Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Gigi tiruan sebagian adalah suatu alat yang berfungsi untuk mengembalikan beberapa gigi asli yang hilang dengan dukungan utama adalah jaringan lunak dibawah plat dasar dan dukungan tambahan dari gigi asli yang masih tertinggal dan terpilih sebagai gigi penyangga. Restorasi prostetik ini sering disebut Removable Partial Denture. Untuk melakukan perawatan gigi tiruan sebagian, kita harus mengetahui tahapan-tahapn dari penatalaksanaan atau perawatan gigi tiruan sebagian. Diawali dengan pemeriksaan, pemeriksaan utama maupun pemeriksaan penunjang. Mencetak merupakan tahapan kedua yang dilakukan. Mencetak dilakukan berdasarkan pertimbangan resiliensi jaringan mukosa mulut. Preparasi gigi tempat sandaran termasuk salah satu tahap perawatan preprostetik. Penentuan relasi rahang atas dan rahang bawah dari pasien. Pemilihan elemen gigi tiruan yang dilihat dari bentuk, ukuran dan warna serta tahapan penyusunan gigi. Untuk menentukan desain gigi tiruan sebagian lepasan pada rencana perawatan kita harus mengetahui terlebih dahulu bagian-bagian dari GTSL tersebut berdasarkan indikasi dari tiap komponen tersebut serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya. Pemakaian gigi tiruan mempunyai tujuan bukan hanya memperbaiki fungsi pengunyahan, fonetik, dan estetika saja, tetapi juga harus dapat mempertahankan kesehatan jaringan yang tersisa. Untuk tujuan terakhir ini selain erat kaitannya dengan pemeliharaan kebersihan mulut, juga bagaiman mengatur gaya-gaya yang terjadi masih bersifat fungsional atau mengurangi besarnya gaya yang memungkinkan akan merusak.

1.2 Skenario Bu Mira seorang guru, 45 tahun, datang ke dokter gigi ingin dibuatkan gigi tiruan pada RA. Pasien merasa kurang nyaman untuk mengunyah. Kemudian dokter gigi melakukan pemeriksaan. Pasien tidak mempunyai kelainan sistemik. Hasil pemeriksaan ekstra oral tidak ada kelainan. Hasil pemeriksaan intra oral : edentolous ridge pada 16, 17, 27, 28, sisa akar pada gigi 15 dan 26. Ada oklusi. OH penderita bagus. Kemudian dokter gigi melakukan rencana perawatan dengan melakukan ekstraksi pada gigi 15 dan 26 dan membuatkan gigi tiruan sebagian lepasan dengan anasir akrilik, basis akrilik. Setelah itu, pada kunjungan berikutnya melakukan cetak anatomi dan setelah itu jadi model study, drg membuat desain dengan menentukan klas berdasarkan Kennedy dan melakukan survey.

1.3 Rumusan Masalah 1. Bagaimana desain GTSL sesuai skenario? 2. Bagaimana tahapan pembuatan GTSL? 3. Faktor apa sajakah yang mempengaruhi retensi dan stabilisasi dari GTSL? 4. Apa sajakah indikator keberhasilan dari pemakaian GTSL?

1.4 Tujuan Pembelajaran 1. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan desain GTSL sesuai skenario. 2. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan tahapan pembuatan GTSL 3. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan faktor yang mempengaruhi retensi dan stabilisasi dari GTSL 4. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan indikator

keberhasilan dari pemakaian GTSL

1.5 Mapping Pemeriksaan

Subjektif

Objektif

Diagnosis

Rencana Perawatan

Desain

Retensi

Tahapan Pembuatan

Stabilisasi

Indikator Keberhasilan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Gigi tiruan sebagian adalah suatu alat yang berfungsi untuk

mengembalikan beberapa gigi asli yang hilang dengan dukungan utama adalah jaringan lunak di bawah plat dasar dan dukungan tambahan dari gigi asli yang masih tertinggal dan terpilih sebagai gigi pilar. Restorasi prostetik ini sering disebut juga removable partial denture (Applegate, 1960). Pemakaian gigi tiruan mempunyai tujuan bukan hanya memperbaiki fungsi pengunyahan, fonetik, dan estetik saja, tetapi juga harus dapat mempertahankan kesehatan jaringan tersisa. Untuk tujuan terahir ini selain erat kaitannya dengan pemeliharaan kebersihan mulut, juga bagaimana mengatur agar gaya-gaya yang terjadi masih bersifat fungsional atau mengurangi besarnya gaya yang kemungkinan akan merusak (Ardan, 2007a). Dalam proses pembuatan desain geligi tiruan sebagian lepasan berlaku suatu yang umum dan penting. Pertama-tama, dokter gigi perlu mengetahui selengkap-lengkapnya tentang keadaan fisik pasien yang akan menerima protesa. Selain itu, sebelumnya, ia juga sudah memahami betul data-data mengenai bentuk, indikasi dan fungsi dari cengkeram, letak sandaran, macam konektor, bentuk sadel dan jenis dukungan yang akan diterapkan untuk sebuah geligi tiruan. Selanjutnya, sebagai pemenuhan tanggung jawab kepada pasien, dokter gigi wajib membuat rencana desain protesa yang akan diberikannya (Gunadi et al., 1995). Setiap protesa yang dipasang dalam rongga mulut memiliki resiko merusak kesehatan gigi dan jaringan pendukung, kerusakan ini dapat diperkecil dengan membuat desain yang tepat dan dengan menginstruksikan pada pasien tentang cara menjaga kebersihan mulut dan geligi tiruannya (Neil & Walter, 1992). Oleh sebab itu, rencana pembuatan desain merupakan salah satu tahap penting dan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan sebuah geligi tiruan (Gunadi et al.,1995).

