Anda di halaman 1dari 21

SASARAN KERJA

Pol tebu Mill extraction BHR Overall recovery Pol ampas Kadar air ampas Pol blotong Brix tetes HK tetes Kehilangan yang tidak diketahui Total kehilangan Kecepatan giling Nira mentah % tebu Stop giling karena proses

10,5 92,5 82,5 76,3 2,5 52 2,5 91,0 34,0 0,30 2,50 5500 95 0,5 %

STANDART PENGAWASAN DAN PEDOMAN OPERASI YANG PENTING : CATATAN :

1. Standart pengawasan dan pedoman kerja akan disesuaikan dengan kondisi operasi, jumlah dan kualitas nira mentah yang diterima, jumlah dan macam-macam bahan kimia, kapasitas kerja dan disesuaikan pula dengan hasil analisa. 2. Untuk meningkatkan hasil kerja, untuk mendapatkan kualitas hasil yang tinggi dan untuk menekan kehilangan gula dalam proses, saran-saran yang bermanfaat sangat kami hargai. 3. Petunjuk kerja untuk mengoperasikan alat (mesin) akan segera dibuat

KUALITAS TEBU

1. Tebu adalah bahan dasar pembuatan gula, karena itu harus dijaga dari kehilangan, bila perlu hubungi petugas yang bersangkutan. Berat tebu dipakai sebagai dasar perhitungan efisiensi. 2. Dilarang memakan tebu, sanksi yang keras akan dikenakan kepada para pelanggar. Jika terjadi pelanggaran hubungi segera petugas personel pabrik untuk mengambil tindakan. 3. Tebu yang diterima lebih awal harus digiling lebih dahulu. Harap selalu berhubungan dengan bagian penerimaan tebu (cane reception). 4. Bila dijumpai kualitas tebu yang jelek, hubungi laboratorium untuk menganalisa. Bila hasil kemurnian (purity) dari nira perahan pertamadan nira mentah rendah, hubungi laboratorium untuk menambah frekuensi analisanya, sehingga segera dapat diambil langkah-langkah yang diperlukan. 5. Loose cane dari trailler dibongkar dengan cakar (gantry) dari bundle cane dari truk terbongar dengan penggaruk tebu (rake). Ini dimaksudkan untuk menghidari pembongkaran tebu diluar tempat yang telah ditentukan, sehingga harus dorong dengan shovel dan untuk memperkecil jam berhenti. Mendorong tebu dengan shovel harus dihindari, karena akan menyebabkan kehilangan gula dan terikut masuknya kotoran kedalam proses. Beritahu Engineering Shift Chief untuk memperhatikan keadaan tersebut. 6. Pengawasan kualitas tebu : Pol % tebu, brix nira mentah Hasil kemurnian (purity) nira mentah pH nira mentah Trash (daun, tunas, dsb.) Kesegaran dari saat pembakaran Sampai waktu giling > 10,5 > 17,0 > 85,0 5,2 5,5 <46% < 48 jam bundle cane < 36 jam loose cane

STASIUN GILINGAN

1. Alat pemisah pasir (Door Clone Desanding System) harus selalu dipergunakan untuk menghindari kerusakan alat-alat proses, dengan memperkecil kemungkinan masuknya pasir dan kotoran bersama nira mentah; sehingga kehilangan gula dalam blotong juga dapat ditekan. Bila alat pemisah pasir tidak berfungsi, beritahukan Shift Chief Engineering untuk menggunakan penangkap pasir (sand trap) yang harus selalu dibersihkan secara teratur. 2. Jumlah air imbibisi harus dicek dan dicatat, penggulaan air imbibisi yang tidak pada tempatnya (tanpa pencatatan) harus dilaporkan pada Shift Chief Engineering dan segera dihentikan. Sebagai dasar perhitungan

Tebu + air imbibisi = nira mentah + ampas

Pemakaian air imbibisi yang berlebihan akan berpengaruh dalam pekerjaan proses. 3. Angka-angka pengawasan gilingan untk mendapatkan pekerjaan proses yang baik.

