Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENELITIAN PROGRAM PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ARTIKEL PIM

PENGARUH PEMBELAJARAN INKUIRI TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF DAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA AKADEMI FARMASI PUTRA INDONESIA PADA MATERI PEWARNAAN MIKROORGANISME

Peneliti Utama: Misgiati, A.Md, M.Pd Anggota: Ernanin Dyah W, S.Si, MP

Dibiayai oleh Yayasan Putra Indonesia Malang No Kontrak Penelitian

AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN PUTRA INDONESIA MALANG 2012

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN 1. Judul Usulan Penelitian Pengarugh Pembelajaran Inkuiri terhadap Hasil Belajar Kognitif dan Berpikir Kritis mahasiswa Akademi Farmasi pada Materi Pewarnaan Mikroorganisme 2. Lembaga Pengusul Penelitian : Akademi Analis Farmasi dan Makanan Putra Indonesia Malang 3. Peneliti Utama a. Nama Lengkap b. Jenis kelamin c. Jabatan Struktural d. Jabatan Fungsional e. Alamat Rumah f. Telepon : Misgiati, A.Md, M.Pd : Perempuan :: Dosen : Jln raya 169A Sukorejo Pasuruan : 081334701501

4. Jumlah Personil Peneliti : 2 orang 5. Jenis Penelitian bidang ilmu 6. Jangka Waktu Penelitian 7. Lokasi Penelitian 8. Beaya : Pendidikan : 3 Bulan : Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang : Rp 1.400.000

Malang, 10 Agustus 2012 Mengetahui, Pimpinan Institusi Peneliti Utama

Hendyk Krisna Dani, S.Si

Misgiati, A.Md, M.Pd

RINGKASAN DAN SUMMARY

Penentuan dan penerapan strategi yang tepat dapat menyebabkan proses pembelajaran berlangsung secara optimal. Pembelajaran inkuiri menuntut peserta didik untuk menemukan sendiri pengalaman belajarnya. Pembelajaran praktikum mikrobiologi selama ini mengedepankan hasil belajar kognitif tanpa mempertimbangan hasil belajar yang lainnya, hal ini nampak belum ada dokumentasi dari hal tersebut. hasil belajar yang lain salah satunya adalah ketrampilan berpikir kritis diharapkan meningkatkan proses pembelajaran yang lebih aktif dan akhirnya hasil belajar kognitif juga meningkat. Rancangan penelitian adalah quasi eksperimen. Tahapan yang dilakukan adalah mempersipakan perangkat pembelajaran, validasi perangkat pembelajaran, implementasi perangkat pembelajaran, pengumpulan data, dan analisis data. Instrumen penelitian berupa tes dan rubrik. Hasil belajar kognitif dan ketrampilan kritis berupa tes uraian terbuka. Sedangkan rubric digunakan mengoreksi tes hasil belajar kognitif mahasiswa dan ketrampilan berpikir kritis. Dilakukan dua kali tes yaitu pretes dan postes. Analisis datanya menggunakan Anacova. Pretes dianggap sebagai kovariatnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa ada pengaruh yang signifikan pada pembelajaran inkuiri terhadap hasil belajar kognitif dan berpikir kritis mahasiswa Akademi Farmasi Putra Indonesia pada materi pewarnaan mikroorganisme

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penentuan dan penerapan strategi yang tepat dapat menyebabkan proses pembelajaran berlangsung secara optimal. Melalui proses pembelajaran yang baik dan tepat akan diperoleh hasil belajar yang baik. proses pembelajaran yang baik dicirikan oleh keterlibatan aktif siswa dalam belajarnya, terjadinya kerjasama, serta bertujuan mengembangkan kemampuan akademik dan kecakapan sosial. Pembelajaran inkuiri diharapkan dapat dijadikan alternative untuk mewujudkan proses pembelajaran yang ideal. Menurut Panduan Umum Pengembangan Silabus (Depdiknas, 2008) bahwa pengalaman belajar tidak hanya diperuntukkan agar siswa dapat menguasai kompetensi dasar yang telah ditentukan, tetapi hendaknya memuat kecakapan hidup (life skill). Menurut Peraturan Mendiknas No 23 Tahun 2006, tujuan pembelajaran mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi adalah mengembangkan logika, kemampuan berfikir dan analisis mahasiswa. Salah satu dari kemampuan berfikir yang penting dimiliki oleh mahasiswa adalah berfikir kritis. Ketrampilan metakognisi juga mutlak dikembangkan dalam pembelajaran.

