Anda di halaman 1dari 23

1 BAB I STATUS PASIEN 1. 1.

IDENTITAS

Identitas Pasien Nama : An. F Tanggal Lahir : 31 Oktober 2008 Usia : 1 tahun 9 bulan Jenis Kelamin : Perempuan Alamat : Komplek DLM I/286 Kemayoran Jakarta Pusat Agama : Islam Tanggal Masuk RS : 16 Agustus 2010 No. Rekam Medik : 35.69.47 Identitas Orang Tua Pasien Nama Ayah : Tn. R Nama Ibu : Ny. R Usia : 34 tahun Usia : 27 tahun Agama : Islam Agama : Islam Pekerjaan : Pegawai Negeri Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pangkat / Kes. : III B Pangkat / Kes. : Pendidikan : S1 Pendidikan : S1 Hubungan : Ayah Kandung Hubungan : Ibu Kandung 1. 2. ANAMNESIS

Dilakukan allo-anamnesis dengan kedua orang tua pasien pada tanggal 16 Agustus 2010, pukul 15.00 WIB Keluhan Utama Demam Keluhan Tambahan Batuk, pilek, mual, pegal-pegal di seluruh tubuh, timbul ruam di tubuh. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang rujukan dari puskesmas dengan keluhan demam sejak dini hari. Demam timbul tiba-tiba, terus menerus, makin lama makin parah, tidak menggigil, tidak kejang, pasien merasa gelisah. Pasien telah mendapat obat dari puskesmas tapi keluhan pasien tidak membaik. Pasien telah melakukan tes darah dari klinik anggrek. Pasien juga mengeluh batuk dan pilek sejak kamis. Sekret hidung berwarna putih, encer, dan batuk semakin parah menjadi berdahak dan kental. Orang tua pasien menyangkal ada sesak nafas. Orang tua pasien juga mengeluh anaknya susah makan, makan 3x/hari 5-10 sendok teh. Tidak ada muntah, pasien merasa mual terutama sehari-hari saat makan dan minum.pasien juga merasa pegal-pegal di seluruh badan. Timbul ruam dikulit sejak minggu. Buang air kecil banyak, pasien ganti popok kurang lebih 4-5 kali/hari, tidak berdarah, tidak nyeri saat berkemih. Buang air besar 1 kali/hari dengan konsistensi lunak, tidak ada lendir, tidak ada darah. Riwayat Penyakit Dahulu Tidak ada

2 Riwayat Penyakit Dalam Keluarga Tidak ada Riwayat Kehamilan Ibu Status obstetri ibu pasien dengan G2P2A0. Cukup bulan. Riwayat Kelahiran Tempat lahir : Rumah Bersalin Penolong : Bidan Cara persalinan : Spontan Data saat lahir : BL 3000 gram, PL 50 cm Keadaan bayi saat lahir : langsung menangis Kelainan bawaan : tidak ada Riwayat Imunisasi Jenis Imunisasi I II III IV BCG DPT Polio Hep B Campak

Kesan : imunisasi dasar lengkap, imunisasi ulangan belum. Riwayat Perkembangan Gigi Pertama Duduk Jalan sendiri Bicara Membaca : : : : : 6 bulan Sudah bisa, usia + 8 bulan Sudah bisa, usia + 4 bulan Sudah bisa, usia + 1 tahun Belum bisa membaca

3 Riwayat Makanan Bawah 1 tahun : UMUR ASI / PASI 0 2 bln 2 4 bln 4 6 bln 6 8 bln 8 10 bln 10 12 bln ASI ASI ASI ASI ASI+Sustagen ASI+Sustagen

Buah / Biskuit Satu kali/hari Satu kali/hari Satu kali/hari Satu kali/hari

Bubur susu Dua kali/hari Dua kali/hari Dua kali/hari Dua kali/hari

Nasi Tim Tiga kali/hari Tiga kali/hari Tiga kali/hari

Riwayat Keluarga Corak reproduksi : No 1 2 Usia 3 Tahun 1 Tahun Jenis Kelamin P L Hidup Lahir Mati Abortus Mati (sebab) Keterangan kesehatan Sehat Pasien

Anggota Keluarga Lain yang serumah Kakak adik dari pihak suami Masalah Dalam Keluarga Tidak ada. Status Rumah Tinggal Menumpang Data Orang Tua Pasien Data orang tua Ayah Umur sekarang Perkawinan ke Umur saat menikah Pendidikan terakhir ( tamat/sampai kls/tkt ) Agama Suku bangsa Keadaan kesehatan Konsanguitas 34 tahun 1 28 tahun S1 Tamat Islam Betawi Baik Tidak terdapat

