Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN I.

1 Latar Belakang Suatu produk obat dapat berbeda dari produk pabrik lain dalam hal bahan baku, komposisi/formula, serta fabrikasinya. Perbedaan tersebut dapat menyebabkan perbedaan dalam pelepasan bahan obat dari sediaan yang akhirnya akan berpengaruh pada efikasi/kemanjuran produk tersebut. (Abdou, 1989, Blanchard, Swachuck, Brodie, 1979). Pada umumnya produk obat mengalami absorbsi sistemik melalui suatu rangkaian proses yang meliputi : 1. Disintegrasi produk yang diikuti dengan pelepasan obat 2. Pelarutan obat dalam media aqueous 3. Absorbsi melalui membran sel menuju sirkulasi sistemik Pada ketiga proses di atas ditentukan oleh tahap yang paling lambat di dalam suatu rangkaian proses kinetic yang sering disebut tahap penentu kecepatan (Rate Limiting Step). Untuk obat yang mempunyai kelarutan kecil dalam air, laju pelarutan seringkali merupakan tahap yang paling lambat di dalam, oleh karena itu mengakibatkan terjadinya efek penentu kecepatan terhadap bioavailabilitas obat. Sebaliknya untuk obat yang mempunyai kelarutan besar dalm air, laju pelarutannya cepat sedangkan laju lintas atau tembus obat melewati membran merupakan yahap penentu kecepatannya. Telah banyak publikasi yang menyatakan adanya hubungan yang bemakna antar kecepatan disolusi berbagai bahan obat dari sediaannya dan absorbsinya. Obatobat tersebut umumya meliputi obat-obat yang kecepatan disolusinya sangat lambat yang disebabakan kelarutannya sangat kecil. Obat-obat yang memiliki kecepatn disolusi intrinsik yang < 0,1 mg/menit.cm 2 biasanya menimbulkan masalah serius pada absorbsinya, seangkan obat-obat yang memiliki kecepatan disolusi intrinsic > 1,0 mg/menit.cm 2. Pada umunya kecepatan disolusi bukan menjadi langkah penentu, tapi kecepatan absorbsinya.

Disolusi didefinisikan sebagai proses dimana suatu zat padat masuk ke dalam pelarut menghasilkan suatu larutan. Secara sederhana, disolusi adalah proses dimana zat padat melarut. Secara prinsip dikendalikan oleh afinitas antara zat padat dengan pelarut. Dalam penentuan kecepatan disolusi dari berbagai bentuk sediaan padat terlibat berbagai proses disolusi yang melibatkan zat murni. Karakteristik fisik sediaan, proses pembasahan sediaan, kemampuan penetrasi media disolusi ke dalam sediaan, proses pengembangan, proses ddisintegrasi, dan degradasi sediaan, merupakan sebagaian dari faktor yang mempengaruhi karakteristik disolusi obat dari sediaan.

I.2

Maksud Dan Tujuan Percobaan 1. 2. 3. Mengetahui cara penentuan kelarutan secara kuantitas. Mempelajari pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat. Mempelajari pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat.

I.2.1 Maksud percobaan

I.2.2 Tujuan percobaan 1. Menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitas. 2. Menjelaskan pengaruh pelarut campur seperti air, alkohol dan gliserin terhadap kelarutan Asam benzoat. 3. Menjelaskan pengaruh penambahan surfaktan seperti tween 80 terhadap kelarutan zat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Teori Umum Kelarutan atau solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent). Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. Larutan hasil disebut larutan jenuh. Zat-zat tertentu dapat

