Anda di halaman 1dari 16

Edisi kelima, Januari 2004 / Fifth edition, January 2004

TANGGUH LNG

The most effective security system for oil and gas companies is combining internal project security contingent with support of the surrounding communities, Minister Hari Sabarno. Babo District Chief The positive effect of the Tangguh Project will be much larger than the negative ones.

Pap

uan re

cr u it e d se c ur it y g u a r d

D A F TA R I S I

NEWSLETTER
EDITORIAL BOARD
President & Resident Manager Bill Schrader Supervisory Board Chairman Nico Kanter Members Ian Sutherland, Gerry Peereboom, Lukman Mahfoedz, Jim Egger, Augustinus Rumansara, David Clarkson Managing Board Editor in-Chief Jacob Kastanja Media & PR Contact Jacob Kastanja Agus Supriyatno Staff Editor Agus Supriyatno Published by Government and Public Affairs Depart. BP Berau, Ltd.
Perkantoran Hijau Arkadia Jl. TB Simatupang Kav. 88 Jakarta 12520 Indonesia Phone : 62-21- 7854 8832, 9274 Fax : 62-21- 7854 9182 Email : agus.supriyatno@bp.com jacob.kastanja@bp.com PO BOX : 1063/JKT 10010

Proyek LNG Tangguh akan Menerapkan Sistim Keamanan Terpadu Berbasis Masyarakat

3 6 7 10 12 14 15

- Micro Bank, Pilihan Strategis Pengembangan Industri Kecil di Bintuni Proyek Tangguh akan membawa dampak positif jauh lebih besar dibanding dengan dampak negatifnya Wawancara dengan Kepala Distrik Babo Tim Panel Penasehat Pemukiman Kembali Mengunjungi Lokasi Proyek Program Pelatihan Guru: Pengenalan Atlas Teluk Bintuni Project Update Foto Galeri

TA B L E O F C O N T E N T S
Integrated Community Based Security for the Tangguh LNG Project Micro Banking as a Strategic Choice For Developing Micro Entrepreneurs in Bintuni

3 6 7 10 12 14 15

- The positive effect of the Tangguh Project will be much larger than the negative ones, Interview with the Chief of Babo District The Advisory Panel on Resettlement Visits Project Site Bintuni Bay Atlas Teacher Training Program Project Update Photo Gallery

Kolom Pembaca
Tabura tercinta,

Pertama saya sampaikan terima kasih karena saya telah dikirimi Tabura News letter edisi keempat Oktober 2003. Semoga saya masih tetap bisa mendapatkan majalah ini untuk edisi-edisi selanjutnya. Nama saya Luki Rumetna, bekerja pada Civil Society Support and Strengthening Program (CSSP) yang didanai oleh USAID dan wilayah kerja saya mencakup Kepala Burung Papua dengan kantor perwakilannya berada di Sorong. Saya senang mendapatkan karena banyak informasi yang bisa saya dapatkan. Saya ingin memberikan masukan terkait program pengembangan ekonomi berbasis masyarakat. Saya berpikir bahwa dalam pelaksanaan program ini kita tidak perlu merubah mata pencaharian masyarakat yang selama ini mereka jalani. Untuk masyarakat yang biasa bertani, biarlah mereka tetap menjadi petani, yang nelayan tetap sebagai nelayan, yang penting adalah mereka menjadi petani dan nelayan yang berhasil yang bisa menabung di Bank, dan pada akhirnya bisa menyekolahkan anaknya dari penghasilan mereka. Jadi yang penting adalah memberdayakan mereka, supaya mereka terus bisa berkembang, dari petani yang tidak memiliki apa-apa menjadi petani yang memiliki sebuah motor johnson dan memiliki sebuah jaring dan perahu yang memadai. Ini adalah merupakan pikiran sederhana saya. Ini saja yang ingin saya sampaikan, terima kasih atas perhatian redaksi Tabura yang telah mengirim majalah tersebut untuk saya. Salam, Luki Rumetna CSSP Sorong

Jl.Bunga Sedap Malam No.38 Telp/Fax (0951)326975 Sorong Papua, 98414. Email : lrumetna@yahoo.com Cssp_sorong@yahoo.com

SELAMAT TAHUN BARU 2004

TANGGUH LNG

HAPPY NEW YEAR 2004

I N D O N E S I A
Para stakeholder yang berbahagia, Sementara Proyek gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) Tangguh terus mencapai kemajuan di segala lini, Tabura kini kembali lagi kehadapan Saudara untuk memberikan informasi terkini sehubungan dengan kemajuan dan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh Proyek.
Dear Stakeholders,

E N G L I S H

With the Tangguh liquefied natural gas (LNG) Project continuing to make progress on all fronts, is now back to update you on the most recent development activities involved in the Project. Six stories have been put together in this edition. They include:

Dalam edisi kali ini, enam buah artikel menarik akan dipublikasikan. Artikel-artikel tersebut adalah : Wawancara eksklusif dengan Kepala Distrik Babo Frans Nicolas Awwak ; artikel mengenai sistim keamanan terpadu berbasis masyarakat, sistim ekonomi berbasis masyarakat, kunjungan tim panel penasehat untuk masalah pemukiman kembali ke lokasi proyek, pelatihan guru-guru di wilayah Teluk Bintuni, dan update mengenai kemajuan proyek. Sebagaimana yang sudah-sudah, tujuan dari semua ini adalah untuk memberikan informasi yang menarik menyangkut kemajuan yang telah dicapai oleh Proyek Tangguh. Kami berharap para pembaca akan bisa menikmati bacaan ini dan menemukan artikel-artikel menarik yang bernilai berita di dalamnya. Salam, Redaksi

An exclusive interview with the incumbent Chief of Babo District, Mr. Frans Nicolas Awwak; An explanation about the Integrated Community Based Security (ICBS); Micro Finance; A report on the visit by the Resettlement Advisory Panel to the project site; Bintuni Teacher Training; A project update.

l l l

l l

As usual, the objective is to provide you with both the background and context of some exciting achievements made by the Tangguh Project. We do hope that you enjoy this publication and find its contents interesting and newsworthy. Regards, The Editor

Reader Column
Dear Tabura , First off all I thank you very much for sending me the 4th edition of Tabura in October last year. I hope that you will keep me in the list of recipient for the forthcoming editions. My name is Luki Rumetna. I work for Civil Society Support and Strengthening Program (CSSP), which is sponsored by USAID. My working area covers the Bird Head region in Papua but my office is based in Sorong. I am happy to read Tabura because I can get a lot of information from it. I would like to give my inputs regarding implementation of community-based economic development programme. I think that implementation of community based economic development programme does not mean that the Project should shift traditional livelihood of the community. I would say that a community members who are used to be farmers, let them be farmers and those who are used to be fishermen, let them go through their live to be fishermen. The most important thing is that they are empowered so that they can become the successful farmers or fishermen, they can save their income in a bank, which will enable them to support education for their own children. So, the most important thing is empowering them, help them develop themselves from the farmer who has nothing to be the farmer who has something (such as out board motor, fishing net, and boat). This is just my simple thought and that is what I would like to share. Again, thank you for your attention and thank you for sending me Tabura. Regards, Luki Rumetna CSSP Sorong

Jl.Bunga Sedap Malam No.38 Telp/Fax (0951)326975 Sorong Papua, 98414. Email : lrumetna@yahoo.com Cssp_sorong@yahoo.com
EDISI KELIMA, JANUARI 2004 / FIFTH EDITION, JANUARY 2004

PROYEK LNG TANGGUH AKAN MENERAPKAN SISTIM KEAMANAN TERPADU BERBASIS MASYARAKAT
Oleh: Unit Komunikasi Tangguh

