Anda di halaman 1dari 77

BIMBINGAN DAN PENYULUHAN

(GUIDANCE & COUNCELING)

BAHAN AJAR Ikhtisar/Butit-butir Bahan Diskusi Untuk Mahasiswa Strata Satu Mahad Aly Persatuan Islam Cianjur

Disusun Oleh : Ds. DJUNAEDI SAJIDIMAN, MM, M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MAHAD ALY (STAIPI) CIANJUR


-2009-

KATA PENGANTAR

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Sesuai dengan tugas dari Mahad Aly (STAIPI) Bandung di Cianjur untuk memfasilitasi mata kuliah Bimbingan dan Penyuluhan (Guidance & Counceling) untuk Mahasiswa Strata Satu pada Program Studi Pendidikan Agama Islam, penulis mencoba menyusun ikhtisar berupa butir-butir bahan diskusi untuk memudahkan dalam proses belajar-mengajar. Bahannya penulis ambil dari beberapa buku sumber. menganjurkan kepada para mahasiswa agar dapat Penulis pun

memperdalam bahasan

dengan membaca buku-buku sumber dimaksud, yang juga penulis cantumkan dalam daftar kepustakaan. Semoga kiranya tulisan ini bermanfaat.

Cianjur, Ultimo, November 2009.

Penulis.

DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR DAFTAR ISI ...... BAB BAB I. PENDAHULUAN II. LATAR BELAKANG DAN PERLUNYA BIMBINGAN DAN PENYULUHAN .. A. LATAR BELAKANG . B. URGENSI C. PERLUNYA BP DI SEKOLAH/MADROSAH ... BAB III. PENGERTIAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN A. BIMBINGAN (GUIDANCE) .. B. PENYULUHAN (KONSELING) ...... C. KEKELIRUAN DALAM MEMAKNAI BIMBINGAN DAN PENYULUHAN .. BAB IV. TUJUAN DAN FUNGSI BIMBINGAN DAN PENYULUHAN. A. TUJUAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN B. FUNGSI BIMBINGAN DAN PENYULUHAN . C. RELEVANSI TUJUAN DAN FUNGSI BP DENGAN ISLAM BAB V. SASARAN DAN LINGKUP LAYANAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN A. SASARAN BP DI SEKOLAH/MADROSAH .. B. LINGKUP LAYANAN BP DI SEKOLAH/MADROSAH BAB VI. PRINSIP, ASAS, SERTA LANDASAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN .. A. PRINSIP BP B. ASAS BP . C. LANDASAN BP .. 16 22 22 25 30 34 34 37 41 41 44 49

i ii 1 2 2 5 8 9 9 13

ii

BAB VII. MASALAH SISWA DI SEKOLAH/MADROSAH .. BAB VIII. PETUGAS BIMBINGAN DAN PENYULUHAN DI SEKOLAH/ MADROSAH DAN SYARAT-SYARATNYA ............................. A. PETUGAS BP DI SEKOLAH/MADROSAH . B. SYARAT-SYARAT PETUGAS BP DI SEKOLAH/MADROSAH . BAB IX. BIDANG-BIDANG LAYANAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN . A. BIDANG PENGEMBANGAN PRIBADI . B. BIDANG PENGEMBANGAN SOSIAL .. C. BIDANG PENGEMBANGAN KEGIATAN BELAJAR . D. BIDANG PENGEMBANGAN KARIER .. E. BIDANG PENGEMBANGAN KEHIDUPAN BERKELUARGA F. BIDANG PENGEMBANGAN KEHIDUPAN BERAGAMA . DAFTAR KEPUSTAKAAN

56

59 59 60 62 62 64 65 67 70 71 73

iii

BAB I PENDAHULUAN

Pembahasan mengenai Bimbingan dan Konseling (BK) yang untuk selanjutnya penulis akan menggunakan istilah Bimbingan dan Penyuluhan (BP), tidak terlepas kaitannya dengan tinjauan hakikat manusia dengan berbagai keistimewaannya dalam konteks budaya dan kehidupannya dalam masyarakat yang berkembang. Hal tersebut di atas merupakan titik tolak pembahasan yang berfokus pada manusia. Jadi, pada dasarnya BP merupakan bantuan untuk mewujudkan

perkembangan manusia secara optimal baik individual maupun kelompok sesuai dengan hakikat kemanusiaan dengan berbagai potensi, kelebihan, kekurangan, kekuatan, dan kelemahan, serta berbagai permasalahannya. Dalam kehidupannya manusia itu bisa berhasil mencapai cita-citanya, atau pekerjaannya berhasil dilaksanakan dengan lancar, tidak ada halangan yang berarti, atau berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya, akan tetapi ternyata banyak juga yang mengalami kendala, bahkan kurang/tidak berhasil. Kekurang atau ketidak berhasilan inilah yang sangat mengganggu, sehingga merupakan masalah yang perlu diatasi atau dipecahkan. Tatkala

manusia tidak dapat mengatasi atau memecahkan masalah dimaksud, maka dianggap perlu adanya bantuan orang atau pihak lain untuk membantu memecahkan permasalahan tersebut. Bantuan ini lebih pada yang sifatnya

psikologis berupa motivasi-motivasi agar orang atau kelompok orang yang mengalami kesulilan atau permasalahan tersebut tidak terus terpuruk, putus asa, tetapi dapat bangkit mengatasi kelemahan, kekurangan, dll. yang sifatnya negatif, dan muncul potensi kelebihan, kekuatan, dan hal-hal positif. Bantuanbantuan inilah yang menjadi tugas BP antara lain melalui nasehat, anjuran, diskusi, tukar pikiran, analisis, dll. sehingga ditemukan jalan menuju perbaikan dan keberhasilan.

BAB II LATAR BELAKANG DAN PERLUNYA BIMBINGAN DAN PENYULUHAN

A. LATAR BELAKANG

1. Tuntutan terhadap peri kehidupan manusia dan potensi yang ada pada diri manusia. Dalam hal ini manusia dituntut untuk mampu memperkembangkan dan menyesuaikan diri terhadap masyarakat. Untuk itu manusia telah dilengkapi dengan berbagai potensi : a. Keindahan dan ketinggian derajat kemanusiaan; b. Memiliki empat dimensi kemanusiaan, yaitu : 1) Keindividualan (individualitas) : Antara orang yang satu dengan orang selain terdapat berbagai perbedaan, bahkan kadangkadang sangat besar. 2) Kesosialan (sosialitas) : Semua orang memerlukan orang lain. Tidak seorang pun memperoleh kehidupan yang menyenangkan/ membahagiakan jika orang tidak pernah berperanan terhadapnya. Contoh : 1) Adam sebagai manusia pertama yang diciptakan Alloh Swt. memerlukan teman, maka oleh Alloh diciptakan juga Siti Hawa; 2) Bayi manusia yang dilahirkan memerlukan orang lain agar dapat terus hidup. 3) Kesusilaan (susilaitas/moralitas) : Kehidupan manusia tidak bersifat acak, sembarangan, tetapi mengikuti aturan-aturan tertentu. Manusia berbeda dengan binatang yang bebas semaunya. 4) Keberagamaan (religiusitas) : Kehidupan manusia tidak sematamata di dunia fana, tetapi juga menjangkau kehidupan di akhirat setelah kematian. Kesadaran ini menimbulkan keyakinan adanya keterkaitan antara manusia dan mahluk pada umumnya dengan
2

Sang Pencipta (Tuhan). Hal ini pada gilirannya akan mewarnai perikehidupan manusia baik secara perorangan maupun kelompok. Inilah yang dimaksud keberagamaan. Kesemuanya memungkinkan manusia dapat memenuhi tuntutan masyarakat, karena itu perlu pengembangan individu warga masyarakat secara serasi, selaras, dan seimbang.

2. Pengembangan manusia seutuhnya hendaknya mencapai pribadi-pribadi yang kediriannya (individualitasnya) matang, dengan kemampuan sosial yang menyejukkan, kesusilaan yang tinggi, serta keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME yang dalam.

3. Kenyataannya acap dijumpai keadaan pribadi manusia yang kurang berkembang dan rapuh, kesosialan yang panas dan sangar, kesusilaan yang rendah, serta keimanan dan ketaqwaan yang dangkal.

4. Dalam proses pendidikan banyak dijumpai permasalahan yang dialami oleh anak-anak, remaja/pemuda yang menyangkut dimensi kemanusiaan mereka, yaitu potensi mereka tidak berkembang secara optimal, misalnya : a. Yang berbakat tidak dapat mengembangkan bakatnya; b. Yang berkecerdasan tinggi kurang mendapat rangsangan dan fasilitas pendidikan, dll. sehingga bakat dan kecerdasan yang merupakan anugrah Alloh Swt. yang tidak ternilai harganya itu terbuang sia-sia, lebih-lebih mereka yang tidak memiliki bakat dan kecerdasan.

5. Tingkat kenakalan remaja (juvenile delinquency), misalnya

tawuran,

berandalan bermotor (geng motor), penyalahgunaan pemakaian obatobat terlarang dan psikotropika (narkoba), seks bebas, menyontek

dalam ulangan/ujian, dll. yang semakin meningkat, menunjukkan gejala


3

kurang berkembangnya dimensi kesosialan dan kesusilaan mereka. Demikian juga kurangnya penghayatan dan pengamalan nilai-nilai keTuhanan dan praktek-praktek kehidupan yang tidak didasarkan kaidahkaidah agama yang benar menggambarkan kurang mantapnya dimensi keberagamaan.

6. Contoh permasalahan yang terjadi dalam masyarakat : a. Pertengkaran antar warga bahkan sampai terjadi tawuran; b. Rendahnya disiplin kerja; c. Pengangguran; d. Pencurian, penggarongan, korupsi, pencucian uang; e. Perjudian; f. Perceraian; g. Pemerkosaan; h. Pelacuran; i. j. Seks bebas; Kumpul kebo;

k. Penculikan; l. Pembunuhan, dll.

7. Sumber permasalahan yang dihadapi anak-anak, remaja/pemuda terutama sekali berada di luar diri mereka sendiri, misalnya : a. Sikap orang tua dan keluarga; b. Keadaan keluarga secara keseluruhan; c. Pengaruh tv, video, film, internet; d. Suasana kekerasan dan kekurangdisiplinan masyarakat; e. Kelompok-kelompok sebaya yang menyimpang; f. Persaingan tidak sehat; g. Perilaku yang tidak demokratis; h. Faktor-faktor negatif lain di luar sekolah, dll. yang kesemuanya menjegal kesehatan mental mereka.
4

B. URGENSI

1. Ada pernyataan bahwa bimbingan identik dengan pendidikan, karena jika seseorang melakukan kegiatan mendidik berarti juga sedang membimbing, atau sebaliknya, jika seseorang melakukan kegiatan pelayanan bimbingan berarti juga sedang mendidik. Timbul pertanyaan : Mengapa BP masih diperlukan dalam dunia pendidikan? Mengapa pelayanan BP diperlukan dalam proses pendidikan (di sekolah/madrosah)?

2. Sebenarnya BP bisa dilakukan dalam keluarga, masyarakat, organisasi, industri, perusahaan dagang, termasuk dalam lembaga pendidikan, dsb.

3. Fenomena perilaku peserta didik (pelajar/siswa/mahasiswa) dewasa ini : a. Tawuran; b. Penyalahgunaan obat-obat terlarang dan psikotoprika; c. Perilaku seksual menyimpang; d. Degradasi moral; e. Hasil belajar yang tidak memuaskan; f. Tidak lulus ujian, dsb. menunjukkan bahwa tujuan pendidikan yang salah satu upayanya melalui proses pembelajaran, ternyata belum sepenuhnya mampu menjawab dan memecahkan berbagai persoalan tersebut di atas. Hal ini menunjukkan perlunya upaya pendekatan selain proses pembelajaran guna memecahkan berbagai persoalan perilaku tersebut. Upaya

dimaksud antara lain melalui pendekatan BP yang dilakukan di luar situasi proses pembelajaran.

4. Alasan lain mengapa pelayanan BP diperlukan dalam dunia pendidikan terutama di sekolah dan madrosah antara lain : a. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang demikian cepat menimbulkan perubahan dalam berbagai sendi kehidupan
5

(ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, industri, dsb.). yang berdampak terhadap kehidupan individu. Dampak dari perkembangan iptek dimaksud ada yang positif dan banyak juga yang negatif (berikan contoh-contohnya!). b. Berkaitan erat dengan makna dan fungsi pendidikan, karena menyangkut berbagai aspek kehidupan; c. Guru, tugas dan tanggung jawab utamanya mengajar sekaligus mendidik, membantu peserta didik untuk mencapai kedewasaan (baik jasmani dan terutama kecerdasan rohani). Fungsi pengajar sekaligus pembimbing terintegrasi dalam peran guru dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini guru hendaknya mengenal dan mema-hami tingkat perkembangan peserta didiknya yang meliputi kebutuhan, pribadi, kecakapan, kesehatan mental, dsb. Perilaku bijaksana akan muncul jika guru benar-benar memahami seluruh aspek kepribadian peserta didiknya. d. Faktor psikologis. Dalam proses pendidikan di sekolah/madrosah,

siswa merupakan pribadi-pribadi yang unik dengan segala karakteristiknya. Sebagai individu yang dinamis berada dalam proses

perkembangan, siswa memiliki kebutuhan dan dinamika dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Terdapat perbedaan individual antar siswa yang dapat menimbulkan berbagai masalah psikologis. Upaya pemecahan masalah dilakukan dengan pendekatan psikologis antara lain melalui BP. e. Beberapa masalah psikologis yang menjadi latar belakang perlunya pelayanan BP adalah : 1) Masalah Perkembangan Individu. Siswa berada dalam proses perkembangan menuju kedewasaan, maka diperlukan asuhan yang terarah. Asuhan guna mencapai tingkat perkembangan yang optimal dapat dilakukan melalui proses pendidikan dan pembelajaran, sedangkan BP merupakan bantuan individu dalam memperoleh penyesuaian diri sesuai dengan tingkat perkembangannya.
6

2) Masalah Perbedaan Individu. Tidak ada dua orang atau lebih individu yang sama aspek-aspek pribadinya. Ada yang cerdas, ada yang kurang cerdas, ada yang cepat dan ada yang lambat dalam menerima pelajaran, ada yang berbakat, kreatif, dan sebaliknya. Hal ini mem-bawa konsekuensi dalam pelayanan pendidikan kepada para siswa tersebut, misalnya menyangkut bahan ajar, metode, media, evaluasi, dsb. 3) Masalah Kebutuhan Individu. Tingkah laku individu berkaitan dengan upaya pemenuhan kebutuhannya, artinya, dalam memenuhi kebutuhannya akan muncul perilaku tertentu dari individu tadi. Jika individu tersebut mampu memenuhi kebutuhannya ia akan merasa puas, sebaliknya jika tidak mampu akan menimbulkan masalah baik bagi dirinya maupun lingkungannya. 4) Masalah Penyesuaian Diri. Individu harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baik di rumah, sekolah, maupun di tengah-tengah masyarakat. Jika tidak mempu menyesuaikan diri akan menimbulkan banyak masalah. 5) Masalah Belajar. Kegiatan belajar merupakan inti daripada proses pendidikan secara keseluruhan di sekolah/madrosah. Siswa akan banyak dihadapkan pada persoalan-persoalan belajar antara lain : 3) Pengaturan waktu belajar; 4) Memilih cara belajar yang tepat; 5) Penggunaan buku-buku/bahan pelajaran; 6) Belajat kelompok; 7) Memilih mata pelajaran yang cocok; 8) Memilih studi lanjutan; 9) Kesulitan konsentrasi; 10) Mudah lupa; 11) Mempersiapkan ujian, dsb.
7

C. PERLUNYA BP DI SEKOLAH/MADROSAH 1. Iptek membawa pengaruh luas dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat termasuk pendidikan dan kebudayaan. 2. Kebutuhan akan BP justru karena perkembangan kebudayaan yang sangat pesat yang mempengaruhi perkembangan masyarakat secara keseluruhan. 3. BP merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan memiliki kontribusi terhadap keberhasilan proses pendidikan di sekolah/ madrosah. Dengan demikian proses pendidikan tidak akan berhasil jika tidak didukung oleh penyelenggaraan BP yang baik. 4. Sekolah/madrosah memiliki tanggung jawab yang besar membantu siswa agar berhasil dalam belajar. Untuk itu sekolah/madrosah

hendaknya memberi bantuan kepada siswa untuk mengatasi masalahmasalah yang timbul dalam kegiatan belajar siswa, yang tidak lain BP. 5. Masalah-masalah umum yang dihadapi siswa sehingga memerlukan pelayanan BP antara lain : a. Masalah pribadi; b. Masalah yang menyangkut pembelajaran; c. Masalah pendidikan; d. Masalah karier atau pekerjaan; e. Masalah penggunaan waktu senggang; f. Masalah sosial, dsb.

