Anda di halaman 1dari 11

BATU GINJAL

Untuk memenuhi tugas mata kuliah epidemiologi

Disusun Oleh : Haressa Lintang Rizkika (110210064)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG PRODI DIII KEBIDANAN MALANG 2013

BATU GINJAL
A. APA ITU BATU GINJAL ?
Batu ginjal sering disebut Nephrolithiasis atau renal calculi merupakan massa keras yang mengkristal seperti batu batu kecil yang dapat terbentuk pada bagian saluran kencing dimana saja termasuk pada kandung kemih. Jika ginjal kekurangan cairan dalam proses pengeluaran maka akan terjadi kekeruhan sehingga lama-kelamaan akan mengkristal dan mengerak dalam saluran maupun dalam kandung kemih oleh sebab itu batu ginjal bisa terbentuk. Endapan itu terjadi karena pekatnya kandungan kadar garam pada air seni dalam ginjal. Jika batu-batu tersebut turun dari ginjal bersama air kemih ke ureter maka disebut batu ureter. Sedangkan bila batu-batu itu turun lagi dan bersarang dalam kandung kemih maka di sebut batu kandung kemih. Batu ginjal kronis juga menjadi penyebab gagal ginjal. Gagal ginjal terjadi jika ginjal gagal melakukan fungsinya seperti menyaring dan membuang sisa metabolisme tubuh yang bersifat racun dalam bentuk air seni, mengatur tekanan darah, mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit, serta menstimulasi produksi sel darah merah dalam tubuh.

B. ETIOLOGI 1. Faktor nutrisi Meskipun beragam penyakit dapat menyebabkan terbentuknya batu ginjal, sedikitnya 75% batu ginjal mengandung kalsium. Pembentukan batu ginjal terjadi akibat pengendapan kristal yang terdapat didalam air seni, terutama disebabkan oleh kristalisasi kalsium oksalat (sejenis garam pada beberapa makanan) atau asam urat (limbah penguraian protein dalam tubuh). Konsumsi berlebihan makanan yang mengandung kalsium oksalat atau asam urat berisiko menimbulkan batu ginjal. Konsumsi berlebihan makanan-makanan tersebut menjadi penyebab utama terbentuknya batu ginjal kalsium (oksalat atau fosfat), batu magnesium amonium fosfat, batu asam urat, dan batu sistin (cystine). Batu ginjal kalsium umumnya akan ditemukan pada orang yang banyak mengonsumsi makanan yang kaya oksalat seperti teh, kopi, soft drink, kokoa, dan sayur bayam. Sedangkan batu ginjal asam urat lebih tinggi kemungkinannya diderita oleh orang yang sering mengonsumsi makanan seperti daging, jeroan dan hasil laut seperti sea food. Selain makanan dan minuman, suplemen juga ikut dalam pembentukan batu ginjal misalnya anda kekurangan vitamin A atau anda terlalu banyak mengkonsumsi vitamin D akan sangat mudah terserang penyakit batu ginjal. Kurang minum atau latihan berat tanpa penggantian cairan yang cukup sesudahnya juga menjadi penyebab utama penyakit batu ginjal. Kekurangan cairan (dehidrasi) akan

mengakibatkan ginjal bereaksi dengan cara menahan sebanyak mungkin cairan dan elektrolit dalam tubuh sehingga jumlah urine yang dihasilkan akan sedikit dan berwarna pekat yang akhirnya akan mempermudah terbentuknya batu ginjal.

2. Faktor kelainan genetik Kelainan metabolisme tertentu juga dapat membuat tubuh lebih mudah memproduksi batu ginjal misalnya tubuh memproduksi asam urat yang terlalu berlebihan di dalam darah. Batu ginjal sering terulang pembentukannya, terutama bila faktor-faktor seperti pola makan dan pola minum seseorang tidak berubah. Infeksi yang terjadi di dalam ginjal dapat mempermudah terbentuknya batu. Disamping itu yang tak kalah pentingnya adalah faktor bakat atau warisan genetik seseseorang. Ada orang-orang tertentu memiliki kelain pada organ ginjal sejak kecil, meskipun kasusnya relatif sedikit. Anak yang sejak kecil mengalami gangguan metabolisme khususnya pada organ ginjal, yaitu seninya memiliki kecenderungan mudah menyendap garam karena ginjalnya tidak bekerja dengan baik sehingga mudah terbentuk batu ginjal.

