Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI LINGKUNGAN UJI TOKSISITAS JENIS BAHAN PENCEMAR LIMBAH TAHU TERHADAP SUATU SPESIES HEWAN

AIR TAWAR (IKAN)

NAMA NIM

: RIANY ANDITA PUTRI K. : J1C108005

KELOMPOK : 1 ASISTEN : SYAHIDIYATI

PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2010

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Tahu merupakan bahan makanan yang terbuat dari kedelai yang mempunyai

nilai gizi yang tinggi. Menurut Soedarmo dan Sediaoetama dalam Dhahiyat (1990), didalam 100 gram kedelai yang merupakan bahan tahu, mengandung 35 gram protein, 18 gram lemak dan 10 gram karbohidrat, sedangkan dalam 100 gram tahu terdapat 7,8 gram protein, 4,6 gram lemak dan 1,6 gram karbohidrat. Selain kandungan gizi yang tinggi, tahu juga mudah diperoleh dengan harga yang terjangkau sehingga banyak diminati oleh masyarakat baik kalangan atas maupun menengah ke bawah. Hal tersebut memacu pesatnya perkembangan industri tahu. Industri tahu saat ini telah menjadi salah satu industri rumah tangga yang tersebar luas baik di kota-kota besar maupun kecil. Dalam proses produksinya, industri tahu menghasilkan limbah cair dan padat. Limbah padat berupa ampas tahu umumnya telah dapat ditanggulangi dengan memanfaatkannya sebagai bahan pembuatan oncom dan bahan makanan ternak. Banyaknya jumlah industri tahu akan berpengaruh terhadap jumlah limbah cair yang dihasilkan. Jumlah limbah cair tahu yang melimpah jika tidak ditangani secara tepat maka dikhawatirkan akan menyebabkan terganggunya kualitas lingkungan perairan di sekitar industri tahu. Limbah cair industri tahu dapat menimbulkan pencemaran yang cukup berat karena mengandung polutan organik yang cukup tinggi. Beberapa hasil penelitian, konsentrasi COD (Chemical Oxygen Demand) di dalam air limbah industri tahu cukup tinggi yakni berkisar antara 7.000 - 10.000 mg/L, serta mempunyai keasaman yang rendah yakni pH 4-5. Jika ditinjau dari Kep-03/MENKLH/11/1991 tentang baku mutu limbah cair, maka industri tahu memerlukan pengolahan limbah. Sebagian besar industri tahu mengalirkan langsung air limbahnya ke saluran-saluran pembuangan, sungai ataupun badan air penerima lainnya tanpa diolah terlebih dahulu, sehingga limbah cair yang dikeluarkan seringkali menjadi masalah bagi lingkungan sekitarnya (Rossiana, 2006).

Pencemaran terjadi apabila terdapat gangguan dalam daur materi yaitu apabila laju produksi suatu zat melebihi laju pembuangan atau penggunaan zat tersebut. Pencemaran merupakan penambahan bermacam-macam bahan sebagai aktivitas manusia ke dalam lingkungan yang biasanya memberikan pengaruh berbahaya terhadap lingkungan (Setiawan, 2001). Pemantauan pencemaran di air dapat dilakukan secara biologi analisis dengan hewan air dapat dilakukan dengan uji hayati atau dengan bioassay, metabolism individu, dinamika populasi dan struktur populasi. Uji hayati adalah menguji suatu senyawa beracun dengan menggunakan organisme hidup. Tujuan dari uji hayati adalah untuk menentukan respon organisme terhadap besarnya konsentrasi senyawa beracun (Mark, 1981).