larut dengan perbandingan apapun terhadap suatu pelarut. Contohnya adalah etanol di dalam air. Sifat ini lebih dalam bahasa Inggris lebih tepatnya disebut miscible (7). Secara kuantitatif kelarutan suatu zat dinyatakan sebagai konsentrasi zat terarut didalam lerutan jenuhnya pada suhu dan tekanan tertentu (3;9). Kelarutan suatu zat pada suhu tertentu dalam suatu pelarut tertentu adalah banykanya zat yang dilarutkan oleh sejumlah pelarut yang diketahui bobotnya, ketika zat itu berada dalam keadaan seimbang dengan pelarut (4;477). Kelarutan zat terlarut diketahui dari konsentrasi dalam larutan jenuhnya ,biasanya dinyatakan dalam banyaknya mol zat terlarut per liter larutan jenuh, Konsentrasi larutan menyatakan secara kuantitatif komposisi zat terlarut dan pelarut di dalam larutan. Konsentrasi umumnya dinyatakan dalam perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah total zat dalam larutan, atau dalam perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah pelarut. Contoh beberapa satuan konsentrasi adalah molar, molal, dan bagian per juta (part per million, ppm). Sementara itu, secara kualitatif, komposisi larutan dapat dinyatakan sebagai encer (berkonsentrasi rendah) atau pekat (berkonsentrasi tinggi) (6). Alkalimeteri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam, bisa asam kuat atau asam lemah.Titrasi adalah proses mengukur volume larutan yang terdapat dalam buret yang ditambahkan ke dalam larutan lain yang diketahui volumenya sampai terjadi reaksi sempurna (5). Larutan terdiri dari beberapa tipe yakni larutan encer merupakan jumlah zat terlarut yang terlalu kecil, larutan pekat yaitu larutan yang mengandung fraksi zat terlarut yang besar, sedangkan larutan jenuh adalah larutan yang mengandung sejumlah maksimum zat terlarut yang dapat larut dalam air pada suhu dan tekanan tertentu dan larutan lewat jenuh larutan yang mengandung sejumlah zat terlarut melebihi batas maksimum kelarutannya didalam air pada suhu dan tekanan tertentu (1;82). Terdapat istilah dalam kelarutan, yakni (8) : Sangat mudah larut <1

Mudah larut Larut Agak sukar larut Sukar larut Sangat sukar larut Praktis tidak larut

1 10 10 30 30 100 100 1000 1000 10000 > 10000

Pelepasan zat dari bentuk sediaannya sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat kimia dan fisika zat tersebut serta formulasinya. Pada prinsipnya obat baru dapat diabsorbsi setelah zat aktfnya terlarut dalam cairan usus, sehingga salah satu usaha untuk mempertinggi efek farmakologi dari sediaan adalah dengan menaikkan kelarutan zat aktifnya (3;9). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu zat adalah (8): a. Pengaruh pH Zat aktif yang sering digunakan di dalam dunia pengobtan umumnya adalah zat organic yang bersifat asam lemah, dimana kelarutannya sangat dipengaruhi oleh pH pelarutnya. Kelarutan akan bertambah dengan naiknya pH untuk larutan asam-asam organic lemah seperti barbiturate dan sulfonamide karena terbentuk garam yang mudah larut dalam air. Sedangkan untuk basa-basa organic lemah seperti alkoholida dan anestetika local pada umumnya sukar larut dalam air. Bila pH dala air diturunkan dengan penambahan asam kuat maka akan terbentuk garam yang mudah larut dalam air. Hubungan pH dengan kelarutan asam basa lemah digambarkan oleh persamaan berikut : Untuk asam lemah : pH = pKw + log S-S/So untuk basa lemah : pH = pKw pKb + log S So/So

b.

Pengaruh temperatur (suhu) Kelarutan zat padat paa larutan ideal tergantung kepada temperature, titik

