Anda di halaman 1dari 33

Liberalisme

Liberalisme
Oleh: Herlianto Melengkapi artikel Liberalisme di Belanda dan Adat Istiadat, ada beberapa istilah yang perlu dikenal lebih jauh terutama Liberalisme. Liberalisme berkaitan dengan kata Libertas (bhs. latin) yang artinya kebebasan, dan Liberalisme mencakup banyak aliran yang berbeda artinya di bidang politik, ekonomi dan keagamaan, yang berpangkal tolak pada kebebasan orangperorangan terhadap kekuasaan apapun (A. Heuken SJ: Ensiklopedi Gereja).Liberalisme dapat dimengerti sebagai (1) tradisi politik (2) filsafat politik dan (3) teori filsafat umum, mencakup teori nilai, konsepsi mengenai orang dan teori moral sama halnya dengan filsafat politik. ... Di Perancis, liberalisme lebih dekat dikaitkan dengan sekularisme dan demokrasi (Stanford Encyclopedia of Philosophy, 2003). Ensiklopedi Nasional Indonesia menyebut liberalisme sebagai aliran pikiran yang mengharapkan kemajuan dalam berbagai bidang atas dasar kebebasan individu yang dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya sebebas mungkin. Heuken lebih lanjut menyebut liberalisme dasarnya adalah pandangan Zaman-Pencerahan, bahwa manusia tidak hanya berhak mengusahakan masyarakat yang bebas dari kekuasaan negara, yang kurang mengindahkan hak-hak azasi manusia, melainkan juga membebaskan diri dari kuasa rohani yang tidak mendapat mandat dari umat. Kuasa "dari atas" ditolak. Mirip dengan liberalisme, Libertinisme juga berkaitan dengan Libertas. Dalam Alkitab ada disebut orang libertini yang berarti orang Yahudi yang telah bebas dari penjara Romawi dan memiliki sinagoga sendiri di Yerusalem (Kis.6:9), tetapi dalam pengertian umum, libertin adalah orang yang membebaskan diri dari kekangan, terutama norma sosial dan agama, dan moral (Wikipedia). Libertin mulai muncul di abad-17, mengisyaratkan sikap yang skeptik dan pemikir bebas/free-thinkers (Encyclopaedia Britannica, 2006). Dari beberapa perilaku libertin kita dapat melihat ciri-ciri libertinisme atau faham yang dianut orang libertin. Seorang tokohnya, Theophile de Viau diusir dua kali dari kota Paris karena pandangannya yang atheistik dan hidup berfoya-foya, dalam sajak yang ditulisnya di The Satirical Parnassus ia tidak menghiraukan nilai moral dan seksual, dan dalam banyak sajaknya sama halnya dengan sesama libertin Marc Antoine de Gerard Saint Amant, mereka menentang ajaran agama dan konvensi moral masyarakat. Libertin menyiapkan jalan bagi abad berikutnya yang menularkan roh kritik yang dilandaskan pada logika(Encyclopedia Encarta, 2006). Dari pengertian demikian, tepat seperti yang dikatakan oleh Verkuyl bahwa manusia berada di antara libertinisme dan farisiisme (lihat artikel Adat Istiadat). Disatu pihak ia ditarik kecenderungan keterbukaan dengan moralitas bebasnya, dipihak lain ia ditarik kecenderungan ketertutupan dengan moralitas kakunya. Liberalisme, sekalipun bisa diartikan macam-macam dalam berbagai bidang yang berbeda, memiliki pengertian sendiri dalam teologi. Liberalisme teologi adalah salah satu pemikiran agama yang menekankan penyelidikan agama yang berlandaskan norma diluar otoritas tradisi

gereja. Liberalisme adalah keinginan untuk dibebaskan dari paksaan kontrol dari luar dan secara konsekwen bersangkutan dengan motivasi dari dalam diri manusia. Dalam Encyclopaedia Britannica, liberalisme dapat dibagi dalam tiga masa, yaitu: masa pertama dari abad-17 sampai pertengahan abad-18; masa kedua dari pertengahan abad-18 sampai akhir abad-19; dan masa ketiga dari pertengahan abad-19 sampai abad-20. Masa Pertama, liberalisme teologi biasa dikaitkan dengan filsuf dan matematikawan Rene Descartes. Masa ini juga disebut sebagai masa Rasionalisme dan Pencerahan. Descartes menekankan cara berfikir yang berpengaruh sampai abad-19 dan meletakkan dasar perkiraan kesadaran modern, yaitu: (1) keyakinan akan pikiran manusia, (2) mengutamakan manusia sebagai pribadi, (3) imanensi Tuhan, dan (4) keyakinan bahwa sifat alami manusia bisa dan selalu diperbaiki. Masa Kedua, liberalisme teologi dikenal sebagai masa Romantisme yang diawali dengan disadarinya keunikan individu dan konsekwensinya mengenai pentingnya pengalaman individu sebagai sumber khusus mengenai arti yang tidak terbatas, ini memberi nilai lebih pada kepribadian dan kreativitas individu melebihi semua nilai lain. Jean-Jacques Rousseau dan Immanuel Kant adalah arsitek dibelakang liberalisme romantis ini. Dalam teologi, Friedrich Schliermacher, dapat disebut sebagai bapak teologi protestan modern.Schleiermacher mengerti agama sebagai perasaan "yang intuisif" kebergantungan kepada yang kekal, atau Tuhan, yang dipercayainya sebagai pengalaman universal dari kemanusiaan. Ini menekankan pengalaman beragama daripada dogma agama. Teolog liberal berusaha untuk mendamaikan agama dengan ilmu pengetahuan dan masyarakat modern, dan mereka mengacu pada tehnik kritik historis atas Alkitab dalam usaha untuk membedakan Yesus Sejarah dan ajarannya dari dari apa yang mereka anggap sebagai mitologi dan dihasilkan oleh dogma. Bila semula liberalisme teologi masih memberi tempat pada yang supranatural, lamakelamaan perkembangan liberalisme mengarah pada penekanan Yesus sebagai sekedar manusia biasa. Albrecht Ritchl menolak aspek supranatural dari hidup Yesus dan menafsirkan mujizat Yesus dalam kerangka ajaran idealisme Hegel, dan menjadikan etika sebagai jantung agama. Pengikut Ritchl Adolf von Harnack menyebut Yesus adalah tokoh manusia yang memiliki damai dan kerendahan hati yang dapat menguatkan dan membawa damai pada orang lain. Kedudukannya sebagai pengajar di Berlin sempat dipersoalkan oleh gereja Jerman karena pandangannya yang liberal mengenai mujizat Alkitab termasuk soal sifat sejarah kebangkitan Yesus. Masa ketiga, perkembangan liberalisme sekalipun sempat direm sejenak oleh Karl Barth dengan Neo-Orthodoxinya, makin menjauhkan agama dari aspek transendennya. Teologi Liberal masa ketiga ini juga sering disebut sebagai Modernisme dan menghadirkan pandangan yang ujung-ujungnya menafikan hal-hal yang supranatural & mujizat dan yang kekal (aeternum) termasuk Tuhan. Pada masa ketiga ini berkembang studi Yesus Sejarah yang menafikan sifat supra-natural Yesus. F.C. Baur memperkenalkan pendekatan yang anti-theistic dan yang supranatural dalam hubungan dengan sejarah kekristenan. D.F. Strauss (Life of Jesus) menolak sama sekali dasar sejarah elemen supranatural dalam Injil. J.E. Renan (Life of Jesus) juga senada dengan Strauss dan lebih jauh menyebut Yesus terobsesi semangat revolusi, penganiayaan

dan mati syahid. Albert Schweitzer (The Quest of the Historical Jesus) disatu sisi menyalahkan Strauss dan Renan karena mengabaikan aspek eschatologis tentang kerajaan Allah dan akhir zaman, tetapi disisi lain ia meneruskan pandangan mereka karena Yesus ditampilkan sebagai politikus agama yang pemarah yang membuat kesalahan besar dalam cara hidupnya.Arthur Drews (The Christ Myth) bahkan lebih jauh memperlakukan seluruh Injil sebagai cerita fiksi. Faham Yesus Sejarah ini diteruskan oleh Jesus Seminar sejak 1985. Kecenderungan menafikan yang supranatural disebut juga sebagai Sekularisme. Menurut Johanes Verkuyl (Gereja dan Aliran Modern), Saeculum adalah pandangan serta sikap hidup yang menanggalkan yang waktuwi itu dari yang abadi, yang menanggalkan yang profan dari yang sakral. ... Sedang Sekularisme ialah aliran dalam kultur, dalam mana seluruh perhatian dituntut untuk dunia ini dan untuk zaman ini dengan mengucilkan Allah serta Kerajaan-Nya. Encyclopedia Wikipedia menyebut Sekularitas adalah keberadaan yang bebas dari kwalitas keagamaan dan spiritualitas, dan Sekularisme yang terkait masa Pencerahan menegaskan tentang kebebasan agama dan bebas dari agama, dalam negara yang netral dalam hal menyangkut kepercayaan, dan tidak memberikan hak khusus atau subsidi kepada agama. Britannica menyebut Sekularisme sebagai gerakan dalam masyarakat yang ditujukan untuk menjauhkan diri dari yang diluar dunia dan kembali ke bumi. Dalam hubungan dengan Liberalisme, Arend Theodoor van Leeuwen (Christianity in World History) menyebut Liberalisme adalah produk yang disekularisasikan dari peradaban Kristen. Dari ketiga istilah Liberalisme, Libertinisme dan Sekularisme, kita menjumpai nafas yang sama yang mendasari, yaitu membebaskan diri dari yang Aeternum dan hanya berurusan dengan yang Saeculum. Semangat sekularisme sudah terlihat dalam pemikiran Friedrich Nietzsche yang dikenal sebagai pelopor "Teologi Kematian Tuhan" (Death of God Theology). Ia bertitik tolak menafikan Tuhan yaitu pada "Tuhan yang tidak ada," karena itu "Manusia harus menentukan jalan hidupnya sendiri." Dalam Rudolf Bultman kita melihat skeptikisme rasional dibentuk oleh existensialisme berusaha mendikotomikan Yesus Sejarah dari Yesus Iman dan menolak konsep "the three deckers universe" (bumi - surga -neraka)yang disebutnya mitos. Seluruh etos dan pemikiran Perjanjian Baru adalah mitos. Hal-hal yang bersifat transendental dipandang sebagai mitologi dan harus dimengerti secara existensial yang subyektip. Tugas manusia adalah mendemitologisasikan ajaran PB itu. Paul Tillich mengemukakan bahwa Injil harus ditelanjangi dari sifat non-existensialnya dan terbuka bagi istilah-istilah yang bermakna bagi manusia modern. Baginya, Tuhan adalah The Ground of all Being. Teolog sekular selanjutnya lebih radikal menafikan yang supranatural. Dietrich Bonhoeffer dalam tulisan awalnya cukup konservatif dan kristosentris, namun pandangannya berubah radikal ketika ia dipenjara karena konspirasi membunuh Hitler. Dalam Letters from Prison ia menekankan kekristenan tanpa agama dan bahwa dunia sudah dewasa (world come of age) dan kekristenan telah kehilangan sifat keagamaannya. Manusia sudah dewasa sehingga tidak lagi perlu bergantung kepada yang disebut Allah. Lebih jauh John A.T. Robinson (Honest to God) mulai dengan keyakinan bahwa gagasan Allah "di atas sana" telah kuno, tidak bermakna lagi dan salah. Manusia dewasa harus meninggalkan konsep "proyeksi figur ayah ke angkasa" yang dipercaya itu. Pada tahun 1960-an konsep Nietzche mengenai "Kematian Allah" bangkit kembali di kalangan beberapa teolog radikal. Paul van Buren (The Secular Meaning of the Gospel) mengungkapkan gagasan radikalnya, dan dari judul bukunya kita dapat mengetahui kemana