2.2 Tujuan Pembuatan Gigi Tiruan Sebagian Tujuan Pembuatan Gigi Tiruan Sebagian adalah: 1. Mengembalikan fungsi pengunyahan. 2. Mengembalikan fungsi estetis. 3. Mengembalikan fungsi bicara. 4. Membantu mempertahankan gigi yang masih tertinggal. 5. Memperbaiki oklusi. 6. Meningkatkan distribusi beban kunyah. 7. Mempertahankan jaringan lunak mulut yang masih ada agar tetap sehat. 2.3 Indikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Indikasi pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan adalah sebagai berikut: 1. Hilangnya satu gigi atau lebih. 2. Gigi yang masih tertinggal dalam keadaan baik dan memenuhi syarat sebagai gigi abutment. 3. Keadaan processus alveolaris masih baik. 4. Oral hygiene pasien baik. 5. Pasien mau dibuatkan gigi tiruan sebagian lepasan. 2.4 Komponen Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Pada umumnya geligi tiruan yang konvensional baik yang terbuat dari plastik maupun dari kerangka logam, terdiri dari bagian-bagian penahan, basis, konektor, sandaran dan elemen gigi tiruan. 2.4.1 Penahan (retainer) Penahan merupakan bagian geligi tiruan sebagian lepasan yang berfungsi memberi retensi dan karenanya mampu menahan protesa tetap pada tempatnya. Penahan dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, penahan langsung (direct retainer) yang berkontak langsung dengan permukaan gigi penyangga dan dapat berupa cengkeram atau kaitan presisi (Suryatenggara et al., 1991). Kedua, penahan tak langsung (indirect retainer) yang memberikan retensi untuk melawan gaya yang cenderung melepas protesa ke arah oklusal dan bekerja pada basis. Retensi tak langsung ini diperoleh dengan cara memberikan retensi pada sisi berlawanan dari garis fulkrum dimana gaya tadi 5

bekerja. Macam-macam bentuk penahan tak langsung antara lain; sandaran oklusal, dukungan rugae, perluasan basis/ plat (Suryatenggara et al., 1991). 2.4.2 Sandaran (rest) Sandaran merupakan bagian geligi tiruan yang bersandar pada permukaan gigi penyangga dan dibuat dengan tujuan memberikan dukungan vertikal pada protesa. Sandaran dapat ditempatkan pada permukaan oklusal gigi posterior atau pada permukaan lingual gigi anterior (Suryatenggara et al., 1991). 2.4.3 Konektor (connector) Konektor pada tiap rahang dapat dibagi menjadi konektor utama (major connector) dan konektor minor (minor connector), sesuai dengan fungsinya masing-masing. Konektor utama merupakan bagian geligi tiruan sebagian lepasan yang menghubungkan bagian protesa yang terletak pada salah satu sisi rahang dengan yang ada pada sisi lainnya. Konektor minor atau tambahan merupakan bagian geligi tiruan sebagian lepasan yang

menghubungkan konektor utam dengan bagian lain (Suryatenggara et al., 1991). 2.4.5 Elemen Gigi Tiruan Elemen gigi merupakan bagian geligi tiruan sebagian lepasan yang berfungsi menggantikan gigi asli yang hilang. Seleksi gigi tiruan kadangkadang merupakan tahap yang cukup sulit dalam proses pembuatan protesa, kecuali pada kasus masih ada gigi asli yang bisa dijadikan panduan. Dalam seleksi elemen ada metode untuk pemilihan gigi anterior dan posterior serta faktor-faktor yang harus diperhatikan yaitu ukuran, bentuk, tekstur permukaan, warna dan bahan elemen (Suryatenggara et al., 1991). 2.4.6 Basis Geligi Tiruan (saddle) Basis geligi tiruan merupakan bagian yang menggantikan tulang alveolar yang sudah hilang dan berfungsi mendukung gigi (elemen) tiruan. Basis geligi tiruan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu; (1) basis dukungan gigi atau basis tertutup (bounded saddle) dan (2) basis dukungan jaringan atau kombinasi atau berujung bebas (free end) (Suryatenggra et al., 1991). 6

2.5 Klasifikasi Daerah Tak Bergigi Daerah tak bergigi pada suatu lengkungan gigi dapat bervariasi, dalam hal panjang, macam, jumlah, dan letaknya. Semua ini mempengaruhi rencana pembuatan desain geligi tiruan, baik dalam bentuk sadel, konektor, maupun dukungannya (Gunadi et al., 1995). Klasifikasi menurut Osborne J & Lammie GA berupa klasifikasi geligi tiruan berdasarkan distribusi beban, sebagai berikut. 1. Geligi tiruan tooth borne, semua pendukung untuk geligi tiruan berasal dari gigi geligi. 2. Geligi tiruan mucosa borne, geligi tiruan ini seluruhnya didukung oleh mukosa dan lingir alveolar dibawahnya. 3. Geligi tiruan tooth and mucosa borne, beberapa bagian geligi tiruan didukung oleh gigi sebagian yang lainnya didukung oleh mukosa (Watt & McGregor, 1992). Rincian Klasifikasi Kennedy adalah sebagai berikut. Kelas I : daerah tak bergigi terletak di bagian posterior dari gigi yang masih ada dan berada pada ke dua sisi rahang (bilateral). Kelas II : daerah tak bergigi terletak di bagian posterior dari gigi yang masih ada, tetapi berada hanya pada salah satu sisi rahang saja (unilateral). Kelas III : daerah tak bergigi terletak di antara gigi-gigi yang masih ada di bagian posterior maupun anteriornya dan unilateral. Kelas IV : daerah tak bergigi terletak pada bagian anterior dari gigi-gigi yang masih ada dan melewati garis tengah rahang. Menurut Applegate, daerah tak bergigi dibagi atas enam kelas, yang kemudian dikenal sebagai Klasifikasi Applegate-Kennedy dengan rincian sebagai berikut (Suryatenggara et al., 1991). Kelas I : daerah tak bergigi berupa sadel berujung bebas (free end) pada kedua sisi (Kelas I Kennedy). Keadaan ini sering dijumpai pada rahang bawah dan biasanya telah beberapa tahun kehilangan gigi.

