Anda di halaman 1dari 10

Metode sterilisasi kimia 1.

Etilen oksida Adalah metode sterilisasi yang telah dikenal pada tahun 1973 baik dalam Farmakope British maupun pada British Pharmaceutical Codex. Pada farmakope British, penggunaan etilen oksida adalah salah satu diantara prosedur sterilisasi bahan serbuk. 1.1 Profil etilen oksida Etilen oksida merupakan eter siklik yang mudah menguap dengan stuktur sebagai berikut :

Titik didihnya adalah 10,7C pada760 mmHg dan titik lebur -112,6C, dapat meledak ketika volume di udara mencapai batasan 3%-97%, sehingga sangat mudah mencair dan meledak bila bercampur dengan udara. Tetapi kekurangan ini dapat diatasi dengan mencampurkan 10% etilen oksida dengan 90% hidrokarbon terhalogenasi, atau dengan

memindahkan 95% udara dari bagian sebelum penggunaan etilen dioksida (Agalloco, 2008).

1.2 Prinsip dasar Etilen oksida membunuh mikroba memalui reaksi kimia, yaitu dengan mengalkilasi grup SH-, OH, -COOH, dan NH2 pada enzim, protein, dan asam nukleat. Pada reaksi ini terjadi pergantian gugus atom hidrogen dengan gugus alkil, sehingga metabolisme dan reproduksi sel terganggu. Contoh : protein-NH2 + C2H4O = protein-NH-(C2H4OH) (Darmadi, 2008). 1.3 Faktor- faktor efek efisiensi sterilitas a. Konsentrasi gas Kecepatan sterilisasi tergantung pada tekanan parsial dari gas. Tekanan parsial dari gas dapat menjadi lemah dengan absorbs dari

beban. Contohnya :

mantel, karet, plastik dan bahan pengemas

(Royce 1959). Royce memberikan contoh absobsi oleh beberapa bahan setelah kontak dengan gas pada konsentrasi 200 mg/liter

selama 24 jam pada suhu 25C. Seperti pada tabel di bawah ini : Bahan Polyethene Polyvinylchloride Cardboard Kapas wol yang tidak mengabsorbsi Penutup karet neophrene 15,2 Jumlah yang terabsorbsi (mg/g) 2 19,2 10,4 4,1

Range konsentrasi yang digunakan untuk sterilisasi dari 200 sampai 1000mg/l dan konsentrasi ini secara pasti telah menunjukkan cukup jika dibandingkan dengan kerja Philips (1961). Philips menentukan aktivitas etilen oksida dalam melawan spora Bacillus subtilis varian globigii pada 25C. Beberapa hasilnya diberikan pada tabel di bawah ini : Konsentrasi ethilen oksida (mg/l) 44 88 442 884 Waktu pemaparan untuk mendapatkan tidak ada organisme yang dipulihkan (jam) 24 10 4 2

Dari tabel dapat dilihat bahwa jika konsentrasi dinaikkan 2 kali lipat, waktu pemaparan berkurang menjadi setengahya.

b. Temperatur Peningkatan dari temperatur meningkatkan aktivitas. Koefisien temperatur adalah 2,7 berubah setiap 10 pada temperatur, tapi etilen

oksida umumnya digunakan pada bahan termolabil, range yang biasa digunakan adalah 20- 60 C.

c. Efek Kelembaban Menurut Philips kontrol beberapa kelembaban dibutuhkan. Tingkat hidrasi pada permukaan dari mikroorganisme untuk disterilkan lebih penting dari pada kelembaban relatif dari gas. Kelembaban relatif yang baik kira-kira 30-33% (Kanye &Philips 1994). Organisme kering lebih resisten dari pada yang lembab. Tipe permukaan juga berefek pada sterilisasi. Organisme kering pada permukaan keras dan impermeabel seperti pada gelas, plastik, dan logam kurang mudah untuk dibunuh dibandingkan organisme kering pada permukaan yang menyerap seperti kertas, atau kain .

