Anda di halaman 1dari 10

KERAGAMAN LOKALITAS ARSITEKTUR DI INDONESIA

Hamka, ST. Program Pasca Sarjana Arsitektur Lingkungan Binaan-Universitas Brawijaya, Malang E-mail: hamkahamzah_07@yahoo.co.id

ABSTRAK
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki 13.487 pulau, 1.128 suku, 583 bahasa, 240 juta jiwa penduduk, 34 provinsi, begitupun dengan keragaman lokalitas arsitekturnya yang tersebar diseluruh nusantara juga sangat banyak. Memiliki begitu banyak tradisi dan budaya yang unik serta berbeda satu sama lain, tradisi dan budaya inilah yang menjadi salah-satu faktor yang membentuk wujud keragaman lokalitas arsitektur di Indonesia. Keragaman arsitektur lokal tersebut tentunya memiliki citra dan ciri khas tersendiri yang menjadi identitas kelokalan dimasing-masing tempat. Karena keragaman tersebutlah muncul pertanyaan seperti apa wajah arsitektur Indonesia? Arsitektur di Indonesia jenisnya sangat beragam diantaranya arsitektur tradisional yang didapatkan dari tradisi secara turun-temurun oleh masyarakat setempat, arsitektur dimasa pengaruh keagamaan, arsitektur kolonial akibat pengaruh dari masa penjajahan, arsitektur modern masuknya pengaruh global, asitektur postmodern bentuk kontra terhadap arsitektur modern. Jadi keragaman arsitektur di Indonesia sekarang ini bukan hanya sekedar arsitektur lokal/tradisional asli saja, tetapi juga termasuk arsitektur lainnya yang sudah dianggap melokal oleh masyarakat setempat. Indonesia adalah negara Bhineka Tunggal Ika, maka sulit untuk menyeragamkan keragaman tersebut untuk mendapatkan citra ke-Indonesiaan, karena wajah atau citra ke-Indonesiaan arsitektur di Indonesia adalah keragaman. Kata kunci: keragaman arsitektur, lokalitas arsitektur, arsitektur di Indonesia

1. PENDAHULUAN
Keragaman lokalitas arsitektur di Indonesia tidak lepas dari konsep arsitektur yang ada di Indonesia, arsitektur lokal asli yang beragam maupun maupun lokalitas akibat adanya pengaruh dari budaya luar yang secara langsung maupun tidak langsung, mampu melokal diantara arsitektur lokal asli Indonesia. Arsitektur di Indonesia adalah arsitektur beragam wajah akibat pengaruh tradisi dari India, Cina, Timur-Tengah hingga negara Barat (Nas & Vletter, 2009). Bahkan wajah arsitektur lokal asli Indonesia yang dikenal dalam bentuk arsitektur (tradisional/vernakuler/nusantara), sangat beragam dari perspektif etnik lokalnya. Dalam konteks lokalitas arsitektur hubungannya terhadap wajah dari arsitektur setempat yang dipengaruhi oleh budaya setempat, dan sifatnya juga setempat. Namun dalam perkembangannya lokalitas arsitektur ini terus mengalami perkembangan akibat pengaruh budaya dari luar, yang kemudian menambah keragaman lokalitas arsitektur yang ada di Indonesia. Keragaman arsitektur di Indonesia terbentuk dari aspek sejarah perkembangan arsitektur itu sendiri. Jauh sebelum arsitektur terus masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki arsitektur lokal berupa arsitektur tradisional setempat yang beragam, arsitektur tradisional ini dipengaruhi oleh kondisi alam dan tradisi budaya setempat secara turun temurung dan berlanjut hingga sekarang. Hingga masuknya pengaruh agama Hindu, Budha dengan arsitektur candinya, serta pengaruh agama Islam dengan arsitektur masjidnya. Kemudian masuknya arsitektur kolonial Belanda dimasa penjajahan hingga ke era modern (pasca kemerdekaan) yang kemudian diikuti oleh perkembangan arsitekturarsitektur modern lainnya dengan langgamnya yang lebih beragam.