1.2

Tujuan Umum : Memberikan bekal keterampilan ilmiah para mahasiswa FMIPA Biologi-Kimia UNLAM dalam salah satu cara monitoring suatu jenis pencemaran lingkungan. Khusus : Memberikan bekal keterampilan dalam menentukan toksisitas bahan kimia atau pencemar terhadap suatu spesies hewan dan dalam memonitoring efek bahan kimia pencemar tersebut terhadap kualitas lingkungan yang bersangkutan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Limbah adalah bahan yang tidak diinginkan atau sisa dari suatu proses produksi, atau dibuang dari pemukiman penduduk atau komunitas hewan. Limbah juga merupakan sesuatu benda yang mengandung zat yang bersifat

membahayakan bagi kehidupan manusia, hewan,serta lingkungan, dan umumnya muncul karena hasil perbuatan manusia, termasuk industrialisasi (UU RI No.23 tahun 1997 pasal 1). Secara umum limbah dibagi 2 yaitu: a) Limbah ekonomis, yaitu limbah yang dapat dijadikaan produk sekunder untuk produk yang lain dan atau dapat mengurangi pembelian bahan baku. b) Limbah non ekonomis, yaitu limbah yang dapat merugikan dan membahayakan serta menimbulkan pencemaraan lingkungan. Berdasar bentuknya limbah dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu: a) Limbah cair b) Limbah gas c) Limbah padat Bila zat toksik ini masuk ke dalam tubuh, dan menimbulkan efek, maka hal ini yang dikatakan sebagai keracunan atau dengan kata lain adalah keadaan tidak normal akibat efek racun karena kecelakaan, bunuh diri, tindak kriminal, jabatan. Efek keracunan yang terjadi dapat bersifat akut, sub-akut, kronis, delayed. Hal ini ditentukan oleh waktu, lokasi organ (lokal/sistemik). Kemampuan racun untuk menimbulkan kerusakan apabila masuk kedalam tubuh dan lokasi organ yang rentan disebut toksisitas. Uji toksisitas merupakan uji hayati yang berguna untuk menentukan tingkat toksisitas dari suatu zat atau bahan pencemar dan digunakan juga untuk pemantauan rutin suatu limbah. Yang dimaksud dengan LC-50 (Median Lethal Concentration) yaitu konsentrasi yang menyebabkan kematian

sebanyak 50% dari organisme uji yang dapat diestimasi dengan grafik dan perhitungan, pada suatu waktu pengamatan tertentu, misalnya LC-50-48 jam, LC 50-96 jam (Dhahiyat dan Djuangsih, 1997) sampai waktu hidup hewan uji.

Suatu variasi dari LD50 adalah LC50 yaitu konsentrasi bahan yang menyebabkan kematian 50% organisme yang terpapar. Parameter ini sering digunakan jika suatu organisme dipaparkan terhadap konsentrasi bahan tertentu dalam air atau udara yang dosisnya tidak diketahui. Dalam hal ini waktu pemaparan dan konsentrasi harus dinyatakan dengan jelas. Pelaksanaan uji toksisitas suatu bahan uji dapat dilakukan menggunakan salah satu dari empat cara berikut (Tandjung,1995): a. Teknik statik ; larutan atau media uji ditempatkan pada satu bejana uji dan digunakan selama waktu uji tanpa diganti. b. Teknik resirkulasi ; larutan atau media uji tidak diganti selama waktu uji namun diresirkulasi dari satu bejana uji ke bejana lain kembali ke bejana uji dengan maksud memberikan aerasi, filtrasi dan atau sterilisasi. c. Teknik diperbaharui ; setiap 24 jam hewan uji dipindahkan ke larutan uji yang baru dan sama serta tetap konsentrasinya dengan larutan sebelumnya. d. Teknik mengalir ; larutan uji dialirkan masuk maupun keluar ke dan dari bejana uji selama masa uji. Untuk meneliti berbagai efek yang berhubungan dengan masa pajanan penelitian toksikologi menurut Frank C. Lu (1995) dibagi dalam : 1. Uji toksisitas akut, dilakukan dengan memberikan zat toksik yang sedang diuji sebanyak satu kali, atau beberapa kali dalam jangka waktu 24 jam. 2. Uji toksisitas jangka pendek (penelitian sub akut atau sub kronik), dilakukan dengan memberikan bahan toksik berulang-ulang biasanya setiap hari atau lima kali seminggu, selama jangka waktu kurang lebih 10 % dari masa hidup hewan. 3. Uji toksisitas jangka panjang, dilakukan dengan memberikan zat kimia berulang-ulang selama masa hidup hewan coba atau sekurang-kurangnya sebagian dari masa hidupnya. Indikator atau tanda bahwa air lingkungan telah tercemar adalah adanya perubahan atau tanda yang dapat diamati yang dapat digolongkan menjadi : 1. Pengamatan secara fisis, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan tingkat kejernihan air (kekeruhan), perubahan suhu, warna dan adanya perubahan warna, bau dan rasa