arah radikalisme Gabriel Vahanian (The Death of God: The Culture of Our Post-Christian Era). Harvey Cox (The Secular City) menyinggung tema yang sama. Di kalangan Roma Katolik, Robert Adolfs (The Grave of God) sampai menerima kutukan dari masyarakat disekitarnya. Yang lebih radikal lagi kita temukan dalam tulisan Thomas J.J. Altizer (The Gospel of Christian Atheism). Kelihatannya ada gejala menarik untuk diamati sebagai Masa Ke-empat yang bisa ditambahkan dalam tiga pembagian yang disebut Britannica, yaitu pada masa tahun 1960-an dibalik gencarnya Liberalisme Radikal yang bukan saja menafikan Allah tetapi menganggap Allah telah mati dan sudah dikubur, dunia mengalami kekosongan batin/rohani yang luar biasa yang dikenal dengan Era Posmo (Postmodernism) dimana ketika Modernisme tidak lagi memadai terjadi pencarian manusia kembali akan nilai-nilai transendental yang mereka cari dalam agama-agama mistik Timur (New Age). Di kalangan teolog Liberal ada juga usaha untuk kembali membuka diri kepada hal-hal yang dulu dinafikan, hanya sayangnya mereka tidak kembali kepada supranaturalisme Alkitab tetapi lari kepada mistikisme/gnostikisme yang dahulu dikritik oleh Bultman sebagai yang harus didemitologisasikan. Bila semula Liberalisme mempunyai andil memperbaiki beberapa kekeliruan Konservativisme ekstrim, ia tidak memberi jalan keluar yang lebih baik, malah nafas kebebasan itu berangsur-angsur membawa manusia kepada peninggian diri dan akhirnya makin menafikan yang kekal dan Tuhan dalam bentuk Liberalisme yang makin ekstrim.

ISLAM DAN LIBERALISME, ADAKAH KORELASINYA


Oleh : Drs. Muhammad Taufiq NIQ Akhir-akhir ini, ramai sekali orang membicarakan Islam Liberal. Sebagian dari mereka membela mati-matian adanya Islam Liberal, namun sebagian yang lain menolak dan mengatakan najis, ide Islam Liberal tersebut. Sebagian mereka yang mati-matian membela adanya ide Islam Liberal, dengan gencarnya menyebarkan ide-ide tersebut melalui media masa-media masa yang ada, baik media cetak maupun media elektronik. Maklum, ide ini adalah ide yang bisa dikatakan baru. Sementara mereka yang menolak ide Islam Liberal juga tidak kalah gencarnya menolak menyebarnya ide tersebut. Islam Liberal; adalah satu Istilah yang mengandung makna bahwa di dalam Islam itu ada terdapat unsur-unsur Liberal, yang keduanya tidak perlu diposisikan berseberangan, bertentangan, apalagi dipertentangkan. Justru Islam Liberal menjawab tantangan jaman, bahwa Islam tetap sesuai di tengah kehidupan Liberalime. Pada kesempatan yang baik ini, baiklah kita kaji secara historis maupun muatan ide dasar dari ide-ide tersebut di atas, baik Islam sendiri, maupun Liberalisme. ISLAM Islam adalah Agama (Ad Dien) yang diturunkan oleh Allah swt, sang Pencipta, kepada utusan terakhirNya Muhammad SAW. Agama ini berisikan seluruh ajaran dan panduan hidup manusia di dunia. Panduan ini bersifat lengkap untuk kesejahteraan seluruh manusia. Panduan bagaimana manusia berhubungan dengan Penciptanya, yaitu Allah swt. Panduan, bagaimana manusia harus berhubungan dengan manusia lainnya, serta panduan bagaimana manusia berhubungan dengan dirinya sendiri. Seluruh panduan dalam Islam berasal dari Allah swt, yang mutlak kebenarannya. Berisi perintah dan anjuran, begitu pula larangan dan cegahan, serta pilihan yang diserahkan kepada manusia untuk bebas memilihnya. Secara garis besar, Islam berisikan tentang Aqidah dan Syariat. Aqidah merupakan panduan berupa keyakinan-keyakinan yang harus diimani oleh manusia. Sedangkan Syariat adalah panduan hukum yang berkenaan dengan perbuatan manusia. Beberapa hal tentang aqidah serta Syariat bisa dijelaskan dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:

1. Inti aqidah Islam adalah Laa ilaaha illallah, muhammadun rasuulullaah. Artinya, tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah swt, dan Muhammad saw, adalah utusan Allah. 2. Aqidah Islam meyakini bahwa pencipta alam seisinya adalah Allah swt. Manusia hidup di dunia ini adalah untuk menjalankan perintah Allah swt. Setelah mati, manusia akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya di Akhirat, di hadapan Allah swt. Untuk kemudian diganjar ataupun disiksa sesuai dengan perbuatannya di dunia. 3. Aqidah Islam adalah aqidah yang membawa konsekuensi kepada manusia untuk terikat dengan Syariat Allah swt. Syariat tersebut melingkupi segenap aspek kehidupan manusia. Jadi di dalan Islam, tidak ada satu pun aspek dalam kehidupan manusia ini yang lepas dari aturan Syariat Allah. Oleh karena itu, Islam mempunyai kekhasan hukum tersendiri dibandingkan dengan syariat lain manapun. Syariat Islam (syariat Allah swt) meliputi hukum-hukum yang menyangkut antara lain : Aqidah, Ibadah, Akhlaq, Muamalah (politik, ekonomi, peradilan, pendidikan dll) 4. Dari Aqidah Islam inilah terpancarkan satu sistem kehidupan yang meliputi sistem politik Islami, sistem ekonomi Islami, sistem pergaulan yang Islami , sistem pendidikan Islami, sistem peradilan Islami dan sistem-sistem lainnya yang Islami. 5. Aqidah Islam bukanlah aqidah sekular, yang memisahkan agama dari kehidupan. Aqidah Islam adalah Aqidah ruhiyah sekaligus aqidah siyasiyyah. Aqidah ruhiyyah adalah aqidah yang terpancar darinya keyakinana-keyakinan tentang akhirat, sedang aqidah siyasiyyah adalah aqidah yang terpancar darinya aturan-aturan kehidupan di dunia. LIBERALISME. Liberalisme adalah sebuah ajaran tentang kebebasan. Isme ini lahir seiring dengan lahirnya aqidah sekularisme. Jadi Liberalisme adalah anak kandung Sekularisme.Ia bersaudara dengan Kapitalisme dan Demokrasi. Ia mengajarkan akan kebebasan manusia dalam hal apa saja. Kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan berperilaku dan kebebasan kepemilikan. Dari liberalisme ini muncullah gerakan-gerakan baru yang mengatas namakan gerakan memperjuangkan HAM, Hak Asasi Manusia. Liberalisme, yang sekarang ini dianut oleh negara-negara Barat dan seluruh pengikutnya, berawal dari adanya kompromi yang terjadi antara pihak agamawan (gereja Eropa) dan golongan Ilmuwan (scientist) Eropa yang tidak puas dengan adanya aturan-aturan yang diberlakukan pihak gereja dalam masyarakat.. Kesepakatan itu isinya adalah pemisahan antara urusan akhirat yang diberikan wewenangnya kepada pihak agamawan, sedangkan urusan dunia diserahkan sepenuhnya kepada pihak masyarakat pada umumnya. Pemisahan agama dari kehidupan inilah yang menjadi awal lahirnya sekularisme. Beberapa hal tentang Aqidah sekuler yang bisa dijelaskan secara singkat dalam pembahasan sini adalah sebagai berikut : 1. Urusan agama adalah wewenang pihak gereja, sedangkan urusan kehidupan dunia adalah wewenang masyarakat pada umumnya. Agama adalah urusan individu yang tidak boleh dibawa-bawa dalam urusan publik dan kenegaraan. 2. Tuhan telah menciptakan manusia, adapun hukum-hukum yang mengatur kehidupan manusia diserahkan sepenuhnya kepada manusia untuk membuatnya.

3. Dari aqidah sekular ini terpancarlah aturan-aturan dan system kehidupan. Terpancarlah darinya sistem ekonomi (Kapitalis), sistem Pergaulan Kehidupan yang bebas dan permissive (Liberalis) dan sistem politik pemerintahan (Demokrasi) 4. Liberalisme, lebih lanjut mengajarkan adanya kebebasan dalam hal : a. Beragama b. Berpendapat c. Berperilaku d. Kepemilikan PERBANDINGAN ANTARA ISLAM DAN LIBERALISME : Mari kita simak perbandingan singkat berikut ini: 1. Aqidah : Liberalisme beraqidah sekular, sedangkan Islam tidak beraqidah sekular 2. Sistem kehidupan yang terpancar darinya : Islam menuntun kehidupan dengan sistem-sistem yang lahir dari Agama Islam itu sendiri. Aturan Islam datang dari Allah swt. Liberalisme melahirkan aturan-aturan yang tidak berlandaskan agama sama sekali. 3. Tentang kebebasan beragama: Islam mengajarkan bahwa agama di sisi Allah hanyalah Islam. Liberalisme mengajarkan bahwa agama tidak perlu dipersoalkan. Agama adalah urusan individu. Setiap Individu bebas memilih agama apapun. 4. Tentang kebebasan berpendapat: Tidak ada kebebasan berpendapat dalam Islam, kecuali dalam hal-hal yang mubah. Oleh karena itu Musyawarah dalam Islam hanya dalam persoalan mubah. Hal ini berbeda sama sekali dengan Liberalisme. Liberalisme membebaskan berpendapat apa saja dalam seluruh persoalan, karena setiap individu dijamin bebas berpendapat. 5. Tentang kebebasan berperilaku Syariat Islam mengikat setiap perbuatan manusia. Setiap perbuatan manusia harus terikat dengan hukum Syariat. Hal ini beda sama sekali dengan Liberalisme, dimana ia membebaskan setiap Individu untuk berbuat apa saja asalkan tidak merugikan hak individu lain. Kesimpulan : Dari paparan ide dasar baik Islam maupun Liberalisme tersebut di atas, jelas sekali bahwa antara Islam dan Liberalisme, tidak ada kaitannya sama sekali, dan tidak perlu dikait-kaitkan. Mengaitkan dua hal yang bertentangan adalah tindakan yang bodoh. Apalagi hasil kaitan yang di reka-reka tersebut disebar luaskan untuk bisa diikuti umat. Jelas ini merupakan aktivitas yang membodohi umat. Perlu diwaspadai gerakan-gerakan yang mengatasnamakan Islam, pembaharuan Islam, akan tetapi sesungguhnya adalah penghancuran terhadap Islam dari dalam. Nauudzu billaahi min dzaalik tsumma nauudzu billaahi.

