Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Penyakit paru-paru obstruksi menahun (PPOM) merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara. Ketiga penyakit yang membentuk satu kesatuan yang ditandai dengan sebutan PPOM adalah : Bronkhitis, Emifisema paru-paru dan Asma bronkial. Perjalanan PPOM yang khas adalah panjang dimulai pada usia 20-30 tahun dengan batuk merokok atau batuk pagi disertai pembentukan sedikit sputum mukoid. Mungkin terdapat penurunan toleransi terhadap kerja fisik, tetapi biasanya keadaan ini tidak diketahui karena berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Akhirnya serangan brokhitis akut makin sering timbul, terutama pada musim dingin dan kemampuan kerja penderita berkurang, sehingga pada waktu mencapai usia 50-60 an penderita mungkin harus mengurangi aktifitas. Penderita dengan tipe emfisematosa yang mencolok, perjalanan penyakit tampaknya tidak dalam jangka panjang, yaitu tanpa riwayat batuk produktif dan dalam beberapa tahun timbul dispnea yang membuat penderita menjadi sangat lemah. Bila timbul hiperkopnea, hipoksemia dan kor pulmonale, maka prognosis adalah buruk dan kematian biasanya terjadi beberapa tahun sesudah timbulnya penyakit (Price & Wilson, 1994 : 695)

BAB II KONSEP DASAR 2.1 Definisi PPOM adalah kelainan paru yang ditandai dengan gangguan fungsi paru berupa memanjangnya periode ekspira yang disebabkan oleh adanya penyempitan saluran nafas dan tidak banyak mengalami perubahan dalam masa observasi beberapa waktu (Mansunegoro, 1992). Penyakit Paru Obstruktif Kronik ( PPOK ) atau Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM) adalah klasifikasi luas dari gangguan yang mencakup bronkitis kronis, bronkiektasis, emfisema dan asma. (Bruner & Suddarth, 2002). Penyakit Obstuktif Menahun ( PPOM ) merupakan sejumlah gangguan yang mempengaruhi pergerakan udara dari dab ke luar paru. Gangguan yang penting adalah bronkhitis obstruktif, emfisema, dan asma bronkhial ( Black, 1993 ). 2.2 Etiologi Etiologi penyakit ini belum diketahui.Timbulnya penyakit ini dikaitkan dengan faktor-faktor resiko yang terdapat pada penderita antara lain: 1. Merokok sigaret yang berlangsung lama 2. Polusi udara 3. Infeksi paru berulang 4. Umur 5. Jenis kelamin 6. Ras 7. Defisiensi alfa-1 antitripsin 8. Defisiensi anti oksidan dll

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Pengaruh dari masing-masing faktor-faktor resiko terhadap PPOM adalah saling memperkuat dan faktor merokok dianggap yang paling dominan dalam menimbulkan penyakit ini ( Dharmago & Martono, 1999 : 383 ). 2.3 Manifestasi Klinik Batuk yang sangat produktif, puruken, dan mudah memburuk oleh iritan-iritan inhalan, udara dingin, atau infeksi. Sesak nafas dan dispnea. Terperangkapnya udara akibat hilangnya elastisitas paru menyebabkan dada mengembang. Hipoksia dan Hiperkapnea. Takipnea. Dispnea yang menetap ( Corwin , 2000 : 437) 2.4 Anatomi

2.5 Patofisiologi Faktor faktor resiko yang telah disebutkan diatas akan mendatangkan proses inflamasi bronkus dan juga menimbulkan kerusakan pada dinding bronkiolus terminal.Akibat dari kerusakan yang timbul akan terjadi obstruksi bronkus kecil atau bronkiolus terminal, yang mengalami penutupan atau obstruksi awal fase ekspirasi.Udara yang pada saat inspirasi mudah masuk ke dalam alveoli, saat ekspirasi banyak yang terjebak dalam alveolus dan terjadilah penumpukan udara atau air trapping. Hal inilah yang menyebabkan adanya keluhan sesak nafas dengan segala akibat akibatnya.Adanya obstruksi dini saat awal ekspirasi akan menimbulkan kesulitan ekspirasi dan menimbulkan pemanjangan fase ekspirasi ( Dharmojo & Martono,1999 : 384). 2.6 Pathways

