Anda di halaman 1dari 11

Bab

PENYELIDIKAN TANAH

II

2.1.

UMUM Laporan ini mencakup hasil analisa pemboran, pengujian DCP dan test pit dan pengujian Laboratorium. Hasil pemeriksaan ditunjukkan dengan profile tanah, nilai CBR dengan kedalaman, sifat tanah dari pengujian Laboratorium. Penyelidikan tanah pada lokasi jembatan non lintas paket 17 terdiri atas : Pante Pirak, 3 titik bor dalam (inti) total kedalaman 85 m, pengujian SPT dan pengambilan contoh tanah tidak terganggu 9 tabung Lambaro, 6 titik bor dalam (inti) total kedalaman 224 m, pengujian SPT dan pengambilan contoh tanah tidak terganggu 15 tabung; 4 titik DCP dan 2 sumuran uji (test pit) September September

Pemboran di Pante Pirak berlangsung antara 25 sampai dengan 8 Oktober 2007, di Lambaro 28 sampai dengan 31 Oktober 2007.

Laporan selengkapnya hasil penyelidikan tanah tercantum pada 2.2. Laporan Penyelidikan Tanah Jembatan Pante Pirak no.01.007.001.0K November 2007 Laporan Penyelidikan Tanah Jembatan Lambaro no.01.021.001.0K2 November 2007

PENGEBORAN TANAH 2.2.1. Metode Penyelidikan Metode penyelidikan berdasarkan kepada standar Bina Marga yaitu Manual Pemeriksaan Bahan Jalan no. 01/MN/BM/76 atau AASHTO atau ASTM. Pemboran inti (core) secara menerus. Inti yang terambil diperiksa jenis tanah dan kedalaman selanjutnya disimpan pada kotak kayu dan diberi label yang jelas setiap 5 meter. Standard Penetration Test (SPT) dilakukan dengan interval 2 meter kedalaman. SPT dilakukan dengan tumbukan palu

berat 63,5 kg dan tinggi jatuh 76 cm sesuai dengan Standard AASHTO T.206 74. Pengambilan sampel tanah tidak terganggu dengan tabung berdinding tipis pada lapisan tanah yang berbeda sesuai Standard AASHTO T.207 74. Tabung berisi sampel tidak terganggu segera ditutup dengan lilin pada kedua ujungnya supaya kadar air tanah tidak berubah. Selanjutnya sampel tanah tersebut diuji dilaboratorium untuk mengetahui sifat fisik dan mekanik tanah. 2.2.2. Hasil penyelidikan Hasil pemeriksaan tanah dari lubang-lubang bor kemudian digambarkan dalam profil tanah dari setiap lokasi jembatan tersebut dalam bentuk stratigrafi yang akan dibahas dibawah ini. a. Pante Pirak Terdiri atas selang-seling lempung, lempung lanau dan pasir halus sampai pasir kerikil. Terdapat endapan pasir dengan pecahan cangkang kerang pada lokasi pilar dan abutment arah Utara pada kedalaman 15 meter dengan ketebalan kurang lebih 2 meter. Dibawah lapisan pasir kerang tersebut terletak lapisan dukung (bearing layer) yang terdiri atas pasir halus padat sangat padat. Lapisan dukung terletak pada kedalaman 17 meter pada abutment Utara dan 28 meter pada sisi Selatan (arah mesjid Baiturrahman). Profil tanah tercantum pada gambar 2-1. 2-2. b. Lambaro Pada lokasi kedua abutment jembatan lempung dan lempung kelanauan terdapat mulai dari permukaan tanah sampai kedalaman 27 30 meter. Sedangkan pada alur sungainya lapisan lempung hanya sampai kedalaman 10 meter. Dibawah lapisan lanau lempung terdapat lapisan pasir halus sampai kasar atau pasir kelanauan yang merupakan lapisan dukung pada kedalaman 23 40 meter. Stratigrafi tanah Lambaro tercantum pada gambar. 2.3 2.5 2.3. PENGUJIAN CBR DAN SUMURAN UJI 2.3.1. Pengujian CBR dengan alat DCP sampai kedalaman 1,0 m pada jalan masuk jembatan Lambaro. Alat DCP terdiri atas palu geser berat 10 kg dan tinggi jatuh 46,0 cm. Palu geser akan bergerak jatuh pada batang baja diameter 16 mm dan memukul landasan konus terbuat