Ibu 27 tahun 1 23 tahun S1 Tamat Islam Jawa Baik Tidak terdapat

4 1. 3. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 16 Agustus pukul 15.30 WIB Keadaan Umum : Tampak sakit sedang Kesadaran : Baik Status Mental : Lemas Berat Badan : 10 kg Panjang Badan : 83 cm Tanda Tanda Vital Nadi : 114 x/mnt, irama teratur, isi cukup, sama di keempat ekstremitas Frek. Nafas : 28 x/mnt, pernafasan Kussmaul Suhu : 37,30C di ukur lewat axilla Data Antopometri Berat Badan pasien : 10 kg Berat Badan ideal : 11.6 kg Panjang Badan : 83 cm Rumus : BB/TBx100% = 10/11.6x100 = 86.2 Status Gizi : Malnutrisi sedang Status Generalis Kepala : Bentuk normocephal, distribusi merata, tidak mudah dicabut Muka : Raut muka normal, kulit normal Mata : Konjungtiva tidak anemik, sklera tidak ikterik. Telinga : Daun telinga normal, lekukan sempurna, Liang telinga lapang, tidak hiperemis, tidak ada sekret, terlihat ruam di belakang telinga. Hidung : Bentuk normal, tidak ada nafas cuping hidung, sekret putih kental. Mulut : Mukosa bibir kering, tidak pecah, tidak sianosis, Uvula ditengah, Faring hiperemis, Tonsil T1-T1 tenang Leher : Bentuk normal, tidak terdapat kelainan, terlihat ruam kemerahan.Tidak ada perbesaran KGB, Trachea ditengah. Dada : Bentuk normochest, terlihat ruam kemerahan, tidak ada benjolan, Pergerakan dada simetris saat statis an dinamis, tidak terdapat retraksi, Paru : Sonor pada kedua lapang paru, Suara nafas dasar veikuler +/+, tidak ada rhonki, tidak ada wheezing Jantung : Pulsasi iktus kordis tidak tampak , Iktus kordis teraba di sela iga V garis midklavikula sinistra, tidak kuat angkat, tidak ada thrill. Bunyi Jantung I-II reguler, Gallop (-), Murmur (-) Abdomen : Datar, tidak ada luka / sikatrik / venektasi / perdarahan , Bising usus (+) normal, Supel, turgor kulit baik, hati tidak teraba, limpa tidak teraba, suara tympani Ekstremitas : Bentuk simetris, ruam kemerahan pada tangan, tidak terdapat deformitas , tidak ada udem di ke empat ekstremitas, tidak ada sianosis, capillary refill < 2 dtk, akral hangat. Refleks Refleks Fisiologis : Biscep (+) Triscep (+) KPR (+)

5 APR Refleks Patologis : Babinsky Chaddok Oppenheim Hoffman-Tromer Tanda Rangsang Meningeal: Kaku kuduk Brudzinsky I Brudzinsky II Kernig (+) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-)

1. 4.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hasil pemeriksaan Laboratorium RSPAD tanggal 17 Agustus 2010 Hematologi (Darah Lengkap) - Hemoglobin :12.5 gr/dL - Hematokrit :38 % - Eritrosit : :4,8 juta/UL - Leukosit : :4600 /UL - Trombosit :100000 /UL - MCV : 79 fl - MCH : 26 pg - MCHC : 33 gr/dL 1. 5. RESUME

Pasien datang dengan keluhan demam sejak dini hari. Demam timbul tiba-tiba, terus menerus, makin lama makin parah, tidak menggigil, tidak kejang, pasien merasa gelisah. Pasien telah mendapat obat dari puskesmas tapi keluhan pasien tidak membaik. Pasien telah melakukan tes darah dari klinik anggrek. Pasien juga mengeluh batuk dan pilek sejak kamis minggu sebelumnya. Sekret hidung berwarna putih, encer, dan batuk semakin parah menjadi berdahak dan kental. Orang tua pasien menyangkal ada sesak nafas. Orang tua pasien juga mengeluh anaknya susah makan, makan 3x/hari 5-10 sendok teh. Tidak ada muntah, pasien merasa mual terutama sehari-hari saat makan dan minum.pasien juga merasa pegal-pegal di seluruh badan. Timbul ruam dikulit sejak minggu. Buang air kecil banyak, pasien ganti popok kurang lebih 4-5 kali/hari, tidak berdarah, tidak nyeri saat berkemih. Buang air besar 1 kali/hari dengan konsistensi lunak, tidak ada lendir, tidak ada darah. Keadaan Umum Tampak sakit sedang, compos mentis. Pemeriksaan Fisik Pasien tampak sakit sedang dan kompos mentis HR: 114x/menit Suhu : 37.3C

6 RR : 28x/menit Mata Hidung Mulut Thoraxs Jantung Pulmo Abdomen Ekstremitas : Konjungtiva tidak anemik, sklera tidak ikterik : Nafas cuping hidung tidak ada, sekret putih kental : Mukosa bibir kering : Bentuk dan gerak simetris dan tidak ada retraksi, kulit terlihat kemereahan. : Bunyi jantung I-II regular, tidak ada murmur dan gallop : Suara vesikuler, tidak ada ronkhi, tidak ada wheezing : Datar, bising usus positif, supel : Akral hangat, tidak ada sianosis

1. 6. DIAGNOSIS KERJA Measles Suspek DHF 1. 7. DIAGNOSIS BANDING Rubella, Eksantema subitum, Alergi obat. 1.8 PEMERIKSAAN ANJURAN - Rumple led - Cek IgM anti campak PENATALAKSANAAN - IVFD RL 1000 cc/24 jam - Inj Cefotaxime 3x250 mg IV - Pct syr 3x1 cth - Ambroxol syr 3x1/3 cth - Diit makanan lunak

1. 8.