3. Faktor Perilaku Jika aktifitas anda hanya duduk maupun bekerja yang banyak menghabiskan waktu dengan duduk akan mudah terserang batu ginjal dari orang yang banyak bergerak atau berdiri misalnya berolahraga dan lain sebagainya. Dan orang yang kurang berolahraga juga sangat bisa terserang batu ginjal karena peredaran rendah sehingga aliran air seni dalam saluran kandung kemih kurang bekerja maksimal. Bukan hanya terserang batu ginjal anda juga bisa terkena penyakit lainnya bila kurang bergerak atau kurang berolahraga. Sering menahan kencing terlalu lama sehingga urin menjadi pekat juga memicu terjadinya batu ginjal.

4. Faktor lain Kondisi-kondisi lain yang berhubungan dengan peningkatan pembentukan batu ginjal adalah penyakit ginjal seperti renal tubular acidosis, cystinuria dan hyperoxaluria. Orangorang dengan penyakit peradangan usus besar atau yang telah mempunyai bypass usus atau operasi ostomy adalah juga lebih mungkin mengembangkan batu-batu ginjal.

C. JENIS- JENIS BATU GINJAL


a. Batu kalsium oksalat Angka kejadian batu ginjal akibat pengendapan kalsium oksalat sekitar 70-75%. Berdasarkan tingkat kepadatan dan warna, batu kalsium oksalat dibagi menjadi 2 yaitu whewellite dan weddllite. Whewellite berbentuk padat dan berwarna hitam atau coklat dan memiliki konsentrasi oksalat yang tinggi. Weddllite merupakan kombinasi antara kalsium dan magnesium, berwarna kuning dan lebih mudah hancur. b. Batu struvit Batu struvit yang berisi magnesium dan ammonium fosfat terjadi jika seseorang sering mengalami infeksi saluran kemih. Selain infeksi, konsentrasi ammonium yang tinggi dan PH air seni lebih dari 7 turut menurunkan daya larut terhadap fosfat. Akibat penurunan daya larut fosfat tersebut batu struvit dapat terbentuk. Batu struvit lebih banyak terjadi pada wanita. c. Batu asam urat Mengonsumsi makanan tinggi protein dan purin merupakan penyebab utama batu asam urat terbentuk. Selain makanan tinggi protein dan purin, alkohol juga menjadi penyebab timbulnya batu asam urat. Konsumsi alkohol dalam jumlah banyak mempengaruhi pengeluaran (ekskresi) asam urat dan menurunkan pH air seni. d. Batu sistin Batu ginjal sistsin terjadi akibat gangguan sistem transport amino sistin, lisin, arginin dan ornitin. Gangguan tersebut didapat dari keturunan yang mengalami kelainan kromosomautosomal resesif. Batu sistin memerlukan pengobatan seumur hidup. e. Batu kalium fosfat Pembentukan batu kalium fosfat sangat tergantung pada pH air seni. Batu kalium fosfat ada 2 macam yaitu dahlite dan brushite. Dahlite (karbonat apatite) terbentuk pada pH > 6.8 dengan kandungan kalsium tinggi dan rendah sitrat sedang brushite (kalsium hydrogen fosfat) terbentuk pada pH 6.5-6.8 dengan kandungan kalsium dan fosfat tinggi. Jenis batu ini sangat keras, mudah terbentuk dan memiliki angka kekambuhan yang tinggi.

D. PATOLOGI DAN PATOGENESIS


Batu ginjal terjadi akibat perubahan kelarutan berbagai zat di urine sehingga terjadi nukleasi (pembentukan inti batu) dan pengendapan garam. Sejumlah faktor dapat mengganggu keseimbangan yang memudahkan terbentuknya batu.