Metakognisi adalah suatu cara berpikir tentang bagaimana berpikir, belajar bagaimana belajar. Menurut Peters (dalam Corebima, 2006) berpendapat bahwa kesadaran metakognitif memungkinkan para siswa berkembang sebagai pebelajar mandiri, karena mendorong mereka menjadi manajer atas dirinya sendiri serta menjadi penilai atas pemikiran dan pembelajarannya sendiri. Pembelajaran praktikum mikrobiologi yang dilakukan selama ini masih belum menunjukkan strategi yang jelas. Begitu juga hasil belajarnya lebih dititik beratkan pada kemampuan kognitif saja, selama proses praktikum ada evaluasi tapi tidak dilakukan secara kontinu dan tidak terdokumentasikan. B. Tujuan Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh pembelajaran inkuiri terhadap hasil belajar kognitif, ketrampilan berpikir kritis, dan metakognitif mahasiswa Akademi Farmasi pada matakuliah Praktikum Mikrobiologi Materi Pewarnaan Mikroorganisme. Pembelajaran

Praktikum Mikrobiologi merupakan salah satu matakuliah yang ada di Akademi Farmasi, yang merupakan dasar dari matakuliah inti. Pembelajaran inkuiri menuntut keterlibatan mahasiswa sepenuhnya, untuk menemukan pengalaman belajarnya yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar kognitif, ketrampilan berpikir kritis, dan ketrampilan

metakognisi mahasiswa. Pengalaman belajar yang dilakukan dengan mencari prosedur dan temuan-temuan selama melakukan praktikum yang pada akhirnya menmbangun pemahaman dari mahasiswa masing-masing. Selama ini yang dilakukan dalam proses penilaian lebih ditonjolkan pada hasil belajar kognitif saja, tanpa mengindahkan kemampuan yang lain. Sementara dalam proses pembelajaran hasil belajar yang diperoleh itu tidak ahanya sekedar hasil belajar kognitif saja, masih ada hasil belajar yang lainnya salah satunya ketrampilan berpikir kritis dan ketrampilan metakognisi. Kemampuan kritis ini merupakan kemampuan yang harus diasah dan dilihat, karena kemampuan ini merupakan bekal sebagai seorang farmasis dalam menghadapi masalah yang terjadi dalam bidang kefarmasian. Ketrampilan metakognisi juga demikian, hal ini juga harus diasah. Selama ini mahasiwa belum memaksimalkan bagaimana mereka berpikir untuk berpikir, dan bagaimana mereka belajar untuk belajar. Sehingga dengan pengasahan ini setidaknya mahasiswa akan menpunyai keinginan bagaimana mereka untuk belajar dirinya sendiri. C. Manfaat Manfaat penelitian ini bagi institusi bahwa hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya peningkatan proses belajar mengajar. Sedangkan untuk fasilitator (dosen/guru) diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk perbakan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas/ alaboratorium terutama mengenai penggunaan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan ketrampilan berpikir kritis, ketrampilan metakognisi, dan hasil belajar kognitif mahasiswa. Manfaat untuk mahasiswa diharapkan dapat menjadikan sarana untuk meningkatkan ketrampilan berpikir kritis, ketrampilan metakognisi, saling bekerjasam, saling tutor sebaya, mengkatkan keaktifan, dan hasil belajar.

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pembelajaran Inkuiri Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh mahasiswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari

menemukan sendiri. Dosen harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya. Pemahaman konsep-konsep materi kuliah, sudah seharusnya ditemukan sendiri oleh mahasiswa, bukan atas dasar "menurut buku". Tahapan (Sintaks) Pembelajaran Inkuiri adalah sebagai berikut: 1) tahap penyajian masalah, 2) tahap pengumpulan dan verifikasi data, 3) tahap pengumpulan data melalui eksperimen, 4) tahap perumusan dan pengolahan data, 5) tahap analisis proses inkuiri. B. Kemampuan Berpikir Kritis Berpikir kritis adalah kemampuan memberi alasan secara terorganisasi dan mengevaluasi kualitas suatu alasan secara sistematis (Adyana, 2010). Sedangkan menurut Milly A (2010) berpikir kritis merupakan cara berpikir mengenai subjek, isi, dan masalah apapun, dimana manusia yang berpikir selalu meningkatkan dan memperbaharui kualitas berpikirnya. Upaya ini dilakukannya dengan berbagai analisis, penilaian, dan rekonstruksi yang terampil. Berpikir kritis artinya diarahkan, dikendalikan, diawasi oleh diri sendiri sekaligus merupakan koreksi terhadap diri sendiri. Semua hal tersebut dilakukan secara teliti karena dikendalikan oleh berbagai tolak ukur yang berasal dari pemikiran yang berkualitas. Hal ini berkaitan dengan kemampuan komunikasi yang baik dan kemampuan menyelesaikan masalah yang dimiliki manusia. Orang yang selalu mengembangkan dan meningkatkan kemampuan berpikir kritisnya setelah mampu: 1) mengangkat dan mengemukakan berbagai pertanyaan dan persoalan sangat penting dalam hidupnya, serta mampu merumuskan berbagai pertanyaan dan persoalan yang diangkat dengan jelas dan tepat, 2) mengumpulkan dan menilai berbagai kesimpulan dan cara menyelesaikan masalah menggunakan langkah-langkah tepat dan efektif, 3) adanya berbagai kesimpulan dan cara penyelesaian masalah yang