1. 9. PROGNOSIS Dubia et Bonam

FOLLOW UP 17 Agustus 2010 S Demam(+) hari ke 6, batuk(+), pilek(+),


belum BAB selama satu hari

18 Agustus 2010
Demam (-), batuk(+), dahak(+), BAB dan BAK(+) normal, minum agak kurang Tampak sakit sedang, compos mentis HR: 124x/menit RR: 28x/menit T: 36.1C Rambut: tidak mudah di cabut Mata: konjungtiva anemic (-), sclera ikterik(-), Hidung : (nafas cuping hidung (-) Mulut: tampak kering Leher: KGB tidak teraba, ruam kemerahan Thoraks: pergerakan simetris, ruam kemerahan Jantung: BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) Paru: Vesikuler, Rhonki (-), Wheezing(-) Abdomen: datar, ruam kemerahan, supel, nyeri tekan (-), bising usus (+), turgor baik, Ekstremitas: Akral hangat, ruam kemerahan pada tangan dan kaki

19 Agustus 2010
Demam (-), batuk(+), BAB dan BAK(+) normal, minum agak kurang, semala muntah dengan isi makanannya Tampak sakit sedang, compos mentis. HR: 96x/menit RR: 32x/menit T: 36.3C Kepala: normocephal, Mata: Konjungtiva anemic (-), sclera ikterik (-) Hidung: nafas cuping hidung (-) Mulut: Tampak kering Leher: KGB tidak teraba, ruam kemerahan. Thoraxs: Pergerakan simetris, ruam kemerahan Jantung: BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) Paru: Suara vesikuler, Rhonki(-), Wheezing(-) Abdomen: Supel, ruam kemerahan, datar, bising usus (+) Ekstremitas: Akral hangat, Udem(-), ruam kemerahan pada tangan dan kaki, terlihat bersisik pada tangan.

O Tampak sakit sedang, compos mentis

A P

HR: 100x/menit RR: 28x/menit T 37.1C Mata: konjungtiva tidak anemic dan sclera tidak ikterik, Hidung: Nafas cuping hidung (-), sekret (-) Mulut: tampak sedikit kering, faring hiperemis Leher: KGB tidak teraba, terlihat ruam kemerahan Thoraks: pergerakan simetris, terlihat ruam kemerahan Jantung: BJ I-II regular, murmur(-), gallop (-) Paru: Suara nafas vesikuler, Rhonki (-), Wheezing(-) Abdomen: Datar, terlihat ruam kemerahan, supel, lembut, nyeri tekan(-), bising usus(+) normal, turgor baik Ekstremitas: akral hangat, ruam pada tangan - Suspek DHF - Measles - IVFD RL 1000cc/24jam - Inj cefotaxim 3x250mg IV - Pct syr 3xcth1 - Epexol 3x1/3 cth

Campak DHF grade 1 IVFD RL 1000cc/24 jam Inj cefotaxim 3x250mg IV/ Vit A 100.000 IU Pct 3x100mg Epexol 3xcts1/2 p.o Cek DL/24 jam Pindah ke ruang isolasi

Campak IVFD RL 1000 cc/24 jamstop Inj cefotaxim 3x250mgstop Vit A 100.000 IU Pct 3x100mg p.o(k/p) Epexol 3xcts1/2 p.o

L Hemoglobin A Hematokrit

:12.5 gr/dL :38 %

Hemoglobin Hematokrit

:10.9 gr/dL :33 %

Hemoglobin Hematokrit

:11.5 gr/dL :34 %

9 B Eritrosit Leukosit Trombosit MCV MCH MCHC : :4,8 juta/UL : :4600 /UL :100000 /UL : 79 fl : 26 pg : 33 gr/dL Eritrosit Leukosit Trombosit MCV MCH MCHC : :4,1 juta/UL : :6400 /UL :88000 /UL : 81 fl : 27 pg : 33 gr/dL Eritrosit Leukosit Trombosit MCV MCH MCHC : :4,3 juta/UL : :6300 /UL :126000 /UL : 79 fl : 27 pg : 34 gr/dL

10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Campak adalah penyakit akut yang sangat menular, disebabkan oleh infeksi virus yang umumnya menyerang anak, dengan karakteristik demam, batuk, konjungtivitis dan ruam makulo papular general. 1 Berdasarkan WHO suspek campak apabila kasus dengan demam 38oC atau lebih dan ruam makula papular dan disertai minimal satu gejala konjungtivitis.2 B. Epidemiologi Di Indonesia, menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) campak menduduki tempat ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada bayi (0,7%) dan tempat ke 5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada anak usia 1-4 tahun (0,77%) 3. Umur terbanyak menderita campak adalah < 12 bulan diikuti kelompok 1-4 tahun dan 514 tahun.4 Campak merupakan penyakit endemis terutama di negara berkembang. Di Indonesia penyakit campak sudah dikenal sejak lama.3 Angka kejadian campak di Indonesia sejak tahun 1990 sampai 2002 masih tinggi sekitar 3000-4000 per tahun demikian juga frekuensi terjadinya kejadian luar biasa tampak meningkat dari 23 kali menjadi 174 kali.5 Pengalaman menunjukkan bahwa epidemi campak di Indonesia timbul secara tidak teratur. Di daerah perkotaan epidemi campak terjadi setiap 2-4 tahun.Wabah terjadi pada kelompok anak yang renta terhadap campak, yaitu di daerah dengan populasi balita banyak mengidap gizi burukdan daya tahan tubuh yang lemah. Telah lama diketahui bahwa campak menyebabkan penurunan daya tahan tubuh secara umum, sehingga mudah terjadi infeksi sekunder atau penyulit. Penyulit yang sering dijumpai ialah bronkopneumonia (75,2%), gastroenteritis (7,1%), ensefalitis (6,7%) dan lain-lain (7,9%)3 batuk, koriza, dan