Dehidrasi mempermudah terbentuknya batu, dan tingginya asupan cairan untuk mempertahankan volume urine harian sebanyak 2L atau lebih tampaknya bersifat protektif. Mekanisme pasti proteksi ini tidak diketahui. Berbagai hipotesis diajukan termasuk pengenceran zat-zat yang belum diketahui yang memepermudah terbentuknya batu dan berkurangnya waktu transit Ca2+ melalui nefron, yang memperkecil kemungkinan pengendapan. Pada orang yang rentan, diet tinggi protein mempermudah terbentuknya batu. Banyaknya protein dalam makanan menyebabkan asidosis metabolik transien dan penigkatan LFG. Meskipun Ca2+ serum tidak terdeteksi meningkat, mungkin terjadi penigkatan transien resorpsi kalsium dari tulang, peningkatan filtrasi kalsium glomerulus, dan inhibisi resorpsi kalsium di tubulus distal. Efek in tampaknya lebih besar pada orangorang pembentuk batu ketimbang pada orang normal. Diet tinggi Na+ mempermudah ekskresi Ca2+ dan pembentukan batu kalsium oksalat, sementara asupan Na+ dalam makanan yang rendah menimbulkan efek yang berlawanan. Selain itu, ekskresi Na+ urine meningkatkan saturasi monomotrium urat, yang dapat berfungsi sebagai nidus untuk kristalisasi Ca2+. Meskipun pada kenyataannya, sebagian besar batu berupa batu kalsium oksalat, konsentrasi oksalat dalam diet umumnya terlalu rendah untuk mendukung anjuran menghindari oksalat agar pembentukan batu dapat dicegah. Demikian juga, pembatasan kalsium dalam diet, yang dahulu dianjurkan bagi para pembentuk batu kalsium, hanya bermanfaat untuk sebagian pasien dengan hiperkalsiuria yang disebabkan oleh diet. Pada yang lain, penurunan kalsium dalam makanan malah meningkatkan penyerapan oksalat dan mempermudah terbentuknya batu. Selama beberapa tahun, adanya keterkaitan antara hipertensi esensial, hiperkalasuria, dan batu ginjal telah diketahui. Namun, dasar patofisiologis keterkaitan ini belum jelas. Salah satu hipotesis menyatakan bahwa terdapat suatu defek genetik umum yang menyebabkan gangguan keseimbangan Ca2+ dan Na+, yang memicu proses-proses patofisiologis terpisah dan menyebabkan terbentuknya batu ginjal atau hipertensi atau pada sebagian kasus keduanya. Sejumlah faktor bersifat protektif terhadap pembentukan batu. Dalam urutan pentingnya, cairan, sitrat, magnesium, dan serat makanan tampaknya memiliki efek protektif. Sitrat dapat mencegah pembentukan batu dengan mengikat kalsium dalam larutan dan membentuk kompleks yang jauh lebih mudah larut dibandingkan dengan kalsium oksalat dan kalsium fosfat. Meskipun suplementasi farmakologis diet dengan kalium sitrat terbukti meningkatkan sitrat dan pH urine serta menurunkan insidens baru rekuren, manfaat diet tinggi-sitrat belum diteliti. Namun beberapa penelitian mengisyaratkan bahwa vegetarian memperlihatkan insidens pembentukan batu yang lebih rendah. Vegetarian mungkin terhindar dari efek pembentukan-batu yang disebabkan oleh diet tinggi protein dan Na+, serta adanya efek protektif serat makanan dan faktor lain.

Pembentukan batu sendiri di dalam pelvis ginjal tidak menimbulkan nyeri sampai batu tersebut pecah dan kepingannya terbawa menyusuri ureter, yang menyebabkan kolik ureter. Hematuria dan kerusakan ginjal dapat terjadi tanpa menimbulkan nyeri.

E. GEJALA KLINIS
Gejala dan keluhan yang ditimbulkan penyakit ini tergantung di mana letak batu tersebut. Batu yang terletak di dekat kandung kemih biasanya menyebabkan nyeri di perut bagian bawah. Batu yang menyumbat ureter bisa menyebabkan nyeri punggung (kolik renalis). Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut, daerah kemaluan dan paha sebelah dalam.

Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut menggelembung, demam, menggigil dan darah di dalam urine. Keluarnya darah saat kencing ini terjadi dikarenakan adanya perlukaan yang terjadi akibat gesekan batu dengan saluran kemih yang dilewati. Buang air kecil tidak lancar bahkan sukar, hanya sedikit-sedikit yang keluar. Hal ini disebabkan oleh sumbatan batu ginjal. Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat aliran kemih, bakteri akan terperangkap di dalam air kemih yang terkumpul diatas penyumbatan, sehingga terjadi infeksi. Jika penyumbatan ini berlangsung lama, air kemih akan mengalir balik ke saluran di dalam ginjal, menyebabkan penggelembungan ginjal (hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal. Batu yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala yang dikenal sebagai silent stone.

