Anda di halaman 1dari 5

Imunisasi Pada Remaja

Imunisasi pada remaja merupakan hal yang penting dalam upaya pemeliharaan kekebalan tubuh tehadap berbagai macam penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus maupun parasit dalam kehidupan menuju dewasa. Imunisasi pada remaja ini diperlukan mengingat imunitas yang mereka peroleh sebelumnya dari pemberian imunisasi lengkap sewaktu masa bayi dan anak-anak tidak dapat bertahan seumur hidup (misalnya imunitas terhadap pertussis hanya bertahan selama 5-10 tahun setelah pemberian dosis imunisasi terakhir). Selain itu, banyak morbiditas penyakit serius yang dapat terjadi pada usia remaja (misalnya kanker serviks sehubungan dengan infeksi HPV yang meningkat pada remaja wanita). Rekomendasi Satgas Imunisasi IDAI mengenai pemberian imunisasi pada remaja belum ditentukan, akan tetapi Amerika Serikat telah merekomendasikan jadwal pemberian imunisasi pada remaja, melalui Advirsory Committee on Immunization Practices (ACIP), dan mengadopsi rekomendasi dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) berkolaborasi dengan American Academy of Pediatric dan American Academy of Family Physicians dan organisasi-organisasi profesional lainnya. Imunisasi pada Remaja Usia sekolah dan remaja merupakan kurun waktu dimana dapat terjadi paparan lingkungan yang luas dan beraneka ragam. Imunisasi pada usia ini pada umumnya adalah vaksinasi ulang atau booster untuk hampir semua jenis vaksinasi dasar pada usia lebih dini, diantaranya yaitu; hepatitis B, polio, varisela, hepatitis A, difteri dan tetanus (DT), influenza, pneumokokus, rubela, campak dan gondongan serta untuk pencegahan penyakit yang sering menyerang pada usia remaja, seperti HPV, Influenza. Pada tahun 2009, CDC mempublikasikan rekomendasi jadwal vaksinasi pada anak usia 7-18 tahun Jenis Imunisasi pada remaja Tetanus and diphtheria toxoids vaccine (Td) dan vaksin Tetanus and diphtheriatoxoids acellular pertussis (Tdap). ACIP merekomendasikan imunisasi rutin Tdap pada remaja.

Diberikan pada usia 11 sampai 12 tahun untuk individu yang telah mendapat vaksinasi lengkap vaksin DTP/DTaP, serta belum menerima dosis booster tetanus dan diphtheria toxoid (Td). Pada Individu berusia 13 sampai 18 tahun yang belum menerima Tdap sebaiknya mendapat vaksinasi ini. Tdap sebaiknya diberikan dalam dosis tunggal Td pada suatu seri catch-up atau sebagai booster pada usia 10 sampai 18 tahun; gunakan Td untuk dosis lainnya.

Imunisasi dengan vaksin DTaP pada remaja lebih aman diberikan Tdap. Manfaat Vaksin Tdap pada Remaja 1. Untuk memberikan imunitas terhadap pertussis selama masa remaja karena imunitas pertussis yang didapat dari dosis lengkap vaksinasi selama anak-anak hanya bertahan selama 5-10 tahun setelah pemberian dosis terakhir. 2. Untuk memberikan imunitas lanjutan terhadap tetanus dan difteria. 3. Untuk mengurangi reservoir pertussis dimana remaja yang menderita pertussis dapat menularkan penyakitnya pada bayi atau anak-anak. Oleh karena itu, dengan menurunnya reservoir pertussis maka akan menurunkan insidensi peyakit ini. 4. Untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit diphtheria, tetanus dan pertussis pada remaja. Rekomendasi Pemberian Vaksin Tdap pada Remaja Advisory Committee on Immunization Practices merekomendasikan imunisasi rutin Tdap pada remaja sebagai berikut : 1. Remaja usia 1118 tahun sebaiknya mendapat dosis tunggal Tdap dibandingkan vaksin tetanus dan diphtheria (Td) untuk booster imunisasi melawan tetanus, diphtheria, dan pertussis jika mereka telah mendapat vaksin DPT/DTaP lengkap yang direkomendasikan semasa bayi dan anak-anak (5 dosis sebelum usia 7 tahun; jika dosis keempat diberikan saat usia 7 tahun atau lebih maka tidak diperlukan dosis kelima) dan belum mendapat vaksinasi Td atau Tdap. Usia vaksinasi Tdap yang direkomendasikan yaitu 11-12 tahun. 2. Remaja usia 1118 tahun yang mendapat Td, tapi belum mendapat Tdap, sebaiknya mendapat dosis tunggal Tdap untuk memberikan perlindungan terhadap pertussis jika mereka telah mendapat vaksinasi DTP/DTaP lengkap. Interval pemberian antara Td dan Tdap yaitu 5 tahun untuk mengurangi resiko reaksi lokal dan sistemik setelah vaksinasi Tdap. Walaupun demikian, dapat digunakan interval pemberian kurang dari 5 tahun. 3. Penyedia vaksin sebaiknya memberikan vaksinasi Tdap dan tetravalent meningococcal conjugate pada remaja usia 1118 pada waktu yang bersamaan bila vaksin tersebut tersedia dan diindikasikan. Kontraindikasi Vaksin Tdap dan Td Kontraindikasi vaksin Tdap dan Td pada remaja usia 11-18 tahun adalah sebagai berikut : 1. Individu dengan riwayat reaksi alergi serius terhadap komponen vaksin (misalnya syok anafilaktik) 2. Remaja dengan riwayat ensefalopati (koma atau kejang berkepanjangan) tidak boleh mendapat komponen vaksin pertussis sehingga mereka hanya mendapat vaksinasi Td saja dan bukan vaksinasi Tdap. Vaksin Influenza