11 C. Etiologi Campak disebabkan oleh virus RNA dari Famili Paramixoviridae, genus Morbillivirus. 6,8 Virus campak berada di sekret nasofaring dan dalam waktu yang singkat sesudah timbulnya ruam.
3

Virus tetap aktif selama sekurang-kurangnya 34 jam dalam

suhu kamar.6. Campak salah satu penyakit yang paling dapat ditularkan, sebagaimana jika merekadalam ruang udara dengan pasien terinfeksi campak dalam satu jam 7 WHO telah mendapatkan 24 genotip campak diseluruh dunia, dan ada 3 genotip di Indonesia, yaitu genotip G2, G3 dan D9. Dengan pendekatan epidemiologi molekuler, dapat diketahui bagaimana penyebaran virus campak dari suatu tempat ke tempat lain atau dari suatu negara ke negara lain (mobilization of population) D. Patogenesis Virus campak ditularkan melalui areosol droplet.1 Periode inkubasi biasanya 10 hari dari paparan ke onset demam 2. Di tempat awal infeksi, penggandaan virus sangat minimal dan jarang dapat ditemukan virusnya. Infeksi awal diyakini dibangun dalam saluran pernapasan walaupun tidak didefinisikan sasaran utamanya secara baik.
1

Dari

saluran pernapasan, virus masuk ke dalam limfatik lokal, bebas maupun berhubungan dengan sel mononuklear, kemudian mencapai kelenjar getah bening regional.1,3 Di sini virus memperbanyak diri dengan sangat perlahan dan dimulailah penyebaran ke sel jaringan limforetikular seperti limpa. Sel mononuklear yang terinfeksi menyebabkan terbebtuknya sel raksasa berinti banyak (sel Warthin) sedangkan limfosit T (termasuk Tsupressor dan T-helper) yang rentan terhadap infeksi, turut ikut membelah.3 Gambaran dari kejadian awal di jaringan limfoid masih belum diketahui secara lengkap, tetapi 5-6 hari setelah infeksi awal, terbentuklah fokus infeksi yaitu ketika virus masuk ke dalam pembuluh darah dan menyebar ke permukaan epitel orofaring, konjungtiva, saluran nafas, kulit, kandung kemih dan usus.Pada hari ke 9-10, fokus infeksi yang berada di epitel saluran nafas dan konjungtiva, akan menyebabkan timbulnya nekrosis pada satu sampai dua lapis sel. Pada saat itu virus dalam jumlah banyak masuk kembali ke pembuluh darah dan menimbulkan manifestasi klinis berupa demam tinggi, anak tampak sakit berat dan tampak suatu ulsera kecil pada mukosa pipi yang disebut bercak koplik, yang dapat tanda pasti untuk menegakkan diagnosis. 3

12 Selanjutnya daya tahan tubuh menurun. Sebagai akibat respon delayed hypersensitivity terhadap antigen virus, muncul ruam makulopapular pada hari ke-14 sesudah awal infeksi dan pada saat itu antibodi humoral dapat dideteksi pada kasus yang mengalami defisit sel-T 3 Fokus infeksi tidak menyebar jauh ke pembuluh darah. Vesikel tampak secara mikroskopik di epidermis tetapi virus tidak berhasil tumbuh di kulit. Penelitian dengan imunofluorens dan histologik menunjukkan adanya antigen campak dan diduga terjadi suatu reaksi Arthus. Darah epitel yang nekrotik di nasofaring dan saluaran pernafasan memberikan kesempatan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis media dan lain-lain. Dalam keadaan tertentu pneumonia dapat terjadi, selain itu campak dapat menyebabkan gizi kurang.3 E. Manifestasi klinis dan diagnosis Gejala klinis terjadi selama masa tunas 10-12 hari, yang terdiri dari tiga stadium,5 yaitu: 1. Stadium prodromal Berlangsung 2-4 hari, ditandai oleh demam ringan sampai sedang, batuk kering, koryza dan konjungtivitis.6 Pada stadium ini dapat timbulnya enantema mukosa pipi di depan molar tiga disebut bercak koplik.3,5,6 Bercak koplik merupakan bintik putih keabu-abuan, biasanya sebesar butir pasir dengan aerola sedikit kemerahan. Bercak ini muncul dan menghilang dengan cepat, biasanya dalam 12-18 jam.6 Radang konjungtiva dan fotofobia dapat mengesankan campak sebelum muncul bercak koplik. Terutama, garis melintang radang konjungtiva, batas tegas sepanjang tepi kelopak mata, mungkin membantu diagnostik pada stadium prodormal Kadang-kadang, fase prodormal dapat berat, ditunjukkan oleh demam tinggi mendadak, kadang dengan kejang-kejang dan bahkan pneumonia. 2. Stadium erupsi3,5,6 Suhu naik mendadak ketika ruam muncul dan sering mencapai 40-40,5 oC (104105OF). Ruam biasanya mulai sebagai makula tidak jelas pada bagian atas lateral leher, dibelakang telinga, sepanjang garis pertumbuhan rambut dan pada posterior pipi. Lesi sendiri-sendiri menjadi semakin makulopapuler sebagai ruam yang