2. Pengamatan secara kimiawi, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan zat kimia yang terlarut, perubahan pH 3. Pengamatan secara biologis, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan mikroorganisme yang ada dalam air, terutama ada tidaknya bakteri pathogen. Penyelidikan tentang hubungan antara dosis (atau konsentrasi) dan kerja suatu obat dapat dilakukan dengan 2 cara : Menguji frekuensi efek yang timbul pada satu kelompok objek percobaan dengan mengubah-ubah dosis (Hubungan dosis-reaksi, doseresponse relation) atau dengan mengubah-ubah dosis, mengukur intensitas kerja pada satu objek percobaan (Hubungan dosis-kerja, dose effect relation). Dalam hal pertama, jumlah objek percobaan yang menunjukkan efek tertentu akan bertambah sampai maksimum, dalam hal kedua, intensitas efek yang bertambah. Hubungan dosis dan respon dituangkan dalam bentuk kurva dimana kurvanya sudah tipikal sigmoid. Semakin banyak jumlah hewan uji dan rentang dosisnya, kurva sigmoid akan lebih teramati. Dosis yang terendah menyebabkan kematian hewan uji sebesar 1%. Kurva sigmoid distribusi normal seperti ini menunjukkan respon 0% pada dosis yang rendah dan respon sebesar 100% pada dosis yang meningkat tetapi respon tersebut tidak akan melebihi rentang 0 100 %.

BAB III METODE PRAKTIKUM

3.1

Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada Jumat, 22-29 Oktober 2010 pukul 16.00-

18.00 WITA bertempat di Laboratorium Basah Fakultas Perikanan UNLAM. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang diperlukan dalam praktikum kali ini yaitu bak penampungan untuk aklimatisasi hewan uji, bejana untuk penelitian dari gelas, alat-alat yang diperlukan dalam pengukuran kualitas air, dan alat-alat untuk pengumpul data. Bahan-bahan yang diperlukan dalam praktikum kali ini yaitu air uji, limbah tahu 12 L dengan konsentrasi 5%, 10% dan 20%, dan hewan uji yaitu Oreochromis nilotica. 3.3 Prosedur Kerja

1. Hewan uji yang akan digunakan dalam praktikum terlebih dahulu dipelihara dalam kondisi laboratorik selama 2-3 hari. 2. Diisi masing-masing 4 buah akuarium dengan air uji sebanyak 30 liter air. 3. Dimasukkan hewan uji masing-masing 10 ekor ke dalam 4 akuarium dan diaklimatisasi beberapa menit. 4. Diukur pH, temperature, warna, dan bau air sebelum dimasukkan limbah tahu. 5. Dimasukkan limbah tahu dengan konsentasi sebagai berikut : a. b. c. d. Akuarium I : 0% (kontrol)

Akuarium II : 5% (1,5 L limbah tahu) Akuarium III : 10% (3 L limbah tahu) Akuarium IV : 20% (6 L limbah tahu)

6. Diukur pH, temperature, warna, dan bau air setelah dimasukkan limbah tahu. 7. Diamati efek sublethal yang meliputi :

a. b. c. d.

Pola pergerakan ikan dan dibandingkan dengan control Perubahan struktur chromatophora dan guanophora pada squama Perubahan morfologis lain yang terlihat seteliti mungkin Kandungan hematologis

8. Diamati mortalitas hewan uji dan dianalisis dengan analisis regresi linier pada waktu-waktu 0, 24, 48, 72, dan 96 jam atau lebih setelah perlakuan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Tabel 1. Parameter lingkungan & aktivitas ikan sebelum dan sesudah dimasukkan limbah tahu
Parameter Sebelum Warna Suhu pH Bau Pergerakan Ikan Warna Suhu pH Bau Pergerakan Ikan 0% Jernih 28oC 8,5 Tidak berbau Tenang Jernih 26oC 8,5 Tidak berbau Tenang 5% Jernih 27oC 8,5 Tidak berbau Tenang Keruh 26oC 6 Agak asam Tenang Dosis 10% Jernih 27oC 8,5 Tidak berbau Tenang Lebih keruh 26,5oC 5,5 Asam Aktif 20% Jernih 27oC 8,5 Tidak berbau Tenang Sangat Keruh 26,5oC 5 Sangat Asam Sangat Aktif (ikan meloncatloncat kepermukaan)