Menelusuri Akar Pemikiran Liberalisme


Liberalisme telah masuk ke dalam semua kelompok masyarakat manusia. Tidak terkecuali kaum muslimin. Indonesia sebagai Negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam pun demikian. Pengaruh liberalisme telah merasuk ke dalam semua lini kehidupan banyak masyarakat kaum muslimin di negeri ini. Selain faktor internal kaum muslimin yang lemah dari sisi komitmen mereka terhadap agamanya, terutama persoalan yang berkaitan dengan akidah, tersebarnya aliran pemikiran liberalisme tidak lepas dari peran Barat yang sangat giat menyebarkannya melalui kekuatan politik, ekonomi dan teknologi informasi yang mereka miliki. Dan disinyalir, kaum muslimin adalah sasaran utama dari invansi pemikiran ini. Karena, sebagaimana yang dikatakan oleh Samuel P. Huntington dalam bukunya yang berjudul Clash Of Civilization (Benturan Peradaban), setelah jatuhnya aliran Komunisme, maka tantangan Barat selanjutnya adalah Islam. Menurutnya, bahaya Islam lebih berat dari peradaban-peradaban yang lain seperti Cina, Jepang dan negeri-negeri Asia Utara yang lain. Selain itu, keyakinan Barat terhadap konsep liberal di antaranya juga diinspirasi oleh tesis Francis Fukuyama dalam The End Of History (Akhir Sejarah) yang menyebutkan bahwa demokrasi liberal adalah titik akhir dari evolusi sosial budaya dan bentuk pemerintahan manusia.[1] Sebagai umat Islam, tentu kita tidak ingin peradaban Islam yang di bangun diatas akidah dan nilai-nilai agama Allah ini dirusak oleh orang-orang kafir dengan pemikiran-pemikiran luar itu. Islam adalah agama yang sempurna dengan ajaran yang bersumber dari wahyu Allah, Pencipta yang Mahamengetahui segala kebutuhan makhluk-makhluk-Nya. Karenanya Islam tidak membutuhkan isme-isme dan ideologi dari luar. Allah berfirman: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al Maidah [5]: 3)

Sejarah Liberalisme

Sejarah kemunculan liberalisme terbentang dari sejak abad ke-15, saat Eropa memulai era kebangkitan (Renaissance) mereka sampai sekitar abad ke-18 masehi, setelah sebelumnya dari sejak abad ke-5, orang-orang Eropa hidup dalam era kegelapan (Dark Ages).[2] Dr. Abdurrahim Shamyil mengatakan, Liberalisme secara teori politik, ekonomi dan sosial tidak terbentuk dalam satu waktu dan oleh satu tokoh pemikir, akan tetapi ia dibentuk oleh sejumlah pemikir. Liberalisme bukan pemikiran John Luke (w 1704), bukan pemikiran Rousseau (1778), atau pemikiran John Stuart Mill (w 1873), akan tetapi setiap dari mereka memberikan konstribusi yang sangat berarti untuk ideologi liberalisme.[3]

Sejarah liberalisme dimulai sebagai reaksi atas hegemoni kaum feodal pada abad pertengahan di Eropa. Sebagaimana diketahui, Kristen adalah agama yang telah mengalami perubahan dan penyimpangan ajaran. Pada tahun 325 M, Imperium Romawi mulai memeluk agama Kristen yang telah mengalami perubahan tersebut, yaitu setelah agama Kristen merubah keyakinan tauhid menjadi trinitas dan penyimpangan-penyimpangan yang lainnya. Pada saat yang sama, sistem politik yang dianut oleh penguasa untuk memerintah rakyatnya ketika itu adalah feodalisme; sistem otoriter yang zalim, menekan dan memasung kebebasan masyarakat. Sistem feodal berada pada puncaknya di abad ke-9 Masehi ditandai dengan munculnya kerajaan-kerajaan dan hilangnya pemerintahan pusat. Kaum feodal terbagi menjadi tiga unsur ketika itu; (1) intitusi gereja, (2) kaum bangsawan dan (3) para raja. Semuanya memperlakukan rakyat yang bermata pencaharian sebagai petani dengan otoriter, zalim dan sewenang-wenang.[4] Kehidupan beragama dibawah institusi gereja juga sarat dengan penyimpangan. Tersebarnya peribadatan yang tidak memiliki landasan dalam kitab suci dan merebaknya surat pengampunan dosa adalah diantaranya. Paus Roma, ketika mereka membutuhkan dana untuk membiayai aktifitas Gereja, mereka menerbitkan surat pengampunan dosa dan menghimbau masyarakat untuk membelinya dengan iming-iming masuk surga. Pendapat-pendapat tokoh agama pun bersifat absolut dan tidak boleh digugat. Alquran juga menyebutkan di antara penyimpangan mereka: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At Taubah [9]: 31)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (QS. At Taubah [9]: 34) Penyimpangan keyakinan, ditambah dengan sistem politik otoriter inilah faktor utama yang kemudian melahirkan pemikiran liberal. Saat masyarakat tertekan dan hidup dalam kezaliman, muncullah reaksi yang bertujuan kepada kebebasan hidup. Hal yang telah menjadi sunnatullah.[5]

Kesadaran masyarakat Eropa yang ingin bebas dari segala bentuk tekanan itu mengharuskan mereka untuk melakukan tranformasi pemikiran. Diantara proses transformasi pemikiran ini adalah reformasi agama. Pada akhir abad ke-15, muncul seorang tokoh Gereja asal Jerman bernama Martin Luther (w 1546), kemudian diikuti oleh John Calvin (w 1564), lalu John Nouks (w 1572). Mereka melakukan perlawanan terhadap Gereja Katolik yang kemudian mereka beri nama Protestan.[6] Gerakan reformasi agama yang dilakukan oleh Luther ini memiliki pengaruh besar dalam sejarah liberalisme selanjutnya. Rumusan pemikiran Luther dapat disimpulkan menjadi beberapa poin berikut: 1. Otoritas agama satu-satunya adalah teks-teks Bible dan bukan pendapat tokoh-tokoh agama. 2. Pengingkaran terhadap sistem kepausan gereja yang berposisi sebagai khalifah almasih. 3. Menegasikan keyakinan pengampunan atau tidak diampuni (dari institusi geraja). 4. Ajakan kepada liberalisasi pemikiran, keluar dari tirani tokoh agama dan monopoli mereka dalam memahami kitab suci, klaim rahasia suci serta pengabaian peran akal atas nama agama.[7] Gerakan ini disebut sebagai gerakan liberal karena ia bersandar kepada kebebasan berfikir dan rasionalisme dalam menafsirkan teks-teks agama.[8] Perlawanan terhadap gereja dan feodalisme terus berlanjut di Eropa. Runtuhnya feodalisme menutup abad pertengahan dan abad selanjutnya disebut dengan abad pencerahan (Enlightment). Beberapa tokoh pemikiran muncul. Di Perancis, Jean Jacues Rousseau (w 1778) dan Voltaire (w 1778) adalah diantara pemikir yang perannya sangat berpengaruh. Karya-karya mereka berdua menjadi inspirasi gerakan politik Revolusi Perancis pada tahun 1789, puncak dari perlawanan terhadap hegemoni feodal. Namun, gerakan yang tadinya sebagai reformasi agama, pada perkembangan selanjutnya perlawanan terhadap gereja mengarah kepada atheisme. Para pemikir dan filusuf Perancis rata-rata adalah para atheis yang tidak mengakui keberadaan agama. Sejarah panjang agama Kristen dari sejak penyimpangan dan perubahan ajaran hingga perang agama yang meletus akibat reformasi Luther memunculkan kejenuhan yang berakibat hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap agama. Kebebasan rasional (akal) secara mutlak akhirnya menjadi ciri utama dari gerakan ini.[9] Dr. Abdulaziz al Tharify mengatakan, Pengagungan terhadap akal semakin nampak pada waktu-waktu revolusi. Mereka mengangkatnya dan mempertuhankannya. Sebagian mereka bahkan mengatakan bahwa ini adalah penyembahan terhadap akal. Para tokoh revolusi mengajak orang-orang untuk meninggalkan agama, terkhusus agama katolik, mereka memutuskan hubungan Perancis dengan Vatikan. Dan pada tanggal 24 November 1793 M, mereka menutup gereja-gereja di Paris, merubah sekitar 2400 fungsi gereja menjadi markazmarkaz rasionalisme dan untuk pertama kalinya digagas soal kebebasan kaum wanita.[10]

Intinya, titik tolak liberalisme berangkat dari perlawanan terhadap penguasa absolut raja dan institusi gereja yang mengekang kebebasan masyarakat.[11] Pengertian Liberalisme Secara etimologi, Liberalisme (dalam bahasa inggris Liberalism) adalah derivasi dari kata liberty (dalam bahasa inggris) atau liberte (dalam bahasa Perancis) yang berarti bebas. Adapun secara terminologi, para peneliti mengemukakan bahwa Liberalisme adalah terminologi yang cukup sulit untuk didefinisikan. Hal itu karena konsep liberalisme yang terbentuk tidak hanya dalam satu generasi, dengan tokoh pemikiran yang bermacam-macam dan orientasi yang berbeda-beda. Dalam al Mawsah al Arabiyyah al lamiyyah dikatakan, Liberalisme termasuk terminologi yang samar, karena makna dan penegasannya senantiasa berubah-ubah dalam bentuk yang berbeda dalam sepanjang sejarahnya.[12] Namun demikian, liberalisme memiliki esensi yang disepakati oleh seluruh pemikir liberal pada setiap zaman, dengan perbedaan-perbedaan trend pemikiran dan penerapannya, sebagai cara untuk melakukan reformasi dan menciptakan produktifitas. Esensi ini adalah, bahwa liberalisme meyakini kebebasan sebagai prinsip dan orientasi, motivasi dan tujuan, pokok dan hasil dalam kehidupan manusia. Ia adalah satu-satunya sistem pemikiran yang hanya menghendaki untuk mensifati kegiatan manusia yang bebas, menjelaskan dan mengomentarinya.[13] Dr. Sulaiman al Khurasyi mengatakan, Liberalisme adalah aliran pemikiran yang berorientasi kepada kebebasan individu, berpandangan wajibnya menghormati kemerdekaan setiap orang, meyakini bahwa tugas pokok negara adalah melindungi kebebasan warganya seperti kebebasan berfikir dan berekspresi, kepemilikan swasta dan yang lainnya. Aliran pemikiran ini membatasi peran penguasa dan menjauhkan pemerintah dari kegiatan pasar. Aliran ini juga dibangun diatas prinsip sekuler yang mengagungkan kemanusiaan dan berpandangan bahwa manusia dapat dengan sendirinya mengetahui segala kebutuhan hidupnya. Dalam Acodemik American Ensiclopedia dikatakan, Sistem liberal yang baru (yang termanifestasi dalam pemikiran abad pencerahan) memposisikan manusia sebagai tuhan dalam segala hal. Ia memandang bahwa manusia dengan seluruh akalnya mampu memahami segala sesuatu. Mereka dapat mengembangkan diri dan masyarakatnya melalui kegiatan rasional dan bebas.[14] Karakteristik Liberalisme Walaupun liberalisme bukan terdiri dari satu trend pemikiran, namun kita dapat mengenali aliran ini dengan karakteristik khusus. Karakter paling kuat yang ada dalam aliran ini adalah: Kebebasan Individu

Setiap orang bebas berbuat apa saja tanpa campur tangan siapa pun, termasuk negara. Fungsi negara adalah melindungi dan menjamin kebebasan tersebut dari siapapun yang mencoba untuk merusaknya. Oleh karena itu, liberalisme sangat mementingkan kebebasan dengan semua jenisnya. Kekebasan berkreasi, berpendapat, menyampaikan gagasan, berbuat dan

bertindak, bahkan kebebasan berkeyakinan adalah tema yang mereka ingin wujudkan dalam kehidupan ini. Kebebasan dalam pandangan mereka tidak berbatas, selama tidak merugikan dan bertabrakan dengan kebebasan orang lain. Kaidah kebebasan mereka berbunyi, Kebebasan Anda berakhir pada permulaan kebebasaan orang lain.[15] Rasionalisme