(Arif Muttaqin, 2008; 157) 2.7 Penatalaksanaan Intervensi medis bertujuan untuk : Memilihara kepatenan jalan napas dengan menurunkan spasme bronkhus dan membersihkan sekret yang hilang. Memilihara keefektifan pertukaran gas. Mencegah dan mengobati infeksi saluran pernapasan. Meningkatkan toleransi latihan. Mencegah adanya komplikasi ( gagal napas akut dan asmatikus ) Mencegah alergen/ iritasi jalan napas. Membebaskan adanya kecemasan dan mengobati depresinyang sering menyertai adanya obstruksi njalan napas kronik.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Manajemen medis yang diberikan berupa: Pengobatan farmakologi. Ainti inflamasi ( kortikosteroid, natrium kromolin, dan, lain-lain ) Bronkodilator. Adrenergik : efedrin, epineprin, dan beta adrenegik agonis selektif. Non Adrenegik : aminofilin, teofilin. c) Anthistamin. d) Steroid. e) Antibiotik. f) Ekspektoran Oksigen digunakan 3 1/menit nasal kanul. 1) a) b)

2) 3) 4) 5)

Higiene paru. Latihan. Menghindari bahan iritan. Diet ( Arif Muttaqin, 2008; 159) 2.8Pemeriksaan Diagnostik Pengukuran funsi paru Analisa Gas Darah Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Sputum Pemeriksaan Radiologi Thoraks foto ( AP dan Lateral ) Pemeriksaan Bronkogram ( Arif Muttaqin, 2008; 158) 2.9Pemeriksaan Penunjang Bronkografi Bronkoskopi CT-Scan : ada/tidaknya dilatasi bronkial

1. 2. 3. 4. 5. 6.

1. 2. 3.

BAB III KONSEP DASAR KEPERAWATAN 3.1 Pengkajian

Pengkajian mencakup pengumpulan informasi tentang gejala-gejala terakhir juga manifestasi penyakit sebelumnya. Berikut ini adalah daftar pertanyaan yang bisa digunakan sebagai pedoman untuk mendapatkan riwayat kesehatan yang jelas dari proses penyakit : Sudah berapa lama pasien mengalami kesulitan pernapasan ? Apakah aktivitas meningkatkan dispnea? Jenis aktivitas apa? Berapa jauh batasan pasien terhadap toleransi aktivitas? Kapan selama siang hari pasien mengeluh paling letih dan sesak napas? Apakah kebiasaan makan dan tidur terpengaruh? Apa yang pasien ketahui tentang penyakit dan kondisinya? Data tambahan dikumpulkan melalui observasi dan pemeriksaan; pertanyaan yang patut dipertimbangkan untuk mendapatkan data lebih lanjut termasuk : Berapa frekuensi nadi dan pernapasan pasien? Apakah pernapasan sama dan tanpa upaya? Apakah pasien mengkonstriksi otot-otot abdomen selama inspirasi? Apakah pasien menggunakan otot-otot aksesori pernapasan selama pernapasan? Apakah tampak sianosis? Apakah vena leher pasien tampak membesar? Apakah pasien mengalami edema perifer? Apakah pasien batuk? Apa warna, jumlah dan konsistensi sputum pasien? Bagaimana status sensorium pasien? Apakah terdapat peningkatan stupor? Kegelisahan?

