Anda di halaman 1dari 4

JURNAL PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DASAR E2-RANGKAIAN SERI DAN PARAREL

Spektrometer
Setiawan Abdillah, Nurul Rosyidah AAI Jurusan Fisika, Fakultas MIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 E-mail: setiawan.abdillah@gmail.com
AbstrakTelah dilakukan percobaan tentang rangkaian rangkaian seri dan pararel. Percobaaan rangkaian seri dan pararel ini menggunakan prinsip hukum Ohm dan hukum Kirchoff. Pada percobaan dibagi menjadi dua percobaan yaitu percobaan seri untuk mencari tegangan pada tiap-tiap resistor dan percobaan pararel untuk mencari arus pada resistor yang dipararelkan. Dimana variasi dilakukan pada sumber tegangan 6V dan 12V. Percobaan diulangi dalam pengukuran sebanyak 5 kali. Pada percobaan digunakan besar hambatan pertama 10000 dan hambatan kedua 15000Pada rangkain pararel, terukur arus totalnya sebesar Dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan bahwa pada rangkaian seri, besar arus pada tiap-tiap resistornya sama dan penjumlahan besar tegangan pada tiap-tiap resistornya akan sama dengan tegangan yang masuk pada rangkaian sehingga rangkaian seri disebut dengan pembagi tegangan sedangkan pada rangkaian pararel, tegangan pada tiap-tiap resistornya yang dipasang secara pararel akan sama dan jumlah arus-arus pada tiap resistornya sama dengan arus totalnya sehingga disebut dengan pembagi arus. Kata KunciTegangan, Rangkaian Pararel Arus, Rangkaian Seri,

memasuki medium tertentu yang berbeda dengan medium awalnya, cahaya tersebut akan dibelokan terhadap garis normalnya selain itu terjadi perubahan panjang gelombang jika berada medium tertentu seperti pada persamaan berikut.

Dimana adalah panjang gelombang pada medium tertentu, adalah panjang gelombang pada ruang hampa, dan n adalah indeks bias pada medium tertentu. Akibat dari perubahan ini terjadi pembiasan. Di tahun 1621, Willebrod Snell yang terkenal akibat hukum Snellius nya atau hukum pembiasan mendapatkan suatu persamaan pembiasan seperti pada persamaan berikut = Pada prisma, juga terjadi pembiasan cahaya seperti pada gambar berikut.

I. PENDAHULUAN Dalam kehidupan sehari-hari tidka asing bagi kita dengan cahaya. Cahaya dimanfaatkan sebagai penerang, transmisi data pada kabel optic, dan masih banyak lagi kegunaannya. Tokoh yang mengembangannya teori pada cahaya salah satunya adalah Newton. Newton menjelaskan hukum-hukum refleksi dan refraksi. Sedangkan teori gelombang cahaya dikembangkan oleh Christian Huygens dan Robert Hooke. Pada 1801, Thomas Young dapat mengekumakan cahaya sebagai gelombang dengan adanya interferensi yang terjadi pada cahaya. Pada tahun 1850, Jean Foucault mengukur laju cahaya tersebut pada air akan lebih kecil dibandingkan dengan laju cahaya pada udara. Cahaya jika mengenai sebuah permukaan bidang batas yang memisahkan dua medium yang berbeda seperti misalnya sebuah permukaan udara kaca, perbahan arah dari sinar yang ditransmisikan tersebut disebut dengan pembiasan. Jika suatu cahaya

Gambar 1 Pembiasan pada prisma

Dari gambar diatas, besar sudut deviasi tergantung pada sudut datang nya sinar adalah Jika sudut datang cahaya prisma sama dengan sudut bias cahaya meninggalkan prisma atau I1 = R2 = I dan I2 = R1 = r. dimana I adalah sudut datang cahaya dan r adalah sudut bias cahaya pada prisma maka D = 2I - atau i = (Dm + ). Berdasarkan hukum Snellius maka didapatkan persamaan berikut.