dari baja dengan diameter terbesar 20 mm dengan sudut 600 disambung dengan pipa baja diameter 16 mm dengan panjang minim 700 mm. Nilai CBR diperoleh dari tabel hubungan penetrasi dan CBR dan digambarkan dengan grafik kedalaman dan CBR. Lokasi dan hasil pengujian adalah sebagai berikut DCP 1-2 dilakukan pada tanah asli disamping badan jalan pada arah ke Blangbintang dan DCP 3-4 pada arah kota Banda Aceh. Hasil pemeriksaan CBR adalah sebagia berikut, DCP.1, CBR pada umumnya 15-55. Terdapat pada tanah lunak dengan CBR = 1 tebal 10 cm pada kedalaman 55 65 cm dan CBR = 2 pada kedalaman 65 75 cm. DCP.2, tanah lunak dengan CBR = 1 pada kedalaman 15 30 cm, rata-rata CBR 7. DCP.3 CBR rata-rata 15 dan minimum 5. DCP.4 CBR > 20 dengan CBR minimum 6 Hasil DCP tercantum pada gambar 3.1 3.6 Tanah lunak pada permukaan sampai 10 30 cm dibawahnya dapat diperbaiki dengan mengganti dengan tanah baru yang baik. Sedangkan bila posisi lapisan lunak agak dalam yang diperbaiki sistem drainasenya. Kemungkinan akan terjadi settlement yang dapat diperbaiki secara berkala lapisan atasnya. 2.3.2. Sumuran Uji Dua sumuran uji dibuat dibahu jalan. Hasil sumuran uji menunjukkan kedalaman 50 - 100 cm adalah lempung dan lempung lanau dengan indeks plastis + 15%, dmax = 1,3 gr/cc dan kadar air optimum 28%. 2.4. PENGUJIAN DI LABORATORIUM Pengujian di Laboratorium dilakukan terhadap sampel tanah tidak terganggu dan sampel lainnya. Pengujian meliputi identifikasi sifat tanah dan mekanik yaitu: o o o o o o o o Kadar air tanah PB 117 76 / ASTM D 2216 Analisa saringan PB 0201 76 / ASTM D 421 Berat jenis PB 0108 76 / ASTM D 854 Atterberg limit PB 0109 76 / ASTM D 423 Konsolidasi PB 0115 76 / ASTM D 2435 Triaxial AASHTO T 226 68 Direct Shear AASHTO T 236 72 Unconfined Compression ASTM D 2166 - 91 92 85 92 66

Hasil pengujian tercantum pada Tabel 2.1. dan 2.2.

2.5.

DAYA DUKUNG TIANG 2.5.1. Lapisan dukung (bearing layer) sebagaimana dibahas pada bab diatas terdiri atas pasir halus sedang, pasir kelanauan, padat sangat padat. Daya dukung tiang pancang pada lapisan pasir dihitung dengan rumus Meyerhof sebagai berikut, Qult = 40 N Ap + N . As.L 5 Yaitu, Qult daya dukung ultimate tiang (ton) Qa daya dukung idzin N SPT pada ujung tiang N SPT rata-rata sepanjang tiang yang tertanam friksi = N 5 Ap luas penampang ujung tiang (m2) As keliling tiang (m) L panjang tiang tertanam dalam tanah (m) Qult Qa = 2,5 ton

2.5.2.

Efisiensi kelompok tiang * Los Angeles Group (LAS) Eff LAS = 1 1) xSxmxn d x m (n-1) + n (m-1)+ 2(m-1)(n-

AASHTO (n-1)m + (m-1)n (m x n)

Eff ASO = 1 x 900 Keterangan :

d, diameter tiang S, jarak tiang dalam baris d = arc tg s m, jumlah tiang pada baris melintang n, jumlah tiang pada baris memanjang Untuk d = 0.50 m S = 1.35 m = 20.323 m=2 n =6 m=4 n =5 Ef LAS = 0.812 Ef LAS = 0.788 Ef ASO = 0.70 Ef ASO = 0.65

Hasil perhitungan untuk Jembatan Pante Pirak dan Lambaro tercantum pada tabel 2.3. 2.4.

2.6.

KESIMPULAN 1. Adanya selang seling lapisan lempung lanau dan kerikil tanah didaerah penyelidikan termasuk dalam satuan geologi aluvial

2. 3.

Lapisan dukung (bearing layer) adalah pasir dan pasir kelanauan Pondasi tiang pancang pada jembatan Pante Pirak dengan panjang 23 31 m dengan daya dukung idzin tiang diameter 50 cm 70 100 ton Pada jembatan Lambaro panjang tiang 26 40 m untuk yang berdiameter 50 cm daya dukung 60 110 ton

4.

Tanah lanau pada Pante Pirak bersifat sangat lunak lunak, dengan rata- rata qu = 0,16 kg/cm 2; sudut geser 60 dan kohesi 0,20 kg/cm2 5. Tanah lanau lempung pada Lambaro sangat lunak lunak, dengan rata-rata qu = 0,15 kg/cm2, sudut geser 50 dan kohesi 0,16 0,33 kg/cm2. 6. Tanah dasar pada jalan masuk jembatan pada kedalaman 1,0 m menunjukkan dmax = 1,31 gr/cc pada kadar air optimum 28%.