1 Keragaman Lokalitas Arsitektur, 2013

2. PEMBAHASAN
2.1 Keragaman Arsitektur Tradisional Arsitektur Tradisional sangat lekat dengan tradisi yang merupakan hasil pembelajaran dan pemahaman masyarakat terhadap kondisi alam dan budayanya. Indonesia adalah negara kaya dengan ratusan etnis yang mana setiap etnis memiliki kekhususan budaya tersendiri, sehingga terdapat pula ratusan ragam rumah tradisional di Indonesia. Dari semua ragam tersebut, terdapat beberapa ragam yang memiliki keunikan dan karakteristik yang sangat kuat seperti yang terlihat pada gambar berikut ini.

A
J

C G

Gambar 1. Keragaman Arsitektur Tradisional Indonesia

Keterangan:

Sumber: google.com

(A). Rumah Nias, (B). Rumah Batak Toba, (C). Rumah Minang, (D). Rumah Joglo, (E). Tradisional Bali, (F). Rumah Tradisional Lombok, (G). Rumah Honai, Papua, (H). Rumah Tongkonan Toraja, (I). Rumah Bugis, (J). Rumah Panjang, Dayak, (K). Rumah Lamin, Kalimantan Timur. Keberagaman arsitektur tradisional Indonesia sangat beragam, namun jika ditelusuri terdapat kesamaan dari keberagaman tersebut, meskipun secara tampilan tetap berbeda. Beberapa kesamaan tersebut diantaranya: a. Tipe rumah panggung Sebagian besar rumah tradisional Indonesia kecuali rumah Jawa, Bali, Lombok dan Papua, menggunakan struktur rangka tiang kayu atau tipe rumah panggung sebagai upaya 2 Keragaman Lokalitas Arsitektur, 2013

adaptasi dengan iklim dan geografi, serta sebagian merupakan bentuk antisipasi terhadap ancaman bahaya dari bintang buas. b. Tiang bangunan menggunakan pondasi umpak Tiang tidak ditanam didalam tanah, melainkan beralas batu sehingga lebih fleksibel ketika ada guncangan atau gempa. Rumah Joglo, Sunda, dan Lombok, meskipun bukan merupakan tipe rumah panggung tetapi tetap menggunakan pondasi umpak di bawah tiang. Tapi berbeda dengan rumah tradisional Suku Kajang di Bulukumba, justru tiang atau kolomnya di tanam kedalam tanah. c. Lantai bangunan didukung oleh tiang dan balok kayu Tiang dan balok saling mengikat satu sama lain, biasanya tanpa menggunakan paku. Menggunakan sistem balok kayu yang saling tumpang tindih secara horizontal. Rumah tradisional di Indonesia dipandang sebagai bentuk strategi adaptasi terhadap alam seperti gempa melalui rekayasa struktur konstruksi (sistem sambungan dan tumpuan) dengan eksplorasi material lokal (batu, kayu dan bambu), (Rapoport, 1969). d. Bubungan atap yang condong keluar. Seringkali pemanjangan dibuat lekukan sehingga menimbulkan daya tarik estetis. Dominasi atap tampak pada keseluruhan bangunan seperti yang terlihat pada rumah Minang, Tongkonan, dan Batak. Proporsi atap lebih besar dari pada badan dan kaki (bagian bawah) bangunan. Selain itu itu atap pelana lebih umum digunakan. e. Memiliki ornamen pada dinding penutup atap yang menyimbolkan status sosial, kekuasaan dan karakteristik budaya. Masing-masing ornamen memiliki pemaknaan dan filosofis tersendiri, tergantung dari pemaknaan dari masyarakat setempat yang mendiami rumah tersebut. f. Penggunaan material-material dari alam Menggunakan material seperti kayu, batu, bambu, ijuk, dan ilalang. Namun seiring berkembangnya zaman, dan semakin berkurangnya material alam tersebut, sehingga sebagian diganti dengan material jenis yang lainnya. Misalkan pada atap bangunan tradisional yang awalnya menggunakan bahan dari ijuk maupun ilalang, sekarang diganti dengan bahan seng ataupun genteng. Secara konsep arsitektur tradisional ini memiliki kesamaan, meskipun dalam wujud tampilannya, masing-masing memiliki ciri khas tersendiri. Kesamaaan beberapa ciri yang muncul pada rumah tradisional itu juga tidak lepas dari sejarah bahwa Indonesia merupakan salah-satu rumpun bangsa Austronesia. Ciri dan karakter dari rumah austronesia berupa bangunan persegi empat, berdiri diatas tiang-tiang, beratap ilalang, pintu masuk berupa tangga yang ditakik dan ada perapian dengan rak diatasnya untuk kayu bakar dan penyimpanan (Fitri, 2006). Wujud artefak fisik tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi masyrakat setempat pada saat itu. Contohnya pada kampung Hologolik di Wamena iklimnya yang sangat dingin dimalam mengakibatkan masyarakat membentuk pola pemukiman secara mengelompok, rumah dengan atap berbentuk kerucut (miring) yang ditutupi dengan alang-alang tebal tanpa jendela dan hanya memiliki satu pintu untuk keluar masuk (Lokbere, Sarwadana, & Astiningsih, 2012). Keragaman arsitektur ini tidak hanya nampak pada tampilan fasadenya saja, tetapi juga pada pola permukiman dan tatanan ruang. Tipikal pola permukiman di Indonesia pada dasarnya menggambarkan respon terhadap kondisi alam, tatanan sosial-budaya, sistem 3 Keragaman Lokalitas Arsitektur, 2013