Secara klinis, dijumpai keadaan sebagai berikut: 1. derajat resorpsi residual ridge bervariasi 2. tenggang waktu pasien tak bergigi akan mempengaruhi stabilitas geligi tiruan yang akan dipasang 3. jarak antar lengkung rahang bagian posterior sudah biasanya sudah mengecil 4. gigi asli yang masih tinggal sudah migrasi ke dalam berbagai posisi. 5. gigi antagonis sudah ekstrusi dalam berbagai derajat. 6. jumlah gigi yang masih tertinggal bagian anterior umumnya sekitar 6 10 gigi 7. ada kemungkinan dijumpai kelainan sendi temporomandibula. Indikasi protesa : protesa lepasan, dua sisi dan dengan perluasan basis ke distal. Kelas II: Daerah tak bergigi sama seperti Kelas II Kennedy. Kelas ini sering tidak diperhatikan pasien.

Secara klinis dijumpai keadaan : 1. Resorbsi tulang alveolar terlibat lebih banyak. 2. Gigi antagonis relatif lebih ekstrusi dan tidak teratur. 8

3. Ekstrusi menyebabkan rumitnya pembuatan restorasi pada gigi antagonis. 4. Pada kasus ekstrim karena tertundanya pembuatan gigi tiruan untuk jangka waktu tertntu karena perlu pencabutan satu atau lebih gigi antagonis. 5. Karena pengunyahan satu sisi, sering dijumpai kelainan sendi

temporomandibula. Indikasi protesa: protesa dengan desain bilateral dan perluasan basis distal. Kelas III: keadaan tak bergigi paradental dengan dua gigi tetangganya tidak lagi mampu memberikan dukungan pada protesa secara keseluruhan.

Secara klinis, dijumpai keadaan: 1. Daerah tidak bergigi sudah panjang. 2. Bentuk dan panjang akar gigi kurang memadai. 3. Tulang pendukung mengalami resorbsi servikal dan atau disertai goyangnya gigi secara berlebihan. 4. Beban oklusal berlebihan. Indikasi protesa: protesa sebagian lepasan dukungan gigi dengan desain bilateral. Kelas IV: daerah tak bergigi sama dengan Kelas IV Kennedy. Pada umumnya untuk kelas ini dibuat geligi tiruan sebagian lepasan, jika: 1. Tulang alveolar sudah banyak hilang, seperti pada kasus akibat trauma. 2. Gigi harus disusun dengan overjet besar, sehingga dibutuhkan banyak gigi pendukung. 3. Dibutuhkan distribusi merata melalui lebih banyak gigi penahan, pada pasien dengan daya kunyah besar. 4. Diperlukan dukungan danretensi tambahan dari gigi penahan.

5. Mulut pasien depresif, sehingga perlu penebalan sayap untuk memenuhi faktor estetik

Indikasi protesa: (a) Geligi tiruan cekat, bila gigi gigi tetangga masih kuat. (b) Geligi tiruan sebagian lepasan dengan desain bilateral dan dukungan gigi atau jaringan atau kombinasi. (c) Pada kasus meragukan sebaiknya dibuat protesa sebagian lepasan. Kelas V : Daerah tak bergigi paradental dimana gigi asli anterior tidak dapat dipakai sebagai gigi penahan atau tak mampu menahan daya kunyah. Kasus seperti ini banyak dijumpai pada rahang atas, karena gigi kaninus yang dicabut karena malposisi atau terjadinya kecelakaan. Gigi bagian anterior kurang disukai sebagai gigi penahan, biasanya karena salah satu alasan berikut ini : a. Daerah tak bergigi sangat panjang b. Daya kunyah pasien berlebihan c. Bentuk atau panjang akar gigi penahan kurang memadai d. Tulang pendukung lemah e. Penguatan dengan splin tidak diharapkan, dan sekalipun dilakukan tetap tidak memberikan dukungan yang memadai, tetapi tetap dirasakan perlunya mempertahankan geligi yang masih tinggal ini Indikasi pelayanan Prosthodontik kelas V: Geligi tiruan sebagian lepasan dengan desain bilateral dan prinsip basis berujung bebas tetapi di bagian anterior.

10

Kelas VI : Daerah tak bergigi paradental dengan ke dua gigi tetangga gigi asli dapat dipakai sebagai gigi penahan. Kasus seperti ini sering kali merupakan daerah tak bergigi yang terjadi pertama kalinya dalam mulut.

