Anda di halaman 1dari 13

DAFTAR ISI

Daftar Isi......................................................................................................................1

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang...................................................................................................2 B. Perumusan Masalah..........................................................................................3 II. Pembahasan Permasalahan A. Pengertian Filosofi............................................................................................4 B. Tujuan Teori......................................................................................................5 C. Metode Filosofi..................................................................................................5 D. Filosofi Auditing.................................................................................................6 E. Auditing Sebagai Disiplin..................................................................................7 F. Perbedaan Antara Audit dan Pencatatan Akuntansi.........................................8 III. Kesimpulan Kesimpulan............................................................................................................12 Daftar Pustaka...........................................................................................................13

1|Filosofi Auditing

FILOSOFI AUDITING

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seseorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dimaksud dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan (Arens & Leobbecke; 1998) sedangkan menurut R.K Mautz, Husain A sharaf; 1993 mendefinisikan auditing sebagai rangkaian praktek dan prosedur, metode dan teknik, suatu cara yang hanya sedikit butuh penjelasan, diskripsi, rekonsiliasi dan argumen yang biasanya menggumpal sebagai teori. Selanjutnya Mulyadi & Kanaka Puradiredja (1998) mendifinisikan auditing adalah proses sistematis untuk mempelajari dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan. Pembicaraan mengenai auditing selalu dikaitkan dengan keberadaan profesi Akuntan Publik, yang dikenal oleh masyarakat sebagai penyedia jasa audit laporan keuangan kepada pemakai informasi keuangan. Para praktisi dan pendidik terkadang timbul suatu pertanyaan teori apakan sebenarnya yang melatar belakangi auditing. Literatur-literatur yang terkait dengan auditing lebih banyak didominasi oleh pembicaraan yang terkait dengan praktek dan teknik audit. Dan sedikit sekali literatur profesional yang mengulas mengenai teori auditing. Beberapa masalah-masalah dalam auditing sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan dan tidak kunjung terpecahkan, misalnya apakah tes dan pengambilan sampel yang biasa dipakai auditor kurang dalam menjustifikasi opininya, masalah independensi auditor dan kepentingan auditor terhadap audit fee. Tidak hanya layanan auditor saja yang menjadi perdebatan akan tetapi juga menyangkut tanggung jawab kinerja dan fungsi historisnya. Bagaimana kedudukan
2|Filosofi Auditing

auditor mengenai kewajiban untuk mengungkapkan pelanggaran hukum oleh klien, terlebih lagi peranan auditor dalam pelanggaran hukum klien yang sampai saat ini masih diperdebatkan. Pembicaraan mengenai teori auditing sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari sejarah auditing itu sendiri. Auditing pada awalnya dikembangkan sebagai sebuah prosedur dengan pengecekan yang detail sehingga kelihatannya teori tidak diinginkan dan diperlukan. Para auditor zaman dahulu hanya terdorong untuk menginfestigasi kecocokan hal-hal yang diinfestigasi dengan model atau standar, hal ini tidak beda jauh dengan kondisi pada saat ini. Akan tetapi apakah hal demikian benar? Kami berpendapat bahwa ada teori auditing, yang terdiri dari sejumlah asumsi dasar dan suatu kerangka dari ide-ide yang terintegrasi, pemahaman yang akan banyak membantu secara langsung dalam pengembangan dan praktek seni auditing. Lebih jauh lagi kami percaya,yang akan kami usahakan untuk mendukung kepercayaan kami ini dibagian-bagian berikut, bahwa pemahaman mengenai teori auditing dapat membawa kita ke solusi yang paling masuk akal dari masalahmasalah yang paling tidak menyenangkan ya ng dihadapi oleh auditing saat ini (Mautz, R. K., and Hussein A. Sharaf ; 1961) Selama bertahun-tahun auditing sibuk menyiapkan kelahirannya dan diterima jika selama bertahun-tahun itu hanya sedikit waktu untuk introspeksi, namun ketika suatu teori menjadi semakin matang maka waktu instrospeksi yang dibutuhkan semakin berkurang. Sungguh ada sesuatu yang tidak layak mengenai profesi dengan tidak ada dukungan yang terlihat dalam bentuk struktur teori yang komprehensif dan terintegrasi, maka diperlukan Filosofi Auditing. B. Perumusan Masalah Dari latar belakang diatas maka dapat kami tarik suatu kesimpulan masalah sebagai berikut : 1. Mengapa auditing harus mempunyai filosofi ? dan seperti apakah filosofi auditing itu? 2. Sampai sejauh mana auditor memahami filosofi Auditing sebagai landasan dalam praktik auditnya? 3. Apakah dengan teorinya Auditing dapat disebut sebuah disiplin Ilmu?
3|Filosofi Auditing