13 menyebar dengan cepat pada seluruh muka leher, lengan atas dada pada sekitar 24 jam pertama. Selama 24 jam berikutnya ruam menyebar ke seluruh punggung, abdomen, seluruh lengan dan paha lalu menyebar ke kaki. 3. Stadium penyembuhan (konvalense) Setelah 2-3 hari ruam mulai menghilang dari muka.6 Hilangnya ruam menuju ke bawah pada urutan yang sama dengan ketika ruam muncul. 3,5,6 Ruam kulit menjadi hiperpigmentasi (kehitaman) dan mengelupas Limfonodi pada sudut rahang dan pada daerah servilkal posterior biasanya membesar, dan splenomegali ringan dapat dicatat.6

F. Diagnosis Diagnosis campak dapat ditegakkan secara klinis, sedangkan pemeriksaan penunjang sekedar membantu; seperti pada pemeriksaaan sitologik ditemukan sel raksasa pada lapisan mukosa hidung dan pipi , dan pada pemeriksaan serologi didapatkan IgM spesifik. 3

G. Diagnosis Banding3,5,6 1. Roseala Infantum (Eksantema subitum) Gejala demam tinggi selama 3-4 hari disertai iritabilitas biasanya terjadi sebelum timbul kemerahan pada kulit penderita roseola infantum dan diikuti penurunan demam secara drastis menjadi normal. Dibedakan dari campak di mana ruam dari Roseola infantum tampak ketika demam menghilang. Eksentema subitum bersifat diskrit dan makulopapular berwarna merah tua dan biasanya timbul di daerah dada dan menyebar ke muka dan ekstremitas. 2. Rubela Pada umumnya tidak diawali suatu masa prodromal yang spesifik. Pembesaran kelenjar getah bening yang khas jarang terlihat pada anak. Remaja dan dewasa muda dapat menunjukkan gejala demam ringan serta 1-4 hari timbulnya kemerahan

14 Eksantem pada rubella mulai timbul di muka dan leher dan menyebar ke seluruh tubuh lebih cepat, dalam 24-48 jam sudah menyeluruh. Pada hari ketiga eksentema di bagian tubuh mulai memudar dan tinggal menyisakan bagian ekstremitas Tanda patognomonik adanya pembesaran kelenjar getah bening khussunya pada daerah oksipital dan daerah belakan kepala. 3. Ruam akibat obat-obatan

H. Komplikasi Komplikasi dapat terjadi sebagai akibat replikasi virus atau karena superinfeksi bakteri antara lain8, berupa :
1. Otitis media

Invasi virus ke dalam gendang telinga umumnya terjadi pada campak. Gendang telinga biasanya hiperemis pada fase prodromal dan stadium erupsi. 3
2. Bronkopneumonia

Dapat disebabkan oleh virus campak maupun akibat invasi bakteri. Ditandai dengan batuk, meningkatnya frekuensi nafas dan adanya ronki basah halus. Pada saat suhu turun, apabila disebabkan oleh virus, gejala pneumonia akan menghilang,kecuali batuk yang masih dapat berlanjut sampai beberapa hari lagi. Apabila suhu tidak juga turun pada saat yang diharapkan dan gejala saluran nafas masih terus berlangsung, dapat diduga adanya pneumonia karena bakteri yang telah mengadakan invasi pada sel epitel yang dirusak oleh virus 3,5
3. Laryngotracheobronchitis (croup)

Laringitis timbul karena adanya edema hebat pada mukosa saluran nafas, yang bertambah parah pada saat demam mencapai puncak. Ditandai dengan distres pernapasan, sesak sianosis, dan stridor. Ketika demam turun akan membaik dan gejala menghilang.3
4.

Diare

5. Ensefalitis.

15 Merupakan penyulit neurologik yang paling sering terjadi, biasanya terjadi pada hari ke 4-7 setelah ruam. Terjadi ensefalitis dapat melalui mekanisme imunologik maupun melalui invasi langsung virus campak ke dalam otak3. 6. SSPE Subacute sclerosing panencephalitis merupakan kelainan degeneratif susunan saraf pusat yang jarang disebabkan oleh infeksi virus campak. Kemungkian menderita SSPE pada anak yang sebelumnya menderita campak adalah 0,6-2,2 per 10.000 infeksi campak. Resiko terjadi SSPE lebih besar pada usia yang lebih muda, dengan inkubasi rata-rata 7 tahun3 Gejala SSPE didahului dengan gangguaan tingkah laku dan intelektual yang progresif, diikuti oleh inkoordinasi motorik, kejang umum bersifat mioklonik. Labortorium menunjukkan peningkatan globulin dengan cairan serebrospinal, antibodi terhadap campak dalam serum meningkat (1:1280). Tidak ada terapi untuk SSPE. Rata-rata jangka waktu timbul gejala sampai meninggal antara 6-9 bulan.

