Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN TRAUMA TUMPUL ABDOMEN I. Konsep Dasar Teori A.

Pengertian Trauma abdomen adalah cedera pada abdomen, dapat berupa trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2001). Trauma adalah cedera fisik dan psikis, kekerasan yang mengakibatkan cedera (Sjamsuhidayat, 1998). Trauma abdomen adalah trauma yang terjadi pada daerah abdomen yang meliputi daerah retroperitoneal, pelvis dan organ peritroneal. Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis akibat gangguan emosional yang hebat (Brooker, 2001). Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur yang terletak diantara diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul atau yang menusuk. Trauma abdomen adalah terjadinya atau kerusakan pada organ abdomen yang dapat menyebabkan perubahan fisiologi sehingga terjadi gangguan metabolisme, kelainan imonologi dan gangguan faal berbagai organ. Trauma tumpul abdomen adalah cedera pada abdomen akibat benda tumpul, jatuh, kekerasan fisik atau pukulan, kecelakaan kendaraan bermotor, cedera akibat berolahraga, benturan, ledakan, deselarasi, kompresi atau sabuk pengaman yang didasarkan dari hasil autoanamnesa atau alloanamnesa baik adanya jejas maupun tanpa jejas, tetapi didapatkan tanda-tanda klinis berupa rasa ketidaknyamanan sampai rasa nyeri pada abdomen karena adanya perlukaan atau kerusakan organ intra abdomen. B. Etiologi Menurut (Hudak & Gallo, 2001) kecelakaan atau trauma yang terjadi pada abdomen, umumnya banyak diakibatkan oleh trauma tumpul. Pada kecelakaan kendaraan bermotor, kecepatan, deselerasi yang tidak terkontrol merupakan

kekuatan yang menyebabkan trauma ketika tubuh klien terpukul setir mobil atau benda tumpul lainnya. Trauma akibat benda tajam umumnya disebabkan oleh luka tembak yang menyebabkan kerusakan yang besar didalam abdomen. Selain luka tembak, trauma abdomen dapat juga diakibatkan oleh luka tusuk, akan tetapi luka tusuk sedikit menyebabkan trauma pada organ internal diabdomen. Trauma pada abdomen disebabkan oleh 2 kekuatan yang merusak, yaitu : 1. Trauma tumpul/paksaan/benda tumpul Merupakan trauma abdomen tanpa penetrasi ke dalam rongga peritoneum. Luka tumpul pada abdomen bisa disebabkan oleh jatuh, kekerasan fisik atau pukulan, kecelakaan kendaraan bermotor, cedera akibat berolahraga, benturan, ledakan, deselarasi, kompresi atau sabuk pengaman. Lebih dari 50% disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. Organ yang terkena limpa, hati, pankreas, dan ginjal. disebabkan oleh kecelakaan tabrakan mobil, terjatuh dari sepeda motor. Trauma tumpul yaitu Trauma di daerah abdomen yang tidak menyebabkan perlukaan kulit/jaringan tetapi kemungkinan perdarahan akibat trauma bisa terjadi. Organ berisiko cedera: Hepar 40-55%, Limpa 35-45%. 2. Trauma tajam/tembus Merupakan trauma abdomen dengan penetrasi ke dalam rongga peritoneum. Luka tembus pada abdomen disebabkan oleh tusukan benda tajam atau luka tembak. Organ yang terkena hati, usus halus dan besar. disebabkan oleh baku tembak dan luka tusukan. Trauma tajam/tembus (tusuk dan tembak) yang mana penyebabnya benda tajam atau benda tumpul dengan kekuatan penuh hingga melukai rongga abdomen. Perdarahan hebat ruptur arteri/vena, cedera organ di rongga abdomen. Organ berisiko cedera yang terkena luka tusuk: Hepar (40%), Usus halus (30%), Diafragma (20%), Colon (14%). Luka tembak: Usus halus (50%), Colon (40%), Liver (30%), Ruptur vaskuler abdominal (25%).

C. Anatomi dan Fisiologi Abdomen Abdomen ialah rongga terbesar dalam tubuh. Bentuk lonjong dan meluas dari atas diafragma sampai pelvis dibawah. Rongga abdomen dilukiskan menjadi dua bagian abdomen yang sebenarnya, yaitu rongga sebelah atas dan yang lebih besar, dan pelvis yaitu rongga sebelah bawah dan lebih kecil. Batasan batasan abdomen. Di atas, diafragma, Di bawah, pintu masuk panggul dari panggul besar. Di depan dan kedua sisi, otot otot abdominal, tulang tulang illiaka dan iga iga sebelah bawah. Di belakang, tulang punggung, dan otot psoas dan quadratrus lumborum. Isi Abdomen. Sebagaian besar dari saluran pencernaan, yaitu lambung, usus halus, dan usus besar. Hati menempati bagian atas, terletak di bawah diafragma, dan menutupi lambung dan bagian pertama usus halus. Kandung empedu terletak dibawah hati. Pankreas terletak dibelakang lambung, dan limpa terletak dibagian ujung pancreas. Ginjal dan kelenjar suprarenal berada diatas dinding posterior abdomen. Ureter berjalan melalui abdomen dari ginjal. Aorta abdominalis, vena kava inferior, reseptakulum khili dan sebagaian dari saluran torasika terletak didalam abdomen. Pembuluh limfe dan kelenjar limfe, urat saraf, peritoneum dan lemak juga dijumpai dalam rongga ini.

