel Independen

Pengetahuan

Sikap

Perilaku Variabel Dependen Keputihan

Analisa data dilakukan untuk melihat pengaruh variabel independen dengan kejadian keputihan dilakukan dengan uji regresi logistik. Uji ini dilakukan karena pada variabel dependen atau tergantung mempunyai skala nominal yaitu keputihan dan tidak keputihan. Sehingga dapat diketahui variabel independen (Pengetahuan, sikap dan perilaku) manakah yang paling berpengaruh terhadap kejadian terjadinya keputihan. Selain itu uji regresi logistik juga digunakan untuk membuktikan kebenaran dari beberapa hipotesis dari penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis uji regresi logistic sederhana menunjukkan variabel yang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kejadian

keputihan adalah sikap mempunyai tingkat signifikan 0,006 (p < 0,05) yang berarti ada pengaruh sikap terhadap kejadian keputihan HA diterima H0 ditolak dan variabel perilaku mempunyai tingkat signifikansi 0,001 (p < 0,05) yang berarti ada pengaruh perilaku terhadap kejadian keputihan HA diterima H0 ditolak. Kekuatan hubungan dari yang terbesar ke yang terkecil adalah perilaku (ORadj=7,887; 95% C.I= 1,671-37,224) artinya perilaku buruk memberikan peluang 7,887 kali menyebabkan kejadian keputihan. Kemudian variabel sikap (ORadj=6,049; 95% C.I= 1,050-34,856) artinya sikap buruk memberikan peluang 6,049 kali menyebabkan kejadian keputihan.(Tabel 7)

Tabel 7 Hasil Analisis Regresi Logistik Ganda B Step 1 Pengetahuan Sikap Perilaku Sikap Perilaku 0,482 1,768 2,006 1,800 2,065 Sig. 0,630 0,049 0,012 0,044 0,009 EXP (B) 1,619 5,859 7,431 6,049 7,887 95% C.I.for EXP(B) Lower 0,228 1,010 1,552 1,050 1,671 Upper 11,524 33,989 35,578 34,856 37,224

Step 2

PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian bahwa responden remaja putri di desa Gumelar banyak yang berusia antara 14 -17 tahun (remaja awal) yaitu sebesar 52%. Begitu juga pada hasil penelitian Ni Wayan Yuli Antari pada tahun 2008, didapatkan usia responden penelitian terbanyak pada usia 14 17 tahun (remaja awal).6 Usia 14 17 tahun merupakan pertengahan batas usia remaja, dimana menurut Monks pada usia tersebut remaja mengalami kondisi kebingungan karena masih ragu harus memilih sikap dan perilaku yang mana. Oleh karena itu remaja cenderung memilih kondisi atau situasi dimana banyak orang melakukan kegiatan tersebut, salah satunya kegiatan MCK di sungai yang dilakukan penduduk desa Gumelar.7 Dari segi pendidikan sekarang yang ditempuh didapatkan bahwa sebagian besar remaja putri yang melakukan aktivitas MCK di sungai Bedadung adalah pendidikan tingkat SMP yaitu sebesar 50%. Pendidikan yang ditempuh sampel menunjukkan pada masa pendidikan di tingkat SMP masih belum cukup memberikan pengetahuan mengenai menjaga kesehatan sistem reproduksi. Beberapa responden dari hasil wawancara mengatakan bahwa pendidikan konseling mengenai seks dan masalah kesehatan sistem reproduksi baru mereka dapatkan di bangku SMA, hal ini dikarenakan maraknya kasus seks diluar nikah yang menjerat siswa-siswi SMA akhir-akhir ini. Berdasarkan lama mendapatkan menarche yang lalu, persentase terbesar responden mendapatkan lama menarche adalah 1 2 tahun yaitu 58%. Lama mendapatkan menarche yang lalu berhubungan dengan pengalaman mengenai perubahan masa yang mereka harus lalui yaitu dari masa kanak-kanak ke remaja. Pengetahuan, sikap dan perilaku yang terbentuk pada diri seseorang tidak terlepas dari pengalaman yang mereka dapatkan, semakin banyak pengalaman yang didapatkan semakin banyak pengetahuannya, sikap positif dan perilaku yang positif. Tidak adanya pengalaman sama sekali dengan suatu objek psikologis cenderung akan membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut.8 Responden yang mempunyai pengetahuan dengan kategori baik sebanyak 74% dan buruk 26%. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kurniawan (2008) terhadap remaja putri di sekolah menengah atas di

