Anda di halaman 1dari 9

AIR SEBAGAI KOMPONEN TUMBUHAN Fithria Diniyati 1110423034 Abstrak Air merupkan komponen penting bagi tumbuhan,hampir 80 % sel

tumbuhan mengandung air.Tujuan praktikum kali ini untuk melihat proses plasmolisis dan deplasmolisis yang terjadi pada jaringan tumbuhan, penetuan tekanan osmotic cairan sel dan mengukur potensial jaringan sel.Pada praktikum ini menggunakan objek daun rhoe discolor.Hasil yang didapatkan pada praktikum ini adalah proses terjadinya deplasmolisis lebih lama terjadi dari pada proses plasmolisis.untuk tekanan osmotic didapatkan insipient plasmolisis pada konsentarsi 0,24 .kesimpulan pada praktikum kali ini plasmolisi lebih cepat dengan menggunakan NaCl dari pada sukrosa. Kata kunci : plasmolisis,deplasmolisis dan tekanan osmotic 1. PENDAHULUAN Air merupakan bahan yang sangat penting bagi kehidupan. Banyak fungsi-fungsi dalam biologi sepenuhnya bergantung pada air dan sifat kehidupan secara langsung merupakan hasil dari sifat air (Agustin,1995). Fungsi air yang paling penting yaitu dalam reaksi-reaksi biokimia dalam protoplasma yang dikontrol oleh enzim. Selain memberi fasilitas bagi berlangsungnya suatu reaksi biokimia, molekul air dapat berinteraksi secara langsung sebagai komponen reaktif dalam proses metabolisme di dalam sel (Dwidjo, 1985). Selain berperan dalam reaksi biokimia, air memiliki fungsi-fungsi lainya, seperti dalam: Protoplasma: pada protoplasma terdapat molekul-molekul makro, meliputi protein-enzim, asam nukleat, dll, membentuk berasosiasi dengan air membentuk suatu struktur yang unik yang dikenal dengan koloida. Sistem hidrolik: air dapat memberikan tekanan hidrolik pada sel sehingga menimbulkan turgor pada sel-sel tumbuhan, memberikan sokongan kekuatan pada jaringan-jaringan tumbuhan yang tidak memiliki sokongan struktur pada dinding selnya. Selain itu tekanan hidrolik juga berperan dalam proses membuka menutupnya stomata. Sistem angkutan: air berperan dalam mengangkut bahan-bahan dari satu sel ke sel lainnya, dimana bahan yang diangkut dapat berupa garam-garam mineral atau bahan-bahan organic hasil fotosintesis dan olahan sel lainnya. Stabilitas dan pemindahan panas: air berperan dalam pengaturan suhu tubuh tumbuhan, sehingga tumbuhan tidak mengalami kepanasan. Hal ini disebabkan karena tingginya panas jenis yang dimiliki air, memungkinkan air sebagai dapar ( buffer ) dalam pengaturan suhu tubuh tumbuhan (Loveles, 1987). Difusi adalah pergerakan molekul atau ion dari dengan daerah konsentrasi tinggi ke daerah dengan konsentrasi rendah hal ini disebabkan oleh energi kinetic dari molekul, ion atau atom-atom (Bidwell, 1974). Difusi terjadi akibat perbedaan konsentrasi, dimana perbedaan konsentrasi ini bisa terjadi bila terjadi perbedaan sejumlah partikel per unit volume dari suatu keadaan ke keadaan lain. Selain karena perbedaan konsentrasi, perbedaan dalam sifat juga dapat menyebabkan difusi, seperti pada gambar berikut, dimana terdapat perbedaan sifat antara gula(padat) dan air Osmosis pada dasarnya hampir sama dengan difusi, hanya saja osmosis adalah difusi melalui membran semipermeabel. Dimana molekul-molekul tersebut akan berdifusi dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Proses Osmosis akan berhenti jika konsentrasi zat di kedua sisi membran tersebut telah