I. Penatalaksanaan Manajemen pada pasien tanpa penyulit bersifat simtomatik dan dapat dirawat di rumah. Obat simtomatik yang diberikan berupa antipiretik, antitusif, ekpekteran, dan antikonvulsan bila diperlukan.3,5,9 Indikasi rawat inap pada pasien campak adalah hiperpireksia (suhu > 39 oC), dehidrasi, kejang asupan oral sulit atau adanya komplikasi.9 Perawatan pasien campak tanpa komplikasi, dilakukan dengan cara :
1. Pasien dirawat di ruang isolasi 2. Tirah baring di tempat tidur 3. Vitamin A 100.000 IU, apabila disertai malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari 4. Diet makan cukup cairan, kalori yang memadai.

16 J. Pencegahan Imunisasi merupakan salah satu upaya terbaik untuk menurunkan insiden campak.10 Sebagai dampak program imunisasi tersebut insiden campak cenderung turun pada semua golongan umur. Pada bayi (<1 tahun) dan anak umur 1-4 tahun terjadi penurunan cukup tajam, sedangkan pada golongan umur 5-14 tahun relatif landai.10 Pada tahun 1963 telah dibuat dua macam vaksin campak, yaitu vaksin yang berasal dari virus campak yang hidup dan dilemahkan, dan yang kedua vaksin yang berasal dari campak yang dimatikan. Sejak tahun 1967 virus campak yang telah dimatikan tidak digunakan lagi oleh karena efek proteksinya hanya bersifat sementara dan dapat menimbulkan atypical measles yang hebat Dosis baku minimal untuk pemberian virus campak yang dilemahkan adalah 1000TCID-50 atau sebanyak 0,5 ml. Tetapi dalam hal vaksin hidup, pemberian dengan 20 TCID saja sudah memberikan hasil yang baik. Cara pemberian yang dianjurkan adalah subkutan. Pemberian dosis tunggal vaksin campak hidup (live attenuated) biasanya dikombinasikan dengan vaksin hidup lainnya (mumps. rubella), dapat diberikan bersama-sama dengan vaksin yang diinaktivasi lainnya atau bersama-sama toksoid; dapat memberikan imunitas aktif pada 94-98% individu-individu yang rentan, kemungkinan kekebalan yang timbul dapat bertahan seumur hidup, kalaupun terjadi infeksi maka bentuk infeksinya sangat ringan atau infeksi tidak nampak dan tidak menular. Dosis kedua vaksin campak dapat meningkatkan tingkat kekebalan sampai 99%. Direkomendasi 2 dosis vaksin utk memastikan imunitas, sebab 15% anak divaksinasi gagal membangun imunitas dari dosis pertama.11 Banyak anak yang sudah mendapat imunisasi campak tetapi masih bisa terkena penyakit campak, sehingga telah terjadi ketidakberhasilan imunisasi campak. Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kegagalan imunisasi campak, yaitu faktor hospes, lingkungan dan agent. Dari faktor agent, penyebabnya bisa karena pengaruh virus vaksin campak yang dipakai, perlakuan/pendistribusian vaksin (cold-chain), dan kemungkinan adanya perbedaan genotip virus campak. Dibeberapa negara dengan tingkat cakupan imunisasi campak yang tinggi dan sudah tidak didapatkan infeksi campak indigenous, masih timbul wabah penyakit campak karena adanya kasus impor.

17

BAB III ANALISA KASUS

Diagnosis campak pada pasien ini ditegakkan berdasarkan :. 1. Anamnesis : Dari anamnesis didapatkan keluhan utama demam sejak hari kamis yang awalnya merupakan demam ringan. Disertai juga dengan batuk berdahak dan pilek. Pada hari minggu malam *hari ke-4) panas menjadi tinggi disertai keluarnya ruamruam dari belakang telinga yang menyebar pada muka, dan seluruh tubuh. Orang tua juga mengatakan bahwa minggu saat batuk dan pilek muncul, mata pasien menjadi kemerahan. 2. Pemeriksaan fisik : Pada saat dilakukan pemeriksaan di RSPAD Gatot soebroto didapatkan suhu tubuh pasien pada saat diperiksa 37.3 oC, suhu pasien yang tidak mencapai 40-40.5C disebabkan karena pasien telah diberikan pengobatan sebelum dilakukan pemeriksaan, adanya ruam makulopapular yang tedapat pada belakang telinga, dahi, muka, dada dan punggung, kedua tangan, perut dan kedua paha, dan adanya faring yang hiperemis.