Purbalingga, dimana responden dengan tingkat pengetahuan mengenai perawatan organ reproduksi dengan kategori buruk lebih sedikit, yaitu sebesar 18% daripada responden dengan tingkat pengetahuan mengenai perawatan organ reproduksi kategori buruk (82%).9 Perbedaan yang mencolok antara remaja putri yang berpengatahuan baik dan buruk tentang perawatan organ reproduksi di berbagai jenjang pendidikan menunjukkan ketidakmerataan penyebaran pendidikan kesehatan reproduksi wanita pada kelompok remaja putri di Indonesia. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Sukarti (2005) terhadap remaja putri di Grobogan, Jawa Tengah yang mengungkapkan bahwa hampir 95% dari remaja di berbagai jenjang pendidikan mendukung untuk diadakannya pendidikan kesehatan reproduksi.10 Semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin mudah menerima informasi, sehingga makin banyak pengetahuan yang dimiliki untuk meningkatkan kesehatan. Namun demikian, menurut Kurniawan (2008) tingginya pengetahuan tentang perawatan organ reproduksi wanita tidak menjamin mempunyai perilaku yang baik untuk meningkatkan status kesehatannya.9,11 Dari segi variabel sikap responden terhadap kejadian keputihan, sikap dengan intrepretasi baik dan buruk masing-masing 54% dan 46%. Hasil penelitian di atas sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Marista (2012) tentang sikap remaja terhadap personal hygiene orga reproduksi di SMK Labor Pekanbaru didapatkan hasil mayoritas responden bersikap positif terhadap personal hygiene yaitu 53,1%.11 Beberapa faktor pengaruh pribadi, lembaga pendidikan dan agama serta media massa tidaklah berjalan sendiri-sendiri, tapi dipengaruhi juga oleh kesiapan emosi dan adanya tekanan atau pengaruh dari orang-orang yang dianggap penting disekitarnya maka akan dapat memberikan pengaruh terhadap pembentukan sikap seseorang.8 Contohnya, seseorang mempunyai pendidikan yang tinggi dan mengetahui dampak buruknya MCK di sungai tetapi karena orang disekitarnya melakukan kegiatan MCK di sungai, selama tidak memberikan dampak yang buruk bagi dirinya, orang tersebut tetap melakukan kegiatan MCK.

Perilaku responden yang tergolong baik adalah 42% dan yang tergolong perilaku buruk adalah 58%. Hasil penelitian perilaku di atas sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Murni (2010) tentang hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap dan tindakan remaja putri dalam mencegah keputihan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tindakan responden dalam mencegah keputihan adalah buruk yaitu 44 orang (58,7%).13 Penelitian yang dilakukan Qiptiyah (2010) tentang gambaran faktor-faktor yang melatarbelakangi kejadian keputihan di SMP Tambakboyo Tuban juga memiliki hasil yang sesuai dengan penelitian diatas yaitu didapatkan hasil bahwa sebagian remaja putri tidak melakukan personel hygiene dengan benar yaitu 59 orang (57,28%).12 Variabel perilaku dan sikap mempunyai presentase yang hampir sama kemungkinan dikarenakan kedua variabel ini mempunyai keterkaitan yang wajar, seperti yang dikemukakan Bloom dalam bahwa perilaku dibagi dalam tiga ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Sikap disini sebagai ranah afektif yang seterusnya akan menimbulkan respon lebih jauh lagi yaitu berupa tindakan terhadap objek.13 Dari pengamatan peneliti dan wawancara tidak terstruktur, perilaku buruk dari hasil penelitian lebih dikarenakan faktor lingkungan yang mendukung, seperti melimpahnya air dari sungai Bedadung dan pengaruh orang disekitar. Melimpahnya air dari sungai ini dimanfaatkan remaja putri untuk sekedar bersosialisasi dengan temanteman lainnya, terutama pada hari minggu terlihat sejumlah ibu-ibu bahkan remaja putri melakukan aktivitasnya MCK, baik itu mencuci baju atau mandi di sungai. Pengaruh orang disekitar yang dimaksud adalah responden mengaku melakukan MCK di sungai dikarenakan ajakan dari teman-teman sebaya dan orang tua walupun sebenarnya sebagian responden mengaku mempunyai kamar mandi atau WC di rumah, namun sebagian besar responden juga mengaku jarang melakukan MCK di sungai yaitu 1 kali dalam seminggu, itupun hanya dilakukan pada saat hari libur sekolah atau libur nasional. Hal tersebut membuktikan bahwa lingkungan turut berpengaruh terhadap perkembangan pembawaan dan kehidupan manusia, dalam pengertian lingkungan sangat berpengaruh pada diri individu.14