mencapai keseimbangan. Pada gambar dibawah ini menggambarkan proses dari osmosis, dimana hanya zat-zat tertentu yang mampu melewati membrane (Williens, 1989). Osmosis dapat dicegah dengan menggunakan tekanan. Oleh karena itu, ahli fisiologi tanaman lebih suka menggunakan istilah potensial osmotik yakni tekanan yang diperlukan untuk mencegah osmosis. Jika anda merendam wortel ke dalam larutan garam 10 % maka sel-selnya akan kehilangan rigiditas (kekakuan)nya. Hal ini disebabkan potensial air dalam sel wortel tersebut lebih tinggi dibanding dengan potensial air pada larutan garam sehingga air dari dalam sel akan keluar ke dalam larutan tersebut. Jika diamati dengan mikroskop maka vakuola sel-sel wortel tersebut tidak tampak dan sitoplasma akan mengkerut dan membran sel akan terlepas dari dindingnya. Peristiwa lepasnya plasma sel dari dinding sel ini disebut plasmolisis (Fetter, 1994). Potensial air adalah suatu pernyataan dari status energi bebas air, suatu ukuran daya yang menyebabkan air bergerak kedalm suatu sistem. Potensial air mungkin merupakan parameter yang paling bermanfaat untuk diukur dalam hubunganya dengan sistem tanah, tanaman dan atmosfer (camphel ,2002). Potensial osmotik adalah potensial yang disebabkan oleh zat-zat terlarut. Tandanya selalu negatif. Potensial tekanan adalah potensial yang disebabkan oleh tekanan hidrostatis isi sel pada dinding sel. Nilainya selalu ditandai dengan bilangan positif, nol atau dapat juga negatif. Penambahan tekanan (terbentuk tekanan turgor) mengakibatkan potensial tekanan lebih positif. Potensial matriks disebabkan oleh ikatan air pada koloid protoplasma dan permukaan (dinding sel). Potensial matriks bertanda negatif, tetapi pada umumnya pada sel-sel yang bervakuola, nilainya dapat diabaikan (camphel, 2002) Menurut Salysburi and Ross (1991), air mampu melarutkan lebih banyak bahan dari zat cair lainnya. Hal ini disebabkan karena air memiliki tetapan di elektrik yang tinggi yaitu suatu ukuran kemampuan untuk menetralkan tarik menarik antara muatan listrik. Dalam sistem sederhana yang bersuhu tetap potensial air dihasilkan dari gabungan sejumlah kekuatan yang berlawanan yaitu tekanan dan potensial osmotik. Naiknya tekanan menghjasilkan tekanan negatif. Tekanan biasanya memiliki nilai positif terhada sel hidup tapi berniali negatif pada unsur mati xylem atau tanah (Salysbury, 1992). 1.1 Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk melihat peristiwa plasmolisis dan deplasmolisis pada jaringan epidermis, untuk mengukur tekanan osmotik cairan sel dan untuk mengetahui cara mengukur potensial air dengan metode chardakov. 2. PELAKSANAAN PRAKTIKUM 2.1 Waktu dan Tempat Pratikum ini dilaksanakan pada hari rabu tanggal 30 Januari 2013 pada pukul 08.00 WIB di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Universitas Andalas, Padang. 2.2 Alat dan Bahan Percobaan A. Plasmolisis dan deplamolisis pada jaringan epidermis Alatnya adalah Mikroskop, kaca objek dan cover, pisau silet dan pipet tetes. Bahannya adalah Rhoe discolor.,sukrossa 1M atau NaCl 1M. Percobaan B. Penentuan Tekanan osmosis cairan sel

