Anda di halaman 1dari 12

PEWARNAAN TULANG METODE ALIZARIN

Laporan Praktikum Mikroteknik

Nama NIM

: Riany Andita Putri K. : J1C108005

Kelompok : 3 (Tiga) Asisten : Tri Yulia Ningsih

PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU DESEMBER 2010

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Ilmu yang mempelajari teknik pembuatan sediaan mikroskopis adalah mikroteknik. Mikroteknik atau teknik histologi merupakan ilmu atau seni mempersiapkan organ, jaringan atau bagian jaringan untuk dapat diamati dan ditelaah. Mikroteknik merupakan cara atau teknik yang hasilnya dapat dipakai untuk menunjang ilmu-ilmu baik zoologi maupun botani, terutama anatomi, embriologi serta histologi. Beberapa teknik pembuatan sediaan itu adalah sediaan utuh (whole mount), sediaan apus (smear), sediaan squash, sediaan gosok, maserasi, sediaan sayatan (tanpa embedding dan dengan embedding), sediaan supravital, sediaan uraian, serta sediaan rentang (Nurliani, 2009). Sediaan adalah benda yang akan diamati strukturnya. Sifatsifat dari sediaan ada yang sementara, semi permanen, dan permanen. Sumber sediaan adalah semua organisme atau yang pernah hidup baik itu tumbuhan, hewan, maupun manusia dan hasil pertumbuhannya (bagian atau keseluruhan tubuh organisme). Garis besar pembuatan sediaan adalah pengambilan dan persiapan material, fiksasi, pencucian, pewarnaan, dehidrasi, penjernihan, penempelan pada gelas objek, dan pemberian nama (Kusuma, 2008). Penyediaan sel yang baik diperlukan dalam menginterpretasi

karakteristik kromosom yang dimiliki. Setiap prosedur dalam penyediaan sediaan sel atau jaringan memerlukan perhatian yang rinci. Proses ini diawali dengan menyeleksi material jaringan, mengumpulkan serta menyiapkan sebagai sediaan untuk diteliti di bawah mikroskop. Tahapan-tahapan tersebut membutuhkan teknik yang baik dan tepat (Laimeheriwa, 2008). Pada setiap praktikum yang dilakukan di laboratorium, biasanya selalu berhubungan dengan sediaan mikrskopis terutama jika praktikum tersebut berhubungan dengan dunia kedokteran atau keperawatan. Laboratorium itu sendiri merupakan wadah atau tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan dan pembuatan preparat atau sampel. Laboratorium

biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali (Santoso, 2002). Metode mikroteknik untuk mengamati proses perkembangan organ tertentu dapat digunakan pewarnaan khusus, misalnya pewarnaan alizarin dengan tujuan untuk mendeteksi pengendapan mineral kalsium pada proses pembentukan tulang keras (Nurlianni, 2009). Mineralisasi matriks sel sangat mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan jaringan tulang. Garam kalsium, yaitu Ca karbonat pada cangkang telur ayam sangat berpengaruh dalam proses pengerasan tulang (Sylar, 2008).

1.2 Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengenal tahap-tahap pembuatan, bahan dan alat untuk praktikum teknik pewarnaan tulang dengan metode alizarin.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Salah satu mekanisme yang ditempuh hingga terwujudnya organisme multiseluler sampai dalam wujud sekarang ini menurut teori evolusi adalah melalui reproduksi sel. Semua organisme mengalami reproduksi baik dalam perkembangan maupun pertumbuhannya. Pertumbuhan dan perkembangan tidak lain adalah hasil pertumbuhan sel-sel tubuh, membesar dan membelah. Pada dasarnya reproduksi atau pembelahan sel tidak sesederhana pembelahan sel menjadi dua sel yang berukuran sama, karena pada proses pembelahan sel melibatkan pemisahan sejumlah organel dengan fungsi-fungsinya yang harus diwariskan pada sel-sel anaknya (sister cell). Pembelahan sel diawali dengan pembelahan inti dan diikuti dengan pembelahan sitoplasma. Tetapi tidak menutupi kemungkinan terjadinya pembelahan inti yang tidak diikuti dengan pembelahan sitoplasma sehingga terbentuk sel-sel yang berinti banyak (Yatim, 1986). Tulang atau jaringan osteosa adalah sejenis jaringan ikat kaku yang menyusun sebagian besar kerangka dewasa. Matriksnya mengandung unsur anorganik, terutama kalsium fosfat, yang merupakan kurang lebih dua per tiga dari berat tulang. Secara mikroskopik, tulang terbentuk secara spongiosa atau kompak (Tuti, 2009). Tulang maupun tulang rawan adalah bentuk jaringan penyambung padat yang terspesialisasi yang matriksnya lentur dan luwes. Kedua jaringan itu melakukan fungsi kerangka yang bersifat struktural dan menanggung beban di dalam tubuh. Tulang secara arsitektur direncanakan sebagai jaringan yang ringan tapi luar biasa kuat untuk mananggung beban yang garis kekuatannya mengikuti garis tekanan yang diakibatkan oleh dukungan beban (Yatim, 1983). Tulang dapat dibentuk dengan dua cara, yaitu melalui mineralisasi langsung pada matriks yang disekresi oleh osteoblast (osifikasi intra membranosa) atau melalui penimbunan matriks tulang pada matriks tulang rawan sebelumnya (Osifikasi endokondral). Pada kedua proses tersebut, jaringan tulang yang pertama kali dibentuk adalah primer atau muda. Tulang primer adalah jaringan yang bersifat sementara dan tidak lama kemudian diganti oleh jenis tulang berlamel yang tetap, yang kemudian disebut tulang sekunder (Yatim, 1983).