BAB III PENGERTIAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN

A. BIMBINGAN (GUIDANCE) Istilah bimbingan adalah terjemahan dari bahasa Inggris guidance yang kata dasarnya guide yang memiliki beberapa arti : 1. Showing the way (menunjukkan jalan). 2. Leading (memimpin). 3. Giving instruction (member petunjuk). 4. Regulating (mengatur). 5. Governing (mengarahkan). 6. Giving advice (member nasihat).

Istilah guidance juga diterjemahkan sebagai bantuan, tuntunan, atau pertolongan. Jadi, secara etimologis bimbingan adalah memberi bantuan, tuntunan, atau pertolongan. Akan tetapi tidak semua bantuan, tuntunan,

atau pertolongan dapat diartikan bimbingan. Contoh : - Guru yang membantu siswa menjawab soal-soal ujian bukan suatu bentuk bimbingan; - Guru membantu siswa membayar SPP siswa juga bukan bimbingan.

Bantuan, tuntunan, atau pertolongan yang bermakna bimbingan konteksnya sangat psikologis, dan harus memenuhi syarat-syarat : 1. Ada tujuan yang jelas untuk apa bantuan itu diberikan. 2. Harus terencana, dalam arti tidak insidental dan asal-asalan. 3. Berproses dan sistematis, dalam arti ada tahapan-tahapan tertentu. 4. Menggunakan cara-cara dan pendekatan-pendekatan tertentu. 5. Dilakukan oleh ahli, yang memiliki pengetahuan dan keterampilan ten9

tang bimbingan. 6. Dilakukan evaluasi untuk mengetahui hasil dari pemberian bantuan, tuntunan, atau pertolongan dimaksud.

Berdasarkan pengertian tersebut di atas, definisi bimbingan dikemukakan antara lain oleh :

1. Miller (1961) : Bimbingan adalah proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah/madrosah termasuk keluarga, dan masyarakat.

2. Crow & Crow (1960) : Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang baik laki-laki maupun perempuan yang memiliki pribadi baik dan pendidikan yang memadai kepada seseorang (individu) dari setiap usia untuk

menolongnya mengembangkan kegiatan-kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan arah pandangannya sendiri, membuat pilihannya sendiri, dan memikul bebannya sendiri.

Dari pengertian tersebut di atas selanjutnya bimbingan dapat diurai sebagai berikut :

1. Jika merujuk pada proses perkembangan individu yang dibimbing, maka bimbingan berarti proses bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh pembimbing kepada terbimbing agar mencapai perkembangan yang optimal.

2. Jika proses bimbingan berlangsung dalam sistem persekolahan/ madrosah, maka bimbingan dapat dikonsepsikan sebagai proses
10

bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh guru pembimbing kepada siswa agar tercapai tingkat perkembangan yang optimal.

3. Jika merujuk pada persoalan-persoalan yang dihadapi individu, maka bimbingan dapat dikonsepsikan sebagai proses bantuan atau

pertolongan yang diberikan oleh pembimbing kepada individu agar individu yang dibimbing mampu mengenal, menghadapi, dan

memecahkan masalah-masalah dalam hidupnya.

Masalah-masalah

dimaksud bisa masalah pribadi, masalah sosial, masalah pendidikan, masalah karier, masalah penyesuaian diri, dsb.

4. Jika merujuk pada kemandirian individu yang dibimbing, maka bimbingan dapat dikonsepsikan sebagai proses bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh pembimbing kepada terbimbing (individu/ siswa) agar mencapai kemandirian.

Demikianlah, maka dapat disimpulkan : 1. Bimbingan merupakan suatu proses yang berkelanjutan. Artinya,

bimbingan tidak dilakukan secara kebetulan, insidental, tidak disengaja, asal-asalan, melainkan kegiatan yang dilakukan secara sengaja, berencana, sistematis, dan terarah pada tujuan.

2. Bimbingan merupakan prose membantu individu.

Membantu di sini

sifatnya tidak memaksa individu untuk menuju ke satu tujuan yang ditetapkan oleh pembimbing, melainkan mengarahkan individu ke arah tujuan yang sesuai potensi individu bersangkutan secara optimal. Pilihan dalam memecahkan masalah ditentukan oleh individu sendiri, sedangkan pembimbing hanya membantu memberikan alternatif solusinya.

3. Bantuan yang diberikan adalah kepada individu yang memerlukan da11

lam proses perkembangannya. Dalam setting persekolahan/ madrosah, bimbingan berarti memberikan bantuan atau pertolongan kepada setiap individu dari mulai anak-anak hingga dewasa (SD s/d PT).

4. Bantuan atau pertolongan yang diberikan adalah agar individu dapat mengembangkan dirinya secara optimal sesuai kapasitas potensinya.

5. Tujuan bimbingan adalah agar individu dapat berkembang secara optimal sesuai dengan lingkungan. Mengapa? Karena individu hidup di tengah-tengah masyarakat dan merupakan bagian/anggota masyarakat. Ia harus menyesuaikan perilakunya dengan tuntutan masyarakat. Jadi, agar individu memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya di masyarakat ia harus dapat menyesuaikan diri dengan baik.

6. Untuk mencapai tujuan bimbingan dimaksud diperlukan berbagai pendekatan, teknik, dan media atau alat (instrument) yang bertitik tolak dan kondisi pribadi individu yang bersangkutan. Proses bimbingan

hendaknya mencerminkan suasana asuh, kasih sayang, keakraban, saling menghormati, mempercayai, dan tanpa pamrih (tidak mengedepankan materi). Simpati dan empati harus diwujudkan dalam

pemberian bantuan selain didasarkan pada aturan/norma yang berlaku.

7. Dilaksanakan oleh personal yang memiliki keahlian dan pengalaman khusus di bidang bimbingan, tidak oleh sembarang orang. Artinya

orang tersebut harus memiliki syarat-syarat a.l. kepribadian yang baik, pendidikan yang memadai, pengalaman dan kecakapan yang cukup dalam bidang bimbingan.

Secara akronim ada yang mengartikan bimbingan dimaksud sebagai berikut :


12

B I M B I N G A N

antuan ndividu andiri ahan nteraksi asihat agasan suhan orma Dari akronim tersebut dapat disusun definisi : Bimbingan berarti

bantuan yang diberikan oleh pembimbing kepada individu agar individu yang dibimbing mencapai kemandirian dengan menggunakan berbagai bahan melalui interaksi dan pemberian nasihat serta gagasan dalam suasana asuhan dan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

B. PENYULUHAN (KONSELING) Istilah penyuluhan yang asalnya dari konseling berasal dari bahasa

Inggris counseling yang mempunyai beberapa arti : 1. To obtain counsel (nasihat); 2. To give counsel (anjuran); 3. To take counsel (pembicaraan).

Jadi, penyuluhan dalam kaitan dengan konseling dalam BP atau BP berarti pemberian nasihat, anjuran, dan pembicaraan dengan cara bertukar pikiran. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan penyuluhan.

Konseling merupakan salah satu teknik dan inti dalam bimbingan, atau jantung nya bimbingan. Dengan demikian praktek bimbingan dianggap belum ada jika tidak dilakukan konseling. Untuk selanjutnya bimbingan dan
13

konseling merupakan satu kesatuan yang terpadu (integral), artinya tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.

Kendati banyak pakar mempersepsikan konseling secara beragam, akan tetapi maknanya satu sama lain ada kesamaan. Kesamaan makna ini terutama dilihat dari kata kunci dalam tataran praktek, antara lain : 1. Konseling merupakan proses pertemuan tatap muka, hubungan atau relasi timbal balik antara pembimbing (konselor) dengan individu/siswa (klien/konseli). 2. Dalam proses pertemuan tersebut terjadi dialog, pembicaraan yang disebut wawancara (interview) konseling.

Menurut Mortensen (1964), konseling merupakan proses hubungan antar pribadi di mana orang yang satu membantu orang lainnya untuk meningkatkan pemahaman dan kecakapan menemukan masalahnya. Dalam hal ini konseling menunjukkan situasi pertemuan tatap muka atau hubungan antar pribadi.

Menurut

APGA (American Personnel and Guidance Association ),

konseling adalah hubungan antara seorang terlatih secara profesional dengan individu yang memerlukan bantuan yang berkaitan dengan kecemasan biasa atau konflik atau pengambilan keputusan atas masalah yang dihadapinya.

M. Surya (1988) menyimpulkan pengertian konseling sebagai berikut : 1. Konseling merupakan alat yang paling penting dalam keseluruhan proses bimbingan. 2 .Terlihat adanya pertalian (hubungan) dua orang individu (konselor dan klien/konseli) melalui serangkaian pertemuan dan wawancara.
14

3. Wawancara merupakan alat utama dalam keseluruhan kegiatan konseling. 4. Tujuan yang ingin dicapai dalam konseling adalah agar konseli : a. Memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang dirinya; b. Mengarahkan dirinya sesuai dengan potensi yang dimilikinya ke arah tingkat perkembangan yang optimal; c. Mampu memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya; d. Mempunyai wawasan yang lebih realistis serta penerimaan yang obyektif tentang dirinya; e. Memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya dan dapat menyesuaikan diri secara lebih efektif terhadap dirinya maupun lingkungannya; f. Mencapai taraf aktualisasi diri dengan potensi yang dimilikinya; g. Terhindar dari gejala-gejala kecemasan dan kesalahan (mal adjustment). 5. Konseling merupakan kegiatan profesional, artinya dilaksanakan oleh orang yang telah memiliki kualifikasi ahli dalam pengetahuan, rampilan, pengalaman, dan kualitas pribadinya. kete-

6. Konseling merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat mendasar dalam diri konseli terutama perubahan sikap dan tindakan. 7. Tanggung jawab utama dalam pengambilan keputusan berada di tangan konseli dengan bantuan konselor. 8. Konseling lebih menyangkut masalah sikap dan tindakan. 9. Konseling lebih berkenaan dengan penghayatan emosional daripada masalah-masalah intelektual.

10) Konseling berlangsung dalam situasi pertemuan tatap muka.


15

Walaupun makna bimbingan dan penyuluhan

dirumuskan secara

terpisah, akan tetapi dalam praktek merupakan kesatuan yang terpadu (integral) yang tidak dapat terpisahkan satu sama lain, karena penyuluhan merupakan salah satu teknik daripada bimbingan. Bimbingan dan

Penyuluhan (BP) merupakan proses bantuan, tuntunan, atau pertolongan yang diberikan oleh pembimbing (konselor) kepada individu (klien/konseli) melalui tatap muka atau hubungan timbal balik antar keduanya, agar memiliki kemampuan/kecakapan melihat dan menemukan masalahnya serta mampu memecahkan masalah tersebut. Atau untuk mengungkap

masalah-masalah konseli sehingga mampu menerima dirinya sendiri sesuai dengan potensinya.

C. KEKELIRUAN DALAM MEMAKNAI BIMBINGAN DAN PENYULUHAN

BP sering dipahami dan dimaknai secara tidak tepat oleh sebagian orang termasuk di kalangan praktisi BP. Bahkan sering muncul persepsi negatif tentang BP dari sebagian kepala sekolah/madrosah, pengawas, guru-guru, siswa, bahkan dari guru BP sendiri. Menurut Prayitno dan Erman Amti (1999), kekeliruan dalam memahmi BP antara lain :

1. BP disamakan saja atau dipisahkan samasekali dari pendidikan. Dalam hal ini ada dua pendapat ekstrim berkenaan dengan layanan BP : a. BP sama dengan pendidikan, sehingga BP tidak diperlukan karena sekolah/madrosah telah menyelenggarakan pendidikan. kata lain, BP sudah termasuk dalam usaha pendidikan; b. BP harus benar-benar dilaksanakan secara khusus oleh tenaga yang benar-benar ahli. Layanan BP harus secara nyata dibedakan dari praktek pendidikan dan pengajaran sehari-hari. Dengan

2. Guru BP (konselor) di sekolah/madrosah dianggap sebagai polisi sekolah yang mempunyai tugas menjaga dan mempertahankan tata
16

tertib, disiplin, dan keamanan sekolah/madrosah. Hal ini muncul karena sering ditemukan fakta guru BP diserahi tugas mengusut perkelahian antarsiswa, pencurian di kelas, mencari dan menginterogasi siswa yang bersalah, dan diserahi pula wewenang untuk mengambil tindakan

(menghukum) siswa bersangkutan.

3. BP semata-mata dianggap sebagai proses pemberian nasihat, padahal pemberian nasihat hanya salah satu dari upaya layanan BP. Selain memerlukan nasihat, umumnya klien (konseli) sesuai dengan masalah yang di-alaminya memerlukan pula layanan lain seperti pemberian informasi, penempatan dan penyaluran, bimbingan belajar, layanan rujukan, dll. Konselor juga harus melakukan upaya tindak lanjut dan mensinkronkan usaha yang satu dengan yang lainnya sehingga menjadi rangkaian terpadu dan berkesinambungan.

4. BP

dibatasi

hanya

menangani

masalah-masalah

yang

bersifat

insidental. Dalam praktek, memang sering ditemukan layanan BP yang bertitik tolak dari masalah yang dirasakan konseli sekarang yang sifatnya dadakan. Padahal layanan BP menjangkau dimensi waktu yang lebih luas, yaitu masa lalu, sekarang, dan masa yang akan

datang. Selain itu konselor seyogianya tidak menunggu saja konseli datang dan mengemukakan masalahnya. Artinya, konselor harus

proaktif dan menyusun program secara menyeluruh dan berkesinambungan dari waktu ke waktu.

5. BP dibatasi hanya untuk konseli tertentu saja.

Padahal BP bukan

disediakan dan tertuju hanya untuk konseli-konseli tertentu, tetapi terbuka untuk semua individu maupun kelompok yang memerlukannya, dan tidak boleh ada diskriminasi. Guru BP harus membuka pintu lebarlebar bagi semua siswa yang ingin memperoleh layanan BP.

