Anda di halaman 1dari 9

FILSAFAT ILMU Dosen: Dr. Suryo Ediyono, M.

Hum

Ohel MD. Farid Ahmed NIM : T631302001

1. Jelaskan konsep Filsafat ilmu, melalui hubungan : Pengetahuan, Ilmu, dan filsafat. dimana titik temu dan perbedaannya?

Jawab :

Dalam sejarah filsafat Yunani, filsafat mencakup seluruh bidang ilmu pengetahuan. Lambat laun banyak ilmu-ilmu khusus yang melepaskan diri dari filsafat. Meskipun demikian, filsafat dan ilmu pengetahuan masih memiliki hubungan dekat. Sebab baik filsafat maupun ilmu pengetahuan sama-sama pengetahuan yang metodis, sistematis, koheren dan mempunyai obyek material dan formal. Yang membedakan diantara keduanya adalah: filsafat mempelajari seluruh realitas, sedangkan ilmu pengetahuan hanya mempelajari satu realitas atau bidang tertentu. Filsafat adalah induk semua ilmu pengetahuan. Dia memberi sumbangan dan peran sebagai induk yang melahirkan dan membantu mengembangkan ilmu pengetahuan hingga ilmu pengetahuan itu itu dapat hidup dan berkembang. Filsafat membantu ilmu pengetahuan untuk bersikap rasional dalam

mempertanggungjawabkan ilmunya. Pertanggungjawaban secara rasional di sini berarti bahwa setiap langkah langkah harus terbuka terhadap segala pertanyaan dan sangkalan dan harus dipertahankan secara argumentatif, yaitu dengan argumen-argumen yang obyektif (dapat dimengerti secara intersuyektif). Filsafat ilmu adalah bagian dari epistemologi yang membahas pengetahuan ilmiah atau keilmuan, atau lebih terinci adalah filsafat atau ilmu yang objeknya adalah ilmu pengetahuan itu sendiri. Dapat juga diartikan filsafat ilmu adalah studi sistematik mengenai sifat dan hakikat ilmu khususnya yang berkenan dengan metodenya, konsepnya dan kedudukannya di dalam skema umum disiplin intelektual. Juga merupakan segenap pemikiran reflektif yang kita jumpai terhadap persoalan persoalan mengenai segala hal yang menyagkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dari segala segi dari kehidupan manusia.

Pengetahuan merupakan Hasil proses dari usaha manusia untuk tahu atau apa yang diketahui/ hasil pekerjaan tahu.

Ilmu merupakan pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman

dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari, namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. Filsafat adalah pencarian akan kebenaran dengan pertolongan fakta fakta dan argumentasi argumentasi tanpa memerlukan kekerasan dan tanpa mengetahui hasilnya terlebih dahulu, dengan kata lain filsafat tidaklah lain dari pada pengetahuan tentang segala yang ada.

Titik temu filsafat dan ilmu adalah : 2. 1) Banyak ahli filsafat yang termasyur, telah memberikan sumbangannya dalam pengembangan ilmu pengetahuan misalnya Leibniz menemukan diferensial kalkulus. White head dan Bertrand Russel dengan teori matematikanya yang terkenal 2) Filsafat dan ilmu pengetahuan keduanya menggunakan metode metode Revlective thinking di dalam menghadapi fakta fakta dunia dan hidup ini.

3) Filsafat dan ilmu keduanya menunjukan sikap kritis dan terbuka, dan memberikan perhatian yang tidak berat sebelah terhadap kebenaran.

4) Keduanya tertarik terhadap pengetahuan yang terorganisir dan tersusun secara sistematis. 5) Ilmu memberi filsafat sejumlah bahan bahan deskriptif dan faktual serta esensial bagi pemikiran filsafat. 6) Ilmu mengoreksi filsafat dengan jalan menghilangkan sejumlah ide ide yang yang bertentangan dengan pengetahuan yang ilmiah. 7) Filsafat merangkum yang terpotong potong, yang menjadikan bermacam macam ilmu dan berbeda beda, dan menyusun bahan bahan tersebut ke dalam suatu pandangan tentang hidup dan dunia yang lebih menyeluruh dan terpadu.

Perbedaan 1) Ilmu adalah

antara anak filsafat,

filsafat sedangkan

dan filsafat adalah

ilmu induk

: ilmu.