Kadar air ampas Pol ampas Penutunan harga kemurnian dari NM ke NPP Penurunan brix dari NPP ke NM Kadar kotoran

52 % 2,5 1,5 2,5 <0,65 %

4. Kebersihan dari rol gilingan akan sangat menolong menghindarkan kerusakan dan kehilangan gula karena inversi, ingatkan Shift Chief Engineering untuk membersihkan gilingan dengan uap (steam) paling tidak dua kali setiap shift, juga jangan lupa menggunakan bactericide. Penggunaan tambahan bahan kimia ini akan membantu mengurangi terbentuknya gula reduksi lanjut dapat membentuk zat warna dan mempertinggi kehilangan gula dalam tetes. 5. Pemisahan ampas halus (bagacillo) dan transportnya diawasi bersama Engineering Shift Chief. 6. Segera beritahu petugas gilingan / Shift Chief Engineering untuk mengirim semua nira, bila gilingan berhenti lebih dari 30 menit. Terlambat lebih dari 1 jam proses Shift Chief berhak memutuskan untuk menerima nira tersebut lewat timbangan (ditimbang) atau tidak. 7. Pemberitahuan kapan mulai giling dan nira dikirim untuk diproses oleh Engineering Division kepada Proces dijadwalkan sebagai berikut :

Giling setelah : Maintenance stoppage Stop giling 8 sampai 12 jam Stop giling 2 sampai 4 jam Stop giling kurang dari 2 jam 90 menit 45 menit 10 menit menit

Reduced steam harus disiapkan 2 jam sebelum mulai giling, setelah maintenance stoppage dan stop giling lainnya kecuali jam berhenti yang bersifat darurat.

STASIUN PENERIMAAN

1. Perhatikan tabel terlampir di halaman . Tentang penggunaan bahan-bahan pembantu 2. pH meter harus selalu dikalibrasi oleh seksi instrumen. Electrode dibersihkan (secara mekanis maupun dengan alat ultrasonik) secara rutin, pH dicocokkan dengan pH meter laboratorium paling tidak 3 4 kali setiap shift. 3. Acqualarm conductivity meter (alat pendeteksi gula) harus dikalibrasi setiap setengah bulan dan diset untuk mendeteksi kandungan 10 ppm gula dalam air embun yang akan dikirim ke boiler. Tes kandungan gula dilakukan secara rutin untuk air embun dari masing-masing badan pan penguapan sehingga segera dapat diambil langkah untuk menekan kehilangan gula dalam air embun. 4. Pembakar belerang dipergunakan sesuai dengan petunjuk operasi. Belerang yang telah lebur, tidak boleh dipanaskan (diberi uap) lebih dari 4 jam bila pembakar tersebut tidak dipergunakan. Bila pembakar belerang tidak dipergunakan dalam waktu yang lama, belerang didalamnya harus habis terbakar. Abunya dibersihkan sebagaimana biasa. Langkah-langkah keamanan harus diperhatikan selama menjalankan pembakaran belerang. Hindarkan belerang yang berceceran, jagalah kebersihan. Batu gamping didalam pengering udara harus diganti paling tidak sehari sekali (shift pagi) agar selalu diperoleh udara bakar yang kering. Frekuensi pengantian didasarkan atas keadaan cuaca. Jaga keselamatan dan kebersihan dalam lingkungan kerja.