Biasanya dijumpai keadaan klinis : a. Daerah tak bergigi yang pendek b. Bentuk atau panjang akar gigi tetangga memadai sebagai pendukung penuh c. Sisa processus alveolaris memadai d. Daya kunyah pasien tidak besar Indikasi pelayanan prosthodontik kelas VI a. Geligi tiruan cekat b. Geligi tiruan sebagian lepasan dukungan gigi dan desain unilateral (protesa sadel)

11

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Desain gigi tiruan

1. Menentukan klasifikasi dari daerah yang tidak bergigi : Kelas II Kennedy modifikasi 1 2. Menentukan outline saddle : free end saddle harus seluas mungkin dan pada daerah bounded, saddle hanya pada daerah tidak bergigi 3. Menentukan support : daerah free end didukung oleh Tooth tissue supported denture (Kombinasi dukungan antara gigi dan mukosa) dan pada daerah bounded oleh The all tooth supported denture (dukungan pada gigi) 4. Menentukan gigi penyangga : 25, 14, dan 17 5. Menentukan retensi dan stabilisasi : Retensi didapat dari gigi dengan

menggunakan klamer 2 jari + rest pada 25 dan 3 jari pada 14 dan 17. Stabilisasi didapat dari lengan klamer di atas garis survey (bracing dan sayap gigi tiruan serta plat akrilik pada bagian palatum 6. Menetukan indirect retainer : menggunakan extention plate ke arah anterior dan digunakan direct retainer, yaitu cingulum rest pada 12.

12

3.2 Tahapan pembuatan Gigi Tiruan Sebagian Lepasan A. Kunjungan Pertama 1. Anamnesa Indikasi 2. Membuat Studi Model - Alat : Sendok cetak nomor dua - Bahan Cetak : Hyidrokoloid Irreversible (alginat) - Metode Mencetak : Mucostatik Posisi operator : rahang bawah : di kanan depan pasien Posisi pasien : rahang baawah : pasien duduk tegak dan bidang oklusal sejajar lantai posisi mulut setinggi siku operator. - Cara mencetak Mula-mula dibuat adonan sesuai dengan perbandingan P/W yaitu 3:1, setelah dicapai konsistensi yang tepat dimasukkan ke dalam sendok cetak dengan merata, kemudian dimasukkan ke dalam mulut pasien dan tekan posisi ke atas atau ke bawah sesuai dengan rahang yang dicetak. Di samping itu dilakukan muscle triming agar bahan cetak mencapai lipatan mukosa. Posisi dipertahankan sampai setting, kemudian sendok

dikeluarkan dari mulut dan dibersihkan dari saliva. Hasil cetakan diisi dengan stone gips dan di-boxing.

B. Kunjungan Kedua 1. Membuat work model - Alat : sendok cetak fisiologis - Bahan cetak : hyidrokoloid irreversible (alginat) - Metode mencetak : mucocompresi - Cara mencetak Rahang Atas : Bahan cetak diaduk, setelah mencapai konsistensi tertentu dimasukkan ke dalam sendok cetak. Posisi operator di samping kanan belakang. Masukkan sendok cetak dan bahan cetak ke dalam mulut, sehingga garis tengah sendok cetak berimpit dengan garis median wajah. Setelah 13

posisinya benar sendok cetak ditekan ke atas. Sebelumnya bibir dan pipi penderita diangkat dengan jari telunjuk kiri, sedang jari manis, tengah dan kelingking turut menekan sendok dari posterior ke anterior. Pasien disuruh mengucapkan huruf U dan dibantu dengan trimming. Rahang Bawah : Bahan cetak diaduk, setelah mencapai konsistensi tertentu dimasukkan ke dalam sendok cetak. Pasien dianjurkan untuk membuang air ludah. Posisi operator di samping kanan depan. Masukkan sendok cetak dan bahan cetak ke dalam mulut, kemudian sendok ditekan ke processus alveolaris. Pasien diinstruksikan untuk menjulur lidah dan mengucapkan huruf U. dilakukan muscle trimming supaya bahan mencapai lipatan mucobuccal. Posisi dipertahankan sampai setting. 2. Pembuatan cangkolan yang akan digunakan untuk retensi gigi tiruan dengan melakukan survey model terlebih dahulu pada gigi yang akan dipakai sebagai tempat cangkolan berada nantinya. 3. Pembuatan basis gigi tiruan dengan menggunakan malam merah yang dibuat sesuai dengan desain gigi tiruan. 4. Proses flasking, wax elimination, packing, processing deflasking, finishing, polishing.

C. Kunjungan Ketiga 1. Try in basis gigi tiruan akrilik dengan cangkolannya. 2. Pembuatan gigitan kerja yang digunakan untuk menetapkan hubungan yang tepat dari model RA dan RB sebelum dipasang di artikulator dengan cara : pada basis gigi tiruan yang telah kita buat tadi ditambahkan dua lapis malam merah dimana ukurannya kita sesuaikan dengan lengkung gigi pasien. Malam merah dilunakkan kemudian pasien diminta mengigit malam tersebut. 3. Pemasangan model RA dan RB pada artikulator dengan memperhatikan relasi gigitan kerja yang telah kita dapatkan tadi. 4. Penyusunan gigi tiruan dimana pada kasus ini akan dipasang gigi posterior maka perlu diperhatikan bentuk dan ukuran gigi yang akan dipasang. Posisi 14

gigi ditentukan oleh kebutuhan untuk mendapatkan oklusi yang memuaskan dengan gigi asli atau gigi tiruan antagonis untuk mendapatkan derajat oklusi yang seimbang. Malam dibentuk sesuai dengan kontur alami prosesus alveolar dan tepi gingiva. 5. Proses flasking, wax elimination, packing, processing deflasking, finishing, polishing.

