Anda di halaman 1dari 13

ASUHAN KEPERAWATAN STASE KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

LAPORAN PENDAHULUAN KEKURANGAN VOLUME CAIRAN DI RUANG KENANGA RSUD GOETHENG TARUNADIBRATA PURBALINGGA

Oleh EVI DWI INDRIYANI

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN PENDIDIKAN PROFESI NERS PURWOKERTO 2013

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh merupakan salah satu bagian dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air (pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya; jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya. Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu: cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan yang berada di dalam sel di seluruh tubuh, sedangkan cairan ekstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu: cairan intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan di dalam sistem vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak diantara sel, sedangkan cairan transeluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan serebrospinal, cairan intraokuler, dan sekresi saluran cerna. Prosentase dari total cairan tubuh bervariasi sesuai dengan individu dan tergantung beberapa hal antara lain: umur, kondisi lemak tubuh, sex. a. Bayi (baru lahir) 75 % b. Dewasa : Pria (20-40 tahun) 60 %, Wanita (20-40 tahun) 50 % c. Usia Lanjut 45-50 % Pada orang dewasa kira-kira 40 % berat badannya berada di dalam sel (cairan intraseluler/ICF), sisanya atau 20 % dari berat badannya berada di luar

sel (ekstraseluler) yang terbagi dalam 15 % cairan interstitial, 5 % cairan intavaskuler dan 1-2 % transeluler. Zat terlarut yang ada dalam cairan tubuh terdiri dari elektrolit dan nonelektrolit. Non elektrolit adalah zat terlarut yang tidak terurai dalam larutan dan tidak bermuatan listrik, seperti: protein, urea, glukosa, oksigen, karbon dioksida dan asam-asam organik. Sedangkan elektrolit tubuh mencakup natrium (Na+), kalium (K+), Kalsium (Ca++), magnesium (Mg++), Klorida (Cl-), bikarbonat (HCO3-), fosfat (HPO42-), sulfat (SO42-). Konsenterasi elektrolit dalam cairan tubuh bervariasi pada satu bagian dengan bagian yang lainnya, tetapi meskipun konsenterasi ion pada tiap-tiap bagian berbeda, hukum netralitas listrik menyatakan bahwa jumlah muatan-muatan negatif harus sama dengan jumlah muatan-muatan positif. Perpindahan cairan dan elektrolit tubuh terjadi dalam tiga fase yaitu: a. Fase I: Plasma darah pindah dari seluruh tubuh ke dalam sistem sirkulasi, dan nutrisi dan oksigen diambil dari paru-paru dan tractus gastrointestinal. b. Fase II: Cairan interstitial dengan komponennya pindah dari darah kapiler dan sel. c. Fase III: Cairan dan substansi yang ada di dalamnya berpindah dari cairan interstitial masuk ke dalam sel.

2. Tujuan Tujuan umum : Untuk mengetahui asuhan keperawatan kekurangan volume di ruang Kenanga RSUD dr. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Tujuan khusus : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Mengetahui pengertian Mengetahui etiologi Mengetahui faktor predisposisi Mengetahui patofisologi Mengetahui tanda dan gejala Mengetahui pemeriksaan penunjang Mengetahui pathway Mengetahui pengkajian Mengetahui diagnosa keperawatan kekurangan volume cairan

10. Mengetahui rencana asuhan keperawatan kekurangan volume cairan

B. TINJAUAN TEORI 1. Pengertian Secara fisik, molekul pembentuk tubuh manusia dapat dibedakan menjadi jenis cairan dan matriks padat fungsi cairan dalam tubuh manusia, antara lain sebagai alat transportasi nutrient, elektrolit, dan sisa metabolisme, sebagai komponen pembentuk sel, plasma, darah, dan komponen tubuh lainnya, serta sebagai media pengatur suhu tubuh dan lingkungan seluler (Tamsuri, 2004). Total jumlah cairan yang terdapat dalam tubuh cukup besar dibandingkan dengan kompartemen zat padat pembentuk tubuh. Bahkan pada tulang manusia yang strukturnya tampak begitu padat, sebenarnya terdapat kandungan cairan lebih dari 30%. Konsentrasi cairan pada tubuh sekitar 60%. Cairan tubuh tersebut meliputi cairan darah, plasma jaringan,