leleh zat padat dan panas peleburan molar zat tersebut. Kelarutan suatu zat padat dalam air akan semakin tinggi bila suhunya dinaikkan. Adanya panas (kalor) mengakibatkan semakin renggangnya jarak antar molekul zat padat tersebut. Merenggangnya jarak antar molekul zat padat menjadikan kekuatan gaya antar molekul tersebut menjadi lemah sehingga mudah terlepas oleh gaya tarik molekulmolekul air. Berbeda dengan zat padat, adannya pengaruh kenaikan suhu akan menyebabkan kelarutan gas dalam air berkurang. Hal ini disebabkan karena gas yang terlarut di dalam air akan terlepas meninggalkan air bila suhu meningkat. c. Pengaruh jenis pelarut Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas suatu pelarut. Pelarut polar akan melarutkan lebih baik zat-zat polar dan ionik, begitu pula sebaliknya. Kelarutan juga bergantung pada struktur zat, seperti perbandingan gugus polar dan non polar dari suatu molekul. Makin panjang rantai gugus non polar suatu zat, makin sukar zat tersebut larut dalam air. Menurut Hilderbrane : kemampuan zat terlarut untuk membentuk ikatan hydrogen lebih penting dari pada kemolaran suatu zat. Senyawa polar (mempunyai kutub muatan) akan mudah larut dalam senyawa polar. Misalnya gula, NaCl, alkohol, dan semua asam merupakan senyawa polar sehingga mudah larut dalam air yang juga merupakan senyawa polar. Sedangkan senyawa nonpolar akan mudah larut dalam senyawa nonpolar, misalnya lemak mudah larut dalam minyak. Senyawa nonpolar umumnya tidak larut dalam senyawa polar, misalnya NaCl tidak larut dalam minyak tanah. Pelarut non polar tidak dapat mengurangi daya tarik-menarik antara ion-ion karena konstanta dielektiknya yang rendah. Iapun tidak dapat memecahkan ikatan kovalen dan tidak dapat membentuk jembatan hidrogen. Pelarut ini dapat melarutkan zat-zat non polar dengan tekanan internal yang sama melalui induksi

antara aksi dipol. Pelarut semi polar dapat menginduksi tingkat kepolaran molekul-molekul pelarut non polar. Ia bertindak sebagai perantara ( Intermediete Solvent) untuk mencampurkan pelarut non polar dengan non polar. d. Pengaruh bentuk dan ukuran partikel Kelarutan suatu zat akan naik dengan berkurangnya ukuran partikel suatu zat. Konfigurasi molekul dan bentuk susunan kristal juga berpengaruh terhadap kelarutan zat. Partikel yang bentuknya tidak simetris lebih mudah larut bila dibandingkan dengan partikel yang bentuknya simetris. e. Pengaruh konstanta dielektrik Karutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut. Pelarut polar mempunyai konstanta dielektrik yang tinggi dapat melarutkan zat-zat non polar sukar larut di dalamnya, begitu pula sebaliknya. Besarnya tetapan dielektrik ini menurut moore dapat diatur dengan penambahan pelarut lain. Tetapan dielektrik sutu campuran pelarut merupakan hasil penjumlahan dari tetapan dielektrik masing-masing yang sudah dikalikan dengan dengan % volume masing-masing komponen. Adakalanya suatu zat lebih mudah larut dalam pelarut campuran dibandingkan pelarut tunggalny. Fenomena ini dikenal dengan istilah co-solvency dan pelarut yang mana dalam bentuk campuran dapat menaikkan kelarutan suatu zat diseut co-solvent. Etanol, gliserin dan propilen glikol adalah co-solvent yang umum digunakan dalam bidang farmasi untuk pembuatan eliksir. f. Pengaruh penambahan zat-zat lain Surfaktan adalah suatu zat yang sering digunakan untuk menaikkan

kelarutan suatu zat. Molekul surfaktan terdiri atas dua bagian yaitu bagian polar dan non polar. Apabila didispersikan dalam air pada konsentrasi yang rendah, akan berkumpul pada permukaan dengan mengorientasikan bagian polar ke arah