d. Waktu pemaparan Tergantung pada tipe bahan yang akan disterilkan dan konsentrasi dari gas. Variasi kombinasi yang telah suskes digunakan yaitu : 85090mg /l selama 3 jam pada 45C dan 450mg/l selama 5 jam pada 45C (Perkins & Lloyd 1961). Waktu pemaparan juga bergantung pada kekuatan penetrasi dari gas. British Farmakope Codex menyatakan bahwa hidrasi dan pemanasan dari zat dapat lebih mudah dicapai dengan menempatkan pada kondisi atmosfer utama yang cocok untuk sterilisasi.

e. Kondisi dan kemampuan akses dari organisme Organisme kering lambat untuk dihidratkan kembali, oleh karena itu sulit untuk disterilkan (Gilbert dkk 1964). Organisme dapat terproteksi dalam bentuk kristal keras.

1.4 Teknik pelaksanaan sterilisasi

Proses sterilisasi menggunakan autoclave khusus pada suhu yang lebih rendah (36-60 C) serta konsentrasi gas tidak kurang dari 400 mg/l dengan proses sebagai berikut : a. Setelah peralatan medis dimasukkan, gas etilen oksida dipompakan ke dalam kamar (chamber) selama 20-30 menit pada kelembaban 50%-75% b. Setelah waktu pemaparan dengan gas ethilen oksida diikuti oleh tahap aerasi / pertukaran udara, yaitu proses pembuangan gas ethilen oksida pada sterilisator maupun peralatan medis. Cara sterilisasi ini dapat digunakan untuk alat-alat medis, alat-alat optik, pacemaker,dan lain-lain yang tidak tahan panas dan sulit disterilkan dengan metode lain. Afinitasnya yang tinggi akan berakibat timbulnya residu pada peralatan medis yang telah disterilkan. Gas etilen oksida cukup toksik sehingga dapat menimbulkan iritasi pada kulit dan mukosa. Oleh karenanya diperlukan kewaspadaan dalam bekerja (Darmadi 2008).

2. Hidrogen Peroksida 2.1 Profil Hidrogen Peroksida Hidrogen peroksida berupa cairan tidak berwarna berbau nitrat. Viskositas dan densitasnya 1,465 pada 4oC, dan akan memadat pada 0,89oC menjadi bentuk kristal. Titik didih 150oC. Rumus kimia hidrogen peroksida adalah H2O atau H-O-O-H dengan bentuk karakteristik jembatan peroksida -O-O-. Dengan spektrometri XRay diketahui bahwa dua ikatan O-H non-linear.

2.2 Prinsip Dasar Hidrogen peroksida dapat memproduksi hidroksil yang bersifat radikal bebas, sehingga dapat menyerang membrane sel, DNA, dan komponen essensial lainnya pada mikroorganisme. Namun

mikroorganisme (bakteri aerob dan anaerob fakultatif) juga dapat melindungi dirinya dari hidrogen peroksida dengan cara mendegradasi hydrogen peroksida menjadi air dan oksigen.

2.3 Teknik Pelaksaan Sterilisasi Konsentrasi hydrogen peroksida yang digunakan adalah 30-35%, menggunakan suhu yang rendah 4-80 C, RH yang digunakan 10%. Terdapat 2 metode pada proses sterilisasi, yaitu : 1. Menggunakan vacum : cairan hydrogen peroksida kinsentrasi rendah akan divacum dari cartridge sehingga akan melewati vaporizer dan akan tervaporisasi, uap yang terbentuk akan masuk ke chamber sterilisasi. 2. Menggunakan gas disertai tekanan tinggi atau tidak. Fase proses sterilisasi: 1. Fase vacum, dimana vacum yang berada pada chamber akan mengeluarkan tekanan sebesar 1 pound/inchi2. Fase ini berlangsung < 20 menit. 2. Fase injeksi, larutan hydrogen peroksida disuntikan ke dalam chamber vacuum dan tervaporisasi menjadi uap 3. Fase difusi, uap hydrogen peroksida menyebar kedalam chamber dan terjadi peningkatan tekanan sehingga bahan yang akan disterilisasi akan masuk ke dalam kolom, sehingga sterilant akan terpapardengan uap hydrogen peroksida sehingga mikroorganisme akan terbunuh. 4. Fase plasma, adanya radio frequency energy membuat molekul melepaskan elektronnya dan memproduksi plasma dengan suhu rendah sehingga hydrogen peroksida kehilangan energinya dan berubah menjadi oksigen dan air 5. Fase pelepasan, udara yang telah terfiltrasi akan masuk ke dalam chamber sehingga akan menurunkan tekanan atmosfer disertai terbukanya pintu.