Penganut liberalisme meyakini bahwa akal manusia mampu mencapai segala kemaslahatan hidup yang dikehendaki. Standar kebenaran adalah akal atau rasio. Karakter ini sangat kentara dalam pemikiran liberal. Rasionalisme diantaranya nampak pada: Pertama, keyakinan bahwa hak setiap orang bersandar kepada hukum alam. Sementara hukum alam tidak dapat diketahui kecuali dengan akal melalui media indera/materi atau eksperimen. Dari sini kita mengenal aliran filsafat materialisme (aliran filsafat yang mengukur setiap kebenaran melalui materi) dan empirisme (aliran filsafat yang menguji setiap kebenaran melalui eksperimen). Kedua, negara harus bersikap netral terhadap semua agama. Karena tidak ada kebenaran yang bersifat yakin atau absolut, yang ada adalah kebenaran yang bersifat relatif. Ini yang dikenal dengan relatifisme kebenaran. Ketiga, perundang-undangan yang mengatur kebebasan ini semata-mata hasil dari pemikiran manusia, bukan syariat agama.[16] Perspektif Islam Dari latar belakang sejarah liberalisme yang telah dipaparkan di atas, kita dapat menilai bahwa liberalisme jelas sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam. Sejarah kemunculannya yang sangat dipengaruhi oleh situasi sosial-politik dan problem teologi Kristen ketika itu dapat kita jadikan alasan bahwa Islam tidak perlu, dan tidak akan perlu menerima liberalisme. Karena sepanjang sejarahnya, Islam tidak pernah mengalami problem sebagaimana yang dialami oleh agama Kristen. Oleh karena itu, tidak ada alasan mendasar bagi Islam untuk menerima konsep liberalisme dengan semua bentuknya. Apalagi jika ditilik dari konsep pokoknya, pemikiran liberalisme sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Kebebasan mutlak ala liberalisme adalah kebebasan yang mencederai akidah Islam, ajaran paling pokok dalam agama ini. Liberalisme mengajarkan kebebasan menuruti semua keinginan manusia, sementara Islam mengajarkan untuk menahannya agar tidak keluar dari ketundukan kepada Allah. Hakikat kebebasan dalam ajaran Islam adalah, bahwa Islam membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk, kepada penghambaan kepada Rabb makhluk. Begitu pun dengan otoritas akal sebagai sumber nilai dan kebenaran dalam ajaran liberalisme. Sumber kebenaran dalam Islam adalah wahyu, bukan akal manusia yang terbatas dalam mengetahui kebenaran. Dengan demikian, menerima liberalisme berarti menolak Islam, dan tunduk kepada Islam berkonsekwensi menanggalkan faham liberal. Wallhu alam wa shallallhu ala nabiyyin Muhammad.

Globalisasi
Penulis : RP Borrong Istilah Globalisasi, pertama kali digunakan oleh Theodore Levitt tahun 1985 yang menunjuk pada politik-ekonomi, khususnya politik perdagangan bebas dan transaksi keuangan. Menurut sejarahnya, akar munculnya globalisasi adalah revolusi elektronik dan disintegrasi negaranegara komunis. Revolusi elektronik melipatgandakan akselerasi komunikasi, transportasi, produksi, dan informasi. Disintegrasi negara-negara komunis yang mengakhiri Perang Dingin memungkinkan kapitalisme Barat menjadi satu-satunya kekuatan yang memangku hegemoni global. Itu sebabnya di bidang ideologi perdagangan dan ekonomi, globalisasi sering disebut sebagai Dekolonisasi (Oommen), Rekolonisasi ( Oliver, Balasuriya, Chandran), NeoKapitalisme (Menon), Neo-Liberalisme (Ramakrishnan). Malahan Sada menyebut globalisasi sebagai eksistensi Kapitalisme Euro-Amerika di Dunia Ketiga. Secara sangat sederhana bisa dikatakan bahwa globalisasi terlihat ketika semua orang di dunia sudah memakai celana Levis dan sepatu Reebok, makan McDonald, minum Coca-Cola. Secara lebih esensial, globalisasi nampak dalam bentuk Kapitalisme Global berimplementasi melalui program IMF, Bank Dunia, dan WTO; lembaga-lembaga dunia yang baru-baru ini mendapat kritik sangat tajam dari Dennis Kucinich, calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, karena lembaga-lembaga itu mencerminkan ketidakadilan global. Program-program dari lembaga-lembaga itu telah menjadi alat yang ampuh dari kapitalisme Barat yang mengguncangkan, merontokkan dan meluluh-lantakkan bukan hanya ekonomi, tetapi kehidupan negara-negara miskin dalam suatu bentuk pertandingan tak seimbang antara pemodal raksasa dengan buruh gurem. Rakyat kecil tak berdaya di negara-negara miskin, menjadi semakin terpuruk dan merana. Jadi walaupun ada dampak positif globalisasi seperti misalnya hadirnya jaringan komunikasi dan informasi yang mempermudah kehidupan umat manusia, ditinjau dari sudut kepentingan masyarakat miskin, globalisasi lebih banyak dampak negatifnya. Kita melihat aspek negatif itu dalam ketidak-adilan perdagangan antar-bangsa, akumulasi kekayaan dan kekuasaan di tangan para kapitalis negara-negara maju yang mengakibatkan kemelaratan yang tak terbayangkan di negara-negara miskin, termasuk di Indonesia. Menurut Kucinich, Negara-

negara miskin telah diperas lewat pembayaran beban utang ke lembaga global . Dicontohkan, setiap tahun 2,5 miliar dolar AS dana mengalir dari sub-Sahara Afrika ke kreditor internasional, sementara 40 juta warga mereka kurang gizi. Respons Saya tidak bermaksud membicarakan artiglobalisasi yang sangat luas ini. Saya hanya ingin menekankan bahwa sebenarnya kita tidak bisa begitu saja latah berbicara tentang globalisasi kalau kita tidak mengetahui secara persis apa yang kita maksudkan dengan istilah itu. Kini istilah globalisasi telah mencakup pengertian yang menggambarkan sutau proses atau gerakan multi-dimensi yang bersifat simultan, terutama dalam bidang ekonomi, politik dan budaya. Walaupun demikian globalisasi terutama nampak dalam gerakan ekonomi-moneter yang membuat dunia semakin menyatu dan membawa dampak positif maupun negatif bagi kemanusiaan. Karena itu, saya ingin menekankan pada saat ini bagaimana respons iman kristiani terhadap dampak globalisasi baik yang positif maupun yang negatif. Dari sudut positif, kita harus mampu memberdayakan diri kita sebagai masyarakat untuk memanfaatkan peluang dari arus globalisasi, misalnya dalam hal kemampuan bersaing dalam perdagangan bebas, tentu saja sesuai dengan nilai-nilai luhur, seperti kejujuran dan akuntibilitas di atas dasar keadilan dan kebenaran. Dua kata ini dalam konsep agama, misalnya dalam Alkitab selalu mempunyai makna yang sama: keadilan dan kebenaran Allah adalah Allah sendiri. Dua nilai ini penting dalam menyikapi dan menyiasati arus globalisasi, sebab gejala persaingan dunia bisnis di arena globalisasi ini semakin dilanda oleh ketidakjujuran sebagai akibat persaingan yang semakin ketat. Globalisasi tidak hanya terkait dengan masalah ketidak-adilan ekonomi, tetapi ibarat kanker, telah menjalar dan menyusupi semua aspek kehidupan umat manusia. Bukan saja masalahnya adalah persoalan ketidak-adilan dalam bidang ekonomi moneter, tetapi globalisasi telah menimbulkan begitu banyak masalah, dengan kemajuan yang luarbiasa di bidang informasi dan interaksi manusia. Stackhouse menyebutkan adanya tiga dewa globalisasi yaitu dewa Mammon (materialisme), Mars (perang/kekerasan) dan Eros (pornografi). Tiga dewa ini seringkali berkolaborasi dalam kehidupan etika dan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga etika dan kemanusiaan pada umunya tidak bermakna lagi sebagai norma kehidupan. Materialisme misalnya, telah menciptakan "malaekat" pembangunan yang mendorong orang ingin terus berproduksi dan mengonsumsi supaya materi semakin menguasai kehidupan kita. Dewa Mammon mungkin dapat dianggap sebagai dewa tertinggi dari dewa-dewi ini karena dialah yang paling berjasa melahirkan dua dewa lainnya, bahkan masih banyak lagi dewadewi globalisasi yang sedang lahir dan bermunculan, misalnya dewa Hedonisme dan dewa Konsumerisme. Mammonisme telah menjadi dewa yang paling menguasai umat manusia. Sekarang ini materi seolah telah menjadi ukuran segala sesuatu. Apa saja harus dibeli dan bisa di beli. Mereka yang tidak bisa dibeli dan membeli adalah ateis yang tak bertuhan. Dalam masyarakat mammonistik, agama resmi tinggal menjadi formalistik dan seremonistik. Nilai agama itu telah diganti menjadi nilai Mammon, nilai uang. Tanpa uang Anda tidak bisa menikmati sesuatu dan tanpa nikmat hidup menjadi seolah hampa. Itulah hedonisme, suatu bentuk kehidupan yang mengagungkan kesenangan dan kenikmatan belaka. Membeli dan dibeli, menikmati dan dinikmati, itulah tujuan hidup mammonisme yang telah menyingkirkan semua tujuan hidup lainnya. Akibatnya, hubungan kemanusiaan tidak lain dari hubungan materi.

Tanpa materi, hubungan dengan sesama manusia seolah tidak bernilai. Hubungan kemanusiaan seolah hanya ditandai dengan "transaksi". Baru-baru ini, seorang teman di Belanda menulis kepada mitra kerjanya di Indonesia dengan kata-kata yang sangat dalam menggambarkan situasi ini. "Janganlah hubungan kemitraan kita dilihat seperti sebuah transaksi perbankan sehingga seluruh relasi diukur hanya dengan sejumlah cash". Pernyataan itu sungguh menggugah rasa kemanusiaan kita di arus kuat globalisasi dengan dewa Mammon-nya. Kiranya seluruh relasi kemanusiaan kita perlu dievaluasi dan direnungkan kembali sesuai dengan nilai-nilai luhur agama. Keserakahan Dewa Mars adalah dewa yang kedua, yang merajalela. Perang hanyalah salah satu wujud dari simbol Mars yang sesungguhnya. Mars adalah dewa kekerasan dalam mitologi Yunani. Keperkasaannya selalu menjadi momok baik bagi dewa lain maupun bagi manusia, karena kebengisan yang tercermin dari wajahnya. Bukankah teror yang sekarang ini menjadi kata terpopuler di dunia menjadi wujud paling nyata dari dewa Mars globalisasi? Kekerasan di mana-mana, teror di mana-mana, bukan hanya dalam bentuk bom yang meledak di manamana, tetapi dalam bentuk lain seperti perampokan, pembunuhan, penculikan dan semua bentuk kekerasan yang seolah sah dan wajar dalam kehidupan manusia masa kini. Kekerasan bukan hanya terhadap sesame manusia tetapi juga terhadap lingkungan hidup kita. Kalau kita misalnya merenungkan peristiwa banjir bandang dan longsor yang menelan ratusan korban di Sumatera Utrara, maka nyatalah bahwa itu terjadi sebagai akibat kekerasan manusia terhadap alam. Perambahan hutan sebagai salah satu bentuk kekerasan manusia terhadap lingkungan telah membawa akibat yang sangat fatal. Dewi Eros sesungguhnyalah pembawa cinta dan damai dalam hidup manusia. Tetapi kini, erotisme seluruh dunia merupakan anak kandung dari mammonisme yang menghalalkan segala cara mendapatkan uang. Cyber-porno merupakan salah satu bisnis mengeksploitasi umat manusia demi uang. Kalau ia hanya menjadi bisnis, mungkin tidak terlalu menjadi persoalan. Tetapi pornografi telah merusak moral banyak manusia di dunia dengan penggambaran-penggambaran yang tidak sehat dan tidak mendidik. Apa yang ditonjolkannya hanyalah hedonisme dan kekerasan. Inilah dampak globalisasi yang menyusup melalui komunikasi dan informasi di dunia maya yang melahirkan dewa baru bernama Eros. Pemujuaan terhadap seks di dunia maya ini membawa nilai baru dalam hubungan rumah tangga, hubungan laki-laki dan perempuan dan hubungan antar- manusia seolah tanpa penghormatan terhadap gender. Pada suatu siang, dua remaja yang sedang cekikikan di depan monitor komputer memanggil semua saudara mereka sejumlah 6 orang, laki-laki dan perempuan remaja dan anak-anak berusia 8 tahun. Apa yang mereka tertawakan dengan nikmat? Gambar hati tertembus (maaf) penis, yang baru saja diterima dari seorang rekannya. Tidak ada dunia yang tidak dilanda pornografi, mulai dari internet sampai kepada tampilan handphone yang mini bisa menjadi ajang menikmati pornografi. Dewi Eros (erotica) tak pelak lagi menjadi dewi yang397aling berkuasa di era globalisasi saat ini. Rupanya memang telah terjadi pergeseran paradigma dalam soal agama. Agama lama yang masih formal diakui umat manusia dan Allah atau Tuhan yang benar, sedang dimarginalisasi oleh dewa-dewi baru, yang ternyata lebih menarik dan lebih meyakinkan banyak manusia di