F. PENATALAKSANAAN
Diagnosis pasti ditegakkan dengan pencitraan. Rontgen abdomen bisa menunjukkan batu yang mengandung kalsium. Ultrasonografi biasanya berhasil mengidentifikasi batu, dan akan mendeteksi dilatasi pelvis ginjal atau ureter, yang menunjukkan obstruksi. IVU atau CT scan merupakan metode paling sensitif untuk mendeteksi batu. Sebagian batu yang kecil (<5 mm) bisa lewat dengan spontan. Batu berukuran 5 sampai 9 mm juga bisa lewat. Dengan minum banyak air, kebanyakan batu-batu ginjal ukuran ini akan terbuang dengan sendirinya lewat urine dalam waktu 48 jam. Namun > 9mm jarang bisa melewati saluran kemih. Biasanya dibutuhkan terapi khusus untuk penanganannya, seperti terapi farmakologi dengan obat-obatan, meliputi calcium channel blocker (nifedipin) dan alfa bloker (tamsulosin). Dalam kasus demikian juga dapat dilakukan ex-tracorporeal shock wave lithotripsy, pengangkatan endoskopik baik perkutaneus ataupun melalui sistoskopi dengan uretroskopi retrograd, atau prosedur bedah terbuka. Pengangkatan batu ginjal lewat teknik ini dilakukan melalui sayatan kecil pada kulit (percutaneous nephrolithotomy) atau melalui alat yang dikenal sebagai ureteroscope yang dilewatkan melalui urethra dan kantong kemih kedalam ureter. Untuk batu yang berukuran 1 cm atau kurang di dalam pelvis renalis atau bagian ureter bisa dipecahkan dengan prosedur yang disebut lithotripsy. Pada prosedur ini, digunakan gelombang-gelombang kejut untuk memecah batu yang besar kedalam potongan-potongan yang lebih kecil yang kemudian dapat lewat melalui urine.

G. TIPS PENCEGAHAN BATU GINJAL


Beberapa tindakan yang dapat mencegah terjadinya batu ginjal adalah sebagai berikut : 1. Minumlah air yang cukup, setidaknya 2 liter air sehari atau satu gelas setiap jamnya (lebih banyak bila cuaca panas atau saat banyak beraktivitas fisik). Dengan minum banyak air, urin akan bertambah sehingga mengurangi konsentrasi garam dan mineral. 2. Minumlah sepanjang hari. Bila minum hanya di pagi hari, maka air tersebut akan dibuang melalui kencing dalam dua jam berikutnya sehingga konsentrasi garam dan mineral di siang hari meningkat. Jadi harus membiasakan minum lebih sering. 3. Pilih makanan yang kaya vitamin A. Asupan vitamin A sebesar 5000 IU per hari (setara 60 gram wortel) menyehatkan fungsi sistem urin dan mencegah pembentukan batu ginjal. Makanan yang kaya vitamin A adalah brokoli, melon, ikan, dan hati. Namun, berhati-hatilah jangan terlalu banyak mengkonsumsi makanan bervitamin A dari sumber hewani, karena kelebihan vitamin A justru menyebabkan masalah kesehatan lain.

4. Kurangi garam dalam makanan. Dengan mengurangi garam maka akan mengurangi kadar kalsium dalam urin. 5. Jangan berlebihan mengkonsumsi susu dan produk susu (keju, yogurt, es krim, dll) yang berkalsium tinggi. Kelebihan kalsium akan dibuang oleh tubuh melalui urin sehingga meningkatkan risiko batu ginjal. 6. Jangan berlebihan mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium oksalat tinggi seperti cokelat, kacang, bayam, anggur, merica, teh dll. 7. Jangan berlebihan mengkonsumsi vitamin C dan D karena dapat mempermudah pengkristalan kalsium oksalat. Konsumsi 3 atau 4 gram vitamin C dan 400 IU vitamin D setiap hari sudah memenuhi kebutuhan sebagian besar orang. 8. Perbanyak mengkonsumsi makanan yang mengandung magnesium dan vitamin B6 karena dapat mengurangi kadar kalsium oksalat dalam air seni. 9. Mengurangi asupan daging, ikan dan unggas, karena makanan tersebut menyebabkan meningkatnya kadar asam urat di dalam air kemih. 10. Kembangkan pola hidup aktif. Kalsium adalah unsur pembentuk tulang. Dengan hidup aktif maka akan membantu pembentukan kalsium menjadi tulang. Sebaliknya, gaya hidup kurang gerak mendukung kalsium untuk beredar dalam darah dan berisiko menjadi kristal. 11. Kurangi juga makanan mengandung asam urat terlalu tinggi seperti kangkung, bayam, kembang kol dan olahan melinjo. 12. Konsumsi buah semangka. Buah ini memiliki manfaat yang sangat bagus bagi tubuh khususnya ginjal. Bahkan buah ini sering disebut sebagai pencuci darah alami. 13. Jangan mengkonsumsi vitamin C secara berlebihan. Untuk orang dewasa, batas vitamin C yang disarankan maksimal 2.000 mg per hari 14. Jangan memanaskan olahan sayur bayam, sebab ini termasuk salah satu pembentuk batu ginjal.

