Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Aseton adalah turunan keton yang merupakan senyawa paling penting dalam dunia industri. Adapun sejarah perkembangan teknologi proses pembuatan aseton yaitu (Kirk & Othmer, 1983) : Aseton pertama kali ditemukan pada tahun 1595 sebagai produk dari distilasi timah asetat. Pada tahun 1920, produksi aseton menggunakan proses dehidrogenasi dengan bahan baku isopropyl alkohol. Selama perang dunia II, terjadi perkembangan proses yang digunakan, yaitu proses fermentasi. Pada pertengahan tahun 1960, aseton diproduksi dari propilena dengan proses oksidasi langsung yang dikenal dengan proses Wacker. Pada pertengahan tahun 1970, produksi aseton menggunakan proses cumene hydroperoxide. Pada proses ini hasil utamanya adalah phenol, sedangkan aseton merupakan produk samping.

1.2. Maksud dan Tujuan Perancangan Pabrik 1.2.1. Alasan Pendirian Pabrik Perkembangan dunia industri di Indonesia mengalami peningkatan begitu pesat seiring dengan kemajuan teknologi yang ditemukan, sehingga diharapkan mampu bersaing dengan Negara-negara maju. Perkembangan industri tersebut juga terjadi pada industri kimia, dimana produk-produk kimia sangat dibutuhkan baik digunakan secara langsung maupun sebagai intermediate product. Aseton merupakan salah satu produk industri kimia

yang dapat digunakan secara langsung dan dapat digunakan sebagai intermediate product. Aseton banyak digunakan pada industri selulosa asetat, cat, serat, plastic, karet, kosmetik, perekat, pernis, penyamakan kulit, pembuatan minyak pelumas, pelarut dalam proses ekstraksi, dan sebagai bahan baku methyl isobutyl ketone. Kebutuhan aseton dalam jumlah besar di Indonesia relative meningkat setiap tahun. Namun, sampai saat ini masih belum ada pabrik yang memproduksi aseton di Indonesia, sehingga Indonesia mengimpor aseton untuk memenuhi kebutuhan industri dari negara lain seperti Amerika Serikat, Belanda, Cina, Korea, Jepang dan Singapura. Tabel 1.1 dibawah ini menunjukkan banyaknya impor aseton Indonesia per tahun nuntuk memenuhi kebutuhan industri di Indonesia. Tabel 1.1 Data Impor Aseton Indonesia*) No 1 2 3 4 5
*)

Tahun 2007 2008 2009 2010 2011

Jumlah (kg) / tahun 12.719.092 12.973.473 13.232.942 14.058.136 15.806.833

Sumber : Badan Pusat Statistik

Dengan didirikannya pabrik aseton di Indonesia diharapkan dapat memberikan keuntungan antara lain : Menghemat devisa Negara karena dapat mengurangi kegiatan impor aseton. Menyediakan aseton bagi industri-industri di Indonesia yang

menggunakan bahan tersebut. Membuka lapangan kerja baru untuk mengurangi jumlah

pengangguran.

1.2.2. Ketersediaan Bahan Baku Bahan baku pembuatan Aseton adalah isopropyl alkohol. Isopropil alkohol telah banyak diproduksi di Indonesia, dibuktikan dengan adanya data isopropyl alkohol yang diekspor. Tabel 1.2 Data Ekspor Isopropil Alkohol di Indonesia*) No 1 2 3 4 5
*)

Tahun 2007 2008 2009 2010 2011

Jumlah ekspor Isopropil Alkoho (kg) 8.496.901 5.326.395 1.861.318 1.497.720 1.404.649

Sumber : Digital Information Services

Bahan baku pembuatan aseton (Isopropil alkohol) juga diproduksi oleh industri-industri kimia luar negeri, sehingga bila suatu saat produksi isopropyl alkohol dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan produksi, maka dapat dilakukan impor bahan baku untuk memenuhi kebutuahn bahan baku tersebut. Tabel 1.3 Data produsen Isopropil Alkohol (IPA) di Luar Negeri *) No 1 2 3 4 Produsen Dow, Texas City, Tex. Equistar, Channelview, Tex. ExxonMobil, Baton Ronge, La. Shell, Deer Park, tex. Kapasitas (juta pound / tahun) 550 65 660 600