masuk akal seraya terus mengujinya terhadap berbagai tolak ukur dan criteria yang relevan, 4) berpikir terbuka terhadap pandangan lainnya, seraya tiada henti mengenali dan menilai berbagai prasangka, dampak, dan akibat praktis, sejauh yang dibutuhkan, 5) mampu mengkomunikasi kepada orang lain mengenai berbagai cara penyelesaian yang telah dilakukannya terhadap banyak masalah yang kompleks dengan cara yang efektif. Berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi dari berfikir tingkat tinggi yang meliputi: 1) menganalisis argument, yaitu mengidentifikasi alasan yang dinyatakan melihat persamaan dan perbedaan, 2) menentukan tindakan, yaitu memilih kriteria untuk menimbang penyelesaian yang mungkin dan memutuskan apa yang harus dilakukan sementara, 3) mengamati dan menimbang laporan pengamatan atau kriteria, 4) menyimpulkan, yaitu interpretasi pernyataan. Melalui analisis masalah secara berulang akan dapat membentu siswa melakukan internalisasi terhadap materi yang kompleks dan sekaligus dapat membantu mengembangkan tingkat berpikir kritis siswa. C. Kemampuan Metakognisi Metakognitif adalah kesadaran berpikir tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Siawa mengetahui bagaimana untuk belajar, mengetahui kemampuan dan modalitas belajar yang dimiliki, dan mengetahui strategi belajar terbaik untuk belajar efektif dalam konteks pembelajaran. Menurut Corebima (2006) dalam Miranda (2010) strategi metakognitif adalah strategi yang digunakan siswa atau pebelajar dalam kegiatan pembelajarannya. Flavel, dkk (dalam Slavin, 2000) juga mengemukakan definisi yang senada yaitu istilah metakognitif berarti pengetahuan tentang belajarnya sendiri, artinya pengetahuan tentang bagaimana ia belajar dan bagaimana ia memantau cara belajar yang dilakukannya. Arends (1997) metakognitif didefinisikan sebagai berpikir tentang berpikir dan pemonitoran proses kognitif. Sementara itu menurut Blakey dan Apence (1991) strategi metakognitif adalah suatu teknik yang memfasilitasi metakognitif atau berpikir tentang berpikir dan strategi untuk mengembangkan tingkah laku metakognitif adalah sebagai berikut: (1) mengidentifikasi apa yang kamu ketahui dan apa yang tidak kamu ketahui, (2)

membahas tentang berpikir, (3) membuat jurnal merencanakan dan pengaturan diri, dan (4) menjelaskan tentang proses berpikir dan evaluasi. Selanjutnya kesadaran metakognitif menurut Rivers (dalam Corebima, 2006) bahwa kesadaran metakognitif dibagi menjadi dua tipe yaitu self assesment yang

merupakan kecakapan siswa untuk mengakses kognitif sendiri, dan self management yang merupakan kecakapan siswa untuk mengelola perkembangan kognitif sendiri lebih lanjut. Kesadaran kognitif dan kesadaran metakognitif sekalipun berhubungan, tetapi berbeda. Kesadaran kognitif diperlukan untuk melaksanakan sesuatu tugas, sedangkan kesadaran metakognitif diperlukan untuk memahami bagaimana tugas itu dilaksanakan. Menurut Peters (dalam Corebima, 2006) berpendapat bahwa kesadaran metakognitif memungkinkan para siswa berkembang sebagai pebelajar mandiri, karena mendorong mereka menjadi manajer atas dirinya sendiri serta menjadi penilai atas pemikiran dan pembelajarannya sendiri. D. Hasil Belajar Kognitif Hasil belajar merupakan suatu hal yang sangat penting artinya dari proses pembelajaran karena merupakan indikator keberhasilan belajar. Hasil belajar kognitif menurut Bloom (1979) dapat dibedakan atas enam ranah yaitu: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Menurut Edwards dan Bries (2000) membagi tingkah laku kognitif menjadi dua yaitu: (1) kognitif rendah, yang meliputi pengetahuan, pemahaman, aplikasi, dan (2) kognitif tinggi, meliputi analisis, sintesis, dan evaluasi. Selanjutnya dalam perkembangannya, sub-sub ranah kognitif menurut Bloom itu direvisi menjadi mengingat, pemahaman, aplikasi, analisis, evaluasi, dan mencipta (Anderson & Krathwohl, 2001).Hasil belajar kognitif yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah hasil belajar ranah kognitif menurut Bloom yang direvisi oleh Anderson & Krathwohl seperti yang dipaparkan di atas meliputi : mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Secara singkat sub ranah tersebut dideskripsikan dengan merujuk pada Nuryani (2005) sebagai berikut: 1) Mengingat (remember), adalah kemampuan menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang. Ranah ini meliputi aktivitas kognitif: mengenali (recognizing), dan menyebutkan (recalling), 2) Memahami (understand), merupakan

kemampuan mengkonstruk makna atau pengertian berdasarkan pengetahuan yang dimiliki, atau mengintegrasikan pengetahuan yang baru ke dalam skema yang telah ada dalam pemikiran siswa. Ranah ini meliputi aktivitas kognitif : menginterpretasi atau menafsirkan (interpreting), menunjukkan atau memberi contoh (exemplifying),

mengklasifikasikan (classifying), meringkas (summarizing), menginferensi (inferring), membandingkan (comparing), dan menjelaskan (explaining). 3) Menerapkan (apply), menerapkan atau mengaplikasikan merupakan kemampuan menggunakan suatu prosedur guna menyelesaikan masalah atau mengerjakan tugas. Ranah ini meliputi aktivitas kognitif: melakukan (executing), dan menerapkan (implementing). 4) Menganalisis (analyze), merupakan kemampuan menguraikan suatu permasalahan atau obyek ke unsurunsurnya dan menentukan bagaimana saling keterkaitan antara unsur-unsur tersebut. Ranah ini meliputi aktivitas kognitif : membedakan (deferentiating), mengorganisasi atau mengelompokkan (organizing), dan memberi simbol (attributing). 5) Mengevaluasi