4. Apakah perbedaan antara Audit dan Pencatatan Akuntansi?

II. PEMBAHASAN PERMASALAHAN A. Pengertian Filosofi Filosofi adalah prinsip-prinsip yang menggaris bawahi cabang belajar dan sistem untuk membimbing hubungan-hubungan praktis langsung berguna. Menurut petikan dalam kamus filosofi : Philosofi : (Yunani; philain, mencintai, sophia, kebijakan) Ilmu yang paling umum, pitagoras berkata menyebut dirinya sendiri pecinta kebijaksanaan. Namun filosofi dikenal sebagai pencarian kebijaksanaan dan pandangan bijaksana. Byran mengungkapkan Arti filosofi bagi individu atau masyarakat memakai Semangat yang abadi dari pikiran yang bebas manusia terus menerus bertanya Mengapa ? Kerangka pemikiran filosofi menunjukkan adanya penjelasan yang sangat rasional ; prinsip-prinsip umum yang mengatur semua fakta dapat dijelaskan. Dalam hal ini dapat dibedakan dari ilmu, kemudian ilmu dari prinsip-prinsip pertama, pikiran realitas yang tidak terhingga; secara teknis, ilmu dari ilmu-ilmu, kritisme dan sistematisasi atau organisasi dari semua pengetahuan, diturunkan dari ilmu empiris, pembelajaran rasional, pengalaman umum atau lainnya. Phenik (1958) membuat kelas / tingkatan filosofi menjadi 3, yang pertama, Philisopic Great yang telah memberikan kontribusi utama pada filosofi, Kedua adalah filosofi profesional yang telah menguasai lapangan dan yang umumnya menulis dan mengajar subyek ini. Ketiga ada banyak intelejen-intelejen dan meminta orang-orang serius dengan problem-problem mereka, tujuan-tujuan refleksi dan studi untuk menemukan solusi masalah-masalah ini. Karakteristik dari pendekatan filosofi dapat dibedakan dalam 4 bagian : 1. Comprehension (pemahaman) menampakkan pemahaman keseluruhan dari pada pembagian secara indifidual. Filosofi memaksa konsep-konsep umum seperti pikiran, nilai, proses yang komprehensif dalam hal semuanya berpengaruh pada seluruh ranah pengalaman manusia.

4|Filosofi Auditing

2. Perspektif, mengundang pandangan luas yang diperlukan untuk memegang kebenaran dan signifikan penuh dengan beberapa hal. Jadi tidak hanya dari pandangan pembela special akan tetapi dapat membuat judgment yang bagus. 3. Insight (wawasan), menekankan kedalam penyelidikan yang dituju. Pencarian filosofi untuk mengungkap asumsi-asimsi dasar yang menggaris bawahi pandangan hidup 4. Visi, sebagai istilah yang digunakan untuk menggambarkan pendekatan filosofi. Bukan berarti spekulasi yang tidak mendasar dan tidak terkendali atau mistikisme yang tidak rasional.

B. Tujuan Teori Alasan untuk penelitian yang serius dan substansial atas kemungkinan dan sifat dasar teori auditing adalah harapan bahwa teori tersebut akan memberi kita solusi, atau setidaknya petunjuk pada solusi dari masalah auditing yang kita anggap sulit saat ini. Jika auditing adalah profesi yang dipelajari, para praktisi audit harus mempunyai rasa keingintahuan tentang auditing. Sebagai profesi, auditor harus mempunyai keingintahuan intelektual yang cukup besar untuk menelusuri batas ilmu pengetahuan sampai tingkat tertentu, dan sebuah ilmu yang tidak hanya mempertanyakan subyek tapi juga pada tingkatan filosofi. Saat ini auditing sudah mencapai tingkat kedewasaan yang akan bertindak tepat dalam menghentikan sedikitnya introspeksi dan penyimpangan preposisi, tujuan dan metode-metodenya. Para auditor tidak perlu segan untuk menfilosofikan auditing. Sesungguhnya lebih baik dari auditor kembali kepada filosofi sebagai upaya menjalankan teori fundamental auditing dan pada para filosof kembali pada auditing.