air dan bagian non polar kearah udara, surfaktan mempunyai kecenderungan berasosiasi membentuk agregat yang dikenal sebagai misel. Konsentrasi pada saat misel mulai terbentuk disebut konsentrasi misel kritik (KMK). Kelarutan bertambah beasar jika ukuran partikel semakin kecil, disebabkan oleh semakin meningkatnya peranan yang dimainkan oleh efek-efek permukaan (4;478). Surfaktan dapat ditambahkan pada larutan untuk menurunkan tegangan permukaan pada larutan, sehingga dua jenis larutan yang tidak dapat bercampur akan larut dengan penambahan surfaktan.(3;10) II.2 Uraian Bahan 1. Asam benzoat (2 : 49) Nama resmi Nama lain Rumus molekul Rumus sturktur Pemerian Kelarutan : Acidum benzoicum : Asam benzoat : C7H6O2 : : Hablur halus dan ringan, tidak berwarna, tidak berbau. : Larut dalam lebih kurang 350 bagian air, dalam lebih kurang 3 bagian etanol (95%) P, dalam 8 bagian kloroform P dan dalam 3 bagian eter. Khasiat Kegunaan Penyimpanan 2. Air suling (2 : 96) Nama resmi Nama lain Rumus molekul : Aqua destilata : Air suling : H2O : Antiseptikum ekstern, antijamur : Sebagai sampel : Dalam wadah tertutup baik

Pemerian Kegunaan Penyimpanan 3. Alkohol (2 : 65 ) Nama resmi Nama lain Rumus molekul Pemerian

: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa. : Sebagai pelarut : Dalam wadah tertutup rapat : Aethanolum : Etanol, alkohol : C2H5OH : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas.

Kelarutan Kegunaan Penyimpanan

: Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter. : sebagai pelarut : dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, ditempat sejuk, jauh dari nyala api.

4. Tween 80 ( 2 : 509 ) Nama resmi Nama lain Pemerian Kelarutan : Polysorbatum-80 : Polisorbat-80, Tween 80 : Cairan kental seperti minyak, jernih, kuning, bau asam lemak khas. : mudah larut dalam air, dalam etanol (95%) P, dalam etil asetat P, sukar larut dalam parafin cair dan dalam minyak biji kapas. Kegunaan Penyimpanan 5. Gliserin ( 2 :271 ) Nama resmi Nama lain Rumus molekul : Glycerolum : Gliserol, Gliserin : C3H8O3 : sebagai pelarut : dalam wadah tertutup rapat

Rumus struktur Pemerian

: CH2OH-CHOH-CH2OH : Cairan seperti sirop, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, manis diikuti rasa hangat, higroskopik. Jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk massa hablur tidak berwarna yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih kurang 20o.

Kelarutan

: dapat campur dengan air, dan dengan etanol (95%) P, praktis tidak larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam minyak lemak.

Kegunaan Penyimpanan 6. NaOH (2:412) Nama resmi Nama lain Rumus molekul Pemerian

: sebagai pelarut : dalam wadah tertutup baik : Natrii Hydroxydum : Natrium Hidroksida : NaOH : Bentuk batang, butiran, massa hablur atau kering, keras, rapuh dan menunjukkan susunan hablur: ptih, mudah meleleh basah. Sangat alkalis dan korosif. Segera menyerap karbondioksida.

Kelarutan Kegunaan Penyimpanan 7. Fenolftalein (9:662) Nama resmi Nama lain Rumus molekul

: Sangat muda larut dalam air dan dalam etanol (95%) P : sebagai titran : Dalam wadah tertutup baik. : Phenolphthaleinum : Fenolftalein : C20H14O4

10

Rumus stuktur

Pemerian Kelarutan Kegunaan Penyimpanan BAB III METODE KERJA III.1 Alat Dan Bahan

: Serbuk hablur,putih atau putih kekuningan lemah;tidak berbau;stabil di udara. : Praktis tidak larut dalam air;larut dalam etanol;agak sukar larut dalam eter. : sebagai indikator : Dalam wadah tertutup baik.

III.1.1 Alat-alat yang digunakan : Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah : Batang pengaduk Buret Corong Gelas kimia 20 ml dan 250 ml Gelas ukur 10 ml dan 100 ml Kaca arloji Labu erlenmeyer Mixer Pipet Sendok tanduk Tabung reaksi Timbangan analitik

III.1.2 Bahan-bahan yang digunakan :

11

Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah : a) Air suling Alkohol Asam benzoat Gliserin Kertas saring Kertas perkamen Lap halus NaOH Phenolftalein Tissue Tween 80 Pengaruh pelarut campuran terhadap kelautan zat 1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Dibuat 20ml campuran pelarut-pelarut seperti yang tertera dibawah ini : Air % v/v 60 60 60 60 60 Alkohol % v/v 0 10 20 30 40 Gliserin % v/v 40 30 20 10 0

III.2 Cara Kerja

3. Dilarutkan asam benzoat sidekit demi sedikit dalam masing-masing campuran pelarut sampai didapat larutan yang jenuh. 4. Dikocok larutan dengan mixer 15 menit, jika ada endapan yang larut selama pengocokan ditambahkan lagi asam benzoat sampai didapat larutan yang jenuh kembali.