Gambar 1. Anatomi abdomen

D. Gambaran Klinis Menurut (Hudak & Gallo, 2001) tanda dan gejala trauma abdomen, yaitu: 1. Nyeri: Nyeri dapat terjadi mulai dari nyeri sedang sampai yang berat. Nyeri dapat timbul di bagian yang luka atau tersebar. Terdapat nyeri saat ditekan dan nyeri lepas. 2. 3. Darah dan cairan: Adanya penumpukan darah atau cairan dirongga peritonium yang disebabkan oleh iritasi. Cairan atau udara di bawah diafragma. Nyeri disebelah kiri yang disebabkan oleh perdarahan limpa. Tanda ini ada saat pasien dalam posisi rekumben. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Mual dan muntah Hipotensi Adanya tanda Bruit (bunyi abnormal pada auskultasi pembuluh darah, biasanya pada arteri karotis) Sesak Tidak adanya bising usus Penurunan kesadaran (malaise, letargi, gelisah): Yang disebabkan oleh kehilangan darah dan tanda-tanda awal shock hemoragi. Tanda Kehrs adalah nyeri di sebelah kiri yang disebabkan oleh perdarahan limfa. Tanda ini ada saat pasien dalam posisi rekumben. Tanda Cullen adalah ekimosis periumbulikal pada perdarahan peritoneal. Tanda Grey-Turner adalah ekimosis pada sisi tubuh (pinggang) pada perdarahan retroperitoneal. Tanda Coopernail adalah ekimosis pada perineum,skrotum atau labia pada fraktur pelvis. Tanda Balance adalah daerah suara tumpul yang menetap pada kuadran kiri atas ketika dilakukan perkusi pada hematoma limfe.

E. Patofisiologis Jejas pada abdomen dapat disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma tajam. Pada trauma tumpul dengan viskositas rendah (misalnya akibat tinju) biasanya menimbulkan kerusakan satu organ. Sedangkan trauma tumpul viskositas tinggi sering menimbulkan kerusakan organ multipel, seperti organ padat (hepar, lien, ginjal) dari pada organ-organ berongga. Bila suatu kekuatan eksternal dibenturkan pada tubuh manusia (akibat kecelakaan lalu lintas, penganiayaan, kecelakaan olahraga dan terjatuh dari ketinggian), maka beratnya trauma merupakan hasil dari interaksi antara faktor-faktor fisik dari kekuatan tersebut dengan jaringan tubuh. Berat trauma yang terjadi berhubungan dengan kemampuan obyek statis (yang ditubruk) untuk menahan tubuh. Pada tempat benturan karena terjadinya perbedaan pergerakan dari jaringan tubuh yang akan menimbulkan disrupsi jaringan. Hal ini juga karakteristik dari permukaan yang menghentikan tubuh juga penting. Trauma juga tergantung pada elastisitas dan viskositas dari jaringan tubuh. Elastisitas adalah kemampuan jaringan untuk kembali pada keadaan yang sebelumnya. Viskositas adalah kemampuan jaringan untuk menjaga bentuk aslinya walaupun ada benturan. Toleransi tubuh menahan benturan tergantung pada kedua keadaan tersebut. Beratnya trauma yang terjadi tergantung kepada seberapa jauh gaya yang ada akan dapat melewati ketahanan jaringan. Komponen lain yang harus dipertimbangkan dalam beratnya trauma adalah posisi tubuh relatif terhadap permukaan benturan. Hal tersebut dapat terjadi cidera organ intra abdominal yang disebabkan beberapa mekanisme: 1. Meningkatnya tekanan intra abdominal yang mendadak dan hebat oleh gaya tekan dari luar seperti benturan setir atau sabuk pengaman yang letaknya tidak benar dapat mengakibatkan terjadinya ruptur dari organ padat maupun organ berongga. 2. Terjepitnya organ intra abdominal antara dinding abdomen anterior dan vertebrae atau struktur tulang dinding thoraks.

3.

Terjadi

gaya

akselerasi-deselerasi

secara

mendadak

dapat

menyebabkan gaya robek pada organ dan pedikel vaskuler. Cedera akselerasi (kompresi) merupakan suatu kondisi trauma tumpul langsung ke area abdomen atau bagian pinggang. Kondisi ini memberukan manifestasi kerusakan vaskular dengan respons terbentuknya formasi hematoma didalam visera. Cedera deselerasi adalah suatu kondisi dimana suatu peregangan yang berlebihan memberikan manifestasi terhadap cedera intraabdominal. Kekuatan peregangan secara longitudinal memberikan manifestasi ruptur (robek) pada struktur dipersimpangan antara segmen intraabdomen. Kondisi cedera akselerasi dan deselerasi memberikan berbagai masalah pada pasien sesuai organ intraabdominal yang mengalami gangguan. Hal ini memberikan implikasi pada asuhan keperawatan. Masalah keperawatan yang muncul berhubungan dengan kondisi kedaruratan klinis, respons sistemik, dampak intervensi medis.