(evaluate), adalah kemampuan membuat suatu pertimbangan berdasarkan kriteria dan standar yang ada. Ranah ini meliputi aktivitas kognitif: memeriksa (checking), dan mengkritik (criticuing). 6) Mencipta (create), merupakan kemampuan menggabungkan beberapa unsur menjadi suatu bentuk kesatuan atau melibatkan elemen yang ditempatkan bersama-sama untuk membentuk suatu koherensi atau fungsi menyeluruh. Proses-proses yang terlibat dalam mencipta secara umum terkoordinasi dengan pengalaman belajar siswa sebelumnya. Meskipun mencipta memerlukan kreativitas berpikir siswa, hal ini bukanlah ekspresi kreatif yang memiliki kebebasan penuh. Kategori orisinalitas dan keunikan harus lebih ditekankan. Mencipta terkait dengan tiga aktivitas kognitif yaitu: melahirkan atau menghasilkan (generating), merencanakan (planning), dan menghasilkan atau memproduksi (producing). Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar kognitif sangatlah kompleks yang menyangkut faktor internal maupun faktor eksternal, seperti : minat, motivasi, sikap, kecerdasan (intelligensi), lingkungan belajar, strategi belajar, keadaan fisik dan lain-lain. Dimyati & Mudjiono (1994) mengemukakan bahwa hasil belajar disamping dipengaruhi oleh kemampuan berpikir (kemampuan akademik) dan proses pembelajarannya (termasuk strategi atau metode belajar), hasil belajar juga dipengaruhi oleh minat, kecerdasan, sikap, dan motivasi.

BAB III METODE PENELITIAN A. Metode 1. Pembuatan Perangkat Pembelajaran Pembuatan perangkat pembelajaran yaitu pembuatan silabus dan RPP 2. Tahapan Pengembangan Perangkat Pembelajaran Tahapan ini unruk menghasilkan perangkat pembelajaran yang telah direvisi berdasarkan masukan pakar pembelajaran. Hasil penialaian dari pakar pemebalajarn merekomendasikan bahwa perangkat pembelajaran setelah

melakukan beberapa revisi berdasarkan saran validator 3. Tahap Penyebaran Tahap ini merupakan tahapan implementasi perangkat yang telah direvisi dan diuji cobakan pada tahap pengembangan dalam kelas eksperimen 4. Rancangan penelitian Penelitian ini adalah Quasi-eksperimen. Penelitian ini menggunakan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, yaitu menggunakan perlakuan pembelajaran inkuiri dan pembelajaran konvensional sebagai kontrol. 5. Populasi dan Sampel Populasi di sini juga termasuk sampel, yaitu mahasiswa yang mengikuti matakuliah mikrobiologi, terdiri dari kelas A dan kelas B. Kelas A sebagai kelompok perlakuan yaitu dengan menggunakan pendekatan inkuiri. Kelas B sebagai kelas kontrol yaitu secara konvensional 6. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah sebagai berikut: 1) Tes Tes adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tingkat penguasaan mahasiwa tentang hasil belajar kognitif (melalui tes bentuk uraian terbuka) ketrampilan berpikir kritis kelas (tes uraian terbuka), ketrampilan metakoknisi ( tes

inventori) baik kelas eksperimen dan kelas kontrol. Sebelu tes digunakan evaluasi terlebih dulu diuji cobakan untuk mengetahui validitas, reliailitas, daya pembeda da taraf kesukaran dari tiap-tiap butir tes. Tes pada penelitian ini dilakukan dua kali yaitu Pretes dan Postes. 2) Rubrik Rubrik dipakai untuk mengoreksi tes hasil belajar kognitif mahasiswa, ketrampilan berpikir kritis, dan ketrampilan metakognitif/ 7. Analisis data Analisisnya menggunakan Anacova B. Alur Penelitian