Flasking Flasking ialah suatu proses penanaman model dan trial denture malam dalam suatu flasfk/cuvet untuk membuat sectional mold. Berikut prosedur kerja flasking : 1. Pilih flask yang ukurannya sesuai dengan model, kemudian letakkan model dalam flask bagian bawah untuk memastikan bahwa flasknya cukup. 2. Sebelum flasking ulasilah seluruh bagian dalam flask dengan lapisan vaselin tipis dan plug bagian bawah flask diletakkan. 3. Bagian tepi/dasar model dikuas dengan separating medium (vaselin/ air sabun). 4. Aduklah adonan gips, kemudian letakkan di flask bagian bawah lalu model ditanam dalm flask tersebut, setelah gips agak mengeras dirapikan. 5. Setelah gips mengeras, bagian gips dicat dengan vaselin/ air sabun. 6. Buatlah adonan stone dan kuaskan pada gigi-gigi dan malam geligi tiruan sambil digetarkan untuk mencegah terjadinya gelembung-gelembung udara. Pasang flask bagian atas tanpa tutup, lalu isikan stone kedalam flask sampai batas permukaan oklusal gigi-gigi. 7. Setelah stone mengeras, buatlah adonan stone kedua dan tuangkan kedalam flask sampai penuh lalu flask ditutup dan ditaruh di bawah press (bagian-bagian flask kontak antar metal). Cara flasking ada 2, yaitu: a. Pulling the casting ialah seperti cara di atas: dimana setelah boiling out, gigi-gigi akan ikut pada flask bagian atas. keuntungannya adalah memulaskan separating medium dan packingnya mudah, karena seluruh mold terlihat. 15

b. Holding the casting: permukaan labial gigi-gigi ditutup stone/gips sehingga setelah boiling out akan terlihat seperti gua kecil. Pada waktu packing adonan akrilik harus melewaqti bagian bawah gigi untuk mencapai daerah sayap, yang disebut packing through). Boiling Out Setelah flasking dilakukan, mold harus betul-betul keras paling tidak kurang lebih 1 jam sebelum bagian kuvet dipisahkan, dan malam dibuang. Kuvet ditaruh pada dalam air yang mendidih dengan suhu 130oF, selama 15 menit untuk melunakkan malam, dan memisahkan kuvet. Setelah pemisahan malam, bagian mold dicuci dengan air panas hingga tidak terdapat lagi sisa residu. Mold yang telah dicuci ditinggalkan untuk pendinginan selama 10 menit. Panas membantu mempercepat penetrasi dalam pemisahan dental plaster dan mempercepat pengeringan. Jika separator tidak sengaja menutupi bagian denture gigi, maka material yang terkontaminasi dapat dihilangkan menggunakan sikat atau alat yang lain. Setelah pemisahan kuvet telah mengering dan kuvet telah mengering dengan suhu yang sesuai dengan suhu kamar, maka mold siap untuk pembuatan resin akrilik. Packing Acrylic Packing acrylic adalah proses mencampur monomer dan polimer resin akrilik. Yang mempunyai dua metode yaitu: a. Dry method ialah cara mencampur monomer dan polimer langsung didalam mold. b. Wet method ialah cara mencampur monomer dan polimer di luar mold dan bila sudah mencapai dough stage baru dimasukkan ke dalam mold. Resin akrilik adalah suatu polimer yang berbentuk bubuk dan monomer yang berbentuk cair. Penggunaannya adalah dengan mencampur kedua kemasan tersebut sampai didapatkan massa yang plastis agar dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan dan keinginan. Nama acrylic berasal dari bahasa latin yaitu acrolain yang berarti bau tajam. Bahan ini berasal dari asam acrolain atau gliserin aldehida. Macam-macam bahan akrilik adalah: 1. Bahan akrilik heat cured 16

2. 3.

Bahan akrilik self cured Bahan akrilik light cured

Komposisi dari bahan polimerisasi: 1. Powder: polimer, polimetil metakrilat baik serbuk yang diperoleh dari polimerisasi metal metakrilat dalam air maupun partikel yang tidak teratur bentukannya yang diperoleh dengan cara menggerinda batangan polimer. 2. Cairan: monomer yaitu metil metakrilat.

Stabiliser sekitar 0,006% hydroquinone untuk mencegah berlangsungnya polimerisasi selama penyimpanan. Initiator peroksida berupa 0,2-0,5% benzoyl peroksida Pigmen, sekitar 1% tercampur dalam partikel polimer. Proses pencampuran monomer dan polimer mengalami 6 stadium: 1. Wet sand/sandy stage: adoan seperti pasir 2. Puddled sand: adonan seperti lumpur basah 3. Stringy/sticky stage: adonan apabila disentuh dengan jari/alat bersifat lekat, apabila ditarik membentuk serat. Butir-butir polimer mulai larut, monomer bebas meresap ke dalam polimer. 4. Dough/packing stage: adonan bersifat plastis. Pada tahap ini sifat lekat hilang dan adonan mudah dibentuk sesuai dengan bentuk yang kita inginkan. 5. Rubbery stage: kenyal seperti karet. Pada tahap ini telah banyak monomer yang menguap, terutama pada permukaannya sehingga terjadi permukaan yang kasar. 6. Rigid stage: kaku dan keras. Pada tahap ini adonan telah menjadi keras dan getas pada permukaannya, sedang keadaan dibagian dalam adukan masih kenyal.