Total
*)

1.875

Sumber : Digital Information Services

1.2.3. Kebutuhan Aseton sangat dibutuhkan untuk industri di Indonesia sehingga pendirian Pabrik Aseton di Indonesia dapat mengurangi jumlah impor aseton dari luar negeri. Di Indonesia, Aseton digunakan pada industry selulosa asetat, cat, serat, plastic, karet, kosmetik, perekat, pernis, peyamakn kuli, pembuatan minyak pelumas, pelarut dalam proses ekstraksi dan sebagai bahan baku methyl isobutyl ketone. Tabel 1.4 di bawah ini menunjukkan kebutuhan aseton di Indonesia untuk berbagai industri. Tabel 1.4 Data Kebutuhan Aseton untuk Beberapa Industri di Indonesia *) No 1 2 3 4 5 Tahun 2007 2008 2009 2010 2011
*)

Industri Industri karet Industry cat, pernis dan lak Industri remiling karet Industri molding Industri cat, pernis, lak Sumber : Badan Pusat Statistik

Jumlah (kg) 4.445 171.000 39.543 1.084 3.914

1.3. Analisa Pasar dan Perencanaan Kapasitas Produksi 1.3.1. Aspek Pasar Prospek pendirian pabrik aseton di Indonesia dilihat dari aspek pasar, berpotensi untuk berkembang pesat karena saat ini di Indonesia masih belum ada pabrik aseton. Kebutuhan aseton di Indonesia masih belum ada pabrik aseton. Kebutuhan aseton di Indonesia juga relative tinggi namun

untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus di impor dari luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa pabrik aseton yang akan di bangun dapat membantu memenuhi kebutuhan industri yang menggunakan bahan baku aseton dan belum ada persaingan pasar dalam negeri. Namun, untuk menghadapi persaingan dengan produsen luar negeri harus menjaga kualitas produk dan sistem manajemen yang bagus. Tabel 1.5 data Produsen Aseton di Luar Negeri*) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Produsen Dow Chemical, Freeport, Tex. Dow Chemical, Institute, W.Va. Georgia Gulf, Pasadena, Tex. Georgia Gulf, Plaquemine, La. Goodyear Tire & Rubber, Bayport, Tex. Inoes Phenol, Theodore, Ala. JLM Chemicals, Blue Island, III Mount Vernon Phenol Plant Partnership, Mount Vernon, Ind. Shell, Deer Park, Tex. Sunoco, Frankford, Pa. Sunoco, Haverhill, Ohia. Total
*)

Kapasitas (juta pound / tahun) 395 170 95 305 15 605 55 430 715 680 590 4055

Sumber : www.icis.com,

1.3.2. Perencanaan Kapasitas Produksi Pemilihan kapasitas perancangan didasarkan pada kebutuhan aseton di Indonesia, tersedianya bahan baku, serta ketentuan kapasitas minimum.

Kebutuhan aseton di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Hal ini menunjukan pesatnya perkembangan industry kimia di Indonesia. Data statistic berikut menunjukan kenaikan permintaan aseton dari luar. Dari data impor aseton pada Tabel 1.1 maka di dapatkan grafik dengan persamaan linier y = 0,726x - 1444. Gambar 1.1 Grafik Jumlah Impor Aseton Indonesia

Berdasarkan data diatas, diperkirakan kebutuhan aseton akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang sejalan dengan perkembangan industri yang menggunakan aseton sebagai bahan baku. Peningkatan ratarata kebutuhan Aseton di Indonesia sebesar 4,5%. Dengan perhitungan sebagai berikut: y1 y1 = 0,726x 1444 = 0,726 (2020) 1444 = 22,52 ribu ton y2 y2 = 0,726x 1444 = 0,726 (2011) 1444 = 15,99 ribu ton