5. Pemadaman yang sempurna dari batu gamping akan menghasilkan susu kapur yang baik. Air embun dari uap nira atau air dengan dipakai untuk keperluan pemadaman tersebut. Jumlah CaO yang ditambahkan dalam nira mentah ditentukan berdasarkan kualitas tebu atau atas instruksi yang diberikan. Kotoran/kerikil dibersihkan pada tiap shift. Hindari kehilangan kapur dan jagalah kebersihan

6. Larutan phospat dibuat menurut kebutuhan Bila menggunakan TSP endapannya harus dibuang pada waktu tertentu. Perhatikan bahwa hanya larutan jernih yang dipakai/ditambahkan kedalam nira mentah (sebelum penambahan kapur) Lihat hal untuk penyiapan phospat

7. Dosis pemakaian flokulan adalah 2 4 ppm, disesuaikan dengan kondisi operasi den kecepatan pengendapan nira tersulfitir. Larutan tersedia 0,05% Tes kecepatan pengendapan (settling rate) harus sering dilakukan dalam tiap shift atau lebih dipersering bila dijumpai kesulitan pengendapan. Contoh diambil dari kran contoh prefloc tower. Contoh nira tersulfitir yang diambil setelah keluar dari prefloc tower harus dikumpulkan tiap 5 menit, dan paling tidak 6 8 buah contoh harus tersedia untuk pengamatan. Pemakaian flokulan untuk nira kotor (mud) adalah 0,75 ppm, disesuaikan dengan keadaan nira kotornya. Perhatikan halaman..

8. Larutan antiscalant dibuat untuk nira encer dan masing-masing badan pan penguapan dengan dosis yang disesuaikan dengan macamnya.

1-12-ST (Serbuk) Ke Nira encer masuk V.C/badan I Badan III Badan IV Buka halaman . 4 3 3

1-12-ST, Cairan cairan busperse 39

7 4 4

9. Pada waktu stop giling yang lama atau maintenance stoppage nira mentah encer yang tercampur air cucian gilingan dianalisa secara terpisah dan jumlahnya/beratnya harus dicatat.

10. Bila timbangan nira mentah rusak, peti ukur (volumetric tank) digunakan dengan pengawasan yang seksama, usahakan agar timbangan dapat segera dipakai. Hindari pemakaian peti ukuran kecuali karena hal tersebut diatas. Untuk menghitung efisiensi proses dari pol balance berat nira mentah yang benar, adalah sangat penting Pengambilan contoh nira mentah yang betul dapat dilakukan bekerjasama dengan bagian laboratorium. 11. Pada waktu mulai memasukkan pipa nira kedalam pemanas, buka dahulu katup buangan udara sampai betul-betul bebas udara (terpancar nira) 12. Waktu tinggal (retention) nira mentah dan nira kental dalam peti sulfitasi diatur disesuaikan dengan kecepatan giling. 13. Nira yang terikat uap dalam uap penguapan dan pan hampa harus selalu dianalisa dan dicatat. Bila ada kejanggalan harap segera diambil tindakan 14. Hindarkan kehilangan nira baik karena luapan maupun kebocoran, catat bila terjadi hal tersebut. Pompa bocor harus segera diperbaiki. 15. Semua katub buangan harus dalam keadaan tertutup, bila mungkin dikunci. Jangan sekali-kali dibuka tanpa izin Shift Chief. 16. Bahan bahan kimia dan larutan yang telah siap harus cukup tersedia pada waktu pergantian shift. 17. Tiap operator wajib menjaga kebersihan lingkungan kerjanya masing-masing. Terutama pada waktu pergantian shift masing-masing stasiun harus dalam keadaan bersih. 18. Buku laporan harian (log book) harus dijaga kebersihannya. Isilah dengan lengkap sesuai dengan kenyataan yang ada. 19. Pembuangan blotong harus diawasi dengan cermat. Jumlah blotong tertimbang harus dicatat. 20. Pan penguapan disiapkan 30 - 45 menit sebelum giling dimulai 21. Penambahan phospat dihentikan 2 2,5 sebelum stop giling yang direncanakan. 22. Sebelum stop giling untuk waktu yang lama, kedalam peti pengendapan (clarifier) yang berisi nira ditambahkan bactericide 15 20 liter tiap 20 menit selama 2 jam 23. Untuk mencegah penurunan pH yang berakibat kerusakan gula karena inversi pada waktu stop giling (lebih dari 24 jam) kedalam nira tersulfitir ditambahkan larutan soda abu sebanyak 50 sampai 100 kg/500 m3 nira. Penambahan ini harus seizin shift chief.