2) Ilmu menggunakan pendekatan analitis dan deskriptif, sedangkan filsafat sintesis atau sinoptis, berhubungan dengan sifat sifat dan kualitas alam dan hidup secara keseluruhan 3) Ilmu menekankan fakta-fakta untuk melukiskan objeknya, bersifat netral dan mengabstrakan faktor keinginan dan penilaian manusia, sedangkan filsafat bukan saja menekankan keadaan sebenarnya dari obyek, melainkan juga bagaimana seharusnya

obyek

itu.

4) Ilmu memulai sesuatu dengan memakai asumsi-asumsi, sedangkan filsafat memeriksa dan meragukan segala asumsi.

5) Ilmu menggunakan metode eksperimen yang terkontrol sebagai cara kerja dan sifat terpenting, menguji sesuatu dengan menggunakan penginderaan, sedangkan filsafat menggunakan semua penemuan ilmu pengetahuan, menguji sesuatu berdasarkan pengaalaman dengan memakai pikiran.

2. Jelaskan latar belakang & manfaatnya matrikulasi filsafat ilmu bagi program studi saudara ?

Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat mencolok. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani, philosophia meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dikemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain. Filsafat Yunani kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpecah-pecah. Lebih lanjut Nuchelmans (1982), mengemukakan bahwa dengan munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke-17, maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke-17 tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Van Peursen (1985), yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut. Dalam perkembangan lebih lanjut menurut Koento Wibisono (1999), filsafat itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana pohon ilmu pengetahuan telah tumbuh mekar bercabang secara subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri. Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan ke arah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikemukakan oleh Van Peursen (1985), bahwa ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalinmenjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan. Implikasi yang timbul menurut Koento Wibisono (1984), adalah bahwa

ilmu yang satu sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain serta semakin kaburnya garis batas antara ilmu dasar-murni atau teoritis dengan ilmu terapan atau praktis. Untuk mengatasi gap antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya, dibutuhkan suatu bidang ilmu yang dapat menjembatani serta mewadahi perbedaan yang muncul. Oleh karena itu, maka bidang filsafatlah yang mampu mengatasi hal tersebut. Hal ini senada dengan pendapat Immanuel Kant[1] yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya ilmu (pengetahuan). Bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat.

Filsafat ilmu adalah bagian dari epistemology yang membahas pengetahuan ilmiah atau keilmuan, filsafat ilmu mempunyai tiang-tiang penyangga bagi eksistensi ilmu, yaitu ontology yang menerangkan hakikat ilmu itu, Epistemology yang menerangkan bagaimana cara dan sarana yang dapat digunakan untuk memperoleh pengetahuan; Dan aksiologi yang menerangkan ukuran nilai, kemana pengetahuan itu kita kembangkan, hanya dengan filsafat ilmu strategi pengembangan ilmu dapat digariskan, dapat dilacak perspektif ke masa depannya, keterjalinan antar cabang ilmu yang satu dengan ilmu yang lain, kesungguhan pembinaan dan pengembangannya, serta batas-batas validitasnya.

3. Apa yg dimaksud dengan landasan Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi ilmu? Jelaskan penerapannya pada tugas rancangan proposal tesis saudara?

Bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. a. Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat

tentang apa dan bagaimana yang ada itu. Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, paham dualisme, pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhimya menentukan pendapat bahkan keyakinan kita masing-masing mengenai apa dan bagaimana yang ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari. b. Epistemologi ilmu meliputi sumber, sarana, dan tatacara mengunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan (ilmiah). Perbedaan mengenal pilihan landasan ontologik akan dengan sendirinya mengakibatkan perbedaan dalam menentukan sarana yang akan kita pilih. Akal, akal budi pengalaman, atau komunikasi antara akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana yang dimaksud dalam epistemologik, sehingga dikenal adanya model-model epistemologik seperti rasionalisme, empirisme, kritisisme atau rasionalisme kritis, positifisme, fenomenologi dengan berbagai variasinya. Ditunjukkan pula bagaimana kelebihan dan kelemahan sesuatu model epistemologik beserta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah) itu seped teori koherensi, korespondesi, pragmatis, dan teori intersubjektif.

c. Akslologi llmu meliputi nilai-nilal (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasansimbolik atau pun fisik material. Lebih dari itu nilai-nilai juga ditunjukkan oleh aksiologi ini sebagai suatu conditio sine qua non yang wajib dipatuhi dalam kegiatan kita, baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. Dalam perkembangannya filsafat ilmu juga mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu, yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampal pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan 4. Apa yang dimaksud bahwa ilmu itu bebas nilai ? Jelaskan disertasi dengan contho.