Trauma (kecelakaan)

Penetrasi & Non-Penetrasi Terjadi perforasi lapisan abdomen (kontusio, laserasi, jejas, hematom)

Menekan saraf peritonitis Terjadi perdarahan jar. lunak dan rongga abdomen Motilitas usus Disfungsi usus Refluks usus output cairan berlebih Gangguan cairan dan eloktrolit Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Resiko infeksi

Nyeri

Kelemahan fisik Gangguan mobilitas fisik

Gambar 2. Pathway Trauma Abdomen F. Penatalaksanaan Pre Hospital dan Hospital Trauma Abdomen Pre Hospital Pengkajian yang dilakukan untuk menentukan masalah yang mengancam nyawa, harus mengkaji dengan cepat apa yang terjadi di lokasi kejadian. Paramedik mungkin harus melihat Apabila sudah ditemukan luka tikaman, luka trauma benda lainnya, maka harus segera ditangani, penilaian awal dilakuakan prosedur ABC jika ada indikasi. Jika korban tidak berespon, maka segera buka dan bersihkan jalan napas. 1. Airway, dengan Kontrol Tulang Belakang Membuka jalan napas menggunakan teknik head tilt chin lift atau menengadahkan kepala dan mengangkat dagu, periksa adakah benda

asing yang dapat mengakibatkan tertutupnya jalan napas. Muntahan, makanan, darah atau benda asing lainnya. 2. Breathing, dengan Ventilasi yang Adekuat Memeriksa pernapasan dengan menggunakan cara lihat-dengarrasakan tidak lebih dari 10 detik untuk memastikan apakah ada napas atau tidak, Selanjutnya lakukan pemeriksaan status respirasi korban (kecepatan, ritme dan adekuat tidaknya pernapasan). 3. Circulation, dengan Kontrol Perdarahan Hebat Jika pernapasan korban tersengal-sengal dan tidak adekuat, maka bantuan napas dapat dilakukan. Jika tidak ada tanda-tanda sirkulasi, lakukan resusitasi jantung paru segera. Rasio kompresi dada dan bantuan napas dalam RJP adalah 30:2 (30 kali kompresi dada dan 2 kali bantuan napas). Penanganan awal pada trauma abdomen, adalah: 1. Trauma tumpul Langsung stop makanan dan minuman, imobilisasi, dan segera kirim ke rumah sakit. 2. Trauma tajam Apabila terjadi trauma tajam, lakukan langkah-langkah berikut: a. Bila terjadi luka tusuk, maka tusukan (pisau atau benda tajam lainnya) tidak boleh dicabut kecuali dengan adanya tim medis. b. Penanganannya bila terjadi luka tusuk cukup dengan melilitkan dengan kain kassa pada daerah antara pisau untuk memfiksasi pisau sehingga tidak memperparah luka. c. Bila ada usus atau organ lain yang keluar, maka organ tersebut tidak dianjurkan dimasukkan kembali kedalam tubuh, kemudian organ yang keluar dari dalam tersebut dibalut kain bersih atau bila ada verban steril. d. Imobilisasi pasien. e. Tidak dianjurkan memberi makan dan minum. f. Apabila ada luka terbuka lainnya maka balut luka dengan menekan.

g. Segera kirim ke rumah sakit. Hospital Penanganan pada saat sampai rumah sakit, yaitu: 1. Trauma tumpul Lakukan tindakan berikut: a. Pengambilan contoh darah dan urine Darah di ambil dari salah satu vena permukaan untuk pemeriksaan laboratorium rutin, dan juga untuk pemeriksaan laboratorium khusus seperti pemeriksaan darah lengkap, potasium, glukosa, amilase. b. Pemeriksaan rontgen Pemeriksaan rongten servikal lateral, toraks anteroposterior dan pelvis adalah pemeriksaan yang harus di lakukan pada penderita dengan multi trauma, mungkin berguna untuk mengetahui udara ekstraluminal di retroperitoneum atau udara bebas di bawah diafragma, yang keduanya memerlukan laparotomi segera. c. Studi kontras urologi dan gastrointestinal Dilakukan pada cedera yang meliputi daerah duodenum, kolon ascendens atau decendens dan dubur. 2. Trauma tajam Bila ada dugaan bahwa ada luka tembus dinding abdomen, seorang ahli bedah yang berpengalaman akan memeriksa lukanya secara lokal untuk menentukan dalamnya luka. Pemeriksaan ini sangat berguna bila ada luka masuk dan luka keluar yang berdekatan. a. Skrinning pemeriksaan rontgen Foto rontgen torak tegak berguna untuk menyingkirkan kemungkinan hemo atau pneumotoraks atau untuk menemukan adanya udara intraperitonium. Serta rontgen abdomen sambil tidur (supine) untuk menentukan jalan peluru atau adanya udara retroperitoneum.