24. Tata cara pembersihan bidang pemanas. a. Waktu yang diperlukan Setelah stop giling sampai likuidasi pan penguapan Pencucian badan Pencucian badan Memasak soda Pembersihan kerak secara mekanis (sekrap) Pembilasan, pemeriksaan dan penutupan 22 26 jam 2 -2,5 jam 0,5 jam

4,5 5,5 jam 12 14 jam 1,5 2 jam

b. Pembersihan secara khemis Siapkan larutan dengan = 10 15 % soda api + 10 % soda abu + 3 % garam dapur dan 1,5 % scalex. Jumlah campuran ini harap disesuaikan denga banyaknya kerak, jarak waktu pembersihan dan konsentrasi larutan yang telah digunakan terdahulu. (5,0 7,5 ton + 0,75 ton + 0,255 ton + 0,5 0,75 ton) Bila perlu dapat ditambahkan busperse 47 sebanyak 45 liter sebagai inhibitor. Campuran diatas dibuat dalam tangki soda dan disitkulasikan dalam tiap badan pan penguapan. Jaga tinggi larutan soda tersebut kira-kira 20 25 % dari tinggi masing-masing badan. Larutan yang telah terpakai disimpan kembali di tangki soda.

c. Tergantung dari tebalnya kerak, waktu dan efisiensi pembersihan Pemasakah asam sulfamic dengan inhibitor asam (0,1% + 0,01% inhibitor) dapat digunakan. Waktu pemasakan (acid-boiling) tidak boleh lebih dari 45 60 menit dan dengan temperatur rendah.

25. Pembersihan bidang pemanas pada pemanas nira Satu diantara 4 buah pemanas harus selalu dalam keadaan siap pakai, tiga buah lainnya harus dibersihkan (disekrap) secara bergiliran agar diperoleh hasil yang bagus. Keluarkan sisa nira dalam pemanas kedalam tangki penampung untuk diproses kembali. Setelah pembersihan adanya atau tidaknya kebocoran pada kalandria, tutup-tutupnya maupun pada katub

pengeluaran/pemasukan. Setiap hari shift pertama wajib menukar pemakaian pemanas nira. Penggantian ini dimaksudkan agar kerak yang terbentuk lebih mudah dibersihkan.

26. Angka Pengawasan Nira mentah tertimbang Brix Hasi kemurnian (purity) Dosis phospat pH pengapuran awal pH nira terkapur pH nira tersulfitir Suhu pemanasan I Suhu pemanasan nira tersulfitir Suhu pemanasan nira tersulfitir II 13 15 81 83 100 150 ppm 6,2 6,5 9,0 9,5 7,0 7,2 65 70O C (uap nira badan II) 85 92O C (uap nira badan I) 102 104O C (uap bekas)

Nira encer pH kekeruhan (turbidity) kadar kapur 6,8 6,9 < 4 (dengan kopke) 800 1000 ppm

Nira Seduhan (filtrate) pH 7,0 7,2

Blotong Pol Kadar air < 2,5 65 70 %

Saringan hampa Hampa rendah (pick up) Hampa tinggi (wash) 250 275 mmHg 400 475 mmHg

Uap bekas Suhu Tekanan 125 135O C 0,7 0,9 Kg/cm2

Uap basah (red steam) Suhu Tekanan 160 165O C 3,5 4 Kg/cm2

Hampa pada bada ke IV Tekanan 650 10 mmHg

Entrainment (nira yang terikut nira) Saringan hampa Pan penguapan nol nol

Pan penguapan Suhu penguap pendahuluan (VC) Badan I Badan II Badan III Badan IV Permukaan nira Penguap pendahuluan Badan I Badan II Badan III & IV Air injeksi Tekanan Suhu pH 1,2 1,4 Kg/cm2 30 32 OC (masuk) 38 40 OC (keluar) 7,2 7,4 35 40 % 35 40 % 30 35 % 25 30 % 105 110O C 105 110O C 95 100O C 80 85O C 55 57O C

27. Untuk menjlankan JSP Syrup Clarifier, lihat petunjuk pengoperasian (alat ini masih dalam percobaan)

STASIUN MASAKAN

1. Pada keadaan yang normal diharapkan hasil kemurnian nira kental yang dikirim ke stasiun masakan bekisar antara 80 83 Dipergunakan 3 tingkat sistem masakan Masakan B dan C diputus dua kali, A diputar sekali ( sebagai gula produk). Kelebihan gula C2 dilebur dan dikirim ke peti sulfitasi nira kental.

