Anda di halaman 1dari 59

Mukaddimah

Segala puji milik Allah

I semata. Shalawat serta

salam semoga tercurahkan kepadaRasulullah, keluar-

ganya, dan para sahabatnya.

Ada beberapa hal yang memotivasi saya dalam menulis buku kecil ini, di antaranya: a. Aktifitas gerakan Rafidhah[1] yang semakin gen-car dalam mendakwakan ajaranmereka dila-kukan dalam skala Internasional. itu yang

b. Besarnya bahaya sekte ini (Rafidhah) terhadap agama Islam ditambah lagikelengahan mayoritas um at Islam yang masih awam tentang bahayanya sekte ini. c. Kemusyrikan yang terdapat dalam aqidahnya, pencelaan terhadap al-Quran dan para sahabat y.
d. Sikap berlebih dalam mengagungkan para imam. Dengan ini saya berkeinginan kuat menulis buku ini dan berusaha menjawab halhal yangdianggap musykil (sulit) dengan sistematis, seperti cara penulisan Syaikh kita Abdullah binAbdurrahman al-Jibrin dalam bukunya atTaliqat ala Matni Lumatil Itiqad. Itu saya lakukandengan mencuplik dari sebagian bukubuku sekte Rafidhah sendiri yang dikenal dan masyhur di kalangan mereka, juga dari bukubuku Ahlus Sun-nah, baik karangan ulama salaf atau ulamakhalaf, yang telah menyanggah berbagai argumen mereka, menje-laskan kesesatan danpenyimpangan aqidah yang ber-dasarkan kepada kesyirikan, kebohongan, celaan, ca-cian dansebagainya.

Saya telah berupaya dalam buku kesalahan mereka, melalui buku mereka, hal ini Jabhan,Dari mulutmu wahai orang

yang kecil lagi sederhana ini untuk menjelasakan dan karangan yang telah dijadikan se-bagai sandaran danrujukan senada dengan ucapan Syaikh Ibrahim bin Sulaiman alSyiah, aku jelaskan kesalahanmu. ini

Akhirnya saya memohon kepada Allah U semoga buku bermanfaat bagi orang yangmau mengguna-kan akalnya sebagaimana firman Allah:

Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orangyang memiliki akal atau yang menggunakan pendengaran-nya, sedang Dia menyaksikannya. (Qaaf: 37) Dan saya ucapkan banyak terima kasih kepada siapa saja yang telah turut andil dalammenerbitkan buku kecil ini, dengan berharap dan memohon kepa-da Allah U untuk membalasamal mereka dengan kebaikan.

Syiah disebut Rafidhah karena menolak tuk berloyalitas pada khalifahAbu Bakar dan Umar c. (ed.) ajakan imam Zaid un-

[1]

Sejarah Lahirnya Rafidhah


Rafidhah lahir ke permukaan ketika seorang Ya-hudi bernama Abdullah bin Saba' hadir dengan me-ngaku sebagai seorang Muslim, mencintai Ahlul Bait (keluarga Nabi), berlebih-lebihan didalam menyanjung Ali bin Abi Thalib t, dan mendakwakan adanya wa-siat baginya tentangkekhalifahannya, yang pada akhir-nya ia mengangkatnya sampai ke tingkat ketuhanan. Hal ini diakui oleh buku-buku Syi'ah itu sendiri. Al-Qummi pengarang buku al-Maqalaat wal Firaq[1] mengaku dan menetapkan akan adanya Abdullah bin Saba' ini dan menganggapnya orang yang pertama ka-li menobatkan keimaman (kepemimpinan) Ali bin Abi Thalib t dan dia akan kembali hidup di akhir zaman. Di samping iajuga termasuk orang yang pertama mencela Abu Bakar, Umar, Utsman dan para sahabat yang lainnya. Ini diakui juga oleh an-Nubakhti dalam bukunya Firaqus Syi'ah,[2] dan al-Kasyi dalam bukunya yang terkenal Rijalul Kasyi.[3] Adapun penganut Syi'ah kontemporer yang meng-akui adanya sosok Abdullah bin Saba' ini adalah Muhammad Ali al-Mu'allim dalam bukunya: Abdullah bin Saba', al-Haqiqatul Majhulah(Abdullah bin Saba', Sebuah Hakikat yang Terlupakan).[4] Pengakuan meru-pakan argumen yang paling kuat, dan itu semua mun-cul dari para tokoh senior Syiah sendiri.

v berkata: As-Sabaiyyah adalah pengikut Abdullah bin Saba', yang berlebih-lebihan di dalam mengagungkan Ali bin Abi Thalib t, sehingga ia mendakwakannya sebagai seorang nabi, sampai
Al-Baghdadi ke-pada pengakuan bahwa dia adalah Allah. Al-Baghdadi menambahkan: Ibnus Sauda' (nama lain Abdullah bin Saba') adalah seorang Yahudi dari penduduk Hirah, berpura-pura menampakkan dirinya beragama Islam sebagai senjata agar bisa memiliki pengaruh dankepemimpinan pada penduduk Kufah. Dia berkata kepada penduduk Kufah bahwa ia mendapati dalam kitab Taurat bahwa setiap nabi memiliki washi (seorang yang diwasiati untuk menjadikhalifah atau imam). Dan Ali adalah washinya Nabi Muhammad r. Asy-Syahrastani menyebutkan bahwa Abdullah bin Saba' adalah orang yang pertama kali memuncul-kan pernyataan Ali bin Abi Thalib t diangkat sebagai imam berdasarkan nash. Demikian juga dikatakan bahwa as-Sabaiyyah adalah sekte yang pertama kali menyatakan tentang hilangnya imam mereka dan akan muncul kembali di kemudian hari. Pada masa berikutnya orang-orang Syi'ahmes-kipun mereka ini (Syi'ah) terbagi menjadi bermacam sekte dan saling berselisihmewarisi keyakinan akan keimaman dan hak Ali sebagai khalifah berdasarkan kepada nash maupun wasiat.[5] Ini semua merupakan warisan Abdullah bin Saba', selanjutnya mereka pun berkembang biakmenjadi berpuluh-puluh sekte dengan aneka ragam perbedaan pendapat yang banyak sekali.

Dengan demikian jelaslah, bahwa Syi'ah membuat ideologi-ideologi baru seperti adanya wasiatkekhalifahan Ali bin Abi Thalib t, munculnya kembali imam mereka di kemudian hari,menghilangnya imam dan bahkan penuhanan para imam mereka sebagai bukti mereka hanya mengekor kepada Abdullah bin Saba' seorang Yahudi.[6]

Al-Qummi, al-Maqalaat wal Firaq, 10 21 An-Nubakhti, Firaqus Syi'ah, 19 20 Lihat beberapa riwayat yang ditulis oleh al-Kasyi tentang Ibnu Saba' dan aqidahnya, riwayat no. 170, 171, 172, 173, 174, pada halaman 106 108. Buku ini merupakan bantahan terhadap sebuah buku yang ditulis oleh seorang penganut Syi'ah bernama Murtadha al-'Askari ber-judul Abdullah ibnu Saba' wa Asatiir Ukhra (Abdullah bin Saba', Sebuah Ilusi dan Ilusiilusi Lain). Penulisnya mengingkari adanya sosok bernama Abdullah bin Saba'. Yang dimaksud dengan nash adalah penentuan Ali t sebagai khalifah berdasarkan dalil dari al-Qur'an maupun as-Sunnah. Se-dang yang dimaksud wasiat adalah penentuan Ali sebagai khalifah dengan wasiat dari Nabi r sebelum beliau meninggal dunia (penj). Al-Lalikai: Ushuulu I'tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama'ah, hal. 1/22 23

[1]

[2]
[3] [4]

[5]

[6]

Sebab Penamaan Syiah dengan Rafidhah

Penamaan dengan nama ini disebutkan oleh salah satu pembesar mereka yaitu al-Majlisi dalam kitabnya Biharul Anwar. Dia mengatakan: Bab tentang keuta-maan orangorangRafidhah dan terpujinya menama-kan diri dengannya. Kemudian dia menyebutkan ri-wayat dari Sulaiman al-A'masy, dia mengatakan: Aku memasuki tempat Abu Abdullah Ja'far binMuhammad. Aku berkata: Aku menjadi penebusmu, sesungguhnya manusia menamai kitadengan nama Rawafidh (bentuk jamak dari Rafidhahpenj), sebenarnya apa ma knaRawafidh? Maka dia berkata: Demi Allah, se-benarnya bukan mereka yang menamai, tetapi Allah-lah yang menamai kalian dengan nama itu dalam ki-tab Taurat dan Injil melaluiperkataan Musa dan Isa.[1] Dikatakan juga, mereka diberi nama Rafidhah di-karenakan mereka mendatangi Zaid bin Alibin Husain seraya berkata, Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakar dan Umar, dengan demikiankami akan bergabung ber-samamu, kemudian Zaid menjawab, Mereka berdua adalah sahabat kakek saya (Rasulullah r), justru aku setia dan cinta kepada mereka berdua. Maka mereka berkata: Jika demikian kami menolakmu. Dengan demikian mereka diberi nama Rafidhah artinya go-longan penolak. Adapun orang-orang yang berbai'at dan setuju dengan Zaid diberi nama Zaidiyyah.[2] Dalam suatu pendapat dikatakan mereka diberi nama Rafidhah dikarenakan menolak kepemimpinan Abu Bakar dan Umar.[3] Dalam pendapat yang lain, diberi nama Rafidhahdikarenakan penolakan mereka terhadap agama.[4]

Kitab Biharul Anwar karangan al-Majlisi (65/97). Buku ini termasuk referensi terakhir mereka.

[1] [2] [3] [4]

At-Ta'liqaat 'ala Matni Lum'atil I'tiqaad oleh guru kami Syaikh Abdullah al-Jibrin,108. Maqaalaatul Islamiyyin (1/89). Catatan kaki oleh Muhyiddin Abdul Hamid. Maqaalaatul Islamiyyin (1/89)

Berbagai Macam Sekte Rafidhah


Dijelaskan dalam kitab Daairatul Maarif bahwa Syi'ah ini bercabang-cabang menjadi lebih dari tujuh puluh tiga golongan yang terkenal.[1] Bahkan disinyalir sendiri oleh seorang Rafidhah bernama Mir Baqir adDamad[2] bahwa haditsyang menjelaskan tentang terbaginya umat menjadi 73 go-longan adalah Syi'ah, dan yang selamat dari golong-an-golongan ini adalah Syi'ah al-Imamiyyah. Dikatakan oleh al-Maqrizi bahwa golongan mere-ka berjumlah sampai tiga ratus golongan.[3] Disebutkan oleh asy-Syahrastani bahwa Rafidhah terbagi menjadi lima bagian: al-Kisaaniyyah,az-Zaidiyyah, al-Imamiyyah, al-Ghaaliyah dan al-Isma'iliyyah.[4] Al-Baghdadi berkata: Rafidhah setelah masa Ali bin Abi Thalib t terbagi menjadi empat golongan, Zaidiyyah, Imamiyyah, Kisaniyyah dan Ghulaat[5] de-ngan satu catatan bahwa Zaidiyyah tidak termasuk ke dalam golongan Rafidhah, namun ada kelompok al-Jarudiyyah sempalan dari Zaidiyyah yang masuk ke dalam Rafidhah.

Daairatul Ma'arif, 4/67


Dia adalah Baqir bin Muhammad alIstirabadi, lebih dikenal de-ngan nama Mir ad-Dammad, meninggal tahun 1041. Lihat bio-grafinya dalam buku al-Kuna wal Alqaab karya Abbas al-Qummi: 2/226. Al-Maqrizi, al-Khutat, 2/351 Asy-Syahrastani, al-Milal wan Nihal, 147 Al-Baghdadi dalam al-Farqu Bainal Firaq, 41

[1] [2] [3] [4] [5]

Aqidah Bada yang Diyakini oleh Rafidhah

Al-Bada' artinya tampak, yang sebelumnya masih tersembunyi atau berarti pula munculnyapendapat baru. Al-Bada' dengan kedua arti di atas berkait erat de-ngan didahuluinya ketidaktahuan, dan munculnya pengetahuan baru, kedua sifat tersebut mustahil bagi Allah, tetapi Rafidhah menisbatkan sifat bada' ini ada
pada Allah I. Ar-Rayyan bin as-Shalt berkata: Saya pernah mendengar arRidha berkata: Allah tidakmengutus Nabi kecuali diperintahkan untuk mengharamkan khamr, dan diperintahkan untuk menetapkan sifat al-Bada' bagi Allah.[1] Abu Abdillah berkata: Tidak ada ibadah kepada Allah yang lebih mulia daripada berkeyakinan ada si-fat al-Bada' pada Allah.[2] Mahatinggi Allah setinggi-tingginya dari tuduhan seperti ini. Bayangkan wahai saudara seiman, bagaimana mereka menisbatkan kebodohan kepada Allah I, se-dang Allah berfirman tentang Dzat-Nya sendiri: Katakanlah, Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yangghaib, kecuali Allah. (An-Naml: 65) Di balik itu Rafidhah berkeyakinan bahwa para Imam mereka mengetahui segala ilmu, tidak ada yang samar sedikitpun. Apakah ini adalah aqidah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad

r ?!

[1] [2]

Ushuulul Kaafi, 40 Al-Kulaini, Ushuulul Kaafi dalam Kitabut Tauhid, 1/331

Aqidah Rafidhah tentang Sifat-sifat Allah

Rafidhah adalah sekte yang pertama kali menga-takan bahwa Allah Iberjisim (bertubuh seperti tu-buh makhluk). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v mengatakan bahwa yang mempelopori kebohongan ini dari sekte Rafidhah adalah Hisyam bin al-Hakam,[1]Hisyam bin Salim al-Jawaliqi, Yunus bin Abdurrahman al-Qummi, dan Abu Ja'far al-Ahwal.[2] Mereka ini adalah para tokoh Syi'ah Itsna 'Asyariy-yah, yang pada akhirnya mereka menjadi sekte Jahmiy-yah yang mengingkari sifat-sifat Allah I.

Sebagaimana riwayat-riwayat mereka yang men-sifati Allah dengan sifat-sifat negatif, yang mereka ku-kuhkan sebagai sifat-sifat yang kekal bagi Allah I. Ibnu Babawaih telah meriwayatkan lebih dari tu-juh puluh riwayat yang menyatakan bahwa Allah tidak disifati dengan waktu, tempat, seperti apa, bergerak, berpindah, tidak tersifati dengan sifat-sifat yang ada pa-da jisim, tidak berupa materi, jisim dan bentuk.[3] Tokoh-tokoh mereka tetap berpijak di atas konsep yang sesat ini, dengan meniadakan sifat-sifat Allah yang terkandung dalam al-Qur'an dan al-Hadits. Sebagaimana mereka juga mengingkari turunnya Allah I ke langit dunia, ditambah lagi perkataan me-reka tentang al-Qur'an bahwa ia adalah makhluk, dan mereka juga mengingkari bahwa Allah bisa dilihat di akhirat nanti. Disebutkan dalam buku Biharul Anwar bahwa Abu Abdullah Ja'far ash-Shadiq pernah ditanya dengan sua-tu pertanyaan, apakah Allah I bisa dilihat pada Hari Kiamat? Maka ia menjawab: Mahasuci Allah, dan Mahatinggi setinggi-tingginya, sesungguhnya mata ti-dak bisa melihat kecuali kepada benda yang memiliki warna dan berkondisi tertentu, sedangkan Allah I Dzat yang menciptakan warna dan yang menentukan kondisi.[4] Bahkan orang-orang Syi'ah mengatakan: Jika ada seseorang menisbatkan kepada Allah sebagian si-fat, seperti sifat Allah dapat dilihat, maka orang tadi dihukumi murtad (keluar dari agama), sebagaimana di-sinyalir oleh tokoh mereka Ja'far an-Najafi.[5] Ketahuilah bahwa sesungguhnya melihat Allah I adalah haq, benar adanya, ditetapkan dalam al-Qur'an dan as-Sunnah yaitu melihat Allah tak bisa dibayangkan dengan detail dan tak bisa diperagakan, sebagai-mana firman Allah U:

Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka me-lihat. (Al-Qiyamah: 22-23) Dalil dari as-Sunnah bahwa Allah I bisa dilihat di Hari Kiamat, yaitu hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Jarir bin Abdullah al-Bajali t, beliau berkata: r Kami pernah duduk bersama Rasulullah r, ke-mudian beliau melihat bulan purnama pada ma-lam empat belas, maka beliau bersabda:Kalian akan

melihat Rabb kalian dengan mata kepala, se-bagaimana kalian melihat bulan ini dan tidak ber-susah-susah dalam melihat-Nya. Dan banyak lagi ayat al-Qur'an dan hadits Nabi yang membicarakan tentang hal ini yang tidak mung-kin kita ungkap di sini.[6]

[1] [2] [3] [4] [5] [6]

Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah, 1/20

I'tiqadaat Firaqul Muslimin wa Musyrikin, 97 Ibnu Babawaih, at-Tauhid, 57 Biharul Anwar, Al Majlisi, hal. 4/31 Ja'far an-Najafi, Kasyful Ghitha', 417
Silakan lihat kembali buku-buku Ahlus Sunnah wal Jama'ah ten-tang ru'yah, seperti kitabar-Ru'yah karangan ad-Daruquthni, bu-ku karangan al-Lalikai dan sebagainya.