TANGGUH LNG

INTEGRATED COMMUNITY BASED SECURITY FOR THE TANGGUH LNG PROJECT


By: Tangguh Communications Unit

I N D O N E S I A
Proyek gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) Tangguh berkeinginan untuk menerapkan Sistim Keamanan Terpadu Berbasis Masyarakat (Integrated Community Based Security/ICBS) yang memberikan peluang bagi keikutsertaan semua pihak yang terkait (stakehoder) termasuk masyarakat setempat dalam pengelolaan sistim keamanan proyek. Untuk mendorong pelaksanaan rencana ini, pada tanggal 8 Juli 2003, Lembaga Pertahanan Nasional (LEMHANNAS) bekerja sama dengan BPMIGAS dan BP telah menyelenggarakan seminar nasional untuk mendiskusikan cara terbaik menerapkan sistim ini. Seminar dihadiri oleh berbagai kalangan mulai dari militer, polisi, perwakilan dari masyarakat sipil Papua, pejabat-pejabat pemerintah dan juga media. Seminar sehari tersebut telah menjadi pusat perhatian dari para pihak yang terkait dengan Proyek Tangguh (stakeholders) berkaitan dengan bagaimana sistim keamanan ini akan mendatangkan keuntungan bagi penduduk setempat dan melindungi proyek dari gangguan keamanan. Para peserta dan juga stakeholder Proyek Tangguh yang hadir sangat antusias untuk melihat penerapan sistim keamanan ini dalam Proyek LNG Tangguh. Konsep ICBS yang akan diterapkan oleh Proyek LNG Tangguh ini merupakan sebuah cara pendekatan baru di bidang keamanan. Dukungan dari semua stakeholder adalah suatu hal yang sangat penting bagi kesuksesan sebuah sistim keamanan. Sistim ini juga mengintegrasikan keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaan masalah keamanan Proyek Tangguh. ICBS dirancang untuk mampu mengenali potensi gangguan keamanan secara dini, membicarakan masalah tersebut dan mengembangkan langkah-langkah untuk menanganinya. Pelibatan masyarakat lokal dalam pembicaraan mengenai potensi gangguan keamanan sekaligus cara penanganannya ini akan mendukung pelaksanaan prinsip ICBS yakni: Ancaman lokal harus diselesaikan oleh masyarakat lokal. Apakah itu ICBS ? Tidak semua orang memahami konsep ini secara benar. Dalam penerapannya, ICBS adalah sebuah proses perencanaan bersama yang melibatkan keikutsertaan seluruh stakeholder. Pihak proyek mempunyai komitmen untuk melindungi para pekerja dan fasilitasfasilitas yang dimilikinya secara fisik (antara lain dengan melakukan pemagaran, penerangan dan pengawasan terhadap akses masuk ke lokasi proyek) dan juga dengan mengerahkan satuan-satuan pengamanan (non pemerintah) yang telah dilatih secara baik dan dilengkapi dengan peralatan yang juga terbaik. Masyarakat perlu diikutsertakan dalam pembicaraan penyelesaian masalah keamanan yang muncul dengan caracara damai, tanpa intimidasi, ancaman atau aksi-aksi kekerasan. Kepolisian Republik Indonesia (Polri) juga merupakan bagian yang sangat penting untuk membantu proyek dan
British Ambassador and Plenipotentiary to Jndonesia H. E Mr. Richard Goozney addressing seminar on the integrated community based security. The Seminar was held on 8 July 2003 at the Indonesian National Resilience Institute (Lemhannas).

E N G L I S H
The Tangguh Project aims to adopt an Integrated Community-Based Security (ICBS) system that encourages the participation of all security stakeholders, including the local communities, in the provision of the Project security. To move this program forward, on 8 July 2003 the Indonesian Resilience Institute (Lemhannas), in partnership with the Indonesian Oil and Gas Implementing Body (BPMIGAS) and BP, organized a seminar to discuss the best way to implement the ICBS. The seminar was attended by participants that included the military, police, representatives from Papuan civil societies, NGOs, government officials and the media. The seminar, which lasted one day, has made many Tangguh stakeholders aware of how the security system will produce benefits for the local communities and protect the project as well. The participants and other attending stakeholders were therefore keen to see the implementation of the ICBS security system in the Tangguh LNG Project. The Integrated Community Based Security is a new way of approaching security. It features the support of all stakeholders, which is the essential ingredient to a successful security environment. The ICBS system integrates the participation of the local communities into the Tangguh security concept. The ICBS is designed to identify potential security problems, initiate discussions of these issues and develop countermeasures that have the understanding and acceptance of all security stakeholders. Bringing all parties to the discussion and resolving potential security problems supports the basic principle that a local threat should be solved by the local community. What is ICBS? It is a participatory process that involves all legitimate security stakeholders. The Project commits the resources to protect the employees and facilities through physical means (fences, lighting, and controlling access to operational areas) and uses the best trained and equipped private security guard force possible. The communities role is to join with the Project in resolving all disputes peacefully and without intimidation, threats or violence. The Police are an essential part of the ICBS, assisting the Project and communities when there is a violation of Indonesian law or disruption of peace and order. The police perform their functions through the community policing concept, now being implemented in Papua. Other interested stakeholders are included in the ICBS consultative processes. Only if all ICBS parties properly carry out their responsibilities can the ICBS system function properly and effectively. This recognition of responsibility, mutual respect and cooperation is the key to success. ICBS Seminar Highlights During the ICBS Seminar, the National Police Chief General Dai Bachtiar in his presentation said that security disturbances in the vital oil and gas project area could rapidly escalate. General Bachtiar also said that the National Police were responsible for the whole security system in Indonesia. However, the security of vital projects remains with the operating company and the surrounding communities.
Governor of the Indonesian National Resilience Institute (Lemhannas) Ermaya Suryadinata (left), British Ambassador and Plenipotentiary to Indonesia Richard Goozney (center) and Chief of the Indonesian oil and gas industry's regulator body (BPMIGAS) Rachmat Sudibyo participating in the seminar of integrated community based security (lCBS) which was held on 8 July 2003.

masyarakat dalam penyelesaian masalah atau kasus pelanggaran hukum atau gangguan terhadap

General Bachtiar also stated that the surrounding communities were not only the resources for the project security contingents, but also

EDISI KELIMA, JANUARI 2004 / FIFTH EDITION, JANUARY 2004

TANGGUH LNG

I N D O N E S I A
keamanan sipil lainnya. Polisi menjalankan tugas mereka melalui apa yang dikenal sebagai konsep community policing, yang saat ini tengah diterapkan di Papua. Para stakeholder yang lain juga diikutsertakan dalam proses musyawarah ICBS. ICBS ini akan berjalan secara efektif dan efisien hanya jika masyarakat dan semua pihak terkait lainnya ikut berpartisipasi dengan baik. Kesadaran akan tanggung jawab, rasa saling menghargai dan kerjasama yang baik merupakan kunci dari suksesnya penerapan ICBS. Pokok-Pokok Seminar ICBS Dalam presentasinya di depan para peserta seminar ICBS, Kepala Polri Jenderal Dai Bachtiar mengatakan bahwa gangguan keamanan di proyek-proyek vital industry minyak dan gas dapat berkembang secara cepat. Jenderal Bachtiar mengatakan bahwa di Indonesia, Polri memegang tanggung jawab atas masalah keamanan secara keseluruhan. Namun demikian, keamanan untuk proyekproyek vital tetap menjadi tanggung jawab perusahaan-perusahaan yang mengoperasikannya dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Jenderal Bachtiar juga mengatakan bahwa masyarakat yang berlokasi di sekitar proyek tidak hanya merupakan sumber daya bagi satuan-satuan pengamanan, tetapi sekaligus merupakan potensi bagi gangguan keamanan. Karena itu hal ini harus ditangani secara baik, kata Jenderal Bachtiar, sambil menambahkan bahwa penerapan sistim keamanan proyek juga harus dikoordinasikan dengan pihak kepolisian. Masyarakat setempat juga perlu diberdayakan melalui penerapan metode community policing, yang dikombinasikan dengan program-parogram pengembangan masyarakat (community development). Kombinasi dari dua program ini akan menciptakan harmoni antara penduduk lokal dan pihak perusahaan/Proyek, dan pada akhirnya akan menciptakan situasi yang kondusif di lingkungan proyek. Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno dalam makalahnya mengatakan bahwa dalam Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah disebutkan bahwa peran, tugas dan kewajiban pemerintah daerah dalam penerapan sistim Keamanan Terpadu Berbasis Masyarakat telah meningkat. Menteri juga mengatakan bahwa sistim keamanan yang paling efektif untuk diterapkan dalam industri minyak dan gas adalah kombinasi antara satuan pengamanan yang dibentuk oleh proyek itu sendiri dan didukung oleh masyarakat sekitar. Berdasarkan Undang-Undang No. 2 tahun 2003, tanggung jawab keamanan memang berada di tangan Polri. Tetapi tanpa partisipasi masyarakat maka polisi akan sulit untuk bisa menjalankan tugasnya dengan baik, katanya.