Proses kalsifikasi atau terbentuknya tulang terjadi dengan 2 cara yaitu melalui osifikasi intra membran dan osifikasi endokondral. Osifikasi intra membran merupakan proses pembentukan tulang dari jaringan mesenkim menjadi jaringan tulang, contohnya pada proses pembentukan tulang pipih. Sedangkan osifikasi endokondral yaitu proses pembentukan tulang yang terjadi dimana selsel mesenkim berdiferensiasi lebih dulu menjadi kartilago (jaringan rawan) lalu berubah menjadi jaringan tulang, misalnya proses pembentukan tulang panjang, ruas tulang belakang dan pelvis (Tuti, 2009). Pertumbuhan tulang secara endokondral terdapat pada tulang sebelah dalam tubuh seperti vertebratae, costae, sternum dan extremitates. Proses penulangan diawali dengan masuknya pembuluh darah membawa bahan tulang (ossein dan mineral) ke jaringan tulang rawan, hadirnya osteoblast di sini, disusul dengan hadirnya pula condroblast yang meresap ke dalam tulang rawan yang dirombak. Condrosit menyusun diri menjadi jaringan lurus, disusul dengan

masuknya bahan kapur dan mineral lain ke matrik. Tulang akan terdiri dari lapisan-lapisan (lamella) yang sebagian besar tersusun menurut lingkaran membentuk sistem harvers (Sylar, 2008). Matriks tulang mengandung unsur-unsur yang sama seperti jaringan penyambung lainnya, serat-serat dan bahan dasar. Pengendapan matriks oleh osteoblast ini disebut osifikasi. Pengendapan garam-garam kalsium dalam

matriks ini disebut kalsifikasi (pengapuran), yaitu suatu proses yang terjadi normal pada tulang tetapi dapat terjadi secara patologis dalam jaringan penyambung lain, seperti tulang rawan dan dinding pembuluh darah. Kalsifikasi belum terjadi dalam 1983). Alizarin red merupakan suatu metode untuk mengetahui pembentukan tulang pada embrio atau untuk mendeteksi proses kalsifikasi pada tulang embrio. Tulang yang diwarnai dengan Alizarin Red akan berwarna merah tua, yang menandakan bahwa tulang tersebut telah mengalami kalsifikasi. Warna merah tua terbentuk karena zat warna yang diberikan terikat oleh kalsium pada matriks tulang. Proses kalsifikasi pada embrio ayam dapat diamati ketika mulai umur inkubasi 9 hari (Sylar, 2008). matriks tulang, daerah tersebut disebut osteoid (Yatim,

BAB III
METODE KERJA

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Dasar FMIPA ruang Biologi I, dimulai pada hari Senin tanggal 28 November hingga 18 Desember 2010, dengan rincian kegiatan sebagai berikut: No. 1. 2. 3. Hari/tanggal Senin, 28 November 2010 Rabu, 8 Desember 2010 Kamis, 9 Desember 2010 Proses/larutan Alkohol 70% KOH 1% Alkohol 70% Waktu/lama 1 minggu 24 jam 6 jam (15.00-21.00) KOH 1% 4. Senin, 13 Desember Larutan alizarin 4 hari 12 jam (21.00-09.00) 5. 6. 7. 8. Selasa, 14 Desember 2010 Rabu, 15 Desember 2010 Jumat, 17 Desember 2010 Sabtu, 18 Desember 2010 KOH 1% Larutan Penjernih I Larutan Penjernih II Gliserin murni+timol pengamatan 24 jam 2 hari 1 hari

3.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada praktikum ini meliputi peralatan bedah, bak parafin, botol film, dan desikator,. Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah anak mencit yang belum tumbuh bulunya, kapas, eter, kertas label, larutan fiksatif (alkohol 70%), larutan alizarin siap pakai, KOH 1% dan 2%, larutan penjernih I dan penjernih II, gliserin murni dan timol.