Remaja putri yang mengalami keputihan lebih banyak daripada yang tidak mengalami keputihan yaitu sebesar 70%. Keputihan yang dimaksud ini meliputi keputihan normal dan abnormal yang pernah dialami responden dalam waktu 6 bulan. Responden banyak mengalami keputihan dikarenakan keputihan merupakan hal fisiologis dialami pada semua perempuan seiring dengan siklus menstruasinya. Keputihan yang dialami remaja putri pada penelitian ini sebagian besar merupakan ciri keputihan fisiologis, hal ini tentu tidak sesuai dengan pernyataan bahwa air yang tercemar oleh organisme patogen seperti bakteri atau virus dapat secara langsung mempengaruhi kesehatan tubuh manusia.16 Sungai Bedadung sungai yang airnya tercemar, sehingga jelas tidak layak digunakan untuk kegiatan MCK. Tingginya angka kejadian keputihan fisiologis daripada patologis, bisa jadi dikarenakan sebagiani besar responden melakukan kegiatan MCK di sungai adalah jarang (< 3 kali dalam seminggu) sebesar 64%. Budaya atau kebiasaan masyarakat mempengaruhi dosis pemajanan terhadap potensi bahaya penyakit, misalnya perilaku penggunaan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari untuk mandi dan cuci. Semakin sering masyarakat menggunakan air sungai maka semakin tinggi pula dosis pemajanan zat-zat kimia dan mikroba yang mencemari air sungai terhadap kejadian keputihan patologis.16 Selain itu faktor imunitas juga mempengaruhi terjadinya patogenesis. Apalagi pada wanita, infeksi lebih sering terjadi karena melemahnya system imun.15 Penyebab terjadinya infeksi pada vagina setidaknya ada dua komponen, yaitu keadaan mikroba pada vagina dan perubahan kondisi biokimia dan imun vagina yang memungkinkan mikroba tumbuh pesat dan menimbulkan gejala. Jika syarat kedatangan mikroba dan terjadinya perubahan biokimia (lactobacillus lebih sedikit daripada jumlah patogen) sudah memenuhi terjadinya infeksi, namun imunitas yang terbentuk tinggi maka infeksi tidak terjadi. Adapun hal yang menyebabkan imunitas lemah antara lain stres, pemakaian obat antibiotik, pola makan yang buruk dan memiliki riwayat penyakit seperti diabetes dan HIV.15 Hasil uji regresi logistik menunjukkan sikap (p < 0,05) dan perilaku (p < 0,05) mempunyai hubungan yang bermaknas dengan kejadian

keputihan. Jika seseorang mempunyai sikap baik maka kemungkinan tidak akan mengalami kejadian keputihan. Sikap yang baik kemungkinan juga akan memberikan gambaran seseorang berperilaku baik, sehingga lebih memperkecil kemungkinan terjadinya kejadian keputihan. Sedangkan untuk pengetahuan ( p < 0,05 ) tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian keputihan. Hal itu dapat terjadi karena kejadian keputihan dipengaruhi oleh banyak faktor selain oleh pengetahuan menjaga kesehatan sistem reproduksi. Keputihan dapat dipicu oleh banyak hal, antara lain faktor genetis, riwayat penyakit sebelumnya, juga faktor demografi seperti status ekonomi, sosial budaya yang dalam penelitian ini tidak dicari tahu. Faktor pengetahuan sendiri dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal dimana faktor internal terdiri dari umur dan intelegensi, sedangkan faktor eksternal dipengaruhi oleh pendidikan, lingkungan, pengalaman, informasi dan orang yang dianggap penting. Perilaku memegang peranan lebih besar terhadap kejadian keputihan karena perilaku merupakan tindakan nyata yang telah dilakukan responden sedangkan sikap merupakan sebatas pandangan yang baru akan dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, karena itu kejadian keputihan kemungkinan besar banyak dialami responden yang mempunyai perilaku buruk. KESIMPULAN 1. Sebagian besar remaja remaja putri yang tinggal di sekitar pinggiran sungai Bedadung mempunyai tingkat pengetahuan baik dengan presentase 74%. 2. Sebagian besar remaja remaja putri yang tinggal di sekitar pinggiran sungai Bedadung mempunyai tingkat sikap baik dengan presentase 54%. 3. Sebagian besar remaja remaja putri yang tinggal di sekitar pinggiran sungai Bedadung mempunya tingkat perilaku kurang dengan presentase 58%. 4. Sebagian besar remaja remaja putri yang tinggal di sekitar pinggiran sungai Bedadung mengalami kejadian keputihan 70%.