E N G L I S H

From right to left: Philips Kamisopa, Chief of Tanah Merah Village; Marsabat Refideso (LMA Babo) ; Chief of Babo District Frans A wwak and Chief of Babo Police Daniel Pakiding are participating in a workshop on community policing inYogyakarta in December 2003.

represented the potential security threats. That is why they should be managed properly, he said, adding that the implementation of project security system should also be coordinated with the police. The surrounding communities also need to be empowered by implementing community policing methods, combined with a strong community development program. The combination of these two programs will create harmony between locals and the operating company and build a conducive security atmosphere in the project vicinity. In the meantime, Minister of Home Affairs Hari Sabarno, in his working paper, mentioned that under the existing Law No.22/1999 on the regional government, the roles, duties and obligations of the local governments in the implementation of the Integrated Community Based Security have increased. Minister Sabarno also said that the most effective security system for the oil and gas companies was combining the internal project security contingent with the support of the surrounding communities. Based on the existing law no. 2/2003, the security responsibility lies in the hands of the Indonesian police. It is impossible that the police will be able to get their job done without participation from the community, he said.

Governor of the Indonesian National Resilience Institute (Lemhannas) Ermaya Suryadinata (second left), British Ambassador and Plenipotentiary to Indonesia Richard Goozney (center) and Chief of the Indonesia oil and gas industry's regulator body (BPMIGAS) Rachmat Sudibyo participating in the seminar on integrated community based security (JCBS) which was held

A number of representatives of Papuan non-governmental organization participated in the Seminar of Integrated Community Based Security. 8 July 2003. The Seminar was held at the Indonesian Resilience Institute (LEMHANNAS).

EDISI KELIMA, JANUARI 2004 / FIFTH EDITION, JANUARY 2004

MICRO BANK, PILIHAN STRATEGIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL DI BINTUNI


Oleh: Stephen Kakisina Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana

TANGGUH LNG

MICRO BANKING AS A STRATEGIC CHOICE FOR DEVELOPING MICRO ENTREPRENEURS IN BINTUNI


By: Stephen Kakisina Faculty of Economy The Christian University of Satya Wacana

I N D O N E S I A
Perekonomian Bintuni sangat kaya akan sumber-sumber daya alam seperti pertanian, kayu, perikanan dan pertambangan. Kegiatan eksploitasi atas sumbersumber tersebut telah dimulai sejak tahun 1930, ketiga Dutch Oil Company, sebuah perusahaan tambang minyak asal Belanda, beroperasi di Bintuni. Akhirakhir ini juga telah muncul perusahaan-perusahaan besar di bidang perkayuan, perikanan, dan perkebunan kelapa sawit yang menggunakan teknologi modern. Walaupun memiliki sumber daya yang begitu banyak, tetapi mayoritas penduduk di sekitar Bintuni masih hidup dalam garis kemiskinan. Proyek Tangguh menghadapi tantangan terkait dengan cara-cara bagaimana memberikan kontribusi bagi perbaikan ekonomi masyarakat setempat. Sebuah pendekatan strategis yang mungkin bisa diambil adalah dengan cara mengembangkan pengusaha-pengusaha kecil lokal yang bergerak di bidang pertanian dan perikanan. Proyek Tangguh bisa saja berperan sebagai pasar untuk produk-produk lokal tersebut. Pilihan strategis lainnya adalah dengan mengembangkan lapangan kerja dan sumber pendapatan alternatif. Sebagai contoh adalah pengembangan industri rumah tangga di bidang perikanan khususnya untuk penangkapan udang. Jika hal ini bisa dikembangkan, diperkirakan penduduk sekitar Teluk Bintuni akan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jika mereka bekerja sebagai buruh Proyek Tangguh. Untuk mendukung upaya pengembangan pengusaha kecil, pendirian micro bank atau Bank Perkreditan Rakyat (bank yang memberikan fokus layanan pinjaman pada pelaku usaha kecil) adalah merupakan sebuah pilihan dengan alasan sebagai berikut : 1. Bank-bank yang ada saat ini seperti Bank Pembangunan Papua dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) belum cukup memberikan layanan pinjaman bagi pengusaha-pengusaha kecil secara memadai. Dari pengamatan yang dilakukan, di Kota Bintuni telah beroperasi peminjam-peminjam tidak resmi yang mengenakan bunga sebesar 80 hingga 100 persen per bulan. 2. Micro Bank, khususnya Bank Perkreditan Rakyat (BPR) mungkin bisa memberikan layanan yang cocok dan sesuai dengan kondisi para pengusaha kecil lokal. Sebagai contoh, untuk mengembangkan industri rumah tangga, pinjaman sebesar Rp 10 juta mungkin bisa disalurkan. 3. BPR secara berkala juga diawasi oleh Bank Indonesia 4. BPR menerima tabungan-tabungan dari para penduduk lokal sebagai sumber utama untuk membiayai pinjaman, yang pada akhirnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal. 5. BPR bisa menjalankan fungsi untuk mengembangkan kewirausahaan dari penduduk setempat sekaligus memberikan bimbingan kepada masyarakat tentang pengelolaan ekonomi keuangan yang baik. Sebagai langkah pertama, saat ini di desa-desa Tanah Merah dan Saengga telah berdiri organisasi yang merupakan Asosiasi Pinjaman dan Tabungan. Menabung dan kebiasaan menabung merupakan salah satu cara untuk mendisiplinkan masyarakat dalam mengelola keuangan mereka. Tabungan-tabungan ini dan tabungan dari Asosiasi Pinjaman dan Tabungan di atas akan dihubungkan dengan BPR di Bintuni. Dengan demikian, micro bank akan menjadi salah satu pilihan strategis bagi pengembangan wirausaha lokal untuk menciptakan lapangan kerja sendiri dan sebagai sumber pendapatan bagi rumah tangga di desa-desa setempat.