Sesudah

Tabel 2. Perhitungan LD-70 Dosis (g/100 mL) 0% 5% 10% 20% 10 10 10 10 2 4 10 10 8 6 0 0


( ) ) ( )

Jumlah Hidup mati

a+b

Ratio

kematian Kematian (a/a+b) 2 6 16 26 14 6 0 0 16 12 16 26 0,125 0,5 1 1 12,5 50 100 100

Jarak proporsional

:( :

= 0,4

Dosis

: log (0,10/0,05) = log 2 = 0,301

Dosis di atas 70%

: 0,4 x 0,301 = 0,1204 = -1,301 -1,1806


+

Dosis di bawah 70% : log 0,05

LD 70

: antilog (-1,1806) = 0,0659 g/100 mL atau 0,066 g/100 mL

Grafik perbandingan antara konsentrasi senyawa dengan % kematian


120 100

% kematian

80 60 40 20 0 0 5 10 15 20 25

% konsentrasi senyawa

4.2

Pembahasan Pada praktiukum ini ikan yang digunakan adalah ikan Nila (Oreochromis

nilotica), yang mempunyai daya tahan rendah. Ikan-ikan yang digunakan dalam uji biologi harus dipelihara di dalam laboratorium atau tempat uji sebelum digunakan untuk bioassay, proses ini dinamakan aklimatisasi untuk penyesuaian dengan lingkungan. Adapun klasifikasi dari ikan nila adalah sebagai berikut : Phylum : Chordata

Subphylum : Vertebrata Class Subclass Ordo Family Genus Species : Pisces : Acanthopterigii : Perciformes : Cichlidae : Oreochromis : Oreochromis nilotica

Ikan nila yang digunakan pada praktikum ini adalah ikan nila anakan yang berukuran 3 sampai 5 cm. Sebelum ikan di gunakan sebagai hewan percobaan

dalam akuarium uji, dilakukan proses aklimatisasi. Ikan nila dari kolam budidaya yang masih berada di dalam plastik oksigen diletakkan di dalam bak aklimatisasi, proses ini bertujuan untuk menyamakan suhu air dalam plastik dengan suhu air di dalam bak, setelah terbentuk uap dalam plastik, ikat plastik dibuka secara perlahan kemudian dibiarkan hingga ikan keluar dengan sendirinya ke dalam bak aklimatisasi, tujuannya agar ikan dapat lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan laboratorium sebelum digunakan sebagai hewan uji. Akuarium yang akan digunakan sebagai tempat untuk menguji toksisitas limbah masing-masing diisi dengan 30 liter air, kemudian ke dalamnya dimasukkan 10 ekor ikan nila, kembali dilakukan aklimatisasi ikan dalam akuarium selama 10 menit baru kemudian ditambahkan limbah tahu dengan konsentrasi yang berbeda. Akuarium 1 berfungsi sebagai kontrol, akuarium 2 ditambah limbah tahu dengan konsentrasi 5% yaitu sebanyak 1,5 Lt, akuarium 3 ditambah limbah tahu dengan konsentrasi 10% yaitu sebanyak 3 Lt, sedangkan akuarium 4 diberi limbah tahu dengan konsentrasi 20% yaitu sebanyak 6 Lt. Tahu diperoleh melalui proses penggumpalan (pengendapan) protein susu kedelai. Menurut Nuraida (1985), bahan penggumpal yang lazim digunakan ialah batu tahu atau cioko (CaSO4), asam cuka (CH3COOH), dan MgSO4. Menurut PPRI No.82 tahun 2001, di dalam limbah cair tahu terdapat komponen sebagai berikut (Tabel 1).