C. Metode Filosofi Setiap lapangan penelitian mempunyai metode penelitian yang khas, dan demikian juga filosofi. Metodenya sama apakah subyeknya filosofi umum atau khusus, salah satu aspek penting dari metode ini adalah digambarkan oleh Horold & Larrabee (1928) cara filosofis memperlakukan pertanyaan . Sangat control
5|Filosofi Auditing

dengan cara umum menangani suatu masalah, seperti bertengkar mengenai hal tersebut, mengadakan pemilihan atau berkompromi tentang hal itu. Tidak ada satu metodepun yang memaksa penggunanya untuk : memahami ma salah segera. Maka solusi filosofi yang hampir selalu memakan waktu pada mulanya, dan tampak tak menjanjikan umumnya mempunyai dapat bertahan lama, karena tidak begitu dangkal pada akhirnya. Berfilosofi tentang suatu hal menunjukkan suatu usaha keras untuk memahami secara eseluruhan sebisa mungkin sehingga memberikan perlakuan yang paling menggunakan pikiran sebisa kita Dari pendekatan-pendekatan tradisional dalam studi filosofi ditemukan metode Analitis dan Penilaian yang lebih berguna dalam menggembangkan teori auditing. Auditing peduli dengan tanggung jawab sosial dan tindakan etis sebagaimana juga dengan pengumpulan dan evaluasi bukti, sehingga tiap metode dapat ditetapkan. Dengan sendirinya auditing mengacu pada pendekatan analitis dalam aspek-aspek tertentu juga pada pendekatan penilaian moral. Contohnya: Penilaian audit berdasarkan pada kualitas kepercayaan yang didapat melalui pengumpulan dan pembuktian bukti audit. Kepercayaan dapat dinilai sejauh orang dapat memberikan alasan dari bukti yang ada. Semakin tepat alasannya, semakin akurat kesimpulannya dan lebih reliabel penilaiannya.

D. Filosofi Auditing Apabila ke 4 bagian karakteristik filosofi diatas diterapkan pada auditing,kita harus mencari gagasan yang relatif umum dalam disiplin bidang auditing itu sendiri. Comprehension (pemahaman) akan menunjukkan pemahaman keseluruhan dan bukan hanya bagian-bagian. Dalam Auditing hal ini akan mengarahkan kita pada suatu Pertimbangan dari konsep umum seperti Bahan Pembuktian, Hal pemeliharaan, Disclosure dan Independensi. Prespektif, para Auditor harus mempunyai wawasan yang sangat luas yang penting untuk mendapatkan kebenaran dan signifikasi akan berbagai hal dalam
6|Filosofi Auditing

pembuktian audit. Auditor perlu menyingkirkan dalih-dalih tertentu dan lebih mementingkan kepedulian pribadi dan kepentingan yang ada. Tiap masalah harus ditimbang berdasarkan kepentingan keseluruhan dan percabangnya dibandingkan dengan dari satu atau lebih pandangan lain yang teratur. Insight (Wawasan), auditor harus mampu memberikan asumsi-asumsi yang rasional. Pengungkapan dan penerimaan postulat sebagai dasar auditing penting untuk menghindari bias dan menghilangkan alasan yang tidak jelas. Asumsi-asumsi dasarnya, asal bahan pembuktian, kelemahan dan implikasi-implikasi diungkap dan diuji. Visi, dalam pendekatan filosofi, auditing harus mempunyai visi ke depan yang jelas. Hal ini akan membantu auditor dalam memberikan keyakinan, melihat jauh kedepan dalam memfisualisasikan prospek-prospek dan tujuan-tujuan.