Rata-rata pertumbuhan kebutuhan aseton di Indonesia

Pada tahun 2020 diperkirakan kebutuhan aseton mencapai 22,5 ribu ton per tahun, sehingga diambil kapasitas produksi 22.500 ton per tahun, dengan pertimbangan bahwa produksi aseton di Indonesia 0 (nol). 1.4. Pemilihan Lokasi Pemilihan lokasi pabrik sangat menentukan kemudahan mobilitas pabrik, sehingga diperlukan pertimbangan-pertimbangan dalam pemilihan lokasi pendirian pabrik. Pendirian pabrik aseton dari isopropil alkohol dengan proses dehidrogenasi direncanakan di Cilegon, Banten. Gambar 1.1 Peta Propinsi Banten

Hal-hal yang digunakan sebagai dasar penentuan lokasi pabrik adalah : Bahan baku Penentuan lokasi pabrik yang didasarkan pada lokasi ketersediaan bahan baku akan memberikan keuntungan tersendiri yaitu bahan baku mudah diperoleh dengan harga yang lebih murah. Bahan baku pembuatan aseton adalah isopropyl alkohol, dimana produsen isopropyl alkohol antara lain berada di

daerah Jawa Barat, sehingga lokasi pabrik didirikan di Cilegon, Banten agar dekat dengan bahan baku. Sarana transportasi Dalam upaya pemenuhan bahan baku dan pemasaran hasil produksi, saran transportasi sangat berperan penting. Lokasi pendirian pabrik harus memiliki saran transportasi yang mudah untuk melakukan transportasi darat maupun laut. Aseton yang dihasilkan akan dipasarkan ke eluruh Indonesia untuk memenuhi kebutuhan industri-industri yang membutuhkannya. Oleh karena itu, dengan adanya sarana transportasi yang mudah maka akan mendukung keberlangsungan pabrik dan pemasaran hasil produksi juga menjadi lebih mudah. Pemasaran Lokasi pendirian suatu pabrik harus mempertimbangkan aspek pasar karena hal tersebut yang menentukan keberlangsungan pabrik tersebut. Aseton merupakan salah satu bahan yang digunakan untuk industri cat, pernis,lak, selulosa, karet dan kosmetik, sehingga lokasi pendirian pabrik mendekati lokasi industri-industri tersebut (dekat dengan konsumen) akan memberikan keuntungan yang lebih bagi produsen dan konsumen. Pengembangan di masa depan Dengan melihat prediksi kebutuhan aseton yang semakin meningkat setiap tahun maka perlu dipikirkan masalah perluasan pabrik di masa depan. Sumber air dan sumber energi Operasional suatu pabrik membutuhkan air dan sumber energi seperti listrik untuk utilitas, sehingga penting mempertimbangkan sumber air dan sumber energi yang dibutuhkan untuk kepentingan operasional pabrik dalam penentuan lokasi pendirian pabrik.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Bahan Baku dan Bahan Pembantu Tambahan 2.1.1. Bahan Baku Utama Isopropil alkohol Isopropil alcohol (2- propel alcohol, iso-propanol, rubbing alcohol) dibuat dengan proses esterifikasi atau hidrolisis dari propilena menjadi isopropyl alkohol. Proses esterifikasi atau hidrolisis dilakukan dengan hidrasi langsung, dimana proses ini lebih sulit untuk crude propilena. Tahap esterifikasi terjadi dengan asam sulfat 85 % pada 24-27C dan konsentrasi berkurang menjadi 20 % pada tangki pemisahan. Isopropyl alkohol didistilasi dari asam yang terlarut dan kemudian dikembalikan lagi ke reactor esterifikasi. Isopropyl alkohol didistilasi azeotropic dengan air. Isopropyl alkohol digunakan untuk produksi aseton, untuk farmasi, pelarut dan coating. Beberapa bahan kimia diturunkan dari isopropyl alkohol, antara lain adalah isopropyl eter (pada industry ekstraksi pelarut), isopropyl asetat (suatu pelarut untuk cellulose derivative) dan isopropyl myristate (pelumas, campuran untuk kosmetik, tinta dan plasticizer). Sifat Fisik dan Kimia Bahan baku yang digunakan adalah isopropyl alkohol (isopropanol, 2 propanol, dimethyl karbonil), dimana sifat fisika dan sifat kimianya adalah sebagai berikut : Sifat Fisika Isopropil Alkohol Rumus molekul Berat molekul, g/gmol Kenampakan : C3H7OH : 60,10 : cairan tak berwarna