E N G L I S H
Bintuni is rich in natural resources for agricultural, forestry, fishery and mining activities. The exploitation of these natural resources started in 1930 when the Dutch Oil Company began operations in Bintuni. Recently we have also observed big companies engaging in timber production, fisheries and palm oil plantations using modern technologies. Vice President of Integrated Social Strategy, Augustinus Despite this rich endowment of natural Rumansara is presenting micro finance programme which will be implemented by the Project in Bintuni Bay area, resources the majority of the people October 2003. around the Bay still work within a subsistence economy. The Tangguh project faces the challenge of how to contribute to the improvement of the economy of local people. A strategic approach is to develop local micro entrepreneurs in the agricultural and fishery businesses. The Tangguh project may partly function as a captive market for these local products. Another option is to develop alternative employment and sources of income. Take for instance the development of household fisheries, particularly for shrimp. When a shrimp fishery can be developed, it is estimated that a householder living on the rim of Bintuni Bay could earn Roundtable discussion on the development of micro finance programme in Bintuni Bay. The discussion was held at BP a higher income than a laborer working premises in October 2003. Participants included local Papuan in the Tangguh Project. With an representatives, Asia Foundation, and a number of local nongovernmental organizations whose activities focused on the increase in scale, households could community based economic development. earn even more. To deal with micro entrepreneur development, a micro bank would be a strategic choice for the following reasons: 1. Existing banks, such as Bank Pembangunan Papua and BRI (Indonesian People Bank) Unit, operate more on a larger scale in their provision of financial services, which tends not to serve the non bankable micro entrepreneurs at the outskirts of their services. Observations show that in the city of Bintuni informal lenders charge interest rates of 80-100 percent a month. 2. Micro banks, particularly Bank Perkreditan Rakyat (BPR), may tailor their services to fit the conditions of local micro entrepreneurs. For instance, developing a household business may require an average loan of up to Rp 10 million. 3. BPR is regularly monitored by Bank Indonesia (the Indonesian Central Bank). 4. BPR collects local savings as a major source of financing loans, which implies that financial intermediation will stimulate growth in the local economy. 5. BPR may play a role in developing the entrepreneurship of the local people and teaching them how to live in a money economy. Initial steps in the village of Tanah Merah and Saengga have started with the establishment of the Savings and Loan Association. The habit of saving is a tool to discipline people to manage their money and functions as the mother of credit. This Savings and Loan Association will be linked with BPR in Bintuni. Micro banks will indeed be a strategic choice to develop local micro entrepreneurs for self-employment and become a source of income for local households.

EDISI KELIMA, JANUARI 2004 / FIFTH EDITION, JANUARY 2004

PROYEK TANGGUH AKAN MEMBAWA DAMPAK POSITIF JAUH LEBIH BESAR DIBANDING DENGAN DAMPAK NEGATIFNYA
Wawancara dengan Kepala Distrik Babo

TANGGUH LNG

THE POSITIVE EFFECT OF THE TANGGUH PROJECT WILL BE MUCH LARGER THAN THE NEGATIF ONES
Interview with the Chief of Babo District

I N D O N E S I A
Nama : Frans Nicolas Awwak Tempat dan Tanggal lahir : Manokwari, 21 September 1965 Karir : Kepala Distrik Babo (25 February 2003 hingga sekarang), Sekretaris Distrik Amberbaken, Kabupaten Manokwari (1998-2003) Pendidikan : Institut Ilmu Pemerintahan (IIP), Jakarta 1997 Bagaimana pandangan Bapak mengenai Proyek LNG Tangguh ? Terima kasih banyak atas pertanyaannya. Menurut saya proyek tersebut yang berada di daerah Babo atau daerah Teluk Bintuni akan sangat membantu proses pembangunan di wilayah Teluk Bin tuni. Ini jawaban saya sebagai orang pemerintah, tetapi kalau masyarakat mungkin saja mereka akan menjawab lain. Tapi sebagian masyarakat merasakan dampak positifnya dari adanya Proyek itu.

E N G L I S H
Name: Frans Nicolas Awwak Place/date of birth: Manokwari, 21 September 1965 Profession: Babo District Chief (25 February 2003 to present) Secretary to Amberbaken District, Manokwari Regency (1998-2003) Education: Institute of the Government Studies (IIP) 1997 What is your opinion about the Tangguh LNG Project? I think the project will be beneficial for the development of the region. This is my opinion as a government representative, but if you posed this question to the communities, perhaps they would respond differently. Nevertheless, most of the community members feel that the project will have a positive impact on them. Do you mean that the positive effects of the project will be larger than

Maksudnya, masyarakat akan merasakan dampak positif lebih besar di banding dampak negatifnya ?

the negative ones? Yes, (the positive effects will be) much larger than the negative ones. The

Ya, lebih besar dibandingkan dampak negatifnya. Karena masuknya perusahaan ini telah membuka pikiran masyarakat untuk meningkatkan pendapatan dan hal ini bisa membawa daerah ke arah yang lebih maju. Kita bisa ambil contoh, pembangunan lapangan terbang (di Babo). Dan Kampungkampung yang akan terkena dampak langsung. Tadi Bapak mengatakan bahwa Proyek tersebut nantinya bisa membantu, dalam pengertian apa proyek tersebut akan membantu ? Contohnya, masalah ketenagakerjaan. Walaupun di sana sini ada sedikit masalah tetapi hampir sebagian besar masyarakat kita sudah direkrut untuk bekerja di perusahaan/kontraktor-kontraktor yang terlibat dalam proyekproyek persiapan. Ini kenyataan.

existence of the project has opened the peoples minds to the idea of increasing their revenues that could move the development in this region forward. A good example is the development of the (Babo) airport. In addition, beneficial pre-construction activities in directly affected villages have also been taking place. You said that the project will be helpful. In what sense do you think it will be? Employment is an example. Although there is still a problem with unemployment, most of our community members have been recruited to work with the contractor companies which deal with pre-construction work. This is a reality. Does the Tangguh project encourage hope that this will happen?

Apakah Proyek Tangguh menjadi salah satu harapan untuk menyukseskan cita-cita ini ? Ya, Tangguh menjadi salah satu harapan kami. Harapan lainnya apa ? Harapan saya adalah dengan adanya proyek yang besar ini, masyarakat kita terutama masyarakat yang mempunyai hak di situ diprioritskan untuk mendapatkan pekerjaan. Dulu waktu ada pertemuan dengan Pak David Clarkson, memang sudah ada pembicaraan mengenai pemberian beasiswa, ada training-training yang diadakan oleh BP Tangguh sendiri untuk Yes, Tangguh encourages hope. Are there any other expectations from Tangguh? When the project finally gets underway, the community members, especially those who have traditional rights (hak ulayat), will be prioritized for employment. We had discussions with David Clarkson, the Vice President of the Tangguh Project, during which he mentioned that the scholarship and workshop training programmes for local Papuans to increase their skills to enable them to meet the projects job requirements. They are all university graduates. But the

EDISI KELIMA, JANUARI 2004 / FIFTH EDITION, JANUARY 2004

TANGGUH LNG

I N D O N E S I A
mempersiapkan putra-putri daerah supaya bisa bekerja, dan mereka semua rata-rata lulusan sarjana. Yang menjadi masalah dan pekerjaan rumah bagi kita adalah anak-anak tamatan SLTA. Mereka juga menginginkan pekerjaan. Mereka tahu bahwa Proyek besar ini ada di daerah mereka, setelah tamat SLTA mereka pulang kampung dengan harapan bisa bekerja di Proyek. Waktu pertemuan dengan David Clarkson, kami minta BP mempersiapkan mereka juga. Memberikan training yang cocok dengan satu tujuan utama supaya mereka bisa bekerja di proyek. Itu harapan dari masyarakat. Nah kalau dari pengusaha lokal, mereka berharap untuk bisa diikutsertakan dalam pekerjaan, misalnya untuk menyuplai makanan dan lain-lain. Itu harapan yang bisa kami sampaikan. Setiap ada pertemuan, itu sebenarnya inti yang kami bicarakan.