E. Auditing Sebagai Disiplin Banyak dari kita cenderung berfikir bahwa auditing adalah sub divisi akuntansi, mungkin karena itulah cara kita berkenalan dengannya saat belajar pertama kali dan karena tiap auditor yang kita ketahui adalah akuntan. Faktanya, tidaklah benar menganggap auditing adalah sub divisi akuntansi. Auditing berhubungan sangat erat dengan akuntansi, yang menjelaskan mengapa auditor pertama-tama adalah akuntan, tapi auditing bukanlah bagian dari akunting. Hubungan akunting dengan auditing sangatlah dekat, namun sifat dasarnya sangat berbeda. Akuntansi terdiri dari pengumpulan, penggolongan, peringkasan dan komunikasi kejadian-kejadian bisnis dan kondisi dimana mereka mempengaruhi dan mewakili entitas lain. Tugas auditing adalah mereview ukuran dan komunikasi akuntansi untuk kelayakan. Auditing itu analitis dan tidak kontruktif, dia kritis, menyelidik, menyangkut dasar pengukuran dan asersi akuntansi. Auditing menekankan bukti, pendukung laporan dan data finansial, maka auditing mempunyai akar utama, bukan dalam akuntansi dimana dia mereview, tapi dalam logika auditing bergantung pada gagasan dan metode-metode. Auditing berkaitan dengan verifikasi, pemeriksaan data finansial untuk tujuan penilaian kejujuran dimana mereka menggambarkan kejadian dan kondisi. Data finansial pada umumnya asersi dari fakta nonfisik. Verifikasinya membutuhkan
7|Filosofi Auditing

aplikasi teknik dan metode bukti. Dengan demikian logika bukan hanya dasar untuk auditing tapi juga untuk hukum, yang menjamin gagasan dan teori bukti dari logika. Kenyataannya, disiplin apapun yang tergantung pada bukti beedasarkan pada logika. Auditing juga merupakan disiplin terapan karena disiplin terapan juga menggambarkan prinsip-prinsipnya atau teori dasar dari beberapa lapangan lain, beberapa lainnya murni. Auditing jarang dapat menolak teorinya, namun karena masih terlalu muda dibanding ilmu lain, mungkin tidak pernah terlalu peduli pada hubungan-hubungannya pada disiplin-disiplin fundamental.

F. Perbedaan Audit dengan Pencatatan Akuntansi

Pencatatan akuntansi menurut tujuannya

Tujuan akhir akuntansi adalah komunikasi data yang relevan & andal sehingga dapat berguna bagi pengambil keputusan. Dengan demikian, akuntansi adalah suatu proses yang kreatif. Para pegawai entitas terlibat dalam proses akuntansi ini, sedangkan tanggung jawab akhir untuk laporan keuangan terletak pada manajemen entitas.

Dilihat dari proses pencatatan akuntansi

Pencatatan akuntansi mencakup kegiatan mengidentifikasi bukti dan transaksi yang dapat mempengaruhi entitas. Setelah diidentifikasi, maka bukti transaksi ini diukur, dicata, dikelompokkan, serta dibuat ikhtisar dalam catatan-catatan akuntansi. Hasil proses ini adalah penyusunan dan distribusi laporan keuangan yang sesuai dengan PABU (GAAP).

Audit menurut tujuannya

Tujuan utama audit laporan keuangan bukan untuk menciptakan informasi baru, melainkan untuk menambah keandalan laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen. Audit laporan keuangan ini merupakan tanggung jawab auditor.