dunia. Materi, kenikmatan, kekerasan dan erotisme sedang menguasai sanubari kita dan ternyata semua itu tidak membuat kita menjadi manusia bebas melainkan menjadi manusia yang semakin terpenjara dan terbelenggu. Karena itu, globalisasi dalam bentuk dewa-dewi baru itu tidak lebih dari dewa-dewi palsu (pseudo-lords) yang menyesatkan; yang karenanya seharusnya diwaspadai dan disiasati.supaya tidak memerangkap kehidupan kita. Kita harus kembali memberi tempat pada Tuhan yang asli dalam kehidupan kita, dalam relasi-relasi kita, baik relasi dengan sesama manusia maupun dengan lingkungan hidup kita. Dengan memberi tempat pada Tuhan yang asli dalam sanubari kita, maka relasi-relasi kemanusiaan kita yang asli dan hakiki akan pulih dan akan memberikan kebebasan dan kemerdekaan yang sejati kepada kita. Dengan mengembalikan Tuhan bertahta dalam hidup kita, maka dewa-dewi globalisasi yang destruktif akan menyingkir dari kehidupan kita. Kita harus mensyukuri keberadaan kita sebagai orang beragama dan ber-Tuhan, karena selalu tersedia kesempatan untuk mengelakkan diri dari pengaruh buruk globalisasi dengan pendampingan dari agama asli yang kita yakini. Kita sedang merayakan nikmat ibadah Puasa yang sedang dijalani oleh umat Islam di seluruh dunia. Kita menghargai nikmat Allah ini sebagai salah satu wadah yang diberikan Tuhan untuk mengevaluasi pengaruh materi, emosi dan seks dalam hidup kita, sehingga mampu mengendalikan diri dan tidak dikuasai. Itulah hakikat keberagamaan yang dapat menjadi salah satu wadah mengalahkan godaan globalisasi. Sumber: Suara Pembaruan Daily

Tokoh Liberal Itu Bernama Denny J.A.


Tulisan ini barangkali sangat terlambat. Namun, saya tetap perlu mengingatkan Kompasianers pada satu tokoh liberal yang beberapa tahun ini berkibar namanya, dan menjelang pemilihan Presiden Republik Indonesia pada 2014 nanti akan laku keras menggiring opini publik lewat lembaga surveynya. Tokoh liberal yang saya maksud adalah Denny J. A. Pada 21 Oktober 2012, Lembaga Survey Indonesia (LSI) Community dan Yayasan Denny JA mengumumkan hasil survey mereka. Kesimpulan yang diambil dari hasil survey lembaga survey yang dimonitori oleh Denny J.A. ini, Indonesia semakin intoleran. Kesimpulan provokatif ini diambil setelah melihat hasil survey yang memperlihatkan, bahwa dari 1.200 responden sebanyak 15-80 persen publik Indonesia merasa tidak nyaman jika hidup berdampingan atau bertetangga dengan orang yang berbeda identitas. Tiga jenis tetangga

yang dikategorikan oleh LSI adalah Syiah, Ahmadiyah, dan homoseksual yang mendapatkan persentase penolakan yang tinggi oleh publik Indonesia. Lanjut Denny, sebesar 41,8 persen publik Indonesia merasa tidak nyaman hidup berdampingan dengan orang Syiah. Sebesar 46,6 persen publik merasa tidak nyaman berdampingan dengan orang Ahmadiyah dan sebesar 80,6 persen publik merasa tidak nyaman berdampingan dengan orang yang memiliki hubungan sesama jenis (baca: homoseksual). Sedangkan mereka yang mengaku hidup tidak nyaman hidup berdampingan dengan tetangga yang berbeda agama sebesar 15,1 persen. Artinya bahwa mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam lebih menerima hidup bertetangga dengan orang yang beda agama daripada hidup bertetangga dengan orang Islam yang berbeda paham seperti Syiah dan Ahmadiyah, ujar Ardian Sopa dari LSI Community, yang penulis kutip dari detikNews (21/10/2012). Perhatikan Kompasianers, LSI mencoba menggiring warga negara Indonesia untuk toleran terhadap mereka yang telah menistakan agama, khususnya agama Islam. Mereka yang kontra terhadap Ahmadiyah dan Syiah dianggap intoleran. Padahal, sebagian Kompasianers sudah tahu dan barangkali sudah membaca, dua kelompok ini sangat bermasalah. Maaf, saya tidak akan membahas di tulisan ini.

Menurut Dr Alimuddin Yasir Ibrahim dari DPP HTI, kesimpulan intoleransi lebih bisa dianggap sebagai opini belaka dengan memanfaatkan temuan survey. Padahal tentu beda antara merasa tidak nyaman dengan sikap intoleran. Orang yang merasa tidak nyaman tidak otomatis ia bersikap tidak toleran. Merasa tidak nyaman bukan berarti akan mengusir, mengasari atau melakukan kekerasan, kata Dr Alimuddin. Selain terhadap Ahmadiyah dan Syiah, warga Indonesia juga dianggap tidak toleran, karena menolak penyakit sosial: lesbian, gay, biseks dan transgender. Menurut pemerhati masalah gender Henri Shalahuddin yang penulis kutip dari situs Hidayatullah (22/10/2012)- menilai, survey LSI adalah konyol dan sarat kepentingan liberalisasi. Kata Henri, setelah isu Jaringan Islam Liberal (JIL) tidak laku lagi, kelompok liberal saat ini memainkan isu LGBT dan Hak Asasi Manusia (HAM) untuk merusak tatanan masyarakat Indonesia. Ada pihak asing yang mendanai kampanye LGBT dan isu HAM dengan omong kosong intoleransi ini semata-mata agar masyarakat mau menerima LGBT dan gaya hidup liberal, jelasnya. LSI ingin membandingkan Indonesia dengan sikap Barat yang jelas-jelas liberal, yang katanya toleran. Perhatikan pernyataan Adrian berikut ini: Sikap intoleransi yang terjadi di Indonesia berbeda jauh dengan masyarakat yang majemuk di negara-negara Barat yang berkisar 2,0-25,0 persen saja tergantung isunya. Sekali lagi, pernyataan tersebut adalah opini yang memberikan stigma negatif kepada umat Islam sebagai masyarakat yang tidak toleran. Membandingkan Indonesia dengan Barat sebetulnya sebuah kebodohan. Betapa tidak, saat ini masyarakat muslim di Barat justru menjadi korban intoleransi di tengah masyarakat yang mayoritasnya non muslim. Tengok saja di Eropa atau Amerika. Dengan berkaca pada fakta yang ada di Barat, perbandingan yang ingin digulirkan oleh LSI tidak berlaku. Saya justru menyimpulkan, LSI adalah lembaga survey yang intoleran. Kelompok yang ingin dikatakan LSI tak lain adalah umat Islam. Benarkah umat Islam Indonesia intoleran? Nanti dulu! Mari kita lihat fakta di lapangan. Beberapa kejadian di Propinsi Indonesia justru umat Islam di Indonesia tidak jarang menjadi korban intoleransi. Di Kalimantan Tengah Sekretaris Umum MUI Provinsi Kalimantan Tengah H Syamsuri Yusuf menyatakan, intoleransi terjadi di kantor-kantor instansi pemerintah. Di kantor-kantor instansi pemerintah masih ada yang menolak keberadaan atau pembangunan mushola. Di NTT nasib serupa dialami pula oleh minoritas Muslim di NTT. Di Kupang, misalnya, sejak tahun 1990 sampai 2008, pembangunan tempat ibadah untuk warga minoritas Muslim di Kelurahan Batu Plat Kecamatan Alak selalu dihalangi. Di Papua umat Islam warga Perumahan Organda, Padang Bulan, Abepura, Jayapura, Papua. Setelah perjuangan yang panjang dan alot akhirnya mereka mengantongi izin untuk membangun. Warga muslim Organda yang berjumlah 60 KK ini pada 2007 akhirnya dapat membangun masjid. Sejak masjid dibangun hingga sekarang teror pelemparan batu terus dilakukan oleh mereka yang tidak suka dengan pembangunan tempat ibadah bagi umat Islam ini. Pelemparan itu kadang terjadi saat azan dikumandangkan atau saat pelaksanaan shalat kadang berturut-turut tiga hari, kadang seminggu sekali, kadang sebulan sekali ketika azan dikumandangkan. (Mediaumat.com, Kamis (14/6/12).

Jadi siapa yang intoleran? Kompasianers, aktor intoleran di balik LSI ini tak lain adalah tokoh liberal bernama Denny J.A. Dalam buku 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia Budi Handrianto (Hujjah Press, 2010) karya, Denny diposisikan sebagai para Penerus Perjuangan bersama tokoh-tokoh liberal lain yang sudah Kompasianers kenal, yakni Ulil Abshar Abdalla. M. Luthfi asy-Saukani, Nong Darol Mahmada, Prof Dr Siti Musdah Mulia, dan beberapa tokoh lain. Tulisan ini sekadar mengingatkan kembali sosok Danny sebagai penggiat liberalisme di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam tulisannya Berharap pada Islam Liberal dalam buku Wajah Liberal Islam di Indonesia (2002), pria kelahiran Palembang, 4 Januari 1963 ini mengatakan: Sudah saatnya komunitas Islam liberal di Indonesia mengembangkan sebuah teologi tersendiri yang sah secara substansi dan metologi, yaitu Teologi Islam Liberal. Ini sebuah filsafat keagamaan yang bersandar kepada teks dan tradisi Islam sendiri, yang memberi pembenaran kepada seluruh kultur liberal. Dalam politik, teologi itu menjadi Teologi Negara Sekuler (TNS), yaitu sebuah filsafat keagamaan, yang menggali dari teks dan tradisi Islam, yang paralel atau membenarkan perlunya sebuah negara yang sekuler sekaligus demokratis.. (Wajah Liberal Islam di Indonesia, Jaringan Islam Liberal, Jakarta, 2002, hal 232-233).