3. Klor Dioksida (CD)

Chlordioksida merupakan agen sterilisasi yang sangat efektif dan banyak digunakan pada perangkat medis maupun industri farmasi meliputi sterilisasi komponen maupun peralatan medis itu sendiri. CD secara luas digunakan sebagai agen anti mikroba di industri. CD digunakan pada air minum. Pada industri makanan dan minuman, digunakan pada air, pemprosesan daging unggas, sanitasi buah dan sayur, dan peralatan yang digunakan untuk pemprosesan bahan makanan maupun minuman (Agalloco, 2008). Sterilisasi dengan chlordioksida pada umumnya memiliki proses yang sama dengan sterilan gas yang lain seperti etilenoksida. Kelembaban diperlukan untuk mendapatkan lethal rate yang optimal dan sterilisasi spora yang efektif. Prekondisi kelembaban yakni pada RH 60% sampai 75%. Aktivitas sterilisasi yang cepat pada CD memberikan konsentrasi gas yang rendah dari 1-30mg/L jika dibandingkan dengan EtO. Gas diberikan dengan konsentrasi yang diinginkan kemudian ditahan dengan jangka waktu yang cukup untuk menghasilkan efek anti mikroba yang dibutuhkan. Proses selesai segera setelah chlordioksida dikeluarkan (Agalloco, 2008). CD bertindak sebagai agen oksidasi dan bereaksi dengan beberapa unsur selular, termasuk membran sel mikroba. Kerusakan sel mengakibatkan kematian organisme melalui rusaknya ikatan molekular akibat pemindahan elektron (oksidasi). Fungsi enzim rusak karena CD mengubah protein yang terlibat dalam struktur mikroorganisme, hal ini menyebabkan kecepatan membunuh yang cepat. Aksi antimikrobial CD ditahan lebih lama dengan adanya bahan organik (Agalloco, 2008). Sebagai oksidan yang selektif, maka CD kompatibel dengan material standar pada umumnya seperti stainless steel, anodized aluminium, teflon, viton, polietilen, polipropilen dan nilon. Namun dilaporkan terjadi perubahan warna pada tembaga yang tidak dilapisi dan pada gulungan baja (Agalloco, 2008). Maksimum exposure level 8 jam, CD memiliki TWA 0,1ppm. CD dapat mengiritasi membran respiratori atau mukus. EPA menetapkan konsentrasi maksimum CD pada air minum sebesar 0,8mg/L. CD dapat bereaksi dengan

karbohidrat, seperti glukos. Keton juga dioksidasi menjadi asam karboksil oleh CD (Agalloco, 2008).

3.1 Profil klor dioksida 1. Rumus kimia : ClO2 2. Berat molekul : 67.45g/mol 3. Titik leleh : -59C 4. Titik didih : +11C 5. Densitas : 2,4 kali lipat dari udara

3.2 Teknik pelaksaan sterilisasi Langkah- langkah pada sterilisasi dengan klor dioksida adalah : 1. Prekondisi Camber harus diuji kebocoran agar dapat memberikan set point RH yang tepat (60-75%) 2. Pengkondisian Waktu pengkondisian selama 30 menit bertujuan untuk memberikan kelembaban. Setelah pengkondisian selesai, gas dapat masuk camber. 3. Pengisian Gas dimasukkan ke daam chamber, konsentrasi gas yang dimasukkan tergantung dari waktu siklus, biaya, isi. 4. Pemaparan Selama pemaparan, konsentrasi gas dimonitor dan dipertahankan pada target konsentrasi. 5. Aerasi Gas CD dikeluarkan dari chamber. Waktu aerasi tergantung dari kecepatan pompa vakum. Biasanya berlangsung selama 15 menit. Aerasi memberikan kondisi chamber berada pada 0,1ppm atau kurang dari itu (Agalloco, 2008).

