Anda di halaman 1dari 28

ABSORBSI

I. TUJUAN PERCOBAAN
Menentukan penurunan tekanan didalam kolom absorbsi.
Menentukan kelarutan CO
2
didalam air dan NaOH.

II. PERINCIAN KERJA
Menentukan penurunan tekanan aliran gas dengan kolom kering,
Menentukan penurunan tekanan aliran gas dengan kolom basah,
Menentukan jumlah CO
2
yang tidak terserap dalam alat HEMPL.
Menentukan jumlah CO
2
yang terserap dengan metode titrasi.

III. ALAT DAN BAHAN
a. Alat-alat yang digunakan:
Gelas kimia
Erlenmeyar asah
Buret
Labu semprot
Corong kaca
Gelas ukur
Pipet skala
Pipet volume
Bola isap
Seperangkat peralatan absorbsi dengan kolom isian.

b. Bahan yang digunakan:
Indikator PP
NaOH 0,01 N dan 1 N
Gas CO
2

REAKSI : CO
2
+ H
2
O H
2
CO
3

H
2
CO
3
+ NaOH Na
2
CO
3
+ H
2
O
NaOH + CO
2
Na
2
CO
3
+ H
2
O

IV. DASAR TEORI
Absorpsi adalah operasi penyarapan komponen-komponen yang terdapat
didalam gas dengan menggunakan cairan. Suatu alat yang banyak digunakan dalam
absorpsi gas ialah menara isiar. Alat ini terdiri dari sebuah kolom berbentuk silinder
atau menara yang dilengkapi dengan pemasukan gas dan ruang distribusi pada
bagian bawah, pemasukan zat cair pada bagian atas, sedangkan pengeluaran gas dan
zat cair masing-masing diatas dan dibawah, serta suatu zat padat tak aktif (inert)
diatas penyangganya. Yang disebut packing.
Adanya packing (bahan isian) didalam kolom absorpsi akan menyebabkan
terjadinya hambatan terhadap aliran fluida yang melewati kolom. Akibatnya gas
maupun cairan yang melewati akan mengalami pressure drop penurunan tekanan.
Persyaratan pokok yang diperlukan untuk packing :
Harus tidak bereaksi (kimia) dengan fluida didalam menara.
Harus kuat tapi tidak terlalu berat.
Harus mengandung cukup banyak laluan untuk kedua arus tanpa terlalu
banyak zat cair yang terperangkap atau menyebabkan penurunan tekanan
terlalu tinggi.
Harus memungkinkan terjadinya kontak yang memuaskan antara zat cair
dan gas.
Harus tidak terlalu mahal.
Penurunan tekanan akan menjadi besar jika bahan isian yang digunakan tidak
beraturan (random packing). Selain itu, penurunan tekanan juga dipengaruhi oleh
laju alir gas maupun cairan.
Pada laju alir tetap, penurunan tekanan gas sebanding dengan kenaikan laju alir
cairan. Hal ini disebabkan karena ruang antar bahan pengisi yang semula dilewati
gas menjadi lebih banyak dilewati cairan, sehingga akan menyebabkan terjadinya
hold up (cairan yang terikat dalam ruangan ) bertambah. Akibatnya peningkatan laju
alir cairan lebih lanjut akan menyebabkan terjadinya pengumpulan cairan diatas
kolom keadaan ini biasa disebut Flooding (banjir). Titik tejadinya peristiwa disubut
flooding point. Operasi pada keadaan flooding tidak akan menghasilkan perpindahan
massa yang bagus. Perpindahan massa yang optimum, dilakukan pada keadaan
loading point (titik beku kurva). Jika laju alir cairan dipertahankan tetap sedang laju
gas bertambah maka terdapat beberapa kemungkinan yang terjadi :
Terbentuk lapisan cairan yang menyerupai gelembung gas diatas permukaan
packing
Cairan tidak akan mengalir keluar kolom karena adanya tekanan yang besar
dari aliran udara. Akibatnya cairan akan mengisi kolom dari bawah keatas
sehingga terjadi inversi dari gas terdispersi kecairan berubah menjadi cairan
terdispersi kealiran gas.
Hal-hal lain yang berpengaruhi terhadap penurunan tekanan antara lain : bentuk
isian, tinggi isian, susunan dan lain-lain.
Didalam industri, proses ini banyak digunakan antara lain dalam proses
pengambilan amonia yang ada dalam gas kota berasal dari pembakaran batubara
dengan menggunakan air, atau penghilangan H2S yang dikandung dalam gas alam
dengan menggunakan larutan alkali.
Banyak hal yang mempengaruhi absorpsi gas kedalam cairan antara lain :
Temperatur
Tekanan operasi
Konsentrasi komponen dalam cairan
Konsentrasi komponen didalam aliran gas
Luas bidang kontak
Luas waktu kontak
Karena itu dalam operasi harus dipilih kondisi yang tepat sehingga diperoleh
hasil yang maksimal.
Karekteristik suatu cairan dalam menyerap komponen didalam aliran gas
ditunjukkan oleh harga koefisien perpindahan massa antara gas-cairan, yaitu
banyaknya mol gas yang berpindah persatuan luas serta tiap fraksi mol (gram
mol)/(detik) (Cm3) (fraksional)
Untuk menentukan hanya koefisien perpindahan suatu massa suatu kolom
absorpsi dapat digunakan perhitungan berdasarkan neraca massa.
Tinggi koefisien dalam kolom biasa digunakan persamaan:
| |
( )
}

=
Yo
Y
Y Y A a Kog
NxY d
H
1
*
. . .

