Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Atas rahmat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua sahingga penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah Penyakit Sepsis. Terima kasih kami ucapkan kepada Ibu Malka yang telah membimbing penyusun dalam penyelesaian makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, maka saran dan kritik sangat kami nantikan dari para mahasiswa dan pengajar sehingga akan semakin memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami selaku penulis mengucapkan mohon maaf apabila ada kesalahan dan kami nerharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi para mahasiswa dan pembaca.

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...............................................................................................................i Daftar Isi .......................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ........................................................................................................1 1.2 Rumusan masalah ...................................................................................................1 1.3 Tujuan .........2

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi ...................................................................................................................3 2.2 Etiologi ...................................................................................................................4 2.3. Insidensi................................................................................................................ 2.3 Patofisiologi ............................................................................................................3 2.4 Manifestasi klinis ....................................................................................................5 2.5 Klasifikasi ..............................................................................................................6 2.6 Diagnosis ...............................................................................................................6 27.Komplikasi............................................................................................................... 2.8 Penatalaksanaan ......................................................................................................6 2.9 Pencegahan..............................................................................................................

BAB III PNUTUP 3.1 Kesimpulan ...........................................................................................................14 3.2 Saran dan Kritik ....................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Sepsis merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang menyebar melalui darah dan jaringan lain. Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab daro 30% kematian pada bayi baru lahir. Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2,75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki. Pada lebih dari 50% kasus, sepsis mulai timbul dalam waktu 6 jam setelah bayi lahir, tetapi kebanyakan muncul dalamw aktu 72 jam setelah lahir. Sepsis yang baru timbul dalam waktu 4 hari atau lebih kemungkinan disebabkan oleh infeksi nasokomial (infeksi yang didapat di rumah sakit). Sampai saat ini, sepsis masih merupakan salah satu penyakit infeksi yang mortalitas dan morbiditasnya tinggi. Di Amerika Serikat, kurang lebih 750.000 orang menderita sepsis setiap tahunnya dan lebih dari 210.000 orang diantaranya meninggal dunia. Di Indonesia, penyakit ini juga banyak dijumpai pada penderita rawat inap di rumah sakit dan secara keseluruhan lebih dari 25% penderita sepsis meninggal (Rasional, 2002). Sepsis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri gram negatif 70% (pseudomonas auriginosa, klebsiella, enterobakter, echoli, proteus, neiseria). Infeksi bakteri gram positif 20-40% (stafilokokus aureus, stretokokus,

pneumokokus), infeksi jamur dan virus 2-3% (dengue hemorrhagic fever, herpes viruses), protozoa (malaria falciparum) (Japardi, 2002). Salah satu bakteri gram negatif yang dapat menimbulkan sepsis adalah Neisseria meningitidis. Bakteri ini dalam tubuh manusia menyerang sistem saraf pusat dan menimbulkan meningitis (Shulman, 1994).

1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan sepsis? 2. Apa sajakah penyebab sepsis? 3. Bagaimana Insidensi sepsis? 4. Bagaimana Patofisiologi dan Manifestasi klinis sepsis? 5. Bagaimana Klasifikasi sepsis? 6. Bagaimanakah Komplikasi sepsis? 7. Bagaimana Penatalaksanaan dan Pencegahan sepsis?