3.3 Prosedur Kerja 1. 2. 3. Disiapkan anak mencit, dimasukkan anak mencit ke dalam desikator. Dibius mencit dengan kapas yang telah dibubuhi eter. Dibedah bagian ventral mecit, hingga lapisan kulit terbuka da nisi perut terlihat. 4. 5. Difiksasi mecit dalam larutan alkohol 70% selama 1 minggu. Dibuang larutan alkohol 70% kemudian diganti dengan KOH 1%, direndam selama 24 jam. 6. Dibuang larutan KOH 1%, diganti dengan alkohol 70%, direndam selama 6 jam. 7. Dibuang larutan alkohol 70% kemudian diganti dengan KOH 1%, direndam selama 4 hari. 8. Dibuang larutan KOH 1%, diganti dengan larutan alizarin, direndam selama 12 jam. 9. Dibuang larutan alizarin kemudian diganti dengan KOH 1% dan direndam selama 24 jam. 10. Dibuang larutan KOH 1% kemudian diganti dengan larutan penjernih I dan direndam selama 2 hari. 11. Dibuang larutan penjernih I kemudian diganti dengan larutan penjernih II dan direndam selama 1 hari. 12. Direndam anak mencit dalam larutan gliserin murni dan timol. 13. Diamati sediaan tulang pada anak mencit yang telah terwarnai.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Hasil yang diperoleh pada praktikum teknik pembuatan sediaan apus spermatozoa adalah sebagai berikut: Gambar Keterangan

a. Tulang tengkorak b. Tulang belakang

c. Tulang rusuk d. Tulang ekor

Gambar 1. Sediaan tulang anak mencit yang terwarnai alizarin

4.2 Pembahasan Praktikum kali ini berjudul Pewarnaan Tulang dengan Metode Alizarin. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengenal tahap-tahap pembuatan, bahan dan alat untuk praktikum teknik pewarnaan tulang dengan metode alizarin. Metode alizarin adalah metode mikroteknik yang digunakan untuk mengetahui pembentukan tulang pada embrio atau untuk mendeteksi proses kalsifikasi pada tulang embrio. Kalsifikasi merupakan proses pengendapan garam-garam kalsium dalam matriks yang sebelumnya telah mengalami osifikasi atau pengendapan matriks oleh osteoblast.

Larutan-larutan yang digunakan pada praktikum ini meliputi KOH 1%, alkohol 70%, larutan alizarin, larutan penjernih I, larutan penjernih II, gliserin murni dan timol, masing-masing larutan tersebut memiliki fungsi tersendiri. Larutan KOH befungsi sebagai penjernih, yaitu berperan untuk menjernihkan otot-otot yang ada pada anak mencit hingga pada akhirnya tulang dapat terlihat dengan jelas. Alkohol 70% berfungsi sebagai fiksatif yang berperan dalam proses fiksasi yaitu menghentikan metabolisme sel agar nantinya di dapat sediaan yang keadaannya sama atau tidak jauh berbeda dengan kondisi awalnya. Larutan alizarin digunakan untuk mewarnai skeleton hingga berwarna merah atau ungu. Larutan penjernih I dan II berfungsi untuk mengurangi kelebihan zat pewarna yang masuk ke dalam jaringan otot sehingga otot menjadi tampak jernih dan transparan. Gliserin digunakan sebagai media penyimpanan, sedangkan timol digunakan sebagai larutan pengawet yang mempertahankan keberadaan larutan dalam jaringan sediaan tulang anak mencit. Pewarnaan sediaan tulang dengan metode alizarin ini pada prosesnya perlu dilakukan eviserasi yaitu pengeluaran isi perut dari anak mencit agar pengamatan tulang pada bagian ventral lebih mudah, namun pada praktikum kali ini proses eviserasi tidak dilaksanakan karena dikhawatirkan akan merusak sediaan yang telah rapuh. Selain itu isi perut telah terjernihkan dengan baik oleh larutan KOH sehingga tidak akan mengganggu pandangan ketika pengamatan sediaan tulang. Teknik pewarnaan tulang dengan metode alizarin ini menghasilkan tulang yang tampak jelas berwarna merah. Warna merah tersebut terbentuk karena zat warna alizarin terikat oleh kalsium pada matriks tulang. Hal ini berarti bahwa pada tulang anak mencit telah terjadi proses kalsifikasi yaitu pengendapan garamgaram kalsium dalam matriks. Dengan metode ini kita dapat mengetahui struktur skeleton pada anak mencit. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa bagian-bagian tulang dari anak mencit tersebut dapat terlihat jelas, meliputi tulang tengkorak, tulang rusuk, tulang belakang, tulang tangan dan kaki dari pangkal hingga ujung jari, dan tulang ekor. Proses penulangan yang terlihat pada sediaan anak mencit yaitu vertebra, kosta, sternum dan ekstremitas terbentuk secara endokondral. Menurut sylar (2008) penulangan diawali dengan masuknya pembuluh darah membawa bahan