Y
i
= fraksi mol CO
2
dalam aliran gas masuk.
Y
o
= fraksi mol CO
2
dalam aliran gas keluar.
Y
*
= fraksi mol gas CO
2
yang berada dalam kesetimbangan dengan larutan.
Y = fraksi mol CO
2
didalam larutan.
Persamaan diatas diubah menjadi :
}

=
Yo
Yi
y Y
dY
y
Kog A a H
*
. . .

Ruas kanan persamaan diatas sulit untuk dipecahkan. Karena itu
penentuan kog lebih mudah dipecahkan dengan persamaan :
N = Kog x a.A.H x selisih tekanan
laju absorpsi luas bidang rata-rata logaritma
(mol/detik) transfer massa(m
2
) (atm)

( ) Po Pi
Po
Pi
x
N A a
N
Kog

=
ln
. .

Pi = tekanan partikel gas CO
2
masuk kolom (atm)
Po = tekanan partikel gas CO
2
keluar kolom (atm)
N = jumlah CO
2
yang terserap dengan alat HEMPL
A = luas spesifik packing/ unit volume. Pada percobaan ini dipakai Rasching ring
dengan luas bidang kontak 440 m
2
/m
3
.

A.H = volume kolom berisi packing

Tekanan partikel gas CO
2
= fraksi volume x (tekanan total/ 760) atmosfir.

a. Penentuan kadar CO
2
yang diserap didalam air / NaOH dengan alat
HEMPL.
Misal :
- Laju alir CO
2
F
3
liter/detik
- Laju alir udara F
2
liter/detik
- Volume campuran udara dan CO
2
didalam alat HEMPL V1ml
- Volume CO
2
V=2ml

Fraksi gas CO
2
didalam aliran gas masuk (Y
i
)
( )
1 2
/ V V Yi =

3 2
3
F F
F
+
=
Fraksi gas CO
2
didalam aliran gas keluar (Yo)
|
|
.
|

\
|
=
1
2
V
V
Yo
Jika jumlah CO
2
yang diabsorbsi sepanjang kolom adalah Fa liter/detik.
Neraca massa :
CO
2
masuk CO
2
keluar = CO
2
diabsorbsi
Atau
(F
2
+ F
3
) Y
i
[ F
2
+ ( F
3
+ F
a
) ] Y
o
= Fa

Dengan penurunan secara matematis diperoleh :
Fa
( )( ) ( )
) det / (
1 1
3 2
ik liter asuk xTotalGasM
Yo
Yo Yi
Yo
F F Yo Yi

+
=
Atau
N=
(K) tem.kolom
273
x
760
(mmhg) kolom tek.rata
42 , 22
2
x
Fa
(gmolCO
2
terabsorpsi/ detik)



Catatan :
Pada percobaan ini diasumsikan bahwa laju alir volum air tidak dipengaruhi
oleh penurunan tekanan didalam kolom, dianggap penurunan tekanan yang terjadi
sangat kecil dibandingkan tekanan atmosfir.

b. Penentuan kadar CO
2
yang terabsorbsi dengan metode titrasi.
- Absorpsi CO
2
dengan menggunakan air.
Jika larutan H
2
CO
3
dititrasi dengan larutan NaOH maka reaksi yang
terjadi:
H
2
CO
3
+ NaOH Na
2
CO
3
+ H
2
O

Jika :
Laju alir air = F
1
L/detik
Vol. Larutan NaOH = V
1
ml
Konsentrasi larutan NaOH = C
1
M
Volume Sampel = V
2
ml