12

5. Disaring larutan dan ditentukan kadar asam benzoat yang larut dengan cara alkalimetri. 6. Dibuat grafik antara kelarutan asam benzoat dengan % pelarut yang ditambahkan. b) Pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat. 1. Disiapkan alat dan bahan. 2. Dibuat 50 ml larutan tween 80 dengan konsentrasi : 0,1 ; 0,5 ; 1,0 ; 5,0 ; 10,0/ml air. 3. Ditambahkan asam benzoate seikit demi sedikit ampai diperoleh larutan yang jenuh. 4. Dikocok larutan selama 15 menit dengan pengocokan mixer, kalau ada endapan yang larut selama pengocokan, ditambahkan lagi asam benzoate sampai didapat larutan yang jenuh kembali. 5. Disaring dan ditentukan kadar asam benzoate yang terlarut dalam masing-masing larutan. 6. Dibuat grafik antara kearutan asam benzoate dengan konsentrasi tween 80 yang digunakan.

BAB 1V HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Hasil Pengamatan 1. Hasil pengamatan percobaan A

13

Vol. Titran (ml) NO Campuran Vol.titrat V1 A 1 (air 60%+ 5 ml gliserin 40%) B (air 2 10%+ glisein 30) C (air 3 60%+ 5 ml 4,7 4,9 4,8 Penoftalein 60%+ 5 ml 4,3 4,4 4,35 Penoftalein 4,3 4 4,15 Penoftalein V2 X Indikator

Perubahan warna

Bening

ke

merah muda

Bening

ke

alcohol

merah muda

alcohol 20%l+ gliserin 20%) D (air 60%+

Bening

ke

merah muda

alcohol 30%+ gliserin 10%) E

5 ml

5,8

5,5

5,65

Penoftalein

Bening

ke

merah muda

9,3 9,6 14 9,45 Penoftalein Bening ke

(air

60%+ 5 ml alkohol 40%)

merah muda

Perhitungan : 1. Molaritas NaOH Dik : Normalitas NaOH = 0,1 N Dit : Molaritas NaOH.? Perhitungan : N=M x ek M=N\ek M = 0,1 grek/L : 1 grek/mol M= 0,1 mol/L

2. Kadar asam asam benzoat

Campuran 1 (air 12ml + gliserin 8ml) Dik : V NaOH = 4,15 mL M NaOH = 0,1 M V asam benzoat = 5 mL Dit : M asam benzoate.? Peny :

15

V NaOH x M NaOH = V asam benzoat x M asam benzoat 4,15 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam benzoat M asam benzoat = 0,083 M

Campuran 2 (air 12ml + alcohol 2ml + gliserin 6ml) Dik : V NaOH = 4,35 mL M NaOH = 0,1 M V asam benzoat = 5 mL Dit : M asam benzoate.? Peny : V NaOH x M NaOH = V asam benzoat x M asam benzoat 4,35 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam benzoat M asam benzoat = 0,087 M

Campuran 3 (air 12ml + alcohol 4ml + gliserin 4ml) Dik : V NaOH = 4,8 mL M NaOH = 0,1 M V asam benzoat = 5 mL Dit : M asam benzoate.? Peny : V NaOH x M NaOH = V asam benzoat x M asam benzoat

16

4,8 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam benzoat M asam benzoat = 0,096 M

Campuran 4 (air 12ml + alcohol 6ml + gliserin 2ml) Dik : V NaOH = 5,65 mL M NaOH = 0,1 M V asam benzoat = 5 mL Dit : M asam benzoate.? Peny : V NaOH x M NaOH = V asam benzoat x M asam benzoat 5,65 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam benzoat M asam benzoat = 0,113 M