Aqidah Rafidhahtentang al-Qur'an yang Dijaga Keotentikannya oleh Allah


Rafidhah yang dikenal dewasa ini dengan Syi'ah, mengatakan bahwa al-Qur'anul Karim yang ada pada kita (yang kita kenal ini) bukan al-Qur'an yang ditu-runkan Allah kepada Nabi Muhammad karena sudah mengalami perubahan, penggantian, penam-bahan dan pengurangan. Mayoritas periwayat hadits Syi'ah berkeyakinan adanya perubahan dalam alQur'an, sebagaimana di-katakan oleh an-Nuuri ath-Thabrasi dalam bukunya Fashlul Khitab fi Istbat Tahriifi Kitabi Rabbil Arbaab. [1] Muhammad bin Ya'kub al-Kulaini berkata dalam bukunya Ushuulul Kaafi pada bab: Yang Mengumpul-kan dan Membukukan al-Qur'an Hanya Para Imam, diriwayatkan dari Jabir, dia berkata saya mendengar Abu Ja'far berkata: Siapa yang mengaku telah me-ngumpulkan al-Qur'an dan membukukan seluruh isi-nya sebagaimana yang diturunkan Allah, maka sesung-guhnya ia seorang pendusta,

tidak ada yang mengum-pulkan dan menghafalkannya, sebagaimana diturun-kan oleh Allah , melainkan Ali bin Abi Thalib dan para imam sesudahnya.[2] Dari Jabir, dari Abu Ja'far alaihissalam, dia me-ngatakan: Tidak ada seorang pun yang mampu me-nyangka bahwa dia mempunyai semua al-Qur'an baik yang lahir maupun yang batin kecuali orang-orang yang diberi wasiat.[3] Dari Hisyam bin Salim, dari Abu Abdillah, beliau berkata: Sesungguhnya alQur'an yang dibawa Jibril kepada Muhammad ada tujuh belas ribu ayat.[4] Berarti al-Qur'an yang diyakini oleh orang Rafidhah adalah tiga kali lipat lebih banyak dari al-Qur'an yang ada pada kita Ahlus Sunnahyang Allah berjanji akan menjaganyaKita berlindung kepada Allah dari ke-burukan mereka. Dijelaskan oleh Ahmad ath-Thabrasi dalam buku-nya al-Ihtijaj, bahwa Umar berkata kepada Zaid bin Tsabit: Sesungguhnya Ali membawa al-Qur'an yang isi-nya membongkar aib kaum Muhajirin dan Anshar, ka-rena itu kami mempunyai pendapat untuk menyusun sendiri al-Qur'an, dari situ kita menghilangkan kejelek-an-kejelekan dan rusaknya kehormatan orang-orang Anshar. Maka Zaid memenuhi permintaan itu, dan berkata: Jika saya telah merampungkan penyusunan al-Qur'an, sesuai dengan yang kau minta, kemudian Ali menampakkan al-Qur'an yang disusun dan yang ditulisnya, bukankah ini akan membuat apa yang eng-kau kerjakan sia-sia? Umar berkata: Jika demikian, bagaimana ja-lan keluarnya? Zaid menjawab: Engkau lebih me-ngetahuinya. Maka Umar berkata, Tak ada jalan lain kecuali dengan membunuhnya dan kita bisa be-bas darinya. Dari situ Umar merancang cara pembu-nuhannya dengan menugaskan Khalid bin Walid, namun ia gagal dan tak berhasil mewujudkannya. Kemudian ketika Umar bin al-Khatthab diangkat menjadi khalifah, dia meminta Ali menyerahkan al-Qur'an untuk dirubah di antara mereka, maka Umar berkata: Wahai Abul Hasan berikanlah Al-Qur'an yang pernah engkau perlihatkan kepada Abu Bakar, sehing-ga kita bisa bersatu mengikutinya. Ali bin Abi Thalib menjawab: Mustahil, tidak ada alasan untuk bisa me-nyerahkan al-Qur'an ini kepadamu, dulu saya pertun-jukkan al-Qur'an ini kepada Abu Bakar untuk dijadikan saksi atasnya, dan kalian tidak ada alasan lagi pada Hari Kiamat untuk mengatakan: ( ) Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini. (Al-Araf: 172) Dan sesudah kamu datang. (Al-Araf: 129)[5]

Sungguh al-Qur'an ini tidak boleh ada yang me-nyentuhnya melainkan orang-orang yang suci dan orang yang telah kuwasiatkan kepadanya dari anak cucuku. Umar berkata: Jika demikian, kapan waktu untuk menampakkan al-Qur'an ini? Ali bin Abi Thalib menjawab: Di saat salah seorang penerus dari anak cucuku ta mpil, memperlihatkan al-Qur'an tersebut dan mengajak manusia untuk mengikutinya.[6] Meskipun orang-orang Syi'ah berpura-pura berle-pas diri dari bukunya an-Nuuri at-Thabrasi dengan ber-pegangan pada prinsip taqiyyah, sesungguhnya buku ini memuat beratus-ratus teks dari tokoh-tokoh mereka dalam buku-buku yang mereka akui. Buku-buku terse-but jelas mengungkap pengubahan (al-Qur'an) ini, ta-pi mereka tak menginginkan adanya keributan karena tersebarluasnya kejanggalan aqidah mereka tentang al-Qur'an ini. Setelah jelas aqidah mereka tentang al-Qur'an, maka nampak bahwa di sana ada dua al-Qur'an: Per-tama, al-Qur'an yang diketahui kaum Muslimin. Ke-dua, alQur'an yang disembunyikandi antaranya yang memuat surat al-Wilayah. Di antara isapan jempol kaum Syi'ah Rafidhah bahwa ada ayat yang dihapuskan dari al-Qur'an seba-gaimana disebutkan oleh an-Nuri at-Thabrasi dalam kitabnya Fashlul Khitab fi Itsbat Tahriifi Kitabi Rabbil Arbaab , ada sebuah ayat: Ayat itu berbunyi: Dan telah Kami tinggikan namamu, dengan Ali sebagai menantumu. Ayat ini dihilangkan dari surat al-Insyirah.[7] Tanpa malu-malu mereka mengatakan hal ini, padahal mere-ka tahu bahwa ini adalah surat Makkiyyah (surat yang diturunkan sebelum Nabi r hijrah ke Madinah), dan pada saat itu Ali belum menjadi menantu Nabi r di Makkah.

[1] [2] [3]

Husain bin Muhammad Taqi an-Nuuri ath-Thabrasi, Fashlul Khitab, 32 Al-Kulaini, Ushulul Kafi, 1/228 Al-Kulaini, Ushulul Kafi, 1/285

[4]

Al-Kulaini, Ushulul Kafi, 2/634. Syaikh mereka al-Majlisi telah menguatkan riwayat ini, dia mengatakan dalam kitabnya Mir'aa-tul Ma'quul 12/525: "Hadits ini adalah dikuatkan", laluberkata: "Riwayat ini shahih, dan tidak diragukan lagi bahwa riwayat ini dan riwayat shahih lain yang banyak, jelas menyatakan bahwa al-Qur'an telah dikurangi dan dirubah. Menurut saya,semua ri-wayat dalam permasalahan ini maknanya mutawatir. (Mutawatir adalah berita yang diriwayatkan oleh sepuluh perawi lebih dan tidak diragukan lagi kebenarannya penj). Catatan: Penulis Syiah ini dengan gegabah memotong ayat yang berkaitan dengan Musa yang menunjukkan pengertian Se-sudah kamu datang. Tapi ia membawa ayat itu dengan mak-sud, Kamu tidak datang.ed. Ath-Thabrasi, al-Ihtijaj, 225 dan kitab Fashlul Khitab, 7 An-Nuri at-Thabrasi, Fashlul Khitab fi Itsbat Tahriifi Kitabi Rabbil Arbaab, 347.

[5]

[6] [7]

Aqidah Rafidhah tentang Para Sahabat Rasulullah

Aqidah Rafidhah berpijak di atas prinsip mencaci, mencela dan mengkafirkan para sahabat Nabi r. Al-Kulaini menyebutkan dalam bukunya Furu'ul Kaafi yang diriwayatkan dari Ja'far alaihissalam: Se-mua orang murtad (keluar dari Islam) sepeninggal Rasulullah r, kecuali tiga orang, kemudian saya ber-tanya kepadanya: Siapakah ketiga sahabat ini? Ia menjawab: Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi.[1] Al-Majlisi dalam kitab Biharul Anwar mengisah-kan bahwa seorang budak Ali bin Husain berkata: Aku pernah bersamanya saat dia menyendiri, aku katakan: Aku punya hak yang harus kamu penuhi, kecuali jika kau beritahukan kepadaku tentang dua orang ini: ten-tang Abu Bakar dan Umar. Dia menjawab: Kedua-nya kafir, dan kafir juga orang yang mencintai kedua-nya. Diriwayatkan juga dari Abu Hamzah ats-Tsu-mali bahwa dia pernah bertanya kepada Ali bin Husain tentang kedua orang itu (Abu Bakar dan Umar c), maka dia menjawab: Keduanya kafir, dan kafir juga orang yang setia kepada mereka.[2] Dalam Tafsir al-Qummi, saat menafsirkan firman Allah ayat 90: ( dalam surat an-Nahl )

dan Allah melarang dari perbuatan keji, ke-mungkaran dan permusuhan. Mereka menafsirkan: (perbuatan keji) ada-lah Abu Bakar, (kemungkaran) adalah Umar dan (permusuhan) adalah [3] Utsman. Al-Majlisi dalam kitab Biharul Anwar mengatakan: Riwayat yang menunjukkan kafirnya Abu Bakar dan Umar c beserta orang-orang yang sejenis dengan keduanya, pahala orang yang melaknat dan berlepas diri dari mereka dan riwayat bid'ah mereka sangat ba-nyak jika disebutkan di satu jilid ini, atau bahkan se-

andainya dalam buku berjilid-jilid. Namun apa yang kami paparkan sudah cukup bagi orang yang ingin diberi hidayah oleh Allah ke jalan yang lurus.[4] Bahkan al-Majlisi dalam kitab Biharul Anwar me-nyebutkan beberapa riwayat yang menyatakan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Mu'awiyah , se-muanya berada dalam peti-peti dari api neraka. Wal 'iyadzu billah.[5] Mereka (Syi'ah) juga mengatakan dalam kitab me-reka Ihqaqul Haqkarya alMar'asyi: Ya Allah berikan-lah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Laknatilah kedua patung Quraisy, kedua Jibt,[6] danThaghut-nya dan kedua anak perempuan mereka (maksudnya: Abu Bakar, Umar, Aisyah dan Hafshah). [7] Al-Majlisi dalam risalahnya yang berjudul al-'Aqa'id mengatakan: Di antara perkara yang termasuk fundamental agama imamiyyah ini adalah menghalal-kan nikah mut'ah, haji tamattu' dan berlepas diri dari tiga orang (Abu Bakar, Umar dan Utsman), Mu'awi-yah, Yazid bin Mu'awiyah dan setiap orang yang memerangi Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib).[8] Pada tanggal 10 Muharram, mereka membawa an-jing yang diberi nama Umar, kemudian mereka bera-mai-ramai memukulinya dengan tongkat dan melemparinya dengan batu sampai mati, lalu mereka men-datangkan kambing betina yang diberi nama Aisyah, lalu mereka mulai mencabuti bulunya dan memukuli-nya dengan sepatu sampai mati.[9] Sebagaimana juga mereka mengadakan pesta merayakan hari kematian Umar bin al-Khatthab , dan memberikan penghargaan kepada pembunuhnya: Abu Lu'lu'ah seorang Majusi dengan gelar Pahlawan Agama.[10] Semoga Allah I meridhai para sahabat dan Ummahatul Mukminin para istri Rasul . Lihatlah wahai kaum Muslimin, betapa besar ke-bencian dan kotornya sekte ini yang menyimpang dari agama, dan betapa buruk serta kotornya ucapan-ucapan mereka yang dialamatkan kepada manusia-manusia terbaik setelah para nabi, padahal mereka di-puji oleh Allah dan Rasul-Nya, dan umat telah sepakat akan keadilan dan keutamaannya. Serta sejarah telah mencatat segala kebaikan, kepeloporan dan kesung-guhan mereka dalam menegakkan agama Islam.

Al-Kulaini, Furu'ul Kaafi, 115 Al-Majlisi, Biharul Anwar, juz 69, hal. 137 dan 138. Perlu diketahui bahwa sebenarnya Ali bin Husain dan semua Ahlul Bait berlepas diri dari hal ini, dan ini adalah tuduhan yang dilan-carkan orang-orang Rafidhah terhadap Ahlul Bait. Semoga Allah memerangi mereka, bagaimana bisa mereka berpaling. [3] Tafsir al-Qummi, 1/390 [4] Al-Majlisi, Biharul Anwar, 30/230 [5] Al-Majlisi, Biharul Anwar, 30/236 [6] Jibt adalah sihir, sebutan yang digunakan untuk sihir, tukang sihir, tukang ramal, dukun, berhala dan sejenisnya (editor). [7] Ihqaqul Haq, 1/337. Pembaca budiman, silakan lihat doa Sha-namai Quraisy di bagian akhir buku ini. [8] Al Majlisi, Risalah al-'Aqaaid, 58 [9] Ibrahim al-Jabhan semoga Allah menjaganya-, Tabdiduzh Zhalam wa Tanbiihun Niyaam,, 27 [10] Abbas al-Qummi, al-Kuna wal Alqaab, 2/55 [1] [2]

Sisi Kesamaan Antara Yahudi dan Rafidhah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v berkata: Bukti kesamaan antara Yahudi dan Rafidhah adalah bahwa fitnah yang ada pada Rafidhah itu persis dengan fitnah yang ada pada Yahudi, yaitu jika orang Yahudi me-ngatakan yang layak memimpin kekuasaan hanyalah keluarga Daud, begitu juga menurut Rafidhah, tak layak memegang imamah(kepempinan) kecuali anak keturunan Ali. Orang Yahudi mengatakan: Tak ada jihad di ja-lan Allah sampai Dajjal keluar dan pedang turun di tangan. Sementara orang Rafidhah mengatakan: Ti-dak ada jihad di jalan Allah sampai Imam Mahdi (Imam ke dua belas mereka) keluar dan ada yang mengo-mandokan dari langit. Orang-orang Yahudi mengakhirkan shalat sampai munculnya bintang-bintang, seperti orang-orang Rafi-dhah mengakhirkan shalat Maghrib sampai munculnya bintang-bintang. Sedangkan hadits Rasulullah r mengingkari hal itu: Umatku masih dalam keadaan fitrah, selama ti-dak mengakhirkan shalat Maghrib sampai mun-culnya bintang.[1]