Maka konsentrasi CO
2
didalam sampel :
Fa ] [
2
1 1
M
V
xC V
=
Laju rata-rata CO yang terabsorpsi pada suatu periode:

| |
ik mol g
x m n
tem xvolumeSis m t Cd n t Cd
det / .
60 ) (
)] ( ) (

= =
=


- Absorpsi CO
2
dengan menggunakan NaOH
Secara stokiometri reaksi pada proses absorbsi ini :
CO
2
+ 2NaOH Na
2
CO
3
+ H
2
O
Pada proses titrasi tahap pertama reaksi yang terjadi :
2NaOH + Na
2
CO
3
+ 2HCl 2 NaHCO
3
+ 2NaCl + H
2
O
Jika volume sample yang digunakan V
1
ml. Konsentrasi HCl C
g.mol/liter. Indicator yang digunakan phenolphalein
Dalam suasana basa kuat indicator phenolphalein akan berwarna
merah jambu. Jika seluruh NaOH sudah habis bereaksi dengan HCl serta
semua karbonat telah berubah menjadi bikarbonat larutan akan berubah
menjadi tidak berwarna. Misalkan volume HCl yang digunakan untuk titrasi
sampai tahap ini V
2
m. bila dalam larutan ditambahkan indicator metil
orange maka warna larutan akan berubah menjadi kuning. Jika titrasi
dilanjutkan maka pada titik akhir titrasi larutan menjadi tidak berwarna.

Reaksi yang terjadi :
NaHCO
3
+ HCl NaCl + H
2
O + CO
2


Misalkan volume yang digunakan untuk titrasi tahap kedua ini V
2
ml,
maka volume yang digunakan untuk menetralisir bikarbonat = (V
3
V
2
) ml.
pada tabung kedua dimasukkan larutan sample sebanyak (V
3
V
2
) ml lebih
sedikit dan dikocok dengan baik. Endapan yang terbentuk adalah hasil
reaksi antara karbonat dalam sampel dengan larutan barium. Endapan yang
tebentuk adalah barium karbonat yang dari karbonat dalam sample. Jika
larutan diberi beberapa tetes indicator phenolphalein maka larutan akan
berwarna merah jambu.










V. PROSEDUR PENGERJAAN
a. Menentukan penurunan tekanan aliran gas dalam kolom kering
Dikeringkan kolom dan isinya dengan jalan mengalirkan udara kedalam kolom
lewat bagian bawah sehingga semua airnya keluar.
Dialirkan udara dengan laju 70 l/menit (F
2
)
dicatat penurunan tekanan yang terjadi.
Diulangi percobaan dengan laju alir udara 40, 50, 60, 70, 80, 90, dan 100
L/menit.

b. Menentukan penurunan tekanan aliran gas dalam bentuk basah.
Dialirkan udara kedalam kolom dengan laju alir l/menit (F2).
Dialirkan air kedalam kolom dengan laju alir 3 L/menit (F1)
Dicatat penurunan tekanan yang terjadi didalam kolom.
Diulang percobaan dengan menaikkan laju alir udara hingga terjadi flooding.

c. Menentukan jumlah CO
2
yang terserap denan metode titrasi
Dihidupkan pompa dan mengatur laju alir didalam kolom pada 3 L/menit. (F
1
)
Dihidupkan kompresor udara dengan mengtur laju alirnya 70 L /menit (F
2
)
Dibuka dengan hati-hati regulator gas karbon dioksida dan mengatur pada laju
alir 3 L/menit (F
3
)
Diambil 20 ml untuk 0 menit dari tangki yang masuk
Setelah 15 menit, diambil masing-masing 20 ml sampel dari tangki masuk dan
sampel yang keluar dalam erlenmeyer.
Ditambahkan indikator PP kedalam sampel dan menitrasi dengan
menggunakan NaOH 0,01 N hingga berwarna merah muda.
Dicatat volume NaOH 0,01 N yang digunakan
Diulangi dengan selang waktu 15 menit selama 1 jam
Mengubah laju alir gas CO
2



d. Cara menganalisa kadar CO
2
dengan HEMPL
Diisi bola tandom dibagian bawah alat HEMPL dengan larutan NaOH 1N
hingga tanda 0
Dibilas tabung analisa HEMPL dengan jalan menarik piston dan membuang
gas yang telah terisap ke atmosfer dengan volume 100ml (V1)
Ditutup semua saluran kedua atmosfer dan menghisap kembali campuran gas
yang diisap yaitu 100 ml dan menutup saluran dari gas absorpsi
Dikembangkan tekanan didalam tabung dengan udara luar dengan jalan
membuka dan menutup keran saluran buang ke atmosfir mengusahakan agar
permukaan NaOH tetap pada tanda 0.
Dicatat kenaikan volume NaOH 1N setiap 15 menit pada variasi laju alir 3, 4,
dan 5 L/ menit selama masing-masing 1 jam dan dicatat pula perubahan
tekanannya.


