Kisah Gerakan Liberalisme Denny JA dan Yahudi Tengik


Senin, 17 September 2012

Oleh: Nuim Hidayat FILM Cinta Terlarang Batman dan Robin, yang rencananya akan dirilis Oktober 2012 nanti, ternyata berasal dari buku kumpulan Puisi, Denny JA, "Atas Nama Cinta". Bulan April 2012 lalu, salah satu tokoh berpaham liberal ini mencoba kembali mengampanyekan liberalisme lewat puisi-puisinya dalam buku, film, seminar dan lain-lain. Lewat bukunya yang berjudul Atas Nama Cinta, penerbit Rene Book, yang terdiri dari 216 halaman, Denny mencoba mengampanyekan pemikirannya. Perlu diketahui, penerbit Rene Book ini juga yang menerbitkan buku Irshad Mandji: Allah, Liberty and Love. Dalam karyanya ini, Denny menuliskan puisipuisi yang intinya mengajak kepada kebebasan, pembelaan terhadap non Islam dan penyamaan agama. Puisi Denny memang diluncurkan besar-besaran. Selain dipromosikan besar-besaran di Gramedia beberapa bulan lalu, buku ini juga dilombakan resensinya di Majalah Tempo, dilombakan videonya, dibedah di beberapa tempat dan lain-lain. Banyak tokoh memuji buku Denny ini di antaranya Komaruddin Hidayat, Ignas Kleden, Bondan Winarno, M Sobary dan lain-lain. Beberapa tokoh menyebutnya genre baru puisi tapi sebenarnya model puisi ini telah dimulai oleh Taufiq Ismail. Gaya puisinya memang cukup bagus, tapi sesungguhnya jika tidak jeli, isinya melenakan dan membodohkan. Karena ia menggabungkan antara fakta dan fiksi. Detail kejadian atau tokoh itu fiksi, tapi peristiwanya menurutnya fakta. Bagi mereka yang awam khususnya masalah Islam dan sosial politikbisa hanyut oleh puisi Denny JA ini.

foto dari puisi-esai.com

Dalam puisinya tentang Cinta Terlarang Batman dan Robin, misalnya, Denny pintar memainkan kata-kata untuk membela kaum Gay. Di puisi itu ia mengambarkan kisah cinta antara Amir dan Bambang. Amir seorang yang sebenarnya rajin ibadah digambarkan punya kelainan seksual genetis menyenangi pria. Meski mencoba menikahi dua wanita sesuai pesan ibunya agar segera menikahtapi akhirnya kandas. Ia tetap mencintai Bambang seorang gay yang akhirnya menjadi aktivis gay internasional. Bila Hanung Bramantyo kemudian menfilmkan naskah puisi Denny ini dengan latar belakang pesantren dan kabarnya film ini akan dirilis Oktober 2012 ini--- maka sebenarnya Hanung dan Denny bisa dikatakan menggambarkan kejelekan Muslim dan membela opini bahwa gay adalah masalah genetika. Padahal para ahli banyak menyatakan bahwa gay atau homoseksual banyak diakibatkan oleh lingkungan. Karena kalau itu masalah gen tidak bisa disembuhkan, maka

pertanyananya untuk apa adanya pendidikan? Bukankah banyak gen yang berotak bodoh di dunia ini? Begitu juga ketika Denny JA bercerita tentang kisah cinta Romi dan Yuli. Puisi ini sudah dibuat filmnya oleh Hanung. Di puisi ini Hanung berkisah tentang Romi dan Yuli. Ayahnya Romi berasal dari Cikeusik yang merupakan komunitas Ahmadiyah. Sedangkan ayah Yuli dari kalangan Muslim yang anti-Ahmadiyah. Tapi Romi dan Yuli memutuskan untuk tetap meneruskan kisah cinta mereka. Bedah buku dan pemutaran video puisi esai Denny JA ini menjadi puncak acara lomba sastra antar SLTP dan SLTA se- Provinsi Banten pada awal Juni lalu. (lihat http://puisi-esai.com/2012/06/04/pelajar-banten-bedah-buku-denny-ja-tanamkan-toleransi-beragamalewat-sastra/) Sedangkan dalam film yang berjudul Batas yang merupakan pemenang pertama (berhadiah 20 juta) lomba Review untuk buku puisi Denny. Yang jelas, film itu sangat sarat dengan kampanye pluralism, paham yang ditolak kaum Muslim Indonesia dan mempropagandakan perkawinan antar agama. Di film yang berdurasi total 7 menit 1 detik itu, pembuat film Ahmad Syafari mengisahkan percintaan antara Dewi yang Muslimah dan Albert yang Kristen. Mereka cukup lama berpacaran, tapi karena bapaknya Dewi melarang menikah dengan lain agama (Albert) maka akhirnya Dewi menikah dengan laki-laki Muslim. Hanya saja digambarkan di situ meski keluarganya cukup kaya, Dewi tidak bahagia, ia sering melamun ke Albert dan mengingat masa lalunya dengannya. Apalagi di rumahnya Dewi harus mencopot sepatu suaminya (tiap) sehabis pulang kantor. Sementara Albert hidup sederhana dan tetap di gereja yang sederhana (lihat www.puisiesai.com). Film pendek itu memang secara halus menghina Islam. Ketika bapak Dewi dengan pakaian putih dan kopiah putih mengatakan dengan arogan, Aku sangat malu menjadi orang tua yang kena murka Allah, aku tak akan tahan menjadi insan yang dilaknat hanya membiarkan anaknya menempuh jalan yang sesat. Selain itu penggambaran wanita Muslimah yang mencopot sepatu suaminya ketika pulang kantor, juga berlebihan. Karena peristiwa ini jarang terjadi di keluarga-keluarga Muslim. Apa tujuan Denny untuk semua? Denny memang salah satu tokoh yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal (JIL). Ia salah satu tokoh yang aktif menyebarkan faham-faham demokrasi dan kini sedang bergiat aktif menyebarkan faham liberalisme dan pluralismenya melalui esai-puisinya. Di dunia akademik, Denny JA mendirikan Lembaga Survei Indonesia (LSI, 2003) Lingkaran Survei Indonesia (LSI, 2005), Asosiasi Riset Opini Publik (AROPI, 2007), serta Asosiasi Konsultan Politik Indonesia (AKOPI, 2009). Melalui empat organisasi ini, Denny JA dianggap founding father tradisi baru survei opini publik dan konsultan politik Indonesia. Di dunia politik (2004-2012), Denny JA diberi label king maker. Ini berkat perannya membantu kemenangan presiden dua kali (2004, 2009), 23 gubernur dari 33 propinsi seluruh Indonesia dan 51 bupati/walikota. Ia adalah murid kesayangan pengamat politik masalah Indonesia, Prof R William Liddle. Guru besar Ilmu Politik Ohio University yang juga orientalis ini pernah dijuluki Prod Dr Amien Rais "Yahudi Tengik" dalam sebuah wawancara dengan Majalah Media Dakwah terbitan Dewan Dawah Islamiyah Indonesia (DDII). Pria yang akrab disapa Pak Bill itu sejak era 90-an amat dipuja-puja dan dijadikan rujukan media-media di Indonesia, meski ia sangat aktif menulis dengan terang-terangan membela ide-ide sekulerisme, pluralisme dan liberalisme. Wallahu aliimun hakim.* Penulis buku: "Islam Liberal"

Freedom Institute dan Rizal Mallarangeng, Catatan Untuk Liberalisme


| 05 January 2013 |

Dengan berlatar belakang sebuah warna hitam dan tulisan besar, adik kandung mantan Menpora, Rizal Malarangeng dengan antusias menjawab beberapa pertanyaan wartawan. Kasus yang membelit saudara kandungnya itu menjadi motif pentolan LSM Freedom Institute ini melawan arus. Sekalangan elitis membuat julukan untuk pria berkumis ini,KPK Tandingan.

Rizal Mallarangeng (sumber www.merdeka.com)Rizal yang juga sangat kuat menyuarakan liberalisme dan sekularisme ini sangat lantang membela ketidakadilan yang menerpa Andi, akibatnya terlihat berkali-kali juga efek dari aksi yang dirilisnya beberapa hari setelah kantor Menegpora kosong dari jabatan Menteri. Ternyata liberalisme dan sekularisme tidak sepenuhnya dihayati oleh Rizal, karena hanya menyisir kekerabatan dan pertalian darah semata. Sejatinya liberalisme adalah kesetaraan dan pembebasan. Kesetaraan tidak begitu kuat menyentuh relung hati pria lulusan Ohio State University karena hanya peduli kepada nepotisme. Suatu hal yang sering dia umbar pada publik bahwa KKN adalah musuh Indonesia. Upaya untuk membongkar bobroknya dan boroknya pelaksanaan proyek Hambalang kontan membuat orang mencibir, kenapa sesaat setelah adanya pencekalan pada saudara kandung, Rizal bereaksi ? Padahal begitu banyak kasus senasib dan sama ada di negeri berketuhanan YME dan berkeadilan dan peradaban adi luhung yang perlu mendapat perhatian yang dalam. Nyaris semua LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat}, sebagian besar mulai di endus-endus memuat dan mengusung nilai-nilai dari negeri luar dan sarat dengan kegiatan politis dari negera-negara yang berkeinginan kuat merubah Indonesia menjadi negara rusak dan mempunyai nilai-nilai baru yang jauh dari nilai-nilai arif dan berkesyariatan Islam.Dan Rizal, anda telah menunjukkan identitas sebenarnya apa yang dinamakan liberalisme, yakni persaudaraan di dalam norma benar dan salah

Liberalisme di Belanda
Oleh: Herlianto Di Eropa, negeri yang paling sekuler dan liberal adalah Belanda, ini dimungkinkan karena bangsa Belanda termasuk yang paling bebas, terbuka, dan sangat toleran, ini berarti bahwa sifat itu membawa negeri Belanda pada situasi dimana semua faham baru dan perilaku bisa ditoleransikan. Akibat kebebasan sekuler dan liberal telah menjadikan Amsterdam sebagai pusat peredaran obat bius bahkan ada anggota dewan kota yang pecandu narkoba, dan juga menjadi surga perilaku homoseksual. Kebebasan bukannya tidak terbatas, dalam dua dasawarsa terakhir masyarakat umum mulai mempertanyakan: tidakkah kebebasan di Belanda sudah terlalu jauh? (Backlash and Debate, Permissiveness: the Dutch are wondering if things have gone too far, Time Magazine, August 1987, hlm.20-25). Soalnya, kebebasan penggunaan narkoba, pornografi, sex bebas dan perilaku homoseksual sudah merangsang peningkatan kejahatan dan mengganggu kebebasan penduduk lainnya. Belanda adalah negara pertama yang melegalkan Euthanasia. Ruud Lubbers, ketika menjabat perdana menteri, mengeluhkan bahwa Belanda sudah menghadapi Demokrasi yang kelewat batas. Eropa kini menjadi makin sekuler, dan negara yang paling sekuler adalah Belanda. ... Menurut Prof Jongeneel ... penduduk Amsterdam, yang 200 tahun yang lalu hampir seluruhnya beragama Kristen (99%), sekarang tinggal 10% saja yang dibaptis dan ke gereja, kebanyakan mereka tidak terikat lagi dalam agama atau sudah menjadi sekuler. (Sekularisasi Ancaman Bagi Semua Agama, Berita Oikumene, September 1995). Di Belanda, sejalan dengan sekularisme, liberalisme masuk jauh termasuk kedunia gereja. Kenyataan ini memperngaruhi banyak pendeta dan teolog yang termasuk Nederlandze Hervormde Kerk (NHK) yang sudah lebih dahulu terpengaruh Liberalisme maupun Sebenarnya GKN sangat ketat menganut faham pengakuan iman reformasi yang teguh dan melepaskan diri dari NHK tetapi sejak tahun 1960-an NHK mengikuti keterbukaan dimana beberapa teolognya mulai menganggap tradisi gereja sebagai tradisi manusia belaka dan Alkitab sekedar buku dongeng. Keterbukaan akan kesimpulan kritik historis mulai menghinggapi pemikiran para teolog muda setelah para teolog konservatif satu-persatu memasuki masa pensiun mereka. Dalam hubungan perubahan arah digereja arus utama di Belanda, teolog Klaas Runia mengemukakan bahwa penyebab utamanya adalah sekularisme yang kuat melanda negeri Belanda. Dan seperti biasanya usaha para teolog muda untuk menyesuaikan berita mimbarnya dengan tuntutan sekularisme, suatu usaha yang akhirnya tidak bisa direm, sehingga sejak tahun 1972 banyak kritik justru datang dari kalangan Reformed Ecumenical Council (REC, organisasi gereja-gereja Reformed Sedunia) ditujukan kepada GKN, bahkan liberalisme yang makin jauh dipraktekkan pendeta-pendeta GKN, dalam beberapa Sidang Raya REC kemudian, GKN diusulkan untuk dikeluarkan. (Klaas Runia, Perplexing Cousins: The Dutch Churches, The Banner Magazine, May 31, 1993, hlm.8). Memang NHK dan GKN cenderung lebih berurusan dengan pertanyaan modern mengenai Apa arti iman bagi manusia sekuler, apa berita yang bisa disampaikan pada orang di luar