Dilihat dari proses audit


8|Filosofi Auditing

Proses audit keuangan yang khas terdiri dari upaya memahami bisnis dan industri klien serta mendapatkan dan mengevaluasi bukti yang berkaitan dengan laporan keuangan manajemen, sehingga memungkinkan auditor meneliti apakah pada kenyataannya laporan keuangan tersebut telah menyajikan posisi keuangan entitas, hasil operasi, serta arus kas secara wajar sesuai dengan GAAP. Auditor bertanggung jawab untuk mematuhi standar auditing yang berlaku umum-SABU (GAAS) dalam mengumpulkan dan mengevaluasi bukti, serta dalam menerbitkan laporan yang memuat kesimpulan auditor yang dinyatakan dalam bentuk pendapat atau opini atas laporan keuangan. Jadi audit berpedoman selain pada GAAP juga berpedoman pada SABU (GAAS). Secara lebih singkatnya pencatatan akuntansi merupakan rekaman dari data historis keuangan ekonomi suatu entitas dalam bentuk laporan keuangan berdasarkan GAAP sedangkan Audit merupakan proses sistematis untuk menelusuri dari laporan keuangan suatu entitas sampai kepada bukti transaksi atas kejadian ekonomi entitas untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang telah dibuat oleh manajemen berdasarkan SABU bahwa laporan keuangan tersebut telah disajikan sesuai GAAP. Pengertian Auditing Auditing berasal dari bahasa latin, yaitu audire yang berarti mendengar atau memperhatikan. Mendengar dalam hal ini adalah memperhatikan dan mengamati pertanggungjawaban keuangan yang disampaikan penanggung jawab keuangan, dalam hal ini manajemen perusahaan. Pada perkembangan terakhir sesuai dengan perkembangan dunia usaha, pendengar tersebut dikenal dengan auditor atau pemeriksa. Sedangkan tugas yang diemban oleh auditor tersebut disebut dengan auditing. Untuk dapat memahami lebih lanjut pengertian auditing, maka perlu dikemukakan pendapat Kohler yang menyatakan sebagai berikut: Auditing is an explorotary, critical review by a profesional account of the underlying internal control and accounting records of a business enterprises or other economic unit, precedent to the expression by the auditor of an opinion of the propriety (fairness) of its financial statement.

9|Filosofi Auditing

Dari definisi diatas dapat diketahui tiga sasaran pokok pemeriksaan yaitu: 1. Pemeriksaan atas pengawasan intern Dalam hal ini pengawasan pengawasan administrasi. 2. Pemeriksaan atas catatan keuangan Catatan keuangan meliputi catatan yang memuat satuan uang seperti faktur pembelian, faktur penjualan, bukti penerimaan uang, daftar gaji, buku harian, buku besar, buku tambahan dan lain sebagainya. 3. Pemeriksaan atas catatan lain Catatan lain meliputi seluruh catatan diluar catatan keuangan seperti anggaran dasar, notulen rapat, data statistik dan sebagainya. Selanjutnya Moenaf Regar memberikan pengertian auditing sebagai berikut: Pemeriksaan (auditing, general audit, financial audit) adalah serangkaian intern meliputi pengawasan akuntansi dan

pemeriksaan kegiatan yang bebas dilakukan oleh akuntan untuk meneliti daftar keuangan dari suatu perusahaan yang dilaksanakan menurut norma pemeriksaan akuntan untuk dapat memberikan (atau menolak memberikan) pendapat mengenai kewajaran dari daftar keuangan yang diperiksa. Pendapat diatas mengandung pengertian bahwa pemeriksaan yang dilakukan oleh akuntan (auditor) terhadap daftar keuangan perusahaan harus dilaksanakan secara bebas, tanpa adanya tekanan dari pihak manapun dan juga dilaksanakan menurut norma pemeriksaan yang telah ditetapkan oleh yang berwenang. Kata bebas yang dimaksud dalam hal ini adalah suatu sikap yang tidak berpihak dalam melaksanakan pemeriksaan untuk sampai kepada pemberian pendapat, baik dalam kenyataan (in fact) maupun dalam penglihatan (in appearance). Sedangkan norma pemeriksaan pemeriksaan. Selanjutnya pengertian auditing dikemukakan dalam bentuk yan lebih luas oleh Arens dan James sebagai berikut: adalah suatu ukuran untuk mengetahui mutu pelaksanaan