2. Bibit untuk masakan C dibuat dengan memakai fondan Fondan disiaapkan di laboratorium. 2 Kg gula murni (refine) dan 4 Kg isopropil alkohol dicampur dalam suatu ballmill selama 4 6 jam, untuk mendapatkan fondan dengan ukuran kira-kira 20 mikron. Kira-kira 50 cc fondan diperlukan untuk setiap 100 Hl bibit cukup untuk membuat 2- 3 kali masakan C tergantung pada posisi stasiun masakan saat itu.

3. Pengencer dan pemanas strup (mollassess conditioner) A dan B harus selalu diamati kerjanya. Perhatikan bahwa suhu seterup A dan B yang masuk ke pan bekisar 65 70O C

4. Shift pertama harus menyiapkan rencana masak (daily boiling chart) hari itu. Rencana masak tersebut digambar di papan tulis yang tersedia dan shift berikutnya wajib mengikuti rencana tersebut.

5. Uap nira (vapour) dapat dipakai untuk 3 4 pan. Gunakanlah uap bekas (exhaust steam) secukupnya, perhatikan tekanan masing-masing.

6. Peti-peti penampung di stasiun masakan terutama peti nira kental dibersihkan secara bergiliran. Air bilasannya diirim ke peti nira mentah untuk diproses kembali. Juga air bilasan pan masakan pada waktu akan memasak air (water boiling) harus diproses kembali, agar kehilangan gula lewat air dapat dihindari. Saluran buangan langsung ke selokan harus dikunci, kunci tersebut disimpan oleh Shift Chief.

7. Bahan pemutih (Na hydrosulfit) dan visc aid digunakan seperlunya 8. Mutu dari bibit harus mendapat perhatian khusus. Untuk memperoleh efisiensi pemutaran yang tinggi, ukuran kristal masakan harus sama/rata. Sebelum masakan diturunkan ke palung pendingin harus diperiksakan kepada shift chief dahulu. Hindari sirkulasi seterup, juga sedapat mungkin hindari penggunaan nira kental atau seterup dengan kemurnian tinggi untuk membuat masakan dengan kemurnian rendah (short circuit). 9. Sehabis menurunkan masakan, saluran-saluran harus dibersihkan Pipa potong (cut line) dibersihkan dengan uap setelah dipakai.

10. Tingakat masakan yang telah dibuat (3 tingkat masakan A,B,C) harus dilaksanakan dengan benar. Bila mungkin jumlah bahan dalam tiap pan dicatat. Ini perlu untuk mengawasi hasil kemurnian masakan yang dibuat. Perubaha perubahan hanya boleh dilakukan dengan seizin Division Head atau Sr. Shift Chief bila Division Head berhalangan.

11. Pembersihan bidang pemanas Pada umumnya kerak di pan masakan lebih sedikit dibandingkan dengan pan penguapan, namun demikian karena pengaruh sulfitasi berganda maka pembentukan kerak tersebut tetap ada. Memasak air (water boiling) dalam pan masak dapat mengurangi pengerakan. Selama maintenance stoppage, didihkan larutan asam (asam sulfamik 0,1 % dari inhibitor 0,01 %) untuk memperlunak kerak-kerak dalam pipa pemanas. Untuk mendapatka hasil pembersihan yang maksimal digunakan sikat-sikat baja (pembersihan secara mekanis)