Orang-orang Yahudi memutarbalikkan Taurat dan merubahnya, sebagaimana orang Rafidhah memutar-balikkan al-Qur'an dan merubahnya. Orang-orang Yahudi tidak berpendapat bolehnya mengusap al-Khuf(sepatu bot) saat wudhuseba-gaimana orang-orang Rafidhah. Orang-orang Yahudi membenci malaikat Jibril. Mereka mengatakan ia musuh kami dari golongan ma-laikat, sebagaimana Rafidhah mengatakan malaikat Jibril salah alamat ketika menyampaikan wahyu kepada Muhammad .[2] Rafidhah sama dengan orang Nashrani dalam ma-salah maskawin, yaitu wanitawanita Nashrani tidak berhak mendapatkan maskawin karena mereka hanya untuk dipakai bersenang-senang (mut'ah), seperti Ra-fidhah melakukan nikah Mut'ah dan menghalalkannya. Tetapi orang-orang Yahudi dan Nashrani memili-ki dua keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang-orang Rafidhah: 1. Bila orang-orang Yahudi ditanya tentang siapa sebaik-baik pemeluk agama kalian? Mereka akan men-jawab para sahabat Nabi Musa u. 2. Bila orang-orang Nashrani ditanya siapa sebaik-baik pemeluk agama kalian? Mereka akan menjawab para sahabat setia Nabi Isa u. Tetapi jika orang Rafidhah ditanya tentang siapa yang paling buruk dari pemeluk agama kalian? Mereka menjawab para sahabat Muhammad r.[3] Syaikh Abdullah al-Jumaili dalam kitabnya Badzlul Majhud fi Musyabahatir Rafidhati lil Yahud beberapa kemiripan antara Rafidhah dengan orang Yahudi: Orang Rafidhah dan Yahudi selalu mengkafirkan serta menghalalkan darah dan harta orang-orang yang selain mereka. Beliau (Syaikh Abdullah al-Jumaili) berkata, bahwa orang Yahudi membagi manusia menjadi dua: Yahudi dan Umamiyyun. Umamiyyun artinya orang-orang yang bukan Yahudi. Orang yang beriman hanyalah orang Yahudi saja, sedang orang Umamiy-yun adalah orangorang kafir, penyembah berhala, ti-dak mengetahui Allah . Dalam kitab Talmud dikata-kan: Setiap golongan yang bukan Yahudi adalah pe-nyembah berhala. Ini sesuai dengan ajaran Hakho-mat. Bahkan Isa al-Masih pun tak luput mereka kafirkan sebagaimana dalam kitab Talmud, mereka mensifati Nabi Isa dengan perkataan: Kafir, tidak me-ngerti Allah. Ini seperti keyakinan orang Rafidhah hanya mereka kaum Mukminin, sedang kaum Muslimin yang lain adalah murtad tak mendapatkan bagian Islam sedikitpun. Kaum Rafidhah ini mengkafirkan kaum Muslimin karena dianggap belum menjalankan ajaran al-Wilayah yang mereka yakini, karena ajaran ini ter-masuk dalam salah satu rukun Islam mereka. Maka setiap yang belum menjalankan ajaran al-Wilayah ini, mereka nyatakan sebagai kafir dan seperti orang yang belum mengucapkan dua kalimat Syaha-dat, atau me-

ninggalkan shalat. Bahkan ajaran al-Wilayah ini menu-rut mereka lebih penting dari semua rukun Islam seba-gaimana diriwayatkan oleh al-Barqi dari Abu Abdillah alaihissalam, dia mengatakan: Tidaklah seorang pun berada di atas agama Nabi Ibrahim kecuali kita dan pengikut kita, sedang semua manusia yang lain adalah lepas darinya. Dan dalam kitab Tafsir al-Qummi, diriwayatkan dari Abu Abdillah alaihissalam bahwa dia berkata: Tidaklah berada di atas agama Islam orang yang bukan golongan kita dan bukan golongan mereka (Syi'ah yang lain) sampai Hari Kiamat.[4]

[1] [2]

Zawaid dengan sanad hasan.

HR. Imam Ahmad (4/147, 5/417, 422) Abu Dawud (4/8) dan Ibnu Majah dalam az-

Bagian sekte Rafidhah bernama al-Gharibiyyah mengatakan, Jibril telah berkhianat disebabkan telah menyampaikan wahyu kepada Muhammad r, sebab yang berhak membawa risalah Islam ini adalah Ali bin Abi Thalib, dengan sebab ini mereka mengatakan al-Amin (Jibril telah berkhianat dan menghalangi wahyudari Ali). Renungkanlah wahai saudaraku Muslim, ba-gaimana mereka menyangka Jibril telah berkhianat sedangkan Allah I telah mensifatinya dengan al-amin (terpercaya) dengan firman-Nya:

BF{$# yr9$# m/ tAttR

"Telah turun kepadanya Jibril yang dipercaya." (Asy-Syu'ara:193)


Dan firman-Nya yang lain: &Br& NrO 8$sB

"Ditaati dan dipercaya." (At-Takwir : 21)


Lalu apa komentar Anda tentang aqidah ini yang diyakini oleh orang-orang Rafidhah? [3] Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah, 1/24 [4] Abdullah al-Jumaili, Badzlul Majhud fi Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, 2/559, 568. Untuk keterangan lebih lanjut berkaitan dengan golongan Rafidhah ini yang mengkafirkan golongan-go-longan kaum Muslimin, silakan lihat buku saya asy-Syi'ah al- Itsna 'Asyriyyah wa Takfiruhum li 'Umumil Muslimin (Kelom-pok Syi'ah al-Itsna 'Asyriyah dan Bagaimana Mereka Mengka-firkan Semua Kaum Muslimin).

Aqidah Rafidhah tentang Imam-imam Mereka

Orang-orang Rafidhah mengaku bahwa para imam mereka adalahma'shum (terjaga dari kesalahan dan dosa) serta mengetahui yang ghaib. Dikutip oleh al-Kulaini dalam bukunya Ushulul Kaafi, Imam Ja'far ash-Shadiq berkata, Kami adalah gudang ilmunya Allah dan kami penerjemah perintah Allah serta kami kaum yang ma'shum, diwajibkan taat kepada kami, dan dilarang

menyelisihi kami, dan kami menjadi saksi atas perbuatan manusia di bawah langit dan di atas bumi.[1] Al-Kulaini pun berpendapat dalam buku yang sa-ma, bab: Para Imam Dapat Mengetahui Apa Saja Jika Menghendakinya, dari Ja'far ia berkata: Imam bisa mengetahui apa saja jika memang menghendaki-nya dan mereka mengetahui kapan mereka mati dan tidak mati melainkan karena keinginan sendiri. [2] Al-Khameiniorang binasadalam bukunya Tahrirul Wasilahmengatakan: Sesungguhnya imam kita mempunyai kedudukan terpuji dan derajat yang tinggi, memiliki kekuasaan penciptaan, yang semua makhluk tunduk kepada kekuasaan dan kekuatannya. Dia juga mengatakan: Sesungguhnya kita (imam yang dua belas) memiliki keadaaan-keadaan tertentu bersa-ma Allah yang tidak dimiliki oleh seorang malaikat yang dekat dengan Allah atau nabi yang diutus. [3] Bahkan orang-orang Rafidhah keterlaluan dalam mengagungkan imam-imam mereka, sampai melebih-kan mereka di atas semua nabi kecuali Nabi Muham-mad . Sebagaimana dikatakan oleh al-Majlisi dalam bukunya Mir'aatul 'Uquul: Dan sesungguhnya mere-ka lebih utama dan lebih mulia daripada semua nabi kecuali Nabi kita Muhammad.[4] Pengkultusan mereka tidak hanya sampai di sini saja, mereka mengatakan juga bahwa para imam me-reka memiliki kekuasaan penciptaan, sebagaimana dikatakan oleh al-Khuu'iy dalam bukunyaMishbahul Faqahah: Sepertinya sudah tidak ada keraguan lagi akan kekuasaan mereka terhadap semua makhluk, berdasarkan yang dipahami dari riwayat-riwayat yang ada, karena mereka itu adalah perantara dalam penciptaan dan semua yang ada tercipta karena adanya mereka. Karena merekalah semua ada, seandainya bukan ka-rena mereka, manusia tidak akan diciptakan. Maka ma-nusia tercipta untuk mereka dan dengan mereka terciptanya manusia. Merekalah perantara dalam penam-bahan makhluk, bahkan mereka itu mempunyai ke-kuasaan penciptaan di bawah Sang Pencipta. Maka kekuasaan ini setara dengan kekuasaan Allah terha-dap makhluk.[5] Kita berlindung kepada Allah dari sikap melampaui batas dan kesesatan ini. Bagaimana mungkin para imam mereka adalah perantara dalam penciptaan? Bagaimana para imam tersebut adalah sebab penciptaan makhluk? Dan bagaimana mereka adalah sebab pen-ciptaan semua manusia? Bagaimana mungkin manusia tercipta untuk para imam itu, sedangkan Allah ber-firman:

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia me-lainkan agar mereka menyembah-Ku. (Adz-Dzariyat: 56) Kita berlindung kepada Allah dari keyakinan-ke-yakinan sesat ini yang jauh dari al-Quran dan Sunnah yang suci. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Rafidhah menyangka bahwa urusan agama diserahkan kepada para ulama dan ahli ibadah di antara mereka. Halal adalah yang menurut mereka halal dan haram adalah yang menurut mereka haram serta konsep keagamaan adalah yang mereka syariatkan.[6] Jika Anda wahai pembaca yang budiman ingin mengetahui kekafiran, kemusyrikan, dan pengultusan yang berlebih-lebihan yang diyakini oleh orangorang Rafidhah, bacalah bait-bait berikut ini yang dilantun-kan oleh tokoh kontemporer mereka yang bernama Ibrahim al-Amili tentang penyanjungan terhadap Ali bin Abi Thalib : Wahai Abu Hasan engkau adalah mata Tuhan Dan tanda kekuasaan-Nya yang tinggi Engkau adalah yang mengerti semua yang ghaib Tidaklah ada sesuatu yang tersembunyi darimu Engkaulah yang menggerakkan perjalanan semua yang ada Dan milikmulah samudera-samudera yang luas Milikmu segala urusan, bila engkau menghendaki engkau hidupkan besok Dan bila engkau menghendaki engkau cabut nyawa Penyair lain yang bernama Ali bin Sulaiman al-Mazidi ketika memuji Ali bin Abi Thalib t, berkata dalam bait-bait syairnya: Abu Hasan engkau suami sang perawan Engkau berada di sisi Allah dan diri Rasul Purnama kesempurnaan dan matahari kecerdasan Hamba Rabb dan engkau adalah raja Nabi memanggilmu pada hari Kudair Memberi ketetapan untukmu pada hari Ghadir Bahwa engkau pemimpin kaum Mukminin Dan mengalungkan kepemimpinannya di lehermu Kepadamu kembali segala urusan Engkau mengetahui segala yang terdapat di dalam dada

Engkaulah yang membangkitkan penghuni kubur Kiamat ada dalam ketetapanmu Engkau maha mendengar lagi maha mengetahui Maha kuasa atas segala sesuatu Jika bukan karenamu bintang tak akan berjalan Dan tidak akan ada planet yang beredar. Engkau mengetahui segala makhluk Dan engkau yang berbicara dengan Ash-habul Kahfi Jika bukan karenamu maka Musa tidak akan berbicara dengan Allah Maha suci zat yang menjadikanmu Engkau akan mengetahui rahasia namamu di alam raya Cintamu bagaikan matahari di pelupuk mata Murkamu pada orang-orang yang membencimu Bak bara, dan tidak ada keberuntungan bagi mereka yang membencimu Maka siapa yang telah berlalu dan yang akan datang Siapakah para Nabi, siapakah pula para Rasul Apa pula pena lauh mahfuzh, apa pula alam raya Semuanya menghamba dan menjadi budakmu Abu Hasan, wahai pengatur alam Gua pelindung orang-orang terusir, tempat berteduh para musafir Pemberi minum bagi pecintamu pada Hari Kiamat Mengacuhkan orang yang mengingkarimu pada Hari Kbangkitan Abu Hasan, wahai Ali yang agung Kecintaanku padamu menjadi penerang dalam kuburku Namamu bagiku, menjadi penghibur di kala susah Cintaku padamu jalan menuju surgamu Engkau penambah bekal bagi diriku Tatkala datang keputusan Ilah yang mulia. Ketika penyeru mengumumkan, bersegeralah, bersegeralah Tidak mungkin engkau meninggalkan orang yang berlindung kepadamu

Apakah mungkin seorang Muslim yang komitmen kepada agamanya membuat syair seperti ini? Demi Allah, sesungguhnya orang-orang jahiliyah dulu pun ti-dak pernah terperosok ke dalam kesyirikan, kekafiran, dan berlebih-lebihan sebagaimana keterperosokan yang dialami oleh penganut Rafidhah sesat ini.

[1] [2] [3] [4] [5] [6]

Ushuulul Kaafi, 1/165 Ushulul Kaafi, dalam Kitabul Hujjah, 1/258 Al Khameini, Tahriirul Wasilah, 52, 94 Al-Majlisi, Mir'aatul 'Uquul fi Syarhi Akhbarir Rasul, 2/ 290 Abul Qasim al-Khuu'iy, Mishbahul Faqahah, 5/ 33 Minhajus Sunnah, hal. 1/482

Aqidah Rajah bagi Rafidhah

Orang-orang Rafidhah membuat bid'ah yang sa-ngat besar, yaitu aqidahRaj'ah.[1] Al-Mufid berkata, Syi'ah Imamiyah sepakat keharusan hidupnya kem-bali sejumlah orang yang sudah mati.[2] Raj'ah yang akan dialami oleh imam terakhir Syi'ah yang disebut dengan AlQaim di akhir zaman, akan keluar dari sirdab (gua tempat persembunyiannya) dan akan menyembelih semua lawan politiknya dan akan mengembalikan kepada orang-orang Syi'ah hak-hak mereka yang telah dirampas oleh kelompok-kelompok lain sepanjang abad.[3] Sayyid al-Murtadha mengatakan dalam bukunya al-Masail an-Nashiriah, bahwa Abu Bakar dan Umar akan disalib di sebuah pohon, pada masa bangkitnya al-Mahdi imam mereka yang ke dua belas yang dijuluki Qa'imu Alu Muhammad, di mana pohon itu hidup dalam keadaan segar dan akan langsung kering sete-lah digunakan untuk menyalib.[4]

Dikatakan oleh al-Majlisi dalam bukunya Haqqul Yaqin mengutip perkataan Muhammad al-Baqir: Jika al-Mahdi muncul ia akan menghidupkan Aisyah x untuk dihukum.[5] Kemudian aqidah Raj'ah ini mengalami perkem-bangan yang sangat cepat sehingga mereka mengata-kan bahwa semua orang Syi'ah bersama para imam-nya, musuh-musuhnya dan para pemimpinnya akan dihidupkan kembali. Aqidah khurafat ini jelas membuka tabir kedeng-kian yang amat dalam pada jiwa orang-orang Syi'ah, yang memunculkan seperti ungkapan-ungkapan ko-song di atas. Aqidah ini dijadikan sebagai sarana oleh golong-an Saba'iyah untuk mengingkari Hari Kiamat. Yang dimaksud dengan aqidah Raj'ah ini adalah pembalasan terhadap musuhmusuh Syi'ah. Tapi sia-pakah musuh-musuh Syi'ah? Riwayat berikut ini menjelaskan kepada Anda wahai saudaraku Muslim, kedeng-kian orang-orang Rafidhah kepada Ahlus Sunnah dan loyalitas mereka kepada orang Yahudi dan Nashrani, yaitu riwayat yang disebutkan oleh al-Majlisi dalam ki-tabnya Biharul Anwar dari Abu Bashir, bahwa Abu Abdillah alaihissalam berkata kepadanya: Wahai Abu Muhammad, sepertinya aku melihat al-Qa'im turun di masjid as-Sahlah dengan membawa keluarga dan anak-anaknya, sampai pada perkataannya (Abu Bashir): Aku bertanya: Bagaimana perlakuan dia ter-hadap orang-orang kafir dzimmi? Dia menjawab: Dia akan mengajak damai dengan mereka sebagaimana Rasulullah telah mengajak damai mereka. Dan me-reka akan membayar jizyah (upeti) dengan tangan me-reka dalam keadaan hina. Aku bertanya lagi: Bagai-mana jika ada yang memusuhi kalian?. Dia menja-wab: Tidak wahai Abu Muhammad, tidaklah orang yang menyelisihi kita akan mendapatkan bagian sedi-kitpun, sesungguhnya Allah telah menghalalkan bagi kita darah mereka ketika al-Qa'im datang. Memang sekarang darah mereka haram, dan jangan kamu ter-pengaruh dengan seorang pun, nanti bila al-Qa'im te-lah datang, Dia akan membalaskan dendam untuk Allah, Rasul-Nya dan untuk kita semuanya.[6] Lihatlah wahai saudaraku se-Islam, bagaimana Imam Mahdi-nya orang Syi'ah mengajak damai orang Yahudi dan Nashrani, sebaliknya malah memerangi orangorang yang menyelisihi mereka, yaitu Ahlus Sunnah. Mungkin seseorang akan berkata: Ancaman ini di-arahkan kepada orang-orang yang memusuhi Ahlul Bait, sedang Ahlus Sunnah tidak memusuhi Ahlul Bait, maka Ahlus Sunnah tidak terkena ancaman halal da-rah dari Imam Mahdi-nya orang-orang Syi'ah.