Campuran 5 (air 12ml + alcohol 8ml) Dik : V NaOH = 9,45 mL M NaOH = 0,1 M V asam benzoat = 5 mL Dit : M asam benzoate.? Peny : V NaOH x M NaOH = V asam benzoat x M asam benzoat 9,45 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam benzoat

17

M asam benzoate = 0,189 M 3. Konstanta dielektrik () masing-masing pelarut dalam pelarut campuran 1. Konstanta dielektrik air dalam pelarut campur Pada pecobaan A, B, C, D, dan E Dik : air = 80,4 V air = 12 (% v/v) Dit : air dalam pelarut campur.? Peny : air dalam pelarut campur = air % v/v air = 80,4 x 12/20 = 48,24

2. Konstanta dielektrik etanol

Percobaan 1 Dik : etanol = 25,7 V etanol = 0 (% v/v) Dit : etanol dalam pelarut campur.?

18

Peny : etanol dalam pelarut campur = etanol % v/v etanol = 25,7 0/20 =0

Percobaan 2 Dik : etanol = 25,7 V etanol = 2 (% v/v) Dit : etanol dalam pelarut campur.? Peny : etanol dalam pelarut campur = etanol % v/v etanol = 25,7 2/20 = 2,57

Percobaan 3 Dik : etanol = 25,7 V etanol = 4 (% v/v) Dit : etanol dalam pelarut campur.? Peny : etanol dalam pelarut campur = etanol % v/v etanol = 25,7 4/20

19

= 5,14

Percobaan 4 Dik : etanol = 25,7 V etanol = 6 (% v/v) Dit : etanol dalam pelarut campur.? Peny : etanol dalam pelarut campur = etanol % v/v etanol = 25,7 6/20 = 7,71

Percobaan5 Dik : etanol = 25,7 V etanol = 8 (% v/v) Dit : etanol dalam pelarut campur.? Peny : etanol dalam pelarut campur = etanol % v/v etanol = 25,7 8/20 = 10,28

3. Konstanta dielektrik gliserin

Percobaan 1

20

Dik : gliserin = 42,5 V gliserin = 8 (% v/v) Dit : gliserin dalam pelarut campur.? Peny : gliserin dalam pelarut campur = glisein % v/v gliserin = 42,5 8/20 = 17

Percobaan 2 Dik : gliserin = 42,5 V gliserin = 6 (% v/v) Dit : gliserin dalam pelarut campur.?

Peny : gliserin dalam pelarut campur = gliserin % v/v gliserin = 42,5 6/20 = 12,75

Percabaan 3 Dik : gliserin = 42,5 V gliserin = 4 (% v/v)

21

Dit : gliserin dalam pelarut campur.? Peny : gliserin dalam pelarut campur = gliserin % v/v gliserin = 42,5 4/20 = 8,5

Percobaan 4 Dik : gliserin = 42,5 V gliserin = 2 (% v/v) Dit : gliserin dalam pelarut campur.? Peny : gliserin dalam pelarut campur = etanol % v/v etanol = 42,5 2/20 = 4,25

Percobaan 5 Dik : gliserin = 42,5 V etanol = 0 (% v/v) Dit : gliserin dalam pelarut campur.?

22

Peny : gliserin dalam pelarut campur = etanol % v/v etanol = 42,5 0/20 =0 4. Konstanta dielektrik pelarut campur 5. Kelarutan asam benzoate Percobaan ke 1 2 3 4 5 air 48,24 48,24 48,24 48,24 48,24 E atanol 0 2,57 5,14 7,71 10,28 gliserin 17 12,75 8,5 4,25 0 pelarut campur( air + etanol + gliserin) 65,24 63,56 61,88 60,2 58,52