E N G L I S H
problem remains and this is our task. We have senior high school graduates who also want to work in the project. They know that there is a giant project in their region, and they return home with hopes of getting jobs there. During our meeting with David Clarkson, we also discussed this item with him and asked BP to address this issue by providing necessary training for them with the ultimate goal of paving their way to get jobs in the project. That is what the communities hope. The local companies also want to participate in the project. Although we all know that the quality of these companies is poor, they can still be involved in smaller jobs such as supplying food etc. That is the hope that has always been raised during every meeting with BP. Does the government of Babo District believe that BP will meet all its

Apakah Pemerintah Distrik Babo percaya bahwa BP akan memenuhi semua komitmen-komitmennya ?

commitments? Yes and it has been stated by Ishak Fimbay, the CAFT team member, that

Ya (kami percaya) karena sudah disampaikan oleh Pak Ishak Fimbay sebagai CAFT, bahwa (Proyek) akan membangun masyarakat yang mempunyai hak di situ. Kalau komitmen untuk seluruh Papua mungkin sudah ada karena orang-orang yang di training saat ini sudah mewakili seluruh Papua. Beberapa pihak merasa khawatir dan pesimis bahwa proyek bisa membawa banyak manfaat terhadap masyarakat lokal, menurut Bapak bagaimana ? Alasan pertama mungkin mereka membandingkan dengan tempat (proyek) lain di Papua. Kedua, mungkin mereka yang skeptis itu akibat belum memiliki informasi dasar yang baik (tentang Proyek Tangguh) sehingga mereka berfikir bahwa setiap ada proyek besar maka yang diuntungkan adalah penduduk dari luar atau pendatang. Tetapi sebenarnya, keberadaan proyek bisa membawa manfaat besar kepada penduduk lokal, tidak hanya dari segi tenaga kerja tapi juga dari aspek pendidikan dan pembinaan yang diterima dari proyek yang sangat bermanfaat.

the project will help develop communities that have traditional rights there. Even though that is small, it will grow bigger once production begins and the impact will spread across Bintuni and then Papua. If we talk about commitments to Papua, I think BP has made that commitment,as we see with the Papuans who are currently being trained. Certain parties have expressed anxieties that the project will not benefit the locals. What do you think about this scepticism? Firstly, they make comparisons to other projects operating in Papua. Secondly, people may not be well informed. In this case they will simply say that the benefits of the project will only be enjoyed by outsiders rather than locals. But basically, the existence of the project will bring huge benefits to the locals, not only in terms of increased employment but also due to the community development programmes that will be implemented by the project. A number of villages in Babo will be directly affected by the project.

Beberapa kampung di Babo akan terkena dampak langsung dari Proyek. Apakah mereka sudah betul-betul siap?

Do you think that those communities are ready? 100% ready? No, not all of them are 100% ready to accept it. But it does

100 % siap ? belum. Belum semuanya siap 100 %. Tapi tidak berarti kita mengatakan Proyek tidak boleh masuk karena masyarakat belum siap. Itu tidak mungkin. Jadi ini menjadi tangguh jawab bersama, masyarakat, pemerintah dan BP untuk memberdayakan masyarakat, supaya mereka semua semakin siap sepenuhnya.

not mean that the project cannot go on. Besides, it is impossible to prevent the project from being operational and wait for the people to be ready. All of us (the community, local government and BP) have to share responsibility for empowering the local people and preparing them.

EDISI KELIMA, JANUARI 2004 / FIFTH EDITION, JANUARY 2004

TANGGUH LNG

I N D O N E S I A
Sebagai Kepala Distrik Babo, apa yang akan Bapak lakukan untuk mengatasi hal ini (menyiapkan masyarakat agar benar-benar siap) ? Dalam pertemuan kami dengan ketua LMA dan Muspika, kami mengusulkan agar anak-anak lulusan SMA (tidak hanya di Babo tetapi juga di seluruh Teluk Bintuni) bisa melanjutkan ke perguruan tinggi sehingga mereka bisa memiliki keahlian supaya memenuhi syarat kerja di Proyek. Tetapi ini kan tidak mungkin. Jadi kami ingin mereka ini diberi pelatihan-pelatihan khusus. Apakah Pihak Proyek sudah menanggapi apa yang menjadi tuntutan Bapak?

E N G L I S H
As the Babo District Chief, what would you do to make your people ready? In our meeting with the LMA Chief and the district leadership, we proposed that all senior high school graduates attend universities so that they will have necessary skills to meet the job requirements. But sending all of them to universities will also be impossible. So we want them to be trained to acquire special skills. Has the project management responded to your proposal? They have responded, but they have not yet touched on all of the aspects of

Proyek sudah menanggapi, tetapi belum secara menyeluruh Dari sekian banyak harapan terhadap Proyek, apa yang paling penting untuk segera dipenuhi? Pertama yang perlu BP perhatikan adalah koordinasi dengan pemerintah setempat, distrik dan kabupaten. Kalau ada kegiatan pemerintah harus tahu sehingga kalau ada masalah pemerintah bisa tahu dan membantu menyelesaikan. Yang kedua menyangkut ketenagakerjaan, okelah kalau mungkin ada beberapa tenaga kerja yang direkrut dari luar, tetapi khusus untuk di Teluk Binuni, terutama dari DAV harus diprioritaskan dulu. Bapak ingin Proyek ini berhasil, sebagai Kepala Distrik apa yang akan Bapak lakukan untuk menggalang dukungan masyarakat guna menyukseskan Proyek ini ? Pertama, kami akan menertibkan peraturan menyangkut masalah pendapatan daerah supaya bisa dikelola dengan baik untuk kepentingan pembangunan. Yang kedua, khusus untuk Distrik Babo, kami akan mengadakan himbauan kepada para kepala kampung supaya mempersiapkan peraturan kampung (yang sifatnya mendukung) yang berkaitan dengan pembangunan masyarakat.

what we expect. Of the existing expectations that you have, which one should be dealt with by the project most urgently? The first thing that BP should pay its attention to is coordination with the local government at the district and regency levels. The local government has to know about all activities in the region, so that if there is a problem we can help resolve it. Secondly; employment. It is alright if the project recruits some people from outside Papua, but people from Teluk Bintuni, especially from the DAVs, have to be given priority. You wanted to see the project succeed. As the Babo District Chief, what would you do to galvanize the support of your people to make the Project a success? We would integrate the rules and regulations concerning regional incomes so that all regional revenues could be maximized to boost the development process there. Secondly, we would visit villages and request the chiefs of these villages to prepare regulations that would be more in harmony with the rule of law concerning the community development.