18

Saya setuju dengan diagnosis tersebut, hal ini berdasarkan atas kepustakaan yang ada,yaitu dikatakan campak apabila adanya karakteristik demam, batuk, konjungtivitis, dan ruam makulopapular general. Berdasarkan WHO suspek campak apabila kasus dengan demam 38C atau lebih dan timbulnya ruam makulopapular dan disertai minimal satu gejala batuk, koriza, dan konjungtivitis. Hal tersebut sesuai dengan pasien yaitu adanya demam, batuk dan pilek, serta adanya ruam makulopapular. Pada pemeriksaan fisik keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran kompos mentis, nadi 114x/menit, suhu 37.3C karena pasien telah mendapatkan pengobatan sebelum dilakukan pemeriksaan. Menurut orang tua demam timbul tiba-tiba, terus menerus, makin lama makin parah. Pada pemeriksaan mulut ditemukan faring yang hiperemis, dan dari hasil laboratorium didapatkan leukopenia dan trombositopenia yang dapat menggambrakan adanya infeksi virus. Hal ini membuktikan adanya gejala dan tanda dari penyakit campak

Diagnosis banding pada pasien ini adalah rubela, eksantema subitum dan erupsi akibat obat. 1. Rubela secara epidemiologi angka kejadian tertinggi terjadi pada anak usia 5-14 tahun. Sedangkan secara klinis sifat demam rubelle jarang mencapai 38,5 oC dan yang khas pada rubella pembesaran kelenjar limfe bisa timbul 5-7 hari sebelum timbul eksantema, khas mengenai kelenjar suboksipital, postaurtikular dan servikal dan disertai nyeri tekan. Pada pasien ini suhu tubuhnya 37,3oC dan tidak terdapat pembesaran kelenjar suboksipital, postaurtikular yang disertai nyeri tekan. Eksantem pada rubella mulai timbul di muka dan leher dan menyebar ke seluruh tubuh lebih cepat, dalam 24-48 jam sudah menyeluruh. Pada hari ketiga eksantema di bagian tubuh mulai memudar dan tinggal menyisakan bagian ekstremitas.3 2. Eksantema Subitum Pada roseola infantum ruam tampak ketika demam menghilang. Sedangkan pada pasen ruam muncul bersamaan demam yang tinggi. 3. Alergi obat Pada pasien tidak terdapat adanya riwayat minum obat-obatan.

19 Pasien ini berumur 1 tahun 9 bulan, yang berdasarkan epidemiologi kelompok umur 1-4 tahun merupakan urutan kedua setalah umur < 12 bulan yang menderita morbili terbanyak.4 Sedangkan pada kelompok umur pasien, morbili merupakan urutan ke 5 dalam urutan penyakit utama pada anak usia 1- 4 tahun.3 Pada riwayat imunisasi dapat dilihat bahwa pasien telah mendapatkan imunisasi campak, tetapi pasien masih terkena campak, hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu : 1. Kegagalan dalam imunisasi Kegagalan dalam imunisasi dapat disebabkan oleh pengaruh virus vaksin yang dipakai dan kesalahan dalam pendistribusian vaksin (chold-chain). Pada pasien ini tidak diketahui proses imunisasi campak pada pasien, sehingga pengaruh virus vaksin yang dipakai dan kesalahan pendistribusian bisa menjadi faktor kegagalan imunisasi pada pasien ini. 2. Perbedaan genotip virus campak Adanya beberapa genotip ini, dapat menerangkan mengapa seorang anak yang telah terkena campak, dapat terkena campak lagi bila dia terinfeksi dengan virus campak dari genotip lainnya. Imunisasi campak, saat ini yang dipakai untuk vaksin campak di Indonesia adalah galur (strain) CAM-70 berasal dari genotip A. Seharusnya dengan ditemukannya 3 genotip virus campak di Indonesia tersebut, vaksin campak dibuat dari isolat virus campak lokal juga, sehingga diharapkan bisa memberikan kekebalan yang lebih Penyakit campak ini mempunyai potensi untuk menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, yaitu komplikasi jangka pendek berupa diare, radang paru, radang telinga dan komplikasi jangka panjang yang biasanya fatal yaitu subacute scleroting pan-encephalitis (SSPE). o Komplikasi jangka panjang bersifat fatal, yaitu subacute scleroting panencephalitis (SSPE) perlu diwaspadai Kemungkian menderita SSPE pada anak yang sebelumnya menderita campak adalah 0,6-2,2 per 10.000 infeksi campak dan diatas 50% terjadi pada kasus campak sebelum berumur 2 tahun. Resiko SSPE lebih besar pada usia yang lebih muda, dengan inkubasi rata-rata 7 tahun3.