3.2 Diagnosa Keperawatan a. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan bronkokonstriksi, peningkatan pembentukan mukus, batuk tidak efektif, infeksi bronkopulmonal. b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi-perfusi c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, produksi sputum, efek samping obat, kelemahan, dispnea d. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya imunitas, malnutrisi e. Kurang pengetahuan tentang kondisi/tindakan berhubungan dengan kurang informasi. 3.3 Intervensi Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan bronkokonstriksi, peningkatan pembentukan mukus, batuk tidak efektif, infeksi bronkopulmonal. Intervensi : Mandiri Auskultasi bunyi nafas Kaji frekuensi pernapasan Kaji adanya dispnea, gelisah, ansietas, distres pernapasan dan penggunaan otot bantu pernapasan Berikan posisi yang nyaman pada pasien : peninggian kepala tempat tidur, duduk pada sandaran tempat tidur. Hindarkan dari polusi lingkungan misal : asap, debu, bulu bantal Dorong latihan napas abdomen Observasi karakteristik batuk misalnya : menetap, batuk pendek, basah Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi jantung Berikan air hangat Kolaborasi :

a)

b)

Berikan obat sesuai indikasi : bronkodilator, Xantin, Kromolin, Steroid oral/IV dan inhalasi, antimikrobial, analgesik Berikan humidifikasi tambahan : misal nebuliser ultranik Fisioterapi dada Awasi GDA, foto dada, nadi oksimetri Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi-perfusi Intervensi Mandiri : Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan. Catat penggunaan alat bantu pernapasan Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien memilih posisi yang mudah untuk bernapas Kaji kulit dan warna membran mukosa Dorong mengeluarkan sputum,penghisapan bila diindikasikan Auskulatasi bunyi nafas Palpasi fremitus Awasi tingkat kesadaran Batasi aktivitas pasien Awasi TV dan irama jantung Kolaborasi : Awasi GDA dan nadi oksimetri Berikan oksigen sesuai indikasi Berikan penekan SSP (antiansietas, sedatif atau narkotik) Bantu intubasi, berikan ventilasi mekanik Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, produksi sputum, efek samping obat, kelemahan, dispnea Intervensi : Mandiri : Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Evalusi berat badan Auskultasi bunyi usus Berikan perawatan oral sering Berikan porsi makan kecil tapi sering Hindari makanan penghasil gas dan minuman berkarbonat Hindari makanan yang sangat panas dan sangat dingin Timbang BB Kolaborasi : Konsul ahli gizi untuk memberikan makanan yang mudah dicerna Kaji pemeriksaan laboratorium seperti albumin serum Berikan vitamin/mineral/elektrolit sesuai indikasi Berikan oksigen tambahan selama makan sesuai indikasi

c)

d)

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya imunitas, malnutrisi Intervensi : Mandiri. Awasi suhu Kaji pentingnya latihan nafas, batuk efektif, perubahan posisi sering dan msukan cairan adekuat Observasi warna, karakter, bau sputum Awasi pengunjung Seimbangkan aktivitas dan istirahat Diskusikan kebutuhan masukan nutrisi adekuat.

Kolaborasi : Dapatkan spesimen sputum Berikan antimikrobial sesuai indikasi e) Kurang pengetahuan tentang kondisi/tindakan berhubungan dengan kurang informasi. Intervensi : Jelaskan proses penyakit Jelaskan pentingnya latihan nafas, batuk efektif Diskusikan efek samping dan reaksi obat Tunjukkan teknik penggunaan dosis inhaler Tekankan pentingnya perawatan gigi /mulut Diskusikan pentingya menghindari orang yang sedang infeksi Diskusikan faktor lingkungan yang meningkakan kondisi seperti udara terlalu kering, asap, polusi udara. Cari cara untuk modifikasi lingkungan Jelaskan efek, bahaya merokok Berikan informasi tentang pembatasan aktivitas, aktivitas pilihan dengan periode istirahat Diskusikan untuk mengikuti perawatan dan pengobatan Diskusikan cara perawatan di rumah jika pasien diindikasikan pulang 3.4 Evaluasi 1. Menunjukkan perbaikan pertukaran gas dengan menggunakan bronkodilator dan terapi oksigen a. Tidak menunjukkan tanda-tanda kegelisahan, konfusi, atau agitasi b. Hasil pemeriksaan gas darah arteri stabil tetapi tidak harus nilai-nilai yang normal, karena perubahan kronis dalam kemampuan pertukaran gas dari paru. 2. Mencapai bersiahan jalan napas. 3. Memperbaiki pola pernapasan. a. Berlatih dan menggunakan pernapasan diafragma dan bibir yang dirapatkan. b. Menunjukkan penurunan tanda-tanda bernapas. 4. Menunjukkan aktivitas perawatan diri dalam batasan toleransi. a. Mengatur aktivitas untuk menghindari kelitihan dan dispnea. b. Menggunakan pernapasan terkendali ketika melakukan aktivitas. 5. Mencapai toleransi aktivitas dan melakukan latihan serta melakukan aktivitas dengan sesak napas lebih sedikit. 6. Mendapatkan mekanisme koping yang efektif serta mengikuti program rehabilitasi paru. 7. Patuh terhadap program terapeutik. a. Mengikuti rigamen pengobatan yang telah ditetapkan b. Berhenti merokok c. Mempertahankan tingkat aktivitas yang dapat diterima. (Arif Muttaqin, 2008; 164 )