H. EPIDEMIOLOGI PENYAKIT BATU GINJAL


Penyakit batu ginjal merupakan masalah kesehatan yang cukup bermakna, baik di Indonesia maupun di dunia. Batu ginjal lebih sering terjadi bila dibandingkan batu kandung kemih.. Di Indonesia, kasus penyakit batu ginjal merupakan penyakit yang

relatif tinggi jumlah penderitanya (0,5% dari populasi). Data yang dikumpulkan dari rumah sakit di seluruh Indonesia pada tahun 2002 adalah sebanyak 37.636 kasus baru dengan jumlah kunjungan sebesar 58.959 orang. Sedangkan jumlah pasien yang dirawat adalah sebesar 19.018 orang, dengan jumlah kematian adalah sebesar 378 orang. Batu ginjal yang paling sering terbentuk adalah batu kalsium oksalat (80%). Jenis batu lainnya yang tersering berturut-turut adalah batu asam urat, batu kalsium fosfat, batu struvit, dan batu sistin. Berikut adalah mereka yang lebih rentan mengalami penyakit batu ginjal:

Lelaki lebih sering mengalami penyakit batu ginjal dibanding wanita. Angka kejadiannya bervariasi. Diperkirakan penyakit batu ginjal terjadi sebesar 13% pada laki-laki dewasa dan 7% pada perempuan dewasa. Lelaki dikatakan memiliki risiko dua hingga empat kali lebih besar dibandingkan perempuan. Dari penelitian hal ini dipengaruhi oleh reseptor hormon androgen yang ada pada lelaki dan kenyataan bahwa penyakit batu ginjal terutama terkait dengan obstruksi saluran kencing pada pria.

Usia antara dekade 3 5 (35 55 tahun) lebih sering mengalami dengan rata-rata usia sekitar 45 tahun pada lelaki dan 55 tahun pada perempuan. Penderita gemuk (obesitas) lebih sering mengalami batu ginjal dibandingkan yang tidak gemuk Lokasi geografis tertentu

Penduduk yang tinggal di Asia memiliki risiko yang paling rendah mengalami penyakit batu ginjal sedangkan risiko tertinggi terdapat di Arab Saudi. Menurut penelitian terbaru global warming juga dapat memicu terjadinya penyakit batu ginjal. Seperti pengaruh letak geografis hal tersebut erat kaitannya dengan terjadinya dehidrasi. Dehidrasi, akan semakin berpeluang terjadi, terutama di kawasan yang beriklim panas dan dapat memicu terjadinya batu ginjal. Mengambil kawasan Amerika sebagai contoh kawasan yang terimbas kenaikan suhu global, para ahli dari Asosiasi Urologi Amerika (AUA) mendapati bahwa kawasan selatan negeri Paman Sam itu memiliki prevalensi batu ginjal yang lebih besar daripada kawasan lain.

Peneliti memperkirakan, jumlah penduduk Amerika yang berpotensi terkena sakit batu ginjal akan melonjak dalam beberapa dekade ke depan. Jika pada tahun 2000 populasi yang berisiko tinggi terkena sakit batu ginjal adalah 40 persen, maka pada 2050 angka itu meningkat menjadi 50 persen. Ini artinya, jumlah orang yang terkena batu ginjal bertambah 1 juta hingga 2 juta orang.

Para peneliti juga melihat tren kenaikan angka pengidap batu ginjal tidak hanya akan berkonsentrasi di kawasan Amerika bagian selatan, tapi juga ke bagian utara dan menyebar ke seluruh negeri bahkan seluruh dunia termasuk Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
McPhee, Stephen J., Ganong, William F.2011. Patofisiologi Penyakit Pengantar Menuju Kedokteran Klinis. Penerbit Buku Kedokteran;EGC. Jakarta. Rubenstein, D., Wayne, D., Bradley, J.2007. Lecture Notes Kedokteran Klinis. Penerbit Erlangga. Jakarta. Alto, William A.2012. Buku Saku Hitam Kedokteran Internasional. Penerbit Indeks. Jakarta. http://www.dokterku-online.com/index.php/article/72-waspadai-batu-ginjal-dan-salurankemih. Diakses pada tanggal 27 April 2013. http://kliniksehati.com/penyebab-dan-gejala-gejala-penyakit-batu-ginjal/. Diakses pada tanggal 27 April 2013 http://www.alpensteel.com/article/108-230-pemanasan-global/1671--pemanasan-global-picusakit-batu-ginjal.html. Diakses pada tanggal 28 April 2013.