Anda di halaman 1dari 5

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Bimbingan dan konseling tidak bisa dilepaskan begitu saja dari dunia pendidikan di Indonesia. Dalam dunia pendidikan, baik formal maupun non formal, bimbingan dan konseling merupakan salah satu penunjang keberhasilan pendidikan. Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling, bukan sekedar diakui atau tidaknya dalam dunia pendidikan, namun yang lebih penting adalah upaya memfasilitasi peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya. Peserta didik yang berada dalam proses perkembangan ini tidak selamanya selalu berkembang dan berjalan dalam alur yang linear, lurus, atau searah dengan potensi, harapan, dan nilai-nilai yang dianut. Perkembangan tersebut tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis, maupun sosial. Pengaruh tersebut kemudiaa juga tidak hanya selalu berdampak positif, akan tetapi ada yang memberikan dampak negatif. Dengan demikian, perlu adanya upaya pencegahan dampak negatif tersebut melalui suatu pendidikan yang bermutu, yaitu pendidikan yang memiliki tiga bidang yang terdiri atas manajemen dan supervisi, pebelajaran bidang studi, serta bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling memiliki pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan adanya kolaborasi dengan berbagai pihak terkait yang diimplementasikan kepada upaya memfasilitasi peserta didik dalam aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir. Demi terciptanya tujuan-tujuan tersebut, praktek pelayanan bimbingan dan konseling ini terdiri dari empat komponen, yaitu pelayanan dasar, pelayanan responif, perencanaan individual, dan dukungan sistem, yang

kesemuanya dijbrakan lagi dalam 22 strategi pelayanan bimbingan dan konseling. Salah satu strategi pelayanan bimbingan dan konseling tersebut adalah layanan orientasi. Layanan orientasi ini memiliki kedudukan yang penting karena ini merupakan salah satu kategori pelayanan dasar bimbingan dan konseling yang diberikan kepada semua peserta didik. Dalam pemberian layanan orientasi tersebut sangatlah erat

hubungannya dengan bagaimana kondisi dari konselor, konseli, dan staf sekolah lain serta orang tua dan lingkungn masyarakat yang dimiliki oleh konseli. Dari berbagai pihak tersebut membawa muatan sosial budaya yang mampu mempengaruhi pemeberian layanan orientasi.

B. Topik Bahasan Berdasarkan latar belakang yang kami sampaikan tersebut, maka topik bahasan dalam makalah ini adalah : 1. Apakah pengertian layanan orientasi? 2. Bagaimana kaitan layanan orientasi dengan bidang bimbingan dan konseling? 3. Bagaimana kaiatan antara situasi di sekolah menengah pertama dengan landasan sosial budaya dan layanan orientasi?

C. Tujuan Pembahasan Tujuan dari pembahasan yang akan dilakukan adalah : 1. Apakah pengertian layanan orientasi, 2. Bagaimana kaitan layanan orientasi dengan bidang bimbingan dan konseling, 3. Bagaimana kaiatan antara situasi di sekolah menengah pertama dengan landasan sosial budaya dan layanan orientasi.

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian layanan orientasi Menurut Drs. Tawil dalam Diktat Mata kuliah Dasar-Dasar Bimbingan Konseling : Layanan orientasi ditujukan bagi siswa baru dan pihak lain guna pemahaman dan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah yang baru dimasuki. Menurut Prayitno, Layanan orientasi yaitu layanan konseling yang memungkinkan klien memahami lingkungan yang baru dimasukinya untuk mempermudah dan memperlancar berperannya klien dalam lingkungan baru tersebut. Layanan orientasi mempunyai fungsi sebagai usaha pengenalan lingkungan sekolah sebagai lingkungan yang baru bagi siswa. Pengenalanpengenalan lain yang dapat diberikan kepada siswa seperti kurikulum baru yang diterapkan sekolah, waktu proses belajar di sekolah. Pelaksanaan layanan orientasi ini berdasar pada anggapan bahwa memasuki lingkungan baru dan mengadakan penyesuaian bukanlah hal yang mudah (Prayitno & Amti, 1999). Layanan orientasi adalah layanan yang diberikan kepada siswa yang baru, dan jika perlu melalalui orang tua siswa guna memberikan pemahaman dan memungkinkan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah yang baru dimasukinya. Dari beberapa definisi di atas dapat kita simpulkan bahwa pelayanan orientasi merupakan suatu kegiatan yang memungkinkan peserta didik dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, terutama lingkungan Sekolah/Madrasah untuk mempermudah atau memperlancar berperannya mereka di lingkungan baru tersebut.

B. Kaitan layanan orientasi dengan bidang bimbingan dan konseling Layanan orientasi tidak dapat dilepaskan dari empat bidang bimbingan dan konseling, yaitu bidang pribadi, sosial, karier, dan akedemik. 1. Kaitan layanan orientasi dengan bidang pribadi sosial Layanan orientasi membantu pribadi menyesuaikan diri dengan

lingkungan yang baru dimasuki atau akan dimasuki. Memebrikan pemahaman tentang sikap yang seharusnya dilakukan dalam lingkungan tersebut, memebrikan pemahaman tentang irama kehidupan yang ada, pemahaman dan penerimaan diri sebagaimana adanya, memiliki sikap positif terhadap lingkungan baru, dan mampu mencapai keberhasilan dilingkungan baru tersebut. 2. Kaitan layanan rientasi dengan bidang akademik Layanan orientasi membantu peserta didik menyesuaikan diri dengan cara belajar yang ada dalam dunia baru, sehingga dari kemampuan beradaptasinya tersebut dapat dicapai keberhasilan dalam bidang akademik. 3. Kaitan layanan orientasi dengan bidang karier Layanan orientasi membantu mamfasilitasi peserta didik untuk

mendapatkan informasi dan orientasi tentang ekstarkulikuler atau dunia kerja yang sesuai dengan kemampuan, minat, dan kepribadian yang dimiliki oleh individu.

C. Kaitan antara situasi di sekolah menengah pertama dengan landasan sosial budaya dan layanan orientasi

Terdapat beragam situasi yang terjadi dalam kehidupan peserta didik usia sekolah menengah pertama. Beragam situasi tersebut memiliki kaitan erat dengan sosial budaya yajg dimiliki leh pihak-pihak yang terlibat dalam pemberian layanan orientasi yaitu konselor, konseli, orang tua, staf sekolah, serta lingkungan masyarakat. Berbagai situasi tersebut bisa saja menjadi fator pendukung dan bisa pula menjadi penghambat dalam pemberian layanan

orietasi. Berikut adalah tabel tentang gambaran situasi dan aitannya dengan sosial budaya serta kaitannya dengan layanan orientasi.