cairan synovial, cairan serebropinal, cairan bola mata, cairan pleura dan cairan di berbagai organ lainnya (Tamsuri, 2004). Cairan tubuh terdistribusi dalam dua kompartemen, yaitu cairan ekstrasel (CES) dan cairan intrasel (CIS). Cairan ekstrasel terdiri dari cairan intersisial dan cairan intravaskuler. Lima belas persen berat tubuh merupakan cairan interstitial. Cairan intravaskuler terdiri dari plasma, bagian cairan limfe, yang mengandung air yang tidak berwarna dan darah. Plasma menyusun 5% berat tubuh. Cairan intrasel merupakan cairan dalam membrane sel yang membentuk 40% berat tubuh. Kompartemen cairan intrasel memiliki banyak solute yang sama dengan cairan yang berada di ruang ekstrasel. Namun proporsi substansi-substansi tersebut berbeda (Potter&Perry, 2006). Kekurangan volume cairan terjadi ketika tubuh kehilangan cairan dan elektrolit ekstrasel dalam jumlah yang proporsional (isotonik). Kondisi seperti ini disebut juga hipovolemi. Umumnya gangguan ini diawali dengan kehilangan cairan intravaskuler lalu diikuti dengan perpindahan cairan intrasel menuju intravaskuler sehingga menyebabkan penurunan jumlah cairan ekstrasel. Untuk mengompensasi kondisi ini, tubuh melakukan pemindaha cairan intrasel. Secara umum, deficit volume cairan disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kehilangan cairan abnormal melalui kulit, penurunan asupan cairan, perdarahan dan pergerakan cairan ke lokasi ketiga. Lokasi ketiga yang dimaksud adalah lokasi tempat cairan berpindah dan tidak mudah untuk mengembalikannya ke lokasi semula dalam kondisi cairan ekstrasel istirahat. Cairan dapat berpindah dari lokasi intravaskuler menuju lokasi potensial seperti pleura, peritoneum (Tamsuri, 2004). 2. Etiologi Beberapa yang dapat menyebabkan kondisi kekurangan volume cairan yaitu kehilangan cairan aktif dan kegagalan mekanisme regulasi. Kehilangan

cairan aktiv seperti demam dan laju peningkatan metabolic, drainase tidak normal, luka bakar, menstruasi berlebih, diare, peritonitis (NANDA, 2011).

3. Faktor predisposisi Faktor pencetus dari kekurangan volume cairan dapat disebabkan oleh : a) Kehilangan cairan dari system gastrointestinal seperti muntah, diare dan drainase b) Kehilangan plasma atau darah utuh seperti luka bakar dan perdarahan c) Keringat berlebih d) Demam e) Penurunan asupan cairan peroral f) Penggunaan obat-obatan diuretic g) Aktivitas hidup seseorang sangat berpengaruh terhadap kebutuhan cairan dan elektrolit. Aktivitas menyebabkan peningkatan proses metabolisme dalam tubuh.Hal ini mengakibatkan penigkatan haluaran cairan melalui keringat. Dengandemikian, jumlah cairan yang dibutuhkan juga meningkat. Selain itu,kehilangancairan yang tidak disadari (insensible water loss) juga mengalami peningkatanlaju pernapasan dan aktivasi kelenjar keringat.
h) Kondisi stress berpengaruh pada kebutuhan cairan dan elektrolit tubuh. Saat stress,

tubuh mengalami peningkatan metabolism seluler, peningkatan konsentrasi glukosa darah, dan glikolisis otot. Mekanisme ini mengakibatkan retensi air dan natrium. Stress juga menyebabkan peningkatan produksi hormone anti deuritik yang dapat mengurangi produksi urine. i) Klien yang menjalani pembedahan beresiko tinggi mengalami ketidakseimbangan cairan. Beberapa klien dapat kehilangan banyak darah selama periode operasi,

sedangkan beberapa klien lainya justru mengalami kelebihan bebancairan akibat asupan cairan berlebih melalui intravena selama pembedahan atausekresi hormon ADH selama masa stress akibat obat- obat anastesi. (Potter&Perry, 2006)