Kita jawab, bahwa banyak riwayat mereka yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan musuh Ahlul Bait adalah Ahlus Sunnah. Untuk mengetahui lebih lanjut masalah ini, silakan lihat buku al-Mahasi-nun Nafsaaniyyah tulisan Husain Ali 'Asfur ad- Dirazi al-Bahrani, dan kitabas-Syihaabuts Tsaqib fi Bayaani Ma'nan Naashib karangan Yusuf al-Bahrani.

[1] [2] [3] [4] [5] [6]

Raj'ah artinya kembali hidup setelah mati sebelum Hari Kiamat.(penj). Al-Mufid, Awa'ilul Maqalat, 51 Muhibbuddin al-Khatib, al-Khutut al-'Aridhah, 80 Al-Mufid, Awa'ilul Maqalat, 95 Muhammad al-Baqir al-Majlisi, Haqqul Yaqin, 347 Al-Najisi, Biharul Anwar, 52/376

qidah Rafidhah tentang Taqiyyah

Taqiyyah didefinisikan oleh salah seorang tokoh kontemporer Syi'ah dengan: Suatu ucapan atau per-buatan yang Anda lakukan tidak sesuai dengan keya-kinan, untuk menghindari bahaya yang mengancam jiwa, harta atau untuk menjaga kehormatan Anda.[1] Bahkan orang-orang Syi'ah beranggapan bahwa Rasulullah pernah melakukannya, yaitu ketika to-koh kaum munafiqin yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul meninggal dunia, di mana beliau da-tang untuk menshalatinya, maka Umar berkata ke-pada beliau, Bukankah Allah telah melarangmu un-tuk melakukan hal itu, maka Rasulullah menjawab, Celakalah engkau, tahukah engkau apa yang aku ba-ca? Sesungguhnya aku mengucapkan, Ya Allah, isi-lah mulutnya dengan api dan penuhilah kuburannya dengan api dan masukkan dia ke dalam api.[2]

Lihatlah wahai saudaraku Muslim, bagaimana me-reka menisbatkan kedustaan kepada Rasulullah ? Apakah masuk akal, jika sahabat Rasulullah meman-dangnya dengan penuh kasihan sementara Rasulullah melaknatnya. Al-Kulaini menukil dalam bukunya Ushulul Kaafi bahwa Abu Abdillah berkata: Hai Abu Umar, sesung-guhnya sembilan puluh persen dari agama ini adalah taqiyyah, tidak ada agama bagi orang yang tidak ber-taqiyyah. Dan taqiyyah boleh dilakukan dalam segala hal, kecuali dalam urusan nabidz (perasan anggur se-belum menjadi khamr) dan (tidak bolehnya) mengu-sap dua khuf (sepatu bot). Dinukil juga oleh al-Kulaini dari Abu Abdillah: Ja-galah agama kalian, tutupi dengan taqiyyah, tidak di-anggap beriman seseorang yang tidak ber-taqiyyah.[3] Bahkan mereka sampai membolehkan bersumpah dengan selain Allah dengan alasan untuk taqiyyah ini, wal 'iyaadzu billah. Al-Hurr al-'Amili dalam bukunya Wasa'ilus Syi'ah meriwayatkan dari Ibnu Bukair, dari Zurarah dari Abu Ja'far: Aku (Zurarah) bertanya ke-padanya (Abu Ja'far): Sesungguhnya bila kita mele-wati mereka, maka mereka akan memaksa kita untuk bersumpah berkaitan dengan harta kita padahal kita sudah menunaikan zakatnya. Maka dia menjawab: Wahai Zurarah, jika kamu takut maka bersumpahlah sesuai dengan yang mereka inginkan. Aku bertanya lagi: Aku menjadi penebus untukmu, boleh bersum-pah demi talak dan demi memerdekakan budak?. Dia menjawab: Ya, demi apapun yang mereka inginkan. Dan diriwayatkan dari Sama'ah, dari Abu Abdillah alaihissalam berkata: Bila seseorang bersumpah kare-na taqiyyah, maka ini tidak mengapa bila dia dipaksa dan harus melakukannya.[4] Rafidhah mengatakan bahwa taqiyyah adalah me-rupakan kewajiban. Ajaran Syi'ah tidak akan tegak tan-pa taqiyyah. Mereka menyampaikan dasar-dasar taqiyyah dengan terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Mereka bermuamalah dengan taqiyyah ini khususnya ketika mereka dalam kondisi yang membahayakan. Karena itu, waspadailah wahai umat Islam dari ba-haya Rafidhah ini.

[1]

Muhammad Jawad Mughniyah, asy-Syi'ah fi Mizan, 47

[2] [3] [4]

Furu'ul Kaafi Kitabul Janaaiz, hal.188 Ushulul Kaafi, hal. 482 483 Al-Hurr al-'Amiliy, Wasaailus Syi'ah, 16/136, 137

Aqidah Rafidhah tentang ath-Thinah

At-Thinah yang dimaksudkan oleh Rafidhah di sini adalah tanah kuburan Husain . Dinukil oleh Muhammad an-Nu'man al-Haritsi yang dijuluki dengan asy-Syaikh al-Mufid salah seorang pembawa paham kesesatan Rafidhah dalam bukunya alMazar, dari Abu Abdillah ia berkata, Tanah kubur-an Husain adalah obat untuk segala penyakit, obat yang paling agung. Abdullah berkata, Tahnik-lah[1] anak-anakmu de-ngan debu kuburan Husain. Masih dari an-Nu'man, seorang dari Khurasan di-utus untuk menyampaikan kepada Abul Hasan ar-Ridha bingkisan berupa sekumpulan baju, dan diselip-kan di sela-sela baju tersebut sedikit tanah kuburan Husain. Maka Abul Hasan berkata kepada utusan ter-sebut: Apa ini? Ia menjawab: Ini tanah kuburan Hu-sain, tidak dihadiahkan kepada seseorang baju atau yang lainnya kecuali disertakan bersamanya tanah ku-buran Husain, dan dikatakan untuk keselamatan de-ngan izin Allah. Diriwayatkan, ada seseorang bertanya kepada ash-Shadiq tentang faidah memakan tanah kuburan Husain, maka ash-Shadiq menjelaskan kepadanya, Ji-ka makan tanah kuburan ini bacalah: Ya Allah, saya memohon kepada-Mu, dengan perantaraan malaikat yang telah menggenggamnya dan memohon kepada-Mu dengan perantaraan nabi yang telah menyimpan-nya, dan dengan perantaraan Washi yang telah berse-mayam di dalamnya, agar Engkau berikan shalawat kepada Muhammad, dan keluarganya, dan agar Eng-kau jadikan tanah ini obat untuk segala macam pe-nyakit, dan keselamatan dari segala ketakutan, dan penjagaan dari segala keburukan. Abu Abdillah pernah ditanya tentang khasiat peng-gunaan dua tanah, yaitu tanah kuburan Hamzah dan Husain, dan keistimewaan dari masing-masing dua ta-nah tersebut, beliau menjawab, Biji tasbih yang ter -buat dari tanah kuburan Husain dapat bertasbih (mem-baca bacaansubhanallah) di tangan, meskipun orang itu tidak bertasbih.[2] Orang-orang Rafidhah juga mengaku bahwa orang Syi'ah diciptakan dari tanah khusus dan orang Sunni diciptakan dari tanah yang lain. Kemudian ke-dua tanah tersebut dicampur dengan cara tertentu, se-hingga ketika dalam diri orang Syi'ah ada kemaksiatan dan tindakan kejahatan, maka ini disebabkan penga-ruh dengan tanah asal diciptakannya orang Sunni. Dan bila dalam diri orang Sunni terdapat hal

baik dan sikap amanah, maka itu karena pengaruh tanah ba-han ciptaan orang Syi'ah. Karena itu, bila tiba Hari Kiamat, maka segala ke-jelekan dan dosa orang-orang Syi'ah akan dipikulkan kepada orang-orang Ahlus Sunnah. Dan sebaliknya, segala kebaikan Ahlus Sunnah akan diberikan kepada orang-orang Syi'ah.[3]

[1] [2] [3]

Tahnik adalah makanan yang diberikan pertama kali kepada ba-yi yang baru lahir. (penj). Kitab al-Mazaar karya ulama mereka yang bernama al-Mufid, 125. 'Ilalus Syarai', 490 491 dan Biharul Anwar, 5/247 248

Aqidah Rafidhah tentang Ahlus Sunnah

Aqidah Rafidhah mempunyai prinsip halalnya har-ta dan jiwa Ahlus Sunnah. Ash-Shaduq meriwayatkan suatu riwayat yang di-sandarkan kepada Daud bin Farqad dalam bukunya al-'Ilal, bahwa ia (Daud) berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdillah, apa pendapat Anda tentanganNashib?[1] Ia menjawab halal darahnya, tapi saya mengkhawatirkan keselamatan Anda, maka jika kamu mam-pu menggulingkan tembok sehingga merobohi orang Ahlus Sunnah, atau menenggelamkannya di lautan, sehingga tak ada yangmenyaksikan atas perbuatanmu maka lakukanlah. Kemudian sayabertanya lagi, Bagaimana pendapat engkau tentang hartanya? Iamen-jawab, Ambillah, jika kamu bisa.[2] Orang Rafidhah juga meyakini bahwa anak-anak mereka terlahir dalam keadaan suci, berbeda dengan yang selain mereka. Hasyim alBahrani mengatakan dalam tafsirnya al-Burhan dari Maitsam bin Yahya, dari Ja'far bin Muhammad mengatakan: Tidaklah se-orang anak terlahir, kecuali salah satu iblis berada di sampingnya. Jika diketahui bahwa anak tersebut ada-lah dari golongan Syi'ah, maka kita akan terlindungi dari setan itu.

Namun bila bukan dari golongan Syi'ah kita, setan tadi akan menusukkan jari telunjuknya di duburnya, maka menjadi berlubang dan demikianlah zakar akan keluar ke depan. Bila anak ini perempuan dia tusukkan jari telunjuknya ke kemaluannya, maka akan menjadi pezina. Saat itulahbayi menangis dengan keras ketika keluar dari perut ibunya.[3] Bahkan orang-orang Syi'ah Rafidhah menganggap bahwa semua manusia adalah anak hasil zina kecuali orang Syi'ah!! Al-Kulaini dalam bukunya arRaudhatu Minal Kaafi meriwayatkan dari Abu Hamzah, dia berkata kepada Abu Ja'far: Sesungguhnya sebagian re-kan-rekan kita berdusta dan melontarkan tuduhan bo-hong kepada orang-orang yang menyelisihi mereka. Maka dia menjawab: Itu untuk membela diri dengan cara yang baik. Kemudian dia berkata: Demi Allah wahai Abu Hamzah, sesungguhnya semua manusia adalah anak pelacur kecuali Syi'ah kita.[4] Tidak cukup di situ saja, bahkan mereka berpen-dapat bahwa kekufuran orang-orang Ahlus Sunnah lebih besar daripada kekufuranorangorang Yahudi dan Nashrani, dikarenakan mereka memang kafir asli, sedang Ahlus Sunnah dianggap murtad (keluar dari Islam) dan kafir setelah Islam (murtad) lebih berat da-ripada kafir asli berdasarkan kesepakatan ulama. Karena itu, orang-orang Rafidhah membantu orang-orang kafir dalam peperangan melawan orang-orang Islam sebagaimana disaksikan oleh sejarah.[5] Dikatakan dalam kitab Wasaa'ilusy Syi'ah, bahwa al-Fudhail bin Yasar bertanya kepada Abu Ja'far tentang wanita Rafidhah, apakahboleh dikawinkan de-ngan laki-laki Ahlus Sunnah? Ia menjawab: Tidak, karena laki-laki Ahlus Sunnah (yang sesuai penamaan mereka an-Nashib) adalah kafir.[6] Sebenarnya istilah an-Nashib dalam pandangan Ahlus Sunnah adalah orangorang yang membenci Ali bin Abi Thalib t, tetapi pengikut Rafidhah menjuluki pengikut Ahlussunnah dengan an-Nashib dikarenakan mereka mendahulukan kepemimpinan Abu Bakar,Umar dan Utsman atas Ali bin Abi Thalib y. Dan sebenarnya jelas sekali, bahwa keutamaan Abu Bakar, Umar dan Utsman atas Ali bin Abi Thalib ini sudah ada pada masa Rasulullahr, sebagai bukti-nya hadits riwayat Ibnu Umar c: r

Kami pernah memilih manusia terbaik (selain Rasulullah) pada masa Rasulullah r, maka kami memilih Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Ustman. (HR. Al-Bukhari) Ditambahkan oleh ath-Thabrani dalam al-Kabir: r Kemudian Nabi r mengetahui hal itu, dan ti-dak mengingkarinya Dikatakan oleh Ibnu Asakir, Kami mengutama-kan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali y. Diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya, dari Ali t, beliau rberkata Sebaik-

baik umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar, kemudian Umar, jika kau mengharapkan pasti aku katakan yangketiganya. Adz-Dzahabi v mengatakan hadits ini mutawatir.[7]

[1] [2] [3] [4] [5]

Orang-orang Syi'ah menamakan Ahlus Sunnah dengan sebutan an-Nashib.

Al-Mahasin an-Nafsaniyyah, hal. 166 Hasyim al-Bahrani, Tafsir al-Burhan, 2/ 300 Al-Kulaini, Ar-Roudhotu Minal Kaafi, 8/ 285.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Orang-orang Rafidhah telah membantu Tatar(pasukan Tatar) ketika memerangi negara-negara Islam (Majmu' alFatawa, 35/151). Lihat jugakitab Kaifa Dakhalat Tatar fi Biladil Muslimin (Bagaimana Tatar Memasuki Wilayah Umat Islam),oleh Sulaiman bin Hamad al-Audah. Lihatlah juga wahai saudaraku bagaimana kelompok Syi'ah Iraq bersatu dengan para penjajah, bahkan para pemimpin rujukan mereka sangat mendukung pembantaian terhadap Ahlus Sunnah di kota Falujah dan kota-kota basis Ahlus Sunnah lain.