VI. DATA PENGAMATAN :
a) Penentuan penurunan tekanan aliran gas pada dinding kolom kering

No F
2 Udara
(L/m)

AH (cm H
2
O)
1 40 1.45
2 50 1.7
3 60 2
4 70 2.4
5 80 2.7
6 90 3

b) Penentuan penurunan tekanan aliran gas pada kolom dinding basah

No F
2 Udara
(L/m)

AH (cm H
2
O) Keterangan
1 40 2 Belum Flooding
2 50 4 Belum Flooding
3 60 6.5 Belum Flooding
4 70 8 Belum Flooding
5 80 12 Belum Flooding
6 90 31 Flooding


c) Penentuan jumlah CO
2
yang terserap dengan metode titrasi

No.
F
3
CO
2
(L/menit)
Waktu (menit)
Vol. NaOH 0.01N
Air Masuk Air Keluar
1
3

0
0,5 2
2 15
0,45 1,9
3 30
0,6 1,87
4 45
0,5 1,77
5 60
0,4 1,67
1
4

0
0,4 2,5
2 15
0,45 2,4
3 30
0,4 2,34
4 45
0,41 2,23
5 60
0,3 2,12
1
5

0
0,45 3,05
2 15
0,35 2,87
3 30
0,36 2,84
4 45
0,3 2,78
5 60
0,23 2,66


d) Cara menganalisa kadar CO
2
dengan HEMPL

No.
F
3 CO2

(L/menit)
Waktu
(menit)
V
1
(ml) V
2
(ml) AH (cm H
2
O)
1
3
15 100
0.5 17
2 30 100
0.45 16
3 45 100
0.4 15
4 60 100
0.3 12
1
4
15 100
0.9 18
2 30 100
0.7 15
3 45 100
0.5 14
4 60 100
0.3 13
1
5
15 100
0.3 21
2 30 100
0.35 20
3 45 100
0.2 17
4 60 100
0.15 15

VII. PERHITUNGAN
1. Penentuan penurunan tekanan aliran gas pada dinding kolom kering

Q (L/mnt)
P
(cmH2O) P (mmHg) Log P Log Q
40 1,45 1,06617647 0,027829094 1,60205999
50 1,7 1,25 0,096910013 1,69897
60 2 1,47058824 0,167491087 1,77815125
70 2,4 1,76470588 0,246672333 1,84509804
80 2,7 1,98529412 0,297824856 1,90308999
90 3 2,20588235 0,343582346 1,95424251

2. Penentuan penurunan tekanan aliran gas pada dinding kolom basah

Q (L/mnt)
P
(cmH2O) P (mmHg) Log P Log Q
40 2 1,47058824 0,167491087 1,60205999
50 4 2,94117647 0,468521083 1,69897
60 6,5 4,77941176 0,679374448 1,77815125
70 8 5,88235294 0,769551079 1,84509804
80 12 8,82352941 0,945642338 1,90308999
90 31 22,7941176 1,357822785 1,95424251


3. Penentuan kadar CO
2
yang terabsorbsi dengan HEMPL
Dik:
t = 15 menit
Laju alir udara, F
2
= 70 L/min
Laju alir udara, F
1
= 3 L/min
Laju alir CO
2
yang di variasikan (F
3
) = 3, 4, 5 L/min
Volume campuran CO
2
, V
1
= 100 mL

Fraksi gas CO
2
dalam campuran udara yang masuk dalam absorben
Y
i
=
3 2
3
F F
F
+


- Y
i

1
=
min / ) 3 70 (
min / 3
L
L
+

Y
i

1
= 0,041
- Y
i 2
=
min / ) 4 70 (
min / 4
L
L
+

Y
i

2
= 0,054
- Y
i

3
=
min / ) 5 70 (
min / 5
L
L
+

Y
i

3
= 0,067

Fraksi gas CO
2
di dalam aliran keluar
Untuk Q= 3 L/menit
Pada t = 15 menit
Y0 =


YO =



Dengan menggunakan cara yang sama maka di peroleh data sebagai berikut:
No.
F
3

(L/menit)
Waktu
(menit)
V1 (ml) V2 (ml) Y
i
Y
0
AH (cmH
2
O)
1.
3
15 100
0.5
0,041
0.005 17
2. 30 100
0.45 0.0045 16
3. 45 100
0.4 0.004 15
4. 60 100
0.3 0.003 12
1
4
15 100
0.9
0.054
0.009 18
2 30 100
0.7 0.007 15
3 45 100
0.5 0.005 14
4 60 100
0.3 0.003 13
1
5
15 100
0.3
0.067
0.003 21
2 30 100
0.35 0.0035 20
3 45 100
0.2 0.002 17
4 60 100
0.15 0.0015 15

CO
2
yang diserap sepanjang kolom (Fa)
Neraca Massa:
CO
2
Masuk CO
2
Keluar = CO
2
diabsorbsi
Fa =
Yo
F F Yo Yi

+
1
) ( ) (
3 2


Untuk q = 3 L/min pada saat t = 15 menit
Fa =
ik
menit
x
m l m l
det 60
1
005 , 0 1
) / 3 / 70 )( 005 , 0 041 , 0 (

+

= 0,0441 L/s

Dengan cara yang sama, di peroleh data sebagai berikut untuk laju alir 3, 4 dan 5 L/min:
No. F
3
(L/menit) Waktu (menit) Fa (liter/ detik)
1.
3
15
0.0441374
2. 30
0.0447263
3. 45
0.0453146
4. 60
0.0464895
1.
4
15
0.0560713
2. 30
0.0584424

3. 45
0.060804

4. 60
0.0631561

1.
5
15
0.0798228

2. 30
0.0792357

3. 45
0.0809953

4. 60
0.0815807



Tekanan rata-rata kolom (P)
P masuk = 760 mmHg
P keluar pada F
3
CO
2
3 L/min, t = 15 menit
P
Hg
=
Hg
O H O H P


2 2
.

