Anda di halaman 1dari 4

Pengaruh pH terhadap aktivitas enzim Umumnya kecepatan reaksi enzimatik meningkat hingga mencapai pH optimal dan menurun setelah

lebih dari pH optimal. Pada pH 1 dan 3 aktivitas enzim masih ada, tetapi kecil (ditunjukkan oleh kecepatan reaksi enzimatik yang kecil pula). Hal ini disebabkan pada pH kurang dari 4, enzim amilase menjadi tidak aktif. Pada pH 8 aktivitas enzim menurun karena telah terlewati pH optimal dari enzim tersebut. Sedangkan pada percobaan ini pH optimumnya adalah 7. Kerja enzim sebagai katalis dipengaruhi oleh pH. Adanya nilai pH tertentu, yang memungkinkan enzim bekerja maksimum. pH tersebut dinamakan pH optimum. Pada kondisi asam, protein enzim mengambil struktur 3 dimensi yang sangat tepat, sehingga ia dapat mengikat dan mengolah substrat dengan kecepatan yang setinggi-tingginya. Di luar nilai pH optimum (pH 11) tersebut struktur 3 dimensi enzim mulai berubah, sehingga substrat tidak dapat lagi menempati posisisnya dengan tepat pada bagian molekul enzim yang mengolah substrat. Akibatnya, proses katalisis berjalan tidak optimum. Oleh karena itu, struktur 3 dimensi berubah akibat pH yang tidak optimum. Pada percobaan ini digunakan 10 tabung reaksi, 5 untuk blanko dan 5 untuk uji. a. Blanko Diambil 1 mL pati dengan pH sebagai berikut, tabung I pH 1, tabung II pH 3, tabung III pH 5, tabung IV pH 7, dan tabung V pH 11. Dalam percobaan ini pati (amilum) berperan sebagai substratnya. Selanjutnya pati didiamkan 5 menit pada suhu 370C, hal ini bertujuan agar pati terdegradasi secara sempurna. Lalu ditambahkan 1 mL iodium dan warna larutan menjadi: 1. 2. 3. 4. 5. Tabung I Tabung II : biru kehitaman : biru kehitaman

Tabung III : kuning Tabung IV : kuning Tabung V : biru kehitaman

Tampak adanya perubahan warna yang signifikan pada masing-masing tabung tersebut. semakin pekat larutannya maka semakin besar nilai absorbansinya. Penambahan iodium berfungsi sebagai indikator untuk menentukan adanya amilum dan ditambahkan 8 mL aquades, dimana aquades ini berfungsi agar larutan tidak terlalu pekat dan dapat diukur aborbansinya pada spektrofotometri Uv-Vis, karena pada spektrofotometri Uv-Vis jika larutan terlalu pekat maka tidak dapat terbaca absorbansi pada larutan.

b.

Larutan uji Diambil 1 mL pati dengan pH sebagai berikut, tabung I pH 1, tabung II pH 3, tabung III pH 5, tabung IV pH 7, dan tabung V pH 11. Dalam percobaan ini pati (amilum) berperan sebagai substratnya. Selanjutnya pati didiamkan 5 menit, hal ini bertujuan agar pati terdegradasi secara sempurna. Selanjutnya ditambahkan 200 L saliva pada semua tabung, dan didiamkan selama 1 menit. Dimana pada keadaan ini akan terjadi hidrolisis parsial. Larutan pati merupakan polisakarida yang dapat dihidrolisis oleh enzim amilase pada saliva sehingga menjadi glukosa. Lalu ditambahkan 1 mL iodium dan warna larutan menjadi:

1. 2. 3. 4. 5.

Tabung I Tabung II

: biru kehitaman : biru kehitaman

Tabung III : kuning Tabung IV : kuning Tabung V : biru kehitaman Tampak adanya perubahan warna yang signifikan pada masing-masing tabung tersebut. Pada larutan uji pH 11 diperoleh larutan berwarna ungu. Penambahan larutan iodium pada larutan pati seharusnya menghasilkan larutan kompleks berwarna biru. Pada keadaan ini menandakan bahwa di dalam larutan pati terdapat karbohidrat berupa polisakarida. Pada pH 5 dan 7 ini dapat dikatakan sudah tidak adanya karbohidrat (dari larutan pati yang terdiri dari amilosa dan amilopektin) karena dihidrolisis oleh amilase terlihat dengan tidak didapatkan warna biru kehitaman (menandakan adanya amilosa) ataupun merah ungu (menandakan adanya amilopektin) ketika ditambahkan larutan iodium. Kerja enzim amilase dikatakan sebagai hidrolisis parsial dan memperlihatkan bahwa enzim amilase berada pada kondisi 3 dimensi yang tepat sehingga dapat menghidrolisis karbohidrat dari larutan pati dengan sangat cepat. Sedangkan hasil pengamatan pada pH 11 menunjukan warna biru kehitaman sampai ungu pada larutan uji setelah ditambahkan iodium. Ini menunjukan tidak kesesuaian terhadap teori yang mengatakan bahwa enzim amylase akan bekerja pada pH optimum dengan rentang 6 8, hal ini dikarenakan pada pH 11 mikroba pada enzim bereaksi sehingga pati telah terhidrolisis terlebih dahulu pada pH 5-8. Penambahan iodium berfungsi sebagai indikator untuk menentukan adanya amilum, sehingga dapat dikatakan pada pH ini enzim amilase tidak bekerja optimum dalam menghirdrolis larutan pati karena struktur dari enzim amilase telah berubah sehingga tidak dapat mengolah substrat dengan baik. Lalu ditambahkan 8 mL aquades, dimana aquades ini berfungsi untuk agar larutan tidak terlalu pekat dan dapat diukur aborbansinya pada

spektrofotometri Uv-Vis, karena pada spektrofotometri Uv-Vis jika larutan terlalu pekat maka tidak dapat terbaca absorbansi pada larutan. Pada percobaan ini akan menghasilkan nilai absorbansi sampel yaitu absorbansi yang mesih memiliki pengotor pengotor di dalamnya sehingga untuk mencari absorbansi yang sebanarnya dengan cara nilai absorbansi blanko dikurangi nilai absorbansi sampel. Digunakan cara demikian karena kemampuan enzim dalam mendegradasi pati. Terlihat pada kurva di bawah ini: Kurva pH vs kecepatan reaksi enzimatik a. Secara teori

Hasil analisis pH 1 3 5 7 11 AB 0,474 0,839 0,044 0,037 0,201 AU 0,473 0,704 0,018 0,025 0,167 A / menit (v) 0,001 0,135 0,026 0,012 0,034

Dari kurva yang didapat menunjukan bahwa pH optimum berada di pH 3. Hal ini tidak sesuai dengan

teori, dimana pH optimum seharusnya terdapat pada rentang pH 6-8. Mungkin hal ini dapat terjadi dikarenakan beberapa kesalahan. Diantaranya : ketika pada saat pemberian saliva kedalam masing-masing seharusnya diinkubasi selama satu menit dan setelah itu dimasukkan larutan iod tetapi dikarenakan hal-hal yang tidak disengaja, waktu penginkubasian saliva lebih dari 1 menit, sehingga proses hidrolisis terganggu, kurang teliti dalam pembersihan wadah (tabung) sehingga masih ada sisa-sisa pengotor yang menyebabkan hasil analisis yang kurang akurat, dan hal-hal lain yang praktikan belum bisa mengidentifikasinya.