[6] [7]

Al-Hurr al-Amili, Wasailusy Syi'ah, 7/431, at-Tahdzib, 7/303 Syaikh Abdullah bin al-Jibrin, at-Ta'liqat 'Ala Matni Lum'atil I'tiqaad, 91

Aqidah Rafidhah tentang Nikah Mutah dan Keutamaannya

Mut'ah[1] memiliki keistimewaan yang besar dalam aqidah Rafidhah

kita berlindung kepadaAllah dari kesesatan iniDikatakan dalam buku Minhajus Sha-diqin yang ditulis oleh Fathullah al-Kasyani, dari ash-Shadiq: Mut'ah adalah bagian dari agamaku, agama nenek moyangku.Barangsiapa yang mengamalkannya berarti ia mengamalkan agama kami. Barangsiapa yang mengingkarinya berarti ia mengingkari agama kami, bahkan ia bisa dianggapberagama s elain agama kami. Anak yang dilahirkan dari hasil perkawinan mut'ah lebih utamadaripada anak yang dilahi rkan melalui istri yang tetap. Orang yang mengingkari nikah mut'ah adalah kafir dan murtad. [2] Dinukil oleh al-Qummi dalam bukunya Man laa Yahdhuruhul Faqih, dari Abdillah bin Sinan, dari Abi Abdillah, ia berkata, Sesungguhnya Allah I meng-haramkan atas orangorang Syi'ahsegala minuman yang memabukkan, dan menggantikan bagi mereka dengan mut'ah.[3] Disebutkan dalam Tafsiir Minhajus Shadiqin ka-rangan Mulla Fathullah al-Kasyani bahwa Nabir bersabda: Barangsiapa melakukan nikah mut'ah seka-li, maka dia telah merdeka dari neraka sepertiga jiwa-nya. Barangsiapa melakukannya dua kali, maka dua pertiga jiwanyatelah terbebas dari neraka. Barangsiapa melakukannya tiga kali, maka telah sempurnaterbebas dari neraka. Dalam kitab ini juga disebutkan bahwa Nabi r bersabda: Barangsiapa melakukan nikah mut'ah sekali, maka dia telah selamat dari murka Allah Yang Mahaperkasa. Barangsiapamelakukannya dua kali, maka akan dikumpulkan bersama orang-orang shalih. Barangsiapa melakukannya tiga kali, maka akan berde-sak denganku di surga-surga. Juga dikatakan bahwa Nabi r bersabda: Barangsiapa melakukan nikah mut'ah sekali, maka diatelah mendapatkan derajat seperti Husain. Barangsiapa melakukannya dua kali, makaderajatnya seperti Hasan. Barangsiapa melakukannya tiga kali, maka derajatnya seperti Ali binAbi Thalib. Barangsiapa bermut'ah empat kali, maka derajatnya seperti derajatku.
[4]

Rafidhah tidak membatasi dengan jumlah tertentu dalam mut'ah. Disebutkan dalam buku Furu'ul Kaafi, at-Tahdzib dan al-Istibshar, dari Zurarah, ia bertanya kepada Abu Abdillah: Berapa jumlah wanita yang boleh dimut'ah, apakah hanya empat wanita? Ia menjawab:Nikahilah (dengan mut'ah) seribu wanita, kare-na mereka adalah wanita-wanita sewaan. Dari Muhammad bin Muslim dari Abu Ja'far, ia berpendapat tentang mut'ah, bahwa ia tidakhanya terbatas pada empat wanita, karena mereka tak perlu dicerai, tidak diwarisi, karena mereka adalah wanita sewaan.[5] Bagaimana kita bisa menerima dan membenarkan nikah seperti ini, sementara Allah Iberfirman:

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka ataubudak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al-Mukminun: 5-7) Dari ayat di atas jelas, bahwa yang diperbolehkan untuk disetubuhi adalah istri yang sah, dan hamba sahaya yang dimilikinya, selain dari itu diharamkan. Wa-nita yang dimut'ah adalah wanita sewaan, bukan istri, tidak mendapat warisan dan tidak perlu dicerai, berarti wanita iniadalah pelacur semoga Allah melindungi kita dari hal ini. Syaikh Abdullah bin Jibrin berkata, Orang-orang Rafidhah menghalalkan nikah mut'ah berdalil dengan ayat:

Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak -budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) seba-gai ketetapanNya atas kamu.Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, maka berikanlah ke-pada mereka maharnya (dengan sempurna), se-bagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah sa-ling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. (An-Nisa: 24) Untuk menjawab dalil mereka, maka bisa dikata-kan, ayat-ayat di bawah ini sampai denganayat yang dijadikan sandaran oleh orang Syiah, adalah berbicara masalah nikah yang sebenarnya dimulai dengan ayat:

Tidak halal bagi kamu, mempusakai wanita de-ngan jalan paksa. (An-Nisa:19)

Dan jika ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain. (An-Nisa: 20)

Sampai dengan ayat:

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu. (An-Nisa: 22)

Kemudian ditambah lagi dengan ayat:


Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibu-mu. (An-Nisa: 23) Setelah Allah menyebutkan jumlah wanita yang haram dinikahi baik disebabkan nasab keturunan atau sebab lainnya. Allah I berfirman:

Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demi-kian. (An-Nisa: 24) Maksudnya selain wanita yang disebutkan di atas, atau dibolehkan bagi kalian menikahi wanita-wanita lainnya. Dan jika kalian menikahi mereka (selain yang di-sebutkan di atas) untuk kalian setubuhi, maka berikan maharnya yang telah kalian tentukan untuknya, dan jika mereka (para istri) membebaskan sebagian dari maharnya dengan kerelaan hati, maka tidak berdosa engkau menerimanya.

Inilah sebenarnya tafsir dari ayat tersebut sesuai dengan penafsiran mayoritas sahabat Nabi dan para ulama tafsir sesudahnya.[6] Lihatlah salah satu tokoh mereka yaitu at-Thuusiy dalam bukunya Tahdzibul Ahkam,sebenarnya menganggap jijik dengan nikah mut'ah ini seraya mencela-nya. Dia berkata: Bila wanita ini dari kalangan keluarga mulia tidak boleh dinikahi secara mut'ah, kare-na ini akan menjadikan keluarganya tercemar dan wa-nita itu menjadi hina.[7] Orang Rafidhah tidak berhenti sampai di situ saja, bahkan mereka memperbolehkan menyetubuhi wani-ta melalui duburnya. Disebutkan dalam buku al-Istibshar yang diriwa-yatkan dari Ali bin al-Hakam, ia berkata, Sayapernah mendengar Shafwan berkata, Saya berkata kepada arRidha, Seorang lelaki darimantan budakmu meminta saya untuk bertanya kepadamu tentang suatu masal ah, karena ia malu menanyakan langsung kepadamu. Maka ia berkata, Apa masalah itu? Ia menjawab, Bolehkah seorang laki-laki menyetubuhi istrinya melewati duburnya? Ia menjawab, Ya,boleh baginya.[8]

[1] [2] [3] [4] [5] [6]

Mut'ah adalah nikah kontrak dalam waktu tertentu. Bila sudah habis masanya, maka terputuslah ikatan pernikahan tersebut. Mulla Fathullah al-Kasyani, Minhajus Shadiqin, 2/495 Ibnu Babawaih al-Qummi, Man laa Yahdhuruhul Faqih, hal. 330 Mulla Fathullah al-Kasyani, Tafsir Manhajis Shadiqin, 2/492, 493

Al-Furu' minal Kaafi, 5/451, at-Tahdzib, 2/188


Penjelasan dari Syaikh Abdullah bin Jibrin, dalil lain Sunnah tentang pengharamannikah mut'ah adalah hadits ar-Rabi' bin Saburah al-Juhani, bapaknya menceritakan kepadanya bahwa ia pernah bersama Nabi, beliau r bersabda: dari assesungguhnya

"Wahai manusia, sesungguhnya saya pernah membolehkan bagi kalian nikah mut'ah. Ketahuilah, bahwa Allah telah mengha-ramkannya sampai Hari Kiamat, maka barangsiapa masih me-miliki, hendaklah melepaskannya dan jangan kalian ambil sedi-kitpun dari apa yang telah kalian berikan." (HR. Muslim, no. 1406) [7] At-Thuusiy, Tahdzibul Ahkam, 7/ 227 [8] Al-Istibshar, 3/243

Aqidah Rafidhah tentang Kota Najf dan Karbala serta Keutamaan Menziarahinya
Orang-orang Syi'ah beranggapan bahwa lokasi-lokasi kuburan para imam mereka, baik yang hanya diakui belaka atau memang benar itu kuburan mere-ka; sebagai tanah haram yang suci. Maka Kufah, Kar-bala dan Qumm adalah tanah haram. Mereka meriwayatkan dari ash-Shadiq, Allah I memiliki tanah haram yaitu Makkah, Rasulullah rme-miliki tanah haram yaitu Madinah Munawwarah, dan Ali bin Abi Thalib t memiliki tanahharam yaitu Kufah, dan kami memiliki tanah haram yaitu Qumm. Tanah Karbala bagi orang Syi'ah lebih utama da-ripada Ka'bah. Disebutkan dalam kitabBiharul Anwar dari Abu Abdillah, ia berkata: Sesungguhnya Allah menurunkan wahyu -Nya kepada Ka'bah dengan mengatakan, Jika bukan karena tanah Karbala Aku tidak mengutamakanmu, dan jika bukan karena imam yang bersemayam di tanah Karbala, Aku tidakmenciptakan-mu, dan Aku tidak menciptakan masjid yang engkau banggakan, diamlah kamu jangan bertingkah, jadilah kamu tumpukan dosa, hinadina, yang dihinakan dan jangansombong kepada tanah Karbala. Jika tidak, Aku akan menghempaskan kau ke NerakaJahannam.[1] Bahkan orang Rafidhah ini menjadikan ziarah ke kuburan Husain di Karbala lebih muliadaripada rukun Islam yang ke lima yaitu ibadah haji ke Baitullah!! Se-bagaimana alMajlisidalam bukunya Biharul Anwar menyebutkan riwayat dari Busyair ad-Dahhaan, dia bertanyakepada Abu Abdillah: Kadang aku tidak sem-pat menunaikan ibadah haji, maka bisa aku menziara-hi kuburan Husain? Dia menjawab: Bagus wahai Bu-syair, bila ada seorang Mukmin mendatangi kuburan Husain dengan menyadari akan haknya pada hari se-lain hari raya, maka akan dituliskan baginya dua pu-luh haji, dua puluh umrah yang mabrur dan diterima, serta dua puluh peperangan bersama Nabi atau bersa-ma pemimpin yang adil. Dan barangsiapa yang men-datangi kuburan Husain pada hari Arafah dengan me-nyadari akan haknya, maka akan dituliskan baginya seribu haji dan seribu umrah yang mabrur dan diteri-ma, serta seribu peperangan bersama Rasul atau pemimpin yang adil. Dalam buku ini juga dikatakan bahwa peziarah kuburan Husain di Karbala adalah orang-orang yang suci, sedang jamaah haji yang berada di Arafah ada-lah anak zina, wal 'iyadzu billah!!Sebagaimana dalam riwayat mereka dari Ali bin Asbath dari Abu Abdillah alaihissalam, dia mengatakan: Sesungguhnya Allah mengawali pandangan-Nya pada para peziarah ku-buran Husain pada siang hari Arafah. Ali bin Asbath bertanya: Sebelum Allah melihat kepadaorang-orang yang wukuf di Arafah? Dia menjawab: Ya. Aku bertanya: Bagaimana bisaseperti itu? Jawabnya: Karena di antara mereka ada anak-anak zina, sedangkan pada penziarah kuburan Husain tidak ada sedikit-pun anak-anak zina.[2] Bahkan tokoh rujukan mereka Ali as-Sistaani da-lam bukunya Minhajus Shalihin, menganggap shalat yang dilakukan di kuburan-kuburan lebih mulia dari-pada yang dilakukan di masjid. Dia berkata dalam masalah ke-562: Disunnahkan shalat di kuburan para imam alaihimussalam, bahkan dikatakan bahwa ini lebih mulia daripada shalat yang dilakukan di masjid, sebagaimana diriwayatkan bahwa shalat di kuburan Ali bin Abi Thalib t dilipatgandakan sebanyak dua ratus ribu kali lipat.[3] Lebih parah lagi salah satu tokoh mereka yaitu Abbas al-Kasyani dalam bukunya Mashabihul Jinaan, sangat melampaui batas sampai mengatakan: Tidak diragukan lagi bahwa tanah Karbala adalah tanah pa-ling suci dalam Islam. Berdasarkan nash-nash yang ada, tempat ini diberi keistimewaan dan kemuliaan yang tidak diberikan pada tanah atau daerah mana-pun. Tanah itu adalah tanah suci dan diberkahi, tanah yang tunduk dan rendah hati, tanah pilihan, tanah ha-ram yang aman dan berkah, tanah haram Allah dan RasulNya. Juga kubahnyaIslam, termasuk tempat yang dicintai Allah untuk dipakai beribadah dan berdoa

kepada-Nya, serta tanah Allah yang debunya bisa di-jadikan obat. Semua keistimewaan yang terkumpul di tanah Karbala ini tidak pernah terkumpul pada tempat lain termasuk Ka'bah. [4] Dalam kitab al-Mazaar, ditulis oleh Muhammad an-Nu'man yang dijuluki dengan as-Syaikh al-Mufid, menjelaskan keagungan masjid Kufah, meriwayatkan dari Abu Ja'far al-Baqir, ia mengatakan: Seandainya manusia tahu keutamaan yang ada pada masjid Kufah, niscaya mereka akan mempersiapkan bekal dan ken-daraan dari segala penjuru yang jauh. Shalat fardhu yang dilakukan di sana sebanding dengan melakukan ibadah haji sekali, dan shalat sunnah (di sana) seban-ding dengan melakukan ibadah umrah.[5] Dalam buku ini juga, dalam bab: Perkataan yang Diucapkan Saat Berdiri di Kuburan, yaitu penziarah kuburan Husain memberikan isyarat dengan tangan kanan kemudian membaca doa yang panjang, di antaranya bacaan doa: dan aku datang menziarahi-mu karena mengharapkan kaki yang mantap untuk hijrah kepadamu. Aku yakin bahwa Allah Yang Mulia PujianNya denganmu akan menghilangkan kegelisah-an, denganmu akan menurunkan rahmat, denganmu akan memegang bumi agar tidak terbenam bersama penghuninya, denganmu Allah menancapkan gununggunung pada pasaknya. Aku datang menghadap kepa-da tuhanku denganmu wahai junjunganku, untuk ter-penuhi segala hajatku dan terampunisegala dosaku.[6] Renungkanlah wahai pembaca yang budiman, ba-gaimana mereka jatuh dalam kemusyrikanberupa permohonan kepada selain Allah dalam memenuhi hajat; serta minta ampunan dosa dari manusia, sedangkan Allah I berfirman:

135
Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa se-lain daripada Allah? (Ali Imran 135)

[1] [2] [3] [4] [5] [6]

Kitab al-Bihar, 10/107 Al-Majlisi, Biharul Anwar, 85/ 98 As-Sistaani, Minhajus Shalihin, 1/187 Abbas al-Kasyaani, Mashabihul Jinaan, 360 Asy-Syaikh al-Mufid, kitab al-Mazaar, 20 Kitab al-Mazaar, asy-Syaikh al-Mufid, hal: 99

Sisi Perbedaan Antara Syiah dan Ahlus Sunnah

Nidzamuddin Muhammad al-Azhami mengatakan dalam kata pengantar bukunya Syiah danMutah, Perbedaan antara kita (Ahlus Sunnah) dan mereka (Syia h) tidak hanya berpusat padaperbedaan masalah fiqih yang sifatnya furuiyah saja, seperti masalah ni-

kah mutah, sekalilagi tidak. Pada hakikatnya perbe-daan terjadi dalam permasalahan yang sangat mendasar sekali. Perbedaan dalam segi aqidah, yang mana perbedaan ini bisa dilihat sebagai berikut: Pertama: Orang-orang Syiah mengatakan bah-wa al-Quran mengalami pengubahan dan pengurang-an, sedangkan kita mengatakan bahwa al-Quran ada-lah Kalamullah yang sempurna tidak ada pengurang-an, tidak pernah dan tidak akan ada penggantian, dan pengurangan atau perubahan sampai Hari Kiamat. Allah

I berfirman:

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr: 9) Kedua: Orang Syiah mengatakan bahwa para sahabat Nabi murtad setelah wafatnya Rasulullah r, kecuali sedikit saja dari mereka. Mereka mengkhianati amanah dan agama, khususnya tiga khalifah, yaitu: Abu Bakar, Umar dan Utsman y. Karena itu, tiga sahabat Nabi ini dianggap orang-orang yang paling besar kekafiran dan kesesatannya. Sedangkan kami (Ahlus Sunnah) mengatakan bahwa para sahabat Rasulullah r adalah sebaik-baik manusiasetelah para Nabi, mereka orangorang adil, tidak pernah dengan sengaja membuatkedustaaan kepada Nabi, dan dapat dipercaya dalam me riwayatkan hadits dari Nabi r. Ketiga: Orang Syiah mengatakan, para imam mereka yang jumlahnya 12 adalah mashum, dijaga dari kesalahan, mengetahui yang ghaib, mengetahui segala ilmu yang datang kepada para malaikat, para Nabi dan Rasul, mengetahui sesuatu yang sudah ber-lalu, yang akan tiba, tak ada sedikitpun yang samar bagi mereka, dan memahami semua bahasa yang ada di dunia ini, serta bumi ini diciptakan untuk mereka. Sedangkan kami (Ahlus Sunnah) mengatakan, bahwa mereka manusia biasa, sebagaimana yang lain, tidak ada perbedaan. Sebagian mereka ada yang ahli Fiqih, ulama, dan khalifah. Kami tidak menisbatkan kepada mereka sesuatu apapun yang tidak pernah me-reka dakwakan bagi diri mereka, karena mereka sen-diri mencegah hal itu dan berlepas diri darinya.[1]

[1]

Aqidah Rafidhah tentang Hari Asyura dan Keutamaannya Menurut Mereka

Mukaddimah Kitab Syiah dan Mutah, hal 6

Pada sepuluh hari pertama dari bulan Muharram setiap tahun, orang-orang Syiah mengadakan ritual kesedihan dan ratapan. Saat itu mereka melakukan demonstrasi di jalan-jalan dan lapanganlapangan umum, dengan memakai pakaian serba hitam, sebagai lambangkesedihan mereka. Hal ini mereka lakukan untuk mengenang gugurnya alHusain t, dengan ber-keyakinan bahwa ini merupakan sarana pendekatan kepada Allah yang paling agung. Dalam acara ini mereka memukul-mukul pipi de-ngan tangan mereka, memukul dada dan punggung, menyobek-nyobek saku, menangis berteriak histeris de-ngan menyebut, Ya Husain-Ya Husain!! Terutama pada tanggal 10 Muharram, mereka me-lakukan itu lebih dari perbuatan di atas. Mereka memukuli diri sendiri dengan cemeti dan pedang, sebagaimana terjadi di negarayang dikuasai oleh Rafidhah seperti Iran. Bahkan para tokoh terkemuka mereka mengan-jurkan perbuatan yang hina ini, yang dijadikan lelucon bangsa lain. Pernah salah seorang dari narasumber mereka yang bernama Muhammad Hasan Ali (KasyifulGhi-tha), ditanya tentang perbuatan kaumnya yang me-mukul-mukul pipi dan yang lainnya,maka ia menja-wab, itu semua merupakan syiar ajaran Allah, sebagai-mana firman-Nya:

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati (Al-Hajj: 32)[1]

[1]

Acara-acara yang hina ini mereka lakukan setiap tahun. Perlu diketahui, Nabi r melarang perbuatan ini. Seperti dalam riwa-yat Muslim hadits no. 103, tentang larangan memukul pipi dan menyobek-nyobek saku, tapi Rafidhah adalah sekte yang paling banyak mendustakanhadits Nabi r .