6. BP hanya melayani orang sakit atau kurang normal. Justru BP berha17

dapan dengan orang-orang sehat (normal) yang mengalami masalahmasalah tertentu. Dalam hal ini, jika siswa mengalami masalah fisik, maka ia harus ditangani atau menjadi pasien dokter, dan jika mengalami masalah psikis (gangguan jiwa berat/stress), maka ia harus ditangani oleh psikiater (dokter ahli jiwa).

7. BP bekerja sendiri. Layanan BP seharusnya terintegrasi dengan program pendidikan dan pembelajaran lainnya di sekolah/madrosah. Guru BP harus bekerjasama dengan orang-orang yang bisa membantu penanggulangan masalah-masalah yang dihadapi siswa. masalah yang Masalah-

dialami siswa biasanya sangat kompleks dan terkait

dengan banyak pihak seperti orang tua, guru, teman di sekolah dan di luar sekolah, dll.

8. Konselor harus aktif sementara pihak lain pasif.

Anggapan ini tidak

tepat karena proses layanan BP tidak saja menuntut keaktifan konselor, tetapi juga pihak-pihak lain khususnya konseli sendiri. Berbagai pihak di sekolah/madrosah harus secara sinergis membantu kelancaran layanan BP. Masalah siswa bukan semata-mata tanggung jawab guru BP/

konselor tetapi tanggung jawab bersama semua komponen di sekolah/ madrosah.

9. Pekerjaan BP dapat dilakukan oleh siapa saja. Padahal layanan BP dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan, yaitu mengikuti filosofi, tujuan, metode, dan asas-asas tertentu. Oleh sebab itu layanan BP harus dilakukan oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan dalam bidang BP. Artinya, tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang!

10. Layanan BP berpusat pada keluhan pertama saja. Ini tidak tepat karena usaha pemberian bantuan melalui layanan BP umumnya diawali dengan melihat gejala atau keluhan awal yang disampaikan oleh konseli, tetapi
18

jika dilanjutkan, didalami, dan dikembangkan seringkali ternyata masalah yang sebenarnya lebih pelik dan kompleks dari yang tampak atau disampaikan oleh konseli. Bahkan bisa jadi berbeda dari yang

dikemukakan konseli tersebut. Jadi, usaha pemberian bantuan harus dipusatkan pada masalah yang sebenarnya, sehingga konselor tidak boleh terpukau oleh keluhan atau masalah yang disampaikan oleh konseli saja melainkan harus dapat menyelami sedalam-dalamnya masalah yang sebenarnya.

11. Menyamakan

pekerjaan

BP

dengan

pekerjaan

dokter/psikiater.

Memang dalam hal-hal tertentu terdapat kesamaan, yaitu sama-sama menginginkan konseli/pasien terbebas dari masalah atau penderitaan yang dialaminya. Selain itu baik konselor maupun psikolog atau dokter jiwa/psikiater sama-sama menggunakan teknik-teknik yang sudah teruji pada bidang layanan masing-masing untuk mengungkap masalah konseli/pasien, melakukan prognosis, diagnosis, dan akhirnya menetapkan cara-cara penanggulangannya. Akan tetapi hakekat pekerjaan

dimaksud berbeda, karena dokter/prikiater bekerja dengan orang-orang sakit, sementara konselor bekerja dengan orang-orang sehat tetapi memiliki masalah. Cara-cara menanggulangi masalahnya pun berbeda, dokter/psikiater menggunakan resep dan obat, sedangkan konselor melalui pengubahan orientasi pribadi, penguatan mental (psikis), penguatan tingkah laku, pengubahan lingkungan, dan tektik-teknik BP lainnya.

12. Menganggap hasil pekerjaan BP harus segera dapat dilihat. Padahal layanan BP berkenaan dengan aspek-aspek mental atau psikologis dan tingkah laku serta upaya untuk mengubahnya tidak semudah membalik telapan tangan. Dengan demikian hasil BP tidak dapat dilihat secara cepat.

13. Menyamaratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien/kon19

seli. Hal ini tidak mungkin karena setiap individu memiliki karak-teristik pribadi yang berbeda. Tidak ada dua orang yang sama. Karena itu masalah yang sama pada dua individu akan menuntut pemacahan yang berbeda. Penggunaan cara-cara atau metode tertentu untuk membantu konseli memecahkan masalahnya bergantung pada masalah yang dihadapi oleh konseli sendiri.

14. Layanan BP dibatasi hanya pada masalah-masalah yang ringan saja. Hal ini tidak tepat, karena untuk menetapkan berat ringan atau kompleksitas masalah tidaklah mudah. Bisa jadi kelihatannya masalah ringan tetapi setelah diungkap dan dikaji dari berbagai faktor ternyata berat, demikan sebaliknya. Dengan demikian tidak perlu terlebih dulu ditetapkan ringan atau beratnya masalah, yang penting tugas BP adalah menanggulanginya secara cermat dan tuntas. Penanggulangan

masalah yang dihadapi konseli semata-mata disesuaikan dengan pribadi konseli, jenis masalah, tujuan yang ingin dicapai, kemampuan konselor, sarana yang tersedia, dan kerjasama dengan pihak-pihak terkait. Jika konselor telah berupaya maksimal dengan mengarahkan seluruh kemampuannya dengan sarana yang ada tetapi masalah belum teratasi juga, maka pengalihtanganan konseli kepada pihak yang lebih mampu (misalnya psikolog/psikiater) perlu dilakukan.

15. Memusatkan usaha BP hanya pada penggunaan instrumen BP. Memang layanan BP memerlukan alat/instrumen seperti tes, inventori, angket, dll. tetapi keberadaan instrumen itu hanyalah sebagai alat bantu saja. Tanpa alat-alat dimaksud tidak boleh mengganggu, menghambat, atau melumpuhkan usaha layanan BP. Artinya, tanpa alat-alat terse-

but usaha BP harus tetap dilaksanakan. Guru BP atau konselor tidak boleh menjadikan ketiadaan instrumen tertentu sebagai alasan untuk mengurangi apalagi tidak melaksanakan layanan BP. Di sinilah

perlunya keterampilan guru BP atau konselor menggunakan apa yang


20

dimilikinya secara optimal sambil terus mengembangkan sarana penunjang yang diperlukan dalam rangka layanan BP.

21

BAB IV TUJUAN DAN FUNGSI BIMBINGAN DAN PENYULUHAN

A. TUJUAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN

Merujuk pada perkembangan individu yang dibimbing, maka tujuan BP adalah agar tercapai perkembangan yang optimal pada individu yang dibimbing dimaksud. Atau agar individu (siswa) dapat mengembangkan dirinya secara optimal sesuai dengan potensi dan kapasitasnya sesuai dengan lingkungannya. Optimalisasi pencapaian tujuan BP pada setiap individu berbeda, sesuai dengan tingkatan perkembangannya. berkaitan dengan masalah usia individu dimaksud. Hal ini

Misalnya proses

perkembangan dari anak ke remaja (dari usia SD/MI ke usia SMP/MTs), dari remaja ke pemuda (dari usia SMP/MTs ke usia SMA/SMK/MA dan PT).

Kenyataannya tidak semua individu (siswa) mampu melihat dan menyelesaikan sendiri masalah dihadapinya serta tidak mampu menyesuaikan diri secara efektif terhadap lingkungannya. Malah ada kalanya

individu tidak mampu menerima dirinya sendiri. Karena itu tujuan BP juga agar individu (siswa) yang dibimbing memiliki kemampuan atau kecakapan melihat dan menemukan masalahnya sekaligus memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

BP berkenaan dengan perilaku, karena itu tujuan BP dalam rangka : 1. Membantu mengembangkan kualitas kepribadian individu yang

dibimbing (dikonseling).

2. Membantu mengembangkan kualitas kesehatan mental konseli. 3. Membantu mengembangkan perilaku yang lebih efektif pada diri individu
22

dan lingkungannya.

4. Membantu konseli menanggulangi problema hidup dan kehidupannya secara mandiri.

Atau secara lebih rinci agar klien/konseli : 1. Memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya. 2. Mengarahkan dirinya sesuai dengan potensi yang dimilikinya ke arah tingkat perkembangan yang optimal.

3. Memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya. 4. Memiliki wawasan yang lebih realistis serta penerimaan yang obyektif tentang dirinya.

5. Dapat menyesuaikan diri baik terhadap dirinya sendiri maupun lingkungannya sehingga memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya.

6. Mencapai taraf aktualisasi diri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

7. Terhindar dari gejala-gejala kecemasan dan perilaku salah/keliru.

Dalam ajaran Islam, sosok individu yang ingin dicapai seperti tujuan BP di atas identik dengan insan kamil atau pribadi yang sehat rohani dan jasmaninya. Sosok demikian adalah individu yang mampu mewujudkan

potensi iman, ilmu, dan amal. Secara operasional individu demikian adalah yang mampu : 1. Berpikir positif sebagai hamba Alloh Swt. yang tugas utamanya ibadah (mengabdi kepadaNya).
23

2. Berpikir positif tentang dirinya dan orang lain dalam lingkungannya. 3. Selalu berpikir dan berdzikir dalam kehidupan sehari-hari. 4. Mewujudkan akhlakul-karimah (akhlak mulia) dan berbuat ikhsan (baik).

Secara rinci M. Hamdan Bakran Adz-Dzaky (2004) mengemukakan tujuan BP dalam Islam :

1. Untuk menghasilkan perubahan, perbaikan, kesehatan, serta kebersihan jiwa dan mental. Jiwa menjadi tentram dan damai ( muthmainnah), bersikap lapang dada (radliyyah), dan pencerahan taufiq dan hidayahNya (mardliyyah).

2. Untuk menghasilkan perubahan, perbaikan, dan kesopanan tingkah laku yang dapat memberikan manfaat baik pada diri sendiri dan lingkungannya (keluarga, sekolah, kerja, sosial, dan alam sekitarnya).

3. Untuk menghasilkan kecerdasan rasa (emosi) pada individu sehingga sehingga muncul dan berkembang rasa tolerasi (tasammukh), kesetiakawanan sosial, tolong-menolong, dan rasa kasih sayang.

4. Untuk menghasilkan kecerdasan spiritual pada diri individu sehingga muncul dan berkembang kehendak berbuat taat kepada Alloh Swt., ketulusan hati, serta ketabahan menerima ujianNya.

5. Untuk menghasilkan potensi ilahiyah, sehingga dapat melakukan tugas-tugasnya sebagai khalifah dengan baik dan benar, dapat dengan baik memenanggulangi berbagai persoalan hidup, serta dapat memberi manfaat dan keselamatan bagi lingkungannya.

24

B. FUNGSI BIMBINGAN DAN PENYULUHAN

Pelayanan BP khususnya di sekolah/madrosah memiliki beberapa fungsi, yaitu : Pencegahan (preventif), pamahaman, pengentasan, pemeliharaan, penyaluran, penyesuaian, pengembangan, perbaikan (kuratif), dan advokasi.

1. Pencegahan. Fungsi ini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya masalah pada diri individu (siswa) sehingga terhindar dari hal-hal yang menghambat perkembangannya. Beberapa kegiatan berkenaan dengan fungsi ini adalah : a. Layanan Orientasi : Program ini diberikan kepada individu (siswa) baru agar mengenal lingkungan tempat baru (kerja, sekolah, dll.) secara lebih baik sehingga terhindar dari berbagai masalah. Melalui program ini

disampaikan berbagai hal yang berkaitan dengan tugas/belajar di tempat baru itu, misalnya informasi tentang visi, misi, program kerja, peraturan-peraturan, kurikulum, cara-cara kerja/belajar, fasilitas/ sarpras yang tersedia, hubung-an sosial, tata tertib, dll. b. Layanan Pengumpulan Data : Melalui program ini akan diperoleh data yang lengkap dan akurat tentang individu (siswa) sehingga diperoleh pemahaman yang mendalam dan dapat mengantisipasi terhadap munculnya berbagai persoalan pada individu (siswa) tersebut. c. Layanan Kegiatan Kelompok : Melalui program ini diharapkan individu (siswa) memperoleh pemahaman diri dan lingkungan secara lebih baik sehingga mampu mengambil keputusan dengan tepat. Kegiatannya dapat dilakukan melalui dinamika kelompok, diskusi kelompok, bermain peran, dll. d. Layanan Bimbingan Karier : Program ini diberikan kepada individu (pegawai, siswa) sebelum me
25

memangku jabatan karier tertentu nantinya.

Melalui program ini

diharapkan individu tersebut memperoleh pemahaman diri dan lingkungannya secara lebih baik dan dapat mengembangkannya ke arah penca-paian karier sesuai dengan bakat, minat, cita-cita dan kompetensinya.

2. Pemahaman. Melalui fungsi ini konselor memberikan pemahaman kepada individu konseli tentang diri konseli dan permasalahannya oleh konseli sendiri. Pemahaman ini berkaitan dengan : a. Pemahaman tentang Konseli : Ini merupakan titik tolak dalam upaya pemberian bantuan BP. Pemahaman ini harus komprehensif berkenaan dengan latar belakang pribadi, kekuatan dan kelemahannya, kondisi lingkungan, dll. Aspek-aspek yang diungkap a.l. meliputi : 1) Identitas konseli a.l. mencakup nama, jenis kelamin, tempat dan tanggal lahir, agama, orang tua, status dalam keluarga, domisili, dll. 2) Pendidikan; 3) Status sosial ekonomi orang tua; 4) Kemampuan yang mencakup intelegensia, bakat, minat, dan kegemaran (hobi); 5) Kesehatan; 6) Kecenderungan sikap dan kebiasaan; 7) Cita-cita pendidikan dan pekerjaan; 8) Keadaan lingkungan tempat tinggal; 9) Kedudukan dalam pekerjaan dan prestasi yang pernah dicapai; 10) Kegiatan sosial yang dilakukan; 11) Program studi/jurusan pendidikan yang diikuti; 12) Mata kuliah/pelajaran yang diambil; 13) Nilai atau prestasi yang menonjol yang pernah dicapai; 14) Kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti;
26

15) Sikap dan kebiasaan belajar/bekerja; 16) Hubungan dengan teman-teman. dll. Pemahaman tentang konseli ini penting untuk bahan acuan terutama dalam rangka kerjasama dengan pihak-pihak lain untuk membantu konseli. b. Pemahaman tentang Masalah Konseli : Hal ini merupakan keniscayaan karena tanpa pemahaman terhadap masalah yang dialami konseli tidak mungkin pemecahan masalah tersebut dapat dilakukan. Pemahaman masalah konseli ini a.l.

menyangkut jenis masalah, intensitasnya, kemungkinan-kemungkinan serta dampak jika tidak segera dipecahkan, dll. Sebenarnyalah setiap orang memiliki masalah akan tetapi kompleksitasnya berbeda. Ada yang merasakan dan ada juga yang tidak merasakan bahkan mengabaikan. c. Pemahaman tentang Lingkungan : Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu yang secara langsung mempengaruhi individu tersebut, seperti keadaan rumah timpat tinggal, keadaan sosial ekonomi keluarga, keadaan emosional keluarga, hubungan antar tetangga dan teman sebaya, dll. Lingkungan tempat kerja misalnya lingkungan fisik, hak wewenang tugas kewajiban dan tanggung jawab, disiplin, aturan-aturan, penilaian hasil pelaksanaan pekerjaan, dll. Lingkungan sekolah/

madrosah misalnya lingkungan fisik, berbagai hak dan tanggung jawab siswa terhadap sekolah, disiplin yang harus dipatuhi, aturanaturan yang menyangkut kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, kenaikan kelas, hubungan dengan guru dan sesama teman, kesrmpatan-kesempatan yang diberikan oleh sekolah, dll.