12. Waktu masak Masakan A Masakan B Masakan C 2,5 sampai 3,5 jam 4 sampai 6 jam 6 sampai 8 jam 3 sampai 4 jam (dengan sirkulator)

13. Ukuran kristal Gula Gula Gula A B C 0,8 1,2 mm 0,4 0,6 mm 0,2 0,3 mm

14. Angka pengawasan Nira kental tersulfitir brix HK pH Masakan A brix HK Basakan B brix HK Masakan C brix HK Magma B (B seed) brix HK Magma C (C Seed) brix HK Bibit Potongan HK HK 62 65 81 83 5,2 5,4 92 93 85 87 93 95 74 76 99 100 59 61 88 90 97 98 88 90 92 94 71 73 67 69

15. Bahan kimia yang ditambahkan dalam masakan seperti visc aid hanya diperlukan apabila hasil kemurnian nira mentahdan nira kental sangat rendah, yang mengakibatkan masakan viscous (berlendir) Penambahan ini akan mengurangi viscositas sehingga sirkulasi masakan akan lebih baik. Agar lebih mudah bercampur dengan masakan, visc aid harus diencerkan dahulu menjadi larutan 10 %. Pada waktu membuat bibit, gunakan 1 kg visc aid sebelum pembibitan dimulai (sebelum kristal keluar). Untuk masakan B dan C ditambahkan masing-masing 1 Kg tiap masakan. Setengah Kg pada waktu penarikan bibit dan setengah Kg lagi pada waktu membesarkan kristal (kira-kira volume 36 40 m3)

STASIUN PUTARAN

Petunjuk pemakaian mesin BMA harus diikuti agar keselamatan kerja dalam menjalankan mesin-mesin putaran (variant 1000 dan k 850 s) terjamin.

1. Mula-mula uap air, siklus waktu dsb diatur (diset). Perubahan perubahan dapat dilakukan berdasarkan keadaan masakan, perubahan ini harus sepengetahuan Shift Chief. 2. Masakan yang akan diputar harus diperiksa dahulu. Pemeriksaan dilakukan dengan mengunakan sepotong kaca, perhatikan ukuran kristal, keratannya dan tindakan yang dapat dilakukan selama pemutaran. 3. Untuk mengetahui adanya saringan yang sobek, seterup harus sering dilihat, apakah ada kristal gula yang tercampur. 4. Mutu gula produk harus diperiksa, ketika mengirim gula ke silo (sugar bin) 5. Kecuali atas perintah yang berwenang, pendingin gula, saringan gula, konveyor dan silo gula tidak boleh dibilas dengan air. 6. Bila mulai memutar masakan dari suatu palung pendingin, operasikanlah beberapa mesin batch secara manual, sebelum semuanya diatur secara otomatis. Kontrol sekuen harus dipergunakan agar tidak terjadi pengeluaran gula yang bersamaan waktunya dari masing-masing putaran batch. Pengeluaran gula yang bersamaan waktunya akan menyebabkan beberapa alat mengalami beban yang berlebihan (overload). Setiap shift harus memeriksa dan mencatat keadaan sistem interlock, lampu indikator dan alarm. Bila tidak ada keberesan kerja dari satu alat, harus segera diperbaiki. Perbaikan hanya boleh dilakukan oleh orang yang ditunjuk khusus untuk menangani mesin tersebut. 7. Pemakaian mesin-mesin konti disesuaikan dengan beban dan kapasitasnya. 8. Selama stop giling untuk waktu yang agak lama, semua pembagi masakan (massecuite distributor) harus dalam keadaan kosong dan dibersihkan dengan uap. Pipa-pipa seterup dan magma dicuci dengan uap. Gula yang tercecer dikumpulkan untuk diproses kembali. 9. Untuk mengencerkan masakan C, encerkan teter dengan air hingga brix 60 65 (suhu 65 C). teter yang digunakan adalah tetes yang belum tertimbang. Untuk mengurangi korosi pada pipapipa pemanas palung pendingin, pada air yang digunakan ditambahkan caustic soda hingga pH 7,0 7,4. Pada keadaan normal, waktu pendinginan yang baik adalah 16 18 jam.