Pembuatan tahu pada prinsipnya dibuat dengan mengekstrak protein, kemudian mengumpulkannya, sehingga terbentuk padatan protein. Pada pengolahan tahu diperlukan air yang banyak, karena hampir semua tahap pada

pembuatan tahu memerlukan air. Hasil sampingan dari proses pembuatan tahu yaitu Whey, berupa cairan dan ampas tahu berupa padatan. Pengamatan pertama dilakukan sebelum limbah tahu dimasukkan dalam akuarium, dengan megukur parameter-parameter fisik seperti suhu, bau, kekeruhan dan pH, serta pengukuran biologi berupa pergerakan ikan. Suhu diukur dengan menggunakan termometer, hasil pengukuran untuk tiap akuarium secara berurutan adalah 28C, 27C, 27C, dan 27C. Untuk pengukuran kekeruhan, menunjukkan hasil yang sama yaitu jernih, pada pengukuran bau hasilnya untuk akuarium I, II, III dan IV adalah tidak berbau. Sedangkan untuk pengukuran pH didapat hasil secara berturut-turut untuk akuarium I-IV adalah sama yaitu 8,5. Pengukuran biologi berupa pergerakan ikan dalam air menunjukkan hasil ikan bergerak dengan tenang. Pengamatan fisik dan biologi selanjutnya dilakukan 30 menit setelah limbah tahu dimasukkan dalam akuarium, dari hasil pengukuran suhu di dapat hasil secara berturut-turut untuk akuarium Idan II adalah 26C, sedang akuarium III dan IV adalah 26,5C. Hasil untuk pengukuran kekeruhan adalah akuarium I jernih, akuarium II keruh, akuarium III lebih keruh dari akuarium II, sedang akuarium IV sangat keruh. Kemudian hasil pengamatan bau di dapat akuarium I tidak berbau, akuarium II berbau agak asam, akuarium III asam, dan akuarium IV sangat asam. Hasil pengukuran pH untuk akuarium I-IV secara berturut-turut adalah 8,5; 6; 5,5; dan 5. Sedangkan untuk pengukuran parameter biologi berupa pergerakan ikan dalam air didapat hasil akuarium I tenang, akuarium II tenang, akuarium III aktif, dan akuarium IV sangat aktif (ikan melompat-lompat ke permukaan air). Organisme yang hidup di lingkungan yang tercemar bisa bertahan, tetapi mengalami berbagai tingkat kerusakan alat atau sistem organ. Tingkat kerusakan alat atau sistem organ pada organisme menjadi semakin parah pada konsentrasi pencemar yang semakin tinggi, oleh karena itulah organisme yang dapat memberikan petunjuk keadaan kualitas lingkungan dijadikan bioindikator atau indikator biologi. Tetapi biasanya tidak semua organisme yang berada di lingkungan yang tercemar dapat bertahan hidup atau dengan kata lain ada sebagian yang mati. Dalam percobaan ini ikan Nila sebagai bioindikator,

sedangkan uji toksisitas yang dilakukan adalah toksisitas akut karena uji dilakukan dengan lama waktu uji hanya sampai empat hari dihitung dengan jam selama 96 jam, tidak sampai mencapai satu generasi organisme. Ditentukan berapa persen dari suatu populasi (misalnya, pada sekelompok hewan percobaan) memberikan reaksi efek tertentu terhadap dosis tertentu dari satu zat. Banyaknya individu yang menunjukkan efek ini dengan demikian merupakan fungsi dosis. % individu yang memberi reaksi digambarkan secara linear terhadap dosis. Pada kurva demikian, dosis yang menyebabkan 50%