3. Fungsi Pengentasan. Yang diharapkan konseli adalah teratasinya masalah yang dihadapinya, karena itu ia harus dientas/diangkat dari keadaan yang tidak disukainya
27

itu. Jadi upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan melalui BP pada hakikatnya merupakan upaya pengentasan.

4. Fungsi Pemeliharaan. Fungsi ini berarti memelihara segala sesuatu yang baik (positif) yang ada pada diri konseli baik yang merupakan pembawaan maupun hasil perkem-bangan yang telah dicapai selama ini. Intelegensia yang tinggi, bakat yang istimewa, minat yang menonjol untuk hal-hal yang positif dan produktif, sikap dan kebiasaan baik yang telah terbina dalam bertindak/bertingkah laku, cita-cita tinggi yang realistik, kesehatan/ kebugaran jasmani, hubungan sosial yang harmonis dan dinamis, akhlak yang mulia, dsb. perlu dipertahankan dan dipelihara, serta lebih dikembangkan. Demikian pula lingkungan yang kondusif (fisik, sosial budaya) perlu dipelihara dan dimanfaatkan untuk kepentingan konseli.

5. Fungsi Penyaluran. Setiap individu hendaknya memperoleh kesempatan mengembangkan diri sesuai dengan keadaan pribadinya masing-masing yang meliputi bakat, minat, kecakapan, cita-cita, dll. Melalui fungsi penyaluran,

pelayanan BP berupaya mengenali masing-masing konseli secara perorangan untuk selanjutnya memberikan bantuan menyalurkannya ke arah kegiatan/program yang dapat menunjang tercapainya perkembangan yang optimal. Bentuk kegiatan BP yang berkaitan dengan fungsi ini untuk siswa sekolah/ madrosah misalnya : a. Pemilihan sekolah ke jenjang lanjutan; b. Pemilihan prodi/jurusan yang tepat; c. Penyusunan program belajar; d. Pengembangan bakat dan minat; e. Perencanaan karier.

6. Fungsi Penyesuaian. Melalui fungsi ini pelayanan BP membantu konseli memperoleh penye
28

nyesuaian diri secara baik dengan lingkungannya termasuk lingkungan sekolah/ madrosah untuk siswa. Fungsi ini mempunyai dua arah, yaitu : a. Bantuan kepada konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang mempunyai tata nilai sosial budaya tersendiri dengan segala tuntut-an dan norma-normanya; b. Bantuan dalam mengembangkan diri konseli sesuai dengan keadaan dan potensinya.

Program-progran untuk siswa misalnya dapat dibuat secara perorangan ataupun kelompok seperti : a. Paket kegiatan belajar mandiri; b. Paket belajar akselerasi; c. Paket kegiatan ekstra kurikuler; d. Paket kegiatan kesenian; e. Paket kegiatan keterampilan, dsb.

7. Fungsi Pengembangan. Anak, remaja, dan pemuda merupakan individu yang sedang dalam proses perkembangan. dikembangkan. Mereka mempunyai potensi tertentu untuk

Melalui fungsi ini pelayanan BP diberikan untuk

membantu mereka dalam mengembangkan seluruh potensinya masingmasing secara lebih terarah. Hal-hal yang sudah baik (positif) dipertahankan, dimantapkan, dan dikembangkan.

8. Fungsi Perbaikan. Kendati pelayanan BP melalui fungsi pencegahan, penyaluran, penyesuaian, dan pengembangan telah diberikan, tetapi masih mungkin individu (siswa) memiliki masalah-masalah tertentu, sehingga fungsi perbaikan diperlukan. Berbeda dengan fungsi pencegahan, dalam

fungsi ini individu (siswa) yang memiliki masalah mendapat prioritas diberi bantuan sehingga diharapkan masalah yang dialaminya tidak terjadi lagi di masa datang.
29

9. Fungsi Advokasi. Pelayanan BP melalui fungsi ini adalah memberi membantu memberikan pembelaan kepada konseli atas hak dan kepentingannya yang kurang mendapat perhatian.

C. RELEVANSI TUJUAN DAN FUNGSI BP DENGAN ISLAM

Fokus layanan BP adalah manusia. Melihat relevansi tujuan dan fungsi BP dengan ajaran Islam juga dengan melihat bagaimana Islam memandang manusia, tujuan pencipaannya, tugas dan tanggung jawabnya, serta penjelasan-penjelasan lain berkenaan dengan syariat Islam. Islam adalah agama samawi (wahyu) yang langsung datang dari Alloh, Dzat yang Maha Suci, Maha Benar, dan Maha Sempurna. Karena itu ajarannya tidak

mungkin bertentangan dengan fitrah/potensi manusia. Ajaran Islam justru akan membimbing manusia ke arah fitrahnya dalam rel yang benar. Demikianlah BP dalam Islam bertujuan agar manusia (individu) mampu memahami fitrah/potensi insaniah-nya, dimensi kemanusiaannya, termasuk memahami berbagai persoalan hidup dan mencari alternatif pemecahannya. Jika pemahaman dan fitrah/potensi insaniah dapat

diwujudkan secara baik, maka manusia (individu) tersebut akan tercegah dari hal-hal dapat dapat merugikan dirinya dan orang lain. Dalan QS AlAnkabut (29:45) Alloh Swt. berfirman : Sesungguhnya shalat itu akan dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Selanjutnya dalam QS An-Naziat (79:40-41) : Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. Jika tujuan di atas tercapai, maka akan terwujud pula manusia yang bahagia (sehat jasmani dan rohani). Manusia inilah yang berkepribadian sehat, yaitu pribadi/individu yang mampu menerima diri sebagaimana adanya dan mampu mewujudkan hal-hal positif.
30

Dimensi kemanusiaan atau potensi insaniah dalam Islam disebut fitrah. QS Ar-Rum (30:30) menegaskan : Dia telah menciptakan manusia di atas fitrah itu, tidak ada perubahan bagi penciptaan fitrah Alloh itu, itulah agama yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya . Selain potensi fitrah, manusia juga diserahi tugas dan tanggung jawab

kemanusiaan, yaitu beribadah, sebagaimana ditegaskan dalam QS (51:56) : Aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengabdi kepadaKu. Mengabdi atau beribadah kepada Alloh pengertiannya luas, yaitu ibadah sunnat. mahdloh, dan ghoiru mahdloh, ibadah wajib dan ibadah

Dalam konteks yang luas, tugas utama manusia sebagai khalifah fil ardli, juga harus dilaksanakan dalam rangka pengabdian/beribadah kepada Alloh Swt. Jadi, seluruh aktivitas manusia termasuk siswa harus diniatkan (ber-ibadah) karena Alloh Swt. Sebagai bentuk penerimaan diri apa

adanya manusia diharapkan mampu mewujudkan sikap positif yaitu berprilaku baik (shaleh) dan berbuat baik (ikhsan) baik kepada dirinya, sesama, maupun lingkungan sekitarnya. Berkaitan dengan fungsi BP, secara umum Al-Quran diturunkan oleh Alloh Swt. juga berfungsi membimbing manusia ke arah jalan yang benar. QS Al-Baqarah (2:2) : Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Al-Quran sebagai petunjuk (hudan) akan membimbing manusia ke arah jalan yang benar yang diridloi Alloh Swt. Jika Al-Quran dibaca dan diamalkan maka akan mencegah dan melindungi manusia dari perbuatan tercela serta terhindar dari musibah sekali-gus dapat mengatasinya. Dengan keimanan yang kokoh dan mengamalkan seluruh ajaran Al-Quran, maka stress, depresi, frustrasi, atau bahkan hilang ingatan tidak akan terjadi pada manusia. Ajaran Islam melalui kitab suci Al-Quran dan As-Sunnah juga ber31

fungsi pengendalian (control), yaitu memberikan potensi yang mengarahkan aktivitas manusia sebagai hamba Alloh agar tetap terjaga dalam pengendalian dan pengawasanNya. Dengan fungsi ini perilaku individu

(siswa) sebagai ham-baNya tidak akan menyimpang dari ajaran Islam sehingga terwujud perilaku yang benar, baik, dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Juga akan terwujud perkembangan positif serta terjadi

keselarasan dan keharmonisan dalam kehidupan dan bersosialisasi, baik secara vertikal (hablum minalloh) maupun horizontal (hablum minannas).

Kemampuan pengendalian diri dalam diri individu (siswa) akan terwujud dalam perilaku sabar menerima berbagai rintangan hidup (ujian, musibah, atau bencana). Individu yang sabar akan menyandarkan semua rintangan hidup yang dialaminya hanya kepada Alloh Swt. sehingga emosi dan kepri-badiannya akan tetap terkendali dan mantap (stabil) dalam

bimbingan, tuntunan, dan perlin-dungan Alloh Swt.

QS Al-Baqarah

(2:155-156) : Dan sesungguhnya Kami benar-benar (pasti) akan menguji kamu dengan sesuatu yang dapat mendatangkan rasa takut, lapar, kekurangan harta benda, dan buah-buahan, dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah (bencana) mereka mengatakan : Sesungguhnya kami milik Alloh Swt. dan sesungguhnya kami kembali. hanya kepadaNyalah akan

Kecuali yang beriman dan beramal shaleh, kegagalan atau ketidakmampuan individu (siswa) mewujudkan potensi fitrah kesucian menyebabkan individu (siswa) tersebut terjerumus ke dalam derajat kemanusiaan yang rendah. QS At-Tiin (95:4-6) : Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia seindah-indahnya bentuk. Kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, maka mereka berhak memperoleh pahala yang tidak akan putus-putusnya. Ketidakmampuan manusia mengimplementasikan potensi fitrah-nya selain disebabkan oleh faktor dari dalam diri manusia sendiri
32

juga oleh faktor dari luar (lingkungan). Simak Hadits Nabi : Tiap-tiap anak (individu) dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), ibu-bapak (orang tuanyalah) yang menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Ajaran Islam menganjurkan agar manusia kembali ke jalan yang benar dengan mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah. Setelah individu

mengalami kegelisahan, cemas, ketidak-bahagiaan, dan kondisi-kondisi negatif lainnya hendaklah bertaubat hami, dan melaksanakan seluruh dengan banyak membaca, memaajaran Islam secara kaaffah

(keseluruhan). Secara preventif maupun kuratif hal ini akan mengobati dan menyembuhkan (mengembalikan individu kepada kondisi yang sehat). AlQuran sendiri berfungsi sebagai obat (syifa) bagi manusia. Bacalah QS Yunus (10:57) : Wahai manusia, sesung-guhnya telah datang kepadamu suatu pelajaran dari Tuhanmu, dan penyem-buh terhadap penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Dari uraian tersebut di atas, jelaslah terdapat relevansi tujuan dan fungsi BP dengan tujuan dan fungsi ajaran Islam. Justru salah satu tujuan dan fungsi diturunkannya Al-Quran seperti telah dikemukakan sebelumnya yaitu untuk membimbing manusia ke arah syariat atau jalan yang benar. (Al-Baqarah 2:2).

Mencermati kondisi pendidikan dewasa ini kita patut prihatin karena ternyata belum berhasil mengatasi dekadensi moral di kalangan siswa/ remaja, demikian juga tawuran, dan prilaku menyimpang lainnya. Mungkin saja karena dalam kurikulum tidak tersedia waktu yang cukup untuk pelajaran agama bahkan dewasa ini pelajaran khusus budi pekerti tidak ada lagi.

33

BAB V SASARAN DAN LINGKUP LAYANAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN DI SEKOLAH/MADROSAH

A. SASARAN BP DI SEKOLAH/MADROSAH

Sasaran atau obyek BP di sekolah/madrosah adalah tiap-tiap pribadi siswa secara perorangan dalam rangka mengembangkan apa yang ada (fitrah/ potensinya) secara optimal agar berguna bagi dirinya sendiri, lingkungan, dan masyarakat pada umumnya. Pengembangan pribadi siswa ini dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu :

1. Pengungkapan, Pengenalan, dan Penerimaan Diri : Untuk tahap ini perlu diajukan beberapa pertanyaan : Mengapa harus diungkap? Apanya yang harus diungkap? Siapa yang diungkap?

Bagaimana cara mengungkapnya? Tiap individu (siswa) diciptakan oleh Alloh Swt. dibekali dengan potensi-potensi tertentu, namun tidak semuanya mampu mengungkap potensinya itu. Demikian juga tiap

siswa memiliki masalah, akan tetapi kompleksitasnya berbeda satu sama lain. Juga tidak semua siswa mengenal atau mengetahui masalah dirinya. Dalam kondisi seperti ini maka siswa harus dibantu untuk

mengungkap potensi diri sekaligus masalah yang dihadapinya. Jadi, mengapa dan apa yang harus diungkap adalah potensi (kekuatan dan kelemahan) yang ada pada diri siswa, serta masalah yang dihadapinya. Yang harus diungkap adalah semua siswa yang menjadi sasaran BP. Adapun caranya selain dilakukan dengan layanan BP dapat juga melalui cara lain seperti tes, observasi, angket (kuesioner), wawancara, sosiometri, catatan pribadi, kunjungan rumah (silaturahmi), dll. Pribadi yang mantap dan berkembang secara baik adalah jika in34

dividu bersangkutan benar-benar menyadari/memahami tentang dirinya. Kesadaran/pemahaman ini akan tercapai jika kemampuan pengungkapan diri dapat berkembang secara baik pula. Kemampuan ini tidak serta merta timbul pada diri seseorang, tetapi memerlukan bantuan orang lain atau alat-alat tertentu seperti tes intelegensia, tes bakat, minat, alat pengungkapan ciri-ciri kepribadian, dll. Hasil pengungkapan diri yang obyektif melalui layanan BP merupakan dasar yang sehat untuk mengenal diri sendiri sebagaimana adanya, dan selanjutnya menjadi dasar bagi menerimaan diri sendiri sehingga terwujud pribadi yang sehat. Pribadi yang sehat adalah sosok pribadi yang mampu menerima diri sebagaimana adanya dan mampu mewujudkan hal-hal positif berkaitan dengan penerimaan diri dimaksud. Misalnya : Siswa yang telah mengenal dirinya kurang berprestasi

dibanding dengan teman-temannya yang lain, hendaklah ia tidak berputus asa, tidak rendah diri, dll. Justru harus memacu semangatnya untuk berprestasi lebih tinggi. Dalam hal ini harus tertanam dalam jiwannya suatu pertanyaan yang memacu semangat : Mengapa orang lain bisa, saya tidak? Tiada yang abadi di dunia ini, yang ada adalah perubahan. Karena itu kata C.H.K. Prahalad : If you dont learn, you dont change, if you dont change you die. So, you learn or die! (Jika engkau tidak belajar, engkau tidak akan berubah, jika engkau tidak berubah, engkau mati. Pilih belajar atau mati!). Jadi, sebenarnya yang penting adanya kemauan. Pasti bisa! Ada peribahasa : Di sana ada jalan, kalau ada kemauan! atau, Allah bisa karena biasa. Keadaan jasmaniah yang kurang sempurna atau kurang menguntungkan, hendaknya tidak menjadi alasan untuk bersedih hati yang mendalam dan merasa rendah diri, putus asa, menyalahkan orang lain bahkan menyalahkan Tuhan. Siswa yang mengetahui bahwa dirinya

dalam hal-hal tertentu lebih baik daripada teman-temannya, hendaknlah tidak sombong ataupun tidak berusaha.
35