Diberikan setiap tahun pada anak usia 6 bulan sampai 18 tahun. pada semua individu tidak memandang ada tidaknya faktor risiko. Diberikan 1 x intra muskuler

Vaksin Human papillomavirus (HPV) Vaksin HPV yang telah beredar dibuat dengan teknologi rekombinan. Vaksin HPV berpotensi untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan infeksi HPV genitalia. Terdapat 2 jenis vaksin HPV yaitu vaksin bivalen (tipe 16 dan 18, Cervarix) dan vaksin quadrivalen (tipe 6, 11, 16 dan 18, Gardasil). Vaksin ini mempunyai efikasi 96-100% untuk mencegah kanker leher rahim yang disebabkan oleh HPV tipe 16/18. Vaksin HPV telah disahkan oleh Food and Drug Administration (FDA) dan Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) dan di Indonesia sudah diizinkan badan POM RI. Imunisasi vaksin HPV diperuntukkan pada anak perempuan dengan usia >10 tahun. Imunisasi diberikan dengan dosis 0,5 mL secara intramuskular pada M.deltoideus, untuk vaksin HPV bivalen, imunisasi diberikan dengan jadwal 0, 1 dan 6 bulan. Sedangkan untuk vaksin HPV kuadrivalen, dengan jadwal 0, 2 dan 6. Meningococcal conjugate vaccine (MCV) Infeksi meningokok adalah infeksi invasif yang mengakibatkan meningokoksemia, dan atau meningitis. Di Indonesia belum ada data yang pasti pada anak. Pencegahan diberikan kepada jemaah haji yang akan berada untuk waktu yang lama di daerah yang kecil dengan jumlah orang yang sangat banyak serta padat. Arab Saudi termasuk dalam meningitis belt dimana sering terjadi siklus epidemik Meningokokus. Rekomendasi Vaksin diberikan secara injeksi subkutan dalam pada remaja pada usia 11-18 tahun. Tidak dianjurkan sebagai imunisasi rutin, hanya dianjurkan pada golongan risiko tinggi. Imunisasi akan sangat dianjurkan bagi pelancong yang menuju daerah atau negara yang dikenal sebagai daerah hiperendemik atau epidemik penyakit meningokok. Imunisasi ulang Antibodi meningokok pada remaja dan orang dewasa dapat bertahan selama 10 tahun Apabila sering terpapar yang terus menerus maka imunisasi ulang pada remaja perlu diberikan setelah 5 tahun Pneumococcal polysaccharide vaccine (PPSV) Diberikan pada anak dengan kondisi medis tertentu yang mendasari, termasuk implant cochlear. Suatu vaksinasi ulang tunggal sebaiknya diberikan pada individu dengan asplenia fungsional atau anatomis maupun kondisi immunocompromise lainnya setelah usia 5 tahun.