=
cmHg
mmHg
x
Hg cm g
O H cm g x O cmH
1
10
/ 6 , 13
/ 1 17
3
2
3
2

= 12,5 mmHg

P rata-rata =
( )



Dengan cara yang sama, di peroleh data sebagai berikut untuk laju alir 3, 4 dan 5 L/min:
No.
F
3

(L/menit)
Waktu
(menit)
H (cmH2O) P Hg (mmHg)
P rata rata
(mmHg)
1.
3
15
17 12.5 766.25
2. 30
16 11.76470588 765.882353
3. 45
15 11.02941176 765.514706
4. 60
12 8.823529412 764.411765
1.
4
15
18 13.23529412 766.617647
2. 30
15 11.02941176 765.514706
3. 45
14 10.29411765 765.147059
4. 60
13 9.558823529 764.779412
1.
5
15
21 15.44117647 767.720588
2. 30
20 14.70588235 767.352941
3. 45
17 12.5 766.25
4. 60
15 11.02941176 765.514706


Laju penyerapan CO
2
(N)
( )
(

A
=
kolom Temperatur
K
x
mmHg
mmHg
x
mol L
Fa
Ga
273
760
P
/ 42 . 22


Untuk F3 = 3 liter/menit, Waktu 15 menit

( )
s mol
K
K
x
mmHg
mmHg
x
L mol
s L
Ga / 0.001788
273 30
273
760
766.25
/ 42 . 22
/ 0.0441
=
(

+
(

=



Dengan cara yang sama, di peroleh data sebagai berikut untuk laju alir 3, 4 dan 5 L/min:

No. F
3
(L/menit) Waktu (menit)
Ga (mol/detik)
1.
3
15
0.00178833
2. 30
0.001825233
3. 45
0.00184748
4. 60
0.001889958
1.
4
15
0.002292573
2. 30
0.002382704
3. 45
0.002476622
4. 60
0.002569971
1.
5
15
0.003273005
2. 30
0.003245849
3. 45
0.003308486
4. 60
0.003326053


Laju penyerapan CO
2
rata-rata
Untuk F
3
CO
2
= 3 L/min, Ga =
4
det / 007351001 , 0 gmol

= 0.00183775 gmol/detik

Untuk F
3
CO
2
= 4 L/min, Ga =
4
det / 9 0,00972186 gmol

= 0.002430467 gmol/detik

Untuk F
3
CO
2

= 5 L/min, Ga =
4
det / 3 0.01315339 gmol

= 0.003288348 gmol/detik


4. Penentuan kadar CO
2
yang terabsorbsi dengan Metode Titrasi
Diketahui : t = 0
Laju alir air ( F1) = 3 liter/menit
Konsetrasi NaOH = 0,01 M
Volume NaOH (sampel masuk) = 0,5 ml
Volume NaOH (sampel keluar) = 2 ml
Volume sample(V2) = 20 ml

Konsentrasi CO
2
didalam sampel pada aliran masuk
Cd =
2
1 1
V
C V
X





Konsentrasi CO
2
didalam sampel pada aliran keluar
Cd =
2
1 1
V
C V
X





Dengan cara yang sama untuk data data data yang lain diperoleh:

No.
F
3
CO
2
(L/menit)
Waktu
(menit)
V1 Masuk
(ml)
Cd
Masuk
(mol/L)
V1 Kaluar
(ml)
Cd
Keluar
(mol/L0
1
3
0
0.5 0.00025 2 0.001
2 15
0.45 0.000225 1.9 0.00095
3 30
0.6 0.0003 1.87 0.000935
4 45
0.5 0.00025 1.77 0.000885
5 60
0.4 0.0002 1.67 0.000835
1
4
0
0.4 0.0002 2.5 0.00125
2 15
0.45 0.000225 2.4 0.0012
3 30
0.4 0.0002 2.34 0.00117
4 45
0.41 0.000205 2.23 0.001115
5 60
0.3 0.00015 2.12 0.00106
1
5
0
0.45 0.000225 3.05 0.001525
2 15
0.35 0.000175 2.87 0.001435
3 30
0.36 0.00018 2.84 0.00142
4 45
0.3 0.00015 2.78 0.00139
5 60
0.23 0.000115 2.66 0.00133


CO
2
pada aliran masuk dan keluar = F
3
dan Cd
Untuk F
1
= 3 liter /menit, t = 0 menit
CO
2
pada aliran masuk = 3 liter/menit x 0.00025 mol/liter x 1 menit /60 detik
= 0,0000125 mol/detik
CO
2
pada aliran keluar = 3 liter/menit x 0.001 mol/liter x 1 menit /60 detik