10. Tetes yang diperoleh sebelum dikirim ke peti penyimpanan tetes harus selalu ditimbang dan dicatat. Bila alat penimbang tetes rusak maka jumlah masakan C yang diputar dan jumlah tetes yang dikirim ke penyimpanan tetes (menurut perkiraan) harus dicatat. 11. Operator dilarang memasuki ruang kontrol (control panel room) untuk melakukan penyetelan / perubahan pada panel control. Hanya petugas khusus yang diberi wewenang untuk itu. 12. Hindarkan kehilangan gula baik karena meluap atau karena kebocoran-kebocoran. Jagalah kebersihan dan kesehatan lingkungan kerja.

Angka pengawasan : a. Seterup A brix HK b. Seterup B brix HK c. Klare B Air cucian gula B1 = B wash d. Klare C brix HK brix HK e. Tetes brix HK f. Gula B1 Gula B2 g. Magma C1 Magma C2 h. Gula produk HK HK HK HK pol K air 78 80 69 - 71 78 80 54 - 56 68 70 85 - 87 68 70 61 - 63 91 93 34 - 33 94 95 97 - 98 84 85 92 - 93 > 99,7 0,04

K abu 0,10 Warna < 300 Icumsa Unit

STASIUN PENGANTONGAN

1. Shift pertama dan kedua harus menyerahkan MRIS untuk mendapatkan karung gula plastik dan benang jahit. Karung gula harus dihitung kembali pada saat penyerahan dari gudang gula. Perhitungan gula berdasarkan pada perhitungan karung gula kosong dan tiap shift harus mengadakan serah terima. Karung yang robek tidak dapat dikembalikan tanpa memo elektronic counter dan karung kosong harus menunjukkan jumlah yang sama. 2. Pada permulaan dan akhir dari tiap shift, timbangan gula harus dicek ketepatannya. Untuk menentukan berat tara, karung kosong ditimbang dahulu kemudian timbangan dimatikan (dikunci). Pengecekan berat dicatat, pengecekan ulang akan dilakukan oleh Gudang Gula dan akan segera diadakan koreksi atas kesalahan timbang. 3. Untuk mendapatkan hasil yang baik, menjahit harus dijalankan dalam kondisi yang baik pula. 4. Diwaktu-waktu tertentu, magnet pada bin harus dibersihkan. Untuk menyingkat waktu magnet cadangan harus siap tersedia. 5. Gula adalah produk akhir. Gula-gula sapuan harus dilebur kembali. 6. Gula yang sudah ditimbang dan dikantongi, supaya dihitung dengan benar dengan alat penghitung, tanda terima akan diperoleh dari gudang gula untuk penyerahan secara benar. Bila ada perbedaan jumlah, shift itu harus menyelesaikannya. 7. Buku jaga, harus dijaga dengan teliti dan dengan kerapiannya. 8. Tidak diperkenankan orang lain masuk ke stasiun pengantongan dan tidak diperbolehkan mengeluarkan gula tanpa izin dari Kepala Divisi (Bag), kecuali ke Laboratorium guna penelitian. Untuk analisa diambil 500 gram dari tiap-tiap masakan.