Alatnya adalah pisau silet, tabung reaksi, pinset, dan gelas objek Bahannya daun Rhoe discolor yang masih segar, larutan glukosa dengan konsentrasi 0,24 : 0,22 : 0,20 : 0,18 : 0,16 : 0,14 : 0,12 : 0,10 M Percobaan C. Mengukur potensial air dengan metoda chardakov Alatnya adalah enam buah pipet berkapasitas 10 ml, tabung vial 6 buah, alat pengebor gabus, mikropipet atau syringe 6 buah. Bahannya adalah Solanum tuberosum, larutan sukrosa 0,1 : 0,2 : 0,3 : 0,4 : 0,5 : 0,6 M, dan metilen blue. 2.3 Cara kerja Percobaan A. Plasomilis dan desaplomilis pada jaringan epidermis Disayat selapis tipis permukaan epidermis bawah Rhoe discolor dengan menggunakan pisau silet yang tajam. Potongan tersebut diletakkan pada gelas preparat dan ditetesi 2-3 tetes air. Kemudian di tutup dengan menggunakan cover glass dan amati dibawah mikroskop dengan menggunakan perbesaran yang rendah. Sel-sel berwarna didekat tepi irisan diamati antara lain adanya sel-sel yang tidak berpigmen, adanya nukleus, dan partikel subsel lainnya didalam sel. Kemudian ditambah dengan 2 tetes sukrosa 1M diantara gelas preparat dan kaca penutup melaui salah satu sisnya. Air yang berlebihan diserap kertas tissue ditepi kaca yang berlawanan. Penambahan tetesan larutan sukrosa terus dilakukan sehingga ikut terser oleh kertas tissue kesalam kaca. Kemudian diamati penurunan volume protoplas dan perhatikan benag-benang sitoplasmatik tak berpigmen tetap melekat pada dinding sel. Kemudian digambar 2 buah sel yang terplasmolisis. Kemudian hisap larutan sukrosa tadi dengan menggunakan tissue dan teteskan dengan air di sisi kaca yang berlawanan. Kemudian diamati proses deplomosis yang terjadi dan cacat waktu yang diperlukan untuk berlangsungnya proses tersebut pada satu sel. Percobaan B. Penentuan Tekanan osmosis cairan sel Disispkan 8 tabung reaksi dan kemudian diisi larutan glukosa kedalam tabung reaksi kira-kira 1/3 bagian, satu tabung reaksi untuk satu konsentrasi. Sayatlah lapisan epidermis yang berwarna dari tanaman dengan menggunakan pisau silet, diusahakan menyayatnya selapis saja. Kemudian diamati dibawah mikroskop apakah sayatan kita cukup baik untuk digunakan. Jiak cukup representatif , dimasukkan ke dalam tabung reaksi sayatan tersebut dan cacat waktu mulai perendaman. Diabiarkan sayatan dalam larutan selama 30 menit diperiksa sayatan epidermis dibawah mikroskop dengan reagen larutan sukrosa dimana sayatan tadi disimpan. Dicari konsentrasi sukrosa dimana 50% dari jumlah sel epidermis tadi telah terplasmolisis. Keadaan ini desebut dengan insipien Plasmolisis. Sel dalam keadaan insipien Plasmolisis memiliki potensial osmotik larutan yang digunakan. Kemudian ditentuakan potensial osmotik sel pada insipien Plasmolisis. Percobaan C. Mengukur potensial air dengan metoda Chardakov Diisi tabung reaksi dengan larutan sukrosa yang telah disediakan masing-masung sebanyak 10ml. dibuat potongan umbi Solanum tuberosum dengan menggunakan pengebor gabus. Kemudian dimasukkan kedalam masing-masing tabung reaksi 10 potongan jaringan tadi. Tabung reaksi tersebut ditutup dan dibiarkan selama 80 menit. Setiap 20 menit tabung tersebut digoyang perlahan-lahan untuk mempercepat terjadinya keseimbangan. Setelah 80 menit dikeluarkan potongan umbi tersebut dengan menggunakan pinset, setiap tabung gunakan pinset yang berbeda. Kemudian larutan sisa ditetes dengan larutan asal yang konsentrasinya sama dan telah diwarnai dengan metilen blue. Kemudian pipet ditetesi pengetes diatas sisa larutan tadi secara perlahan-lahan dan diamati gerakan larutan pengetes tadi. Dilihat larutan tersbut

apakah jauh kedasar larutan, melayang, atau tenggelam. Kemudian ditentuakan potensial osmotik sel dengan melihat tabel tekanan osmotik pada larutan sukrosa pada suhu 20C. dibandingakan nilai potensial air jaringan yang diperoleh dengan kelompok lain. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Dari praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan hasil sebagai berikut : a. Plasmolisis dan deplasmolisis pada jeringan epidermis Rhoe discolor