4. Patofisiologi Kekurangan volume cairan terjadi ketika tubuh kehilangan cairan dan elektrolit ekstraseluler dalam jumlah yang proporsional (isotonik). Kondisi seperti ini disebut juga hipovolemia. Umumnya, gangguan ini diawali dengan kehilangan cairan intravaskuler, lalu diikuti dengan perpindahan cairan interseluler menuju intravaskuler sehingga menyebabkan penurunan cairan ekstraseluler. Untuk untuk mengkompensasi kondisi ini, tubuh melakukan pemindahan cairan intraseluler. Secara umum, kekurangan volume cairan disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kehilangan cairan abnormal melalui kulit, penurunan asupan cairan, perdarahan dan pergerakan cairan ke lokasi ketiga (lokasi tempat cairan berpindah dan tidak mudah untuk mengembalikanya ke lokasi semula dalam kondisi cairan ekstraseluler istirahat). Cairan dapat berpindah dari lokasi intravaskuler menuju lokasi potensial seperti pleura, peritonium, perikardium, atau rongga sendi. Selain itu, kondisi tertentu, seperti terperangkapnya cairan dalam saluran pencernaan, dapat terjadi akibat obstruksi saluran pencernaan (Faqih, 2011). 5. Tanda dan gejamela

Beberapa tanda dan gejala pada kekurangan volume cairan menurut NANDA (2012): 1. Perubahan pada status mental 2. Penurunan tekanan darah 3. Penurunan tekanan nadi 4. Penurunan volume nadi 5. Penurunan turgor kulit 6. Penurunan turgor lidah 7. Penurunan haluaran urin 8. Penurunan pengisian vena 9. Membrane mukosa kering 10.Kulit kering 11.Peningkatan hematokrit 12.Peningkatan suhu tubuh 13.Peningkatan frekuensi nadi 14.Peningkatan konsentrasi urin 15.Penurunan BB tiba-tiba 16.Haus 17.Kelemahan

6. Pemeriksaan penunjang

Kadar elektrolit serum untuk menentukan status hidrasi. Elektrolit yang sering diukur adalh ion natrium, kalium, klorida, dan bikarbonat. Hitung darah lengkap khususnya hematokrit untuk melihat respon dehidrasi. Kadar kreatininuntuk mengukur fungsi ginjal. Pemeriksaan berat jenis urin mengukur derajat konsentrasi urin.

7. Pathway Usia, Temperatur Lingkungan, Diet, Stress, Penyakit tertentu Volume cairan CES Melalui kulit, ginjal, gastrointestinal, Perdarahan Sekresi ADH dan elektrolit Reabsorbsi Na dan air Rasa haus Kekurangan volume cairan 8. Pengkajian a. Identitas ( nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat, no. Rm, diagnosa medis) b. Riwayat kesehatan ( keluhan utama, riwayat peyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga) c. Pola kesehatan fungsional