Pembuatan Perangkat Pembelajaran

Pengembangan

Penyebaran

Validasi Ahli

Analisis Data

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh pembelajaran inkuiri terhadap hasil belajar kognitif dan ketrampilan berpikir kritis mahasiswa pada matakuliah praktikum pewarnaan gram dengan menggunakan instrument penilaian berupa tes esai. Tes esei yang diberikan diukur menggunakan rubrik, yaitu rubrik hasil belajar kognitif dan ketrampilan berpikir kritis. Butir soal dalam tes esai tersebut telah dilakukan validasi oleh peneliti sendiri. Uji validasi isi dilakukan dengan mensejajarkan antara butir soal dengan materi yang diajarkan sesuai dengan silabus. Data hasil belajar kognitif dan ketrampilan berpikir mahasiwa diambil melalui hasil pretes dan postes yang kemudian digunakan rubrik pengukuran hasil belajar kognitif dan ketrampilan berpikir kritis. Berikut ini hasil ringkasan data pengukuran hasil belajar kognitif dan ketrampilan berpikir kritis. 1. Data Hasil Belajar Kognitif Mahasiswa Rerata hasil belajar kognitif mahasiswa sebelum perlakuan pada kelas eksperimen adalah sebesar 26,37. Sedangkan rerata hasil belajar kognitif kelas kontrol 25,61. Setelah difasilitasi dengan pembelajaran inkuiri, rerata hasil belajar kognitif kelas eksperimen 53,06. Sedangkan rerata hasil belajar kognitif kelas kontrol 36,27. Grafik data hasil belajar kognitif mahasiswa disajikan pada grafik 4.1 sedangkan data hasil belajar kognitif mahasiswa secara lengkap pada lampiran
60 50 40 30 20 10 0 eksperimen kontrol

Pretes Postes

Grafik 4.1 Hasil Belajar Kognitif Mahasiswa Seblum dan Sesudah Perlakuan

2.

Data Kemampuan Berpikir Kritis Rerata kemampuan berpikir kritis mahsiswa pada kelas eksperimen sebelum difasilitasi

pembelajaran inkuiri adalah 22.41, sedangkan untuk kelas kontrol 24.67. setelah kelas eksperimen difasilitasi dengan pembelajaran inkuiri, rerata kemampuan berpikir kritis mengalami peningkatan 51.65, sedangkan rerata kelas kontrol adalah 32,86. Data kemampuan berpikir kritis disajikan pada Grafik 4.2 dan termuat data lengkap pada lampiran
60 50 40 30 20 10 0 eksperimen kontrol

Grafik 4.2

Data Kemampuan Berpikir Kritis Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

B. Analisis Data Hasil Penelitian Data yang diperoleh melalui pretes dan postes menggunakan Analisis Kovarian untuk melihat pengaruh strategi pembelajaran inkuiri terhadap hasil belajar kognitif dan ketrampilan berpikir kritis. Uji hipotesis dengan menggunakan analisis kovarian harus didahului dengan uji normalitas. Berikut adalah hasil analisis prasyarat uji hipotesis dan hasil analisis uji hipotesis 1. Hasil Analisis Prasarat uji hipotesis a. Uji Normalitas Data Uji normalitas data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov yang dilakukan untuk melihat distrubusi data. Data terdistribusi secara normal bila nilai taraf signifikansinya lebih dari 0,05. Pada Tabel 4.1 ditunjukkan hasil analisis prasyarat uji hipotesis menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Tabel 4.1 Hasil Analisis Prasyarat Uji Hipotesis Kolmogorov-Smirnov PERLAKUAN Kolmogorov-Smirnov Statistik Kontrol 0.209 df 51 Sig 0.000

Pretes Hasil Belajar

Eksperimen Kontrol

0.127 0.137 0.098

51 51 51

0.39 0.17 0.200

Postes

Eksperimen

Dari hasil uji normalitas pretest dan postes hasil belajar kognitif pada kelas kontrol dan eksperimen, menunjukkan postes hasil belajar pada kelas kontrol dan eksperimen, serta pretes hasil belajar pada kelas eksperimen memiliki nilai p >0,05 (Ho diterima), sehingga data berdistribusi normal Sedangkan hasil uji normalitas pretes dan postes berpikir kritis pada kelas kontrol dan eksperimen seperti pada tabel 4. 2 di bawah

Dari hasil uji normalitas pretest dan postes keterampilan berpikir kritis pada kelas kontrol dan eksperimen, menunjukkan postes keterampilan berpikir kritis pada kelas eksperimen, memiliki nilai p >0,05 (Ho diterima), sehingga data berdistribusi normal. b. Uji Hogenitas data Uji Homogenitas dilakukan untuk mengetahui homogenitas distribusi data. Data terdistribusi secara homogen bila nilai taraf signifikansinya lebih dari 0,05. Pada Tabel 4.2 ditunjukkan nilai probabilitas uji prasyarat analisis dengan uji Homogenitas.

Tabel 4.2 Hasil Analisis prasarat Uji Hipotesis Homogenitas

Dari hasil uji homogenitas pretest dan postes hasil belajar kognitif pada kelas kontrol dan eksperimen, menunjukkan data pretest dan postes hasil belajar pada kelas kontrol dan eksperimen adalah homogen. Hal ditunjukkan oleh nilai p >0,05 (Ho diterima), berdasarkan ratrata (based on mean). Sedangkan uji homogenitas pretes dan postes bepikir kritis terdapat pada tabel 4.3 di bawah ini

Dari hasil uji homogenitas pretest dan postes keterampilan berpikir kritis pada kelas kontrol dan eksperimen, menunjukkan data pretest keterampilan berpikir kritis pada kelas kontrol dan eksperimen adalah homogen (nilai p >0,05), sedangkan untuk nilau postes tidak homgen (nilai p < 0,05) berdasarkan rata-ratanya.