=
0,00005 mol/detik


Dengan cara yang sama untuk data data data yang lain diperoleh:
No.
F
3
(L/menit)
Waktu
(menit)
CO
2
pada aliran masuk
( mol/detik )
CO
2
pada aliran keluar
( mol/detik )
1
3
0
0.0000125 0.00005
2 15
0.00001125 0.0000475
3 30
0.000015 0.00004675
4 45
0.0000125 0.00004425
5 60
0.00001 0.00004175
1
4
0
0.00001 0.0000625
2 15
0.00001125 0.00006
3 30
0.00001 0.0000585
4 45
0.00001025 0.00005575
5 60
0.0000075 0.000053
1
5
0
0.00001125 0.00007625
2 15
0.00000875 0.00007175
3 30
0.000009 0.000071
4 45
0.0000075 0.0000695
5 60
0.00000575 0.0000665

Laju absorbsi CO
2
( Ga )
Ga = F
1
(Cd keluar - Cd masuk )

Untuk F
1
= 3 liter / menit pada t = 0
Ga = 3 liter / menit x ( ) ik menit x
liter
mol
det 60 / 1 00025 . 0 0.001
= 0,0000375 mol/detik

Dengan cara yang sama untuk data yang lain diperoleh sebagai berikut :



















Laju absorbsi (Ga) rata-rata
Untuk F3 = 3 L/menit, Ga = 0.0000338 mol / detik
Untuk F3 = 4 L/menit, Ga = 0.00004815 mol / detik
Untuk F3 = 5 L/menit, Ga = 0.00006255 mol / detik







No. F
3
(L/menit) Waktu (menit) Ga ( mol / detik )
1
3
0
0.0000375
2 15
0.00003625
3 30
0.00003175
4 45
0.00003175
5 60
0.00003175
1
4
0
0.0000525
2 15
0.00004875
3 30
0.0000485
4 45
0.0000455
5 60
0.0000455
1
5
0
0.000065
2 15
0.000063
3 30
0.000062
4 45
0.000062
5 60
0.00006075
VIII. PEMBAHASAN
Praktikum kali ini adalah Absorbsi, yang merupakan salah satu operasi
pemisahan dalam industri kimia dimana suatu campuran gas dikontakkan dengan
suatu cairan penyerap yang sesuai, sehingga satu atau lebih komponen dalam
campuran gas larut dalam cairan penyerap. Dalam praktikum ini, digunakan gas CO
2
sebagai absorbat dan larutan NaOH 0,1 N sebagai absorben. Praktikum ini terdiri
atas dua tahap yaitu mempelajari karekteristik fisik dan mempelajari karekteristik
kimia proses absorbsi.
Absorbsi yang dilakukan menggunakan larutan NaOH 0,1 N yang dialirkan
kedalam kolom dengan spray dan dengan kolom yang dilengkapi dengan packing. Ini
bertujuan untuk memperluas permukaan kontak antara NaOH dengan CO
2
. Sehingga
didapatkan proses absorbsi yang optimal. NaOH mengalir dari bagian atas kolom,
sedangkan gas CO
2
mengalir dari bagian bawah kolom. Dimana diketahui bahwa
NaOH mempunyai berat jenis yang lebih besar dari gas CO
2.
Serta sifat alami bahwa
cairan akan mudah mengalir kebawah akibat gravitasi bumi. Sedangkan gas yang
akan bergerak ke atas seperti menguap. Aliran ini ditujukan agar kontak dapat terjadi
antara cairan dan gas.
Konsep percobaan ini yaitu mengenai perbedaan tekanan udara sepanjang
kolom isian basah dengan laju alir air. Kolom isian basah merupakan kolom yang
dialiri air dan udara. Prinsipnya kontak antara air dan udara yang terjadi dikolom di
mana air dialirkan dari kolom bagian atas, sedangkan gas dari kolom bagian bawah
(counter current). Akan terjadi kontak antara air dan udara didalam kolom yang dapat
menimbulkan penurunan tekanan.
Alat yang digunakan dalam absorbsi gas adalah menara isian. Alat ini terdiri
dari sebuah kolom berbentuk silinder atau menara yang dilengkapi dengan
pemasukan gas dan ruang distribusi pada bagian bawah, pemasukan zat cair pada
bagian atas dan pengeluaran gas dan zat cair masing-masing diatas dan dibawah, serta
suatu zat padat tak aktif (inert) diatas penyangganya yang disebut packing. Adanya
packing (bahan isian) didalam kolom absorbsi akan menyebabkan terjadinya
hambatan terhadap aliran fluida yang melewati kolom. Akibatnya gas atau cairan
yang melewati akan mengalami pressure drop atau penurunan tekanan. Jika bahan
isian yang digunakan tidak beraturan maka penurunan tekanan akan semakin besar.