1.3 Tujuan Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui definisi dari sepsis. 2. Untuk mengetahui penyebab sepsis. 3. Untuk mengetahui Insidensi sepsis. 4. Untuk mengetahui Patofisiologi dan Manifestasi klinis sepsis. 5. Untuk mengetahui Klasifikasi sepsis. 6. Untuk mengetahui Komplikasi sepsis. 7. Untuk mengetahui Penatalaksanaan dan Pencegahan sepsis.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi 1. Sepsis neonatorum adalah infeksi berat yang diderita neonatus dengan gejala sistemik dan terdapat bakteri dalam darah. Perjalanan penyakit sepsis neonatorum dapat berlangsung cepat sehungga seringkali tidak terpantau, tanpa pengobatan yang memadai bayi dapat meninggal dalam 24 sampai 48jam.(perawatan bayi beriko tinggi, penerbit buku kedoktoran, jakarta : EGC). 2. Sepsis neonatorum adalah infeksi bakteri pada aliran darah pada bayi selama empat minggu pertama kehidupan. Insiden sepsis bervariasi yaitu antara 1 dalam 500 atau 1 dalam 600 kelahiran hidup (Bobak, 2005). 3. Sepsis didefinisikan sebagai keadaan klinis yang ditandai oleh sindrom respon inflamasi sistemik (SIRS) disertai adanya bakteri pathogen (infeksi) yang ditemukan melalui kultur atau pewarnaan gram dari spesimen tubuh seperti darah, sputum, feses, urin dan spesimen tubuh lainnya atau ditemukan fokus infeksi seperti luka dengan pus purulen atau adanya udara bebas pada rongga abdomen yang ditemukan pada saat operasi yang berasal dari saluran penceraan. (Jurnal Kardiol Indonesia. 2010;31:178) 4. Sepsis neonatorum adalah sindroma klinis dari kelainan sistemik yang disebabkan oleh bakteremia pada umur 28 hari pertama (Sulistijono , 2013)

2.2 Etiologi Penyebab neonatus sepsis/sepsis neonatorum adalah berbagai macam kuman seperti bakteri, virus, parasit, atau jamur. Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri. Beberapa komplikasi kehamilan yang dapat meningkatkan risiko terjadinya sepsis pada neonatus antara lain : 1. Perdarahan 2. Demam yang terjadi pada ibu 3. Infeksi pada uterus atau plasenta 4. Ketuban pecah dini (sebelum 37 minggu kehamilan) 5. Ketuban pecah terlalu cepat saat melahirkan (18 jam atau lebih sebelum melahirkan) 6. Proses kelahiran yang lama dan sulit

2.3. Insidensi Incidence rate sepsis neonatorum di negara maju berkisar antara 3-5 per 1.000 kelahiran hidup dengan CFR 10,3%. WHO (2007) melaporkan Case Fatality Rate (CFR) pada kasus sepsis neonatorum di dunia masih tinggi yaitu 40%.

2.3 Patofisiologi Berdasarkan waktu timbulnya dibagi menjadi 3 : 1. Early Onset (dini) : terjadi pada 5 hari pertama setelah lahir dengan manifestasi klinis yang timbulnya mendadak, dengan gejala sistemik yang

berat, terutama mengenai system saluran pernafasan, progresif dan akhirnya syok. 2. Late Onset (lambat) : timbul setelah umur 5 hari dengan manifestasi klinis sering disertai adanya kelainan system susunan saraf pusat. 3. Infeksi nosokomial yaitu infeksi yang terjadi pada neonatus tanpa resiko infeksi yang timbul lebih dari 48 jam saat dirawat di rumah sakit. Patogenesis dapat terjadi pada antenatal, intranatal, dan pascanatal yaitu; 1. Antenatal Terjadi karena adanya faktor resiko, pada saat antenatal kuman dari ibu setelah melewati plasenta dan umbilikus masuk ke dalam tubuh melalui sirkulasi darah janin. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang menebus plasenta, antara lain: virus rubella, herpes, influeza, dan masih banyak yang lain. 2. Intranatal Infeksi saat persalinan terjadi karena kuman ada pada vagina dan serviks naik mencapai korion dan amnion.akibatnya terjadilah amnionitis dan korionitis, selanjutnya kuman melalui umbilikus masuk ketubuh bayi. Cara lain saat persalinan, cairan amnion yang sudah terinfeksi oleh bayi sehingga menyebabkan infeksi pada lokasi yang terjadi pada janin melalui kulit bayi saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman.

3. Pascanatal Infeksi yang terjadi sesudah persalinan, umumnya terjadi akibat infeksi nasokomial dari lingkungan di luar rahim,( misal : melallui alat-alat, penghisap lendir, selang endotrakea, infus, dan lain-lain). Dan infeksi dapat juga terjadi melalui luka umbillikus.