2. Pengenalan Lingkungan : Individu (siswa) hidup di tengah-tengah lingkungan. Jadi siswa dituntut tidak hanya mengenal dirinya sendiri tetapi juga lingkungannya. Seperti pada penerimaan diri sendiri, siswa pun hendaknya menerima lingkungannya sebagaimana adanya. Tetapi tentu tidak berarti tunduk saja tanpa reserve. Dalam hal ini siswa dituntut harus mampu mewujudkan sikap positif terhadap lingkungannya. Lingkungan yang

kurang menguntungkan hendaknya tidak membuat ia putus asa, melainkan ia terima secara wajar dan berusaha memperbaikinya. Agar dapat mewujudkan sikap positif terhadap lingkungannya, atau agar individu berperilaku sesuai dengan tuntutan lingkungannya, individu ber-sangkutan harus diperkenalkan dengan lingkungannya. Siswa yang tidak mengenal lingkungan sekolahnya secara baik, maka perilakunya akan bermasalah, seperti pelanggaran disiplin, dsb. Upaya memper-

kenalkan individu terhadap lingkungannya melalui layanan BP akan terwujud pribadi yang sehat, yang mampu bersikap positif terhadap diri sendiri dan lingkungannya. 3. Pengambilan Keputusan : Setelah proses 1 dan 2 berjalan baik, maka tahap selanjutnya pembinaan untuk pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan adalah Peng-

memilih satu di antara beberapa alternatif/kemungkinan pilihan.

ambilan keputusan yang menyangkut diri sendiri seringkali amat berat dilakukan, terlebih jika terjadi pertentangan antara realitas diri sendiri dengan lingkungannya. Di sinilah peranan BP untuk membantu penampilan secara obyektif dua unsur, yaitu diri sendiri dan lingkungan. Pengambilan keputusan hendaknya dilakukan oleh individu itu sendiri, atau setidak-tidaknya jika diprakarsai oleh orang lain semisal konselor, kepu-tusan itu harus disetujui oleh individu yang dibimbing. Dalam konteks ini tujuan BP adalah agar individu yang dibimbing mampu mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.
36

4. Pengarahan Diri : Kemampuan mengambil keputusan hendaknya diwujudkan dalam bentuk kegiatan nyata, karena sebaik apapun keputusan, jika tidak diwujudkan dalam bentuk kegiatan nyata tidak ada manfaatnya. Misalnya jika siswa telah memutuskan untuk membuat jadwal belajar dan melaksanakannya, maka ia harus konsekuen melaksanakan keputusan yang telah diambilnya membuat jadwal belajar dan melaksanakannya. 5. Eksistensi Diri : Dalam konteks eksistensi diri (perwujudan diri), tujuan layanan BP adalah membantu individu (siswa) agar mampu mewujudkan dirinya secara baik di tengah-tengah lingkungannya. Setiap siswa hendaknya mampu mewujudkan diri sendiri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan dasar, dan karakteristik kepribadiannya. Perwujudan diri individu hendaknya dilakukan tanpa paksaan dan tanpa ketergantungan kepada orang lain, serta harus normatif, dalam arti sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Jika perwujudan diri ini benar-benar telah dimiliki oleh

individu bersangkutan, maka ia akan mampu berdiri sendiri dengan pribadi yang bebas dan mantap, serta terhindar dari sifat ragu dan ketakutan. Pribadinya akan positif, kreatif, penuh semangat, jujur, dll. serta mampu mengatasi masalahnya sendiri. Di sini perlu dipikirkan

sarana untuk penyaluran bakat dan kreatifitas yang tepat, sebab jika penyaluran bakat dan kreatifitasnya salah, eksistensinya bisa gagal.

B. LINGKUP LAYANAN BP DI SEKOLAH/MADROSAH.

Layanan BP di sekolah/madrosah mempunyai ruang lingkup yang luas dan dapat dilihat dari berbagai aspek, yaitu aspek fungsi, sasaran, layanan, dan masalah.
37

1. Aspek Fungsi : Ruang lingkup ini meliputi : a. Pencegahan; b. Pemahaman; c. Pengentasan; d. Pemeliharaan; e. Penyaluran; f. Penyesuaian; g. Pengembangan; h. Perbaikan.

2. Aspek Sasaran : Sasaran BP diperuntukkan bagi semua siswa dengan tujuan agar secara perorangan siswa mencapai perkembangan yang optimal melalui kemampuan : Pengungkapan, pengenalan dan penerimaan diri; pengenalan lingkungan; Pengambilan keputusan; Pengarahan diri; Perwujudan diri. 3. Aspek Layanan : Aspek ini meliputi : a. Pengumpulan data; b. Pemberian informasi; c. Penampatan; d. Penyuluhan; e. Alih tangan kasus (rujukan); f. Penilaian; g. Tindak lanjut.

4. Aspek Masalah : Aspek ini meliputi : a. Bimbingan pendidikan; b. Bimbingan karier;


38

c. Bimbingan pribadi (sosial).

Ruang lingkup layanan BP dewasa ini telah mengalami perkembangan yang pesat akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan iptek telah memunculkan berbagai persoalan baru sehingga upaya pemecahan-nya pun memerlukan pendekatan dan cara-cara baru pula. Dengan demikian layanan BP juga memerlukan penyesuaian-

penyesuaian. Di sekolah/madrosah layanan BP dewasa ini merujuk kepada pola yang meliputi : 1. BP sebagai bentuk pemberian bantuan. 2. Bidang-bidang BP yang mencakup : a. Pribadi; b. Sosial; c. Belajar; d. Karier. 3. Bidang layanan BP ayang mencakup : a. Orientasi; b. Informasi; c. Konseling perorangan; d. Konseling kelompok; e. Bimbingan kelompok. 4. Kegiatan pendukung BP yang mencakup : a. Instrumentasi; b. Himpunan data; c. Konferensi kasus; d. Kunjungan rumah; e. Alih tangan kasus.

Layanan BP di masyarakat pun bisa menerapkan pola tersebut di atas, akan tetapi ada plusnya, yaitu :
39

1. Keterpaduan yang mantap tentang pengertian, tujuan, fungsi, prinsip, dan asas BP. 2. Bidang layanan BP yang mencakup : a. Pengembangan pribadi; b. Pengembangan sosial; c. Pengembangan kegiatan belajar; d. Pengembangan karier; e. Pengembangan kehidupan berkeluarga; f. Pengembangan kehidupan beragama. 3. Jenis-jenis layanan BPang mencakup : a. Layanan orientasi; b. Layanan informasi; c. Layanan penempatan dan penyaluran; d. Layanan penguasaan konten; e. Layanan konseling perorangan; f. Layanan bimbingan kelompok; g. Layanan konsultasi; h. Layanan mediasi. 4. Kegiatan-kegiatan pendukung yang mencakup : a. Aplikasi instrumen; b. Himpunan data; c. Konferensi kasus; d. Kunjungan rumah; e. Alih tangan kasus. 5. Format layanan yang mencakup : a. Format individual; b. Format kelompok; c. Format klasikal; d. Format lapangan; e. Format politik.
40

BAB VI PRINSIP, ASAS, DAN LANDASAN MIMBINGAN DAN PENYULUHAN

A. PRINSIP BP

Layanan Bimbingan dan Penyuluhan (BP) adalah pekerjaan profesional, karena itu dalam prakteknya harus mengikuti prinsip, asas, dan landasan tertentu. Prinsip-prinsip BP adalah pedoman dalam pelaksanaan BP,

sehingga jika tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dimaksud berarti bukan BP dalam arti yang sebenarnya. Arifin dan Eti Kartikawati (1994) menjabarkan prinsip-prinsip BP ke dalam empat bagian, yaitu : 1. Prinsipprinsip umum, 2. Prinsip-prinsip khusus yang berhubungan dengan individu (siswa), 3. Prinsip-prinsip khusus yang berhubungan dengan pembimbing, dan 4. Prinsip-prinsip khusus yang berhubungan dengan organisasi dan administrasi BP. 1. Prinsip Umum : BP harus berpusat pada individu (siswa) yang dibimbing. Tiap individu memiliki karekteristik yang berbeda, jadi jika ada dua orang memiliki masalah yang sama, pasti penyebabnya berbeda, sehingga yang harus digali oleh pembimbing adalah yang ada pada masing-masing pribadi individu bersangkutan. BP diarahkan pada bantuan agar individu yang dibimbing mampu meng-arahkan dirinya untuk menghadapi kesulitankesulitan dalam hidupnya. Pemberian BP disesuaikan dengan kebutuhan individu (siswa) yang dibimbing. BP berkaitan dengan sikap dan

tingkah laku individu, jadi agar agar terjadi perubahan perilaku individu bersangkutan ke arah yang lebih baik. Pelaksanaan BP dimulai dengan mengidentifikasi berbagai kebu tuhan yang dirasakan individu yang dibimbing.
41

Upaya pemberian

bantuan BP harus dilakukan secara luwes, tidak kaku (fleksibel), artinya

harus dapat menyesuaikan dengan sikon. Program BP harus dirumuskan sesuai dengan program pendidikan dan pembelajaran di sekolah/madrosah, karena dalam rangka mendukung program dikbel dimaksud. BP harus dipimpin oleh orang yang memiliki keahlian dalam bidang BP dan pelaksanaannya harus bekerjasama dengan berbagai pihak terkait, misalnya dengan pihak keluarga yang dibimbing, psikolog, dokter, psikiater, dsb. Secara teratur harus dilakukan evaluasi yang berkesinambungan. 2. Prinsip Khusus yang Berhubungan dengan Individu (Siswa) : Layanan BP harus diberikan kepada semua siswa, tanpa memandang latar belakang suku, agama, sosial-ekonomi, budaya, dsb. baik yang memiliki masalah sederhana maupun kompleks, untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi. Harus ada kriteria untuk mengatur prioritas pemberian layanan BP, artinya sesuai dengan tingkat kegawatan permasalahannya, siapa yang harus didahulukan secara berurut. Program BP harus berpusat pada individu (siswa), dengan demikian sekolah/madrosah dalam kaitan program BP juga harus berorientasi pada siswa. Layanan BP harus memenuhi kebutuhankebutuhan individu (siswa) bersangkutan yang beragam dan luas.

Misalnya selain memperoleh kebutuhan dikpel, siswa juga memiliki kebutuhan penyaluran bakat, minat, dsb. Keputusan akhir dalam proses BP dibentuk oleh individu (siswa) sendiri, pembimbing hanya membantu memberikan alternatif pemecahan masa-lahnya. Individu (siswa) yang telah memperoleh layanan BP diharapkan secara berangsur-angsur dapat menolong dirinya sendiri. Dalam hal ini pembim-bing secara

langsung maupun tidak, harus menyadarkan siswa bersangkutan tentang kelebihan dan kekurangan dirinya dan dari pengalaman dalam mem peroleh layanan BP.

42

3. Prinsip Khusus yang Berhubungan dengan Pembimbing : Pembimbing/konselor harus melakukan tugas sesuai dengan kemampuannya masing-masing, karena tentu sebagai manusia setiap orang selain memiliki kelebihan juga memiliki kekurangan. Dalam hal merasa tidak mampu membantu memecahkan masalah individu yang dibimbingnya, maka harus menyerahkan kepada pembimbing yang dipandang lebih mampu. Konselor di sekolah/madrosah dipilih dan diangkat atas dasar kualifikasi kepribadian, pendidikan, pengalaman, dan kemampuannya. Sebagai tuntutan profesi, konselor harus senantiasa berusaha mengembangkan diri dan keahliannya melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan, penataran, seminar, workshop, dsb. lebih-lebih dikaitkan dengan perkembangan zaman. Konselor hendaknya selalu memanfaatkan berbagai informasi yang ada tentang individu yang dibimbing dan lingkungannya sebagai bahan untuk membantu yang bersangkutan ke arah penyesuaian diri yang lebih baik. Konselor harus menghormati dan menjaga kerahasiaan informasi tentang individu (siswa) yang dibimbingnya, karena bisa jadi ada yang bersifat pribadi yang tidak etis apabila bocor ke luar, dan memang tidak mau masalahnya diketahui oleh orang lain. Konselor dalam melakukan tugasnya hendaknya memanfaatkan berbagai metode dan teknik yang ada, sebab tidak semua masalah dapat dipecahkan oleh metode yang sama. 4. Prinsip yang Berhubungan dengan Organisasi dan Administrasi Layanan BP : BP harus dilaksanakan secara sistematis dan berkelanjutan. Pelaksanaan BP harus ada di kartu pribadi (cummulative record) bagi tiap siswa. Kartu ini memuat data siswa bersangkutan. Program layanan BP harus disusun sesuai dengan kebutuhan sekolah/madrosah karena dalam
43

rangka mendukung program sekolah/madrosah bersangkutan. Harus ada pembagian waktu antarpembimbing, sehingga masingmasing mendapat kesempatan yang sama dalam memberikan layanan BK dan tidak tumpang tindih. BP dilaksanakan dalam situasi individu atau kelompok sesuai dengan masalah yang dipecahkan dan metode yang dipergunakannya. Dalam menyelenggarakan layanan BP sekolah/madrosah harus bekerjasama dengan berbagai pihak, karena bisa jadi ada masalah

yang dihadapi siswa tidak dapat dipecahkan oleh konselor sendiri tanpa bantuan pihak terkait lainnya. Kepala sekolah/madrosah adalah penanggung jawab utama penyelenggaraan BP, dan konselor bertanggung jawab kepada KS ini.