Sel normal Sel sebelum ditetesi NaCl

plasmolisis Sel setelah ditetesi NaCl 1M

Deplasmolisis Tabel percobaan 1 perlakuan Deskripsi Pengamatan Sel Sel tampak normal dan pigmen warna merata Sel mengalami penyusutan setelah ditetesi namun dalam waktu yg cukup lama Membran sel mengkerut langsung setelah ditetesi Waktu Plasmolisis dan Deplasmolisis

Aquades

Sukrosa 1M

6,21 menit

8,29 menit

NaCl 1M

3,25 menit

7,18 menit

b. Tekanan osmosis cairan sel

Tabel percobaan 2 Unit sel utuh No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7 8 Konsentrasi (M) Awal 0,24 0,22 0,20 0,18 0,16 0.14 0,12 0,10 115 164 123 166 120 114 108 128 Akhir 59 27 54 40 2 39 16 58 Unit sel % 48.6 83.5 56.0 75.9 98.3 65.7 85.1 54.8 Sel terplasmolisis

c. Mengukur potensial air dengan metode Chardakov Tabel percobaan 3 Konsentrasi (M) No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 Hasil Pengujian Melayang Tenggelam Tenggelam Tenggelam Tenggelam Melayang

3.2 Pembahasan 3.2.1 Plasmolisis Dan Deplasmolisis Pada Jaringan Epidermis Dari hasil yang diperoleh dapat diketahui bahwa saat Rhoe discolor ditetesei air, tidak terjadi plasmolisis. Setelah dikeringkan dan ditetesi larutan sukrosa, terjadi plasmolisis setelah 6,21 detik pengamatan. Jadi, pada pengamatan awal sel belum terplasmolisis. Setelah diberi larutan sukrosa, barulah sel terplasmolisis. Dinding selnya berkerut dan terlihat batasan antara membran sel dengan dinding sel. Setelah sukrosa diserap dari cover glass dan sel diberi air, sel kembali mengembang. Cairan di luar sel masuk ke dalam sel sehingga terjadi penambahan volume sel. Jadi cairan di dalam protoplas sudah menjadi lebih encer. Kejadian ini disebut dengan deplasmolisis. Waktu yang dibutuhkan sel ini untuk deplasmolisis yaitu 8,29 menit . Larutan sukrosa dapat menyebabkan sel terplasmolisis karena potensial air pada sel lebih tinggi daripada di luar sel, sehingga cairan di dalam sel berdifusi ke luar sel. Akibatnya, terjadi penurunan volume sel dan sel dinding sel tampaknya berkerut. Sedangkan dengan menggunakan NaCl, waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya plasmolisi adalah 3,25 menit. Sel mengalami plasmolisis setelah ditetesi dengan NaCL 1 M, dan ini ditandai dengan keluarnya cairan dari dalam sel dan mengakibatkan dinding sel menjadi berkerut, dan sel bisa kembali kebentuk semula dengan meneteskan air ke sel Rhoe discolor tersebut dan menyerap cairan NaCl dari jaringan sehingga akan mengakibatkan air masuk ke dalam sel dan bentuk sel menjadi pulih kembali. Menurut Salisbury dan Ross (1995), Terlepasnya protoplas dari dinding sel disebabkan oleh penyusutan atau pengurangan volume, karena cairan di dalam protoplas sudah menjadi lebih pekat dan karenanya berpotensial osmotik lebih negatif. Pada bagian luar sitoplasma terdapat membran plasma yang berfungsi sebagai pembatas antara satu sel dengan sel lain disebelahnya. Selain itu membran plasma jugaq berfungsi untuk mengatur lalu lintas materi yang akan masuk dan keluar dari sel. Masuk dan keluarnya zat, harus menembus membran plasma dan berlangsung secara aktif maupun pasif. Transpor pasif berlangsung dengan cara difusi, dan osmosis. Proses difusi adalah percampuran antara dua senyawa yang berbeda konsentrasinya, difusi terjadi dari tempat yang konsentrasinya tinggi ke tempat yang konsentrasinya rendah. Difusi juga terjadi pada sel, tetapi antara senyawa yang berbeda konsentrasinya itu terdapat membrane plasma yang mempunyai pori (osmos). Dengan begitu difusi pada membran harus melalui pori- pori membran plasma, proses ini disebut dengan osmosis (Salisbury,1995). Plasmolisis adalah peristiwa terlepasnya protoplasma sel tanaman dari dinding sel atau peristiwa keluarnya air dari dalam sel tanaman. Dijelaskan pula bahwa peristiwa plasmolisis dipengaruhi oleh suhu, maka plasmolisis yang terjadi semakin cepat jika suhu tinggi (Januar, 1989). 3.2.2 PENENTUAN TEKANAN OSMOTIK CAIRAN SEL Pada tabel dapat diperhatikan terjadi perubahan jumlah yang ditemukan karena perbedaan konsentrasi pada masing-masing tabung. Dari hasil pengamatan ini dilakukan perhitungan untuk mendapatkan persentase nya. Perhitungannnya dengan mengali jumlah sel awal dengan jumlah sel akhir dibagi jumlah sel awal dikali seratus.