b. IVP atau Urogram Excretory dan CT scan Ini di lakukan untuk mengetauhi jenis cedera ginjal yang ada. c. Uretrografi Di lakukan untuk mengetauhi adanya rupture uretra. d. Sistografi Ini digunakan untuk mengetauhi ada tidaknya cedera pada kandung kencing, contohnya pada fraktur pelvis dan trauma non-penetrasi. G. Komplikasi Trauma Abdomen 1. Komplikasi yang timbul segera adalah shock hemoragi. 2. Komplikasi yang timbul lambat adalah terjadinya infeksi pada sekitar daerah trauma atau pada lukanya langsung. 3. Komplikasi lain seperti sepsis, atelektasis, tekanan ulserasi, pneumonia, emboli pulmoner, trombosis vena. 4. Pankreas: Pankreatitis, fistula pancreas-duodenal, dan perdarahan. 5. Limfa: takikardia, hipotensi, akral dingin, diaphoresis, dan syok. 6. Usus: obstruksi usus, peritonitis, sepsis, nekrotik usus, dan syok. H. Pemeriksaan Diagnostik 1. Foto thoraks untuk melihat adanya trauma pada thorak. 2. Pemeriksaan darah rutin. Pemeriksaan Hb diperlukan untuk base-line data bila terjadi perdarahan terus menerus. Demikian pula dengan pemeriksaan hematokrit. Pemeriksaan leukosit yang melebihi 20.000/mm tanpa terdapatnya infeksi menunjukkan adanya perdarahan cukup banyak dan kemungkinan terjadi ruptura lienalis. Serum amilase yang meninggi menunjukkan kemungkinan adanya trauma pankreas atau perforasi usus halus. Kenaikan transaminase menunjukkan kemungkinan trauma pada hepar.

10

3. Plain abdomen foto tegak. Memperlihatkan udara bebas dalam rongga peritoneum, udara bebas retroperineal dekat duodenum, corpus alineum dan perubahan gambaran usus. 4. Pemeriksaan urine rutin. Menunjukkan adanya trauma pada saluran kemih bila dijumpai hematuri. Urine yang jernih belum dapat menyingkirkan adanya trauma pada saluran urogenital. Pemeriksaan fungsi perkemihan dilakukan terutama adanya tanda dan riwayat trauma panggul yang bisa mencederai uretra dan kandung kemih. Palpasi kekencangan kandung kemih dan kemampuan dalam melakukan miksi dilakukan untuk mengkaji adanya ruptur uretra. 5. IVP (Intravenous Pyelogram). Karena alasan biaya biasanya hanya dimintakan bila ada persangkaan trauma pada ginjal. 6. Diagnostik Peritoneal Lavage (DPL). Dapat membantu menemukan adanya darah atau cairan usus dalam rongga perut. Hasilnya dapat amat membantu. Tetapi DPL ini hanya alat diagnostik. Bila ada keraguan, kerjakan laparatomi (gold standard). Ada juga dinamakan dengan test khusus, yaitu DPL (Diagnostic Peritoneal Lavage) adalah untuk mengetahui adanya perdarahan intraabdomen pada suatu trauma tumpul, bila dengan pemeriksaan fisik dan radiologik, diagnosa masih diragukan. Test ini tak boleh dilakukan pada penderita yang tak kooperatif, melawan dan yang memerlukan operasi abdomen segera. Kandung kemih harus dikosongkan terlebih dahulu. Posisi panderita terlentang, kulit bagian bawah disiapkan dengan jodium tingtur dan infiltrasi anestesi lokal di garis tengah, diantara umbilikus dan pubis. Kemudian dibuat insisi kecil, kateter dialisa peritoneal dimasukkan ke dalam rongga peritoneal. Ini dapat dibantu/dipermudah oleh otot-otot abdomen penderta sendiri, dengan jalan meikan kepala penderita. Kateter ini harus dipegang dengan kedua tangan, untuk mencegah tercebur secara acak ke dalam rongga abdomen. Indikasi untuk melakukan DPL adalah sebagai berikut : Nyeri abdomen yang tidak bisa diterangkan sebabnya. Trauma pada bagian bawah dari dada.

11

Hipotensi, hematokrit turun tanpa alasan yang jelas. Pasien cedera abdominal dengan gangguan kesadaran (obat, alkohol, cedera otak). Pasien cedera abdominal dan cedera medula spinalis (sumsum tulang belakang). Patah tulang pelvis. Kontra indikasi relatif melakukan DPL adalah sebagai berikut : Hamil. Pernah operasi abdominal. Operator tidak berpengalaman. Bila hasilnya tidak akan merubah penatalaksanaan. 7. Ultrasonografi dan CT Scan. Sebagai pemeriksaan tambahan pada penderita yang belum dioperasi dan disangsikan adanya trauma pada hepar dan retroperitoneum. Pemeriksaan khusus 1. Abdomonal Paracentesis merupakan pemeriksaan tambahan yang sangat berguna untuk menentukan adanya perdarahan dalam rongga peritoneum. Lebih dari 100.000 eritrosit/mm dalam larutan NaCl yang keluar dari rongga peritoneum setelah dimasukkan 100200 ml larutan NaCl 0.9% selama 5 menit, merupakan indikasi untuk laparotomi. 2. Pemeriksaan Laparoskopi. Dilaksanakan bila ada akut abdomen untuk mengetahui langsung sumber penyebabnya. Bila dijumpai perdarahan dan anus perlu dilakukan rekto-sigmoidoskopi. Pemeriksaan rektal harus dilakukan untuk mencari bukti cedera penetrasi akibat patah tulang panggul dan feses dievaluasi apakah ada darah kotor pada feses.