B. ASAS BP Slameto (1986) membagi asas BP menjadi dua bagian, yaitu : 1. Asas BP yang berhubungan dengan individu (siswa), 2. Asas BP yang berhubungan dengan praktek/pekerjaan BP. 1. Asas BP yang Berhubungan dengan Individu (Siswa) : a. Kebutuhan : Tiap-tiap siswa mempunyai kebutuhan yang berbeda baik jasmaniah (fisik) maupun rohanian (psikis). Tingkah laku individu pada umumnya dalam rangka memenuhi kebutuhan, dan jika kebutuhan dimaksud tidak tercapai akan menimbulkan kekecewaan dan kecemasan yang pada akhirnya bisa menimbulkan prilaku

menyimpang. Di sinilah peran guru/pembimbing BP perlu memahami berbagai kebutuhan siswa, terutama kebutuhan psikis seperti kasih sayang, rasa aman, sukses dalam belajar/bekerja, harga diri, diakui dan diterima oleh kelompok, eksistensi dan aktualisasi diri, dsb.
44

b. Perbedaan : Tiap-tiap individu berbeda (individualitas), demikian juga siswa, misalnya dalam hal kemampuan, bakat, minat, kebutuhan, cita-cita, sikap dan pandangan hidup, serta ciri-ciri pribadi lainnya. Perbedaanperbedaan ini hendaknya mendapat perhatian secara lebih spesifik oleh konselor sehingga siswa dapat berkembang sesuai dengan karakeristik pribadinya masing-masing. c. Menjadi Dirinya Sendiri : Sesuai dengan karakteristik siswa pada butir b. maka konselor hendaknya mengarahkan siswa menjadi dirinya sendiri, bukan keinginan mengarahkan sesuai dengan keinginan konselor. d. Dorongan untuk Menjadi Matang : Dalam tiap tahapan perkembangannya tiap siswa mempunyai dorongan yang kuat untuk menjadi matang, produktif, dan berdiri sendiri. Matang dimaksud terutama kematangan kejiwaan, emosi, Layanan BP harus berorientasi pada kematangan-

dan sosial.

kematangan dimaksud. e. Dorongan untuk Menyelesaikan Masalah : Tidak ada individu (siswa) yang tidak mempunyai masalah, dan tidak ada pula yang ingin masalahnya tidak terselesaikan, lebih-lebih

individu yang sedang dalam proses perkembangan. Yang berbeda adalah kompleksitas masalahnya, dalam arti ada yang sedikit, ada yang banyak (kompleks). Pada dasarnya tiap individu (siswa)

mempunyai dorongan untuk memecahkan masalahnya, namun karena keterbatasan-keterbatasannya tidak selalu berhasil. Karena itu layanan BP harus diarahkan dalam rangka membantu individu (siswa) dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah

hidupnya dengan memacu dorongan-dorongan yang sudah ada pada individu (siswa) tadi.
45

2. Asas yang Berhubungan dengan Praktek/Pekerjaan BP : Arifin dan Eti Kartikawati (1995) serta Prayitno dan Erman Amti (1999), mengemukakan asas-asas yang berkenaan dengan praktek atau pekerjaan BP meliputi : Kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan, kekinian, kemandi-rian, kegiatan, kedinamisan, keterpaduan, kenormatifan, keahlian, alih tangan, dan tut wuri handayani. a. Asas Kerahasiaan : Masalah ada kalanya merupakan sesuatu yang harus diraha-siakan. Karena itu dalam proses BP ada individu (siswa) yang enggan berbicara karena merasa khawatir rahasianya diketahui orang lain termasuk konselornya, lebih-lebih jika konselornya tidak dapat menjaga rahasia kliennya. Dalam hal ini konselor harus berpegang teguh pada sas kerahasiaan agar tetap mendapat kepercayaan konseli sehingga jasa layanan BP berhasil baik. Asas ini sesuai

dengan ajaran Islam yang melarang seseorang menceritakan aib atau keburukan orang lain, bahkan ada ancaman bagi orang-orang yang suka membuka aib saudaranya diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri! QS An-nur (24:19) : Sesungguhnya orang-orang yang senang akan tersiarnya suatu kekejian

(keburukan/kejahatan) di tengah-tengah orang yang telah ber-iman, bagi mereka itu akan memperoleh siksa yang pedih di dunia dan akhirat. Relevan dengan ayat di atas, Hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah menyatakan : kejelekannya di hari kiamat. b. Asas Kesukarelaan : Proses BP harus berlangsung atas dasar kesukarelaan baik dari pihak konselor maupun dan terutama dari pihak konseli. Dengan asas ini, tanpa keterpaksaan dan keragu-raguan akan terjadi komunikasi, interaksi, sekaligus kepercayaan dari kedua belah pihak
46

Tiada seorang hamba menutupi

kejelekan yang lain di dunia, melainkan Alloh Swt. akan menutupi

sehingga proses BP akan berhasil baik. c. Asas Keterbukaan : Suasana keterbukaan sangat diperlukan baik oleh konselor mau-pun konseli (siswa). Asas ini tidak kontradiktif dengan asas keraha-

siaan karena keterbukaan yang dimaksud adalah menyangkut kesedia-an menerima saran-saran dari luar serta membuka diri untuk kepenting-an pemecahan masalah. Individu yang dibimbing

diharapkan berbicara jujur dan terus terang tentang dirinya sehingga telaah dan kajian mengenai berbagai kekuatan dan kelemahannya dapat dilakukan. d. Asas Kekinian : Layanan BK harus berorientasi pada masalah yang sedang dirasakan konseli saat ini, bukan masalah-masalah masa lampau atau yang mungkin akan dialami di masa yang akan datang. Asas ini juga mengandung arti konselor tidak boleh menunda-nunda pemberian bantuan kepada konseli. Konselor hendaklah lebih mengutama-

kan kepentingan konseli daripada yang lainnya. e. Asas Kemandirian : Kemandirian merupakan salah satu tujuan layanan BP. Individu

yang telah dibimbing hendaknya bisa mandiri, tidak bergantung kepada konselor maupun orang lain. Ciri-ciri kendirian antara lain : Mengenal diri sendiri dan lingkungannya, menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis, mengambil keputusan untuk dan oleh dirinya sendiri, mengarahkan diri sesuai dengan keputusan itu, mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan potensi, minat, dan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya. Tentu saja hal ini harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Kemandirian siswa SD/MI jangan diukur dengan kemandirian siswa SMP/MTs, kemandirian siswa SMP/MTs jangan dikukur dengan kemandirian siswa SMA/SMK/MA, dst.
47

f.

Asas Kegiatan : Layanan BP tidak akan memberikan hasil yang berarti jika konseli tidak melakukan sendiri kegiatan untuk mencapai tujuan BP. Dalam hal ini konselor harus dapat membangkitkan semangat konseli sehingga ia mau dan mampu melaksanakan kegiatan yang diperlukan dalam menyelesaikan masalah yang menjadi pokok pembicaraan dalam proses BP.

g. Asas Kedinamisan : Perubahan perilaku ke arah yang lebih baik dari konseli diharap-kan tidak sekadar mengulang-ulang hal yang lama dan monoton, melainkan perubahan yang selalu menuju ke suatu pembaruan atau yang lebih maju dan dinamis sesuai perkembangan yang dikehendaki. h. Asas Keterpaduan : Usaha BP hendaklah memadukan berbagai aspek kepribadian konseli, demikian juga dalam isi dan proses layanan yang diberikan. Jadi, harus serasi, selaras, dan seimbang. i. Asas Kenormatifan : Usaha layanan BP tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang berlaku (adat, kebiasaan, kesopanan, agama, ilmu, hukum, dll.). Termasuk dalam prosedur, teknik, dan instrumen/peralatan. j. Asas Keahlian : Layanan BP merupakan kerja profesional yang dilaksanakan oleh tenaga ahli yang khusus dididik untuk pekerjaan itu yang mengacu pada kualifikasi tertentu. k. Asas Alih Tangan : Sebagai manusia, konselor juga selain mempunyai kelebihan juga memiliki kekurangan dan keterbatasan, sehingga tidak semua masalah yang dihadapi konseli dapat dipecahkannya. Jika segala
48

daya upaya dan kemampuannya dalam memecahkan masalah konseli belum atau tidak juga berhasil, maka harus memindahkan tanggung jawab pemberian BP kepada konselor lain yang dipandang akan lebih mampu. l. Asas Tut Wuri Handayani : Asas ini menunjuk pada suasana umum yang hendak tercipta dalam rangka hubungan keseluruhan antara konselor dengan konseli. Asas ini malah perlu dilengkapi dengan ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Dalam praktek BK Islam, asas ini bertumpu pada keteladanan Rasululloh Saw. Yang dapat memecahkan berbagai masalah para sahabat ketika itu. Dalam QS

konteks ini Rasululloh dapat disebut sebagai konselor Islam. tauladan yang baik bagimu.

Al-Ahzab (33:21) : Bahwa di dalam diri Rasul Saw. terdapat contoh Hal ini juga harus dimaknai bahwa

untuk menjadi pemecah masalah yang baik dan efektif, konselor harus memulai dari diri sendiri (ibda binafsika).

C. LANDASAN BP Menurut Prayitno dan Erman Amti (1999) ada beberapa landasan BP, yaitu : Landasan filosofis, landasan religius, landasan psikilogis, landasan sosial budaya, landasan ilmuah dan teknologi, dan landasan pedagogik.

1. Landasan Filosofis : Filosofis dapat bermakna cinta kebijaksanaan, dengan demikian layanan BP adalah serangkaian tindakan yang semuanya diharapkan merupakan tin-dakan yang bijaksana. Pemikiran filosofis menjadi alat yang

bermanfaat bagi layanan BP baik secara umum maupun bagi konselor secara khusus, yaitu membantu dalam memahami situasi dan menyarankan keputusan yang tepat bagi konseli.
49

Juga memungkinkan

kehidupan konselor menjadi mantap, lebih fasilitatif, dan efektif dalam

penerapan upaya pemberian bantuan.

Landasan filosofis dalam layanan BP akan membantu konselor mema-hami hakikat konseli (siswa) sebagai manusia. Pertanyaanpertanyaan berkaitan dengan hakikat manusia dapat diajukan antara

lain : Apa/siapa manusia itu? Apa tugas dan tujuan hidupnya? Bagaimana potensinya?

2. Landasan Religius : Keberagamaan pada manusia menunjukkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk religius dan menimbulkan keyakinan bahwa manusia adalah ciptaan Alloh Swt. Hal ini mengisyaratkan pada ketinggian derajat dan keindahan manusia serta peranannya sebagai khalifah di muka bumi (khalifah fil ardli). QS At-Tiin (95:4) : Sesungguhnya Kami telah menciptakan seorang manusia dengan sebaik-baik bentuk.

Tiga hal pokok yang ditekankan dari landasan religius bagi layanan BP adalah : a. Keyakinan bahwa manusia dan seluruh alam semesta adalah makhluk ciptaan Alloh Swt. b. Sikap yang mendorong perkembangan perikehidupan manusia

berjalan ke arah yang sesuai dengan kaidan/ajaran agama; c. Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk iptek) serta kemasyarakatan yang sesuai dan meneguhkan kehidupan beragama untuk mem-bantu perkembangan dan pemecahan masalah individu.

Kemuliaan manusia banyak diungkapkan oleh ajaran agama apapun, karena itu segenap kemuliaan manusia adalah fokus netral dalam upaya layanan BP. Dengan demikian konselor secara hati-hati dan bijaksana harus menerapkan landasan religius terhadap konseli yang berbeda agama. Artinya tidak boleh bertentangan dengan ajaran
50

agama yang dianutnya.

3. Landasan Psikologis : BK adalah proses psikologis (kejiwaan), artinya situasi BP merupakan situasi yang sarat dengan muatan-muatan psikologis. Psikologi

mempersoalkan perilaku individu, karena itu landasan psikologis dalam layanan BP berarti mempersoalkan perilaku idividu yang menjadi sasaran, yaitu perilaku yang akan dikembangkan atau diubah jika ia hendak mengatasi masalah yang dihadapinya atau ingin mencapai tujuan.

Adapun aspek psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor meliputi : Motif dan motivasi, pembawaan dasar dan lingkungan, perkembangan indivi-du, belajar, balikan, dan penguatan, serta kepribadian.

4. Landasan Sosial-Budaya : Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Dimensi sosial manusia harus dipertahankan dan dikembangkan melalui la-yanan BP. Manusia juga makhluk budaya yang juga harus memenuhi tun-tutan budaya di mana ia hidup, sehingga dapat mengembangkan tingkah laklunya sesuai dengan pola-pola yang dapat diterima dalam budaya dimak-sud. Kegagalan individu memenuhi tuntutan biologis akan menyebabkan kepunahan, sementara kegagalan memenuhi tuntutan budaya akan mengaki-batkan tersingkir dari kehidupan bersama. Menurut Fullmer (1969), tiap individu mencapai yang unik kemanuasiaannya

berkat pengaruh nilai-nilai, aspirasi, ide-ide, harapan, dan

keinginan yang ditujukan kepadanya melalui lembaga-lembaga yang sengaja dikembangkan, yang semuanya berada dalam khasanah kebudayaan manusia. Dengan demikian organisasi sosial, lembaga

keagamaan dan kemasyarakatan, secara menyeluruh memberikan pengaruh yang kuat terhadap sikap, kesempatan, dan pola hidup warganya.
51

Manusia hidup bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, dan masingmasing memiliki lingkungan sosial dan budaya yang berbeda.

Perbedaan-perbedaan itu menimbulkan subyektivitas budaya sehingga berpengaruh pada upaya pemberian bantuan BK. Karena proses BK merupakan proses komunikasi antara konselor dengan konseli, maka proses BP yang bersifat antarbudaya sangat peka terhadap pengaruh dari sumber-sumber hambatan komunikasi, seperti adat, agama, bahasa, dsb. Dalam hal ini konselor hen-daknya bisa menjaga netralitas sosialbudaya dalam memberikan bantuan.

5. Landasan Ilmiah dan Teknologi : Secara keilmuan, BP merupakan pengetahuan tentang BP yang terssusun secara logis dan sistematis. Landasan ilmiah BP mengisyaratkan bahwa praktek BP harus dilaksanakan atas dasar keilmuan. Karenanya, siapa pun orangnya yang berkecimpung dalam dunia BP harus memiliki ilmunya, dan ilmu ini bersifat multirefensial, yaitu disiplin ilmu dengan rujukan (referensi) ilmu-ilmu yang lain seperti psikologi (psikologi anak, remaja, perkembangan, kepribadian, orang dewasa, psikologi komunikasi, dll.), ilmu pendidikan, filsafat, sosiologi, antropologi, ekonomi, agama, hukum, statistik, evaluasi, dsb.

Kontribusi ilmu-ilmu lain terhadap BP tidak hanya terbatas pada pem-bentukan dan pengembangan teori-teori BP tetapi juga pada praktek pelayan-annya. Selain perlu dukungan sejumlah ilmu, praktek BP juga memerlukan dukungan perangkat teknologi, antara lain dalam pembuatan instrumen, alat/ media untuk memperjelas materi, misalnya program komputer.

6. Landasan Pedagogik : BP identik dengan pendidikan, artinya ketika seseorang melakukan praktek layanan BP, berarti juga sedang mendidik, demikian sebaliknya. Landasan pedagogik layanan BP paling tidak berkaitan dengan :
52

Pendidikan sebagai upaya pengembangan manusia dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan, pendidikan sebagai inti proses BP, dan pendidikan lebih lanjut sebagai inti BP.

a. Pendidikan Sebagai Upaya Pengembangan Manusia dan Bimbingan Merupakan Salah Satu Bentuk Kegiatan Pendidikan. Fokus layanan BP adalah manusia, sehingga timbul pernyataan : Bimbingan dari manusia, oleh manusia, dan untuk manusia . Manusia dimaksud adalah yang berada dalam proses perkembangan yang secara berkelanjutan berusaha mewujudkan dimensi-dimensi kemanusiaannya untuk menjadi manusia seutuhnya (insan kamil atau kaffah). Dalam arti luas pendidikan dapat dikonsepsikan sebagai upaya memanusiakan manusia karena tanpa pendidikan dan bimbingan potensi yang ada tidak akan berkembang.

Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas berbunyi : terencana untuk Pendidikan merupakan usaha sadar dan suasana belajar dan proses

mewujudkan

pembelajaran agar peser-ta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki ke-kuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Ditegaskan pula pada Ayat (6) Pasal itu konselor termasuk ke dalam ketegori pendidik, yang secara eksplisit mempunyai tugas utama : Mewujudkan suasana belajar, dan mewujudkan suasana pembelajaran. Suasana belajar adalah kondisi yang terjadi pada diri konseli yang menja-lani BP. Suasana belajar yang efektif dapat

diwujudkan melalui proses BP yang efektif. Sementara itu suasana pembelajaran merupakan kondisi yang secara dinamis, strategis, dan langsung dikembangkan oleh konselor terhadap konseli. Untuk
53

bisa mewujudkan suasana pembelajaran yang efektif konselor dituntut untuk menguasai berbagai kompetensi yang mendukung profesinya.