2. Uji Hipotesis Berikut adalah ringkasan hasil uji hipotesis untuk melihat pengaruh pembelajaran inkuiri terhadap hasil belajar kognitif dan berpikir kritis. a. Hasil analisis data hasil belajar kognitif

Hasil analisis data hasil belajar kognitif mahasiswa berdasarkan ringkasan Anakova pada Lampiran 2 menunjukkan bahwa strategi pembelajaran inkuiri berpengaruh secara signifikan (p<0,05) terhadap hasil belajar kognitif mahasiswa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kedua strategi pembelajaran yang diterapkan masing-masing pada kelas eksperimen dan kelas kontrol memberikan pengaruh yang berbeda terhadap hasil belajar kognitif mahasiswa. Tabel 4.6. berikut memuat perbandingan rerata terkoreksi hasil pretes dan postes hasil belajar kognitif siswa yang difasilitasi dengan pembelajaran inkuiri dan pembelajaran konvensional.
Tabel 4.6 Perbandingan Rerata Terkoreksi Strategi Pembelajaran terhadap Hasil belajar Kognitif

PERLAKUAN KONTROL EKSPERIMEN

PREHBK 25,61 26,37

POSHBK SELISIH 36,27 53,11 10,66 26,74

HBKCOR 36,51 52,84

Berdasarkan Tabel 4.6 tersebut diketahui bahwa hasil belajar kognitif mahasiswa yang difasilitasi pembelajaran konvensional mengalami peningkatan sebesar 29,2% sedangkan siswa pada kelas eksperimen hasil belajar kognitifnya mengalami peningkatan sebesar 50,6%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar kognitif antara kelas control dan kelas eksperimen berbeda. Rerata terkoreksi kedua kelas tersebut juga berbeda. b. Berpikir kritis Mahasiswa Hasil analisis data berpikir kritis mahasiswa berdasarkan ringkasan Anakova pada Lampiran 3 menunjukkan bahwa strategi pembelajaran inkuiri berpengaruh secara signifikan (p<0,05) terhadap berpikir kritis mahasiswa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kedua strategi pembelajaran yang diterapkan masing-masing pada kelas eksperimen dan kelas kontrol memberikan pengaruh yang berbeda terhadap berpikir kritis mahasiswa. Tabel 4.7. berikut memuat perbandingan rerata terkoreksi hasil pretes dan postes berpikir kritis mahasiswa yang difasilitasi dengan pembelajaran inkuiri dan pembelajaran konvensional.
Tabel 4.6 Perbandingan Rerata Terkoreksi Strategi Pembelajaran terhadap Berpikir Kritis

PERLAKUAN

PREHBK

POSHBK SELISIH

HBKCOR

KONTROL EKSPERIMEN

25,06 22,94

32,49 53,14

7,43 30,20

31,54 54,08

Berdasarkan Tabel 4.7 tersebut diketahui bahwa berpikir kritis mahasiswa yang difasilitasi pembelajaran konvensional mengalami peningkatan sebesar 23,6% sedangkan siswa pada kelas eksperimen berpikir kritis mahasiswa mengalami peningkatan sebesar 55,8%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peningkatan berpikir kritis antara kelas kontrol dan kelas eksperimen berbeda. Rerata terkoreksi kedua kelas tersebut juga berbeda C. Pembahasan Hasil uji hipotesis menggunakan analisis kovarian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran inkuiri berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif dan berpikir kritis mahasiswa. Strategi pembelajaran inkuiri yang diterapkan pada kelas eksperimen memberikan hasil yang berbeda dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif dibandingkan dengan strategi pembelajaran konvensional yang diberikan pada kelas kontrol. Hasil belajar kognitif mahasiswa dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya model pembelajaran yang diterapkan dosen. Oleh karena itu dosen harus secara selektif memilih model pembelajaran yang cocok untuk pokok bahasan tertentu agar tujuan pembelajaran yang ditetapkan tercapai. Model pembelajaran inkuiri merupakan model pembelajaran yang berbasis konstruktivis. Model pembelajaran ini memberikan peluang kepada mahasiswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, peran dosen di sini sebagai fasilitator dan mediator.Melalui implementasi model pembelajaran inkuiri memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk bekerja seperti ilmuwan di antaranya merumuskan hipotesis, menguji hipotesis melalui percobaan dan mengimformasikan hasil penyelidikan. Oleh karena itu melalui implementasi model pembelajaran inkuiri penguasaan konsep pewarnaan bakteri dari mahasiswa dapat ditingkatkan. Model pembelajaran inkuiri memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengkonstruksi pengetahuan sendiri, menggunakan konsepkonsep yang sudah dimiliki untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan kata lain siswa mempunyai kesempatan untuk mengaitkan informasi baru dengan struktur kognitif yang ada sehingga terjadi belajar bermakna. Model pembelajaran inkuiri juga

memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja seperti ilmuwan yakni merumuskan hipotesis, menggali informasi, merancang dan melakukan percobaan, dan