Grafik 1. Hubungan antara Pressure Drop Udara dengan Laju Alir pada kolom kering



Grafik 2. Hubungan antara Pressure Drop Udara dengan Laju Alir pada kolom basah

y = 0.9214x - 1.459
R = 0.9947
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
0.3
0.35
0.4
0 0.5 1 1.5 2 2.5
L
o
g

P

(
m
m
H
g
)

Log Q (L/menit)
Log P vs Log Q pada Laju Alir Udara
Kolom Kering
y = 3.0112x - 4.6794
R = 0.9428
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
1.6
0 0.5 1 1.5 2 2.5
L
o
g

P

(
m
m
H
g
)

Log Q (L/menit)
Log P vs Log Q pada Laju Alir Udara
Kolom Basah
Kolom Basah
Linear (Kolom Basah)
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan terlihat dalam grafik hubungan antara
Log Q dan Log AP baik dalam kolom kering maupun dalam kolom basah dengan Qair
= 3 L/min berbanding lurus, berarti dalam hal ini semakin besar laju alir maka
semakin besar perbedaan tekanan gas yang dihasilkan. Hal ini disebabkan karena
ruang antar bahan pengisi yang semula dilewati gas menjadi lebih banyak dilewati
cairan, sehingga akan menyebabkan terjadinya hold up (cairan yang terikat dalam
ruangan ) bertambah. Akibatnya peningkatan laju alir cairan lebih lanjut akan
menyebabkan terjadinya pengumpulan cairan diatas kolom. Selain itu kenaikan beda
tekanan pada kolom basah lebih besar di bandingkan dengan tekanan yang terjadi
pada kolom kering. Pada kolom basah ini terjadi karena disebabkan adanya pengaruh
tekanan yang berasal dari air yang di alirkan ke dalam kolom absorpsi sehingga
memungkinkan lebih besarnya tekanan yang dihasilkan dibandingkan pada kolom
kering.
Flooding point, yaitu pengumpulan cairan diatas kolom yang dapat disebabkan
oleh laju alir gas terlalu besar dan prinsip kolom yang berlawanan terjadi pada saat
q=90 L/menit. Operasi pada flooding point tidak akan menghasilkan perpindahan
massa yang bagus. Sehingga untuk F2 yang ditentukan pada saat percobaan adalah =
70 L/menit. Selain itu, kemungkinan besar tidak adanya ruang laluan untuk zat cair
sehingga lajunya terhambat dan akhirnya tidak menghasilkan perpindahan massa
yang optimum.
Selain itu kenaikan beda tekanan pada kolom basah lebih besar di bandingkan
dengan tekanan yang terjadi pada karakteristik kolom kering. Pada kolom basah ini
terjadi di sebabkan adanya pengaruh tekanan yang berasal dari air yang di alirkan ke
dalam kolom absorpsi sehingga memungkinkan lebih besarnya tekanan yang
dihasilkan dibandingkan pada kolom kering.


Grafik 3. Hubungan antara Waktu dengan Ga untuk HEMPL


Grafik 4. Hubungan antara Waktu dengan Ga untuk titrasi

Pada grafik Ga vs waktu baik untuk HEMPL maupun untuk titrasi terlihat garis
yang tidak linier (naik-turun), dimana dalam teori hal ini sangat berbeda. Seharusnya
nilai Ga semakin besar dengan bertambahnya waktu karena telah terjadi kontak antara
CO
2
dengan air dan semakin lamanya waktu kontak antara keduanya akan
0
0.0005
0.001
0.0015
0.002
0.0025
0.003
0.0035
0 10 20 30 40 50 60 70
G
A
(
g
m
o
l
/
s
)

Waktu(menit)
Waktu Vs Ga untuk HEMPL
3
4
5
0
0.00001
0.00002
0.00003
0.00004
0.00005
0.00006
0.00007
0 10 20 30 40 50 60 70
G
a

(
g
m
o
l
/
s
)

Waktu (menit)
Waktu Vs Ga untuk titrasi
3
4
5
menghasilkan serapan/ absorpsi yang lebih besar. Seperti yang kita ketahui, jika lama
waktu kontak akan mempengaruhi absorbsi gas ke dalam cairan. Selama interval
waktu operasi, konsentrasi NaOH akan bertambah sebanding mol CO
2
yang
diabsorpsi, dan konsentrasi Na
2
CO
3
berkurang dua kali mol CO
2
yang terabsorbsi,
dan tekanan gas yang tinggal di dalam tabung HEMPL berkurang. Akibatnya, NaOH
yang berada di dalam labu naik ke dalam saluran(V2) karena CO
2
belum bereaksi
dengan NaOH sehingga di peroleh nilai Ga yang naik-turun.
Pada keadaan yang seharusnya terdapat hubungan linear antara data laju absorpsi
CO
2
dengan bertambahnya waktu karena semakin lamanya waktu kontak antara
keduanya akan menghasilkan serapan/ absorpsi yang lebih besar. Seperti yang kita
ketahui, jika lama waktu kontak akan mempengaruhi absorbsi gas ke dalam cairan.
Namun kenyataannya, grafik yang dihasilkan mengalami tidak linear melainkan
cenderung konstan di bagian tengah .
Dari Hasil perhitungan laju absorpsi CO
2
yang diperoleh dengan metode HEMPL
tidak sama dengan laju yng diperoleh dengan metode titrasi. Dengan demikian pada
praktikum absorpsi ini masih banyak terdapat kesalahan.