12

I. Algoritma Penanganan Pasien Dengan Trauma Tumpul Abdomen

Gambar 3. Algoritma Penanganan Pasien Dengan Trauma Tumpul Abdomen J. Penatalaksanaan Kegawatdaruratan dan Terapi Pengobatan Penatalaksanaan Medis 1. Abdominal paracentesis. Menentukan adanya perdarahan dalam rongga peritonium, merupakan indikasi untuk laparotomi. 2. Pemeriksaan laparoskopi. Mengetahui secara langsung penyebab abdomen akut. 3. Pemasangan NGT. Memeriksa cairan yang keluar dari lambung pada trauma abdomen. Pengkajian dengan memasang NGT (dilakukan apabila tidak ada kontraindikasi, misalnya fraktur dasar tengkorak) dilakukan untuk menilai dekompresi lambung dan untuk menilai pengeluaran darah pada NGT.

13

4. Pemberian antibiotik. Mencegah infeksi. 5. Laparotomi. Pengelolaan primary survery yang cepat dan kemudian resusitasi, secondary survey dan akhirnya terapi definitif. Proses ini merupakan ABC nya trauma dan berusaha untuk mengenali keadaan yang mengancam nyawa terlebih dahulu, dengan berpatokan pada urutan berikut: A: Airway, menjaga jalan napas dengan kontrol servikal (cervikal spine control). B: Breathing, menjaga pernafasan dengan mengontrol ventilasi (ventilation control). C: Circulation dengan kontrol perdarahan (bleeding control). D: Disability : status neurologis (tingkat kesadaran/GCS, Respon Pupil). E: Exposure/environmental control: buka baju penderita tetapi cegah hipotermia. Tindakan keperawatan yang dilakukan tentu mengacu pada ABCDE. 1. 2. 3. Yakinkan airway dan breathing clear. Kaji sirkulasi dan kontrol perdarahan dimana nadi biasanya lemah, kecil, dan cepat .. Tekanan darah sistolik dan diastole menunjukkan adanya tanda syok hipovolemik, hitung MAP, CRT lebih dari 3 detik maka perlu segera pasang intra venous line berikan cairan kristaloid Ringer Laktat untuk dewasa pemberian awal 2 liter, dan pada anak 20cc/kgg, bila pada anak sulit pemasangan intra venous line bisa dilakukan pemberian cairan melalui akses intra oseus tetapi ini dilakukan pada anak yang umurnya kurang dari 6 tahun. 4. Setelah pemberian cairan pertama lihat tanda-tanda vital. Bila sudah pasti ada perdarahan maka kehilangan 1 cc darah harus diganti dengan

14

cairan kristaloid 3 cc atau bila kehilangan darah 1 cc maka diganti dengan darah 1 cc (sejumlah perdarahan). 5. Setelah itu kaji disability dengan menilai tingkat kesadaran klien baik dengan menilai menggunakan skala AVPU: Alert (klien sadar), Verbal (klien berespon dengan dipanggil namanya), Pain (klien baru berespon dengan menggunakan rangsang nyeri) dan Unrespon (klien tidak berespon baik dengan verbal ataupun dengan rangsang nyeri). 6. Eksposur dan environment control. Buka pakaian klien lihat adanya jejas, perdarahan dan bila ada perdarahan perlu segera ditangani bisa dengan balut tekan atau segera untuk masuk ke kamar operasi untuk dilakukan laparotomi eksplorasi. 7. Secondary survey dari kasus ini dilakukan kembali pengkajian secara head to toe, dan observasi hemodinamik klien setiap 15 30 menit sekali meliputi tanda-tanda vital (TD, Nadi, Respirasi), selanjutnya bila stabil dan membaik bisa dilanjutkan dengan observasi setiap 1 jam sekali. 8. Pasang kateter untuk menilai output cairan, terapi cairan yang diberikan dan tentu saja hal penting lainnya adalah untuk melihat adanya perdarahan pada urine. 9. Pasien dipuasakan dan dipasang NGT (Nasogastrik tube) untuk membersihkan perdarahan saluran cerna, meminimalkan resiko mual dan aspirasi, serta bila tidak ada kontra indikasi dapat dilakukan lavage. 10. Observasi status mental, vomitus, nausea, rigid/ kaku, bising usus, urin output setiap 15 30 menit sekali. Catat dan laporkan segera bila terjadi perubahan secra cepat seperti tanda-tanda peritonitis dan perdarahan. 11. Jelaskan keadaan penyakit dan prosedur perawatan pada pasien bila memungkinkan atau kepada penanggung jawab pasien hal ini dimungkinkan untuk meminimalkan tingkat kecemasan klien dan keluarga.