gereja, bagaimana mencegah para pemuda keluar dari gereja, dan bagaimana mengembalikan hubungan transendental dengan yang ilahi yang makin menghilang? Namun, karena pendekatan yang dilakukan adalah lebih bersifat sekuler dan liberal, maka hasilnya banyak gereja ditinggalkan jemaatnya terutama kaum muda. Banyak gereja menjadi kosong, diubah peruntukannya menjadi kelab malam atau bar, bahkan ada gereja yang dibeli konglomerat Indonesia dan dijadikan mesjid! Menarik mendengarkan komentar ahli sosiologi agama Jan Jonkers berkenaan dengan kecenderungan gereja-gereja mapan di Belanda sekarang, yaitu adanya tiga kemungkinan: 1. Gereja kembali kepada tradisionalisme kuno dan konservatisme kaku, atau 2. Gereja terus menerus membuka diri terhadap sekularisme, atau 3. Gereja mencoba secara kreatif mencari terobosan baru dalam menjawab kebutuhan dunia modern. Jonkers mengatakan bahwa kemungkinan 1 dan 2 menjurus pada jalan buntu, karena itu sebaiknya kita memilih kemungkinan ke-3, tetapi ia juga mengatakan bahwa kemungkinan ke-3 tidak hanya membutuhkan kreativitas saja tetapi juga spritualitas yang dalam, ini diaminkan oleh Klaas Runia yang yakin bahwa hal itu membutuhkan: dengar-dengaran dengan taat akan firman Tuhan, disertai doa yang terus menerus agar gereja diurapi dengan kaya oleh Roh Kudus, khususnya juga para teolog dan para pemimpin gereja. (Klaas Runia, Perplexing Ciousins: Where Are The Dutch Churches Headed?, The Banner Magazine, June 7 1993, hlm.13) Yang menarik untuk diamati bahwa akhir abad-20 peradaban dunia diwarnai dengan semangat kembali kepada transendentalisme, maka bilamana gereja membuang yang transendental, dan liberalisme cenderung mengerlingkan mata kepada spiritualitas mistik pantheisme (new age), maka sebagian umat mendapat jalan keluar dalam persekutuanpersekutuan injili dan kharismatik yang kembali menekankan spiritualitas Kristen yang membuka diri pada pekerjaan Roh Kudus. Bagaimana dengan di Indonesia? Gereja-gereja mapan di Indonesia memang umumnya berdiri karena pekerjaan misi NHK (NZG dan NZV) dan juga GKN (NGZV). Sebagian besar gereja-gereja mapan (GPIB, GKI, GKJW, GKP, GMIM dll.) berasal dari pekerjaan misi Hervorm, dan ada juga yang berasal dari pekerjaan misi Gereformeerd (GKI Jateng, GKJ), namun gereja-gereja mapan di Indonesia ini tidak mengalami nasib malang seperti saudarasaudara mereka gereja di Nederland. Ini disebabkan beberapa kondisi yang berbeda: 1. Para utusan misi NHK dan GKN perintis gereja-gereja itu adalah pendeta/utusan misi yang beriman konservatif; 2. Masyarakat Indonesia sebagai bagian masyarakat Timur masih konservatif dan jauh dibandingkan liberalisme Belanda. Orang-orang Indonesia yang konservatif masih sangat terbuka akan hal-hal transendental berbeda dengan orang-orang Belanda yang sekuler dan liberal. Sekularisme belum menjadi masalah; 3. Dikalangan jemaat Tionghoa, ada pengaruh pelayanan penginjil John Sung yang berbekas pada jemaat Tionghoa baik yang baba dan terutama yang totok (Di Tiongkok John Sung melayani bersama Andrew Gih, karena berbeda orientasi dimana Sung menekankan penginjilan massal sedangkan Gih menekankan pelayanan gereja dan sekolah Teologi, keduanya kemudian berjalan sendiri-sendiri. Andrew Gih juga melayani ke Indonesia dan mendirikan Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT);

4. Sekalipun pengaruh liberalisme masuk juga melalui beberapa utusan misi Belanda/Barat terutama melalui pendidikan di STT tertentu, tetapi pengaruh mereka baru sebatas pengaruh terhadap pribadi-pribadi pendeta dan kaum elit tertentu, pengaruhnya kecil ditengah mayoritas jemaat Indonesia yang konservatif; 5. Adanya kebangunan gerakan Injili dan Kharismatik dalam kekristenan di Indonesia merupakan nafas segar bagi konservatisme Kristen (fakta menunjukkan bahwa dalam beberapa dasawarsa terakhir, nyaris tidak ada pembukaan STT ekumenis yang baru, tetapi pada saat yang sama puluhan STT injili dan kharismatik berdiri). Dari pengalaman di Belanda itu, kita bisa melihat bahwa liberalisme cenderung membuat gereja kosong, tetapi konservtisme membuat gereja tetap bertahan mengarungi ombak jaman. Sumber: www.yabina.org

Bantahan Hizbut Tahrir Indonesia Terhadap Buku Ilusi Negara Islam


Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto

Buku Ilusi Negara Islam : Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, yang diluncurkan beberapa waktu lalu itu sebenarnya tidak layak dibaca apalagi ditanggapi. Meski diklaim sebagai karya ilmiah, dan konon merupakan hasil penelitian selama dua tahun, namun semuanya itu tidak bisa menutupi fakta, bahwa buku ini sangat tidak ilmiah dan jauh dari obyektivitas sebuah penelitian. Alih-alih bersikap obyektif, buku ini justru dipenuhi dengan ilusi, kebencian dan provokasi penyusunnya. Inilah yang mendorong kami untuk menanggapi buku ini, khususnya yang berkaitan dengan Hizbut Tahrir, sebagai berikut :

Dari aspek metodologi : Pertama, dari sisi referensi: Buku ini sama sekali tidak menggunakan referensi utama (primer), yaitu buku-buku resmi Hizbut Tahrir. Satu-satunya referensi resmi yang digunakan adalah booklet Selamatkan Indonesia dengan Syariah, itu pun tampaknya hanya dicomot judulnya. Selebihnya, pandangan dan sikap penyusun buku tersebut tentang Hizbut Tahrir didasarkan pada kesimpulan-kesimpulan yang dibangun oleh Zeno Baran dalam bukunya, Hizb utTahrir: Islam's Political Insurgency (Washington: Nixon Center, 2004) dan Ed.

Husain dalam bukunya, The Islamist (London: Penguin Books, 2007). Mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, bahwa baik Zeno Baran yang berdarah Yahudi maupun Ed. Husain adalah sama-sama bukan orang yang ahli tentang Hizbut Tahrir. Ed. Husain yang diklaim sebagai salah seorang pimpinan Hizbut Tahrir terbukti bohong, yang memang sengaja dibangun untuk menunjukkan kredebilitas karyanya, yang sesungguhnya tidak kredibel. Dari sini saja, sebenarnya cukup untuk membuktikan, bahwa buku Ilusi Negara Islam ini sebenarnya tidak ilmiah dan jauh dari obyektivitas. Karena itu, kesimpulan-kesimpulan yang dibangun di dalamnya tidak lebih dari ilusi penyusunnya. Bahkan, buku ini juga sangat narsis, karena kebencian dan provokasi yang ditaburkan di dalamnya mulai dari awal hingga akhir. Tampak jelas, bahwa buku ini disusun dengan target, bukan sekedar untuk mengemukakan pandangan, tetapi untuk memobilisasi perlawanan. Kedua, cara menarik konklusi : Konklusi di dalam buku ini banyak ditarik dengan menggunakan analogi generalisasi (qiyas syumuli), sehingga menganggap semua kelompok dan organisasi yang nyata-nyata berbeda, seperti DDII, MMI, PKS dan HTI sebagai sama. Ini adalah bukti, bahwa buku ini tidak obyektif. Lebih-lebih ketika, sejak pertama kali, penyusun buku ini sudah melakukan monsterisasi terhadap Wahabi, kemudian mengeneralisasi bahwa semua organisasi Islam yang tidak sepaham denganya dicap Wahabi. Ini jelas merupakan kesalahan berpikir yang sangat fatal, dan kalau tujuannya untuk mengungkap kebenaran, maka cara-cara seperti ini tidak akan pernah menemukan kebenaran apapun. Ketiga: inkonsistensi cara berpikir: Buku ini menyerang cara berpikir literalisme tertutup, tetapi pada saat yang sama penyusun buku ini menggunakan teks hadits, dengan makna literal, dan sangat tertutup, karena tidak mau melihat nas-nas yang lain. Seperti, Umirtu an uqatila an-nas hatta yaqulu la'ilaha illa-Llah (Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, hingga mereka menyatakan la'ilaha illa-Llah), yang kemudian ditafsirkan, bahwa ini tidak berarti boleh memerangi orang Kafir, karena tidak ada penegasan tentang keyakinan akan kerasulan Muhammad saw. Dari aspek isi : Buku ini menawarkan: Pertama, Islam yang toleran, tapi anehnya penyusunnya sendiri dengan sangat narsis tidak toleran dengan sesama Muslim, dengan terus-menerus menyerang mereka sebagai kaum literalis tertutup, dan stigma-stigma negatif lainnya. Di sisi lain, ketika mereka sendiri tidak bisa bersikap toleran terhadap kaum Muslim, mereka malah menyerukan toleransi terhadap kaum Kafir, dengan justifikasi bahwa mereka adalah Muslim juga. Malah, ayat dan hadits yang memerintahkan untuk memerangi mereka pun harus ditafsir ulang agar sejalan dengan maksud mereka. Jadi, nalar yang dibangun dalam buku ini jelas sekali, sangat tidak konsisten. Kedua, perdamaian dan Islam yang damai, tapi penyusun buku ini justru menyulut bara api yang sudah padam, seperti sejarah kelam Khawarij dan Wahabi yang sudah dilupakan oleh kaum Muslim. Dalam kasus Wahabi, jelas sekali bahwa ini dimaksud untuk mengadudomba antara NU dan kelompok lain yang dicap Wahabi, karena generasi tua NU memiliki memori yang tidak baik terhadap Wahabi. Lalu, di mana wajah Islam damai yang mereka tawarkan? Cara-cara yang mereka lakukan ini persis seperti yang dilakukan oleh Syasy bin Qaisy, penyair Yahudi, yang mengingatkan kembali permusuhan antara suku Aus dan Khazraj dalam Perang Bu'ats. Kalau betul