Vaksin Hepatitis A (HepA) Imunisasi menyebabkan terbentuknya serum neutralizing antibodies. Imunisasi hepatitis A dapat diberikan mulai usia anak 2 tahun. Diberikan dua dosis vaksin dalam rentang waktu 6 bulan. Lama proteksi antibodi HVA diperkirakan menetap selama 20 tahun. Proteksi jangka panjang terjadi akibat antibody protektif yang menetap atau akibat anamnestic boosting infeksi alamiah. Vaksin Hepatitis B (HepB) Vaksin VHB yang tersedia adalah vaksin rekombinan. Pemberian dengan dosis yang sesuai rekomendasi akan membentuk respons protektif (anti HBs 10 mIU/mL) pada > 90% dewasa, bayi, anak, dan remaja. Diberikan secara intramuskular dalam. Pada remaja diberikan di regio deltoid. Vaksin hepatitis B diberikan minimal sebanyak 3 kali dengan interval yang direkomendasikan adalah 1-2 bulan, antara pemberian vaksin pertama dan kedua, serta 4-12 bulan, antara pemberian vaksin kedua dan ketiga (akan memberikan respons antibodi paling optimal). Catch up immunization merupakan imunisasi yang belum pernah diimunisasi atau terlambat > 1 bulan dari jadwal seharusnya. Pada imunisasi catch up ini interval imunisasi minimal 4 minggu antara dosis pertama dan kedua, kemudian 8-16 minggu antara dosis kedua dan ketiga Efektivitas vaksin dalam mencegah infeksi VHB adalah 90-95%. Memori sistem imun menetap minimal sampai 12 tahun pasca imunisasi sehingga tidak dianjurkan untuk imunisasi booster. Inactivated poliovirus vaccine (IPV)

Bagi anak yang telah mendapat vaksinasi IPV atau semua poliovirus oral (OPV), diperlukan dosis keempat jika dosis ketiga diberikan pada usia 4 tahun atau lebih. Jika OPV maupun IPV diberikan sebagai suatu serial, sebaiknya diberikan total 4 dosis, tanpa memperhitungkan usia anak saat ini.

Measles, mumps, and rubella vaccine (MMR) Imunisasi campak pada remaja diberikan berupa vaksin MMR. Pemberian vaksin MMR penting untuk wanita usia subur karena komponen rubella yang ada di dalamnya dapat mencegah rubella congenital apabila wanita tersebut hamil. Vaksin ini diberikan 1 kali. Vaksin Varicella Pemberian imunisasi varicella pada remaja yang belum pernah mendapat imunisasi diberikan imunisasi 2 kali dengan jarak pemberian selama 1 bulan sebanyak 0,5 ml. Sedangkan bagi yang sebelumnya hanya mendapatkan 1 kali penyuntikan maka diperlukan pemberian kedua untuk meningkatkan imunitas. Jenis vaksin yang

direkomendasikan untuk kelompok ini adalah golongan monovalen. Serokonversi didapat pada 97% individu yang divaksinasi dan sekitar 70% terlindungi apabila terpapar infeksi oleh anggota keluarga. Untuk individu berusia 7 sampai 18 tahun tanpa adanya bukti imunitas, diberikan 2 dosis jika belum pernah divaksinasi sebelumnya atau dosis kedua jika sebelumnya mereka hanya mendapat 1 dosis. Catch-up Vaccines Catch-up vaccines adalah vaksin yang diberikan pada remaja yang tidak mendapat imunisasi lengkap sebelumnya. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas. Daftar Bacaan 1. Ranuh, IGN dkk. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi ketiga. Satgas ImunisasiIkatan Dokter Anak Indonesia. 2008; 2-8. 2. CDC. Recommended Immnunization schedule for person age 0-18 years-United States, 2008. MMWR 2008;57(01):Q1-Q4. 3. CDC. Vaccination coverage among adolescents aged 13-17 years-United States, 2008. MMWR 2008;57(40):1100-1103. 4. CDC. 2009 Immunization Schedule. Available at http://www.cdc.gov/vaccines. Accessed on 8 October 2009. 5. CDC. ACIP Votes to Recommend Use of Combined Tetanus, Diphtheria and Pertussis (Tdap) Vaccines for Adolescent. Available at http://www.cdc.gov/vaccines. Accessed on 8 October 2009.

Penulis : Satgas Remaja IDAI Sumber : Buku Bunga Rampai Keseharan Remaja