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan 1. PPOM adalahkelainanparu yang ditandaidengangangguanfungsiparuberupamemanjangnyaperiodeekspirasi yangdisebabkanolehadanyapenyempitansalurannafasdantidakbanyakmengalamiperubahandalammasaobservasibeb erapawaktu.PPOMterdiridarikumpulantigapenyakityaituBronkitiskronik, EmfisemaparudanAsma. 2. Faktorresikodari PPOM adalah :Merokoksigaret yang berlangsung lama, Polusiudara, Infeksiparuberulang, Umur, Jeniskelamin, Ras, Defisiensi alfa-1 antitripsin, Defisiensi anti oksidan 3. Manifestasiklinik PPOM adalahpadaLansia, antara lain :Batuk yang sangatproduktif, purulent, danmudahmemburukolehiritan-iritaninhalen, Sesaknafas, Hipoksiadanhiperkapnea, Takipnea, Dispnea yang menetap 4. Penatalaksanaanpadapenderita PPOM :Meniadakan factor etiologidanpresipitasi, Membersihkansekresi Sputum, Memberantasinfeksi, MengatasiBronkospasme, PengobatanSimtomatik, Penangananterhadapkomplikasi yang timbul, Pengobatanoksigen, Tindakan Rehabilitasi. 4.2Saran Menghindarifaktorresiko : Anjurkanklienuntuktidakmerokok Anjurkanklienuntukcukupistirahat Anjurkanklienuntukmenghindari allergen Anjurkanklienuntukmengurangiaktifitas Anjurkanklienuntukmendapatkanasupangizi yang cukup

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. 4. 5. Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC. Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan . Jakarta: Salemba Medika. Guyton, Arthur C. 1945. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta : EGC. Anonim. 2010. Askep Klien PPOM. http://nursingbegin.com/askep-klien-ppom/. By Posted : 22-03-2010 Dwi Atmaja, Arifin. 2011. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PPOM.http://nursecerdas.wordpress.com/2011/10/21/askep-ppom/.By Posted: 21-10-2011

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF MENAHUN (PPOM)
DEFINISI Penyakit paru obstruksi menahun (PPOM) merupakan semua penyakit pernapasan yang dikarakteristikkan oleh obstruksi kronis pada aliran udara. Obstruksi jalan napas ini bermaca-macam, mis., inflamasi jalan napas, perlengketan mukosa, penyempitan lumen jalan napas, atau kerusakan jalan napas. PPOM = PPOK (Penyakit Paru obstruktif Kronik) = COPD (Chronik Obstuktif Pulmonary Deases)

a.

b. c.