15

12. Kolaborasi pemasangan Central Venous Pressure (CVP) untuk melihat status hidrasi klien, pemberian antibiotika, analgesik dan tindakan pemeriksaan yang diperlukan untuk mendukung pada diagnosis seperti laboratorium (AGD, hematology, PT, APTT, hitung jenis leukosit dll), pemeriksaan radiologi dan bila perlu kolaborasikan setelah pasti untuk tindakan operasi laparatomi eksplorasi. K. Dampak Masalah Terhadap Klien Setiap musibah yang dihadapi seseorang akan selalu menimbulkan dampak masalah baik bio-psiko-sosial-spiritual yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perubahan pola kehidupan. Dampak dari pre operasi : 1. Dampak pada fisik : Pola Pernapasan : Keadaan ventilasi pernapasan terganggu jika terdapat gangguan/ instabilitasi cardiovaskuler, respirasi dan kelainan kelainan neurologis akibat multiple trauma. Penyebab yang lain adalah perdarahan didalam rongga abdominal yang menyebabkan distended sehingga menekan diafragma yang akan mempengaruhi ekspansi rongga thoraks. Pada sirkulasi Perdarahan dalam rongga abdomen karena cedera dari organ organ abdominal yang padat maupun berongga atau terputusnya pembuluh darah, sehingga tubuh kehilangan darah dalam waktu singkat yang mengakibatkan shock hipovolemik dimana sisa darah tidak cukup mengisi rongga pembuluh darah. Perubahan perfusi jaringan Penurunan perfusi jaringan disebabkan karena suplai darah yang dipompakan jantung ke seluruh tubuh berkurang / tidak mencukupi kesesuaian kebutuhan akibat dari shock hipovolemic. Penurunan volume cairan tubuh

16

Perdarahan akut akan mempengaruhi keseimbangan cairan di dalam tubuh, dimana cairan intracelluler (ICF), extracelluler (ECF) diantaranya adalah cairan yang berada di dalam pembuluh darah (IV) dan cairan yang berada di dalam jaringan di antara sel - sel (ISF) akan mengalami defisit atau hipovolemia. Kerusakan integritas kulit Trauma benda tumpul dan tajam akan menimbulkan kerusakan dan terputusnya jaringan 2. Dampak Psikologis : Perasaan cemas dan takut akan menyelimuti diri pasien, hal ini disebabkan karena musibah yang dialaminya dan kurangnya informasi tentang tindakan pengobatan dengan jalan pembedahan / operasi. 3. Dampak Sosial : Mengingat dana yang dibutuhkan untuk tindakan pembedahan tidak sedikit dan harga obat obatan yang cukup tinggi, hal ini akan mempengaruhi kondisi ekonomi dan membutuhkan waktu yang amat segera (sempit). II. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan A. Pengkajian Dalam pengkajian pada trauma abdomen harus berdasarkan prinsip prinsip Penanggulangan Penderita Gawat Darurat yang mempunyai skala prioritas A (Airway), B (Breathing), C (Circulation). Hal ini dikarenakan trauma abdomen harus dianggap sebagai dari multi trauma dan dalam pengkajiannya tidak terpaku pada abdomennya saja. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi, observasi, pengkajian fisik. Pemeriksaan abdomen harus sistematis, meliputi pemeriksaan inspeksi, auskultasi, palpasi, dan perkusi. kulit atau yang dibagian dalamnya diantaranya pembuluh darah, persyarafan dan otot didaerah trauma.

17

Pengakajian primer pada trauma abdomen: 1. Airway: ada atau tidaknya sumbatan jalan napas (sekret, lidah jatuh ke belakang, bronkospasme), kepatenan jalan napas. 2. Breathing: bunyi napas (vesikuler), frekuensi pernapasan, pola napas, penggunaan otot bantu napas. 3. Circulation: denyut nadi, frekuensi, kekuatan, irama, tekanan darah, kapilari refill <3 detik. 4. Disability: ketidakmampuan, GCS (E=4, V=5, M=6 ), reaksi pupil, reflek cahaya. 5. Exposure: sensasi nyeri, cegah pasien hipotermi, lihat ada tidaknya jejas, CT scan abdomen, Lavase Peritoneal Diagnostik (LPD). Inspeksi. Abdomen diperiksa adanya kondisi lecet (abrasi) atau ekimosis. Tanda memar akibat sabuk pengaman, yakni luka memar atau abrasi perut bagian bawah sangat berhubungan dengan kondisi patologi intraperitoneal. Auskultasi. Auskultasi adanya bunyi usus bagian toraks dapat menunjukkan adanya cedera pada otot diafragma. Palpasi. Pemeriksaan palpasi dapat mengungkapkan adanya keluhan tenderness (nyeri tekan) baik secara lokalis atau seluruh abdomen, kekakuan abdominal, atau rebound tenderness yang menunjukkan cedera peritoneal. Perkusi. Dilakukan untuk mendapatkan adanya nyeri ketuk pada organ yang mengalami cedera.