10

Titik didih, C Titik beku, C

: 82,3 : -88,5

Refractive index (20 C) : 1,3772 Viskositas (20 C), cP : 2,4

Densitas (20 C), g/cm3 : 0,7854 Spesific Gravityi (20 C) : 0,7864 Temperature kritis, C : 235,2

Tekanan kritis (20 C), kPa: 4.764 Sangat larut dalam air Sifat Kimia Isopropil Alkohol Isopropyl alcohol didehidrogenasi membentuk Aseton dengan

katalis bermacam-macam seperti logam, oksida dan campuran logam dengan oksidanya. Reaksi : CH3CHOHCH3 CH3COCH3 + H2

Isopropyl alcohol dapat juga dioksidasi secara parsial membentuk

aseton dengan katalis yang sama dengan proses dehidrogenasi. Reaksi : CH3CHOHCH3 + O2 C3H6O + H2O

Dengan asam halogen dihasilkan Isopropil alcohol Halida.

Reaksi : CH3CHOHCH3 + HX CH3CHXCH3 + H2O

11

Bereaksi dengan logam-logam aktif seperti sodium dan potassium

membentuk Metal Isopropoksida dan hydrogen. Reaksi : 2 CH3CHOHCH3 + 2 M 2 CH3CHOMCH3 + H2

Alumina Isopropoksida dapat dihasilkan dari reflux Isopropil Alkohol 99 %, alumina dengan katalis Merkuri Oksida. Dengan Asam Asetat dan katalis Asam Sulfat dapat membentuk

Isopropil Asetat. Reaksi : C3H8O + CH3COOH H2O + CH3CHCOOCCH3CHCH3

Dengan Etilen Oksida atau Propilen Oksida dengan katalis basa

seperti NaOH akan membentuk Eter Alkohol dari isopropyl alkohol. Reaksi : C3H8O + CH2=CH2 2- isopropoksi etanol Isopropyl alcohol dapat mengalami dehidrasi menghasilkan CH3CHOC2H4OHCCH3

Diisopropil Eter maupun Propilen. Reaksi : 2 CH3CHOHCH3 CH3CHOHCH3 (CH3)2CHOCH(CH3)2 + H2O CH3CH=CH2 + H2O

2.1.2 Bahan Baku Pendukung

12

Bahan baku pendukung untuk pembuatan aseton dengan proses dehidrogenasi adalah katalis yang digunakan yaitu kombinasi Zinc oxide dan Zirconium oxide. Zinc Oxide Sifat Fisika Molecular formula Molar mass Kenampakan Density, g/cm3 Melting Point, C Boiling Point, C : ZnO : 81.408 g / mol : padatan putih : 5.606 : 1975 : 2360 : 2.0041

Kelarutan dalam air (30 C), mg/100 mL Sifat Kimia

Zinc oxide bila direaksikan dengan HCl membentuk Zinc clorida dan air. Reaksi : ZnO + 2 HCl ZnCl2 + H2O

ZnO bereaksi lambat dengan fatty acid pada minyak untuk produksi karboksilat seperti oleat atau stearat.

2.2. Produk dan Sifat-sifatnya 2.2.1. Produk Utama

13

Aseton (dimethyl ketone, 2-propanone) merupakan keton yang paling sederhana dan berwujud liquid yang tidak berwarna. Larut dalam air, alcohol atau eter.