10 | F i l o s o f i A u d i t i n g

Auditing adalah suatu proses dengan apa seseorang yang mampu dan independen dapat menghimpun dan mengevaluasi bukti-bukti dari keterangan yang terukur dari suatu kesatuan ekonomi dengan tujuan untuk mempertimbangkan dan melaporkan tingkat kesesuaian dari keterangan yang terukur tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan. Definisi di atas dapat dijelaskan lebih lanjut berdasarkan unsur-unsur yang dicakup sebagai berikut: 1. Pengumpulan dan penilaian bukti Yang dimaksud dengan bukti disini adalah segala keterangan yang digunakan oleh auditor untuk menentukan apakah keterangan atau informasi yang diperiksa tersebut sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. 2. Keahlian dan kebebasan Seorang auditor harus mempunyai pengetahuan yang cukup agar dapat memahami kriteria-kriteria yang digunakan dan cukup mampu atau kompoten untuk mengetahui dengan pasti jenis dan jumlah fakta yang dibutuhkan agar pada akhir pemeriksaan ia dapat menarik kesimpulan yang tepat. Auditor juga harus memiliki sikap mental yang bebas atau independen. 3. Satuan ekonomi tertentu Setiap kali akan dilakukan suatu audit, ruang lingkup pertanggungjawaban auditor harus dinyatakan secara jelas, yang terutama harus dilakukan adalah menegas satuan ekonomi yang dimaksud dan periode waktunya. 4. Data keterangan yang terukur dan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan Untuk mempermudah penilaian keterangan, data harus dapat dikumpulkan dengan mudah, berarti data tersebut disusun dalam suatu sistem akuntansi. Data yang disajikan manajemen tersebut dibandingkan dengan kriteria atau standar yang telah ditetapkan. 5. Pelaporan Hasil akhir suatu pemeriksaan adalah menerbitkan laporan yang berisi kesimpulan dan temuan yang didapat selama pemeriksaan berlangsung sampai selesai. Isi dan bentuk laporan biasanya berbeda, tergantung pada maksud, tujuan dan sifat pemeriksaan yang dilakukan. Tetapi suatu laporan harus dapat menjelaskan pada pembaca mengenai kesamaan antara informasi yang dinyatakan dengan angka, kriteria atau ukuran yang ada. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa pemeriksaan bertujuan memberikan gambaran tentang kesesuaian yang diperiksa berupa kegiatan, data atau bukti dengan kriteria yang ditentukan oleh orang yang mempunyai keahlian yang bebas untuk memberikan kesimpulannya melalui alat komunikasi yang dituangkan dalam bentuk laporan. Secara umum, tujuan pemeriksaan yang dilakukan auditor adalah untuk meningkatkan kepercayaan (credibility) daftar keuangan yang disajikan

11 | F i l o s o f i A u d i t i n g

manajemen, dengan memberikan pendapat mengenai kelayakan dari daftar keuangan yang disajikan tersebut.

III. KESIMPULAN Tibalah kita pada suatu kesimpulan bahwa auditing adalah merupakan bidang ilmu pengatahuan yang khusus dimana auditing membutuhkan jenis studi. Dan bahwa pengembangan dari suatu filosofi yang baik dari auditing adalah suatu tantangan yang sesuai dengan pikiran terbaik yang dimiliki profesi. Auditing berhubungan dengan ide-ide abstrak, auditing mempunyai pondasi dalam tipe-tipe pembelajaran yang paling mendasar, auditing mempunyai struktur yang rasional dari postulat-postulat, konsep-konsep teknik dan persepsi, dapat dimengerti dengan baik. Auditing merupakan studi intelektual yang mendalam yang layak disebut disiplin. Karena auditing menyediakan kesempatan dan bahkan meminta usaha keras intelektual, karena dengan usaha yang keras tersebut teori yang mendasarinya dapat diungkapkan, dikembangkan, dipahami dan digunakan untuk pengembangan profesi.

12 | F i l o s o f i A u d i t i n g

Daftar Pustaka

Arens, Alvin A, and James K Loebbacke, (2000), auditing An Integrited Approach, 8th Ed, London : Prentice Hall International. Mautz, R. K and Hussein A Sharaf, (1961), The Philosophy of Auditing, Sarasota : American Accounting Association Mulyadi & Kanaka Puradiredja (1999), Auditing Buku I ; Salemba Empat Jakarta http://itjen.kemhan.go.id/node/1231 (Diunduh pada 2 September 2013; 20:30 WIB) http://id.scribd.com/doc/89796310/Definisi-Dan-Filosofi-Audit (Diunduh pada 10 September 2012; 17:30 WIB)

13 | F i l o s o f i A u d i t i n g