4. Formaldehida

Formaldehid

berasal

dari

formika

Latin,

yang

berarti

semut

(semutmenghasilkan asam format sebagai pertahanan alami). Ini adalah gas tidak berwarna, tetapi biasanya didistribusikan sebagai larutan (umumnya disebutsebagai formalin), dan dikenal sebagian besar orang dalam rumah sakit sebagai desinfektan penting, yang telah digunakan sejak akhir 1800an. Formaldehida juga merupakan senyawa dalam kimia industri yangsangat penting, di mana jutaan ton formaldehid digunakan setiap tahundan diproduksi dengan bahan kimia lain. Adapun fungsi dari formaldehid adalah dalam pembuatan berbagai plastik, desinfektan dan perekat untuk membuat partikel, dll. kayu lapis untuk furnitur dan konstruksi Industri (Getinge, 1999). Formaldehid saat ini kurang digunakan karena banyaknya kerugian bagi tubuh, namun masih digunakan untuk sterilisasi ruangan yang terkontrol situasinya (Agalloco, 2008). Saat ini kebanyakan penggunaan gas formaldehid digunakan untuk alat-alat tertentu saja,seperti sarung tangan, kateter, dan lainlain (Darmadi, 2008). 4.1. Sifat fisika kimia Formalin zat yang tidak berwarna, berbau khas menyengat dan rasa terbakar (Getinge, 1999; EPA, 2007). Senyawa ini mudah terbakar, dan muda dipolimerisasi pada suhu ruang (Nugrahani, 2005). Nilai TWA untuk formaledid adalah 2 ppm.

4.2 Mekanisme aksi Semua bakteri termasuk spora dapat dibunuh oleh gas formaldehide dengan konsentrasi lebih dari 3% dan gas formalin (37% formaldehid dalam larutan air) untuk sterilisasi ruangan (Agalloco, 2008). Mekanisme penghambatannya adalah dengan berikatannya formaldehide dengan asam amino pada protein mikroorganisme, sehingga akan mengganggu transkripsi dari mikroorganisme tersebut, yang kemudian menghambat pertumbuhan mikroorganisme tersebut (Darmadi, 2008). 4.3 Teknik Pelaksanaan sterilisasi

Alat yang digunakan yaitu formalin autoclave dengan suhu 70oC. Setelah alat-alat yang akan disterilisasi dimasukkan, kemudian gas formaldehid dialirkan ke dalam chamber dengan konsentrasi 15 mg/m3 (Darmadi, 2008). Gas formaldehid didapatkan dengan melarutkan formaldehid dalam air dengan kadar 37% (Agalloco, 2008) Kondisi sterilisasi RH => Kelembaban yang dapat digunakan untuk mendapatkan efektivitas dari hasil sterilisasi adalah berkisar antara 60-80% (Agalloco, 2008). Suhu => Suhu yang digunakan untuk sterilisasi gas formaldehide adalah 70oC. Menurut Getinge (2008) temperatur yang digunakan untuk sterilisasi gas formaldehid berkisar antara 50-65oC. Lama pemaparan => Jika menggunakan suhu antara 50-60oC, waktu pemaparan yang digunakan 30-60 menit, sedangkan jika suhu sterilisasi antara 55-65oC, waktu pemaparan yang dibutuhkan adalah 45-60 menit (Agalloco, 2008). Konsentrasi gas => Menurut Darmadi (2008) konsentrasi gas formaldehid yang aman digunakan untuk sterilisasi adalah 15 mg/m3.

Dapus Agalloco, James. 2008. Validation of Pharmaceutical Process, Third Edition. New York : Informa Healthcare USA Inc. Darmadi. 2008. Infeksi Nosokomial Problematika dan Pengendaliannya. Jakarta : Penerbit Salemba Medika Gillbert . 1987. Modern Pharmaceutical 3rd Edition. New york: Marcel Dekker Inc Getinge, AB. 1999. Low-temperature sterilization using low-temperature steam and formaldehyde