20 Pemeriksaan lain yang harus dilakukan pada pasien ini berdasarkan kepustakaan yang ada disebutkan perlu pemeriksaan serologi untuk lebih menegakkan diagnosis Manajemen pada pasien campak tanpa penyulit bersifat simtomatik dan dapat dirawat di rumah, indikasi rawat inap pada pasien campak adalah hiperpireksia (suhu > 39 oC), dehidrasi, kejang, asupan oral sulit atau adanya komplikasi.9 Pada pasien ini dilakukan perawatan karena masukan makanan yang berkurang. 1. Isolasi Penatalaksannan isolasi pada campak merupakan hal yang tepat, karena campak mudah menular. 2. IVFD RL 1000 cc/24 jam Cairan yang dibutuhkan, pada anak 100ml/ 100 kalori, kebutuhan kalori pada anak berat badan 10 kg adalah 100kkal X 10 = 1000 kalori. Sehingga kebutuhan cairan 1000 cc/24 jam Perhitungan cairan melalui infus = (1000x20)/(24x60) = 13,8 tetes permenit
3. Ambroxol syr 3x cth

Pada pasien ini diberikan ambroxol. Dosis perhari Ambroxol adalah 1,2 - 1,6 mg Ambroxol HCI per kg berat badan. Dosis anak berat 10 kg = (1,2 1,6 )mg X 10 = 12 mg- 16 mg. Pada pasien ini diberikan ambroxol Hcl cth atau sama dengan 15 mg, dosis ini sesuai dengan dosis pemberian pada anak berat 10 kg. 4. Paracetamol syr 3x100 mg Dosis paracetamol 10-15 mg/kg bb, dosis yang digunakan pada anak 10 kg adalah 100- 150 mg. Pada pasien ini diberikan dosis paracetamol 100 mg, dosis ini sesuai dengan kebutuhan anak BB 10 kg. 5. Inj Cefotaxime 3x250 mg IV Aktif terhadap beberapa jenis kuman yang diindikasikan untuk pengobatan karena infeksi di saluran napas atas, dan dapat juga untuk infeksi saluran pernapasan bawah.

21 Dengan dosis untuk anak 50-100 mg/kgbb/hari, dibagi menjadi 3-4 kali pemberian. Dosis yang diberikan pada pasien dengan berat 10 kg ini 250 mg/ 8 jam. Pada pasien ini diberikan antibiotik Cefotaxime 3 x 250 mg. Menurut kepustakaan pemberian antibiotik pada pasien campak tidak diperlukan, karena merupakan penyakit self limting. 6. Vitamin A Pada pasien ini diberikan vitamin A. Menurut kepustakaan pada pasien campak perlu diberikan vitamin A 100.000 IU. Vitamin A berpengaruh terhadap pertumbuhan dan diferensiasi limfosit B. campak

Pada pasien ini tidak terdapat adanya penyulit, sehingga prognosa jangka pendek buat pasien ini adalah ad bonam. Tetapi pada morbili terdapat komplikasi jangka panjang yang bersifat fatal yaitu SSPE, melihat bahwa umur pasien tahun 1bulan ini secara epidemiologi merupakan faktor resiko terkena SSPE maka prognosisnya menjadi dubia ad bonam.

22 DAFTAR PUSTAKA 1. Juffire M, Mulyani NS. Modul Pelatihan Diare. UKK Gastro-Hepatologi IDAI. 2009 2. Adisasmito W. Faktor Risiko Diare Pada Bayi Dan Balita Di Indonesia: Systematic Review Penelitian Akademik Bidang Kesehatan Masyarakat. Makara Kesehatan 2007;11(1). 1-10 3. Wilunda C, Panza A. Factors Associated With Diarrhea Among Children Less Than 5 Years Old In Thailand: A Secondary Analysis of Thailand Multiple Indicator Cluster Survey 2006. J Health Res.2009:17-22
4. Jangan Anggap Remeh Diare. Available from : www.medicastore.com. Di akses pada

tanggal 18 Agustus 2010 pukul 23.00


5. Silbernagl S, Lang F. Teks dan Atlas Berwarna Patofisiologi. Penerbit Buku Kedokteran

EGC.2007: p150-51 6. Firmansyah. Agus, dkk. Modul Pelatihan Tata Laksana Diare pada Anak. Badan Koordinasi Gastroenterologi Anak Indonesia. Jakarta. 2007 7. Draft Panduan Pelayanan Medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM. Jakarta.2007 8. Guandalini. Stefanu. Essential Pediatric Gastro Enterology, Hepatology, and Nutrition. McGraw-Hill Medical publishing. USA.2005 9. Markum, dkk. Buku Ajar llmu Kesehatan Anak. FK UI. Jakarta.1991 10. Hasan. Rusepno, dkk. Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan Anak. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI. Jakarta. 1985.
11. Probiotic. Available from: http://www.probioticnutrition.com/. Di unduh tanggal 18

Agustus pukul 20.30 12. Suraatmaja. Sudaryat, dkk. Kapita Selekta Gastroenterologi. CV. Sagung Seto. Jakarta. 2007 13. Subijanto MS, Ranuh R, Djupri L, Soeparto P Soeparto.Managemen Pada Diare Pada Bayi Dan Anak. Divisi Gastroenterologi RSU Dr. Soetomo Surabaya. 2006
14. Dehydration and Diarrhea in Children: Prevention and Treatment. Available from:

http://www.cps.ca/caringforkids/whensick/DehydrationDiarrhea.htm. Di unduh tanggal 19 Agustus 2010 pukul 20.48

23
15. Diarrhea causes symptoms, diagnosis and treatment. Available from:

http://www.medicinenet.com/diarrhea/article.htm. Di unduh tanggal 20 Agustus 2010 pukul 10.00


16. Penyebab diare. Available from: http://medicastore.com/diare/penyebab_diare.htm. Di

unduh tanggal 20 Agustus 2010 Pukul 10.15