Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

EKSPERIMEN FISIKA
Gelombang Stasioner/Percobaan Melde


NAMA :
MEKY SYAPUTRA (A1E010026)
RIZKA MARWANTI (A1E010018)
NIDYA PUTRI (A1E010029)
ROHIMA (A1E010002)

Dosen Pembimbing : M. Sutarno, S.Si, M.Pd
UNIVERSITAS BENGKULU
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
2013

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang

Jika kita menggoyang salah satu ujung tali (atau pegas) dan ujung yang satunya
tetap, suatu gelombang yang kontinu akan merambat ke ujung yang tetap dan
dipantulkan kembali, dengan terbalik. Sementara kita menggetarkan tali tersebut,
akan ada gelombang yang merambat di kedua arah, dan gelombang yang merambat
ke ujung tetap akan berinterferensi dengan gelombang pantulan yang kembali.
Biasanya akan ada kekacauan. Tetapi jika kita menggetarkan tali dengan frekuensi
yang tepat, kedua gelombang akan berinterferensi sedemikian sehingga akan
dihasilkan gelombang berdiri dengan amplitudo besar. Gelombang ini disebut
gelombang berdiri karena tampaknya tidak merambat. Tali hanya berosilasi ke atas
ke bawah dengan pola yang tetap. Titik interferensi destruktif, dimana tali tetap diam,
disebut simpul. Titik-titik interferensi konstruktif, dimana tali berosilasi dengan
amplitudo maksimum, disebut perut. simpul dan perut tetap di posisi tertentu untuk
frekuensi tertentu.

1.2.Tujuan
Menentukan besaran-besaran gelombang ( pada dawai.
1.3.Rumusan Masalah
Bagaimana menentukan besaran-besaran gelombang ( pada dawai.
1.4.Hipotesis Masalah
Menentukan besaran-besaran gelombang berdasarkan percobaan.








BAB II
LANDASAN TEORI
Beberapa besaran penting yang digunakan untuk mendeskripsikan gelombang sinusoidal
periodik ditunjukkan pada gambar dibawah ini:





Karateristik gelombang satu frekuensi
Titik-titik tinggi pada gelombang disebut puncak, titik - titik terendah disebut
lembah. Amplitudo adalah ketinggian maksimum puncak, atau kedalaman maksimum
lembah, relatif terhadap tingkat normal (atau seimbang). Ayunan total dari puncak
sampai ke lembah sama dengan dua kali amplitude ( A ). Jarak antara dua puncak yang
berurutan disebut panjang gelombang, (huruf Yunani lambda). Panjang gelombang juga
sama dengan jarak antara dua titik identik mana saja yang berurutan pada gelombang.
Frekuensi (f), adalah jumlah puncak atau siklus lengkap yang melewati satu titik per
satuan waktu. Periode ( T ) adalah 1/f, dan merupakan waktu yang berlalu antara dua
puncak berurutan yang melewati titik yang sama pada ruang. Kecepatan gelombang ( v
) adalah kecepatan dimana puncak gelombang (atau bagian lain dari gelombang)
bergerak. Kecepatan gelombang harus dibedakan dari kecepatan partikel pada medium
itu sendiri. Kecepatan gelombang adalah tekanan sepanjang tali, sementara kecepatan
partikel tali tegak lurus terhadapnya.
Sebuah puncak gelombang menempuh jarak satu panjang gelombang , dalam
satu periode, T. Dengan demikian kecepatan gelombang sama dengan /T ; v = /T.
Kemudian, karena 1/T = f;


Kecepatan gelombang tergantung pada sifat medium dimana ia merambat.
Kecepatan gelombang pada tali yang terentang, misalnya bergantung pada tegangan tali (
FT ), dan pada massa tali per satuan panjang ( m/L ). Untuk gelombang dengan
amplitudo kecil, hubungan tersebut adalah