1) Pola manajemen kesehatan-persepsi kesehatan Bagaimana perilaku individu tersebut mengatasi masalah kesehatan dengan cairan, adanya faktor risiko sehubungan dengan kesehatan yang berkaitan dengan cairan. 2) Pola metabolik-nutrisi Kebiasaan diit buruk (rendah serta, tinggi lemak, bahan pengawt), anoreksia, mual, muntah, intoleransi makanan atau minuman, perubahan berta badan, berat badan turun, frekuensi makan dan minum, adanya sesuatu yang dapat mempengaruhi makan dan minum (agama, budaya, ekonomi). Adakah status fisik seseorang yang mempengaruhi makan dan minum. 3) Pola eliminasi Perubahan pola defekasi (darah pada feses, nyeri saat devekasi), perubahan berkemih (perubahan warna, jumlah, ferkuensi) 4) Aktivitas-latihan Adanya kelemahan atau keletihan, aktivitas yang mempengaruhi pola cairan seseorang, 5) Pola istirahat-tidur Perubahan pola istirahat dan jam kebiasaan tidur, adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur (nyeri, bangun malam untuk minum), 6) Pola persepsi-kognitif Rasa kecap lidah berfungsi atau tidak, gambaran indera pasien terganggu atau tidak, penggunaaan alat bantu dalam penginderaan pasien. 7) Pola konsep diri-persepsi diri

Keadaan social yang mempengaruhi nutrisi seseorang (pekerjaan, situasi keluarga, kelompok sosial), penilaian terhadap diri sendiri (gemuk/ kurus). 8) Pola hubungan dan peran Kebiasaan berkumpul dengan orang-orang terdekat ketika makan, adanya ketegangan dan ansietas saat terjadi gangguan cairan dalam tubuh. 9) Pola reproduksi-seksual Perilaku seksual setelah terjadi gangguan nutrisi dikaji 10) Pola toleransi koping-stress Adanya stress yang mempengaruhi ke minum.

11) Keyakinan dan nilai Status ekonomi dan budaya yang mempengaruhi nutrisi, adanya pantangan atau larangan minuman tertentu dalam agama pasien. d. Pemeriksaan Fisik ( kesadaran umum, BB, TD, N, S, RR) d 9. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul Kekurangan volume cairan berhubungan dengan Kehilangan cairan

10. Rencana asuhan keperawatan Diagnosa Kekurang Tujuan Intervensi 1. Monitor status hidrasi Rasional 1. Status hidrasi menggambarkan cairan dalam tubuh 2. Kekurangan volum cairan mempengaruhi TTV 3. Catatan intake dan output untuk mengetahui status cairann

Setelah dilakukan tindakan an volume keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan cairan keseimbangan cairan klien berhubun terpenuhi dengan criteria hasil: gan dengan Kehilanga n cairan Indicator awa l 4

2. Monitor TTV

1. TD dalam batas normal 2. Nadi teraba 4 3. Tidak terdapat haus 3 abnormalm embran mukosa 4 lembab 4. Intake dan output 24 jam 1: keluhan ekstrim 2: keluhan berat 3: keluhan sedang 4: keluhan ringan 5: tak ada keluhan

3. Dorong masukan oral

4. Pemberian infuse dan nutrisi 4. Pertahankan catatan intake menambah cairan dan output dalam tubuh 5. Menimbang Berat badan 5. Berat badan menggambarkan cairan dalma tubuh

6. Kolaborasi pemberian cairan atau makanan 7. Monitor pemberian makanan dan cairan

DAFTAR PUSTAKA Faqih , M.U. 2011. Cairan Dan Elektrolit Dalam Tubuh Manusia, http://www.scribd.com/doc/17059905/Cairan-Dan-Elektrolit-Dalam-TubuhManusia

McCloskey, J. & Gloria M. B. (2000). Nursing Outcome Classificatian (NOC). Second Ed. New York : Mosby. McCloskey, J. & Gloria M. B.. (2005). Nursing Intervention Classificatian (NIC). Second Ed. New York : Mosby. NANDA. (2011). Diagnosis Keperawatan 2009-2011. Jakarta : EGC. Potter, P. A. & Perry, A. G. (2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan vol.2. Jakarta : EGC. Tamsuri, Anas.2004. Klien Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit: Seri Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta

Anda mungkin juga menyukai