EDISI KELIMA, JANUARI 2004 / FIFTH EDITION, JANUARY 2004

TIM PANEL PENASEHAT PEMUKIMAN KEMBALI MENGUNJUNGI LOKASI PROYEK


Oleh: Unit Komunikasi Tangguh

TANGGUH LNG

THE ADVISORY PANEL ON RESETTLEMENT VISITS PROJECT SITE


By: Tangguh Communications Unit

I N D O N E S I A
Sebagai bagian dari kemajuan yang terus dicapai oleh Proyek LNG Tangguh dan sekaligus untuk menunjukkan komitmennnya kepada para stakeholder yang terkait dengan proyek pemukiman kembali (resettlement) baru-baru ini Proyek Tangguh telah menerima kunjungan yang dilakukan oleh Tim Penasehat Ahli Bidang Pemukiman Kembali ke lokasi proyek mulai tanggal 20 hingga 25 Oktober 2003. Kunjungan Tim Panel ini meliputi Babo dan daerah-daerah pemukiman kembali yang terletak di wilayah selatan Teluk Bintuni yaitu: Saengga, Tanah Merah Lama, Tanah Merah Baru, Onar Lama dan Onar Baru. Tim Panel juga berkunjung ke dua desa di wilayah utara yakni Weriagar dan Mogotira, dimana proyek tengah mengadakan program-program pengembangan masyarakat (community development). Kunjungan ini merupakan yang pertama dilakukan oleh Tim Panel sejak mereka dibentuk pada tahun 2001. Pembentukan Tim Panel itu sendiri sejalan dengan semangat lembaga-lembaga donor internasional untuk mempromosikan penggunaan sebuah tim ahli yang tidak memihak untuk mengadakan penilaian dan pengawasan terhadap kegiatan proyek pemukiman kembali. Menurut Bank Dunia dan lembaga-lembaga pemberi bantuan internasional lainnya, tujuan paling penting dan paling mendasar dari proyek pemukiman kembali adalah untuk menjamin bahwa orang-orang atau penduduk yang dipindahkan/dimukimkan kembali harus dibantu guna memperbaiki mata pencaharian dan standar kehidupan mereka atau setidaknya untuk memulihkan kembali dalam arti yang sesungguhnya mata pencaharian dan kehidupan dari penduduk yang dipindahkan sampai, setidaknya, pada tingkatan yang paling tidak sama sebelum mereka dipindahkan. Pendek kata, standar kehidupan dan mata pencaharian dari penduduk yang dipindahkan harus lebih baik dari sebelumnya. Tim Penasehat Pemukiman Kembali Proyek LNG Tangguh saat ini terdiri dari Dr. Michael Cernea dan Dr. Ayse Kudat, yang sangat kaya dengan pengalaman internasional dibidang pemukiman kembali termasuk di Indonesia. Satu orang ahli pemukiman kembali dari Indonesia pada saatnya juga akan bergabung dalam keanggotaan Tim ini.

E N G L I S H

Babo Resettlement Manager Robert Gerrits (right) is explaining the agricultural gardening to Dr. Michael Cernea (second right) in Tanah Merah Baru village, while Vice President of Integrated Social Strategy Augustinus Rumansara (left)

As part of the continuing progress made by the Tangguh LNG Project and to show its strong commitment to the local affected villages, the Tangguh Project recently hosted a visit by the advisory panel on Resettlement to the project site from 20 to 25 October 2003. The visit, among other things, covered Babo, and the area of resettlement sites on the south shore of Bintuni Bay which includes: Saengga, Tanah Merah Lama, Tanah Merah Baru, Onar Lama and Onar Baru. The Panel also visited two villages on the north shore area which included Weriagar and Mogotira where the Project is sponsoring a number of community development programme. This was the first visit to take place since the Panel was established in 2001. The establishment of the panel concurred with the spirit of multinational donors to promote the use of an independent panel to review and monitor resettlement projects. According to the World Bank and multinational donors, the most important and fundamental objective in resettlement is that the displaced persons should be assisted to improve their livelihood and standard of living or at least restore them in real terms to pre-displacement levels or to levels prevailing prior to the beginning of project implementation, whichever is higher. In short, the living standard and livelihood of the displaced persons should be better than before they are moved. The advisory panel on resettlement for the Tangguh LNG Project now consists of Dr. Michael Cernea and Dr. Ayse Kudat, who have wide ranging international experience in resettlement, including in Indonesia. One Indonesian resettlement expert will also be included in the panel membership.

Members of Advisory Panel on Resettlement Dr. Ayse Kudat (right) and Dr. Michael Cernea (second right), accompanied by Vice President of Integrated Social Strategy Augustinus Rumansara (third right) and Project Support Coordinator Marcianus Zada Ua are observing clean water project in Babo village during their visit to the project site in October 2003. The Tangguh Project is sponsoring a number of community development initiatives, which include health care programme which is intended to address local health problem such as diarrhea outbreak.

10

EDISI KELIMA, JANUARI 2004 / FIFTH EDITION, JANUARY 2004

TANGGUH LNG

I N D O N E S I A
Tujuan dari Tim Panel ini adalah untuk :
l l

E N G L I S H
The purpose of this panel is to:
l l

Memberikan verifikasi pihak ketiga atas proses pengawasan internal Memberikan nasehat dan masukan-masukan yang terkait dengan pelaksanaan

Provide third party verification of the internal monitoring process Provide the programme with advice and feedback to the implementers, project

program pemukiman kembali kepada pemilik proyek, pelaksana dan juga masyarakat lewat pembuatan laporan-laporan yang sifatnya tidak memihak.
l

owners and public through independent reports

Meyakinkan bahwa pendapatan penduduk yang dipindahkan dan mata

pencaharian mereka telah diperbaiki sejalan dengan tujuan-tujuan dari pemukiman kembali; dan
l Menyiapkan, empat tahun seteleh proses pemindahan ini selesai, audit mengenai

pengambil alihan tanah dan pembayaran kompensasi untuk menentukan bahwa kegiatan pemukiman kembali tersebut telah memenuhi ketentuan-ketentuan internal, nasional dan internasional. Selama mengadakan kunjungan ke kampung-kampung, Tim Panel mengadakan berbagai pembicaraan dan pertemuan dengan masyarakat lokal, para pemuka masyarakat dan para pihak terkait lainnya yang berhubungan dengan proyek pemukiman kembali, termasuk dengan kelompok-kelompok perempuan guna membicarakan berbagai hal dan persoalan. Pertemuan-pertemuan tersebut telah menjadi sebuah forum yang sangat bermanfaat bagi semua pihak, tidak hanya untuk mengutarakan pandangan-pandangan mereka tetapi juga untuk bertukar informasi dan pengalaman. Hasil dari kunjungan ini sangat memuaskan bagi semua pihak. Sementara masyarakat setempat menyambut kunjungan ini, Tim Panel juga telah memiliki kesempatan untuk mengenali aspek-aspek yang terkait dengan kegiatan pemukiman kembali yang saat ini tengah berlangsung yang mereka anggap masih harus mendapat perhatian dari pihak Proyek. Menjelang kunjungan ini berakhir, Tim Panel mengutarakan dukungannya kepada kegiatan pembangunan pemukiman kembali yang saat ini tengah dilakukan dan meminta masyarakat untuk secara aktif turut terlibat dalam kegiatan-kegiatan proyek, agar Proyek ini bisa mendatangkan manfaat yang jauh lebih besar bagi kesejahteraan hidup In the course of the visit to all villages, the Panel engaged in a number of discussions and meetings with the local communities, village leaders and other local resettlement stakeholders including women's groups to address various issues. Those discussions and meetings provided a useful forum for all parties not only to express their views, but also as a forum to exchange information and experience. The outcome of the visit was positive for all participants. While the villagers welcomed the visit, the panel also had an opportunity to identify aspects of the ongoing activities that they felt required more attention from the project. Upon the completion of the visit, the panel expressed its strong support for the ongoing development activities which have been carried out by the project and urged the communities to participate actively in project activities so as to generate maximum benefits for their own well being.
Vice President of the Integrated Social Strategy (ISS) Augustinus Rumansara and Dr. Michael Cernea ( Second left) engage in a conversation with member of the Tanah Merah Resettlement Committee (third left holding a booklet) during the panel visit to the project site in October 2003, while other villagers look on.

Verify that the resettled villagers' income and livelihoods have been enhanced Prepare, four years after the completion of the move, a land acquisition and

in accordance with the resettlement goals ; and


l

compensation audit to determine if the resettlement has fulfilled internal, national, and international guidelines.

Members of Advisory Panel on Resettlement Dr. Michael Cernea (with camera) and Dr. Ayse Kudat (cut off the tree) are walking through Tanah Merah Village during their visit in October 2003.

EDISI KELIMA, JANUARI 2004 / FIFTH EDITION, JANUARY 2004

11

PROGRAM PELATIHAN GURU: PENGENALAN ATLAS TELUK


Oleh: Karla M Boreri Penasehat Senior Bidang Lingkungan dan Koordinasi DGS/GDA Tangguh ISS - BP Indonesia

TANGGUH LNG

BINTUNI BAY ATLAS TEACHER TRAINING PROGRAM


By: Karla M Boreri Senior Environmental Advisor & DGS/GDA Coordination

I N D O N E S I A
Teluk Bintuni terletak di ujung timur kepulauan Indonesia di sebelah barat Pulau Nugini, sebuah tempat dimana terdapat hutan mangrove yang terbesar di kawasan Asia Tenggara (lebih dari 1,000,000 acres). Kabupaten Teluk Bintuni dihuni oleh sekitar 27,939 penduduk yang terbagi dalam 7 kelompok etnis besar dan berbicara dalam 8 bahasa atau lebih). Mereka terbagi dalam lebih dari 100 kelompok marga yang tersebar sepanjang wilayah 13,000 km2.