L m
F
v
T
/
=

V= . f

Rumus ini secara kualitatif masuk akal dengan dasar mekanika newton. Kita
mengharapkan tegangan di pembilang dan massa per satuan waktu di penyebut.
Mengapa? Karena ketika tegangan lebih besar, kita mengharapkan kecepatan lebih besar
, karena setiap segmen tali berada pada kontak yang lebih erat dengan tetangganya; dan
makin besar massa persatuan panjang, makin besar inersia yang dimiliki tali dan makin
melambat gelombang akan merambat (Giancoli, 2001: 382-383).
Yang merupakan sifat umum gelombang adalah lajunya bergantung pada
sifat-sifat medium, tetapi tak bergantung pada gerak relatif sumber gelombang terhadap
medium. Misalnya laju gelombang pada tali hanya bergantung pada sifat tali.
Jika kita mengirim pulsa gelombang melalui tali yang panjang dengan mudah
dapat ditunjukkan bahwa laju penjalaran pulsa gelombang bertambah bila tegangan tali
ditingkatkan. Selanjutnya, jika kita mempunyai dua tali, tali ringan dan tali berat, dengan
tegangan yang sama, pulsa gelombang akan menjalar lebih lambat pada tali berat. Jadi
laju penalaran gelombang v pada tali berhubungan dengan tegangan F dan massa per
satuan panjang . Kita memperoleh hubungan ini dengan menggunakan hukum - hukum
Newton.




Gambar diatas menunjukkan suatu pulsa yang menjalar sepanjang tali dengan laju v ke
kanan. Pulsa dianggap bernilai kecil bila dibandingkan dengan panjang tali sehingga
menghasilkan Aproksimasi yang baik, yaitu tegangan bernilai konstan sepanjang tali dan
sama seperti ketika tidak ada pulsa.





Gambar diatas menunjukkan segmen tali sepanjang s. Jika segmen cukup
kecil kita dapat memandangnya sebagai bagian busur lingkaran berjari-jari R. Segmen
dengan demikian melingkar dengan jari-jari lingkaran R dan kelajuan v, serta memiliki
percepatan sentripetal v
2
/R . Misalkan adalah sudut pusat yang berhadapan dengan
bujur yang dibentuk oleh tali.
R
s A
= u

Gaya-gaya yang bekerja pada segmen adalah tegangan F pada masing-masing
ujung. Komponen horizontal gaya-gaya ini sama dan berlawanan sehingga saling
meniadakan. Komponen vertikal gaya-gaya ini mengarah ke pusat bujur lingkaran.
Jumlah gaya-gaya radial ini memberikan percepatan sentripetal. Gaya radial total yang
bekerja pada segmen adalah

Pada persamaan di atas, kita telah menganggap bahwa cukup kecil untuk
memungkinkan aprolsimasi sin
u
2
1
=
u
2
1
. Jika adalah massa per satuan panjang tali,
massa per satuan panjang tali, massa segmen dengan panjang s= R adalah
u R s m = A =

Dengan menetapkan gaya radial total sama dengan massa kali percepatan
sentripetal, akan dihasilkan
R
v
R F
2
u u =


Dengan meniadakan faktor dan menyelesaikan untuk v, kita akan memperoleh :

F
v =

Karena laju tak bergantung pada R dan , hasil ini berlaku untuk semua segmen tali.
Namun, penurunan bergantung pada dianggap kecilnya sudut , yang akan benar jika
tinggi pulsa kecil dibanding panjangnya, atau, kalau tidak, jika kemiringan tali pada
sembarang titik adalah kecil.
Ketergantungan laju pada F/ tidaklah mengherankan bila kita menyadari
bahwa pada dasarnya teganganlah yang mempercepat elemen - elemen massa dalam tali
untuk menghasilkan pulsa gelombang (Tipler, 1998: 476-478).