Dengan n1 adalah indeks bias medium sekitar prisma, n2 adalah indeks bias prisma, adalah sudut pembias prisma, dan Dm adalah sudut deviasi

JURNAL PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DASAR E2-RANGKAIAN SERI DAN PARAREL

minimum prisma. Sehingga dilakukan percobaan untuk mengetahui indeks bias prisma kaca menggunakan persamaan yang tersedia. Cahaya yang memasuki prisma juga akan mengalami disperse cahaya yaitu terurainya cahay putih menjadi cahaya yang berwarna-warni. Peristiwa ini dikarenakan adanya perbedaan panjang gelombang pada tiap warna cahaya. Kumpulan cahaya tersebut disebut spectrum. Penggunaan pertama kata spektrum dalam ilmu alam adalah di bidang optik untuk menggambarkan pelangi warna dalam cahaya tampak ketika cahaya tersebut terdispersi oleh sebuah prisma. Setiap unsur logam mempunyai garis spectrum warna yang berbedabeda. Untuk mengetahui spectrum warna cahaya maka perlunya percobaan spectrometer ini. Dalam pengukuran spectrum cahaya digunakan alat dinamakan spectrometer. Cahaya masuk pada sebuah kisi yang jarak celahnya diketahui lalu didispersikan ke prisma menjadi berbagai spectrum. Sudut-sudut deviasi dari maksimum-maksimum kemudian diukur dengan persamaan berikut Bila suatu gas dipanaskan maka gas itu memancarkan cahaya yang panjang gelombangnya tertentu. Tergantung dari molekul dari gas tersebut. Pengukuran ini terkadang digunakan dalam penentuan gas pada bintang jatuh. Alat spectrometer terdiri dari sumber cahaya, celah, lensa, kisi, teleskop, dan yang paling penting adakah pelat sudut tempatnya prisma diletakan. II. METODE Pada percobaan yang telah dilakukan digunakan alat dan bahan sebagai berikut, satu set Spektrometer, lampu gas Neon, lampu gas Helium, Hambatan geser, dan Power Supply. Pada percobaan dilakukan dengan tiga kali pengulangan. Pertama-tama rangkaian di pasang seperti pada gambar berikut. Dimana 1 adalah prisma, 2 adalah kolimator yang berfungsi menghubungkan cahaya pada lampu gas dengan prisma tempat terjadinya pembiasan, 3 adalah tabung gas yang pada percobaan digunakan dua jenis gas yang berbeda yaitu helium dan neon, 4 adalah teleskop yang berfungsi untuk mengamati spectrum yang dihasilkan oleh tabung gas dikarenakan terjadi pembiasan pada prisma, 5 adalah hambatan geser, 6 adalah power supply yang dimana tegangan yang digunakan pada percobaan sebesar 5000V. Pada saat pemasangan praktikan harus berhati-hati dalam penggunaan power supply karena tegangan mencapai 5000V. yang perlu diperhatikan oleh praktikan, jangan menghubungkan ke sumber tegangan ketika pemasangan lampu gas pada tempat

peletakannya, karena tegangan disekitar tempat pemasangannya sangat tinggi.

Gambar 2 Rangkaian Percobaan

Setelah rangkaian dirangkai, power supply dihubungkan ke tegangan PLN lalu diamati sampai lampu gas menyala. Jika lampu tidak menyala, diulangi perangkaiannya dan jangan dihubungkan dengan tegangan PLN ketika merangkai. Jika lampu berhasil menyala, dihitung dulu pada spectrometer berapa titik nol nya. Hal ini akan mempermudah pembacaan pada saat percobaan. Lalu diamati pada teleskop spectrum yang dihasilkan pada percobaan tiap-tiap lampu gas. Diukur berapa simpangan pada tiap-tiap spectrum yang dihasilkan oleh lampu gas dengan menentukan titik tengah pada salah satu spektrumnya. Setelah diukur besar sudut deviasi pada tiap-tiap spectrum warna, dihitung besar indeks bias pada prisma dengan menggunakan persamaan berikut.

Lalu hasil pengukuran tersebut dibuat grafik untuk mendapatkan persamaan linier dari data yang didapatkan. III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gas Neon Pada percobaan pada gas Neon yang telah dilakukan, didapatkan data simpangan seperti pada tabel 1. Pada percobaan ini dilakukan variasi pengamat sehingga didapatkan tiga data untuk setiap warna yang diamati. Sudut awal pada percobaan ini adalah 290. Tabel 1 Percobaan Pada Gas Neon Warna (Sudut Deviasi) ( 1 2 3 Merah 70,6 70,8 70,8 Jingga 71 71 71 Kuning 71,4 71,3 71,3 ( 70,734 71 71,334