17

Prosedur kerja packing: a. Pencampuran resin akrilik. tuang monomer kedalam mixing jar porselen yang bersih dan masukkan polimer sampai semua cairan terserap dalam bubuk (polimer:monomer, 3:1), b. Aduk campuran dengan spatula stainless steal sampai monomer dan polimer tercampur dengan baik, c. Pasang tutup mixing jar untuk mencegah menguapnya monomer saat polimerisasi dan diamkan selama waktu yang dianjurkan pabrik, d. Jar dibuka dan bahan di tes dengan spatula, jika sudah lunak dan tidak lengket (dough stage), adonan siap dimasukkan kedalam mold, e. Packing resin akrilik yang sudah dough stage kedalam mold dengan jari telunjuk yang terbungkus kertas selopan. Adonan dipacking satu arah untuk menghindari terjebaknya hawa udara antar resin akrilik dan mold, f. Letakkan kertas selopan diatas resin akrilik, dan pasang kuvet antagonis. g. Press dan buang kelebihan sebanyak 2 kali, lepas kertas selopan, kemudian press dan pasang baut. Curing Proses curing adalah polimerisasi antara monomer yang bereaksi dengan polimernya bila dipanaskan atau ditambah zat kimia lainnya. Polimerisasi ada 2 cara yaitu, 1. Secara thermis yang disebut heat curing 2. Secara khemis (zat kimianya sudah ditambah dengan monomer) yang disebut dengan cold/self curing. Pemberian panas dapat secara : 1. Dry heat : dipanaskan dengan udara kering 2. Vapour heat : dipanaskan dengan uap panas 3. Water heat : dipanaskan dengan air panas yang biasa digunakan di laboratorium Pemberian panas ini harus teratur karena reaksi kimia antara monomer dan polimer itu sendiri bersifat exsothermis. Bila polimerisasi telah dimulai maka temperature resin akrilik akan jauh lebih tinggi dari airnya dan monomernya akan mendidih pada temperature 1000C. Oleh karena itu, pada tahap permulaan 18

polimerisasi, temperature air harus dijaga jangan terlalu tinggi. Dengan demikian panas yang timbul dari reaksi polimerisasi dapat dialihkan ke bahan investingnya, dan pemanasan yang berlebihan sehingga monomer mendidih akan

mengakibatkan terjadinya porositas pada hasil curing. Porositas dapat juga disebabkan oleh mold yang kurang terisi atau selama curing kurang di press sehingga terjadi shrinkage porosity. Komposit pertama yang dikeraskan oleh proses polimerisasi teraktivasi kimia, kadang kadang disebut sebagai cold curing. Cold curing diawali dengan pengadukan kedua pasta. Selama proses pengadukan, hampir tidak mungkin mencegah masuknya gelembung udara kedalam adukan. Gelembung udara ini mengandng oksigen yang menyebabkan penghambatan oksigen selama

polimerisasi. Masalah lain dengan cold curing adalah bahwa operator tidak memiliki pengendalian waktu kerja setelah bahan diaduk. Jadi, memasukkan bahan dan pembentukan bahan pembentukan kontur restorasi harus diselesaikan begitu tahap inisiasi selesai. Jadi, proses polimerisasi terus menerus terganggu sampai operator telah menyelesaikan proses pembentukan kontur restorasi. Untuk mengatasi masalah ini, bahan-bahan yang tidak memerlukan pengadukan mulai dikembangkan. Tujuan ini dicapai dengan menggunakan sumber sinar untuk mengaktifkan system inisiator. Dengan mempertimbangkan kekurangan resin cold curing, adalah bahwa bahan-bahan dengan pengerasan sinar memiliki keuntungan dengan memungkinkan operator menyelesaikan baik pemasukan bahan dan pembentukan kontur restorasi sebelum dimulai. Alat dan bahan curing: 1. 2. 3. Alat perebus cuve (panci dan kompor) Timer Air pengerasan

Prosedur kerja curing: 1. 2. 3. 4. Masukkan kuvet dan air di dalam panci (air yang masih dingin) Panaskan kuvet hingga air mendidih dan pertahankan selama 15 menit. Matikan api dan biarkan kuvet dalam panci sampai dingin. Setelah kuvet dingin, buka dan lepaskan model dari kuvet. 19

5.

Bersihkan sisa gips yang masih melekat pada gigi tiruan akrilik.

Finishing dan Polishing Finishing Finishing merupakan proses atau tahap penyelesaiaan geligi tiruan dari menyempurnakan bentuk akhir geligi tiruan dengan membuang sisa-sisa resin akrilik di sekitar gigi. Tonjolan tonjolan akrilik pada permukaan landasan geligi tiruan akibat dari processing. Waktu proses penyelesaian berhati-hatilah melindungi batas dan kontur geligi tiruan . jika cetakan telah diboxing dengan baik dan geligi malam/ trial denture telah diwaxing dengan baik, garis luar geligi tiruan dengan mudah dapat ditentukan. Selain itu, jika geligi tiruan malam telah di wax contouring dengan seksama sesuai dengan bentuk yang diinginkan, proses penyelesaian yang diperlukan akan lebih sederhana. Flash adalah resin akrilik yang menonjol keluar atara kedua mould karena tekanan yang dilakukan selama prosedur processing . buanglah flash dari geligi tiruan de ngan menekan sedikit batas geligi tiruan pada arbon band yang berputar perlahan lahan. Jika geligi tiruan ditrial packing dengan hati hati ,aka flash hamya sedikit sekali. Berhati-hatilah membuang flash dan sisa stone yang berada disekitar leher gigi dengan sebuah cungkil kecil/pahat yang tajam. Gelembung air atau bahan asing lainnya yang terjebak dibawah permukaan stone akan membentuk ruang kosong didalam mould. Tekanan yang digunakan waktu prosedur packing dapat menyebabkan resin akrilik patah didalam ruang kosong tersebut dan akan terlihat sebagai gumpalan/nodul diperukaan geligi tiruan yang telah diproses. Periksalah geligi tiruan dengan jari tangan terhadap gelembung resin akrilik dan hati-hati buanglah bila ada dengan stone/bur bulat kecil. Polishing Pemolesan geligi tiruan terdiri dari menghaluskan dan mengkilapkan geligi tiruan tanpa mengubah konturnya . Untuk mengkilapkan resin akrilik, semua guratan dan daerah kasar harus dibuang, sehingga alat-alat abrasive harus digunakan untuk menghasilkan permukaan geligi tiruan ang licin dan mengkilap. Suatu rag wheel khusus dan 20