Kemudian hasil yang mendekati 50% atau yang biasa disebut dengan insipient plasmolisis dilanjutkan pencariannya dengan menggunakan rumus W= M.i.R.T Proses osmosis dapat berlangsung karena dari satu sisi insipien ada larutan dan di sisi lain ada larutan lain yang berbeda konsentrasinya. Besarnya tekanan insipien bergantung pada konsentrasi larutan dalam osmometer. Sebab nilai dari konsentrasi larutan akan menurun jika konsentrasi bahan terlarut meningkat. Sehingga seharusnya perbedaan konsentrasi larutan sukrosa mempengaruhi banyak nya sel yang terplasmolisis. Dan kesalahan-kesalahan yang terjadi pada saat penyayatan ada yang terlalu tebal dan ada yang terlalu tipis. Disamping itu kesalahan yang terlalu lama perendaman juga karena ketidakseriusan akan mempengaruhi hasil yang tidak akurat. Konsentrasi yang mengalami proses plasmolisis terbesar adalah pada konsentrasi 0,16 M dan yang mengalami plasmolisis insipien adalah pada konsentrasi adalah pada konsentrasi 0,2 Persentase plasmolisis tertinggi terjadi pada konsentrasi sukrosa 0,16M dengan persentase 98%. Hal ini berarti, pada konsentrasi ini cairan sel yang keluar sangat banyak, hal ini berbanding sesuai dengan teori yang ada, dimana konsentrasi tertinggi didapatkan pada persentase plasmolisis yang terbesar. Sitoplasma keluar dari sel melalui membran sel terjadi karena sel diletakkan dalam suatu larutan yang hipertonis terhadap cairan sel (konsentrasi sel yang besar), akibatnya cairan keluar dari vakuola dan menyebabkan vakuola menyusut (Dwidjoseputro, 1980). Para ahli fisiologi tumbuhan menganggap bahwa plasmolisis insipien terjadi pada jaringan yang separuh jumlah selnya baru saja mulai mengalami plasmolisis (protoplas baru mulai terlepas dari dinding sel), berarti tekanan di dalamnya sama dengan nol. Jika anggapan itu benar, maka potensial osmotik larutan penyebab plasmolisis insipien setara dengan potensial osmotik di dalam sel, sesudah kesetimbangan dengan larutan tercapai (Salisbury dan Ross, 1995). Pada umumnya makin tinggi konsentrasi larutan maka makin banyak sel sel terplasmolisis. Pernyataan ini sedikit berbeda dari percobaan yang dilakukan. Hal ini karena sel epidermis yang terdapat bervariasi jumlah sel dan ukuran sampel yang akan diteliti sehingga tidak terjadi kesamaan reaksi untuk tiap sel yang dilarutkan pada larutan sukrosa. 3.2.3 MENGUKUR POTENSIAL AIR JARINGAN DENGAN METODE CHARDAKOV Pada percobaan ini didapatkan hasil, setelah ditetesi larutan penguji hanya larutan sisa perendaman sampel dengan konsentrasi 0,1 dan 0.6 M yang melayang, selebihnya larutan penguji jatuh untuk konsentrasi 0,2 M, 0,4 M, 0,5 M, Untuk hasil tetesan yang jatuh (tenggelam), larutan telah menjadi kurang pekat, berarti larutan telah menyerap air dari jaringan. Osmosis terjadi dari jaringan ke dalam larutan. Pada tetesan yang dipantulkan, hal ini berarti larutan perendaman jaringan menjadi lebih pekat, menandakan jaringan telah menyerap air. Osmosis terjadi dari larutan ke dalam jaringan. Dalam hal ini, jaringan mempunyai potensial air yang lebih rendah (lebih