2.4 Manifestasi Klinis Manifestasi klinis sepsis neonatorum tidak spesifik, kadang-kadang gejalanya tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi. Berikut beberapa gejala klinis dari sepsis : 1. Bayi tampak lesu, tidak kuat menghisap, denyut jantungnya lambat dan suhu tubuhnya turun-naik. 2. Gejala lainnya adalah: gangguan pernafasan, Kejang, Jaundice (sakit kuning)Muntah, Diare, Perut kembung. 3. Gejalanya tergantung kepada sumber infeksi dan penyebarannya: a. Infeksi pada tali pusar (omfalitis) bisa menyebabkan keluarnya nanah atau darah dari pusar. b. Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak bisa menyebabkan koma, kejang, opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-ubun c. Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada lengan atau tungkai yang terkena

d.

Infeksi pada persendian bisa menyebabkan pembengkakan, kemerahan, nyeri tekan dan sendi yang terkena teraba hangat

e.

Infeksi pada selaput perut (peritonitis) bisa menyebabkan pembengkakan perut dan diare berdarah.

2.5 Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik : Organsisme penyebab terjadinya infeksi bisa diketahui dengan melakukan pemeriksaan mikroskopis maupun pembiakan terhadap contoh darah, air kemih maupun cairan dari telinga dan lambung. Jika diduga suatu meningitis, maka dilakukan fungsi lumbal. Bila ditemukan satu atau lebih faktor resisko infeksi adalah sebagai berikut ; 1. Ibu selama melahirkan demam ( suhu > 38.5 oC). 2. Ibu leukositosis ( lekosit > 1500/ mm3). 3. Air ketuban keruh dan atau berbau busuk. 4. Ketuban pecah >12 jam sebelum lahir. 5. Partus kasep Langkah diagnosis : 1. Indikasi faktor resiko infeksi yang didiagnosa tersangkan infeksi. 2. Tetapkan apakah kasus tersangka infeksi berkembang menjadi sepsis neonatarum dengan mengamati munculnya gejala klinis serta kelainan hasil pemeriksaan laboratorium

3. Untuk penderita yang telah mengalami kelainan klinis dapat dilakukan dengan identifikasi pemeriksaan secara cermat 4. Lakukan pemeriksaan laboratorium darah rutin,pemeriksaan CRP dan kultur darah. 5. Semua penderita sepsis neonatorum dilakukan lumbal fungsi untuk melihat apakah sudah terjadi komplikasi, batasan minignitis : a. b. c. Usia 0-48 jam > 100 Usia 2-7 hari > 50 Usia > 7 hari > 22

6. Bila ada alat ultrasonografi ( USG), maka USG transfontanel bisa membantu menegakkan diagnosis meningitis.

2.6 Komplikasi 1. Syok karena lepasnya toksin kedalam cairan darah, yang dimana gejalanya sukar untuk dideteksi 2. 3. 4. 5. 6. 7. Meningitis (peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang) Gangguan metabolic Pneumonia (penyakit radang paru-paru) Infeksi saluran kemih Gagal jantung kongestif kematian

2.7 Penatalaksanaan 1. Terapi Suportif Segera berikan cairan secara parentral untuk memperbaiki gangguan sirkulasi, mengatasi dehidrasi dan kelainan metabolik. Berikan oksigen bila didapat gangguan respirasi/sodroma gawat napas.bila ditemukan hiperbiliribinemia lakukan foto terapi/tranfusi tukar. Bila sudah makan per oral beri ASI atau susu formula. 2. Terapi Spesifik Segera berikan anti biotika polifragmasi : Tersangka infeksi. 1. Ampisilin, dosis 100 mg/kg BB/ hari.dibagi 2 dosis 2. Gentamisin, dosis 21/2 mg/ kgBB/ 18jam. Im sekali pemberian untuk bayi cukup bulan. 3. Gentasimin, dosis 21/2 kgBB/24 jam, sekali pemberian, untuk bayi kurang bulan. 4. lama pemberian 3-5 hari dinilai apakah menjadi sepsis. Kalau tidak antibiotika,dapat dihentikan. Sepsis Neonatorum 1. Pilihan pertama : Ceftazidim 50 mg/kgBB/hari, iv, dibagi 2 dosis. 2. Bila tidak ada perbaikan klunis dalam 48 jam atau keadaan umum semakin memburuk, pertimbangkan pindah ke antibiotika lain yang lebih paten, misalnya : 20 mg/kg/BB iv, tiap 8jam, atau sesuai dengan hasil resistensi test. Lama pemberian 710 hari.