Kegunaan aseton adalah sebagai berikut: Aseton digunakan sebagai reaction ontermediate untuk produksi kompone-komponen lain seperti bisfenol A, acrylics dan methyl isobutyl keton ( MIBK). Sebagai direct solvent, digunakan pada industry coating,thinner, cairan pembersih (pembersih cat kuku, pelarut lem super, pembersih tinta), acrylic, nitrocellulose, industry cat dan pelarut polar di laboratorium. Lebih dari 70.000 metric ton aseton digunakan untuk komponenkomponen antioksidan, herbisida, keton yang lebih tinggi dan vitamin intermediate. Sifat Fisika Aseton Rumus molekul Berat molekul, g/mol Kenampakan : CH3COCH3 : 58,08 : cairan tidak berwarna

Refractive Index (20C), nD : 1,3588 Densitas, g/cm3 Viskositas (20C) Specific gravity (20C) : 0,79 (cair) : 0,32 cP : 0,783

Vapor pressure (20C), kPa : 24,7 Melting point (C) : -94,6

14

Boiling point (101,3 kPa), C: 56,29 Critical temperature (C) Critical pressure, kPa Critical volume, L / mol Critical compressibility Sifat kimia Aseton Dapat membentuk komponen-komponen crystalline seperti aseton sodium bisulfate ((CH3)2COH)SO3Na) dengan alkali bisulfate. Pyrolisis aseton menghasilkan ketene. : 235,05 : 4701 : 0,209 : 0,233

Reaksi : CH3COCH3 CH2=C=O

Reduksi menyebabkan aseton berubah menjadi pinacol, isopropyl alcohol atau propane.

Aseton bersifat stabil digunakan dengan oksidant-oksidant seperti larutan Fehling, silver nitrate, asam nitrat dingin dan potassium permanganate netral, tetapi dapat teroksidasi dengan beberapa oksidant yang lebih kuat seperti alkaline permanganate,chromic acid dan asam nitrat panas.

Aseton

membentuk

acetals

pada

reaksi

eksotermik,

tetapi

equilibrium consentration kecil pada temperature lingkungan. 2.2.2. Produk Samping Hidrogen Sifat Fisika

15

Rumus molekul Kenampakan Berat molekul, (kg/kmol) Density (0C), (mol/cm3) Compressibility factor (0C)

: H2 : gas tak berwarna : 2,01 : 0,04460 : 1,00042 : 7,03

Adiabatic compressibility (300C), MPa-1 Cp (0C), J/ (mol.K) Cv (0C), J/ (mol.K) Enthalphy (0C), J/ mol Viscosity (0C), cP : 28,59 : 20,30 : 7749,2

: 0,00839 : 1,740

Thermal conductivity (0C), mW / (cm.K) Sifat kimia

Oksidasi hidrokarbon dapat menghasilkan hidrokarbon dan karbon mnoksida. Reaksi : CnH2n + n/2 O2 nCO + nH2

Elektrolisis air dapat menghasilkan hydrogen dan oksigen. Reaksi : 2 H2O 2 H2 + O2

Steam pyrolisis hidrokarbon menghasilkan ethylene dan hydrogen sebagai by product.

16

Reaksi : C2H6 C2H4 + H2

Hydrogen bila direaksikan dengan sejumlah metal oksida pada kenaikan temperature dapat menghasilkan metal dan air. Reaksi : FeO + H2 Air Sifat fisika Rumus molekul Kenampakan Berat molekul, kg/kmol Density (25C), kg/m3 Viscosity (25C), cP Heat capacity (25C), cP Titik didih, (C) Titik beku, (C) Kalor jenis (20C), J/(kg.K) Sifat kimia Elektrolisis air menghasilkan hydrogen dan oksigen Reaksi : 2 H2O 2 H2 + O 2 : H2O : liquid tidak berwarna : 18 : 997,08 : 0,8937 : 0,9989 : 100 :0 :4184 Fe + H2O