mereka menginginkan perdamaian, mestinya bisa bersikap seperti Umar bin Abdul Aziz ketika ditanya tentang Perang Shiffin, dengan tegas beliau menyatakan, "Ini adalah darah yang telah dibersihkan oleh Allah dari tanganku, maka aku tidak ingin membasahi lidahku dengannya lagi." Ketiga, ilusi, kebencian dan provokasi: Meski konon merupakan hasil penelitian, tetapi penyusun buku ini tidak bisa membedakan antara fakta dan ilusi. Sebagai karya ilmiah, seharusnya buku tersebut jauh dari kebencian, dan apalagi provokasi yang sangat narsis. Karena itu, isi buku ini akhirnya terjebak pada kepentingan sponsornya, dan sama sekali jauh dari obyektivitas ilmiah, lazimnya sebuah karya ilmiah. Dari aspek penyusun dan penerbitnya: Sebagaimana diakui oleh Abdurrahman Wahid, buku ini adalah hasil penelitian Lib-ForAll Foundation, sebuah LSM yang memperjuangkan terwujudkan kedamaian, kebebasan dan toleransi di seluruh dunia. Abdurrahman Wahid bersama C. Holland Taylor bertindak sebagai pendiri bersama, sementara bersama-sama KH A. Mustofa Bisri, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Por. Dr. M. Amin Abdullah, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Porf. Dr. Nasr Hamid Abu-Zayd, Syeikh Musa Admani, Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, Dr. Sukardi Rinakit dan Romo Franz Magnis Suseno menjadi penasehat LSM tersebut. Mereka selama ini dikenal sebagai tokoh Liberal. Bersama sejumlah peneliti lapangan, mereka menyusun buku Ilusi Negara Islam ini, yang kemudian diterbitkan bersama oleh the Wahid Institute, Maarif Institute dan Gerakan Bhineka Tunggal Ika. LibForAll Foundation sendiri bermarkas di AS, dan didirikan pasca peristiwa 11/9, dengan tujuan untuk memerangi apa yang mereka sebut Radikalisme Agama. Tokohtokoh Lib-ForAll Foundation di Indonesia juga mempunyai hubungan baik dengan Israel, dan sangat membela kepentingan entitas Yahudi itu. Sebaliknya, mereka selama ini dikenal bersikap sumir terhadap syariah, formalisasi syariah dan kelompok Islam yang memperjuangkan syariah. Adapun tuduhan terhadap Hizbut Tahrir sebagai kelompok yang membahayakan Indonesia, adalah sebuah kebohongan besar. Hizbut Tahrir dengan perjuangan syariah dan Khilafah justru bertujuan untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan akibat Sekularisme, Liberalisme, Kapitalisme dan penjajahan modern di segala bidang. Sebaliknya, Liberalisme dan Sekularisme yang selama ini mereka propagandakan itulah yang telah nyata-nyata merusak dan menghancurkan Indonesia. Atas dasar Liberalisme pula, mereka mendukung aliran sesat (Ahmadiyah, Lia Eden, dll), legalisasi aborsi, menolak larangan pornografi dan pornoaksi, mendukung penjualan aset-aset strategis. Maka, merekalah yang sesungguhnya harus diwaspadai, karena mereka menghalangi upaya penyelamatan Indonesia dengan syariah, dengan tetap mempertahankan Sekularisme dan penjajahan asing di negeri ini. Wassalam, Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto Hp: 0811119796 Email: Ismaily@telkom.net

Kapitalisme: Ketika Yang Miskin Membayar Yang Kaya


Rabu, 27 Juni 2012

Oleh: Muhaimin Iqbal SEAINDAINYA pemerintah kita punya program yang seolah populer setiap bulan memberi santunan misalnya Rp 100 ribu per keluarga miskin di seluruh Indonesia, percayakah Anda bahwa dalam waktu yang sangat cepat kurang dari sepekan hampir semua uang yang ditebarkan ke rakyat miskin itu akan tersedot balik ke Jakarta ke kantong-kantong orang kaya di ibu kota? Lho kok bisa? Itulah salah satu sisi kapitalisme ketika mayoritas produk dan jasa disupply oleh segelintir kelompok penguasa ekonomi yang rata-rata berada di ibu kota atau pusat perekonomian negara. Fenomena penyedotan uang keluarga miskin ini dapat digambarkan kurang lebih begini: Setelah menerima santunan Rp 100,000 per keluarga; maka uang tersebut akan segera habis dibelanjakan untuk kebutuhan dasar mereka. Berikut adalah kurang lebih daftar belanjaan mereka: Mie instant Beras Minyak goreng Gula Garam Tahu Tempe Ikan, Telor, Daging Pulsa Obat-obatan Peralatan sekolah Dlsb.dlsb. Anda bisa bayangkan, mana di antara produk-produk tersebut yang kemungkinannya adalah produk masyarakat setempat? Tidak akan mudah Anda untuk memperoleh salah satunya adalah produk masyarakat setempat. Mie instant mayoritasnya produk segelintir perusahaan di ibu kota, siapapun dan dimanapun membelinya uang akan balik ke produsennya. Kecuali bila Anda tinggal di daerah lumbung padi, beras-pun kemungkinannya didatangkan dari daerah lain dan

bahkan sebagian di impor. Otomatis uangnya akan mengalir ke segelintir pedagang besar beras dan para importir. Minyak goreng, sebagian besarnya produk industry besar. Uangnya tentu mengalir ke mereka. Gula-pun sudah jarang yang mengkonsumsi gula merah produk industri kecil setempat, otomatis mayoritas pembelian gula juga uangnya lari ke para pengusaha dan pedagang besar gula. Garam meskipun tersedia melimpah di daerah tertentu, mayoritas masyarakat perlu membelinya. Otomatis uangnya juga balik ke para pedagang dan pengusaha garam. Tahu- tempe; dahulu biasa diproduksi dari kedelai local yang diproduksi masyarakat setempat. Kini mayoritasnya menggunakan kedelai impor jadi lagi-lagi uang tahu-tempe juga mengalir ke para importir dan pedagang besar. Ikan, telor dan daging ; semuanya mudah diproduksi oleh rakyat mestinya. Tetapi lagi-lagi mayoritas sumber protein hewani ini ternyata berujung di segelintir perusahaan besar dan bahkan sebagiannya juga harus diimpor. Jadi kemungkinan besarnya uang ikan, telur dan daging inipun larinya ke segelintir pengusaha dan pedagang besar dibidangnya. Pulsa, ini dia kebutuhan sekunder atau bahkan tersier yang kini bergerak menjadi kebutuhan primer. Sangat bisa jadi (sebagian) uang santunan-pun berujung untuk pembelian pulsa telpon yang tentu saja hanya bisa disediakan oleh perusahaan-perusahaan raksasa yang ada di ibu kota. Obat-obatan, sangat sedikit yang menggunakan sumber daya masyaraat setempat kemungkinan lebih besarnya juga harus diproduksi oleh perusahaan besar farmasi dan didistribusikan juga oleh pedagang besar farmasi. Ujung-ujungnya uang obat juga berakhir di ibu kota. Peralatan sekolah, buku- pensil seragam semuanya produks siapa ?, siapa yang memproduksi kertas, kain dlsb? Lagi-lagi mayoritasnya akan balik ke segelintir perusahaan/pedagang raksasa yang berujung di ibukota. Well, aliran ini tentu tidak searah. Aliran baliknya juga ada, diluar santunan imaginer tersebut di atas. Uang dari pusat baik yang dari swasta maupun pemerintah , mengalir dalam bentuk upah tenaga kerja, gaji pegawai dlsb. yang kemudian terkirim jauh sampai ke seluruh pelosok negeri. Hanya saja aliran upah atau gaji ini pada umumnya kalah deras dibandingkan dengan aliran kebutuhan konsumsi masyarakat. Walhasil gap antara yang kaya dengan yang miskin menjadi semakin jauh dan semakin jauh. Ketika industri-industri besar yang berperan secara dominan dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat, maka dampaknya tentu produksi masyarakat setempat - yang mewakili masyarakat yang lebih luas - menjadi turun. Ketika produksi masyarakat secara umum turun, maka masyarakat akan cenderung bergeser menjadi masyarakat konsumen dan masyarakat buruh. Maka untuk mengangkat kemakmuran masyarakat secara massal dan berkelanjutan, program utamanya tentu bukan memberi mereka santunan tunai karena ini ujung-ujungnya hanya menguntungkan para produsen yang rata-rata konglomerat tersebut di atas. Juga bukan hanya menciptakan lapangan kerja melalui projek-project industri besar, karena kalau hanya ini yang dilakukan yang terbentuk adalah masyarakt buruh yang semakin jauh gap-nya dengan para pengusahanya. Yang justru sangat penting dilakukan adalah membuka dan mendorong kesempatan berusaha seluas-luasnya. Inilah yang akan melahirkan pengusaha sekaligus lapangan kerja, ini pula yang akan melahirkan produk-produk berupa barang dan jasa dari masyarakat untuk masyarakat. Langkah-langkah ini ada yang bisa dilakukan oleh masyarakat itu sendiri seperti pelatihan dan pembinaan untuk membangun entrepreneurship skills, penyiapan sebagian aspek permodalan dan juga penyiapan sebagian aspek pengelolaan sumber daya. Tetapi ada peran yang mutlak harus dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah, yaitu aspek perijinan, pajak, perbaikan infrastruktur dlsb. Intinya yang kaya maupun yang miskin boleh dan akan tetap ada sampai kapan-pun dan dimanapun, tetapi menjadi tugas para pemimpin untuk menjamin peluang yang miskin untuk terus bisa meningkatkan kemakmurannya bukan sebaliknya membuat yang miskin tambah miskin dan yang kaya bertambah kaya. Lebih penting membuat rakyat menguasai produksi dan pasar secara berkelanjutan, ketimbang menciptakaan pemenuhan kebutuhan sesaat yang malah secara tidak langsung juga menciptakan ketergantungan pada pemerintah pusat. Wa Allahu Alam.*Penulis Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Masih Koma, Otak Ariel Sharon Menunjukkan Akivitas


Senin, 28 Januari 2013

Hidayatullah.comMantan pemimpin Zionis Yahudi Ariel Sharon yang koma selama tujuh tahun belakangan karena stroke, mengejutkan para dokter dengan menunjukkan aktivitas otak yang signifikan. Tim medis di Soroka Medical Center mengatakan, mesin-mesin mereka mendeteksi adanya fungsi otak saat Sharon ditunjukkan foto keluarganya dan diminta untuk membayangkan rumah tempat tinggalnya. Pakar neurologi Alon Friedman mengatakan bahwa hal itu menunjukkan semacam aktivitas menyimak. Kami tidak bisa memperkirakan apapun, yang pasti adalah bagi keluarga dan bagi tim medis yang merawatnya, sekarang kita mengetahui bahwa dia bisa menerima informasi dan bahkan mungkin memprosesnya .. pada tahap tertentu dia berada dalam keadaan sadar, dan ini sangat penting bagi keluarganya, kata Friedman dikutip Euronews Senin (28/1/2013). Tim medis Soroka mengatakan, hasil tes yang dilakukan atas kondisi Ariel Sharon bisa jadi merupakan terobasan dalam riset mengenai koma. Meskipun demikian mereka menegaskan bahwa kemungkinan pria berusia 84 tahun itu untuk kembali sadar adalah sangat kecil. Sharon menjabat perdana menteri Israel dari tahun 2001 sampai 2006, saat dirinya diserang stroke. Tahun 2005 dia mengambil keputusan besar yaitu menarik mundur pasukan Zionis dari Gaza, yang kemudian dianggap sebagai keputusan kelriu oleh sejumlah pihak di Israel.*

Anda mungkin juga menyukai