Anda di halaman 1dari 5

RESUME MUTASI

Disusun untuk memenuhi tugas genetika yang dibimbing oleh Prof Dr Duran Corebima

Disusun oleh Offering H Anisa fitria 110342422031 Eky Ariesma Tanjung 110342422018

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI

MUTASI A. Pengertian proses yang dapat menyebabkan suatu perubahan pada suatu gen (Ayala dkk, 1989). perubahan materi genetik yang dapat diwariskan dan tiba-tiba (Gardner, dkk, 1991). sesuatu perubahan materi genetik yang dapat diwariskan dan dapat dideteksi yang bukan disebabkan oleh rekombinasi genetik (Russel, 1992).

B. Penyebab Mutasi Keadaan atau Faktor-faktor lingkungan. Hal ini dipandang sebagai penyebab mutasi spontan maupun mutasi yang tereduksi. Penyebab mutasi berupa keadaan atau faktor dalam lingkungan dapat dipilih menjadi yang bersifat fisik, kimiawi, maupun biologis. Masing-masing penyebab mutasi akan diuji lebih lanjut. Faktor Internal Materi Genetik Hal ini disebabkan terjadinya mutasi spontan antara kesalahan pada replikasi DNA, misalnya yang terkait dengan tautomerisme (sebagai akibat perubahan posisi suatu proton yang merubah suatu sifat kimia molekul). Keadaan atau faktor internal materi genetik lain yang dapat pula menjadi sebab terjadinya mutasi spontan adalah " penggelembungan " unting disaat replikasi, transportasi element transposable, dan efek gen mutator. Penyebab mutasi dalam lingkungan yang bersifat fisik Radiasi sebagai penyebab mutasi dibedakan menjadi radiasi pengion dan radiasi bukan pengion (Gardner, dkk, 1991). Suhu sebagai hasil mutasi sudah dilaporkan, misalnya pada beberapa ikan yang menginduksi terjadinya polidiploi. Selain radiasi dan suhu ternyata perlakuan dengan tekanan hidrostatik juga dapat menginduksi terjadinya mutasi. Penyebab mutasi dalam lingkungan yang bersifat kimiawi Hal ini biasa disebut dengan mutagen kimiawi, mutagen-mutagen kimiawi dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu analog basa, agen pengubah basa, dan agen penyela. Analog Basa, senyawa-senyawa yang tergolong analog basa adalah yang memiliki struktur molekul sangat mirip dengan yang dimiliki basa yang lazimnya terdapat pada DNA. Agen Pengubah Basa, senyawa-senyawa yang tergolong adalah mutagen yang secara langsung mengubah struktur maupun sifat kimia dari basa, yang termasuk kelompok ini adalah agen daeminasi, agen hidroksilasi, dan agen alkilasi. Agen Interkalasi, contoh agen ini adalah proplavin, arcidine, ethidium bromide, dioxin, dan ICR-70 (Russel, 1992). Penyebab mutasi dalam lingkungan yang bersifat biologis Dikatakan bahwa mutagenesis fag dapat terjadi karena kerusakan DNA akibat pemutusan dan delesi, seperti pada herpes simplex, SV40, rubelladan.

C. Macam-macam Mutasi dan Mutasi yang Acak 1. Macam-macam mutasi Mutasi dapat dipilah - pilah menjadi macam macam atau tipe mutasi atas dasar berbagai sudut pandang, yaitu : macam sel yang mengalami mutasi lingkup kejadian (gen atau ktomosom) jelas diketahui atau tidak jelas diketahui sebab mutasi Mutasi somatik dan Mutasi Germinal Mutasi germinal disebut juga mutasi garis benih atau germ line mutation (Russel, 1992), mutasi somatik adalah mutasi yang terjadi pada sel sel somatik sedangkan mutasi germinal terjadi pada sel sel germ (Gardner, dkk, 1991 ; Russel, 1992 ; Klug dan Cummings, 1994). Akibat mutasi somatik dan germinal dapat diwariskan melalui reproduksi aseksual maupun seksual, mutasi somatik pada heman (termasuk manusia) hingga saat ini memang tifak diwariskan, sedangkan pada tumbuhan (dikotil) akibat mutasi somatik dapat diwariskan melalui reproduksi aseksual maupun seksual. Contoh mutasi germinal adalah mutasi germinal domba di dover (Massachusetts), muatsi ini telah memunculkan galur domba mutan berkaki pendek yang disebut Ancon breed. Macam-mutasi gen yang spesifik itu adalah : Mutasi pergantian (subtitusi) pasangan basa adalah perubahan yang terjadi pada suatu gen berupa pergantian satu pasang basa oleh pasangan basa lainnya, misal pasangan AT diganti oleh pasangan GS. Mutasi Transisi adalah suatu tipe dari mutasi pergantian basa. Pada mutasi transisi terjadi suatu pergantian basa purin dengan basa purin lainnya atau pergantian basa pirimidin dengan basa pirimidin lainnya, misalnya mutasi transisi adalah AT menjadi GS, GS menjadi AT, TA menjadi SG dan sebaliknya. Mutasi transversi adalah tipe lain dari mutasi pergantian basa. Pada mutasi transversi terjadi suatu perantian basa purin dengan basa pirimidin, atau pergantian suatu basa pirimidin dengan basa purin, misalnya AT menjadi TA, GS menjadi SG, AT menjadi SG, dan SG menjadi TA. Mutasi misens adalah mutasi yang terjadi karena perubahan pasangan basa (dalam gen) yang mengakibatkan menjadi perubahan satu kode genetika, sehingga asam amino yang terkait (pada polipeptida) berubah, misalnya GS menjadi AT. Mutasi nonsense adalah suatu pergantian pasangan basa ang berakibat adanya perubahan suatu kode genetika pengkode asam amino menjadi genetika pengkode terminasi, misalnya UGG menjadi UAG atau USA menjadi UAA. Mutasi netral adalah pergantian suatu pasangan basa yang terkait terjadinya perubahan suatu kode genetika, yang juga menimbulkan perubahan asam amino terkait, tetapi tidak sampai mengakibatkan perubahan fungsi protein, misalnnya TSS menjadi TTS. Mutasi diam adalah suatu tipe mutasi netral yang khusus. Paa mutasi diam terjadi pergantian suatu pasangan basa paa gen yang menimbulkan perubahan suatu kode genetika tetapi tidak mengakibatkan perubahan atau pergantian asam amino yang dikode, misalnya TTS menjadi TST, AGG menjadi AGA.

Mutasi perubahan rangka terjadi karena adisi atau delesi satu atau lebih dari satu pasangan basa dalam satu gen. Adesi dan delesi semacam itu merubah kerangka percobaan seluruh fungsi triplet pasangan basa pada gen dalam arah distal pada tapak mutasi. Mutasi titik secara umum dapat dipilah menjadi dua macam yaitu mutasi kedepan dn mutasi balik.

Mutasi Kromosom Mutasi yang terjadi di lingkup kromosom, mutasi kromosom disebut juga sebagai aberasi kromosom. Mutasi kromosom dipilah menjadi dua macam, yaitu berupa perubahan struktur kromosom dan perubahan jumblah kromosom (Ayala, dkk, 1984). Mutasi Spontan dan Mutasi Terinduksi Mutasi acak sering dinyatakan sebagai kejadian yang bersifat kebetulan, tidak terarah, serta acak. Sekalipun kejadian mutasi seperti ini, namun sekurang kurangnya terdapat tiga makna betbeda : 1. Mutasi adalah kejadian kebetulan karena merupaka pengecualian yang jarang tethadap keteraturan proses replikasi DNA. 2. Mutasi adalah kejadian kebetulan atau acak, karena tidak ada cara untuk mengetahui apakah suatu gen tertentu akan bermutasi pada satu sel tertentu atau satu generasi tertentu. 3. Mutasi adalah kejadian kebetulan, tidak terarah atau acak karena tidak diarahkan untuk kepentingan adaptasi. Laju Mutasi dan Deteksi Mutasi 1. Laju Mutasi adalah salah satu parameter yang digunakan untuk mengukur suatu kejadian mutasi, laju mutasi menggambarkan peluang sesuatu macam mutasi tertentu sebagai suatu fungsi dari waktu. 2. Frekuensi mutasi adalah jumlah kejadian suatu macam mutasi tertentu pada suatu macam populasi sel dan populasi individu. Kebanyakan penelitian tentang mutasi pada kelompok - kelompok mahkluk hidup yang lebih tinggi sudah tidak lagi berhubungan dengan mutasi gen tunggal karena sangat jarang, yang dilakukan adalah pengkajian seluruh kromosom, misalnya yang diperkenalkan oleh H.J Muller sebagai teknik Muller-s X chromosomes (pada Drosophila). Teknik itu bahkan bermanfaat untuk pengukuran laju mutasi maupun deteksi penyebab mutasi. Deteksi mutasi pada bakteri dan jamur monoploid sangat efisien yang didasarkan pada sistem seleksi yang dari sel mutan dan sel yang bukan mutan.

PERTANYAAN 1. Mengapa penggelembungan unting juga dapat menyebabkan terjadinya mutasi spontan, jelaskan mekanisme terjadinya adisi dan delesi : Jawab : Penggelembungan unting bila terjadi pada unting lama (template) akan menyebabkan delesi pada unting unting yang baru. Sementara jika penggelembungan unting terjadi pada unting yang baru maka unting baru tersebut akan mengalami adisi. Hal ini dapat terjadi karena jika unting lama mengalami penggelembungan, urutan basa nitrogen yang akan melakukan replikasi akan berkurang sesuai dengan jumlah basa nitrogen yang mengalami penggelembungan. Akibatnya, unting baru yang terbentuk akan mengalami delesi. Sebaliknya, jika yang mengalami penggelembungen unting baru unting lama akan tetap melakukan replikasi untuk mengganti basa nitrogen yang menggelembung akibatnya unting baru akan mengalami penambahan basa nitrogen .