Secara khusus tentang pendidikan Islam, Arifin (1987) menyatakan bahwa : Pendidikan Islam merupakan bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam. Tanpa melalui proses

pendidikan manusia dapat menjadi makhluk yang serba diliputi oleh dorongan-dorongan nafsu jahat, ingkar dan kafir terhadap Tuhannya.

Dalam layanan BP harus terkandung aspek-aspek pendidikan seper-ti : Usaha sadar dari konselor kepada konseli, dan menyiapkan konseli untuk perannya di masa datang yang diwujudkan melalui tujuan-tujuan BP.

b. Pendidikan Sebagai Inti Proses BP : Pendidikan merupakan usaha sadar menyiapkan peserta didik (konseli) melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau pelatihan. Indikator utama yang menandainya adalah : Peserta didik yang

terlibat di dalamnya menjalani proses belajar, dan kegiatan BP bersifat normatif. BP merupakan proses yang berorientasi pada

belajar, yakni untuk memahami lebih jauh tentang diri sendiri, serta mengembangkan pemahaman. dan menerapkan secara efektif berbagai

c. Pendidikan Lebih Lanjut Sebagai Inti Tujuan BP : BP mempunyai tujuan jangka pendek (khusus) dan jangka panjang (akhir). Menurut Crow & Crow (1990), tujuan khusus yang segera hen-dak dicapai dalam layanan BP adalah membantu individu (siswa) memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya, sedang54

kan tujuan jangka panjang (akhir) adalah bimbingan diri sendiri, dalam arti mampu mengembangkan kemampuan sendiri untuk memecahkan masalah-masalah sendiri tanpa bantuan atau layanan BP.

55

BAB VII MASALAH SISWA DI SEKOLAH/MADROSAH

Sebagai manusia (individu) siswa di sekolah/madrosah dapat dipastikan memiliki masalah, akan tetapi kompleksitas masalah tersebut berbeda satu sama lain. Masalah-masalah dimaksud berkenaan dengan : 1. Perkembangan individu. 2. Perbedaan individu dalam hal : Kecerdasan/kecakapan, hasil belajar,

bakat, sikap, kebiasaan, pengetahuan, kepribadian, cita-cita, kebutuhan, minat, pola-pola dan tempo perkembangan, ciri-ciri jasmaniah, dan latar belakang lingkungan.

3. Kebutuhan individu dalam hal : Memperoleh kasih sayang, harga diri, penghargaan yang sama dengan orang lain, ingin dikenal, memperoleh prestasi dan posisi, merasa bagian dari kelompok, rasa aman dan perlindungan diri, mem-peroleh kemerdekaan diri.

4. Penyesuaian diri dari kelainan tingkah laku. 5. Masalah belajar.

Sementara itu M. Hamdan Bakran Adz-Dzaky (2004) menggolongkan masalah individu termasuk siswa : Masalah atau kasus yang berhubungan

problematika individu dengan Tuhannya, individu dengan dirinya sendiri, individu dengan lingkungan keluarga, individu dengan lingkungan kerja, dan individu dengan lingkungan sosial. dapat diuraikan sebagai berikut : Masalah-masalah atau kasus dimaksud

56

1. Masalah atau Kasus yang Berhubungan Problematika individu dengan Tuhannya. Adalah kegagalan individu dalam melakukan hubungan secara vertikal dengan Tuhannya, seperti sulit menghilangkan rasa takut, rasa tidak bersalah atas dosa yang telah dilakukannya, sulit menghadirkan rasa taat, merasa bahwa Tuhan selalu mengawasi perilakunya sehingga merasa tidak memiliki kebebasan. Dampaknya adalah timbul rasa malas atau enggan beribadah, dan sulit meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dilarang Tuhan.

2. Masalah Individu dengan Dirinya Sendiri. Adalah kegagalan bersikap disiplin dan bersahabat dengan hati nurani yang selalu mengajak/menyeru kepada kebenaran dan kebaikan. Dampaknya muncul sikap waswas, ragu-ragu, dan prasangka buruk (suudzon), motivasi rendah, tidak mampu bersikap mandiri, dll.

3. Masalah Individu dengan Lingkungan Keluarga. Adalah kesulitan atau ketidakmampuan mewujudkan hubungan yang harmonis antar anggota keluarga, misalnya anak dangan ayah dan ibu, adik dengan kakak dan saudara-saudaranya, dll. Hal ini menyebabkan

anak merasa tertekan, kurang kasih sayang, dan kurangnya ketauladanan orang tua, dll.

4. Masalah Individu dengan Lingkungan Kerja. Adalah kegagalan individu memilih pekerjaan yang cocok dengan karakteris-tik pribadinya, kegagalan dalam meningkatkan prestasi kerja, ketidakmapuan berkomunikasi dengan atasan, rekan sekerja, dan

kegagalan dalam melaksanakan pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.

57

5. Masalah Individu dengan Lingkungan Sosial. Adalah ketidakmampuan melakukan penyesuaian diri (adaptasi) baik dengan lingkungan tetangga, sekolah, dan masyarakat, atau kegagalan bergaul dengan lingkungan yang beranekaragam watak, sifat, dan perilakunya. Semua masalah yang disebutkan di atas harus diidentifikasi oleh guru pembimbing atau konselor di sekolah/madrosah, sehingga dapat menerapkan skala prioritas masalah mana yang harus dibicarakan terlebih dahulu dalam layanan BP. Masalah-masalah ini pun harus menjadi pertimbangan dalam

menyusun program BP di sekolah/madrosah.

58

BAB VIII PETUGAS BIMBINGAN DAN PENYULUHAN DI SEKOLAH/MADROSAH DAN SYARAT-SYARATNYA

A. PETUGAS BP DI SEKOLAH/MADROSAH Terdapat dua tipe tenaga/petugas BP, yaitu tipe profesional dan non profesional. Petugas BP profesional adalah mereka yang direkrut atas

dasar kepemilikan ijazah atau latar belakang pendidikan profesi dan melaksanakan tugas khusus sebagai guru BP. Klasifikasi keilmuannya

adalah jurusan atau program studi BP baik diploma II, III, maupun sarjana (S1, S2, S3). Mereka mencurahkan sepenuh waktunya pada layanan BP, tidak diberi tugas mengajar mata pelajaran lain, atau disebut juga full time guidance and conselling. Petugas BP profesional di sekolah/madrosah ini bisa lebih dari satu orang. Jika sekolah/ madrosah berpegang pada pola spesialisasi, maka petugas profesional ini menjadi tenaga inti dan memegang peranan kunci dalam layanan BP. Petugas BP non profesional adalah mereka yang dipilih dan diangkat tidak berdasarkan latar belakang pendidikan profesi. Yang termasuk pada petugas BP non profesional ini adalah : 1. Guru Wali Kelas, yang selain memegang kelas tertentu juga diserahi tugas dan tanggung jawab sebagai petugas BP (tugas rangkap). Alasannya karena waki kelas biasanya dekat dengan siswa sehingga dengan segera menge-tahui berbagai persoalan siswanya. 2. Guru Pembimbing, yaitu seorang guru yang selain mengajar mata pelajaran tertentu, dilibatkan pada layanan BP (part time teacher and part time coun-selor). Biasanya guru yang diberi tugas rangkap sebagai petugas BK ini adalah guru agama, guru PPKn, atau guru-guru yang tidak memiliki jam pelajaran. 3. Guru Mata Pelajaran, tetapi diserahi tugas khusus menjadi petugas BP. Jadi tugas pokoknya justru layanan BP kepada siswa.
59

4. Kepala Sekolah/Madrosah yang bertanggung jawab atas sekurangkurang-nya 40 orang siswa. Pertimbangannya karena jabatan KS

berasal dari jabat-an fungsional guru, sehingga fungsi sebagai pejabat fungsional tidak tanggal selain memimpin sekolah/madrosah.

B. SYARAT-SYARAT PETUGAS BP DI SEKOLAH/MADROSAH Petugas BP di sekolah/madrosah dipilih dan diangkat atas dasar : Kepribadian, pendidikan, pengalaman, dan kemampuan. 1. Syarat Kepribadian : Karena layanan BP berkaitan dengan pembentukan perilaku dan kepribadian konseli, maka seorang guru BP harus memiliki kepribadian yang baik. Dengan kepribadian yang baik tidak akan terjadi pelanggaran terhadap normna-norma yang bisa merusak citra layanan BP. Bahkan dalam keadaan tertentu seorang guru BP dapat menjadi model atau contoh yang baik bagi penyelesaian masalah konseli/siswa atau konseling melalui percontohan (counselling by modeling). Di

lingkungan pendidikan Islam hal ini sudah merupakan keharusan, yaitu seorang guru harus berakhlak mulia (akhlakul-karimah). Oleh karena itu Rosululloh Muhammad Saw. merupakan konse-lor pertama yang membimbing, mengarahkan, menuntun, dan menasihati agar beriman kepada agama Tauhid (mengesakan Alloh Swt.) sehingga memperoleh kebahagiaan hidup baik di dunia dan terumata di akhirat kelak. Hal ini relevan dengan dengan pernyataan : Sesungguhnya di dalam diri Muhammad Saw. terdapat contoh teladan yang baik bagimu. Aktualisasi syarat ini akan terwujud pada guru BP yang ikhlas, jujur, obyektif, simpatik, dan senantiasa menjunjung tinggi kode etik profesi layanan BP. 2. Syarat Pendidikan : Telah disebutkan bahwa pelayanan BP adalah pekerjaan profesiopnal,
60

sehingga diperlukan persyaratan tertentu antara lain pendidikan. Utamanya tentu pendidikan dengan disiplin ilmu khusus yaitu BP, akan tetapi paling tidak latar belakang pendidikan keguruan atau tarbiyah (agama) yang sudah pasti terdapat ilmu yang berkaitan dengan didaktikmetodik, di samping ilmu ten-tang manusia dengan berbagai macam problematikanya (psikologi, sejarah, antropologi, ekonomo, dsb.). 3. Syarat Pengalaman : Pengalaman dalam memberikan layanan BP berkontribusi terhadap keluasan wawasan konselor bersangkutan. Dalam hal ini dapat

dibuktikan bahwa sarjana (S1, S2, S3) BP yang baru, belum tentu lebih baik dibanding dengan guru BP yang hanya diploma tetapi berpe-

ngalaman dalam layanan BP sudah cukup lama. Selain itu, pengalaman hidup pribadi guru BP yang mengesankan, berbagai corak ragam pengalaman hidup yang telah dihayati, juga akan turut membantu upaya mencarikan alternatif pemecahan masalah siswa. 4. Syarat Kemampuan : Kemampuan dan keterampilan atau kompetensi guru BP merupakan keniscayaan. Tanpa kompetensi ini tidak mungkin guru BP dapat M. Djawad Dahlan (1987)

melaksanakan tugasnya dengan baik.

menyatakan bahwa konselor dituntut memiliki berbagai keterampilan melaksanakan konseling, dengan mengetahui dan memahami secara mendalam sifat-sifat seseorang, daya kekuatan seseorang, merasakan kekuatan jiwa apakah yang mendorong sesorang berbuat, dan mendiagnosis berbagai persoalan siswa, selanjutnya mengembangkan potensi individu secara positif.

61

BAB IX BIDANG-BIDANG LAYANAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN DI SEKOLAH/MADROSAH

A. BIDANG PENGEMBANGAN PRIBADI

1. Aspek-aspek Bimbingan Pribadi : Bimbingan pribadi adalah jenis bimbingan yang membantu para siswa dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah pribadi.

Masalah individu ada yang berkenaan dengan Tuhannya dan ada yang berkenaan dengan dirinya sendiri. mencakup keduanya. Bidang pengembangan pribadi

Masalah yang berkenaan dengan Tuhan seperti sulit menghadirkan rasa taqwa, rasa taat, dan merasa bahwa Tuhan selalu mengawasinya. Akibatnya timbul tasa malas dan enggan melakukan ibadah atau enggan meninggalkan perbuatan yang dilarang dan dimurkai Tuhan. (Mestinya kalau merasa diawasi Tuhan justru harus makin bertaqwa, dalam arti melaksanakan yang diperintah dan menjauhi yang dilarang oleh Tuhan dengan mengikuti ajaran-ajaran agama yang dianutnya-Pen).

Masalah yang berkenaan dengan dirinya sendiri misalnya kegagalan bersikap disiplin dan bersahabat dengan nuraninya sendiri yang selalu menyeru dan mengajak pada kebaikan, kebenaran, dan keadilan. Akibatnya timbul sikap waswas, ragu-ragu, berprasangka buruk, lemah motivasi, dan tidak mampu mandiri dalam melakukan segala hal. Konflik yang berlarut-larut dan frustrasi merupakan sumber timbulnya masalah pribadi.

Menurut M. Surya dan Winkel (1991), aspek-aspek masalah individu yang memerlukan layanan BP adalah :
62

a. Kemampuan individu memahami dirinya sendiri; b. Kemampuan individu mengambil keputusan sendiri; c. Kemampuan individu memecahkan masalah yang menyangkut keadaan batinnya sendiri.

2. Makna Bimbingan Pribadi : Bimbingan pribadi adalah bantuan dari pembimbing kepada terbimbing/ individu agar dapat mencapai tujuan dan tugas perkembangan pribadi dalam mewujudkan pribadi yang mampu bersosialisasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara baik.

3. Tujuan Bimbingan Pribadi : Berdasarkan makna bimbingan pribadi di atas, maka tujuannya adalah : a. Membantu individu agar dapat memecahkan masalah-masalah yang bersifat pribadi; b. Mencapai tujuan dan tugas perkembangan pribadi; c. Mewujudkan pribadi yang mampu bersosialisasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.

4. Bentuk-bentuk Layanan Bimbingan Pribadi : Terdapat tiga macam bentuk laytanan bimbingan pribadi : a. Layanan informasi tentang tahap-tahap perkembangan : Fisik,

motorik, bicara, sosial, penyesuaian sosial, bermain, kreativitas, pengertian, moral, seks, dan perkembangan kepribadian. b. Pengumpulan data berkenaan dengan layanan bimbingan pribadi : Iden-titas individu (nama lengkap, panggilan, jenis kelamin, tempat tanggal lahir, agama, alamat, anak ke, orang tua, bahasa daerah, dll.), keadaan jasmani dan kesehatan, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan, minat/bakat, prestasi, dsb. c. Orientasi yang mencakup : Suasana, lembaga dan obyek pengembangan pribadi (organisasi, pusat kebugaran, dll.), latihan pengembangan diri, tempat rekreasi, dsb.
63

B. BIDANG PENGEMBANGAN SOSIAL 1. Aspek-aspek Bimbingan Sosial : Masalah yang dihadapi oleh individu ternyata bukan saja menyangkut dirinya sendiri tetapi juga terkait dengan orang lain atau lingkungan sosial, misalnya : Kesulitan dalam bergaul/persahabatan, kesulitan

mencari teman, merasa terasing dalam aktivitas kelompok, kesulitan dalam penyesuaian diri dalam kelompok, kesulitan mewujudkan hubungan harmonis dalam keluarga, kesulitan dalam menghadapi situasi sosial yang baru, dsb. Dalam hal ini aspek-aspek sosial yang

memerlukan bimbingan sosial adalah : Kemampuan individu melakukan sosialisasi dengan lingkungan, kemampuan individu melakukan adaptasi, kemampuan individu melakukan hubungan/interaksi sosial baik dengan lingkungan keluarga, sekolah, atau masyarakat.