Aqidah Rafidhah tentang Baiat


Rafidhah beranggapan bahwa seluruh pemerin-tahan, selain pemerintahan imam mereka yang jumlahnya dua belas, dianggap tidak sah dan batal. Dijelaskan dalam kitab al-Kaafi dengan penjelas-an al-Mazindarani dan al-Ghaibah karangan an-Nu'mani, dari Abu Ja'far, beliau berkata, Setiap ben-dera yang dikibarkan sebelum bendera imam mereka al-Qa'im al-Mahdi, pemiliknya dianggap thaghut.[1] Tidak diperbolehkan taat kepada seorang pengua-sa yang tidak mendapatkan legimitasi dari Allah ke-cuali dengan cara taqiyyah. Mereka menganggap semua penguasa Muslim se-lain para imam mereka, dengan imam yang khianat, zhalim (tidak adil), tidak layak jadi pemimpin dan de-ngan nama lain yang sejenisnya, khususnya kepada ti-ga khalifah, Abu Bakar, Umar dan Utsman y. Salah seorang dari mereka (Rafidhah) yang ber-nama al-Majlisi, penulis buku Biharul Anwarmemberi-kan komentar kepada tiga khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman y: Sesungguhnya mereka adalah para perampok kekuasaan, pengkhianat, dan murtad dari agama, semoga laknat Allah kepada mereka, dan ke-pada orang-orang yang mengikutinya, disebabkan ke-zhaliman yang dilakukannya kepada keluarga Nabi r dari generasi pertama dan sesudahnya.[2]

Inilah yang dilontarkan oleh al-Majlisi, di mana bukunya dianggap sebagai rujukan sentral olehorang Syi'ah, dalam memberikan penilaian terhadap genera-si terbaik setelah para Nabi dan Rasul. Sesuai dengan prinsip mereka tentang khalifah kaum Muslimin, mereka beranggapan bahwa setiap orang yang bekerja sama dengan mereka adalah tha-ghut dan zhalim. Diriwayatkan oleh al-Kulaini dari Umar bin Han-zhalah, ia berkata, Saya bertanya kepada Abu Abdil-lah tentang dua orang laki-laki dari sahabat kami yang berselisih tentang utang atau harta warisan, di mana keduanya mencari penyelesaian hukum kepada penguasa danhakim (selain golongan Syi'ah), apakah yang demikian ini diperbolehkan? Ia menjawab, Barangsiapa yang mencari penyelesaian hukum kepada mereka, baik dia berada dalam pihak yang benar atau salah, maka sesungguhnya ia telah mengambil harta haram, meskipundalam pihak yang benar, dan itu me-mang haknya, dikarenakan ia mengambilnya berdasarkan keputusan thaghut.[3] Khameini berkata dalam bukunya al-Hukumatul Islamiyyah mengomentari ucapan tokoh-tokoh Syi'ah di atas: Imam sendiri yang melarang mencari penye-lesaian hukum kepada parapenguasa dan para hakimnya, karena mencari penyelesaian hukum kepada merekadianggap mencari penyelesaian kepada thaghut.[4] Dalam buku at-Taqiyyah fi Fiqhi Ahlil Bait dalam bab ke sembilan tentang taqiyyah saat berjihad, dan ini adalah kesimpulan atas berbagai penelitian Aya-tullah al-Haaj asy-Syaikh Muslim ad-Daawari, dalam pendapatnya mengenai hukum bekerja pada pengua-sa yang zhalimyang dimaksud dengan penguasa zhalim di sini adalah penguasa dari kalangan Sunnidia mengatakan: Sesungguhnya masuk dalam pekerjaan penguasa itu ada tiga macam: Adakalanya masuk dalam pekerjaan itu dengan maksud untuk melonggarkan kesusah-an kaum Mukminin,[5]membantu menunaikan kepen-tingan dan kebutuhan mereka, maka ini hukumnya di-anjurkan berdasarkan teks riwayat-riwayat yang telah dikemukakan dalam anjuran untuk melakukan peker-jaan semacam itu. Kadang bekerja dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan bersenang-senang. Inihukumnya boleh meskipun dimakruhkan dan seandainya dalam hal ini dia bisa berbuat kebaikan untuk saudara-saudaranya yang Mukmin dan berusaha membantu me-menuhi kebutuhan mereka, maka perbuatan ini menjadi penghapus kemakruhannya. Ini berdasarkan ke-pada riwayat-riwayat yang telah disampaikan di muka berkaitan dengan diharuskannya berbuat baik kepada kaum Mukminin dan menolong kesusahan mereka. Hal ini berarti perbuatannya seimbang. Kadang bekerja dikarenakan terpaksa dan untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum, ini diperbolehkan dan tidak dimakruhkan sama sekali. [6] Penulis berkata: Bagaimana wahai saudaraku se-Islam, bagaimana mereka memvonis Ahlus Sunnah bahwa mereka adalah pelaku kezhaliman!! Kemudian bagaimana merekamembolehkan bekerja pada penguasa Ahlus Sunnah dengan berbagai syarat, di antara yangpaling penting adalah harus membantu orang-orang Syi'ah secara umum agar pekerjaan itu hukumnya menjadi boleh, sebagaimana hal ini telah diketahui semua orang. Maka loyalitas orang-orang Rafidhah hanya untuk kekuasaan Rafidhah saja. Dan merekatidaklah bekerja pada suatu bidang, kecuali akan berusaha memberi-kan kesempatan bagi teman-teman mereka dan sebisa mungkin menjauhkan Ahlus Sunnah dari pekerjaan-pekerjaan tersebut sampai mereka akhirnya bisa me-nguasai segalanya!! Semoga Allah Imenjaga kaum Muslimin dari keburukan mereka.

[1] [2] [3] [4] [5] [6]

Al-Kafi Syarah al-Mazindarani, 12/371 dan kitab alBihar, 25/113 Al-Majlisi, kitab al-Bihar, 4/385 Al-Kulaini, al-Kaafi,1/67, at-Tahdzib, 6/301, dan Man La Yahdhuruhul Faqih, 3/5 Al-Hukumatul Islamiyyah, hal. 74
Yang dimaksud kaum Mukminin di sini adalah kaum Syi'ah. Orang Syi'ah Rafidhah menamakandirinya kaum M ukminin. Kitab at-Taqiyyah fi Fiqhi Ahlil Bait, hasil akhir dari penelitian Ayatullah al-Haaj asy-Syaikh Muslim adDaawari, 2/153.

Hukum Pendekatan Antara Ahlus Sunnah yang Mengesakan Allah dengan Syiah yang Menyekutukan-Nya

Dalam masalah ini saya menganggap cukup de-ngan menukil salah satu makalah yang ditulis oleh Dr. Nashir al-Qiffari dalam bukunya Mas'alatut Taqrib, pa-da makalah yang ke tujuh beliau mengatakan, Bagai-mana mungkin menyamakan orang Syi'ah dengan Ahlus Sunnah, di mana mereka (Syi'ah) mencela kitab Allah, menafsirkannya dengan penafsiran yang tidak benar, dan beranggapan bahwa Allah I menurunkan kitab-kitabNya kepada para imammereka, selain al-Qur'anul Karim,[1] dan berpendapat, derajat keimaman sama denganderajat kenabian, dan para imam menurut mereka seperti para Nabi atau lebih utama, dan menafsirkan ibadah kepada Allah I yang mana ini merupakan inti risalah setiap Rasul tidak dengan mak-na yang sebenarnya. Ibadah menurut mereka adalah taat kepada para imam,dan penyekutuan Allah menurut mereka adalah menyertakan ketaatan kepada selain imammereka dengan ketaatan kepada imam mere ka. Di samping itu, mereka mengkafirkan para saha-bat terbaik Nabi r dan mengkafirkan semua sahabat kecuali tiga atau empat atau tujuh, sesuai dengan per-bedaan riwayat mereka. Mereka memiliki konsep keagamaan yang berbe-da dengan mayoritas umat Islam, sepertimasalah keimaman, kema'shuman (maksudnya para imam terjaga dari dosa dan kesalahan)taqiyyah, munculnya kembali para imam, menghilangnya para imam untuk kembali lagi, danbada' (munculnya ilmu pengetahuan bagi Allah yang diawali ketidaktahuan).[2]

[1]

Pembaca yang budiman, di akhir risalah ini kami sertakan salah satu surat, yang diakui oleh mereka telah dihapus dari al-Qur'an yang dinamakan dengan surat "Al-Wilayah", diambil dari kitab Fashlul Khitab, ditulis oleh seorang tokoh Rafidhah yang telah binasa: An-Nuri ath-Thabrasi. Tentu ini sebagai pendustaan ke-pada Allah yang telah berjanji akan menjaga al-Qur'an. Firman-Nya: "Sesungguhnya Kami benar memeliharanya." (Al-Hujurat: 9)

yang

menurunkan al-Qur'an, dan sesungguhnya Kamibenar-

Apakah masih ada orang yang meragukan kekafiran mereka yang berkeyakinan seperti itu?

[2]

Mas'alatut Taqrib, karya Dr. Nashir al-Qiffarisemoga Allah menjaganya dan Allah memberikan manfaat kepada manusia de-ngan apa yang telah beliau tuliskan, hal. 2/302.

Komentar Ulama Salaf dan Khalaf tentang Rafidhah


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyahsemoga Allah me-limpahkan rahmat yang luas kepadanyaberkata: Para ulama sepakat bahwa Rafidhah adalah salah satu sekte paling besar dustanya,kedustaan mereka su-dah dikenal sejak lama. Karena itu, para ulama mem-berikan capdengan kelompok yang banyak dustanya. Asyhab bin Abdul Aziz berkata, Imam Malik v ditanya tentang Rafidhah, maka beliaumenjawab: Ja-ngan berbicara dengannya, dan Anda jangan meriwayatkan hadits darinya,sesungguhnya mereka para pendusta. Masih dari Imam Malik, Orang yang mencaci pa-ra sahabat Rasulullah r, tidak memiliki bagian dalam Islam (tidak tergolong orang Islam). Ibnu Katsir

v memberikan penafsiran tentang firman Allah I di bawah ini:

Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia adalahkeras terhadap orang-orang kafir, tapi berkasih sayang se-sama mereka, kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda merekatanpak pada muka mereka dari be-kas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat, dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkantunasnya, ma-ka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia, dan tegak lurus diatas po-koknya; tanaman itu menyenangkan hati pena-nampenanamnya,karena Allah hendak men-jengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuat-an orangorang Mukmin). (Al-Fath: 29) Imam Malik

mengambil kesimpulan dari ayat ini tentang kafirnya orang-orang Rafidhahyang mem-benci

para sahabat Nabi r, karena mereka benci ke-pada para sahabat, dan orang yang benci kepada me-reka adalah kafir berdasarkan ayat ini.

Imam al-Qurthubi berkata, Sungguh Imam Malik telah berpendapat dengan sebaik -baik pendapat, dan penafsirannya benar, sebab orang yang mencaci salah satu dari sahabat Nabi atau mencela riwayatnya ber-arti telah menolak Allah I, dan membatalkan syari'at Islam.[1] Abu Hatim mengatakan bahwa Harmalah berce-rita kepadaku, dia mendengar Imam asy-Syafi'i berkata: Saya belum pernah melihat orang paling dusta ke-saksiannya daripada Rafidhah. Muammal bin Ahab mengatakan bahwa dia men-dengar Yazid bin Harun berkata: Bisa diterima riwa-yat seorang pelaku bid'ah, selama tidak mengajak ke-pada kebid'ahannya,kecuali Rafidhah, selamanya ti-dak bisa diterima riwayatnya dikarenakan mereka pendusta. Dari Muhammad bin Said al-Ashbahani, dia men-dengar Syuraik berkata, Ambillah ilmu dari siapa saja yang Anda jumpai kecuali dari Rafidhah, karena me-reka membuat hadits sendiri dan menjadikannya seba-gai agama. Yang dimaksud dengan Syuraik di sini adalah Syuraik bin Abdillah, hakim kota Kufah. Muawiyah t berkata, dia mendengar al-A'masy berkata: Saya menjumpai segolongan manusia yang dikenal dengan Kaum Pendusta mereka ini adalah teman-teman al-Mughirah bin Said seorang pendusta Rafidhah, sebagaimana dikatakan adz-Dzahabi.[2] Ibnu Taimiyah v memberikan komentar terha-dap ucapan ulama salaf, ia mengatakan,Pokok-pokok dasar dari bid'ah orang-orang Rafidhah adalah keku-furan mereka yang tersembunyi dan penyekutuan ke-pada Allah. Kedustaan adalah hal biasa bagi mereka, bahkan mereka sendiri mengakuinya, dengan menga-takan bahwa agama kami adalahtaqiyyah yaitu ucap-an seseorang dengan lisannya yang bertolak-belakang dengankeyakinannya. Inilah kedustaan dan kemuna-fikan, mereka dalam hal ini seperti ucapan pepatah, Melempar orang lain tapi kena dirinya sendiri.[3] Abdullah bin Ahmad bin Hanbal

berkata:

Saya pernah bertanya kepada bapak saya tentang Rafidhah, maka beliau menjawab: Yaitumereka yang mencaci dan mencela Abu Bakar dan Umar. Pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad tentang Abu Bakar dan Umar, beliau menjawab: Berdoalah agar mereka berdua dirahmati oleh Allah, dan berlepas dirilah dari orang-orangyang membenci mereka.[4] Diriwayatkan oleh al-Khallal dari Abu Bakar al-Marwazi, ia berkata: Saya bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar, dan Aisyah y, beliau menjawab: Orang itu tidak berada dalam agama Islam.[5] Al-Khallal juga berkata: Bercerita kepada saya Harb bin Ismail al-Kirmani denganmengatakan, bahwa Musa bin Harun bin Ziyad berkata: Saya mendengar seseorang bertanya kepada al-Firyabi tentang orang yang mencaci dan mencela Abu Bakar, maka ia men-jawab: Orang seperti itu adalah kafir, kemudian dia bertanya lagi: Apakah dia dishalatkan jika mening -gal? Beliau menjawab: Tidak![6] Ibnu Hazm v berkata tentang Rafidhah ketika mendebat kaum Nashrani yang membawa referensi bukubuku Rafidhah agar mereka bisa mendebat be-liau: Sesungguhnya orang-orang Rafidhah bukan dari golongan kaum Muslimin, perkataan mereka tidak bisa menjadi rujukan agama, mereka hanyalah kelompok yang muncul pertama kali dua puluh lima tahun setelah wafatnya Nabi r. Berawal dari sambutan terhadap seseorang yang telah dihinakan Allah yang mengajak semua orang yang ingin merusak Islam. Sebuah kelompok yangmempunyai metode seperti kaum Yahudi dan Nashrani dalam mendustakan agama dan dalam ke-kufuran.[7] Abu Zur'ah ar-Razi berkata: Jika kamu melihat se-seorang mendiskreditkan salah seorang sahabat Nabi ketahuilah dia adalah zindiq (kafir dan merusak Islam dari dalam). Dewan Tetap untuk Fatwa di Saudi Arabia pernah ditanya dengan pertanyaan, bahwa penanya dan orangorang yang bersamanya berdomisili di belahan utara Arab, berdekatan dengan Iraq. Di sana terdapat

suatu jamaah penganut madzhab Ja'fariyyah, sebagi-an dari mereka tidak bersedia makan sembelihan jamaah ini dan sebagian yang lain bersedia. Mereka ber-tanya: Apakah halal bagi kami makan sembelihan mereka, padahal diketahui mereka berdoakepada (me-minta) Ali, Hasan, Husain dan semua pembesar mere-ka dalam berbagai kesempatan? Dewan yang saat itu dipimpin oleh yang mulia Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, SyaikhAbdur Razak Afifi, Syaikh Abdullah bin Ghudayyan dan Syaikh Abdullah bin Qu'ud semoga Allah memberi-kan pahala kepada mereka- menjawab: Segala puji hanya milik Allah saja, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasul -Nya, berikut keluarga dan semua sahabat, wa ba'du: Jika masalahnya seperti yang dikemukakan oleh penanya bahwa kelompok Ja'fariyyah yang ada di sekitarnya berdoa kepada Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husain serta para pembesar mereka, maka mereka ini tergolong orang-orang Musyrik, telah keluar dari agama Islamsemoga Allah melindungi kita. Tidak boleh ma-kan hewan sembelihan mereka karena ituadalah bang-kai meskipun saat menyembelih mereka menyebut na-ma Allah.[8] Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrinse-moga Allah menjaganya dan melindunginya dari semua keburukanpernah ditanya: Syaikh yang mulia, di daerah kami terdapat orang Rafidhah yang bekerja sebagai penyembelih hewan dan banyak dari orang Ahlus Sunnah yang mendatanginya untuk menyembe-lihkan hewan sembelihannya. Di sana terdapat juga sebagian rumah makan yang bekerja sama dengan tu-kang sembelih Rafidhah ini. Bagaimanahukumnya bekerja sama dengan orang Rafidhah ini dan yang semi-salnya, dan apa hukum sembelihannya? Halal atau haram? Mohon diberikan fatwa. Semoga Allah mem-berikan balasan kebaikan kepada Syaikh. Beliau menjawab: Wa alaikum Salam wa Rah-matullahi wa Barakatuh. Tidak sah sembelihanRafi-dhah dan tidak halal makan sembelihannya, dikarena-kan kebanyakan mereka menyekutukan Allah, dengan selalu berdoa kepada Ali bin Abi Thalib baik di saat sempit atau lapang, di Arafah, pada saat thawaf dan sa'i, mereka bermohon kepadanya dan anak-anaknya serta imamimam mereka, seperti sering kita dengar. Ini merupakan syirik akbar danperbuatan murtad, bahkan mereka berhak dibunuh atas perbuatan mereka. Sebagaimana mereka juga berlebih-lebihan dalam memuji Ali bin Abi Thalib t, sampai mereka mensi-fati beliau dengan sifat-sifat yang hanya layak dimiliki Allah I, seperti sering kita dengar di Arafah. Dengan perbuatan ini mereka dianggap murtad dan keluar dari agama Islam, disebabkan telah menjadikan Ali sebagai tuhan, pencipta, yang menjalankan roda perpu-taran alam, mengetahui yang ghaib, bisa memberikan manfaat maupun marabahayadan kesyirikan lain yang sejenis ini. Mereka juga mencela alQur'anul Karim dan menuduh parasahabat Nabi telah merubah dan mem-buang banyak ayat yang berkenaan dengan Ahlul Bait dan musuh-musuhnya. Tidak bersedia mengikutinya (alQur'an) dan tidak mau menjadikannyasebagai dalil. Di samping itu, mereka mencaci para tokoh saha-bat Nabi seperti ketiga Khulafaur Rasyidindan sahabat lain yang mereka ini tergolong sebagai sepuluh sahabat yang dijanjikan Allah dengan surga, para istri Nabi r dan para sahabat lain yang masyhur seperti Anas, Jabir, Abu Hurairah dan yang lainnya. Mereka juga tidak menerima hadits-hadits sahabat tadi karenatelah dianggap kafir. Hadits-hadits riwayat alBukhari dan Muslim juga tidak mereka amalkan kecuali riwayat yang berasal dari Ahlul bait. Mereka juga berpegangan dengan hadits-hadits palsu dan mengutarakan pendapat mereka tanpa berdasar kepada suatu dalil. Ditambah lagi dengan kemu-nafikan mereka, mengatakan sesuatu dengan lisannya yang berbeda dengan apa yang di hatinya. Apa yang ada dalam hati mereka disembunyikan dan bersembo-yan: Siapa yang tidak melakukan taqiyyah maka ia tidak beragama. Karena itu, jangan sampai kamu terima pengaku-an sikap persaudaraan dan cinta merekadengan dasar agama kemunafikan adalah agama mereka, semoga Allah menjaga kita dari keburukan mereka. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepa-da Muhammad r, keluarga dan para sahabatnya.[9]

[1] [2] [3] [4]

Dr. Nashir al-Qiffari, Ushulu Madzahibis Syi'atil Itsna 'Asyariyyah, 3/1250 Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah, 1/59-60 Ibnu Taimiyah, Minhajus Sunnah, 1/68

Abdul Ilah bin Sulaiman al-Ahmadi, al-Masaailu war Rasaailul Marwiyyah 'anil Imami Ahmadabni Hanbal (Masalah-masalah dan Risalah yang Dinukil dari Imam Ahmad bin Hanbal),2/357. [5] Al-Khallal, as-Sunnah, 3/493, ini merupakan pernyataan yang tegas dari Imam Ahmad tentang kekafiran Rafidhah. [6] [7] [8] [9] Al-Khallal, as-Sunnah, 3/499 Ibnu Hazm, al-Fashlu fil Milali wan Nihal, 2/78

Fatawal Lajnatid Daa'imah Lil Ifta', jilid 2, hal: 264


Fatwa ini disampaikan beliau ketika diajukan pertanyaan tentang hukum berinteraksi dengan orang Rafidhah pada tahun 1414 H. Saya ingin meluruskan apa yang santer dibicarakan orang bahwa Syaikh Abdullah al-Jibrin semoga Allah menjaganya- adalah satu-satunya ulama yang menganggap kaum Rafidhah kafir. Se-benarnya para imam dari salaf (paraulama periode awal) sampai khalaf (para ulama setelah periode salaf) juga mengkafirkan sekte ini. Ini mereka sampaikan untuk menegakkan hujjah dan untuk menyadarkan mereka dari ketidaktahuan dalam masalah ini.

Surat al-Wilayah yang Diakui Rafidhah Termasuk Satu Surat dalam al-Quran
Dari Kitab Fashul Khitab

Hai orang-orang yang beriman, ber-imanlah kepada dua cahaya yang te-lah kami turunkan, untuk membaca-kan kepada kalian ayat-ayatKu, dan memberi peringatan kepada kalian akan siksa pada hari yang besar.

Dua cahaya yang sebagiannya dari sebagian yang lain, dan sesungguhnya Aku Maha Mendengar dan Me-ngetahui. Sesungguhnya orang-orang yang memenuhi janjinya kepada Allah dan Rasul-Nya, baginya surga Naim.

Dan orang-orang yang kafir sete-lah beriman dengan merusak perjanjiannya, dan janji-janji yang telah di-ikat oleh Rasul maka mereka dilempar ke dalam Neraka Jahim. Mereka telah menzhalimi diri sen-diri, dan bermaksiat kepada washinya Rasul, maka mereka diberi mi-numan dari air panas.

Sesungguhnya Allah telah menera-ngi langit dan bumi, dengan kehendak-Nya dan memilih dari malaikat dan menjadikannya hamba-hamba yang beriman, dan mereka tergolong makhluknya, Allah berbuat sesuai de-ngan kehendaknya, tiada tuhan me-lainkan Dia yang Maha Pengasih dan Penyayang. Sungguh orang-orang sebelum me-reka telah berbuat tipu daya terhadap Rasul-Rasul mereka. Maka Allah menyiksa dan membalas tipu daya mereka dan sesungguhnya siksaan-Ku lebih berat lagi pedih.

Sesungguhnya Allah telah membi-nasakan kaum Ad dan Tsamud dengan apa yang telah mereka perbuat dan menjadikan mereka untuk kalian sebagai pelajaran, tidakkah kalian bertakwa.

Dan Firaun karena ia telah melam-paui batas kepada Musa dan saudaranya Harun, maka Aku tenggelam-kan ia dan orang-orang yang mengikutinya semuanya. Agar hal itu menjadi bukti bagi ka-lian, tapi kebanyakan dari kalian orang-orang fasik. Sesungguhnya Allah akan mengum-pulkan mereka pada Hari Kiamat, maka mereka tidak mampu menja-wab saat ditanya. Sesungguhnya Neraka Jahim itu tempat kembali mereka dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Hai Rasul, sampaikanlah peringat-an-Ku niscaya mereka akan mengetahui. Sesungguhnya telah merugi orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat dan hukum-Ku. Orang-orang yang menepati janji-mu, sungguh saya akan membalasnya dengan surga Naim. Sesungguhnya Allah Dzat yang me-miliki ampunan dan ganjaran yang besar.

Dan sesungguhnya Ali termasuk orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya Kami akan me-menuhi haknya pada Hari Kiamat. Kami tidak akan melupakan terha-dap orang yang menzhaliminya. Dan Kami telah memuliakannya melebihi semua keluargamu.

Maka sesungguhnya dia dan anak keturunannya termasuk orangorang yang sabar. Dan sesungguhnya musuh mereka adalah pemimpin orang-orang yang berbuat dosa.

Katakanlah (hai Muhammad) kepa-da orang-orang kafir setelah beriman, apakah kalian mencari perhiasan du-nia, dan bersegera dengannya, dan kalian melupakan janji Allah dan Rasul-Nya dan merusak perjanjian setelah dikukuhkan, sungguh telah Aku berikan kepada kalian perum-pamaan, agar agar kalian mendapat-kan petunjuk.

Hai Rasul, sungguh telah Kami tu-runkan kepadamu ayat-ayat yang jelas, di dalamnya terdapat orang yang menepatinya sebagai seorang Muk-min, dan orang yang berpaling dari-nya setelahmu mereka akan nampak dan jelas.

Maka berpalinglah kamu dari me-reka, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpaling. Sesungguhnya Kami akan mengha-dirkan mereka. Pada hari di mana tak ada sesuatu sedikitpun yang bisa bermanfaat baginya, dan mereka ti-dak diberikan kasih sayang. Sesungguhnya bagi mereka Neraka Jahanam sebagai tempat tinggal yang kekal, dan mereka tak bisa ber-paling darinya. Maka bertasbihlah dengan menye-but nama Rabbmu, dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang ber-sujud. Sungguh Kami telah mengutus Mu-sa dan Harun dengan tugas kekhalifahan, kemudian mereka melam-paui batas terhadap Harun. Maka sabarlah, karena sabar itu baik, kemudian Kami jadikan dari mereka kera dan babi, dan Kami lak-nat mereka sampai hari di mana me-reka dibangkitkan. Maka sabarlah, mereka akan me-lihat (dan mengetahui). Dan sungguh, telah Kami datangkan untukmu hukum, seperti RasulRasul sebelum kamu.

Dan Kami jadikan untukmu washi (imam yang diwasiati untuk memimpin) agar mereka kembali.

Barangsiapa berpaling dari perin-tah-Ku, maka sesungguhnya Aku-lah tempat kembalinya, maka berse-nang-senanglah mereka dengan kekufurannya sejenak, karena itu ja-nganlah engkau bertanya tentang orang-orang yang melanggar janji.

Hai Rasul, telah Aku jadikan perjan-jian untukmu pada leher orangorang yang beriman, maka peganglah, dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.

Sesungguhnya Ali taat dan sujud di malam hari, takut (siksa) akhirat dan mengharapkan pahala dari Rabb-nya, katakanlah (hai Muhammad) apakah dia sama dengan orang yang berbuat zhalim, sementara mereka mengetahui siksa-Ku. Akan Aku jadikan belenggu-beleng-gu pada leher-leher mereka, dan me-reka akan menyesali atas perbuatan-perbuatan (yang telah mereka per-buat).

Sesungguhnya Kami memberikan kabar gembira kepadamu akan-anak keturunannya (Ali) yang shalih. Dan sesungguhnya mereka tidak mengingkari perintah Kami.

Bagi mereka shalawat dan rahmat-Ku, baik pada masa kehidupan mereka atau setelah meninggal yaitu pada hari mereka dibangkitkan. Dan bagi mereka yang melampaui batas terhadap mereka setelahmu kemurkaan-Ku, sesungguhnya mere-ka itu orang-orang kaum yang jelek (buruk) dan yang merugi. Dan bagi mereka yang menapaki jalannya rahmat dari-Ku dan mereka berada di dalam kamar-kamar dalam keadaan aman. Segala puji bagi Allah, tuhan se-mesta alam.

Lauh Fathimah Didakwakan Sebagai Wahyu yang Turun kepada Fathimah


Inilah kitab dari Allah yang Mahaluhur lagi Maha bijaksana kepada Muhammad Nabi-Nya, cahaya-Nya, utusan-Nya, pintu gerbang-Nya dan petunjuk kepada-Nya, yang turun melalui perantaraan malaikat Jibril dari sisi Rabb semesta alam. Agungkanlah wahai Muhammad nama-namaKu, syukurilah nikmatnikmatKu dan janganlah kau meng-ingkarinya. Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada tuhan ke-cuali Aku,barangsiapa mengharap selain keutamaan-Ku (karunia-Ku) atau takut selain keadilan-Ku, maka akan Aku siksa dengan siksaan yang belum pernah Aku berikan kepada seseorang di jagad raya ini, maka kepada Akulah engkau menyembah, kepada Akulah engkau bertawakal. Sesungguhnya Aku belum pernah mengutus se-orang nabi kemudian Kusempurnakan hari-harinya, dan habis masanya kecuali Aku jadikan washi untuk-nya (seorang yang diwasiati untuk melanjutkan kekhalifahan).