No 1 2 3

JURNAL PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DASAR E2-RANGKAIAN SERI DAN PARAREL

4 5 6 7 8

Hijau Muda 71,7 71,7 71,8 72 Hijau Tua 72,2 72,3 72,3 Biru Muda 72,6 72,6 72,6 72,6 Nila 72,8 72,8 72,9 72,867 Ungu 74 74 74 74 Dari data-data diatas, maka kita bisa menghitung besar n pada prisma dengan menggunakan persamaan yang ada. Selain itu juga, kita harus mencari referensi panjang gelombangnya. Yaitu seperti pada tabel berikut. No Warna n 1 Merah 1,817 715 2 Jingga 1,819 619,5 3 Kuning 1,822 579,5 4 Hijau Muda 1,826 539,5 5 Hijau Tua 1,831 492 6 Biru Muda 1,833 459,5 7 Nila 1,841 422 8 Ungu 1,817 715 1,827 Lalu didapatkan grafik dengan data-data diatas seperti pada berikut

menyatu. Sehingga kurang teliti dalam penentuan titik tengah tiap spectrum warna. B. Gas Helium Pada percobaan pada gas Helium yang telah dilakukan maka didapatkan data seperti pada tabel berikut. ( No Warna (Sudut Deviasi) ( 1 2 3 1 Merah 70,8 70,8 70,8 70,8 2 Kuning 71,5 71,5 71,6 71,534 3 Hijau Tua 72,5 72,7 72,6 72,6 4 Hijau 72,8 72,8 72,8 72,8 Kebiruan 5 Biru 73 73 73 73 6 Ungu 73,6 73,6 73,6 73,6 Sedangkan panjang gelombang dan perhitungan pada lampu helium adalah seperti pada tabel berikut No Warna n 1 Merah 1,818 715 2 Kuning 1,823 579,5 3 Hijau Tua 1,831 539,5 4 Hijau Kebiruan 1,834 492 5 Biru 1,836 422 6 Ungu 1,818 715 1,824 Gas helium yang teramati merah muda terang. Pada percobaan ini rangkaian alat juga disamakan dengan sebelumnya.

Pada percobaan gas neon bewarna oranye terang. Dimana alat pada pemasangannya tidak diletakan pada tempat yang tersedia. Maksudnya harus dijepit di bagian yang tidak pada tempatnya, yakni pada bagian yang dekat pada tiang penyangga lampu gas. Hal ini dikarenakan jika dijepit pada bagian yang sudah disediakan, akan terjadi loncatan api pada gas, dan bisa mengakibatkan kesetrum akibat kurang rekatnya tempat yang sudah disediakan, berbeda dengan bagian yang dekat pada tiang yang lebih rekat penjepitannya. Sehingga tidak longgar dan tidak mengakibatkan loncatan api pada lampu gas. Lampu gas yang terlihat langsung diamati pada teleskop pada alat spectrometer dan didapatkan warna-warna spectrum seperti pada gambar. Lampu ini yang terurai pada prisma ini diakibatkan cahaya dari gas neon merupakan gas polikrom dan merupakan gas yang memiliki spectrum yang kontinyu. Maksud dari kontinyu adalah ketika pengamatan pada teleskop yang dimana antar warna tidak ada batas yang jelas, jadi terlihat seperti

Lampu gas yang diamati setelah melewati prisma adalah termasuk cahaya yang diskrit. Dimana diskrit disini sangat terlihat jelas perbedaan antar spectrum warna yang terurai. Sehingga sangat mudah dilakukan pengukuran pada percobaan.

KESIMPULAN/RINGKASAN Dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan bahwa pada rangkaian seri, besar

JURNAL PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DASAR E2-RANGKAIAN SERI DAN PARAREL

arus pada tiap-tiap resistornya sama dan penjumlahan besar tegangan pada tiap-tiap resistornya akan sama dengan tegangan yang masuk pada rangkaian sehingga rangkaian seri disebut dengan pembagi tegangan sedangkan pada rangkaian pararel, tegangan pada tiap-tiap resistornya yang dipasang secara pararel akan sama dan jumlah arus-arus pada tiap resistornya sama dengan arus totalnya sehingga disebut dengan pembagi arus. DAFTAR PUSTAKA [1]Freedman,Young. 2012. Fisika Universitas. Jakarta: Erlangga. [2]Giancolli. 2001. Fisika edisi kelima. Jakarta:Erlangga. [3]Tipler, Paul A. 2001. FISIKA untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Erlangga.