E N G L I S H
Bintuni Bay sits at the Eastern end of the Indonesian archipelago on the western side of the island of New Guinea, and is home to Southeast Asias largest intact old growth mangrove forest

Dengan garis pantai sepanjang kurang lebih 1,400 km, ekonomi Teluk Bintuni didominasi oleh sumber-sumber daya alam seperti udang, ikan, kayu, dan sekarang ini gas alam. BP melalui program Strategi Sosial Terpadunya (Integrated Social Strategy/ ISS) tengah mengadakan program-program di bidang lingkungan dan sosial dengan menggunakan metode kemitraan, yang sejalan dengan amanat Amdal. Tujuannya adalah untuk memberdayakan masyarakat Papua dengan cara meningkatkan kapasitas mereka supaya bisa berpartisipasi dalam prosesproses pembangunan. Salah satu bentuk kemitraan yang penting adalah Aliansi Kepala Burung (Birds Head Alliance/BHA). Ini merupakan sebuah aliansi yang dijalin oleh BP dan USAID (Lembaga Bantuan Amerika Serikat untuk Pembangunan Internasional) melalui Aliansi Pembangunan Global (Global Development Alliance/GDA). Salah satu dari tujuh program yang dijalankan oleh Aliansi ini adalah pengembangan Atlas Sumber Daya Pesisir Teluk Bintuni. Kesemua program yang dijalankan oleh Aliansi ini sangat membantu BP dalam memenuhi komitmennya terhadap Strategi Penyebaran dan Pemerataan Pertumbuhan (Diversified Growth Strategy/DGS).
The town of Bintuni.
Monique

(more than 1,000,000 acres). The Kabupaten of Teluk Bintuni is also home to more than

27,939 people from seven ethnic groups (speaking 8+ languages). They live in over 100 clan groups spread over 13,000 square kilometers.

With a coastline of around 1,400 km, the Teluk Bintuni economy is dominated by natural resources like shrimp, fish, timber, and now natural gas. BP, through its Integrated Social Strategy, or ISS, is undertaking a series of social and environmental programs and partnerships aligned with Tangguhs integrated environmental impact assessment (AMDAL), aimed at empowering Papuans by increasing their capacity to participate in the development process. One key partnership is the Birds Head Alliance, (BHA), a BP USAID Global Development Alliance. The Atlas Sumberdaya Pesisir Teluk Bintuni is one of seven BP-USAID BHA programs. The BP USAID BHA programs help BP meet its commitment to the Diversified Growth Strategy.

Pada bulan Juni 2003, Mitra Pesisir, Proyek Menejemen Sumber Daya Pantai II (the Indonesia Coastal Resources Management Project II/CRMPII) sebuah proyek yang dibiayai oleh USAID, bekerja sama dengan BP dan pemerintah kabupaten dan propinsi, Universitas
The Atlas Sumberdaya Pesisir Teluk Bintuni
Proyek Pesisir 2003

In June 2003, Mitra Pesisir, the Indonesia Coastal Resources Management Project II (CRMPII) for Indonesia - a USAID-funded project, partnered with BP and Provincial and Kabupaten governments, Universitas Negeri Papua, local communities and NGOs to complete The Atlas Sumberdaya, a resource atlas for Bintuni Bay. BP provided technical support and environmental and social data from the Tangguh LNG Project AMDAL. The Atlas identified and mapped natural resources, transportation links, population and demographics, health and education issues, and other details specific to the region for the first time.

Negeri Papua, masyarakat setempat

dan lembaga swadaya masyarakat telah menyelesaikan pembuatan Atlas Sumber Daya, sebuah Atlas yang memberikan informasi mengenai sumber-sumber daya yang dimiliki oleh Teluk Bintuni. BP memberikan bantuan teknis dan menyediakan data-data lingkungan dan sosial yang di sarikan dari dokumen AMDAL. Untuk pertama kalinya Atlas ini menjelaskan dan memetakan sumber-sumber daya alam yang ada di Teluk Bintuni, jalur transportasi, jumlah penduduk dan penyebarannya, masalah kesehatan dan pendidikan, dan masalah-masalah lain secara mendetail yang ada di wilayah tersebut.

As with previous Atlases, the Bintuni Atlas was intended to be a tool to assist the people of the region to make informed decisions about social, cultural, environmental planning, and natural resource issues. It was also intended to inform a regional spatial plan for the Birds Head under the guidance of the Diversified Growth Strategy (DGS) Secretariat led by BP3D in Jayapura, with technical and funding assistance from UNDP and BP.

Sebagaimana atlas-atlas sebelumnya, Atlas Teluk Bintuni dimaksudkan sebagai alat untuk membantu masyarakat di wilayah tersebut dalam membuat keputusankeputusan yang menyangkut masalah sosial, budaya, perencanaan lingkungan, dan masalah-masalah lain yang terkait dengan pemanfaatan sumber daya alam lainnya. Atlas ini juga dimaksudkan untuk memberikan informasi mengenai rencana tata ruang daerah di wilayah Kepala Burung sesuai arahan Sekretariat DGS yang dipimpin oleh BP3D di Jayapura, dengan bantuan teknik dan keuangan yang disediakan oleh UNDP dan BP. A targeted education program was developed for the Bintuni Bay Atlas so that its utility could be demonstrated to local government and the wider community. In October 2003, working in conjunction with The Nature Conservancy and BP, the Center for Civic Education Indonesia (CCE) was invited to support this effort by contributing its Papua training team and the use of its text, Kami Bangsa Indonesia. The partners developed a specialized teacher training for use in Bintuni, which took place from 17-22 November. Trainers, teachers and observers

12

EDISI KELIMA, JANUARI 2004 / FIFTH EDITION, JANUARY 2004

TANGGUH LNG

I N D O N E S I A
Sebuah program pelatihan guru-guru di kawasan Teluk Bintuni dilaksanakan pada tanggal 17-22 November. Program ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mengenalkan, dan mengampanyekan Atlas Teluk Bintuni, manfaat dan penggunaannya. Selama pelatihan berlangsung, para pelatih, guru, dan pengamat ditempatkan di rumah-rumah penduduk desa setempat.

E N G L I S H
were quartered in local homes.

Twenty-nine teachers from nine schools in the area participated in the training. The teachers will instruct 900 students in their schools. Their interest and enthusiasm was remarkable, and never seemed to waver. During the training the group benefited from the full support and participation of the
Monique & Bill Ryan

Sebanyak 29 guru dari sembilan sekolah di wilayah Bintuni ikut serta dalam program pelatihan tersebut. Mereka mewakili kurang lebih 900 orang siswa dari 9 sekolah. Semangat dan antusiasme mereka sangat tinggi dalam mengikuti pelatihan ini, dan sepertinya semangat mereka tidak akan pernah surut.

Education and Training Office (Dinas Pendidikan dan Pengajaran), the

Papua trainees are preparing materials for a presentation during the Bintuni Bay Teacher Training

Regional Development and Planning Board (Bappeda), and the Head (Bupati) and Secretary (Sekertaris Daerah) of Kabupaten Teluk Bintuni. Also in attendance were tribal, religious and community leaders and the Lembaga Masyarakat Adat.