Grafik 5. Hubungan antara F3 dengan N pada Laju Penyerapan CO
2
(Ga)

y = 0.0003x - 0.0003
R = 0.7837
0
0.0002
0.0004
0.0006
0.0008
0.001
0.0012
0.0014
0.0016
0 2 4 6
G
a

(
m
o
l
/
d
e
t
i
k
)

F3 (Liter/menit)
F3 VS N pada Laju Penyerapan CO2 (Ga)
HEMPL
Linear (HEMPL)

Grafik 6. Hubungan antara F3 dengan N pada Laju Absorbsi CO
2


Pada hubungan antara F3 dengan N pada laju penyerapan CO
2
terlihat nilai N
yang semakin besar dengan bertambahnya laju alir CO
2
, hal ini tidak sesuai dengan
teori. Seharunya semakin tinggi laju alir udara maka semakin kecil laju absorpsi CO
2
,
karena laju alir udara yang semakin tinggi maka transfer massa udara ke air akan
semakin sedikit karena waktu tinggal ataupun waktu kontak akan semakin cepat
sehingga komponen yang terabsorpsi ke air semakin sedikit.
Pada grafik di atas terlihat dari laju alir udara 3 l/menit ke laju alir 5 l/menit
mengalami peningkatan laju absorpsi CO
2
, seharusnya berbanding terbalik karena
dimana semakin tinggi laju alir udara maka transfer massa udara ke air akan semakin
sedikit karena waktu tinggal ataupun waktu kontak akan semakin cepat sehingga
komponen yang terabsorpsi ke air semakin sedikit. Dengan demikian pada percobaan
penentuan laju absorpsi CO
2
dengan metode titrasi terdapat penyimpangan. Adapun
faktor faktor penyebab dari penyimpangan ini antara lain:
- Pengambilan sampel dilakukan pada kondisi operasi yang belum tunak.
- Pengambilan sampel keluar dan masuk tidak dilakukan secara bersamaan.
- Kesalahan paralaks dalam penentuan larutan telah netral saat ditiritasi.
- Kesalahan paralaks dalam membaca skala kolom titrasi.
- Kesalahan paralaks dalam membuat larutan yakni dalam menentukan
jumlah air yang dibutuhkan untuk melarutkan NaOH.
y = 1E-05x - 8E-06
R = 0.9988
0
0.00001
0.00002
0.00003
0.00004
0.00005
0.00006
0.00007
0 1 2 3 4 5 6
N

(
G
a
)

(
m
o
l
/
d
e
t
i
k
)

F3 (liter/menit)
Hubungan antara F3 vs N pada laju absorbsi CO2
Titrasi
Linear (Titrasi)
IX. KESIMPULAN
Laju alir udara sebanding dengan perbedaan tekanan. Semakin besar laju alir
maka semakin besar pula perbedaan tekanannya, jadi perubahan laju alir udara
mempengaruhi beda tekanan yang dihasilkan dimana keduanya berbanding lurus.
Pada kolom kering, penurunan tekanan (P) sebanding dengan peningkatan laju
alir udara. Sedangkan, pada kolom basah (air dan udara dialirkan secara counter-
current), penurunan tekanan (P) sebanding dengan peningkatan laju alir udara.
Semakin lama waktu kontak antara cairan dan gas CO
2
maka gas CO
2
yang
terserap juga semakin besar.
Dengan bertambahnya laju alir air, maka flooding semakin cepat terjadi.





DAFTAR PUSTAKA

Petunjuk praktikum. Satuan Operasi Teknik Kimia. PEDC. Bandung
Mc-Cabe. Terjemahan : E. Jasifi . Operasi Teknik Kimia. Jilid 2. Erlangga. 1990
http://www.scribd.com/doc/56617279/Absorbsi-baru
http://alexschemistry.blogspot.com/2013/03/laporan-operasi-teknik-kimia-
absorbsi.html









Laboratorium Satuan Operasi II
Semester V 2012/2013

LAPORAN PRAKTIKUM
ABSORPSI
















Pembimbing : Ir. Barlian H.S.,MT
Tgl. Praktikum : 7 Oktober 2013

Nama : Winona T. E. Lappy
Nim : 331 11 025
Kelas : 3B



JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
2013