Pengkajian lanjutan (secondary) trauma abdomen meliputi: 1. Identitas klien. 2. Riwayat trauma abdomen a. Trauma tumpul abdomen

18

Dapatkan riwayat detil jika mungkin (sering tidak bisa didapatkan, tidak akurat, atau salah). dapatkan semua data yang mungkin tentang metode cidera, waktu awitan cidera, lokasi penumpang jika itu kecelakaan lalu lintas (kalau itu sopir sering terjadi ruptur limpa atau hati), waktu makan dan minum terakhir, kecenderungan perdarahan, penyakit dan medikasi terbaru, riwayat imunisasi dengan perhatian pada tetanus, alergi. Lakukan pemeriksaan cepat pada seluruh tubuh pasien untuk mendeteksi masalah yang mengancam kehidupan. 3. Kebutuhan dasar. Eliminasi: inkontinensia kandung kemih atau mengalami

ganggauan fungsi. Integritas ego: perubahan tingkah laku, cemas, bingung, depresi. Nutrisi dan cairan: mual, muntah, perubahan selera makan, distensi abdomen. Neurosensori: kehilangan kesadaran sementara, vertigo, perubahan status mental, kesulitan menentukan posisi tubuh, koma. Sirkulasi: terjadi bradikardi atau takikardi. Pernafasan: pola nafas yang berubah, seperti bradipneu atau takipneu Nyeri dan kenyamanan: sakit pada abdomen dengan intensitas dan lokasi berbeda, meringis, gelisah, merintih. Aktivitas/istirahat: pusing, sakit kepala, nyeri, mulas, perubahan kesadaran, masalah dalam keseimbangan. Keamanan: trauma karena kecelakaan, dislokasi gangguan kognitif, gangguan rentang gerak. 4. Dasar pemeriksaan fisik head to toe harus dilakukan dengan singkat tetapi menyeluruh dari bagian kepala ke ujung kaki. Sistem Pernapasan (B1 = breath)

19

Inspeksi: bagian frekwensinya, iramanya dan adakah jejas pada dada serta jalan napasnya. Palpasi: simetris tidaknya dada saat paru ekspansi dan pernapasan tertinggal. Perkusi: adalah suara hipersonor dan pekak. Auskultasi: adakah suara abnormal, wheezing dan ronchi.

Sistem kardiovaskuler (B2 = blood) nspeksi: adakah perdarahan aktif atau pasif yang keluar dari daerah abdominal dan adakah anemis. Palpasi: bagaimana mengenai kulit, suhu daerah akral dan bagaimana suara detak jantung menjauh atau menurun dan adakah denyut jantung paradoks. Sistem Neurologis (B3 = Brain) Inspeksi: adakah gelisah atau tidak gelisah dan adakah jejas di kepala. Palpasi: adakah kelumpuhan atau lateralisasi pada anggota gerak. Bagaimana tingkat kesadaran yang dialami dengan

menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS) Sistem Gatrointestinal (B4 = bowel) Inspeksi : Adakah jejas dan luka atau adanya organ yang luar, distensi abdomen kemungkinan adanya perdarahan dalam cavum abdomen, pernapasan perut yang tertinggal atau tidak, kalau batuk terdapat nyeri dan pada quadran berapa, kemungkinan adanya abdomen iritasi. Palpasi : Adakah spasme/ defance mascular dan abdomen, nyeri tekan dan pada quadran berapa, kalau ada vulnus sebatas mana kedalamannya.

20

Perkusi :

Adakah nyeri ketok dan pada quadran mana,

kemungkinan kemungkinan adanya cairan / udara bebas dalam cavum abdomen. Auskultasi : Kemungkinan adanya peningkatan atau penurunan dari bising usus atau menghilang. Rectal toucher : Kemungkinan adanya darah / lendir pada sarung tangan, adanya ketegangan tonus otot / lesi pada otot rektum. Sistem Urologi ( B5 = bladder) Inspeksi: Adakah jejas pada daerah rongga pelvis dan adakah distensi pada daerah vesica urinaria serta bagaimana produksi urine dan warnanya. Palpasi: Adakah nyeri tekan daerah vesica urinaria dan adanya distensi. Perkusi: Adakah nyeri ketok pada daerah vesica urinaria.