Sepsis Neonatorum Dengan Meningitis 1. Sama dengan butir dua, dengan catatan : dosis ceftazidim 100 mg/kgBB/hari, dosis menjadi 40 mg/kgBB/hari, dengan lama pemberian 14-21 hari.

2.8 Pencegahan Sepsis neonatarum adalah penyebab kematian utama pada neonatus, tanpa pengobatan yang memadai, gangguan ini dapat menyebabakan kematian dalam waktu singkat. Oleh karena itu, tindakan pencegahan mempunyai arti penting karena dapat mencegah terjadinya kesakitan dan kematian. Tindakan pencegahan itu dapat dilakukan dengan cara : 1. Pada Masa Antenatal Perawatan antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara berkala, iminisais, pengobatan terhadap infeksi yang diderita ibu, asupan gizi yang memadai, penangan segera terhadap keadaan yang dapat menurunkan kesehatan ibu dan janin, rujukan segera ketempat pelayanan yang memadai bila diperlukan. 2. Pada Saat Persalinan Perawatan ibu selama persalinan dilakukan secara aseptik, dalam arti persalinan diperlukan sebagai tindakan operasi, tindakan intervensi pada ibu dan bayi seminimal mungkin dilakukan. Mengawasi keaadan ibu dan janin yang baik selama proses persalinan, melakukan rujukan secepatnya bila diperlukan, dan menghindari perlukaan kulit dan selaput lendir.

3. Pada Masa Sesudah Persalinan Perawatan sesudah lahir meliputi menerapkan rawat gabung bila bayi normal, pemberian ASI secepatnya, mengupayakan lingkungan dan peralatan agar tetap bersih, setiap bayi menggunakan peralatan sendir. Tindakan invasif harus dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip aseptik. Sebelum dan sesudah memegang bayi harus mencuci tangan gterlebih dahulu. Dan bayi yang berpenyakit menular harus diisolasi, dan pemberian antibotik secara rasional, sedapat mungkin melalui pemantauan mikrobiologi dan tes resistensi.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Sepsis merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang menyebar melalui darah dan jaringan lain. Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab daro 30% kematian pada bayi baru lahir. Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2,75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki.

3.2 Saran Semoga Makalah ini dapat berguna bagi penyusun dan pembaca. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk pengerjaan berikutnya yang lebih baik

DAFTAR PUSTAKA

1. 2. 3. 4.

Arif, mansjoer (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: EGC. Behrman (2000). Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: EGC. Bobak (2005). Buku Ajar Keperawatn Maternitas. Jakarta: EGC. Dewi Ayu Lestari, Jurnal : Karakteristik Penderita Sepsis Neonatorum Rawat Inap
Di Rsud Dr. Pirngadi Medan Tahun 2010-2011

5.

Doenges (2000). Rencana Asuhan Keperawatan; Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.

6.

Eko Sulistijono , 2013. Faktor Risiko Sepsis Awitan Dini pada Neonatus. Jurnal Kedokteran Brawijaya, Vol. 27, No. 4, Agustus 2013;. Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar, Jl. Jaksa Agung Suprapto 2 Malang.

7.

Kabul Priyantoro,2010. Gangguan Fungsi Jantung Pada Keadaan Sepsis. Jurnal Kardiol Indonesia . 2010;31:177-86