KLASIFIKASI Penyakit paru obstruksi menahun (PPOM) meliputi: Asma: dikarakteristikkan oleh konstriksi yang dapat puliih dari otot halus bronkial, hipersekresi mukosa, dan inflamasi mukosa, serta edema. Faktor pencetus termasuk alergen, masalah emosi, cuaca dingin, latihan, obat, kimia, dan infeksi. Bronkitis Kronis: Inflamasi luas jalan napas dengan penyempitan atau hambatan jalan napas dan peningkatan produksi sputum mukoid, menyebabkan ketidakcocokan ventilasi-perfusi dan menyebabkan sianosis. Emfisema: Suatu keadaan klinis dengan kelainan struktur anatomis paru berupa pelebaran dan destruksi dinding alveoli dan bronkiolus terminalis disertai overinflasi. ETIOLOGI PPOM dianggap sebagai penyakit yang berhubungan dengan interaksi genetik dan lingkungan. Merokok, polusi udara, dan pemajanan di tempat kerja (batubara, kapas, padi-padian) merupakan faktor resiko penting terjadinya PPOM., prosesnya dapat terjadi dalam rentang lebih dari 20-30 tahunan. Penyakit ini juga dapat terjadi pada individu yang tidak mempunyai enzim yang normal mencegah penghancuran jaringan paru oleh enzim tertentu.

Patofisiologi PPOK / PPOM / COPD

MANIFESTASI KLINIK Perkembangan gejala-gejala yang merupakan ciri PPOM adalah malfungsi pada sistem pernapasan yang manifestasi awalnya ditandai dengan batuk-batuk dan produksi dahak khususnya yang makin terjadi di saat pagi hari. Napas pendek sedang yang sedang berkembang menjadi napas pendek akut. Batuk dan produksi dahak (pada batuk yang dialami perokok) memburuk menjadi persisten yang disertai dengan produksi dahak yang semakin banyak. Biasanya pasien akan sering mengalami infeksi pernapasan dan kehilangan berat badan cukup drastis sebagai akibat hilangnya nafsu makan karena produksi dahak yang berlebihan, penurunan daya kekuatan tubuh, penurunan kemampuan pencernaan sekunder karena tidak cukupnya oksigenasi sel gastrointestinal.. Pasien mudah merasa lelah dan secara fisik tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari

1.

2.

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Sinar x dada: dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru; mendatarnya diafragma; peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi/bula (emfisema); peningkatan tanda bronkovaskuler (bronkitis), hasil normal selama periode remisi (asma). Tes fungsi paru: dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, untuk menentukan apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau restriksi, untuk memperkirakan derajat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi, mis., bronkodilator. TLC: peningkatan pada luasnya bronkitis dan kadang-kadang pada asma; penurunan emfisema Kapasitas inspirasi: menurun pada emfisema Volume residu: meningkat pada emfisema, bronkitis kronis, dan asma FEV1/FVC: rasio volume ekspirasi kuat dengan kapasitas vital kuat menurun pada bronkitis dan asma GDA: memperkirakan progresi proses penyakit kronis Bronkogram: dapat menunjukkan dilatasi silindris bronkus pada inspirasi, kollaps bronkial pada ekspirasi kuat (emfisema); pembesaran duktus mukosa yang terlihat pada bronkitis JDL dan diferensial: hemoglobin meningkat (emfisema luas), peningkatan eosinofil (asma) Kimia darah: Alfa 1-antitripsin dilakukan untuk meyakinkan defisiensi dan diagnosa emfisema primer Sputum: kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi patogen; pemeriksaan sitolitik untuk mengetahui keganasan atau gangguan alergi EKG: deviasi aksis kanan, peninggian gelombang P (asma berat); disritmia atrial (bronkitis), peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF (bronkitis, emfisema); aksis vertikal QRS (emfisema) EKG latihan, tes stres: membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru, mengevaluasi keefektifan terapi bronkodilator, perencanaan/evaluasi program latihan. PENATALAKSANAAN Diet: tinggi kalori dan protein Terapi IV: hidrasi, heparin lock Terapi oksigen Postural Drainage Insentive Spirometri Antibiotik: Penisillin G potassium, Ampisillin Antipiretik: Aspirin, Acetaminophen Bronkodilator: Metaproterenol sulfat (Alupent), Isotarine (Bronkosol)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