5. Variabel yang berhubungan dengan kejadian keputihan adalah sikap (p=0,006; ORadj=6,049; 95% C.I=1,050-34,856) dan perilaku (p=0,001; ORadj=7,887; 95% C.I=1,671-37,224). SARAN 1. Bagi remaja Remaja perlu mempunyai kesadaran untuk mencari informasi yang benar mengenai masalah kesehatan reproduksi terutama mengenai kejadian keputihan. 2. Sekolah Diharapkan di bangku sekolah baik di tingkat SD, SMP dan SMA bekerjasam dengan institusi terkait lebih proaktif memberikan bimbingan konseling mengenai masalah kesehatan reproduksi remaja. Dan pada mata pelajaran Biologi lebih diperkenalkan sejak dini anatomi organ reproduksi dan fungsinya, tentunya materi yang diberikan disesuaikan dengan tingkat pendidikan remaja. 3. Petugas Kesehatan Diharapkan petugas kesehatan lebih meningkatkan penyuluhan dan pendidikan kesehatan yang berkaitan dengan kesehatan organ reproduksi remaja terhadap fenomena kegiatan MCK di sungai. 4. Pemerintah setempat Pemerintah hendaknya memberikan perhatian dengan membangun fasilitas MCK umum yang memadai untuk memfasilitasi masyarakat desa Gumelar yang tidak mempunyai fasilitas MCK di rumahnya. 5. Peneliti lain Dapat memberikan acuan untuk penelitian lebih lanjut mengenai faktor lain yang belum diteliti dari penelitian ini. Penelitian ini masih banyak keterbatasannya, sehingga diharapkan peneliti lain dapat lebih mengembangkan penelitian ini menjadi lebih baik lagi, baik dalam hal metode penelitian, teknik sampling, pengumpulan data dan ketrampilan peneliti.

10

DAFTAR PUSTAKA 1. Dalimartha S. 1999. Tumbuhan Obat untuk Mengatasi Keputihan, Puspa swara, Jakarta. 2. Notoatmodjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, PT. Rineka Cipta, Jakarta. 3. Putu. 2003. Prevalensi kejadian keputihan.http://www.ziddu.com/download/50280 81/atPrevalensi-kejadian.keputihan.zip. diakses 25 Agustus 2012. 4. Depkes RI. 2003. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat, Jakarta. 5. Amiruddin, D. 2003. Fluor Albus di Penyakit Menular Seksual. LKiS, Jogjakarta. 6. Antari, Ni Wayan Yuli. 2008. Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Dalam Mengenai Keputihan Pervaginam (Pektai) Pada Siswi Kelas Ii SMU Negeri 34 Jakarta 2008. Tugas Akhir. Tidak diterbitkan, Fakultas Ilmu Kesehatan UPN Veteran, Jakarta. 7. Manuaba. 1998. Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Ilmu Kebidanan. EGC. Jakarta. 8. Azwar, S. 2005. Sikap Manusia. Pustaka Belajar. Yogyakarta. hal. 23. 9. Kurniawan, T. P. (2008). Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja di SMA Negeri 1 Purbalingga, Kabupaten Purbalingga. Thesis. Tidak

dipublikasikan. Universitas Diponegoro, Semarang. 10.Sukarti. (2005). Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Praktek Personal Hygiene dengan Kejadian Keputihan pada Remaja Putri di Desa Winong. Tidak dipublikasikan. 11.Marista, Enda. (2012). Sikap Remaja Terhadap Personal Hygiene Organ Reproduksi di SMK Labor Pekanbaru. Tidak dipublikasikan. 12.Qiptiyah, Mariyatul. (2012). Gambaran Faktorfaktor yang Melatarbelakangi Kejadian Keputihan di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban. Diperoleh tanggal 21 Januari 2013 dari http:// Qiptiyah%20_%20Journal%20DOSEN.htm. Diakses tanggal 23 April 2013 13.Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Edisi Kedua, PT. Rineka Cipta, Jakarta. 14.Purwanto, H. 1998. Pengantar Perilaku Manusia untuk Keperawatan. EGC. Jakarta. hal. 62. 15.Delire M. Immunoglobulins. Rationale for the clinicaluse of polyvalent intravenous immunoglobulins.Petersfield: Wrightson Biomedical Publishing Ltd, 1995.h. 29-65. 16.Segal and Davin. 2007. Candidiasis. Medic8 Family Health Guide, http://www.duniasex.com/forum/showthread.php? t=66117, diakses tanggal 8 Maret 2013