PROCESS MAINTENANCE

1. Periksa baut-baut pondasi, penyangga alat-alat, penyetelan coupling & V Belt sebelum memulai menjalankan peralatan 2. Gunakan tabel dan anjuran pelumasan agar bisa menggunakannya dengan tepat. Ikuti instruksi lubrikasi pada saat pemakaiannya. 3. Bila ada ketidaknormalan bekerjanya peralatan, pertama-tama periksalah unit itu, untuk menghindari kerusakan yang serius/parah. Jika ada keraguan/ketidak wajaran, mintalah pendapat dari Process/Engineering Shift Chief. 4. Gunakan daftar spare parts, agar bisa mengontrol kebenarannya. Jaga catatan peralatan untuk lubrikasi, penggantian spare parts agar pada saat tidak giling bisa mengambil langkah lebih jauh untuk pemeliharaan secara preventif. 5. Interlock yang diperlukan harus diperiksa dan hindari muatan-muatan yang lebih. 6. Spare-spare dari unit itu harus digunakan sekali dalam satu shift, untuk meyakinkan bahwa unit tersebut masih dalam keadaan baik. 7. Perhatian harus diberikan untuk pemeliharaan secara preventive, dan menjaga spare-spare tersebut telah siap dari Workshop untuk menghindari keterburu-buruan. 8. Barang barang yang habis sekali pakai dan alat-alat yang diperlukan harus disimpan dan dijaga ditempat penyimpanan aat-alat. 9. Semua pekerjaan listrik/perbaikan perbaikan harus dilakukan oleh bagian listrik maupun instrument. Ikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh bagian Engineering untuk order-order kerja listrik/instrument maupun Mechanical Workshop.

UMUM

1. Bilamana gilingan berhenti lebih dari 30 menit karena sesuatu yang mendadak atau karena kerusakan, harus diberitahukan kepada Processing Manager, Sr. Shift Chief atau Staff yang sedang jaga. 2. Penyetopan yang diberitahukan terlebih dahulu karena akan adanya perbaikan harus ada konsultasi dari Shift Chief Engineering agar jumlah waktu berhenti bisa diperkecil. 3. Bila ada kerusakan yang serius pada peralatan/kecelakaan pada staff/staff contractor, segera mengambil tindakan dan memberitahu kepada Processing Manager. 4. Kedisiplinan dan kebersihan harus mendapat perhatian khusus. 5. Perhatian agar diberikan kepada staff yang sedang belajar. 6. Dilarang keras merokok pada saat pengantongan, saat pemutaran. 7. Hindari mengembesnya uap-uap buangan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan mengembalikan panas kondensate ke Boiler. 8. Alat penunjuk harus bekerja dengan baik. 9. Periksa dan amati kecepatan pengendapa dengan penggunaan bahan-bahan kimia yang berbeda dan amati hasilnya setiap setengah bulan sekali. 10. Perhatian penuh harus dipusatkan untuk mengontrol standart, khususnya pH, temperatur, retention time, purity control dll. 11. Jalankan unit-unit process dengan kapasitas maximum untuk mendapatkan produksi yang lebih dengan mengurangi kehilangan-kehilangan yang bukan semestinya karena retention time yang tinggi.

PRODUCTION DIVISION STANDART PENGAWASAN BAHAN KIMIA

1. Kapur a. Kapur bakar 1) Kadar CaO 2) Kadar air 3) SiO2 4) Fe2O3 dan Al2O3 5) CaCO3 6) MgO 85 90 % 12% 1% 12% 0,2 1 % 2% (maks) (maks) (maks) (maks) (maks)

b. Kapur terpadamkan 1) Ca (OH)2 2) CaO 3) CaCO3 4) Total CaO 5) Silikat 6) Fe2O3 7) Aluminat 8) Magnesium 9) Hilang dalam pembakaran 10) SO3 97 % 73.43 % 2% 74 .57 0,4 % 0,08 % 0,17 % 0,22 % 24 % 0,09 %

11) Kehalusan, 100 % tersaring lewat saringan steve 300 mesh.

2. Belerang Kemurnian diatas Bebas Arsen (As) Bebas selenium (Se) Bebas Tellurium (Te) 99 % < 1 ppm < 1 ppm < 1 ppm

3. Asam Phospat H3PO4 (food quality) 1) Kadar H3PO4 2) Kadar P2O5 3) Besi sebagai Fe 4) Timah hitam (Pb) 5) Arsen sebagai As2O3 6) Flouride 7) Warna 85 % 60 % 0,03 % 0,3 ppm 0,2 ppm 0,1 ppm bening air

4. Hydrosulfit 1) Kadar Na2S2O4 90 %

5. Bahan kimia khusus Perhatikan keterangan yang diberikan oleh supplier.