u u u F F F F
T
=
|
.
|

\
|
= = E
2
1
2
2
1
sin 2
BAB III
METODELOGI
a. Alat-alat
No Kode Alat Nama Alat Jumlah
1 FAL 25 Audio Generator 1
2 Tali nylon secukupnya
3 Klem meja berpuli 1
4 Beban dan penggantung beban 1 set
5 Klem G 1
6 Penggaris/meteran 1
7 Kabel penghubung merah dan hitam 2 pasang
Pembangkit Getaran 1

b. Persiapan Percobaan

c. Prosedur Percobaan
1) Percobaan melde
a) Susun Alat-alat seperti pada gambar berikut ini (minta instruktur anda
untuk memeriksa rangkaian vibrator (V), audio generator (AG) dan power
supply (PS))
b) Periksa agar katrol Meja benar-benar dapat berputar bebas, gantungkan
beban pada salah satu ujung tali dan hubungkan ujung yang satu lagi ke
batang penggetar vibrator
c) Nyalakan (on)-kan) power supply dan audio generator, atur frekuensi
audio generator sampai pada benang terbentuk gelobang stasioner
d) Catat massa beban, frekuensi audio generator, jumlah simpul dan jumlah
perut pada gelombang stasioner yang terjadi
e) Lakukan langkah c dan d masing-masing 10 kali
1) Untuk frekuensi tetap
2) Massa beban tetap
3) Panjang tali tetap
f) Ukur dan catat panjang dan massa seluruh benang yang digunakan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Data Percobaan
3.2 Tabel pengamatan 1 : Untuk frekuensi tetap= 2 Hz
Percobaan
ke

Massa
Beban
(gram)
Panjang
Tali
(cm)
Jumlah
perut
Jumlah
simpul
1. 100 112 1 2
2. 200 112 1 2
3. 300 112 1 2
4. 400 112 1 2
3.3Tabel Pengamatan 2 : untuk massa beban gantung tetap = 100 gram
Percobaan
ke

Frekuensi
(Hz)
Panjang
Tali
(cm)
Jumlah
perut
Jumlah
simpul
1. 2,5 112 1 2
2. 5 112 2 3
3. 7 112 3 4
4. 9.5 112 4 5
3.4 Analisis Data
Tabel pengamatan 1 : Untuk frekuensi tetap= 2 Hz
Pada percobaan pertama dengan beban 100 gram, perut berjumlah 1 dan
simpul 2, hasil perut dan simpul ini selalu sama untuk masa berbeda yaitu
200, 300, dan 400.
Tabel Pengamatan 2 : untuk massa beban gantung tetap = 100 gram
Pada percobaan dengan massa beban ganung tetap yaitu 100 gram,
- Frekuensi 2,5 Hz di dapatkan jumlah perut 1 dan jumlah simpul 2
- Frekuensi 5 Hz di dapatkan jumlah perut 1 dan jumlah simpul 3
- Frekuensi 7 Hz di dapatkan jumlah perut 1 dan jumlah simpul 4
- Frekuensi 9,5 Hz di dapatkan jumlah perut 1 dan jumlah simpul 5

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
1. Pada percobaan pertama, yaitu dengan frekuensi tetap dan massa berbeda,
dihasilkan jumlah simpul dan perut yang selalu sama, artinya massa beban gantung
tidak mempengaruhi pembentukan simpul dan perut, asal freuensinya tetap.
2. Sedangkan pada percobaan kedua, yaitu dengan mengubah frekuensi, didapatkan
nilai yang berbeda, sehingga kami menarik kesimpulan semakin besar frekuensi
maka semakin banyak perut dan simpul yang terbentuk
4.2 Saran
1. Berhati-hati dan serius dalam setiap melakukan percobaan, agar didapat hasil
yang maksimal.
2. Diharapkan kepada praktikan untuk mengetahui dulu konsep praktikum yang
akan dilaksanakan




DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Gelombang_tali (diakses 3 juni 2010)
http://www.gudangmateri.com/2009/03/gelombang-tali-melde_29.html (diakses 3
Juni 2010)
Halliday & Resnick. 1996. Fisika Jilid 1. Jakarta : Erlangga
Stockley, Corinne dkk. 2007. Kamus Fisika bergambar. Jakarta: Erlangga
Sutrisno. 1984. Fisika Dasar : Gelombang dan Optik. Bandung : ITB
Tipler, Paul A. 1998. Fisika Untuk Sains dan teknik. Jakarta: Erlangga
Young dan Freedman. 2004. Fisika Universitas Edisi 10 Jilid 2. Jakarta: Erlangga