ASUHAN KEPERAWATAN
a. b. PENGKAJIAN Aktivitas/Istirahat Gejala: Keletihan, kelelahan, malaise Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernapas Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk tinggi Dispnea pada saat istirahat atau respons terhadap aktivitas atau latihan Tanda: Keletihan, gelisah, insomnia Kelemahan umum/kehilangan massa otot Sirkulasi Gejala: pembengkakan pada ekstremitas bawah Tanda: Peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat, disritmia, distensi vena leher Edema dependen, tidak berhubungan dengan penyakit jantung Bunyi jantung redup (yang berhubungan dengan peningkatan diameter AP dada)

c. d. e. -

Warna kulit/membran mukosa: normal atau abu-abu/sianosis Pucat dapat menunjukkan anemia Makanan/Cairan Gejala: Mual/muntah, nafsu makan buruk/anoreksia (emfisema) Ketidakmampuan untuk makan karena distres pernapasan Penurunan berat badan menetap (emfisema), peningkatan berat badan menunjukkan edema (bronkitis) Tanda: Turgor kulit buruk, edema dependen Berkeringat, penuruna berat badan, penurunan massa otot/lemak subkutan (emfisema) Palpitasi abdominal dapat menyebabkan hepatomegali (bronkitis) Hygiene Gejala: Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari Tanda: Kebersihan, buruk, bau badan Pernafasan Gejala: Nafas pendek (timbulnya tersembunyi dengan dispnea sebagai gejala menonjol pada emfisema) khususnya pada kerja, cuaca atau episode berulangnya sulit nafas (asma), rasa dada tertekan, ketidakmampuan untuk bernafas (asma) Lapar udara kronis Bentuk menetap dengan produksi sputum setiap hari (terutama pada saat bangun) selama minimum 3 bulan berturut-turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun. Produksi sputum (hijau, putih dan kuning) dapat banyak sekali (bronkitis kronis) Episode batuk hilang timbul biasanya tidak produktif pada tahap dini meskipun dapat terjadi produktif (emfisema) Riwayat pneumonia berulang: terpajan pada polusi kimia/iritan pernafasan dalam jangka panjang (mis., rokok sigaret) atau debu/asap (mis., abses, debu atau batu bara, serbuk gergaji) Faktor keluarga dan keturunan, mis., defisiensi alfa-anti tripsin (emfisema) Penggunaan oksigen pada malam hari atau terus menerus Tanda: Pernafasan: biasanya cepat, dapat lambat, penggunaan otot bantu pernapasan Dada: hiperinflasi dengan peninggian diameter AP, gerakan diafragma minimal Bunyi nafas: mungkin redup dengan ekspirasi mengi (emfisema); menyebar, lembut atau krekels, ronki, mengi sepanjang area paru. Perkusi: hiperesonan pada area paru Warna: pucat dengan sianosis bibir dan dasar kuku. Keamanan Gejala: Riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat/faktor lingkungan Adanya/berulangnya infeksi Kemerahan/berkeringat (asma) Seksualitas Gejala: Penurunan libido Interaksi sosial Gejala: Hubungan ketergantungan, kurang sistem pendukung, ketidak mampuan membaik/penyakit lama Tanda: Ketidakmampuan untuk/membuat mempertahankan suara pernafasan Keterbatasan mobilitas fisik, kelainan dengan anggota keluarga lalu Penyuluhan/Pembelajaran

f. g. h. i.

Gejala: Penggunaan/penyalahgunaan obat pernapasan, kesulitan menghentikan merokok, penggunaan alkohol secara teratur, kegagalan untuk membaik. PRIORITAS KEPERAWATAN Mempertahankan patensi jalan napas Membantu tindakan untuk mempermudah pertukaran gas Meningkatkan masukan nutrisi Mencegah komplikasi, memperlambat memburuknya kondisi Memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan DIAGNOSA KEPERAWATAN Jalan nafas inefektif b/d bronkospasme, peningkatan produksi sekret, sekresi tertahan, tebal, sekresi kental d/d pernyataan kesulitan bernapas, perubahan kedalaman/kecepatan bernapas, penggunaan otot bantu pernapasan, bunyi nafas tidak normal, mis., ronki, mengi, krekels; batuk (menetap) dengan/tanpa produksi sputum Mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih dan jelas. Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas, mis., batuk efektif dan mengeluarkan sekret

1. 2. 3. 4. 5.