NO 1 2 3 4 5

Kelarutan asam benzoat (M) 0,083 0,087 0,096 0,113 0,189

Campuran pelarut 1 2 3 4 5

Kelarutan asam benzoat 6. Grafik Kelarutan Asam Benzoat Dengan % Pelarut yang Ditambahkan 0.2 0.18 0.16 0.14 0.12 0.1 0.08 0.06 0.04 0.02 0 1 2 3 Kelarutan asam benzoat (M) kela ruta n asa m benz oat (M)

23

campuran pelarut

2. Hasil Pengamatan B

Vol. Titran (ml) NO Campuran Vol.titrat V1 A 1 ( 0,2 gr/10 ml ) B 2 ( 0,4 gr/10 ml ) C 3 ( 0,6 gr/10 ml) 4 D 5 ml 9,4 9,4 9,4 Penoftalein 5 ml 7,4 7,2 7,3 Penoftalein 5 ml 6,1 6 6,05 Penoftalein 5 ml 5 5,2 5,1 Penoftalein V2 X Indikator

Perubaha n warna Bening ke merah muda Bening ke merah muda Bening ke merah muda Bening ke merah

24

( 0,8 gr/10 ml) E 5 ( 1 gr/10 ml) 5 ml

muda Bening ke Penoftalein merah muda

10, 5

10, 2

10,3 5

Perhitungan : 2. Molaritas NaOH Dik : Normalitas NaOH = 0,1 N Dit : Molaritas NaOH.? Perhitungan : N=M x ek M=N\ek M = 0,1 grek/L : 1 grek/mol M= 0,1 mol/L 3. Kadar asam asam benzoat

25

Campuran 1 ( 0,2 gr/10 ml) Dik : V NaOH = 5,1 mL M NaOH = 0,1 M V asam benzoat = 5 mL Dit : M asam benzoate.? Peny : V NaOH x M NaOH = V asam benzoat x M asam benzoat 5,1 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam benzoat M asam benzoate = 0,102 M

Campuran 2 ( 0,4 gr/10 ml) Dik : V NaOH = 6,05 mL M NaOH = 0,1 M V asam benzoat = 5 mL Dit : M asam benzoate.? Peny : V NaOH x M NaOH = V asam benzoat x M asam benzoat 6,05 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam benzoat M asam benzoat = 0,121 M

Campuran 3 ( 0,6 gr/10 ml )

26

Dik : V NaOH = 7,3 mL M NaOH = 0,1 M V asam benzoat = 5 mL Dit : M asam benzoate.? Peny : V NaOH x M NaOH = V asam benzoat x M asam benzoat 7,3 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam benzoat M asam benzoat = 0,146 M

Campuran 4 ( 0,8 gr/10 ml ) Dik : V NaOH = 9,4 mL M NaOH = 0,1 M V asam benzoat = 5 mL Dit : M asam benzoate.? Peny : V NaOH x M NaOH = V asam benzoat x M asam benzoat 9,4 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam benzoat M asam benzoat = 0,188 M

Campuran 5 ( 1 gr/10 ml ) Dik : V NaOH = 10,35 mL

27

M NaOH = 0,1 M V asam benzoat = 5 mL Dit : M asam benzoate.? Peny : V NaOH x M NaOH = V asam benzoat x M asam benzoat 10,35 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam benzoat M asam benzoat = 0,207 M