tulang (osein dan mineral) ke jaringan tulang rawan, hadirnya osteobalast kemudian disusul dengan hadirnya chondroblast yang meresap pada tulang yang sedang dirombak. Chondrosit menyusun diri menjadi jajaran lurus, disusul dengan masuknya bahan kapur dan mineral lain ke matriks. Tulang akan terdiri dari lapisan-lapisan (lamella) yang sebagian besar tersusun membentuk system Harvers. Metode alizarin memiliki banyak keuntungan, selain digunakan untuk melihat terjadinya kalsifikasi dan pembentukan skeleton pada embrio, metode ini juga dapat digunakan untuk mengamati kelainan tulang skeleton terkecil yang dapat mengganggu perkembangan janin seperti pembengkokan tulang. Namun kelemahannya apabila bahan yang digunakan kurang sesuai dan pengerjaan tidak teliti, maka sediaan yang dihasilkan dapat gagal, karena hancur saat proses pergantian larutan, dimana larutan yang yang digunakan pada metode ini membentuk lingkaran

menjadikan embrio atau anak mencit menjadi sangat lunak dan sulit untuk dipindah tempatkan, dan rentan terhadap goncangan.

BAB V
PENUTUP

1.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum kali ini adalah: 1. Metode alizarin adalah metode mikroteknik yang digunakan untuk mengetahui pembentukan tulang pada embrio atau untuk mendeteksi proses kalsifikasi pada tulang embrio. 2. Pewarnaan sediaan tulang dengan metode alizarin ini menggunakan beberapa larutan seperti KOH 1%, alkohol 70%, larutan alizarin, larutan penjernih I dan II serta gliserin murni dan timol, yang masing-masing larutan tersebut memiliki fungsi tersendiri.

3. Sediaan tulang anak mencit yang terwarnai dengan alizarin berwarna merah
tua, warna merah tersebut akibat oleh zat warna alizarin terikat oleh kalsium pada matriks tulang. Hal ini berarti bahwa pada tulang anak mencit telah terjadi proses kalsifikasi .

1.2 Saran Semoga pada praktikum selanjutnya prosedur praktikum dapat dipahami dengan lebih baik, oleh praktikan, hingga didapat hasil yang sesuai dengan yang diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA

Laimeheriwa, B. 2008. Teori-Teori Dasar Penelitian Sitogenetika http://mesterbruri.blogspot.com/2008/11/teori-sel.html Diakses tanggal 19 Desember 2010 Kusuma, 2008. Sediaan Mikroskopis. http://www.research.co.id//teknikpembuatansediaanmikroskopis jaringanmakhlukhidup.html Diakses tanggal 19 desember 2010 Nurliani, Anni. 2009. Bahan Ajar Kuliah Mikrotek. Program Studi Biologi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru Santoso, H., B. 2002. Bahan Kuliah Teknik Laboratorium. Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru Sylar. 2008. Alizarin Red http://syl4r.blogspot.com/2008/11/alizarin-red.html Diakses tanggal 19 Desember 2010 Tuti, N. 2009. Pembentukan Membran Ekstra Embrio http://blogspot.com/2009/pembentukan-membran-ekstra-embrio.ppt Diakses tanggal 19 Desember 2010 Yatim, W. 1983. Embriology. Tarsito, Bandung