negatif) dari larutan awal. Sedangkan pada tetesan yang melayang , pontnsial air larutan sama dengan jaringan. Jika di satu sisi membran ada larutan dan di sisi lainnya ada larutan lain yang berbeda konsentrasinya, maka osmosis akan berlangsung. Larutan yang lebih pekat mempunyai potensial air yang lebih rendah (lebih negatif), jadi air akan berdifusi ke daerahnya dari larutan aka larutan mempunyai potensial air lebih rendah daripada jaringan awal. Lain sampai tekanannya naik ke suatu titik, yaitu sampai potensial airnya sama dengan potensial-air larutan yang kurang pekat. Hal ini mungkin terjadi bila keduanya mempunyai wadah. Jika difusi berlangsung menuju larutan yang tidak berwadah, maka pergerakan ini akan terus berlangsung sampai larutan yang lebih pekat diencerkan, yaitu sampai potensial airnya sama dengan potensial-air larutan di sisi lain membran. Pada saat itu, kedua larutan mempunyai potensial air bernilai negatif yang sama. Kesetimbangan pun tercapai (Salisbury dan Ross, 1995). Nilai potensial air tidak dapat diketahui atau di ukur absolutnya maka yang diukur hanyalah selisih antara potensial air dalam sistem yang teliti, misalnya jaringan tumbuhan dengan potensial air murni yang mempunyai suhu dan tekanan atmosfir yang sama dengan sistem yang teliti. Biasanya potensial air akan bertambah dengan naiknya suhu, dimana suhu sangan penting dalam pengukuran ptensial air ( Crafts. A. S, 1986 ). 4.1 Kesimpulan Dari percobaan yang telah dilakukan dan hasil yang didapat, dapat disimpulkan bahwa 1. 2. 3. 4. 5. Plasmolisis lebih cepat terjadi pada larutan NaCl daripada larutan sukrosa. Plasmolisis terbesar terjadi pada konsentrasi 0,16M, dan yang mengalami plasmolisis insipiet adalah pada konsentrasi 0,24 M. Semakin negative potensial larutan, semakin besar terjadinya pengurangan berat dari jaringan. Larutan penguji yang melayang hanya larutan sisa perendaman sampel dengan konsentrasi 0,1 dan 0.6 M, selebihnya larutan penguji jatuh untuk konsentrasi 0,2 M, 0,4 M, 0,5 M Hasil tetesan yang jatuh (tenggelam), larutan telah menjadi kurang pekat, berarti larutan telah menyerap air dari jaringan.Pada tetesan yang dipantulkan, hal ini berarti larutan perendaman jaringan menjadi lebih pekat, menandakan jaringan telah menyerap air.Sedangkan pada tetesan yang melayang , pontnsial air larutan sama dengan jaringan. Semakin tinggi konsentrasi larutan, semakin negative potensial airnya dan kebutukan air semakin besar. Air bergerak dari potensial tinggi ke potensial rendah. Saran

6.

7. 8. 4.2

Dalam melakukan praktikum ini praktikan diharapkan aktif bertanya kepada asisten pendamping agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan percobaan.

DAFTAR PUSTAKA

Bidwell, R.G.S. 1979. Plant Physiology Second Edition. Max Million Publiching. New York. Campbell dan Reece. 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid 1. Erlangga. Jakarta. Craft, A.S. 1968. Water Deficit and Physiological Processes vol 2. Academic Press: New York and London. Dwidjo, Seputro.1985. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia: Jakarta Harjadi, Sri sediati. 1979. Pengantar Agronomi. Gramedia : Jakarta Januar, D. 1989. Dasar-dasar Fisisologi Tumbuahan.Gramedia: Jakarta. Loveles, A.R.1987. Prinsip Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik.Gramedia Salisbury, F. B dan Cleon W, Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. ITB: Bandung