4. Kelarutan Asam benzoate

No 1 2 3 4 5

Kelarutan (M) 0,102 0,121 0,146 0,188 0,207

Asam

benzoate Campuran pelarut 1 2 3 4 5

5. Grafik kelarutan Asam benzoate dengan konsentrasi Tween 80

28

IV.2 Pembahasan Kelarutan dalam besaran kuantitatif didefinisikan sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, sedangkan secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk dispersi molekuler homogen. Menurut U.S. Pharmacopeia dan National Formulary definisi kelarutan obat adalah jumlah ml pelarut di mana akan larut 1 gram zat terlarut. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan adalah pH, temperatur, jenis pelarut, bentuk dan ukuran partikel, konstanta dielekrik pelarut, dan surfaktan, serta efek garam. Semakin tinggi temperature maka akan mempercepat kelarutan zat, semakin kecil ukuran partikel zat maka akan mempercepat kelarutan zat, dan dengan adanya garam akan mengurangi kelarutan zat. Pada percobaan ini ditentukan kelarutan asam benzoate pada pelarut campuran serta pada penambahan zat lain seperti surfaktan. Dimana pada percobaan pertama Asam benzoate dilarutkan pada pelarut campur alcohol, air dan gliserin dengan konsentrasi yang berbeda dan dihitung kadar asam benzoate maka akan ditemukan besar kelarutan dari asam benzoat. Pada percobaan pertama didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa asam benzoate lebih mudah larut pada pelarut campur air dan alcohol yang berkonsentrasi lebih tinggi dibandingkan dengan pelarut campur air dan gliserin yang berkonsentrasi tinggi. Hal ini berdasarkan kelarutan dari asam benzoate yang dapat larut pada 350 bagian air dan 3 bagian etanol (95%) P dan 3 bagian eter P. Oleh karena itu,

29

asam benzoate akan lebih mudah larut terhadap pelarut campur air dan alcohol dan tidak mudah larut pada pelarut campur air dan gliserin. Dari hasil percobaan diatas didapatkan hasil kelarutan dari asam benzoate yang berangsur meningkat dengan menggunakan pelarut campur air, alcohol dan gliserin yakni 0.083, 0.087, 0.096, 0.113, 0.189. Pada percobaan kedua yang merupkan penambahan zat lain berupa surfaktan yang dapat menurunkan tegangan permukaan antara dua zat yang tidak dapat larut sehingg zat tersebut dapat bercampur atau larut. Percobaan kedua ini menggunaka tween-80 sebagai surfaktan untuk mengetahui kelarutan asam benzoate terhadap pelarutnya. Dimana dalam larutan yang berbeda-beda mengandung jumlah tween-80 yang berbeda dengan konsentrasi yang berbeda pula. Pada larutan yang mengandung tween-80 dengan konsentrasi tinggi menunjukkan bahwa kelarutan asam benzoate lebih tinggi jika dibandingkan dengan larutan yang mengandung tween-80 dengan konsentrasi yang lebih rendah. Pada percobaan didapatkan angka 0.207 yang menunjukkan kelarutan asam benzoate yang lebih tinggi karena mengandung tween-80 dengan konsentrasi tinggi. Hal ini semakin membuktikan bahwa factor kelarutan dari suatu zat juga dapat ditentukan oleh penambahan zat lain seperti surfaktan yang dapat meningkatkan kelarutan dengan menurunkan tegangan permukaan kedua zat tersebut sehingga zat yang tidak dapat bercampur akan lebih mudah larut. BAB V PENUTUP VI.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan yang diperoleah maka dapat disimpulkan bahwa:

30

1. Kelarutan dinyatakan secara kuantitatif merupakan kelarutan dari suatu zat sebagai konsentrasi dari zat terlarut dalam larutan jenuh pada suhu dan tekanan tertentu. 2. Asam benzoate lebih larut pada pelarut campur alkohol dan air dari pada pelarut campur air dan gliserin. 3. Penambahan surfaktan ( Tween 80 ) pada larutan dapat meningkatkan kelarutan Asam benzoate. VI.2 Saran Sebaiknya dalam parktikum ini kita juga menggunakan pelarut lain agar dapat dibandingkan kelarutannya.

DAFTAR PUSTAKA 1. Drs. H. A. Syamsuni, Apt. 2006. Ilmu Resep. EGC. Jakarta 2. Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan RI, Jakarta. 3. Robert Tungadi S.Si, M.Si, Apt.. 2009. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika, Jurusan farmasi Universitas Hasanuddin. Makassar. 4. Dr. A. Hadiyana Pudjaatmaka. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. EGC. Jakarta 5. http://arifqbio.multiply.com/journal/item/7,22 November 2010 6. http://www.scribd.com/doc/24716752/Kelarutan, 22 Nov 2010 7. http:// id.wikipedia.org/wiki/Kelarutan, 22 Nov 2010 8. http://ahmad-my-farmasi07.blogspot.com/2009/09/laporan-kelarutanfarfis.html

31

9. Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

32