Aku mengutamakanmu di atas Nabi-Nabi yang lain dan mengutamakan washimu melebihi washi-washi yang lainnya. Memuliakanmu dengan kedua kekasihmu, kedua cucumu, Hasan dan Husain, maka Aku jadikan Hasan sebagai sumber ilmu-Ku, setelah habis masa bapaknya. Aku jadikan Husain sebagai gudangpenampung wahyu-Ku dan Aku muliakan dia dengan kesyahidan, danKututup untuknya dengan keba-hagiaan. Ia sebaik dan yang paling utama di antara orang yang mati syahid, dan yang lebih tinggi derajat-nya. Aku jadikan kalimatKu (wahyu-Ku) bersamanya danhujjah Ku yang sempurna selalu padanya. Dengan sebab keluarganya Aku memberi pahala dan menyiksa. Yang pertama Ali, tuannya parahamba dan hiasan kekasihKu, anaknya yang bernama Muhammad al-Baqir sebagai gudang ilmu-Ku, dan sumber hikmah-Ku, sungguh akan binasa orang yang meragukan Jafar, orang yang menolaknya seperti menolak-Ku. Sudah menjadi keputusan dari-Ku, sungguh Aku muliakan tempat kembali Jafar, akan Kubahagiakan dengan pengikutnya, penolongnya dan kekasihnya. Musa yang datang setelahnya didatangkan untuk-nya fitnah besar yang membabi buta, sungguh benang wahyuKu tak terputus, danhujjahKu tidak samar, dan semua kekasihKu akan diberikanminuman dengan gelas yang penuh. Barangsiapa yang ingkar kepada salah satu dari mereka, maka sungguh telah ingkar kepada nikmat-Ku. Dan barangsiapa yang merubah satu ayat dari kitab-Ku, maka sungguh ia telah berani mengada-ada pada-Ku. Celakalah orang-orang yang berani meng-adaada serta ingkar, di waktu penghabisan masa Musa hamba-Ku, kekasih-Ku, dalam masa Ali kekasih-Ku dan penolong-Ku, ia (...)[1]diuji dengan kenabiannya sehingga dibunuhlah dia oleh seorang yang sombong, dan dikuburkan di Madinah, kota yang dibangun oleh hamba yang shalih, di samping seburuk-buruknya makhlukku. Sungguh sudah menjadi keputusan dari-Ku, bahwa akan Aku berikankepadanya (Ali) Muhammad anaknya sebagai penerus kekhalifahan sesudahnya, dan pewaris ilmunya. Dia (Muhammad) sumber ilmu-Ku, tempat rahasia-Ku, sebagai bukti atau saksi atas perbuatan hambaKu dan tidak beriman seorang ham-ba kepadanya melainkan Aku jadikan surga sebagai tempat kembalinya. Aku berikan kepadanya kemampuan untuk memberi syafaat kepada 70 orang dari ke-luarganya, di mana sebelumnya mereka tergolong ahli neraka. Kemudian Aku tutup untuk

anaknya bernama Ali dengan kebahagiaan. Dia (Ali) kekasih-Ku, peno-longKu, saksi atas perbuatan hamba sahaya, dan ke-percayaan-Ku untuk menerima dan menjaga wahyu-Ku. Aku lahirkan darinya al-Hasan sebagai dai yang mengajak kepada jalan-Ku, sebagai gudang ilmu-Ku, setelah itu Kusempurnakan dengan anaknya ()[2] sebagai pembawa rahmat kepada seluruh alam, pada-nya kesempurnaan Nabi Musa, kebahagiaan Nabi Isa, dan kesabaran Nabi Ayub. Para kekasih-Ku hidup dihina pada masanya, berjalan denganmerundukkan kepalanya, sebagaimana merunduknya pasukan Turki dan Dailam, mereka di-bunuh dan dibakar. Hidup serba dalam ketakutan, bu-mi merah terwarnai dengan darahnya, bencana dan musibah tersebar di mana-mana, isak tangis nampak pada para wanitanya. Ketahuilah, mereka benar-benar kekasih-Ku. Dengan sebab mereka Aku mengusir setiap fitnah besar, dengan sebab mereka pula Aku hilangkan ben-cana, menolak belenggu-belenggu yang menjerat. Ba-gi mereka shalawat dan rahmat dari tuhannya dan merekalah orang-orang yang mendapat hidayah. Abdurrahman bin Salim berkata, Abu Bashir ber-kata: Jika Anda tidak pernah mendengar dalam ke-hidupanmu kecuali ini (lauh ini) maka itu sudah cukup bagimu. Karena itu, simpanlah danrahasiakanlah lauh ini kecuali kepada orang yang berhak.[3]

[1] [2] [3]

Kalimat yang tidak jelas, sehingga kami tidak bisa meneliti keabsahannya. Kalimat yang tidak jelas, sehingga kami tidak bisa meneliti keabsahannya.

Al-Kafi, karya al-Kulaini, (1/527), al-Wafi, al-Faidh al-Kasyani (1/2/72), Ikmuludin, karangan Ibnu Babawaih al-Qummi, hal. 301-304, Ilamul Wara, karya Abu Ali ath-Tahabrisi, (152).
*) Rafidhah mengatakan: Lauh Fathimah ini diturunkan Allah melalui malaikat Jibril kepada Fathimah, setelah Nabi

r wafat. Ketika Jibril menyampaikan wahyu kepada Fathimah, Ali bin Abi Thalib bersembunyi di balik tabir,

sambil menulis apa yang disampaikan Jibril kepada Fathimah. Demikian yang disebutkan al-Kulaini dalam alKafi (1/185-186).

Ini adalah kedustaan yang besar, mengada-ada tanpa bukti, kare-na wahyu setelah Nabi wafat sudah terputus, tidak turun lagi. Meskipun sudah jelas bahwa lauh Fathimah ini dusta, bohong kebenarannya, namun orang-orang Syiah memposisikan lauh ini seperti al -Quranul Karim bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah.

oa Dua Patung Quraisy

Yang dimaksud oleh Syiah tentang doa dua pa-tung Quraisy ini adalah mendoakan keburukan kepa-da Abu Bakar dan Umar c. Teks doa itu seperti di bawahini:

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dankeluarganya. Ya Allah, laknatilah dua patungQuraisy, dua thaghut dan jibtnya dua pendustadan pembohong-nya dan kedua anak perempuannya (Aisyah dan Hafshah), karenamereka telah mengingkari p e-rintah-Mu,mendustakan wahyu-Mu, tidak mensyukurinikmat-nikmatMu, bermaksiat kepada utusanMu, memutar-balik agama-Mu, merubah kitabMu, mencintai musuh-musuhMu, menging-karinikmatnikmatMu, meninggalkan hukum-hu-kumMu,

membatalkan dan mengabaikan kewa-jibankewajibanMu, mengkufuri ayat-ayatMu,memusuhi kekasih-Mu, berwala danberloyalitas kepada musuhMu, memeranginegerinegeriMu, dan membinasakan hamba-hambaMu.

Ya Allah, laknatilah mereka berdua beserta pengikutnya dan kekasihnya yang telah merusakrumah kenabian (maksudnya Ali bin Abi Thalibdan keluarganya), merobohkan pintunya,menjatuh-kan atapnya, dan membumi-hancurkannya, baik luar maupun dalamnya, mereka telah membina-sakan keluarganya, dan penolong-penolongnya, membunuh anak-anaknya, mengosongkan mim-bar dari wasiatnya, dan pewaris ilmunya, meng-ingkari keimamannya, dan menyekutukan tuhan-nya. Karena itu, besarkanlah dosa mereka ber-dua, dan kekalkanlah dalam (neraka) saqar. Ta-hukah kalian (neraka) saqar, neraka saqar itu ti-dak meninggalkan dan tidak membiarkan (mak-sudnya: seorang yang dilemparkan ke dalam ne-raka diadzabnya sampai binasa, lalu dikembalikannya seperti semula untuk diadzabkembali).

Ya Allah, laknatilah mereka, sebanyak kemungkaran yang mereka lakukan, sebanyakkebenaran yang mereka rahasiakan, sebanyak mimbar yang mereka tinggalkan, sebanyak orangMukmin yang mereka jadikannya bergantung kepadanya, sebanyak orang munafiq yangmereka cintai, sebanyak kekasih yang mereka siksa, sebanyak orang yang terusir yang mereka lindungi, sebanyak sahabat dan temanyang mereka usir, sebanyak orang kafir yangmereka tolong, sebanyak imam yang me-reka tindas, sebanyak kewajiban yang mereka rubah,sebanyak kekufuran yang mereka kib arkan,sebanyak kebohongan yang mereka tipukan,sebanya k harta warisan yang mereka ambil, sebanyak fai (harta rampasan tanpa perang)yang me-

reka rampas, sebanyak harta haramyang mereka makan, s ebanyak khumus yang mereka anggap halal, sebanyak kebatilan yang mereka dirikan, sebanyak ketidakadilan yangmereka seba rluas-kan, sebanyak kemunafikanyang mereka sembunyikan, sebanyakpengkianatan yang mereka rahasiakan,sebanyak kezhaliman yang mereka sebarluaskan, sebanyak janji yang mereka ingkari, sebanyak amanat yang mereka khianati,sebanyak perjanji an yang mereka terjang,sebanyak yang dihalalkan yang merekaharamkan, sebanyak yang diharamkan yang mereka halalkan, sebanyak perut yang merekabedah, sebanyak janin yang mereka gugurkan,sebanyak tulang rusuk yang mereka hancurkan,sebanyak punggung yang mereka cabikcabik,sebanyak persatuan yang mereka pecahkan,sebanyak keluhuran yang mereka hina-kan, sebanyak kehinaan yang mereka agungkan,sebanyak kebenaran yang mereka larang, seba-nyak kebohongan yang mereka palsukan, sebanyak kekuasaan yang mereka rampas, sebanyakimam yan g mereka pungkiri.

Ya Allah, laknatilah mereka sejumlah ayat yang mereka rubah, sebanyak kewajiban yang mereka tinggalkan, sebanyak sunnah yangmereka rubah, sebanyak hukum yang mereka buang, sebanyak uang yang mereka ambil, sebanyak wasiat yang mereka ganti, sebanyakperintah yang mereka sia-siakan, sebanyak baiat yang mereka terjang, se-banyak kesaksian yang mereka sembunyikan, se-banyak pengakuan yang mereka batalkan, seba-nyak bukti yang mereka ingkari, sebanyak tipu daya yang mereka wujudkan, sebanyak penghi-anatan yang mereka lakukan, sebanyak musibah yang mereka limpahkan, sebanyakkesulitan yang mereka luncurkan, sebanyak pakaian atau per-hiasan yang selalu mereka kenakan.

Ya Allah, laknatilah mereka dalam keadaan ra-hasia dan jelas dengan sebanyak-banyaknya lak-nat, dan selama-lamanya, yang tidak terbatas bi-langannya, dan tidak berakhir lamanya, laknati-lah dengan laknat yang diawali dengan pembe-lengguan dan tidak berakhir dari pembeleng-guan, laknat mereka beserta temantemannya, penolong-penolongnya, kekasihnya, orang yang taatkepadanya, yang memohon kepadanya, yang

berhujjah dengan dalilnya, yang setia bersama-nya, yang mengikuti ucapannya dan yang mem-benarkan hukum-hukumnya. Ya Allah, siksalah mereka dengan siksa yangpenduduk ne raka minta pertolongan dari siksatersebut. Amien. Kemudian ini diucapkan 4 kali:

Ya, Allah, laknatilah mereka semua. Ya Allah,berikanlah s halawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, cukupkanlah untukku apa yang Engkau halalkan dari apa yang Engkau haramkan, dan lindungilah aku dari kefakiran. Ya Rabb, aku telah berbuat keburukan dan menzhalimi diri sendiri, dan aku telah mengakui semua dosa, karenanya, aku datang di hadapan-Mu makaridhai-lah aku, hanya kepada-Mu tempat kembali dan aku berjanji tidak akan bermaksiat lagi, jika aku kembali bermaksiat, makaampunilah kembali, dan maafka nlah aku. Dengankarunia-Mu, kemu-rahan-Mu, ampunanMu,kedermawanan-Mu, wahai Dzat yang Maha Pengasih. Semoga Allah memberikan shalawatkepada tuannya para rasul, penutup para nabi,beserta keluarganya yang baik

lagi suci denganrahmat-Mu, wahai Dzat yang Maha Pengasih.[1]

[1]

Miftahul Jinan, al-Qummi, hal. 114 Penutup

Saudara se-Islam! Saya yakin bahwa Anda sependapat dengan saya, bahwa orang yang bepegangteguh dengan ideologi seperti ini tidak tergolong lagi dalam kategori seorang Muslim, meskipun diberinama Islam. Jika demikian halnya, apa kewajiban kita sebagai se-orang Muslim yang bertakwa terhadap orang-orang Syiah, terlebih mereka ini tinggal di tengah-tengah masyarakat Muslim, bergabung dan berinteraksi ber-sama mereka. Maka kewajiban yang selalu Anda perhatikan ada-lah waspada dalam berinteraksi dengan mereka. Me-waspadai ideologinya yang kotor, yang berpijakatas dasar permusuhan bagi setiap orang yang mentauhidkan Allah, beriman kepada Allah sebagaiRabb, kepada Islam

sebagai agama, kepada Muhammad r sebagai Nabi dan Rasul. Ibnu Taimiyah v berkata, Orang Syiah tidak berinteraksi kepada seseorang melainkan iamenggu-nakan kemunafikannya, karena agama yang mereka yakini agama yang rusak, mendoronguntuk berbuat kebohongan, pengkhianatan,penipuan, dan selalu m engharapkan keburukan pada orang. Mereka senan-tiasa menimbulkan kemudharatan, tidak meninggal-kan keburukan selama mampu melakukannya. Mere-ka dibenci oleh orang-orang yang belum mengenal-nya, meskipun orang tersebut tidak mengetahui bah-wa ia adalah orang Syiah, disebabkan tanda-tanda kemunafikannya nampak di muka mereka, dan kesa-lahan yang banyak dalam ucapannya.[1] Mereka menyembunyikan permusuhan dan kebencian kepada kita, semoga mereka diperangi olehAllah I, sebab berpalingnya dari jalan yang benar. Meskipun demikian, banyak kita jumpai orang yangtertipu ole hnya, dari kalangan Ahlus Sunnah yang awam, mereka lebur bersamanya dalam segala urusan kehidupan dunia, menaruh kepercayaan penuh dengannya. Hal ini disebabkan berpalingnyamereka dari agama Allah dan kebodohan merekaterhadap hukum-hukum Allah. Setiap Muslim diharuskan untuk selalu beraqidah wala (loyalitas) kepada orang Islam yang mentauhidkan Allah U, dan membebaskan diri dari semua orang kafir dan orang Musyrik. Dengan hal ter-sebut kita telah memahami

kewajiban sebagai orang Islam dalam berinteraksi dengan orang-orang Syiah. Apakah akan kita laksanakan? Akhirnya, kami memohon kepada Allah, agar menolong agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya,menghinakan orang-orang Syiah, beserta antekanteknya, dan menjadikannya rampasan bagi orangorang Islam. Semoga Allah U memberikan shalawat kepada Nabi Muhammad r, keluarga dan para sahabatnya.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh .

Hamba Allah yang Fakir:


Abdullah bin Muhammad As-Salafi

(Semoga Allah mengampuninnya, kedua orang tuanya dan segenap kaum Muslimin)

[1]

Minhajus Sunnah an-Nabawiyah, Ibnu Taimiyah, (3/360)

Referensi Penting untuk Membantah Aqidah Syiah

1.

Fatawa,Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. 2. - Minhajus Sunnah,


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. 3. - Al-Milal wan Nihal, Asy-Syahrastani. 4. - Al-Farqu bainal Firaq, Al-Baghdadi. 5. - Maqalaatul Islamiyyiin, Al-Asy'ari. Buku-buku Kontemporer 1. Semua karya Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir v. 2. - Mas'alatut Taqrib, Syaikh Dr. Nashir alQiffari. 3. - Ushulul Madzahibisy Syi'ah al-Itsna 'Asyariyyah, Dr. Nashir al-Qiffari. 4. Karya-karya Syaikh Maalullah. 5. - Badzlul Majhud fi Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, Abdullah al-Jumaili. 6. - Hatta la Nankhadi', Abdullah al-Mushili. 7. - Asy-

- Majmu'

Syi'ah al-Itsna 'Asyariah wa Takfiiruhum li 'Umumil Muslimin, Abdullah as-Salafi. 8. - Man Qatalal Husain, Abdullah bin
Abdul Aziz.

Al-Burhan fi Tabri'ati Abi Hurairah minal Buhtan, Abdullah an-Nashir. 10. - Al-Intishaar lis Shahbi wal Aal, Dr. Ibrahim ar-Ruhaili. 11. - Kasyful Jaani Muhammad at-Tijani, Syaikh Utsman al-Khamis. 12. - Bal Dhalalta fi Raddi Abaatiilit Tijani, Syaikh Khalid al-'Asqalani. 13. - Ma'al Itsna 'Asyariah fil Ushuli war Furu', Dr. Ali as-Saaluus. 14. - Tabdiduzh Zhalam wa Tanbihun Niyaam, Syaikh Sulaiman al-Jabhan. Dan referensi lain yang masih banyak, ini hanya sekadar memaparkan dengan singkat, bukan bermak-sud menyebutkan semuanya. 9.

Beberapa Situs Rujukan untuk Membantah Syi'ah


1. www.dd-sunnah.net 2. www.fnoor.com 3. www.alburhan.com 4. www.wylsh.com 5. www.khomainy.com 6. www.dhr12.com

7. www.albainah.net 8. www.ansar.org 9. www.almanhaj.com 10.www.isl.org.uk 11. www.almhdi.com