17

2.3. Macam-macam Proses Ada beberapa macam proses pembuatan aseton antara lain: 1. Proses Cumene Hidroperoksida Pada proses cumene hidroperoksida, mula-mula cumene dioksidasi menjadi cumene hidroperoksida dengan udara atmosfer atau udara kaya oksigen dalam satu atau beberapa oksidasinya. Temperatur yang digunakan adalah antara 80-130C dengan tekanan 6 atm, serta dengan penambahan Na2CO3. Pada umumnya proses oksidasi ini dijalankan dalam tiga atau empat reactor yang dipasang secara seri. Reaksi: C6H5CH(CH3)2 C6H5(CH3)2 C6H5OH + CH3CO CH3

Hasil dari oksidasi ini pada reactor pertama mengandung 9-12% cumene hidroperoksida, 15-20% pada reaktor kedua, 24-29% pada reaktor ketiga dan 32-39% pada reaktor keempat. Selanjutnya produk reaktor keempat dievaporasikan hingga konsentrasi cumene hidroperoksida menjadi 75-85%. Kemudian dengan penambahan asam akan terjadi reaksi pembelahan cumene hidroperoksida menjadi suatu campuran yang terdiri dari Fenol, Aseton dan berbagai produk lain seperti chumylphenols, acetophenone, dimethyl phenylcarbinol, -methylstyrene, dan hidroxyaseton. Campuran ini kemudian dinetralkan dengan menambahkan larutan natrium phenoxide atau basa yang lain atau dengan resin penukar ion (ion exchanger resin). Selanjutnya campuran dipisahkan dan crude aseton diperoleh dengan cara distilasi. Penambahan satu tau dua kolom distilasi perlu dilakukan untuk mendapatkan kemurnian yang diinginkan. Jika digunakan dua kolom, menara pertama berfungsi untuk memisahkan impuritas seperti asetaldehid atau propionaldehid, menara kedua untuk memisahkan fraksi-fraksi berat yang sebagian besar terdiri dari air. Aseton diperoleh sebagai hasil atas pada menara kedua. (Kirk & Othmer, 1991)

18

2. Proses Oksidasi Propilen Proses oksidasi Propilen menjadi Aseton dapat berlangsung pada suhu 145C dan tekanan 10 atm dengan bantuan katalis bismuth phaspomolibdat pada alumina. Pada proses ini hasil reaksi terdiri dari Aseton dan Propanoldehid. (Kirk & Othmer, 1983) Reaksi: CH2 = CHCH3 + O2 C3H6O + C3H6O

Proses Oksidasi Isopropil Alkohol Pada pembuatan Aseton pada proses ini, Isopropil Alkohol dicampur dengan udara dan digunakan sebagai umpan reactor yang beroperasi pada suhu 200C-800C. Reaksi dapat berjalan dengan baik menggunakan katalis seperti yang digunakan pada proses dehidrogenasi Isopropil Alkohol. Reaksi: CH3CHOHCH3 + O2 H2O + C3H6O

Reaksi ini sangat eksotermis (43 kkal/mol) pada 25C dan untuk itu diperlukan pengontrola suhu yang sangat cermat untuk mencegah turunnnya yield yang dihasilkan. Untuk mendapatkan konversi yang baik reaktor dirancang agar hasil dapat langsung diinginkan. Proses jarang digunakan bila disbanding dengan proses dehidrogenasi. (Kirk & Othmer) 3. Proses Dehidrogenasi Isopropil Alkohol Proses lain yang sangat penting untuk memproduksi Aseton adalah dehidrogenasi katalitik dimana reaksinya adalah endotermis. Reaksi:

C3H8O + 66,5

(pada 372C)