Instruction of students using KBI and the Bintuni Bay Atlas will take place over the coming months and a kabupaten wide showcase of student presentations will take place in March 2004. The showcases gives an opportunity for the community to hear the story of the students projects and proposals, and gives the students the experience of sharing their work in a public forum. Hopefully Kabupaten Teluk Bintuni will be eligible to send a team to the Papua-wide competition planned for June 2004 in the Provincial capital of Jayapura.
Monique & Bill Ryan

Bintuni Bay teacher training. As many as 29 teachers of nine schools represent 900 students across Bintuni Bay participated in this training.

Selama pelatihan berlangsung, para peserta juga mendapat dukungan dari Kantor Departemen Pendidikan Nasional dan Kantor Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah, termasuk Bupati dan Sekwilda Kabupaten Teluk Bintuni. Para pemimpin agama, pemuka masyarakat dan tokoh adat juga ikut hadir dalam pelatihan tersebut.

Para guru yang telah mengikuti pelatihan tersebut akan mengajarkan ilmu yang mereka dapat kepada para siswa, dengan menggunakan Atlas Teluk Bintuni, selama beberapa bulan mendatang. Sebuah lomba presentasi tentang studi kasus akan diadakan pada bulan Maret 2004, yang melibatkan para siswa di seluruh Teluk Bintuni. Dalam lomba ini para siswa akan memaparkan presentasi temuan mereka mengenai kasus-kasus tertentu yang berhubungan dengan Atlas Teluk Bintuni. Pemaparan oleh para siswa ini akan memberikan kesempatan kepada masyarakat setempat untuk mengetahui temuan-temuan para siswa, usulan dan langkah-langkah untuk penanganannya. Lomba ini juga diharapkan akan menjadi forum untuk bertukar pengalaman di depan publik. Mudah-mudahan Kabupaten Teluk Bintuni akan bisa mengirimkan satu team untuk ikut dalam perlombaan yang sama di tingkat propinsi yang akan dilaksanakan pada bulan Juni 2004 di Jayapura.
Monique & Bill Ryan

Papua trainer is giving presentation before participants during the Bintuni Bay Teacher Training. The training was enjoyed support from the offices of Education and Training and the Regional Development and Planning Board of Bintuni.

EDISI KELIMA, JANUARI 2004 / FIFTH EDITION, JANUARY 2004

13

PROJECT UPDATE
Oleh: John Tan dan Unit Komunikasi Tangguh

TANGGUH LNG

PROJECT UPDATE
By: John Tan and theTangguh Communications Unit

I N D O N E S I A
l

E N G L I S H
l

Pada bulan September 2003, BP atas nama Proyek Tangguh

In September 2003, GE Oil & Gas, a GE Power Systems business,

memberikan kontrak senilai US$ 90 juta kepada GE Oil & Gas, untuk memasok mesin kompresor bertenaga turbin yang akan digunakan oleh Proyek LNG Tangguh di Indonesia. Alat ini akan dipakai dalam train pertama yang akan dibangun di wilayah Kabupaten Teluk Bintuni, Propinsi Papua, Indonesia.

was awarded a contract worth approximately US$90 million by BP on behalf of Tangguh to supply gas turbine-driven compressors for the Tangguh LNG Project in Indonesia. The equipment will be used in the first compressor train for the new LNG facility, which will be constructed in Bintuni Bay Regency, Papua Province, Indonesia.

In mid December 2003, BPMIGAS, (the Indonesian executive agency

for Oil and Gas) and BP signed a Heads of Agreement with Sempra Energy LNG Corp. for a 20-year supply of liquid natural gas (LNG) from
l

Pada pertengahan Desember 2003, BPMIGAS, BP dan Sempra

Indonesia to markets in the US and Mexico.

Energy LNG Corp. menandatangani pokok-pokok perjanjian (Heads of Agreement/HoA) untuk memasok LNG dari Tangguh ke pasar-pasar di Amerika Serikat dan Meksiko selama 15 tahun, mulai 2007.

Menurut perjanjian tersebut, sebanyak 3,7 juta ton LNG per tahun

akan dikirim dari lapangan gas Tangguh di Indonesia ke pusat import LNG dan terminal-terminal LNG milik Sempra di dekat Ensenada di Baja California, Mexico.

Tangguh marketing team and its Indonesian partners were pictured after signing off ceremony with Sempra Energy LNG Corp, on 18 December 2003. From third left to second right: Mr. Djoko Harsono (Chief of Marketing Unit BPMIGAS), H.E Mr. Sumadi Brotodiningrat (Indonesian Ambassador and Plenipotentiary to the US), H.E Mr. Purnomo Yusgiantoro (Indonesian Minister of Energy and Mineral Resources), Mr. Kardaya Warnika (Deputy Chairman of BPMIGAS), Mr. Lukman Mahfoedz (Senior Vice President Tangguh LNG), Mr. Waryono (Directorate of oil and gas, the ministry of energy and mineral resources), Mr. Gerry J. Peereboom (President Tangguh LNG), Mr. Edy Hermantoro (Directorate of oil and gas, ministry of energy and mineral resources).

Perjanjian tersebut juga mengatur tambahan pasokan LNG selama

Under this agreement, 3.7 million tons of LNG per annum will be

lima tahun ke Sempra yang akan dihasilkan dari ladang-ladang gas lain di luar Tangguh.

delivered from the Tangguh fields in Indonesia over a period of 15 years beginning in 2007 to Sempra's proposed LNG import and re-gasification terminal near Ensenada in Baja California, Mexico .

But the agreement also provides for an additional five years of LNG

supply to Sempra's terminal from other Indonesian LNG sources.

14

EDISI KELIMA, JANUARI 2004 / FIFTH EDITION, JANUARY 2004

PHOTO

TANGGUH LNG

GALLERY

Chief of the Indonesian oil and gas industry's regulator body (BPMIGAS) Rachmat Sudibyo is banging a "gong" to mark the opening of seminar of integrated community based security. The seminar was organized by the Indonesian National Resillience Institute (Lemhannas) on 8 July 2003.

Vice President of Integrated Social Strategy (lSS) Augustinus Rumansara (far right) and Dr. Stephen Kakisina of the Christian University of Satya Wacana (far left) participated in a roundtable discussion of micro finance organized by BP in October 2003. The discussion was aimed at identifying key issues toward development of micro economic enterprises in Bintuni Bay area.

Agricultural gardening in Tanah Merah Baru. The Tangguh Project is sponsoring a number of agricultural gardening programs, which have been implemented especially in the resettlement - affected communities. This is part of the Project commitment to undertake income restitution program dedicated to the resettlement affected communities.

Bintuni Bay Mangroves are believed to be the largest intact old growth forest in Asia. In February 2003, as part of BPs Biodiversity Action Plan, conservation partners The Nature Conservancy and UNIPA undertook a Mangrove survey in the area, which was aimed at developing a biological baseline for future management planning efforts. The survey also provided field-based training for UNIPA staff and documented the potential natural resource pressures facing the mangroves and surrounding areas.

EDISI KELIMA, JANUARI 2004 / FIFTH EDITION, JANUARY 2004

15

Taroian children are throwing net to catch prawn and fish in the Bay. In addition to sago cultivation, prawn catching and fishing are the main livelihood for coastal communities in Bintuni Bay.

Intensive cultivation of vegetable gardening. This is another part of the livelihood development program, which is sponsored by the Project to create independence among the resettlement - affected communities to the project.

A Saenggan women and her children are heading to the Bay to catch prawn and fishing. Prawning, fishing and sago cultivation are traditional livelihoods for the locals.

Weriagar children are playing football. No matter how limited the infrastructure is, these children seem to have no problem in going through their life. Weriagar is one of village on the north shore of Bintuni Bay, which is categorized into the directly affected village where the project is sponsoring a number of community development initiatives.