kekeluargaan, sistem bercocok tanam, dan kosmologi maupun mitologi masyarakat yang mendiaminya. Salah-satu atau kombinasi dari beberapa faktor tersebut lah yang membentuk pola permukiman dan tatanan ruang pada masing-masing rumah tradisional tersebut.

Rumah Taneyan

C: Alang B: Parampa

Rumah
Gambar 2. Pola Permukiman Madura Sumber: ejournal.uin-malang.ac.id

A: Tongkonan
Gambar 3. Pola Permukiman Tongkonan Sumber: ejournal-s1.undip.ac.id

Pada permukiman Madura dikenal dengan konsep taneyan lanjhang berupa halaman panjang yang berfungsi sebagai public space. Pola permukiman taneyan lanjhang merupakan ciri khas arsitektural Madura yang memiliki tatanan berbeda dengan nilai adat tradisi Madura yang kental mengusung nilai dan sistem kekerabatan yang erat (Antariksa, 2009). Pola permukiman taneyan lanjhang, merupakan pola yang terbentuk karena adanya tradisi bermukim masyarakat tradisional etnis Madura yang dipengaruhi oleh garis matrilineal dengan membentuk satu pola permukiman yang disebut sebagai taneyan lanjhang (Dewi, 2008). Komunitas yang berbeda memiliki ciri permukiman yang berbeda (Fathony, Mulyadi, & Sukowiyono, 2012). Komunitas dalam bentuk etnik yang berbeda secara fisik menghasilkan pola permukimannya berbeda, tetapi secara alur atau konsep polanya bisa sama. Seperti pada gambar 2 (pola permukiman Madura) dan gambar 3 (Pola permukiman Tongkonan), pada pola permukiman Madura menggunakan pola linier konsentris, pada rumah mengikuti panjang sisi taneyan sejarah sejajar dan menggunakan taneyan sebagai pusat arah orientasinya. Begitupun yang terjadi pada pola permukiman Tongkonan, Pola tongkonan bersumber pada ajaran Aluk Todolo, polanya mengikuti empat penjuru angin, berbanjar dari timur ke barat, mengikuti orientasi pola matallo-matampu (timur-barat) dengan pengaturan tongkonan dan alang saling berhadapan membentuk ruang yaitu parampa (Mithen & Onesimus, 2003). Pola permukiman Tongkonan Toraja pada gambar 3 juga menggunakan pola linier konsentris, dengan tongkonan dan alang yang saling berhadapan. Tongkonan yang berupa hunian menghadap keutara dan alang sebagai lumbung menghadap keselatan, keduanya berbanjar dari timur ke barat dengan parampa berupa public space sebagai pusat orientasi. Selain itu terdapat juga pola perkampungan dengan sistem cluster/tertutup dan juga menyebar dengan hanya memiliki satu gerbang sebagai akses keluar masuk ke dalam adat. Contohnya pada pola kampung adat di Sumba dan Pola permukiman rumah Honai di Papua. Beberapa pola permukiman tradisional, secara konsep memiliki persamaan pola, tetapi yang membentuk pola tersebut dapat beragam, ada yang dari unsur kosmolgi dan mitologi, dari sistem kekerabatan, maupun dari pengaruh kondisi lingkungan. Dalam aristektur tradisional juga memiliki pola tatanan ruang yang beragam. Pembagian ruang dapat dikategorikan secara vertikal dan horizontal, pembagian ruang ini sebagai respon terhadap sistem sosial kekerabatan, kosmologi dan kondisi alam sekitar (Fitri, 2006). Rumah-rumah dengan tipe rumah panggung secara umum menggunakan pola ruang vertikal dan horizontal. Dengan konsep secara horizontal terdapat bagian dari rumah 4 Keragaman Lokalitas Arsitektur, 2013

yang dianggap paling sakral atau suci adalah bagian yang paling dalam atau belakang. Sedangkan secara vertikal, pembagiann ruang terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah, dengan bagian atas sebagai ruang yang paling sakral. Berikut ini merupakan contoh rumah tradisional dengan pola vertikalnya terdiri dari tiga bagian utama bawah, tengah, atas. Bagian atas digunakan sebagai ruang yang paling sakral sehingga barang-barang yang dianggap keramat disimpan di dalam ruang atas ini. Ruang tengah, adalah untuk kehidupan manusia dan ruang bawah adalah untuk binatang ternak atau gudang.

Atas
Atas Tengah Bawah Bawah
Gambar 4. Rumah Bugis Sumber: Hasan & Prabowo, 2002 Gambar 5. Rumah Tongkonan Sumber: Said, 2004:68

Atas Tengah Bawah


Gambar 6. Rumah Batak Sumber: ddpangaribuan.blogspot.com

Tengah

Dalam hal pola ruang horizontal juga memiliki pola tersendiri, contohnya didalam rumah Joglo Jawa, pola tata ruang yang terbentuk tergantung oleh tingkatan strata sosialnya, gambar 7 dan gambar 8 menunjukan perbedaan tata ruang berdasarkan tingkatan starata tersebut. Masing-masing ruangan memiliki fungsi, makna dan filosofis sendiri-sendiri.

Gambar 7. Pola Tatanan Ruang Rumah Bangsawan pada Rumah Joglo Sumber: www.hdesignideas.com

Gambar 8. Pola Tatanan Ruang Rumah Rakyat Biasa pada Rumah Joglo Sumber: xdesignmw.wordpress.com

Secara tradisi dan konsep rumah tradisional di Indonesia, dari segi pola permukiman dan tatanan ruang dalam, masing-masing memiliki filosofis secara kosmologi maupun mitologi yang membentuk pola tersebut. Secara umum ada yang memiliki kesamaan maupun keragaman, dalam artian konsep yang sama namun dalam perwujudan yang berbeda. Jika ditinjau dari segi penggunaan material, rumah tradisional di Indonesia kesemuanya menggunakan material dari alam. 2.2 Arsitektur di Masa Hindu-Budha dan Islam Keragaman lokalitas arsitektur di Indonesia juga bersumber dari masa pengaruh keagamaan yang kemudian mempengaruhi lokalitas arsitektur dibeberapa wilayah di Indonesia. Dimulai dari arsitektur di masa Hindu Budha yang dikenal dengan sebutan arsitektur klasik dengan arsitektur candinya. Arsitektur ini berkembang pada abad ke-8 5 Keragaman Lokalitas Arsitektur, 2013

hingga abad ke-10 pada masa kerajaan Hindu Budha di dua dinasti yang berkuasa yakni dinasti Sanjaya dan Syalendra (Fitri, 2006). Dimasa itulah dibangun arsitektur candi yang penyebarannya terdapat di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Lombok dan Bali. Di Indonesia sendiri terdapat dua candi yang besar dan sangat terkenal yakni candi Borobudur dan Candi Prambanan di Jawa Tengah. Di Jawa Timur juga tersebar beberapa arsitektur candi masa kerajaan yang ada didaerah ini. Salah satu yang menjadi ciri khas arsitektur ini adalah gerbang pintu masuk atau gapura terbelah yang terbuat dari susunan batu-bata. Gerbang ini kemudian banyak diadopsi untuk dijadikan ciri penanda arsitektur, terlepas dari penilaian terhadap wujud arsitekturnya, arsitektur ini juga menjadi wujud keragaman lokal dalam bentuk kedaerahan.

Gambar 9. Gapura Candi Wringin Lawang Sumber: id.wikipedia.org

Gambar 10. Gerbang Kota Malang di Lawang Sumber: id.wikipedia.org

Gambar 11. Gerbang Universitas Brawijaya Sumber: www.flickr.com

Setelah budaya Hindu Budha telah banyak mempengaruhi kebudayaan Indonesia, selanjutnya masuk pengaruh Islam datang. Diawali dengan masuknya Islam kurang lebih pada abad ke-13 dengan tujuan perdagangan diwilayah nusantara. Dan pada akhirnya berdirilah kerajaan Islam pertama, yaitu kerajaan Samudra Pasai di Aceh. Selanjutnya juga berkembang pesat di tanah Jawa yang dulunya kuat dengan pengaruh Hindu-Budha, akhirnya tergantikan dengan budaya Islam. Hal tersebut terwujud dalam bentuk arsitekturalnya, khususnya pada bangunan masjid yang ada pada zaman itu.

Gambar 12. Masjid Kudus Sumber: arsitektur.blog.gunadarma.ac.id

Gambar 13. Masjid Agung Demak Sumber: www.flickr.com

Selanjutnya kerajaan-kerajaan Islam melanjutkan budaya lama yang mereka adopsi secara jenius yang akhirnya menghasilkan ikon penting seperti masjid di Demak merupakan masjid tertua di Indonesia, dan Masjid Kudus yang masih menggunakan unsur arsitektur candi. Penyebaran Islam secara bertahap di kawasan Indonesia memperkenalkan serangkaian penting pengaruh arsitektur. Kedatangan Islam tidak mengarah pada pengenalan bangunan yang sama sekali baru, melainkan melihat dan menyesuaikan bentuk-bentuk arsitektur yang ada untuk diciptakan kembali. Arsitektur Islam ini hingga sekarang terus berkembang secara beragam melalui tampilan dari arsitektur masjidnya. 6 Keragaman Lokalitas Arsitektur, 2013

2.3 Arsitektur Kolonial awal Modernitas Kolonialisasi di masa penjajahan memicu terbentuknya beberapa kota-kota kolonial di Indonesia seperti di Jakarta, Semarang, Surabaya dan Malang. Secara DNA arsitektur kolonial pada dasarnya bukan merupakan arsitektur lokal yang ada di Indonesia, melainkan arsitektur lokal eropa yang dibawah masuk ke Indonesia oleh penjajah. Yang kemudian secara periodesasi mengalami proses alkulturasi berdasarkan pengaruh-pengaruh yang ada, sehingga memunculkan beberapa jenis style. Dibeberapa kota yang mendapat pengaruh kolonial masih terdapat bangunanbangunan kolonial yang masih dipertahankan, namun ada juga yang direnovasi maupun wujudnya telah hilang sama sekali. Berikut ini merupakan beberapa kota yang masih terlihat arsitektur kolonial pada tampilan kotanya.

Gambar 14. Kawasan Kota Lama Semarang, Jl. Letjen Soeprapto Sumber: republika.co.id

Gambar 15. Kawasan Jembatan Merah Surabaya Sumber: travel.detik.com

Gambar 16. Kawasan Kota Lama Jakarta Sumber: mardianaarchi.blogspot.com

Gambar 17. Gedung Menara Kembar Malang, (Woningen en Wingkels) 1936 Sumber: picasaweb.google.com

Gambar 18. Gedung Menara Kembar Malang, (Woningen en Wingkels) 2010 Sumber: www.geolocation.ws

Kelima gambar diatas merupakan contoh keragaman dari arsitektur kolonial yang masih bertahan hingga sekarang, meskipun telah mengalami perubahan dari bentuk aslinya akibat pengaruh dari perkembangan dan perubahan zaman. Contoh perubahan tersebut terlihat jelas pada gambar 17 merupakan kondisi asli dari gedung menara kembar yang masih terlihat jelas dengan gaya international stylenya di tahun 1936, dan perbedaannya terlihat jelas pada gambar 18 yang seakan menghilangkan identitas dari kedua sisi gedung ini. Arsitektur kolonial ini mampu melokal diantara arsitektur lokal Indonesia yang lainnya, dengan melakukan proses alkulturasi budaya arsitektur pada waktu itu. Sehingga style arsitektur kolonial yang berkembang pada saat itu sangat beragam dan diantaranya masih bertahan hingga saat ini, dan menjadi salah satu ciri arsitektur kota yang masih bertahan diantara beragamnya jenis arsitektur yang lainnnya. 7 Keragaman Lokalitas Arsitektur, 2013

Berdasarkan sejarah arsitektur Indonesia arsitektur kolonial ini dapat dikatakan cikal bakal munculnya langgam baru yaitu arsitektur modern menurut priodesisasi waktu, yang merupakan efek dari berkembangnya teknologi dan perngaruh global. Arsitektur modern ini sangat terlihat jelas di ibu kota Jakarta pada masa pasca kemerdekaan yang mendapat perhatian khusus dari segi pembangunan.

Gambar 19. Bundaran HI Jakarta, 4 Mei 1974 Sumber : palingseru.com

Gambar 20. Bundaran HI Jakarta, 1989 Sumber : viruspintar.blogspot.com

Gambar 21. Bundaran HI Jakarta, 16 september 2008 Sumber : viruspintar.blogspot.com

Gambar 19, 20, dan 21 merupakan salah satu perkembangan kawasan bundaran Hotel Indonesia di Jakarta dari masa ke masa. Setelah masa kolonial Belanda, kota Jakarta dilanda modernitas dalam arsitektur. Pengaruh-pengaruh arsitektur modern maupun postmodern sangat besar bahkan terus berkembang hingga sekarang dengan tampilan arsitektur yang lebih beragam. Unsur-unsur arsitektur lokal tidak tampak dikawasan ini, maupun secara umum di kota Jakarta, justru arsitektur modern inilah yang menjadi salah satu ciri khas lokalitas arsitektur yang ada di Jakarta. Arsitektur modern ini mampu melokal dan eksis di Jakarta yang menjadikan salah satu keragaman arsitektur dalam lingkup kota di Indonesia, hal tersebut diluar dari perspektif arsitektur lokal asli sebagai jati diri kota. 2.4 Krisis Identitas Keragaman Lokal Arsitektur Kota Kota Jakarta mendapat perhatian khusus dimasa pemerintahan Presiden Sukarno yang kebetulan seorang arsitek serta pecinta seni. Namun, sepeninggal Bung Karno, identitas kota tak lagi mendapat perhatian, wajah kota-kota di Indonesia tumbuh secara alamiah, sesuai selera masyarakat serta pengelola kota (Priatmodjo, 2008). Selain dari kurangnya perhatian dari pemerintah, juga dengan semakin banyaknya arsitek yang dihasilkan oleh perguruan tinggi , memunculkan inovasi baru dalam mendesain akibat dari tidak selarasnya visi dan misi diantara perguruan tinggi arsitektur dalam mewujudkan identitas kota. Terus berganti dan berkembangnya arsitektur di Indonesia juga mempengaruhi wajah keberagaman kota. Arsitektur modern kembali menguasai perkembangan kota-kota di Indonesia kita pada bangunan-bangunan gedung. Rumahrumah tinggal pun terkena imbas dari trend langgam Minimalis yang justru terlihat Maksimalis dengan ornament tempelan yang tidak jelas fungsinya serta warna-warni yang sangat kontras. Wajah kota teridentifikasi berubah seiring dengan trend yang sedang berkembang seperti layaknya trend di dunia fashion. Perkembangan yang juga mendominasi wajah kota adalah bangunan ruko (rumahtoko) yang menjamur diseluruh di kota-kota di Indonesia. Bangunan berderet dan bersusun dengan langgam arsitektur minimalis yang relatif sama, banyak menampilkan paduan warna-warni mencolok serta ornament yang terlihat maksimalis. Secara tidak langsung hal tersebut memunculkan image arsitektur kota di Indonesia adalah arsitektur ruko. Tidak terkecuali di kota Malang yang terkenal dengan sebutan Malang Kota Bunga belakangan ini terkenal dengan sebutan Malang Kota Ruko.

8 Keragaman Lokalitas Arsitektur, 2013

Gambar 22. Ruko di Malang Sumber : wikimapia.org

Gambar 23. Rumah sakit di kota Makale Sumber : Priatmodjo, 2008

Gambar 24. Masjid Minang Sumber : www.skyscrapercity.com

Dengan menjamurnya perkembangan ruko di kota-kota di Indonesia mengakibatkan identitas kota mengalami krisis nilai kelokalan, karena tidak ada ciri khusus yang membedakan satu kota dengan kota lainnya. Semuanya mengalami penyeragaman, padahal potensi dari arsitektur lokal yang ada dimasing-masing kota dapat dijadikan sebagai ciri khas dari identitas tesebut. Di beberapa daerah ada upaya untuk menampilkan ciri kelokalannya berupa elemen arsitektur tradisional setempat, namun banyak yang terjebak pada pemasangan ornamentasi yang hanya sekedar ditempelkan saja, sehingga terkesan dipaksakan seperti pada gambar 23. Lain halnya pada gambar 24, arsiteknya mencoba untuk menampilkan ciri khas kelokalannya yakni rumah minang pada tampilan arsitektur masjid Minangkabau ini, dengan cara melakukan transformasi bentuk yang disesuaikan dengan kondisi dan teknologi sekarang. Tidak mencoba untuk terjebak kedalam masa lalu, tapi wajah dari lokalitas arsitektur setempat yang di bawah kedalam masa sekarang. Contoh seperti inilah yang seharusnya diterapkan oleh tiap-tiap kota untuk menunjukkan ciri khasnya masing-masing melalui lokalitas arsitekturnya agar keragaman lokalitas arsitektur di Indonesia tidak mengalami krisis identitas sebagai citra kota. Tentunya bukan hanya dalam bentuk tempelan ornamentasi saja tetapi perlu direncanakan dengan baik. Untuk mencapai itu diperlukan partisipasi dari berbagai pihak untuk menentukan visi dan misi wajah kota agar kota-kota di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang unik dan berbeda dari yang lainnya. 2.6 Kesimpulan Keragaman lokalitas arsitektur yang mendiami kota-kota di Indonesia sangatlah beragam, baik itu datangnya dari arsitektur lokal asli maupun arsitektur lokal dari luar yang mampu melokal diwilayah Indonesia dengan segala nilai positif dan negatifnya. Terlepas dari kontoroversi arsitektur mana yang lebih baik, kesemuanya telah menjadi bagian dari keragaman lokal yang mewarnai kota-kota yang ada di Indonesia. Kekayaan arsitektur tradisional yang beragam ditiap daerah di Indonesia yang diantaranya juga memiliki kesamaan, merupakan potensi besar dalam membentuk identitas kota tentunya dengan perencanaan yang matang, diperlukan peran dari pemerintah, akademisi, praktisi, dan juga masyarakat. Agar arsitektur kota di Indonesia bukan terbentuk mengikuti trend khusus yang sedang berkembang. Tapi dengan menunjukkan jati diri keragaman lokalitas yang dimiliki oleh tiap-tiap daerah, dengan catatan lokalitas tersebut bukan hanya sekedar tempelannya saja, tetapi mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang berasal dari masa lalu untuk diterapkan dimasa sekarang sesuai kondisi dan kebutuhan sekarang. Salah satu contoh kota yang memiliki ciri khas kelokalannya adalah Bali karena mampu menunjukkan jati diri identitas kotanya . Dengan keragaman lokalitas masingmasing kota, Indonesia akan mendapatkan citra ke-Indonesiaan. Dan meskipun beragam dalam arsitekturnya tetapi tetap memiliki kesatuan karena Indonesia adalah negara Bhineka Tunggal Ika.

9 Keragaman Lokalitas Arsitektur, 2013

REFERENSI
Antariksa, 2009. Architecture Articles : Kearifan Lokal dalam Arsitektur Perkotaan dan Lingkungan Binaan. http://antariksaarticle.blogspot.com. (Diakses 29 September 2013). Dewi, 2008.Taneyan Lanjhang: Pola Perumahan Tradisional Etnis Madura, Suatu Konsep Lokal Pelestarian Hutan. www.kabarindonesia.com. (Diakses 13 Oktober 2013) Fitri, Isnen. 2006. Kopendium Sejarah Arsitektur Indonesia dan Asia: India, Cina dan Jepang.ELearning/Sejarah%20Dan%20Teori%20Arsitektur%203/Textbook/coverbukuajar.ht ml. Textbook. Fathony, Mulyadi, & Sukowiyono, 2012. KONSEP SPASIAL PERMUKIMAN SUKU MADURA DI GUNUNG BURING MALANG, Studi Kasus Desa Ngingit. TEMU ILMIAH IPLBI 2012 Hasan & Prabowo, 2002. Perubahan Bentuk dan Fungsi Arsitektur Tradisional Bugis di Kawasan Pesisir Kamal Muara, Jakarta Utara (Form and Function Change of the Buginese Traditional Architecture At Kamal Muara Coastal Area, North Jakarta). International Symposium Building Research and the Sustainability of the Built Environment in the Tropics pada tanggal 14-15-16 Oktober 2002. Lokbere, Sarwadana, & Astiningsih, 2012. Identifikasi Pola Pemukiman Tradisional di Kampung Hologolik Distrik Asotipo Wamena Kabupaten Jayawijaya Propinsi Papua. EJurnal Agroekoteknologi Tropika ISSN: 2301-6515 Vol. 1, No. 1, Juli 2012 Mithen & Onesimus, 2003. ARSITEKTUR TRADISIONAL TORAJA MERUPAKAN EKSPRESI DARI ALUK TODOLO. Jurnal Penelitian Enjiniring, Vol. 9, No. 3, SeptemberDesember, 2003:300-308 Nas, J.M. Peter & Vletter, de Martien, 2009. Masa Lalu dalam Masa Kini Arsitektur di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Priatmodjo, 2008. Arsitektur Tradisional dan Identitas Kota. Universitas Tarumanagara, Jakarta Rapoport, Amos, 1969. House Form and Culture. Prentice Hall Inc, Engelwood Cliftts. New Jersey Said, Abdul Azis. 2004. Toraja Simbolisme Unsur Visual Rumah Tradisional. Yogyakarta: Ombak.

10 Keragaman Lokalitas Arsitektur, 2013