mengkomunikasikan hasil percobaan. Satu hal yang perlu diperhatikan oleh para dosen dalam mengajar dengan model pembelajaran inkuiri adalah tugas dosen hanya sebagai fasilitator dan mediator, yakni membantu siswa untuk belajar dan menggunakan keterampilan proses mereka untuk memperoleh lebih banyak ilmu pengetahuan. Peranan fasilitator dan mediator di sini dapat dibantu dengan adanya pertanyaan yang mengarah pada proses pembelajaran mahasiswa. Pembelajaran inkuiri dapat mendorong iklim penemuan di dalam kelas melalui pertanyaan-pertanyaan dengan tuntutan jawaban terbuka. Dalam menjawab pertanyaan tidak hanya dituntut jawaban deskriptif, tetapi juga jawaban yang mampu

menghubungkan antar kejadian, objek atau kondisi kehidupan nyata, sehingga kegiatan ini menjadi salah satu cara untuk membua pikiran siswa. Kemampuan berpikir pada kegiatan inkuiri memungkiinksn siswa untuk membuat suatu keputusan tentang investigasi yang paling baik untuk digunakan termasuk mengelola waktu, mengumpulkan fakta-fakta dan menyimpulkan apa yang mereka gambarkan serta mampu membuat laporan penelitian. Kegiatan strategi inkuiri juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengkonstruksi pengetahuan secara bersama-sama melalui kerja kelompok yang masing-masing kelompok mengambil bagian secara aktif dalam kegiatan tersebut. proses inkuiri dapat dilatihkan pada mahasiswa yang dimulai dengan memberikan pertanyaan dan bagaimana cara menjawab pertanyaan tersebut. melalui pertanyaan mahasiswa dilatih untuk observasi terbuka, menentukan prediksi kemudian menarik kesimpulan. Selain itu juga pikiran mahasiswa untuk membuat hubungan antara kejadian, objek, atau kondisi dengan kehidupan nyata. Dalam menghubungkan hal tersebut mahasiswa dapat dibantu dengan menggunakan berbagai sumber buku dan media yang dapat ditelaah untuk mengorganisasikan fakta-fakta. Pembelajaran inkuiri juga berpengaruh terhadap berpikir kritis mahasiswa. proses berpikir kritis merupakan proses intelektual yang dengan aktif dan terampil mengkonseptualisasi, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi informasi yang dikumpulkan atau dihasilkan dari pengamatan, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi, untuk memandu keyakinan dan tindakan. Adanya

peningkatan kemampuan berpikir kritis ini menunjukkan behwa pembelajaran inkuiri dalam aktivitas pembelajarannya melibatkan mahsiswa dalam aktivitas pembelajaran yang memerlukan ketrampilan kognitif yang lebih tinggi sehingga dapat melatih mahsiswa untuk mengembangkan berpikir kritisnya. Sesuai yang dikemukakan Nickerson dalam Liliasari (2000) bahwa ketrampilan berpikir selalu berkembang dan dapat dipelajari.. dalam proses pembelajaran, pengembangan berpikir kritis lebih melibatkan peserta didik sebagai pemikir dari pada yang belajar. Peningkatan kemampuan berpikir kritis yang dialami mahasiswa setelah proses pembelajaran disebabkan mahsiswa telah diarahkan secara aktif untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya melalui kegiatan inkuiri dengan melaksanakan dan pengamatan langsung. Pembelajaran inkuiri memungkinkan mahasiswa mendapatkan muatan kognitif yang banyak dibandingkan dengan pembelajaran secara konvensional.. pembelajaran inkuiri melibatkan langsung mahsiswa dan melatih mehasiswa untuk berpikir karena dengan melakukan sendiri secara langsung kemampuan berpikir mahasiswa akan berkembang.

BAB V KESIMPULAN

A. Kesimpulan Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan pada pembelajaran inkuiri terhadap hasil belajar kognitif dan berpikir kritis mahasiswa Akademi Farmasi Putra Indonesia pada materi pewarnaan mikroorhanisme

B. Saran 1. Perlunya dikaji per sub dari hasil belajar kognitif dan berpikir kritis. 2. Perlunya pembelajaran berlanjut bagi fasilitator tentang ilmunya sendiri ataupun pedagogiknya

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar- Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Akasara.

Basith, Abdul. 2011. Pengaruh Pembelajaran kontekstual berbasis ICT dengan syrategi inkuiri pada materi virus dan monera terhadap motivasi dan hasil belajar siswa kelas X SMA N I Bangil Pasuruan. Thesia. Tidak diterbitkan. Universitas Negeri Malang Departemen Pendidikan nasional. 2008. Perangkat Pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SEkolah Menengah Atas. Jakarta: Direktoran Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas. Corebima, Alosius Duran. 2006. Pengertian Metakognisi. Makalah pada Pelatihan Strategi Metakognisi pada Pembelajaran Biologi untuk Guru-Guru Biologi SMA di Kota Palangkaraya. 23 Agustus 2006. Kuhlthau, Carol., et al. 2007. Guided Inqury Learning in the 21st Century. Amerika: Libraries Unlimited Lestari, Dian Puji. 2009. Kemampuan erpikir Kritis dan Kreatif Siswa VIII Melalui Model Penilaian Portofolio di SMP Negeri 1 Kartasura Tahun Ajaran 2008/2009. Skripsi. Program Studi Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta Nur, Mohamad dan Wikandari, Prima Retno. 2008. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis dalam Pengajaran. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya Nur, Mohamad. 2011. Model Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya Nur, Mohamad. 2008. Teori-Teori Pembelajaran Kognitif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya

Nurhadi dan Senduk, A.G. 2003. Pembelajaran KOntekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang Primiani, Cicilia. 2012. Meningkatkan Motivasi dan hasil Belajar Embriologi Hewan Melalui Pendekatan Lesson Study. Madiun: IKIP PGRI

Saliman. Tanpa Tahun. Pendekayan Inkuiri dalam Pembelajaran. Jogjakarta: Universitas Negeri Jogjakarta Santoso, Handoko. 2009. Pengaruh Pembelajaran Inkuiri dan Kooperatif terhadap Hasil Belajar Kognitif Biologi pada Siswa SMA. Jurnal Pendidikan Biologi: Volume 1, Nomor 1, Agustus 2009, 15-24

--------- 2011. Lesson Study in Japan. Jepang: Keisuisha

LAMPIRAN 1 I. Data skor pretes dan postes hasil belajar kognitif kelas kontrol dan kelas eksperimen
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 Xa 15 18 21 26 26 55 25 45 29 27 26 23 30 25 19 20 33 23 25 36 19 30 27 20 32 17 37 21 43 22 30 29 20 20 28 21 20 Ya 48 42 52 40 64 79 28 70 63 66 39 30 25 34 40 52 76 47 48 63 39 39 64 43 58 35 75 50 97 62 65 49 40 56 61 31 59 Xb 26 20 23 22 25 24 25 27 17 27 31 20 23 20 17 21 40 18 21 27 20 42 23 22 27 18 62 57 23 27 25 43 16 30 19 36 20 Yb 29 43 19 26 40 25 19 35 24 40 24 32 39 35 41 18 33 38 26 35 46 49 35 30 19 40 32 70 54 26 43 35 60 36 38 26 53

38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51

30 58 25 35 42 83 27 35 20 51 24 69 20 56 23 60 25 64 30 35 20 27 30 41 31 57 23 29 29 62 31 26 23 37 17 60 33 88 20 31 20 47 0 37 28 35 20 15 17 38 32 31 24 74 20 33 26.37 53.06 25.61 36.27

Keterangan Xa = Skor pretes kelas kontrol Xb = skor postes kelas kontrol Ya = Skor pretes kelas eksperimen Yb = Skor post tes kelas eksperimen II. Data skor pretes dan postes berpikir kritis kelas kontrol dan kelas eksperimen
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Xa YA Xb YB 20 63 28 28 21 47 20 43 21 59 20 23 23 42 20 21 28 69 29 36 28 77 27 23 15 28 25 23 14 68 27 23 20 63 20 23 26 66 32 36 27 39 27 22 22 32 20 29 23 22 21 34 27 28 20 26 15 38 22 37 21 49 20 0 28 72 30 34

18 15 19 23 20 28 21 15 22 34 23 21 24 22 25 36 26 15 27 28 28 21 29 43 30 15 31 32 32 15 33 15 34 15 35 27 36 21 37 23 38 28 39 44 40 15 41 15 42 23 43 15 44 23 45 34 46 15 47 37 48 15 49 21 50 15 51 27 Rt2 22.41

44 20 32 53 20 21 62 26 32 37 20 40 36 39 46 61 20 32 46 21 30 62 26 22 36 23 37 71 54 28 45 57 65 95 22 51 54 23 26 70 23 37 45 27 30 34 20 54 55 21 35 59 20 41 37 36 26 57 20 56 62 20 35 98 27 29 46 20 43 55 30 31 65 26 34 24 28 35 57 22 26 63 24 28 37 20 52 93 20 27 47 20 33 31 20 20 35 35 30 76 20 32 51.65 24.67 31.86

Keterangan Xa = Skor pretes kelas kontrol Xb = skor postes kelas kontrol Ya = Skor pretes kelas eksperimen Yb = Skor post tes kelas eksperimen

LAMPIRAN 2 ANALISIS DATA KOVARIAT HASIL BELAJAR KOGNITIF

Covariate: Significant 1) Pengaruh Perlakuan: Signifikan

Hasil Post Hoc Test: Least Significance Difference (LSD) with significance level .05

MEAN:

PERLAKUAN KONTROL EKSPERIMEN

PREHBK 25,61 26,37

POSHBK SELISIH HBKCOREKSI 36,27 36,51 10,66 53,11 52,84 26,74

LAMPIRAN 3 HASIL ANALISIS DATA KOVARIAT BERPIKIR KRITIS

Univariate Analysis of Covariance

Covariate: Significant 2) Pengaruh Perlakuan: Signifikan

Hasil Post Hoc Test: Least Significance Difference (LSD) with significance level .05 MEAN: PERLAKUAN KONTROL EKSPERIMEN PREHBK 25,06 22,94 POSHBK SELISIH 32,49 7,43 53,14 30,20 HBKCOR 31,54 54,08