1.

eria Hasil: -

INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri: Auskultasi bunyi napas, catat adanya Beberapa derajat spasme bronkus bunyi napas tambahan, mis., mengi, terjadi dengan obstruksi jalan napas krekels, ronki dan dapat/tidak dimanifestasikan adanyan bunyi napas advertisius. Kaji/pantau frekuensi pernapasan, Takipnea biasanya ada pada catat rasio inspirasi/ekspirasi beberapa derajat dan dapt ditemukan pada penerimaan atau selama stres/adanya proses infeksi akut. Catat adanya derajat dispnea, Disfungsi pernapasan adalah ansietas, distres pernapasan, variabel yang tergantung pada tahap penggunaan otot bantu napas proses akut yang menimbulkan perawatan di Rumah Sakit. Tempatkan/atur posisi pasien Peninggian kepala tempat tidur senyaman mungkin, mis., peninggian memudahkan fungsi pernapasan kepala tempat tidur 15-30, duduk dengan menggunakan gravitasi. pada sandaran tempat tidur. Pertahankan udara Pencetus tipe reaksi alergi lingkungan/minimalkan polusi pernapasan dapat mentriger episode lingkungan, mis., debu, asap, dll. akut. Bantu latihan napas abdomen atau Memberikan pasien beberapa cara bibir untuk mengatasi dan mengontrol dispnea dan menurunkan jebakan udara Tingkatkan masukan cairan sampai Hidrasi membantu menurunkan dengan 3000 ml/hari sesuai toleransi kekentalan sekret, penggunaan jantung. Berikan/anjurkan minum air cairan hangat dapat menurunkan hangat. spasme bronkus. Kolaborasi:

Berikan obat-obatan sesuai indikasi, Merilekskan otot halus dan mis., bronkodilator menurunkan spasme jalan napas, mengi, dan produksi mukosa.
2. Kerusakan pertukaran gas b/d gangguan suplai oksigen (obstruksi jalan nafas) oleh sekresi, spasme bronkus, jebakan udara, kerusakan alveoli d/d dispnea, bingung, gelisah, ketidakmampuan mengeluarkan sekret nilai GDA tidak normal (hipoksia dan hiperkapnea), perubahan tanda vital, penurunan toleransi terhadap aktivitas. Kriteria Hasil: Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distres pernapasan. Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam tingkat kemampuan/situasi.

INTERVENSI Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan, catat penggunaan otot bantu pernapasan, napas bibir. Tinggikan kepala tempat tidur, bantu klien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernafas, dorong nafas dalam perlahan Kaji / awasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa Anjurkan mengeluarkan sputum, penghisapan bila diindikasikan

RASIONAL Berguna dalam evaluasi derajat distres pernafasan/kronisnya proses penyakit Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan nafas untuk menurunkan kolaps paru Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) Sputum kental, tebal serta banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran gas pada jalan napas kecil. Penghisapan dibutuhkan bila batuk tidak efektif Auskultasi bunyi nafas, cata area Bunyi nafas mungkin redup karena penurunan udara/bunyi tambahan penurunan aliran udara atau area konsolidasi, adanya mengidentifikasi spasme bronkus Awasi tanda vital dan irama jantung Takikardi, disritmia dan penurunan td dapat menunjukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi Kolaborasi jantung Berikan oksigen sesuai indikasi Dapat memperbaiki/mencegah Berikan penekan SSP (anti ansietas buruknya hipoksia sedatif atau narkotik) dengan hati- Untuk mengontrol ansietas/gelisah hati sesuai indikasi yang meningkatkan konsumsi/kebutuhan oksigen
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d dispnea, efek samping obat, produksi sputum, anoreksia, mual/muntah d/d penurunan berat badan, kehilangan massa otot, tonus otot buruk, kelemahan, keengganan untuk makan. Kriteri hasil: Menunjukkan BB meningkatkan

3.

Mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas tanda malnutrisi. Melakukan perilaku/perubahan pola hidup untuk menngkatkan dan mempertahankan BB yang tepat.

INTERVENSI RASIONAL Mandiri: Catat status nutrisi pasien pada Berguna dalam mendefinisikan penerimaan , catat turgor kulit, BB derajat/luasnya masalah dan pilihan dan derajat kekurangan BB, intervensi yang tepat. ketidakmampuan menelan. Pastikan pola diet biasa pada pasien Membantu dalam mengidentifikasi yang disukai/tidak disukai kebutuhan khusus. Pertimbangan keinginan individu dapat memperbaiki masukan diet. Awasi pemasukan/pengeluaran dan Berguna dalam mengukur BB secara periodik. keefektifan nutrisi dan dukungan cairan. Selidiki anoreksia, mual dan Dapat mempengaruhi pilihan diet muntah. Catat kemungkinan dengan dan mengidentifikasi pemecahan obat, awasi frekuensi, volume, masalah untuk meningkatkan konsistensi feses. pemasukan nutrien. Berikan periode istirahat sering. Membantu menghemat energi khususnya bila kebutuhan metabolik meningkat saat demam. Berikan perawatan mulut Menurunkan rasa tidak enak karena sisa sputum/obat yang merangsang pasien muntah. Hindari makanan penghasi gas dan Dapat menghasilkan distensi minuman karbonat. Hindari makanan abdomen yang mengganggu napas yang sangat panas dan sangat dingin abdomen dan gerakan diafragma. Suhu yang ekstrim dapat meningkatkan spasme batuk Anjurkan makan sedikit tapi sering Memaksimalkan masukan nutrisi dengan makanan TKTP tanpa kelemahan, menurunkan iritasi gaster. Motivasi orang terdekat untuk Membuat lingkungan sosial lebih membawa makanan dari rumah dan normal selama makan dan membantu untuk membagi dengan pasien memenuhi kebutuhan personal. kecuali kontraindikasi Kolaborasi: Memberikan bantuan dalam Rujuk ke ahli diet untuk menentukan perencanaan diet dengan nutrisi komposisi diet. adekuat Mengevaluasi/mengatasi dan mengawasi Kaji/observasi nilai pemeriksaan kekurangan Laboratorium, mis., profil asam keefektifan terapi nutrisi amino, besi, glukosa, pemeriksaan fungsi hati dan elektrolit. Berikan

vitamin/mineral/elektrolit indikasi
4.

sesuai

Resiko tinggi terhadap infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan utama (penurunan kerja silia, menetapnya sekret), tidak adekuatnya imunitas (kerusakan jaringan dan peningkatan pemajanan terhadap lingkungan, proses penyakit kronis dan malnutrisi. Pasien akan mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi Perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang nyaman

eria Hasil: -

INTERVENSI Mandiri: Kaji dan awasi suhu tubuh

RASIONAL

Demam dapat terjadi karena infeksi atau dehidrasi Kaji pentingnya latihan napas, batuk Aktivitas ini meningkatkan efektif, perubahan posisi sering dan mobilisasi dan pengeluaran sekret masukan cairan adekuat untuk menurunkan terjadinya resiko infeksi paru Observasi warna, karakter dan bau Sekret berbau, kuning atau sputum kehijauan menunjukkan adanya Diskusikan kebutuhan nutrisi infeksi paru adekuat Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi Kolaborasi: Dapatkan spesimen sputum dengan Dikakukan untuk mengidentifikasi batuk dan pengisapan untuk organisme penyebab dan kerentanan pewarnaan gram, /kultur/sensitifitas terhadap berbagai anti mikrobial Berikan anti mikrobial sesuai Dapat diberikan untuk organisme indikasi khusus yang teridentifikasi dengan kultur dan sensitifitas atau diberikan secara profilaktik karena resiko tinggi