Sistem Tulang dan Otot ( B6 = Bone ) Inspeksi: Adakah jejas dan kelaian bentuk extremitas terutama daerah pelvis. Palpasi: adakah ketidakstabilan pada tulang pinggul atau pelvis. Pemeriksaan Penunjang : Radiologi : Foto BOF (Buick Oversic Foto) Bila perlu thoraks foto. USG (Ultrasonografi) Laboratorium : Darah lengkap dan sample darah (untuk transfusi). Disini terpenting Hb serial jam sekali sebanyak 3 kali. Urine lengkap (terutama ery dalam urine)

21

Elektro Kardiogram

B. Diagnosa Keperawatan 1. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan secara aktif (perdarahan). 2. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (trauma tumpul). 3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan cedera. 4. Resiko infeksi dengan faktor resiko tindakan invasif, tidak adekuatnya pertahanan tubuh, kerusakan integritas kulit. C. Perencanaan 1. Defisit volume cairan dan elektrolit b.d perdarahan Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ............ diharapkan volume cairan menjadi seimbang. Kriteria hasil: Tidak ada tanda-tanda dehidrasi Elastisitas turgor kulit baik Membran mukosa lembab Tidak ada rasa haus yang berlebihan. Intervensi : 1) Kaji tanda-tanda vital. R/ untuk mengidentifikasi adanya defisit volume cairan, menghindari terjadinya komplikasi sedini mungkin (syok hipovolemik). 2) Pantau cairan parenteral dengan elektrolit, antibiotik dan vitamin. R/ mengidentifikasi keadaan perdarahan.

22

3) Kaji tetesan infus. R/ Perhitungan kebutuhan cairan dan pengawasan tetesan untuk mememnuhi kebutuhan cairan. 4) Kolaborasi : Berikan cairan parenteral sesuai indikasi. R/ cara parenteral membantu memenuhi kebutuhan nuitrisi tubuh. 5) Tranfusi darah. R/ menggantikan darah yang keluar.

2. Nyeri akut b.d agen injuri: fisik (trauma tumpul abdomen). Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ............ diharapkan nyeri berkurang. Kriteria hasil: Melaporkan nyeri berkurang Ekspresi wajah rileks, tenang Intervensi : 1) Kaji karakteristik nyeri. R/ mengetahui tingkat nyeri klien. 2) Beri posisi semi fowler. R/ mengurangi kontraksi abdomen. 3) Anjurkan tehnik manajemen nyeri seperti distraksi. R/ membantu mengurangi rasa nyeri dengan mengalihkan perhatian. 4) Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi. R/ analgetik membantu mengurangi rasa nyeri. 5) Managemant lingkungan yang nyaman. R/ lingkungan yang nyaman dapat memberikan rasa nyaman klien 3. Resiko infeksi. Faktor risiko : tindakan pembedahan, tidak adekuatnya pertahanan tubuh. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ............ diharapkan infeksi tidak terjadi. Kriteria hasil: Tidak ada tanda-tanda infeksi. Hasil laboratorium dalam batas normal (leukosit, hemoglobin)

23

Intervensi : 1) Kaji tanda-tanda infeksi. R/ mengidentifikasi adanya resiko infeksi lebih dini. 2) Kaji keadaan luka. R/ keadaan luka yang diketahui lebih awal dapat mengurangi resiko infeksi. 3) Kaji tanda-tanda vital. R/ suhu tubuh naik dapat di indikasikan adanya proses infeksi. 4) Perawatan luka dengan prinsip sterilisasi. R/ teknik aseptik dapat menurunkan resiko infeksi nosokomial. 5) Kolaborasi pemberian antibiotik. R/ antibiotik mencegah adanya infeksi bakteri dari luar. 4. Gangguan mobilitas fisik b.d kelemahan fisik. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ............ diharapkan mobilitas fisik tidak terganggu. Kriteria hasil: Menunjukkan peningkatan aktivitas fisik Verbalisasi peningkatan aktivitas fisik Memperagakan ROM secara mandiri Intervensi : 1) Kaji kemampuan pasien untuk bergerak. R/ identifikasi kemampuan klien dalam mobilisasi. 2) Dekatkan peralatan yang dibutuhkan pasien. R/ meminimalisir pergerakan klien. 3) Berikan latihan gerak aktif pasif. R/ melatih otot-otot klien. 4) Bantu kebutuhan pasien. R/ membantu dalam mengatasi kebutuhan dasar klien. 5) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi. R/ terapi fisioterapi dapat memulihkan kondisi klien

24

25

Daftar Pustaka Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan Ed.31. EGC : Jakarta. Bulechek, Gloria M, Joanne C. Mc.Closkey. 2008. Nursing Intervention Classification (NIC) Fifth Edition. USA: Mosbie Elsevier. Carpenito, L.J. 2006. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2. Jakarata: EGC Dongoes. 2000. Diagnosa Keperawatan. Ed. 8. Jakarta: EGC Hudak & Gallo. 2001. Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik. Jakarta: EGC Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius FKUI : Jakarta. Moorhead, Sue, Meridean Maas, Marion Johnson. 2004. Nursing Outcomes Classification (NOC) Fourth Edition. USA: Mosby Elsevier. NANDA International. 2011. NANDA-I: Nursing Diagnoses Definitions & Classification 2012-2014. USA: Willey Blackwell Publication. Sjamsuhidayat. 1998. Buku Ajar Bedah. Jakarta : EGC. Smeltzer & Bare. 2002. Buku Ajar keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Ed.8 Vol.3. Jakarta: EGC.

26