brush wheel harus difunakan dengan salah satu bahan poles. Roda-roda ini tidak boleh digunakan secara bergantian dengan bahan abrasive yang berbeda. Rag wheel harus dibiarkan lembut dan basah dan digunakan dengan pumice basah untuk mencegah panas yang berlebihan dari landasan geligi tiruan. Gunakan rag wheel (putih) dan pumice halus untuk memoles tepi permukaan lingual dan palatal geligi tiruan. Karena rag wheel dapat merusak kontur asli dan stain pada permukaan fasial, maka tidak boleh menyentuh permukaan fasial geligi tiruan. Hilangkan semua kekasaran dari permukaan fasial yang distain dengan brush wheel putih dan bubuk pumice halus yang basah. Pada permukaan fasial digunakan tekanan seringan mungkin dan putaran roda serendah mungkin. Permukaan landasan geligi tiruan yang berhadapan dengan jaringan tidak boleh dipoles. Bila gigi-giginya dari akrilik, maka pada waktu pemolesan gigi-gigi akrilik tersebut harus dilindungi dengan menutupi gigi-gigi akrilik tersebut dengan tape, sehingga anatomi gigi tidak akan rusak.

D. Kunjungan Keempat Dilakukan insersi yaitu pemasangan GTS lepasan dalam mulut pasien. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain : 1. Part of insertion and part of removement Hambatan pada permukaan gigi atau jaringan yang dijumpai pada saat pemasangan dan pengeluaran gigi tiruan dapat dihilangkan dengan cara pengasahan permukaan gigi tiruan (hanya pada bagian yang perlu saja). 2. Retensi Yaitu kemampuan GTS untuk melawan gaya pemindah yang cenderung memindahkan gigi tiruan ke arah oklusal. Retensi gigi tiruan ujung bebas di dapat dengan cara : Retensi fisiologis, diperoleh dari relasi yang erat antara basis gigi tiruan dengan membarana mukosa di bawahnya.

21

Retensi mekanik, diperoleh dari bagian gigi tiruan yang bergesekan dengan struktur anatomi. Retensi mekanik terutama diperoleh dari lengan traumatic yang menempati undercut gigi abutment.

3. Stabilisasi Yaitu perlawanan atau ketahanan GTS terhadap gaya yang menyebabkan perpindahan tempat/gaya horizontal. Stabilisasi terlihat dalam keadaan berfungsi, misal pada saat mastikasi. Pemeriksaan stabilisasi gigi tiruan dengan cara menekan bagian depan dan belakang gigi tiruan secara bergantian. Gigi tiruan tidak boleh menunjukkan pergeseran pada saat tes ini. 4. Oklusi Yaitu pemeriksaan aspek oklusi pada saat posisi sentrik, lateral, dan anteroposterior. caranya dengan memakai kertas artikulasi yang diletakkan di bawah gigi atas dan bawah, kemudian pasien diminta melakukan gerakan mengunyah. Setelah itu kertas artikulasi pasien diminta melakukan gerakan mengunyah. Setelah itu kertas artikulasi diangkat dan dilakukan pemeriksaan oklusal gigi. Pada keadaan normal terlihat warna yang tersebar secara merata pada permukaan gigi. Bila terlihat warna yang tidak merata pada oklusal gigi maka dilakukan pengurangan pada gigi yang bersangkutan dengan metode selective grinding. Pengecekan oklusi ini dilakukan sampai tidak terjadi traumatik oklusi. Selective grinding yaitu pengrindingan gigi-gigi menurut hukum MUDL (pengurangan bagian mesial gigi RA dan distal RB) dan BULL (pengurangan bagian bukal RA dan lingual RB). Instruksi yang harus disampaikan kepada pasien o Mengenai cara pemakaian gigi tiruan tersebut, pasien diminta memakai gigi tiruan tersebut terus menerus selama beberapa waktu agar pasien terbiasa. o Kebersihan gigi tiruan dan rongga mulut harus selalu dijaga. Sebelum dipakai sebaiknya gigi tiruan disikat sampai bersih.

22

Pada malam hari atau bila tidak digunakan, protesa dilepas dan direndam dalam air dingin yang bersih agar gigi tiruan tersebut tidak berubah ukurannya.

Jangan

dipakai

untuk

makan

makanan

yang

keras

dan

lengket.\Apabila timbul rasa sakit setelah pemasangan pasien harap segera kontrol. o Kontrol seminggu berikutnya setelah insersi.