2. Makna Bimbingan Sosial : Bimbingan sosial adalah bantuan kepada individu/siswa dalam menghadapi dan memecahkan masalah sosial seperti pergaulan, penyelesaian masa-lah sosial, penyelesaian konflik, dsb. Maknanya bantuan dari

permbimbing kepada terbimbing agar dapat mewujudkan pribadi yang mampu bersosialisasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial secara baik. Dikatakan bimbinganb sosial jika penekanan bimbingan

lebih diarahkan pada usaha-usaha mengurangi masalah-masalah sosial.

3. Tujuan Bimbingan Sosial : Tujuan utama layanan bimbingan sosial adalah agar individu yang dibimbing mampu melakukan interaksi sosial secara baik dengan lingkungannya, sehingga mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dalam masalah sosial dan mampu menyesuaikan diri secara baik dan wajar dalam lingkungan sosialnya. Dalam konteks manusia sebagai mahluk sosial dan ciptaan Alloh Swt., M. Djawad Dahlan (1980) menyatakan bahwa tujuan bimbingan sosial adalah agar individu mampu mengembangkan
64

diri secara optimal sebagai mahluk sosial sekaligus sebagai mahluk ciptaan Alloh Swt.

4. Bentuk-bentuk Layanan Bimbingan Sosial : Beberapa bentuk layanan bimbingan sosial yang dapat diberikan kepada individu/siswa : a. Layanan Informasi yang mencakup : Keadaan masyarakat dewasa ini (ciri-ciri masyarakat maju/modern, makna ilmu pengetahuan,

pentingnya iptek bagi kehidupan manusia, dll.), kiat atau cara-cara berkomunikasi/bergaul. b. Orientasi untuk pengembangan hubungan sosial : Suasana, lembaga dan obyek-obyek pengembangan sosial seperti hubungan antarindividu dalam keluarga, organisasi, atau lembaga tertentu, dalam acara sosial tertentu, dsb.

C. BIDANG PENGEMBANGAN KEGIATAN BELAJAR

1. Aspek-aspek Bimbingan Belajar : Beberapa aspek masalah belajar yang memerlukan bimbingan belajar/ akademik (academic guidance) adalah : a. Kemampuan belajar yang rendah; b. Motivasi belajar yang rendah; c. Minat belajar yang rendah; d. Tidak berbakat dalam mata pelajaran tertentu; e. Kesulitan berkonsentrasi dalam belajar; f. Sikap belajar yang tidak terarah; g. Perilaku mal-adaptif dalam belajar seperti suka mengganggu teman ketika belajar, h. Prestasi belajar yang rendah; i. Penyaluran kelompok belajar dan kegiatan belajar siswa lainnya; j. Pemilihan/penyaluran jurusan;
65

k. Pemilihan pendidikan lanjutan; l. Gagal/tidak lulus ujian; m. Tidak naik kelas, dsb.

Menurut M. Surya (1988), beberapa aspek masalah individu (siswa) yang memerlukan layanan bimbingan belajar adalah : Pengenalan

kurikulum, pemilihan jurusan, cara belajar yang tepat, dan perencanaan pendidikan.

2. Makna Bimbingan Belajar : Makna bimbingan belajar adalah bantuan dari pembimbing kepada terbimbing (siswa) dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah belajar. Bantuan dimaksud untuk menemukan cara belajar yang tepat, memilih program studi yang sesuai, dan dalam mengatasi kesulitankesulitan yang timbul berkaitan dengan tuntutan-tuntutan belajar di lembaga pendidikan.

3. Tujuan Bimbingan Belajar : Karena siswa merupakan individu yang sedang dalam proses perkembangan, maka tujuan bimbingan belajar adalah membantu siswa agar menca-pai perkembangan yang optimal, sehingga tidak menghambat perkembangan belajarnya. Dan secara khusus agar siswa dapat

menghadapi dan memecah-kan masalah-masalah belajar secara mandiri.

4. Bentuk-bentuk Layanan Bimbingan Belajar : Beberapa bentuk layanan bimbingan belajar kepada siswa di sekolah/ madrosah adalah : a. Orientasi kepada siswa baru tentang : Tujuan instansional sekolah/ madrosah, isi kurikulum pembelajaran, struktur organisasi sekolah/ madrosah, cara-cara belajar yang tepat, dan penyesuaian diri dengan corak pendidikan di sekolah/madrosah;
66

b. Penyadaran secara berkala tentang belajar yang tepat selama mengikuti pelajaran di sekolah/madrosah maupun di rumah baik secara individual maupun kelompok; c. Bantuan dalam memilih jurusan/program studi yang sesuai, memilih kegiatan-kegiatan yang menunjang usaha belajar (ekstra kurikuler), dan memilih program studi lanjutan; d. Mengumpulkan data siswa yang berkenaan dengan kemampuan intelektual, bakat khusus, arah minat, cita-cita hidup, dan jurusan/ prodi tertentu; e. Bantuan dalam mengatasi kesulitan-kesulitan belajar : Kurang

mampu menyusun dan menaati jadwal belajar di rumah, kurang siap menghadapi ulangan/ujian, kurang konsentrasi belajar, kurang

menguasai cara belajar yang tepat untuk berbagai mata pelajaran, menghadapi masalah sehingga mempersulit dalam belajar, dll. f. Bantuan dalam membentuk kelompok-kelompok belajar dan mengatur kegiatan-kegiatannya sehingga proses belajar dapat berjalan secara efektif dan efisien.

D. BIDANG PENGEMBANGAN KARIER 1. Aspek-aspek Bimbingan Karier : Karier adalah riwayat kerja yang memperlihatkan tahapan-tahapan posisi seseorang dalam pekerjaannya. Karier-karier tertentu berkaitan erat Karenanya bimbingan karier di agar siswa/

dengan latar belakang pendidikan. sekolah/madrosah harus

sudah mulai dikembangkan

mahasiswa siap dalam memasuki dunia kerja. Tentu pada setiap tingkat dan jenjang pendidikan (sekolah/madrosah ataupun perguruan tinggi) bimbingan yang dilakukan tidak sama. Dalam masyarakat modern

sekarang ini dikenal banyak variasi dan ragam jenis karier. Kenyataan ini menuntut kemampuan membuat pilihan karier-karier tertentu yang sekiranya sesuai dengan tingkat pendidikan, pengalaman, dan karakteris67

tik pribadi yang bersangkutan.

Beberapa aspek yang memerlukan bimbingan karier di sekolah/ madrosah antara lain : a. Pemahaman terhadap dunia kerja; b. Perencanaan dan pemilihan karier atau jabatan (profesi) tertentu; c. Penyediaan berbagai jurusan/prodi yang berorientasi karier; d. Nilai-nilai kehidupan yang berkenaan dengan karier; e. Cita-cita masa depan; f. Minat terhadap karier tertentu; g. Kemampuan dalam karier tertentu; h. Bakat khusus dalam karier tertentu; i. Kepribadian berkenaan dengan karier tertentu; j. Harapan keluarga; k. Masa depan karier yang akan diperoleh; l. Penyesuaian diri terhadap tuntutan-tuntutan karier tertentu; m. Pasar kerja; n. Kemungkinan pengembangan karier ke depan, dsb.

2. Makna Bimbingan Kareir : Menurut Winkel (1991), bimbingan karier merupakan bantuan dalam diri menghadapi dunia kerja, pemilihan lapangan

mem-persiapkan

pekerjaan atau jabatan (profesi) tertentu, serta membekali diri agar siap memangku jabat-an tersebut dan dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan pekerjaan yang telah dimasuki.

3. Tujuan Bimbingan Karier : Berdasarkan makna tersebut di atas, maka tujuan bimbingan karier di sekolah/madrosah adalah : a. Agar siswa memperoleh informasi tentang karier atau jabatan tertentu; b. Agar siswa memperoleh pemahaman tentang karier atau pekerjaan tertentu secara benar;
68

c. Agar siswa mampu merencanakan dan membuat pilihan-pilihan karier tertentu kelak setelah lulus pendidikan; d. Agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan karier yang akan dipilihnya kelak; e. Agar siswa mampu mengembangkan karier setelah selesai pendidikan.

Dengan perkataan lain tujuan bimbingan karier di sekolah/madrosah adalah agar siswa mampu memahami, merencanakan, memilih,

menyesuaikan diri, dan mengembangkan karier tertentu setelah dia tamat dari pendidikannya. Jadi, bimbingan karier di sekolah/madrosah tidak

secara langsung membantu siswa untuk berkarier, tetapi lebih banyak bersifat informatif. Berbeda halnya dengan pendidikan kejuruan yang

memang sudah dipersiapkan untuk kerja apabila sudah selesai pendidikan.

4. Bentuk-bentuk Layanan Bimbingan Karier : Bentuk-bentuk layanan bimbingan karier yang dapat diberikan kepada siswa di sekolah/madrosah antara lain : a. Layanan infoirmasi tentang diri sendiri yang mencakup : Kemampuan intelekltual, bakat khusus di bidang akademik, minat umum dan khusus, hasil belajar dari berbagai bidang studi, sifat-sifat kepribadian yang ada relevansinya dengan karier misalnya potensi kepemimpinan, kejujuran, keterbukaan, dll. nilai-nilai kehidupan dan cita-cita masa depan, keterampilan-keterampilan khusus yang dimiliki, kesehatan fisik dan mental, serta kematangan vokasional, dsb. b. Layanan informasi tentang lingkungan hidup yang relevan bagi perencanaan karier yang mencakup : Informasi pendidikan, informasi jabatan (vocational information) atau informasi karier, dsb. c. Layanan penempatan, yaitu usaha membantu siswa merencanakan masa depannya selama masih di bangku sekolah/madrosah dan sesudah tamat dalam mengambil prodi lanjutan atau langsung bekerja.
69

Layanan penempatan ini mencakup :

Perencanaan masa depan,

pengambilan keputusan, penyaluran ke salah satu jalur studi akademik, program kegiatan ekstra kurikuler, program persiapan prajabatan, pemantapan dan reorientasi jika diperlukan, pengumpulan data dalam rangka penelitian terhadap mereka yang sudah tamat pendidikan. d. Orientasi mencakup : Suasana, lembaga, dan obyek karier seperti kantor, bengkel, pabrik, pengoperasian alat/perangkat kerja tertentu, dsb.

E. BIDANG PENGEMBANGAN KEHIDUPAN BERKELUARGA 1. Aspek-aspek Pengembangan Kehidupan Berkeluarga : Aspek-aspek ini penting dimasukkan dalam program layanan BP di sekolah/madrosah, sehingga siswa memperoleh pemahaman yang benar ten-tang kehidupan berkeluarga antara lain : Fungsi, peranan, dan tanggung jawab keluarga (ayah, ibu, anak, saudara), kesehatan reproduksi pada manusia, perilaku seksual yang benar, pernikahan, perceraian, talak dan rujuk, kelahiran, hubungan antaranggota keluarga, dsb.

2. Makna Bimbingan Kehidupan Berkeluarga : Makna bimbingan keluarga adalah bantuan yang diberikan oleh pembimbing kepada individu/siswa dalam menghadapi dan mencari alternatif pemecahan masalah kehidupan berkeluarga.

3. Tujuan Bimbingan Kehidupan Berkeluarga : Tujuan bimbingan kehidupan berkeluarga adalah agar siswa memper-oleh pemahaman yang benar tentang kehidupan berkeluarga sekaligus dapat memecahkan masalah-masalah yang berkenaan dengan kehidupan berkeluarga.

70

4. Bentuk-bentuk Layanan Bimbingan Kehidupan Berkeluarga : Bentuk-bentuk layanan ini adalah : a. Layanan data berkenaan dengan : Kesehatan siswa, status siswa

dalam keluarga, orang tua (ayah dan ibu), saudara (kakak, adik), dsb. b. Layanan informasi berkenaan dengan : Pergaulan muda-mudi/remaja, kesehatan reproduksi manusia, pernikahan, talak dan rujuk, dsb. c. Layanan orientasi untuk pengembangan kehidupan berkeluarga : Suasana, lembaga dan obyek kehidupan berkeluarga seperti peristiwa pernikahan, talak, rujuk, kelahiran, dsb.

F. BIDANG PENGEMBANGAN KEHIDUPAN BERAGAMA 1. Aspek-aspek Pengembangan Kehidupan Beragama : Aspek-aspek pengembangan kehidupan beragama yang memerlukan layanan BP di sekolah/madrosah adalah suasana, lembaga, dan obyek keaga-maan seperti upacara ritual keagamaan, sarana peribadatan, situs, dan peninggalan keagamaan.

2. Makna Bimbingan Kehidupan Beragama : Makna bimbingan kehidupan beragama adalah bantuan yang diberikan pembimbing kepada terbimbing agar mereka mampu menghadapi dan memecahkan masalah-masalah yang berkenaan dengan kehidupan beragama.

3. Tujuan Bimbingan Kehidupan Beragama : Tujuan layanan bimbingan kehidupan beragama adalah agar siswa memiliki pemahaman yang baik dan benar tentang ajaran agamanya. Khusus dalam kaitan dengan ajaran Islam, sebaiknyalah jika kembali kepada pokok pangkal ajaran, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Hal ini sangat penting agar dapat memecahkan permasalahan kehidupan beragama baik di sekolah/madrosah maupun dalam keluarga dan ma71

syarakat.

4. Bentuk-bentuk Layanan Bimbingan Kehidupan Beragama : Bentuk-bentuk layanan ini antara lain : a. Layanan informasi untuk pengembangan kehidupan beragama yang mencakup : Suasana kehidupan beragama, upacara-upacara/ritual

keagamaan, tempat-tempat peribadatan, hari-hari besar keagamaan, dll. b. Layanan orientasi untuk pengembangan kehidupan beragama yang mencakup : Suasana keagamaan, lembaga dan obyek keagamaan, upaca-ra/ritual keagamaan, sarana peribadatan, situs agama tertentu, pening-galan-peninggalan keagamaan tertentu, dsb.

72

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Bakran Adz Dzaky. 2004. Konseling dan Psikoterapi Islam (Penerapan Metode Sufistik). Yogyakarta : Fajar Pustaka Baru. Corey, Gerald. 2007. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Penerjemah E. Koswara. Edisi Kedua. Cetakan Ketiga. Bandung : PT. Refika Aditama. Dahlan, M. Djawad. 1987. Latihan Keterampilan Konseling Memberikan Bantuan). Bandung : CV. Diponegoro. (Seni

Nurihsan, A. Juntika. 2007. Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan. Cetakan Kedua. Bandung : PT. Refika Aditama. ------------------------------. 2007. Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling. Cetakan Kedua. Bandung : PT. Refika Aditama. Prayitno dan Erman Amti. 2004. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Cetakan Kedua. Jakarta : Rineka Cipta. Surya. M. 1988. Dasar-dasar Penyuluhan (Konseling). Jakarta : Proyek Pengembangan LPTK. ------------. 2003. Psikologi Konseling. Bandung : Pustaka Bani Quraisy. Tohirin. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah. Cetakan Kesatu. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada. Willis, Sofyan S. 2007. Konseling Individual : Teori dan Praktek. Cetakan Kedua. Bandung : CV. Alfabeta. Winkel, W.S. 1991. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta : Gramedia. Yusuf, Syamsu dan Nurihsan A. Juntika. 2008. Landasan Bimbingan dan Konseling. Cetakan Ketiga. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

-------

73