Jawab:

Ilmu sebagai aktifitas, menggambarkan hakikat ilmu sebagai sebuah rangkaian aktivitas pemikiran rasional, kognitif, dan teleologis (tujuan). Rasional artinya, proses aktifitas yang menggunakan kemampuan pemikiran untuk menalar dengan tetap berpegang pada kaidahkaidah logika, kognitif artinya; aktivitas pemikiran yang bertalian dengan; pengenalan, pencerapan, pengkonsepsian, dalam membangun pemahaman pemahaman secara terstruktur guna memperoleh pengetahuan, dan teleologis artinya; proses pemikiran dan penelitian yang mengarah pada pencapaian tujuan-tujuan tertentu, misalnya; kebenaran pengetahuan, serta memberi pemahaman, penjelasan, peramalan, pengendalian, dan aplikasi atau penerapan. Semua itu dilakukan setiap ilmuwan dalam bentuk penelitian, pengkajian, atau dalam rangka pengembangan ilmu. Ilmu sebagai prosedur menunjuk pada pola prosedural, tata langkah, teknik atau cara, serta alat atau media. Pola prosedural, misalnya; pengamatan, percobaan, pengukuran, survei, deduksi, induksi, analisis, dan lainnya. Tata langkah, misalnya; penentuan masalah, perumusan hipotesis (bila diperlukan), pengumpulan data, penarikan kesimpulan, dan pengujian hasil. Teknik atau cara, misalnya; penyusunan daftar pertanyaan, wawancara, perhitungan, dan lainnya. Alat dan media, timbangan, meteran, perapian, komputer, dan lainnya. Ilmu sebagai hasil atau produk berupa pengetahuan sistematis, ilmu dipahami sebagai seluruh kesatuan ide yang mengacu ke obyek (dunia obyek) yang sama dan saling berkaitan secara logis. Ilmu, karena itu, dipandang sebagai sebuah koherensi sistematik, dengan prosedur, aksioma, dan lambanglambang yang dapat dilihat dengan jelas melalui pembuktian-pembuktian ilmiah. Ilmu memuat di dalam dirinya hipotesis-hipotesis (jawabanjawaban sementara) dan teori-teori (hipotesis-hipotesis teruji) yang belum mantap sepenuhnya. Ilmu sering disebut pula sebagai konsep pengetahuan ilmiah karena ilmu harus terbuka bagi pengujian ilmiah (pengujian keilmuan). Ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional kognitif, dengan berbagai metode berupa anek prosedur dan tata langkah, sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sitematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, dan keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, atau penerapan.

5. Apa yang di maksud kode etik seorang ilmuan ?

Jawab Kode etik seorang ilmuan terbagi atas 2 yaitu

: :

1) Secara teoritik adalah konsep yang dilakirkan secara ilmu melalui teori didasarkan pada pendekatan pendekatan metedologi yang diolah logika secara secara sistematis, terstruktur, komperensif dan dapt di pertanggung jawabkan

2) Secara praktis adalah mengutip pendapat ilmu tersebut harus didasarkan pada teori yang ada tanpa mengurangi/membatalkan

DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar, Amsal. 2007. Filsafat Ilmu. Jakarat : PT. Raja Grafindo Persada. Gie, Liang. 1999. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Liberty. Bakry, Hasbullah. 1986. Sistematika Filsafat. Jakarta : FA Widjaya. Muntasyir, Rizal. 2001. Filsafat Ilmu. Jakarta : Pustaka Pelajar. HA. Dardiri, Humaniora. 1986. Filsafat dan Logika. Jakarta : Rajawali. Asyari, Musa. 2005. Filsafat Islam. Yogyakarta : Lesfi. Hendrik, Jan. 1996. Pengantar Filsafat. Yogyakarta : Kanisius. Wibisono, Koento dkk. 1997. Filsafat Ilmu sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Klaten : Intan Pariwara.