E. Kunjungan Kelima Kontrol dilakukan untuk memperbaiki kesalahan yang mungkin terjadi. Tindakan yang perlu dilakukan : 1. Pemeriksaan subjektif Pasien ditanya apa ada keluhan rasa sakit atau rasa mengganjal saat pemakaian gigi tiruan tersebut. 2. Pemeriksaan objektif o Melihat keadaan mulut dan jaringan mulut o Melihat keadaan GTS lepasan baik pada plat dasar gigi tiruannya maupun pada mukosa di bawahnya. o Melihat posisi cangkolan. o Melihat keadaan gigi abutment dan jaringan pendukungnya. o Memperhatikan oklusi, retensi, dan stabilisasi gigi tiruan.

3.3 Faktor yang mempengaruhi retensi dan stabilisasi Faktor pemberi retensi antara lain kualitas klamer, oclusal rest , contour, landasan denture, oklusi, adhesi, tekanan atmosfer, dan surface tension. Retensi gigi tiruan ujung bebas di dapat dengan cara : Retensi fisiologis, diperoleh dari relasi yang erat antara basis gigi tiruan dengan membarana mukosa di bawahnya. Retensi mekanik, diperoleh dari bagian gigi tiruan yang bergesekan dengan struktur anatomi. Retensi mekanik terutama diperoleh dari lengan retensi yang menempati undercut gigi abutment. Lengan
Retensi, terdiri dari :

23

1. Direct Retainer, fungsinya adalah Menahan gigitiruan tetap pada tempatnya dan bertahan terhadap pergeseran atau daya yang melepaskan. bersifat fleksible. Terletak : dibawah garis survei 2. Bracing, fungsinya adalah mencegah gigitiruan bergerak kearah

lateral. bersifat: kaku dan terletak diatas garis survei

BRACING

Stabilisasi

Perlawanan atas ketahanan terhadap pemindahan tempat. Stagnasi ditentukan oleh tiga titik sandaran yang harus meliputi luas permukaan yang sebesar besarnya agar beban yang diterima protesa setiap unit bisa sekecil.

3.4 Indikator keberhasilan pemakaian GTSL 1. Gigi tiruan tersebut harus bertahan lama 2. Gigi tiruan tersebut harus dapat mempertahankan dan melindungi gigi yang masih ada serta jaringan sekitarnya 3. Gigi tiruan tersebut tidak boleh merugikan pasien dalam bentuk apapun 4. Gigi tiruan tersebut harus mempunyai konstruksi dan desain yang harmonis 24

5. Kooperatifan pasien 6. Kondisi rongga mulut pasien 7. Kemampuan tehniker 8. Retensi dan stabilisasi GTS yang berasal dari cengkram dan anatomi rongga mulut pasien 9. Ukuran, warna dan bentuk gigi dan gusi yang cocok 10. Sifat dan material yang sesuai dengan kondisi mulut

25

BAB IV PENUTUP

Kesimpulan Dari pembahasan yang telah kami jelaskan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Komponen dari Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Gigi tiruan sebagian lepasan disusun atas beberapa komponen, yaitu: Retainer Rest Konektor Gigi tiruan Sadel/basis

2. Klasifikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Klasifikasi Gigi tiruan sebagian lepasan ada bermacam0macam, tetapi yang paling sering digunakan adalah klasifikasi kennedy, yaitu: Kelas I Kennedy: daerah tidak bergigi di bagian posterior dari gigi masih ada dan berada pada kedua sisi rahang (bilateral) Kelas II Kennedy: daerah tak bergigi terletak di bagian posterior dari gigi yang masih ada, tetapi berada hanya pada salah satu sisi saja (unilateral) Kelas III Kennedy: daerah yang tak bergigi terletak di antera gigi-gigi yang masih ada di bagian posterior maupun anteriornya unilateral. Kelas IV Kennedy: daerah tak bergigi terletak pada bagian anterior dan gigi yang masih dan melewati garis median (tengah). 3. Desain Gigi Tiruan Sebagian Lepasan sesuai dengan skenario Prinsip pembuatan desain geligi tiruan , baik yang terbuat dari resin akrilik maupun kerangka logam tidaklah terlalu berbeda. Dalam pembuatan desain dikenal empat tahap yaitu: (1) tahap I: menentukan kelas dari masing-masing daerah tak bergigi (2) tahap II: menentukan macam dukungan dari setiap sadel 26

(3) tahap III: menentukan macam penahan (4) tahap IV: menentukan macam konektor (Gunadi et al., 1995). 4. Tahapan pembuatan Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Tahapan dalam pembuatan Gigi tiruan sebagian lepasan adalah sebagai berikut: Anamnesa Pemeiksaan Pencetakan model study Pembuatan desain Penyusunan gig flasking moulding packing curing deflasking pengasahan polishing dan finishing insersi

27

DAFTAR PUSTAKA

Gunadi H.A, dkk. 1995. Buku Ajar Ilmu Geligi Tiruan Sebagian Lepasan jilid 2. Jakarta: Hipokrates Suryatenggara, F. 1991. Ilmu Geligi Tiruan Lepasan. Edisi 2. Jakarta: Hipokrates. Haryanto, A.G. 1991. Buku Ajar Ilmu Gigi Tiruan Sebagian Lepasan. Jilid I Cetakan I. Jakarta: Hipokrates. Haryanto, A.G. 1995. Buku Ajar Ilmu Gigi Tiruan Sebagian Lepasan. Jilid II Cetakan I. Jakarta: Hipokrates.

28