C3H6O + H2

19

Pada proses ini Isopropil alcohol diuapkan dengan vaporizer dan dipanaskan dalam HE dengan menggunakan steam kemudian dimasukan ke dalam multi turbular fixed bed reactor. Ada sejumlah katalis yang dapat digunakan dalam proses ini yaitu kombinasi zinc oxide zirconium oxide, kombinasi copper chromium oxide, copper, silicon dioxide. Kondisi operasi reactor ini adalah 1,5 3 atm dan suhu 400C-600C. Dengan proses ini konversi dapat mencapai 75-98% dan yield dapat mencapai 85-90%. Gas panas keluar dari reactor yang terdiri dari Isopropil Alkohol, Aseton dan Hidrogen dilewatkan scrubber, untuk dipisahkan antara gas insoluble (H 2) dengan Aseton, Isopropil Alkohol, dan air. Hasil dari scrubber ini didistilasi, Aseton diambil sebagai hasil atas sedangkan campuran Isopropil Alkohol dan air sebagai hasil bawah. Hasil bawah ini didistilasi lagi untuk recovery Isopropil Alkohol yang diambil sebagai hasil atas yang kemudian di recycle ke reactor (Kirk & Othmer, 1983) 4. Fermentasi dari Karbohidrat Fermentasi cormeal atau molasses dengan genus clostridium

menghasilkan suatu campuran yang terdiri dari 1-butanol, aseton, dan etanol dengan konsentrasi keseluruhan 2%. Produk yang diperoleh dipisahkan dengan steam distilasi dan selanjutnya difraksionasikan. Secara garis besar prosesnya adalah sebagai berikut: Molasses dilarutkan dalam air hingga konsentrasi gula mencapai 5% kemudian larutan ini disterilisasi lalu didinginkan sampai temperatur 95F, kemudian barulah dipompakan ke dalam fermenter, kemudian ditambahkan kultur bakteri clostridium kedalam molasses yang sudah disterilkan tadi. Selanjutnya ditambahkan protein nutriens dan alkali untuk mengatur pH. Setelah fermentasi selama 36 48 jam, campuran fermentasi yang mengandung 1,5 2,5 % campuran solvent dipompakan kedalam kolom distilasi. Campuran solvent tersebut terdiri dari aseton, etanol dan 1-butanol. (Speight, 2002)

2.4. Pemilihan Proses

20

Proses dehidrogenasi Isopropil Alkohol dipilih karena memiliki alasan sebagai berikut: a. Proses dehidrogenasi Isopropil Alkohol tidak memerlukan unit pemisahan O 2 dari udara sebelum diumpankan kedalam reactor. b. Dengan jumlah Isopropil Alkohol yang sama, konversi pada proses dehidrogenasi lebih besar sehingga hasil Aseton yang didapatkan lebih banyak. c. Pada proses oksidasi timbul masalah terjadinya korosi sehingga dapat mengganggu jalannya proses, sedangkan pada proses dehidrogenasi, hal tersebut dapat dikurangi.

BAB III KONSEPSI PERANCANGAN

3.1. Deskripsi Proses

21

Dehidrogenasi adalah salah satu reaksi kimia yang akan menghasilkan senyawa tak jenuh dan lebih aktif. Ada beberapa macam proses pengembangannya yang semuanya tergantung dari pengambilan hidrogen yang dihasilkan tersebut langsung atau tidak langsung. Namun pada pronsipnya beberapa senyawa yang mengandung atom hidrogen dapat langsung didehidrogenasi. Tetapi dalam hal ini hanya akan menjelaskan dehidrogenasi dari senyawa karbon, misalnya hidrokarbon dan alkohol. Pada umumnya reaksi dehidrogenasi sulit dilakukan. Proses ini

membutuhkan temperature yang tinggi agar tercapai kesetimbangan dan kecepatan reaksi yang baik. Proses dehidrogenasi adalah reaksi yang endotermis sehingga dibutuhkan banyak panas yaitu antara 15 sampai 35 kkal/mol. Pemakaian katalis biasanya dimasukan ke reactor secara acak/ random untuk mencegah terbentuknya endapan karbon maka secara periodic perlu diadakan regenerasi katalis. Aseton dihasilkan dari proses dehidrogenasi Isopropil Alkohol dengan menggunakan katalis Zinc Oxide, dimana reaksinya adalah endotermis. Reaksi:

C3H8O + 66,5 Clark, 1975)

(pada 372C)

C3H6O + H2 (Faith, Keyes &