individu memberikan reaksi, digunakan sebagai besaran bagi aktivitas (ED 50) atau letalitas (kematian) (LD50) dari senyawa yang diperiksa. Kurva dosis-reaksi, artinya hubungan antara % individu yang diperiksa, yang memberikan suatu efek pada dosis tertentu, dan dosis (digambarkan secra linear). Pengamatan dilakukan selama 4 hari (96 jam), hasil pengamatan terakhir didapat hasil jumlah ikan yang mati pada akuarium I berjumlah 2 ekor, akuarium II 4 ekor, akuarium III 10 ekor dan akuarium IV 10 ekor. Dari hasil tersebut dapat ditentukan Lethal Dose 70 (LD70), dengan menentukan % kematian ikan per dosis yang diberikan. Pada uji toksisitas limbah tahu di dapat LD70 berada diantara dosis 5% dan 10% yaitu 0,066 g/100 mL yang artinya pemberian dosis tersebut dapat mematikan 70% organisme di lingkungan tersebut. Hal yang sama juga terjadi pada pemberian limbah detergent, dimana LD70 juga berada antara dosis 5% dan 10%. Hal ini menunjukkan bahwa limbah industri dan limbah rumah tangga yang tidak dikelola dengan bijak dapat merusak ekosistem di sekitarnya. Air limbah dan bahan buangan industri akan mengubah pH air yang akhirnya akan mengganggu kehidupan biota akuatik. Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahab pH dan menyukai pH antara 7 8,5. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir pada pH yang rendah. Bahan-bahan organik yang terkandung di dalam buangan industri tahu pada umumnya sangat tinggi. Semakin lama jumlah bahan organik ini semakin banyak, dalam hal ini akan menyulitkan pengelolaan limbah, karena beberapa zat sulit diuraikan oleh mikroorganisme di dalam air limbah tahu

tersebut. Banyaknya limbah cair yang dihasilkan dikhawatirkan akan mencemari lingkungan perairan di sekitar industri tahu sehingga terjadi penurunan kualitas air di perairan tersebut. Oleh karena itu menurut hasil penelitian Dhahiyat (1990), diperlukan suatu upaya untuk menanggulangi permasalahan limbah cair tahu agar kualitas perairan pun dapat terjaga dengan cara mengencerkan limbah tersebut. Sebelum dibuang ke perairan umum terlebih dahulu limbah dimasukkan ke kolam yang ditanami eceng gondok yang memanfaatkan tingginya kandungan hara limbah tersebut.

BAB V PENUTUP

5.1

Kesimpulan Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat dismpulkan bahwa: 1. Dari data yang didapat LD70 limbah tahu berada pada konsentrasi 5%10%, yaitu 0,066 g/100 mL yang artinya pemberian dosis tersebut dapat mematikan 70% organisme di lingkungan tersebut. 2. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir pada pH yang rendah. Sedangkan limbah tahu yang bersifat asam akan menambah jumlah nitrogen perairan sehingga dapat membahayakan ekosistem perairan. 3. Bahan-bahan organik yang terkandung di dalam buangan industri tahu pada umumnya ini sangat tinggi. Semakin lama jumlah bahan akan menyulitkan diuraikan oleh

organik

semakin banyak, dalam hal ini limbah, karena beberapa

pengelolaan

zat sulit

mikroorganisme di dalam air limbah tahu tersebut. 4. Diperlukan suatu upaya untuk menanggulangi permasalahan limbah cair tahu agar kualitas perairan pun dapat terjaga dengan cara mengencerkan limbah tersebut. 5.2 Saran Sebaiknya asisten lebih teliti dalam prosedur percobaan, sehingga tidak didapatkan kekeliruan, yang nantinya akan berpengaruh terhadap data yang didapatkan.

DAFTAR PUSTAKA

Dhahiyat, Y dan Djuangsih. 1997. Uji Hayati (Bioassay); LC 50 (Acute Tixicity Tests) Menggunakan Daphnia dan Ikan. PPSDAL LP UNPAD. Bandung
Lu, Frank. C.1995. Toksikologi Dasar, Asas, Organ, Sasaran, dan Penilaian Resiko. Universitas Indonesia Press : Jakarta

Mark, Jr.H.B. 1981. Water Quality Measurement The Modern Analytical Techniques. Departments of Chemistry of Cincinate. Ohio Rossiana, Nia. 2006. UJI TOKSISITAS LIMBAH CAIR TAHU SUMEDANG TERHADAP REPRODUKSI Daphnia carinata KING http://pustaka.unpad.ac.idwpcontentuploads200904uji_toksisitas_limbah_ca ir_tahu_sumedang.pdf uji_toksisitas_limbah_cair_tahu_sumedang Diakses tanggal 4 November 2010 Setiawan, Hendra. 2001. Pengertian Pencemaran Air Dari Perspektif Hukum http://www.menlh.go.id/airnet/Artikel01.htm Diakses tanggal 4 November 2010 Tandjung, HSD. 1995. Toksikologi Lingkungan. Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta