Anda di halaman 1dari 21

TRANSISI POLITIK MENUJU DEMOKRASI

1. Dari otoritarianisme ke demokrasi: kemunculan Negara-negara demokasi baru Semenjak tahun 1970-an, telah terdapat gelombang pasang yang nyata dari demokrasi-demokrasi baru yang muncul dari Negara-negara yang masa lalunya bersifat otoriter atau totaliter. Dimulai dari bagian selatan eropa, kemudian ke bagian timur eropa, dan afrika selatan serta, beberapa pemimpin demokrasi baru telah memandang masa depan mereka dengan penuh pengharapan. Menurut Samuel P. Hunington, dalam dua (hingga tiga) decade terakhir ini terjadi revolusi politik yang luar biasa diamana transisi dari otoritarianisme menuju demokrasi telah terrjadi di lebih dari 40 Negara. Rezim otoritarian sebelumnya sebelumnya berubah secara significant, termasuk pemerintahan militer di Amerika Latin dan seabagainya ; rezim satu partai di Negara komunis, juga Taiwan; ditaktor personal di Spanyol, Filipina, Rumania dan dimana saja serta Oligarki Rasial di Afrika Selatan. Dalam pandangan Antony Giddens, dalam semua upaya pembaharuan politik, pertanyaan mengenmai siapa subyek atau pelaku politik muncul dengan sendirinya. Lanjut Giddens tentang berakhirnya politik, dan Negara yang dilanda oleh pasar global, menjadi begitu menonjol dalam literature akhir-akhir ini, sehingga apa yang dicapai oleh pemerintah dalam dunia kontemporer saat ini layak diulang kembali. Dala perpektif ini keberadaan pemerintah adalah untuk: 1. Menyediakan sarana untuk perwakilan kepentingan-kepentingan yang beragam; 2. Menawarkan rekonsiliasi kepentingan-kepentingan yang saling bersaing ini; 3. Menciptakan dan melindungi ruang public yang terbuka.; 4. Menyediakan beragam hal untuk memenuhi kebutuhan warga Negara; 5. Mengatur pasar menurut kepentingan public; 6. Menjaga keamanan social melalui kontrol sarana kekerasan dan melalui penetapan kebijakan.

7. Mendukung perkembangan sumber daya manusia melalui peran utamanya dalam system pendidikan; 8. Menopang system hokum yang efekif; 9. Memainkan peran ekonimis secara langsung. 10. Membudayakan masyarakat pemerintah. 11. Mendorong aliansi regional dan transnasional. John Naisbitt memprediksi 8 (delapan) kecenderungan besar yang membentuk kembali perekonomian, pemerintahan dan kebudayaan di Asia yang diantaranya yaitu: 1. From Nation-states to networks; 2. From traditions to options; 3. From government-controlled to market-driven; 4. From export-led to consumer-driven; 5. From farm to supercities; 6. From labor-intensive industry to high technology; 7. From dominance to the emergence of women; 8. From est to west. Dalam pandangan Giubernau, bangsa tanpa Negara akan menghadapi tiga dilemma sebagai berikut: 1. How to make deal with internal diversity. 2. How to avoid violence as strategy to achieve futher autonomy recognition. 3. How to avoid the creation of an expensive bureaucratic machine adding a futher layer of government to an already saturated political structure. Berbagai indicator dan permasalahan yang diuraikan dimuka merupakan factor-faktor penting untuk dicermati implementasinya dalam masa transisi politik.

2. Reposisi hubungan Sipil Militer Menurut Huntington, sesungguhnya semua rezim otoritarian, apapun tipenya mempunyai kesaman dalam satu hal; hubungan sipil militer mereka tidak begitu diperhatikan. Hampir semua tidak memiliki kontrol sipil yang istilah ini mengandung hal-hal sebagai berikut : 1. Profesionalisme militer yang tinggi dari pejabat militer akan batas-batas profesionalisme yang menjadi bidang mereka 2. Subordinasi yang efektif dari militer kepada pemimpin politik yang membuat keputusan pokok tentang kebijakan luar negeri dan militer. 3. Pengakuan dan persetujuan dari pihak pemimpin politik tersebut atas kewenangan professional dan otonomi bagi militer dan akibatnya. 4. Meminimalisai intervensi militer dalam politik dan meminimalisasi intervensi politik dalam militer. Dalam pemerintahan satu partai, hubungan sipil-militer tidak begitu berantakan, tetapi militer dipandang sabagai instrumen dari partai. Analisis hubungan sipil-militer muthiah alagappa mengemukakan lima proposisi mengenai hal ini, yaitu : 1. Altough civil-militer relations is still a contested arena and in the midst of significant change a number of countries. 2. Notwithstanding this trend, advance effective civilian control over military in the post authorian states is likely to be incremental and gradual subject to protracted struggle and negotiation, and at times setback. 3. Institutional analysis has significant value in explaining Asia civil-military relations, but it also suffers several limitations. 4. The key to understanding civil-military in Asia as elsewhere is the significance and role in state and nation building and in govermance, especially the exercise of political authority.

5. Our final prespective proposition is grounded in the third and pourth propositions. Dalam sitem monarki tradisional, militer hanyalah berperan sebagai semacam penjaga malam atau dalam system pemerintahan modern disebut sebagai fungsi pertahanan kemanan. Dalam Negara-negara maju seperti di amerika Utara dan Eropa Barat, pemetaan kedua fungsi militer dan sipil tersebut sudah bisa berjalan seimbang. Dalam konteks transisi menuju demokrasi di Indonesia, diperlukan Reposisi hubungan sipil militer dalam arti yang menyeluruh dan tidak hanya terbatas pada bidang politik saja. 3. Perumusan Kebijakan baru untuk menyelesaikan Hubungan dengan rezim sebelumnya. Rezim-rezim demokrasi baru telah mencari suatu kebijakan untuk menjadikan mereka sebagi suatu Negara bersih yakni pencarian untuk mengubur masa lalunya dan untuk mendahulukan segala bentuk pertanggungjawaban terhadap masalah tersebut. Menurut Bronkhorst ada berbagai unsure dalam kebijakan-kebijakan adan tindakan-tindakannyayang mencerminkan pemerintahan baru dalam merekonsiliasi dengan masa lampau yaitu : I. II. III. IV. Berkaitan dengan masalah pemberian perlindungan yang besar bagi populasi penduduk. Masyarakat baru perlu tatanan social baru. Baerkaitan dengan penanganan masa lampau. Penegasan.

4. Demiliterisme hanya berkaitan dengan Militer H a r o l d C r o u c h , s e o r a n g p e n g a m a t m i l i t e r d a r i A u s t r a l i a , m e n y a t a k a n bahwa kondisi baru yang mengarah ke arah demokratisasi di Indonesia telahmemaksa TNI untuk mengubah doktrin fundamentalnya, termasuk Dwifungsi ,selama ini dijadikan landasan untuk

melegitimasikan kekuasaan politiknya.K e l o m p o k r e f o r m i s T N I b e r p e n d a p a t b a h w a T N I t i d a k m e m l i k i p i l i h a n l a i n kecuali menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. Berdasarkan hal itu,m e r e k a k e m u d i a n m e m f o r m u l a s i k a n a p a y a n g m e r e k a s e b u t s e b a g a i Paradigma Baru sebagai pedoman bagi aktivitas-aktivitas politik TNI.. Menurut Harold Crouch, ada 5 (lima) langkah yang perlu ditempuh untuk mengubah paradigma TNIPOLRI tersebut, yaitu : Mengurangi peran TNI-POLRI di dalam pemerintahan; Penghapusan kekaryaan; Netralisasi politik; Pemisahan POLRI dari TNI; dan Orientasi pertahanan.

Dengan adanya langkah yang ditempuh oleh TNI-POLRI di Indonesia tersebut, tampak bahwa kepemimpinan TNI-POLRI yang baru telah menunjukkan dukungan terhadap demokratisasi dan secara berkala merujuk pada supremasi sipil suatu terminologi yang selalu dihindari oleh kelompok militer masa lalu. Menurut Robert Lowry mengenai peningkatan anggota militer dengan sipil seharusnya meningkat 24% selama 19 tahun dari tahun 1993 2019. Jika kenaikan tersebut tercapai maka hal itu merupakan suatu kenaikan yang signifikan dan dapat merubah dan memperkuat struktur keanggotaan militer dalam konteks perbandingan antara jumlah personil yang berdinas aktif dibandingkan dengan jumlah penduduk.

2.

HAK AZASI MANUSIA DALAM TRANSISI POLITIK

1. Kasus Pembunuhan Steven Biko Di Afrika Selatan Steven Biko adalah seorang pemimpin gerakan kulit hitam yang kharismatik, ia ditangkap di pos polisi penghadang jalan. Ia ditahan di dalam pos tersebut dan meninggal ditempat sekitar 1 (satu) bulan dari waktu penahanannya. Meninggal dengan mulut berbusa dan penuh luka bekas pukulan. Dua puluh tahun kemudian, para polisi yang berada pada pos tempat Steven Biko dianiaya meminta pengampunan kepada Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Afrika Selatan, namun hal tersebut hanya bisa dikabulkan apabila mereka menceritakan segala tindakan mereka kepada Steven. Konstitusi Transisi Afrika Selatan mengabulkan permintaan mereka dengan memperhatikan segala aspek yang akan ditimbulkan dari putusan tersebut. Jika kekerasan dilawan dengan kekerasan maka tidak akan ada habisnya. 1. Makna Keadilan dalam Proses Rekonsiliasi Menurut Bronkhorst, jika masyarakat ditanya apakah para pelakukejahatan serius atau pelanggaran HAM berat seharusnya dihukum, maka 99persen akan menjawab ya. Itulah sebabnya mengapa banyak negara memilikiperaturan-peraturan hukum pidana. Dan tentu saja yang lebih nyata adalahbahwa sebenarnya hukum internasional sudah mengandung beberapaperaturan khusus yang berkaitan dengan upaya penuntutan dan pemberianhukuman. Ada persetujuan yang meluas di kalangan para ahli dan organisasiorganisasi Ham bahwa kewajiban untuk melakukan penuntutan secara alamiahdidasarkan pada putusanputusan yang ada dalam hukum internasional. 3. Perspektif Hukum Internasional Pada Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Afrika Selatan, pemberian amnesti kepada pembunuh Steven Biko merupakan inkonstitusional dan bertentangan dengan hukum internasional. Begitu juga dengan negara-negara domestik lebih memilih penghukuman dari pada amnesti karena sudah memiliki

hukum yang sah untuk menjatuhkan hukuman daripada upaya untuk pembalasan dendam. Masyarakat internasional dapat dengan sendirinya menegakkan ketentuan-ketentuan hukum dan menghukum kejahatan terhadap kemanusiaan. Ada perdebatan antara kelompok yang menganut prinsip inward looking versus kelompok yang mengutamakan prinsip outward looking. Outward looking adalah semua ketentuan dan badan internasional bersifat mengikat (binding) dan harus dilaksanakan sedangkan inward looking adalah keputusan-keputusan internasional memang perlu dihormati dan dilaksanakan, sebab konsep kedaulatan negara. 4. Pengalaman Beberapa Negara Peninjauan dalam bagian akan dibagi menjadi 2 (dua) kelompok Negara, yakni : 1. Negara-negara Amerika Selatan atau Amerika Latin. 2. Negara-Negara Non Amerika Latin. 1. Beberapa Negara Amerika Latin a. Beberapa Karakteristik Transisi politik di Amerika Latin dan Eropa Selatan Faktor-faktor internasional lebih menguntungkan transisi politik yangterjadi di negara-negara Eropa Selatan.ODonnell mencatat adanya heteroginitas yang lebih tinggi diAmerika Latin daripada di Eropa Selatan: tidak semua kasus di AmerikaLatinyang memenuhi kategori otoriterisme birokratis sebelum memulaimasing-masing transisi politik. b. Beberapa Rezim Otoriterisme Birokratis atau Tradisional Situasi rezim di beberapa negara Amerika Latin pra transisi politiksebagai otoriterisme birokratis. Ada pula yang menyebutnya tradisionalmereka memiliki unsusr -unsur

patrimonialis, bahkan sultanis. Inimerupakan rezim yang paling rentan terhadap transformasi revolusioner.Rezim otoriter yang sebelumnya diganti oleh suatu rezim yangdemokratis, yang benar-benar berbeda dengan psebelumnya. Senyatanya, rezim baru tersebut dapat

dideskripsikansebagai suatu demokrasi yang mudah Hancur atau suatu demokrasiyang sulit.

Lebih jauh, kehadiran elemen-elemen tertentu dari kontinuitasdapat meningkatkan spekulasi tentang apakah perubahan dalam rezim tersebut telah lengkap atau tidak. C. Peru sebagai suatu Negara otoriterisme Populis. Meskipun peran sentral yang dimainkan angkatan bersenjata atau kalangan militernya membedakan kasus peru dari bentuk-bentuk populisme Amerika latin yang lebih tua dan lebih Tipikal Peru tetap termasuk dalam keluarga Populis rezi-rezim itu. D. Perbedaan dengan Rezim Birokratik Otoriter perbedaan rezim populis Peru dengan Rezim birokratik otoriter adalah : - orientasi anti oligarkis dalam kebijakan rezim Peru; niatnyauntuk secara memperluas industri dan peran ekonomi negara disebuah negeri yang tak seberapa maju dalam segi-segi tersebut;dan ketiadaan hasrat untuk menyingkirkan secara paksa sektor rakyat, melainkan untuk menggiatkan dan merangkum secara politisberbagai golongan di sektor ini. - represi politik muncul, yang tingkat dan intensitasnya tidakmembawa perubahan penting sehubungan dengan pola-pola yang ada sebelumnya pemerintahan Ada kesimpulan yang kurang relevan jika diterapkan untukmasyarakat yang memiliki stratifikasi yang tidak begitu terdiferensiasi,atau juga yang dicirikan oleh praktek-praktek patrimonialis yang meluasdan ketiadaan perekonomian kapitalis. E. Beberapa Kasus Lainnya. Kasus-kasus lainnya di Amerika Latin yang dpat ditinjau ialah Chile. Dari segi Konfigurasi politiknya, chile tergolong dala, tipe birokratik otoriter. 2. Beberapa Negara Non Amerika Latin a. Politik dan kekuasaan kehakiman di Yunani. Kejatuhan rezim otoriter yunani pada tanggal 23 juli 1974 telah membuka jalan bagi pendirian suatu pemerintahan yang demokratisdalam sejarah modern.keterlibatan kalangan yudusial dalam rezim baryu untuk menyelesaikan soal keabsahan dari pendahulunya yang otoriter harus dipahami dalam konteks politik umum.

b. Konsepsi Jalan tengah di jerman dan cekoslovakia. Mantan blok komunis telah berjuang secara mati-matian untuk menemukan jalannya sendiri dalam berhubungan dengan warisan arsip lamanya yang kacau. Jerman bersatu dan bekas Negara cekoslovakia khususnya berjuang dengan berbagai pendekatan untuk menghadapi warisan-warisan aparat keamanan negaranya yang represif. c.Perpektif Beberapa Negara Lain. Dalam konteks yang sama, dalam prespektif Negara-negara eropa tengah, pemerintah jerman dapat menggambarkan suatu kelembagaan yang tidak dapat disangkal jika dibandingkan dengan berbagai Negara komunis, seperti Polandia, Hongaria dan cekoslovakia.

II. KEADILAN TRANSISIONAL I. PENGANTAR 1. Pemutusan Kaitan dengan Masa lalu, Pencarian Jalan baru. a. Menghukum Masa lalu, atau membiarkan kaitan dengannya tetap eksis Konsepsi keadilan transisional telah membawa pertanyaan ini ke suatu tingkat dengan suatu pendekatan interdisipliner yang menantang beberapa terminnologi perdebatan kontemporer. Beberapa bangsa telah bereaksi terhadap masa lalunya yang kacau dengan cara menutup mata secara kolektif. Beberapa Negara lainnya telah mendapati kesulitan untuk memelihara amnesia historisnya di hadapan korban-korban yang terus berjatuhan. b. Pencarian kebenaran, Rekonsiliasi dan Keadilan Menurut pengamatan daan bronkhost, dalam konteks keadilan dalam masa transisi terdapat kata yang menarik untuk didiskusikan, yaitu diantaranya; 1. Kebenaran

2. Rekonsiliasi, bahwa setiap masyarakat yang menjadi korban tindakan represif harus dipulihkan dari pengalaman masa lampaunya. 3. Keadilan, 2. Empat Permasalahan Utama Politik Memori a) Empat Permasalahan Utama 1. Bagiamana pemahaman masyarakat terhadap komitmen suatu rezim baru terhadap aturan-aturan hokum yang dilahirkannya? 2. Tindakan-tindsakan hokum apakah yang memiliki transformative? 3. Apakah jika ada terdapat kaitan antara pertanggungjawaban suatu Negara terhadap masa lalunya yang represif dan prospeknya untuk membentuk suatu tat pemerintahan yang liberal? 4. Hukum apakah yang potensial sebagai pengantar kea rah liberalisasi? b) Beberapa sanksi terhadap kejahatan HAM berat; putusan pengadilan Nuremberg Prinsip-prinsip Nuremberg mengenai Pengadilan Militer Internasional Ad Hoc tahun 19451946 terhadap para mantan penjahat perang Nazi Jerman. Pada saat persidangan, para terdakwa yang melakukan terdakwa yang melakukan berbagai kejahatan HAM beratselama perang dunia II tersebut didakwa telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dengan merencanakan, mempersiapkan, memprakarsai da melakukan perang agresi. Para terdakwa dituntut dalam pasal 6 piagam Statuta Roma yaitu: 1. Crimes against peace. 2. War crimes. 3. Crimes against humanity.. Berdasarkan pasal 6 statuta roma tindakan-tindakan berikut dapat diklasifikasikan sebagai genosida yaitu : 1. Membunuh anggota kelompok.

2. Menyebabkan penderitaan fisik dan mental yang berat terhadap anggota kelompok. 3. Dengan sengaja menciptakan kondisi kehidupan yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik, baik seluruhnya atau sebagian. 4. Memaksa tindakan-tindakan yang bertujuan untuk mencegah kelahiran di dalam kelompok. 5. Memindahkan secara paksa anak-anak dari suatu kelompok ke kelompok lain. c) Politik Memori Sesungguhnya masalah fundamental yang berkaitan dengan hokum, moralitas dan politik dilontarkan pada waktu-waktu tersebut, ketika masyarakat terlihat kembali untuk memahami bagaimana mereka kehilangan arah moral dan politik. Karenanya, untuk beberapa waktu criteria mengenai transisi menuju demokrasi hanya bergerak disekitar pemilihan umum dan prosedur-prosedurnya yang terkait. Dalam periode kontemporer, penggunaan terminology transisi telah sampai kepada pengertian perubahan dalam suatu arah yang lebih liberal. 3. Beberapa Wacana tentang Transitology dan Consolidology a. Tentang terminology transitology dan consolidology Transitology dijelaskan oleh Schmitter dalam bagian yang berjudul the long-forgotten origins of transitology sedangkan consolidology dijelaskan oleh Schmitter dalam bagian yang berjudul the more prosaic origins of consolidology. b. Kemungkinan kontradikasi antara kedua subdisiplin. Menurut Schmitter seorang transitologis yang beralih menjadi seorang konsolidologis, secara pribadi harus membuat suatu pergeseran epistemologis agar dapat mengikuti perubahan-perubahan tingkah laku yang para aktornya sendiri sedang mengalami atau menjalaninya. c. Sebelas Refleksi schmitter tentang Consolidology 1. Refleksi pertama Demokrasi bukan merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindarkan.

2. Refleksi kedua Transisi dari pemerintahan otokratis atau rezim otoriter dapat membawa hasil yang berbeda-beda. 3. Refleksi ketiga Bukanlah demokrasi yang dikonsolidasikan, namun satu atau tipe yang lain dari demokrasi. 4. Refleksi keempat Yang sangat penting, model transisi mempengaruhi identitas dan hubungan-hubungan kekuasaan dari para aktornya. 5. Refleksi kelima Setiap tipe demokrasi memiliki jalanya masing-masing yang berbeda untuk mengkonsolidasikan dirinya sendiri. 6. Refleksi keenam Dalam momen historis ini hamper tanpa perkecualian- demokrasi merupakan satusatunya bentuk yang sah dari dominasi politik. 7. Refleksi ketujuh Semua tipe demokrasi politik modern adalah perwakilan. 8. Refleksi kedelapan Transisi-transisi menuju demokrasi jarang terjadi dalam isolasi. 9. Refleksi kesembilan It is preferable, if not indispensable, that national identity and territorisl limits be established before introducing reform in political instituons. 10. Refleksi kesepuluh Mereka terjadi dalam suatu periode waktu yang relative singkat dan di dalam suatu wilayah georafis yang berdampingan. 11. Refleksi kesebelas

Pertama, tanpa kekerasan atau penghilangan fisik dari para pemain utama dari otokrasi sebelumnya. Kedua, tanpa mobilisasi massa yang membawa kejatuhan dari ancient regime dan penentuan waktu transisi. Ketiga, tanpa mendapatkan suatu tingkat yang tinggi dari pembangunan ekonomi. Keempat, tanpa menyebabkan suatu distribusi kembali dari pendapat yang substansial atau kekayaan. Kelima, tanpa kehadiran sebelumnya dari borjuis nasional. Keenam, tanpa budaya kewarganegaraan. Ketujuh, tanpa (banyak) democrat.

B. Konteks Internasional pada waktu transisi 1. internasionalisasi permasalahan Pemerintahan-pemerintahan asing didorong untuk memainkan suatu peran baik dalam bantuk pemberian perlindungan bagi mereka yang berasal dari rezim sbelumnya atau memfasilitasi pengeluaran atau ekstradisi mereka untuk diadili. 2. Hukum internasional dan keadilan retroaktif. Konsep penengah yang lain dari aturan hokum transisional adalah hokum internasional. 3. Keadilan retroaktif di belgia, prancis dan belanda Bagaimana untuk mendudukan atau menyelesaikan persoalan masa lalu tanpa merepotkan proses transisi yang sedang berlaku. Bahwa tidak ada satupun solusi ajaib untuk berhubungan dengan masa lalu yang represif.

4. UU lustrasi cekoslovakia Komunis mendorong pengunduran suatu pemerintahan koalisi dan merampas di cekoslovakia pada bualan februari 1948. Pada akhir tahun 1950-an, para penguasa cekoslovakia mempertahankan cara-cara penekanan untuk memodifikasi system mereka sejalan dengan pencairan Unisoviet di bawah nikita kruschev. 5. akibat yang lebih significan dan empat scenario pascakomunis. Berdasarkan tipologi baik yang dikemukakan oleh Huntington, husye, maupun rustow telah membuat beberapa scenario mengenai masa depan pascakomunisme yaitu: a. Skenario Pertama. Becoming like the west b. Skenario Kedua Suatu system otoritarian. c. Skenario Ketiga Secara ensesial tidak mengarah kepada transisi jangka , dimana pemerintah berunah dengan frekuensi yang abnormal, dan tetap berupaya untuk mengubah arah. d. Skenario Keempat Tidak dapat diprediksi. C. Keadilan masa transisi Politik 1. Pandangan Kelompok realis versus kelompok Idealis Perubahan politik dianggap penting mendahului penegakan aturan-aturan hokum, atau sebaliknya, beberapa langkah hokum justru harus dilakukan mendahului perubahan politik.

2.

Hukum hanyalah suatu produk dari perubahan politik Dalam segala keadaan, kekerasan dan kecepatan dihargai lebih daripada penghormatan kepada aturan hokum.

3.

Tergantung pada Hubungan antara Hukum dan Politik a. Politik hokum secara sederhana dapat dirumuskan sebagai kebijaksanaan hokum yang akan atau telah dilaksanakan secara nasional oleh pemerintah. b. Bagimana politik mempengaruhi hokum dengan cara melihat konfigurasi kekuatan yang ada dibelakang pembuatan dan penegakan hokum itu.

D. Dilema Penerapan Aturan Hukum. 1. Dasar Hukum Membawa Rezim Masa lalu ke Pengadilan Dalam periode transformasi politik, masalah legalitas adalah berbeda dengan masalah dalam teori hukum sebagaimana ia muncul dalam demokrasi-demokrasi yang mantap dalam waktu-waktu yang normal. 2. Perdebatan Hukum Tentang Penyelengaraan Persidangan Terhadap Para Mantan Kolaborator Nazi Hokum tertulis yang berlaku sebelumnya, walaupun tidak bermoral, tetap harus dinyatakan berlaku dan harus diikuti oleh pengadilan-pengadilan sesudahnya hingga ia dinyatakan tidak berlaku atau diganti yang baru.

TANGGAPAN

Konsepsi HAM dan demokrasi dapat dilacak secara teologis berupa relativitas manusia dan kemutlakan Tuhan. Konsekuensinya, tidak ada manusia yang dianggap menempati posisi lebih tinggi, karena hanya satu yang mutlak dan merupakan prima facie, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Semua manusia memiliki potensi untuk mencapai kebenaran, tetapi tidak mungkin kebenaran mutlak dimiliki oleh manusia, karena yang benar secara mutlak hanya Tuhan. Maka semua pemikiran manusia juga harus dinilai kebenarannya secara relatif.1 Sejak awal berkuasa, rejim orde baru telah mencatat berbagai peristiwa pelanggaran HAM. Selama 32 tahun berkuasa, orde baru mencoba mempertahankan kekuasaannya dengan tindakan kekerasan dan represi untuk mempertahankan kekuasannya maka pada masa transisi politik bisa dipastikan ada banyak sorotan terhadap HAM. Untuk itu perlunya penegakan ham adalah untuk mendapatkan keadilan setiap warganegara. Kedaulatan merupakan konsep yang biasa dijadikan objek dalam filsafat politik dan hokum kenegaraan. Didalamnya terkandung konsepsi yang berkaitan dengan ide kekuasaan tertinggi yang dikaitkan dengan negara2 Hak asasi manusia menurut alinea kedua Pembukaan Piagam Hak Asasi Manusia adalah hak dasar yang secara kodrati sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang melekat dan dimiliki setiap manusia, bersifat universal dan abadi, meliputi hak hidup, hak berkeluarga, hak mengembangkan diri, hak kemerdekaan, hak berkomunikasi, hak keamanan dan kesejahteraan oleh karena itu harus dilindungi, dihormati, dipertahankan, dan tidak boleh diabaikan, dikurangi, atau dirampas oleh siapapun. Manusia dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa berupa akal budi dan nurani yang memberikan kepadanya kemampuan untuk membedakan yang baik dan yang buruk yang akan mengarahkan dan membimbing sikap dan perilaku dalam menjalani kehidupannya. Dengan
1

Jimly Asshiddiqie,Demokrasi dan Hak Asasi Manusia, Jakarta: 2005 hal. 1

Asshiddiqie, Jimly. Konstitusi & Konstitusionalisme Indonesia hal 92

demikian maka manusia memiliki budi sendiri dan karsa yang merdeka secara sendiri, manusia memiliki martabat dan derajat yang sama, maka manusia memiliki hak-hak dan kewajiban yang sama pula. Menurut M. Akil Mochtar, SH. MH. dalam rangka upaya membangun demokrasi di Indonesia maka diperlukan adanya 8 faktor pendukung sebagai berikut:3 1) Keterbukaan sistem politik 2) Budaya politik partisipatif egalitarian 3) Kepemimpinan politik yang berorientasi kerakyatan 4) Rakyat yang terdidik, cerdas dan peduli 5) Partai politik yang tumbuh dari bawah 6) Penghargaan terhadap hokum 7) Masyarakat Madani yang tanggap dan bertanggung jawab 8) Dukungan dari pihak asing dan pemihakan pada golongan mayoritas Terdapat sepuluh aspek penting agar konsolidasi demokrasi dapat berjalan dengan baik yaitu:4 Pertama, memahami pluralisme tidak face to face dengan nilai-nilai agama. Kedua, rekrutmen kader partai harus dalam koridor stelsel keanggotaan aktif. Ketiga, hubungan antara eksekutif dan legislatif dalam konteks check and balance dituntut untuk mendahulukan kedaulatan rakyat.

3 4

M. Akil Mochtar, SH. MH.,Demokrasi dan Hak Asasi Manusia, Jakarta: 2005, hal.4 Lampung post 12 maret 2012

Keempat, agar yudikatif tidak merapat ke legislatif dan eksekutif dalam proses yang merugikan. Dalam arti, jangan sampai ada KKN dari korps penegak hukum. Kelima, program partai langsung untuk rakyat agar terus-menerus dikontrol media massa. Keenam, ada partisipasi politik masyarakat dan adanya pendidikan politik dari kader partai. Ketujuh, pola hubungan antara legislatif, eksekutif, dan yudikatif hendaknya tak didasarkan pada "siapa menguntungkan siapa", tetapi lebih pada visi dalam membangun sistem politik. Kedelapan, etnisitas perkotaan yang cenderung menyimpang, terutama bila terjadi politik uang, hendaknya disadari benar oleh partai dan berbagai elemen lain dalam mekanisme "rezim" KPU. Kesembilan, menciptakan pertumbuhan ekonomi dengan merealisasikan program pembangunan bagi rakyat. Pasalnya, rendahnya tingkat pertumbuhan akan mengembangkan kultur politik instan melalui ideologi sembako. Kesepuluh, elite politik harus menyadari beban moral mereka amat besar bagi terwujudnya konsolidasi demokrasi. Ini bila kita menginginkan sistem politik Indonesia tidak terlalu lama menuju perbaikan. Perlunya Reformasi TNI mengingat orde baru banyak pelangaran HAM yang dilakukan oleh TNI maka Secara bertahap TNI segera meninggalkan peran sosial politik memusatkan perhatian kepada tugas pokok pertahanan Nasional menyerahkan fungsi dan tanggungjawab keamanan kepada Polri Meningkatkan konsistensi implementasi Doktrin Gabungan Meningkatkan kinerja manajemen internal Dari esensi tersebut TNI telah melaksanakan 12 hal antara lain;5 (1) Perumusan paradigma baru, (2) Pemisahan TNI dan Polri, (3) Penghapusan doktrin kekaryaan,
5

ISDPS hal 5 tahun 2005

(4) Meninggalkan peran sosial politik secara bertahap, (5) Likuidasi institusi social politik, (6) Netralitas TNI dalam Pemilu, (7) Refungsionalisasi hubungan institusi TNI dengan organisasi keluarga besar TNI, (8) Penempatan pembinaan organisasi Korpri TNI dalam pembinaan personil, (9) Membuka manajemen badan usaha yang bernaung dibawah yayasan TNI, (10) Perumusan konsepsi fungsionalisasi dan restrukturisasi territorial sebagai fungsi pemerintahan, (11) Audit public, (12) Secara keseluruhan; memandang setiap masalah kebangsaan dari pendekatan peran TNI dan kewenangan sebagai instrumen pertahanan nasional yang dicirikan oleh UU sesuai dengan kesepakatan bangsa. Hak Asasi Manusia di Indonesia bersumber dan bermuara pada pancasila. Yang artinya Hak Asasi Manusia mendapat jaminan kuat dari falsafah bangsa, yakni Pancasila. Bermuara pada Pancasila dimaksudkan bahwa pelaksanaan hak asasi manusia tersebut harus memperhatikan garis-garis yang telah ditentukan dalam ketentuan falsafah Pancasila. Bagi bangsa Indonesia, melaksanakan hak asasi manusia bukan berarti melaksanakan dengan sebebas-bebasnya, melainkan harus memperhatikan ketentuanketentuan yang terkandung dalam pandangan hidup bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Hal ini disebabkan pada dasarnya memang tidak ada hak yang dapat dilaksanakan secara multak tanpa memperhatikan hak orang lain. Negara Republik Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia sebagai hak yang secara kodrati melekat dan tidak terpisah dari manusia yang harus dilindungi,

dihormati, dan ditegakkan demi peningkatan martabat kemanusisan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecerdasan serta keadilan. Untuk itu, arah permainan politik harus berubah di dua arah, dari arah presiden yang harus secepatnya mengubah gaya permainan politiknya dengan menciptakan solusi damai dengan poros-poros kekuasaan yang kini dijauhinya dan dari arah oposisi (terkonsentrasi di DPR) yang cenderung konfrontatif terhadap presiden. Solusi damai ini setidaknya untuk meminimalkan korban-korban kemanusiaan (cost of life) yang terjadi selama proses transisi demokrasi. Solusi damai ini artinya, Wahid harus melakukan konsolidasi demokrasi, dengan langkah-langkah sebagai berikut :6 1. Pertama, melakukan konsolidasi antar kekuatan politik guna mencapai konsensus minimal politik guna menggagas desain reformasi yang diinginkan. 2. Kedua, berinisiatif pranata-pranata sosial politik yang hancur di wilayah-wilayah konflik, setidaknya hal ini akan mengurangi sumber-sumber ketegangan politik di daerah. 3. Ketiga, konsisten dalam penegakan hukum terutama kasus-kasus KKN baik yang saat ini terganjal diusut. 4. Keempat, membuka jalur dialog multi poros politik, setidaknya untuk menghindari frustrasi politik pihak-pihak yang tidak terakomodasi dalam pemerintahannya.

JURNAL MASYARAKAT KEBUDAYAAN DAN POLITIK Volume 14 17 November 2010

DAFTAR PUSTAKA Jimly Asshiddiqie,Demokrasi dan Hak Asasi Manusia, Jakarta: 2005 Asshiddiqie, Jimly. Konstitusi & Konstitusionalisme Indonesia Jakarta 2005 M. Akil Mochtar, SH. MH.,Demokrasi dan Hak Asasi Manusia, Jakarta: 2005 Lampung post 12 maret 2012 ISDPS tahun 2005 Jurnal masyarakat kebudayaan dan politik Volume 14 17 November 2010