Anda di halaman 1dari 14

Borang Portofolio dr. Hafis Herdiman dr. Quamila Fahrizani Afdi RSUD H.

Damanhuri

No. ID dan Nama Peserta : No. ID dan Nama Wahana : Topik :

Dengue Hemoragic Fever (DHF) 10 Februari 2012 Tn. M.I.K 12 Februari 2012 No. RM : Pendamping : 03.53.27 dr. Aan Widhi Anningrum dr. Darmanto S

Tanggal (kasus) : Nama Pasien : Tanggal Presentasi : Tempat Presentasi : Objektif Presentasi : Keilmuan Diagnostik Neonatus Deskripsi : Tujuan : Bahan Bahasan : Cara Membahas : Bayi

Ruang Komite Medik RSUD H. Damanhuri Keterampilan Manajemen Anak Remaja Penyegaran Masalah Dewasa Tinjauan Pustaka Istimewa Lansia Bumil

Laki-laki, usia 19 tahun, demam tinggi, mual, muntah, nyeri kepala, nyeri pada persendian, nyeri ulu hati, rumple leed (+) Menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan Dengue Haemorrhagic Fever Tinjauan Pustaka Diskusi Riset Kasus E-mail Audit Pos

Presentasi dan Diskusi

Data Pasien :

Nama : Tn. M.I.K. Telp :

No. Registrasi : Terdaftar sejak : 10 Februari 2013

Nama Klinik : RSUD H. Damanhuri Data Utama untuk Bahan Diskusi :

1. Diagnosis / Gambaran Klinis : DHF grade I, demam tinggi, mual, muntah, nyeri kepala, nyeri ulu hati, nyeri pada persendian, rumple leed +, trombositopenia, peningkatan hematokrit

2. Riwayat Pengobatan : Parasetamol

3. Riwayat Kesehatan / Penyakit : Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya 4. Riwayat Keluarga/ Lingkungan : anak ketiga dari 3 orang bersaudara, tinggal di pondok pesantren. Tidak ada anggota keluarga / teman se pondok pesantren yang menderita sakit seperti ini.

5. Riwayat Pekerjaan : -

6. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik : Pasien tinggal di pondok pesantren.

7. Lain-lain : Rumple leed (+) Hb: 14,7 gr/dL Hematokrit: 48% Trombosit: 135.000/mm3 Leukosit : 6000/ mm3

Daftar Pustaka :

Mansjoer Arif, Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ke 3. Jakarta : Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2000. Chen Khie, Pohan Herdiman, Sinto Robert. Diagnosis dan Terapi Cairan pada Demam Berdarah Dengue. Medicinus 2009 ; 22 : 3-8. Pedoman Tata Laksana DBD. Dinkes Sulawesi Selatan. Diunduh dari: www.dinkessulsel.go.id Pada tanggal: 10 Februari 2013.

Hasil Pembelajaran : 1. Diagnosis DHF 2. Tata laksana pasien DHF dan mengatasi kegawatannya

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio 1. Subjektif : Demam sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, demam tinggi, terus-menerus, tidak berkeringat, tidak menggigil. Demam tidak disertai kejang. Sakit perut 2 hari sebelum masuk RS, terutama di ulu hati. Sakit kepala dirasakan sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Mual dan muntah 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Muntah 5x, sebanyak gelas, berisi apa yang dimakan. Muntah tidak menyemprot. Sesak nafas tidak ada. Batuk pilek tidak ada. Nafsu makan turun semenjak sakit. Buang air kecil terakhir 1 jam yang lalu, jumlah dan warna biasa. Buang air besar konsistensi dan warna biasa Pasien hanya meminum paracetamol di pondok pesantren. Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik : tinggal di pondok pesantren. Tidak ada anggota keluarga / teman se pondok pesantren yang menderita sakit seperti ini.

2. Objektif : Vital sign Keadaan umum : sakit sedang Kesadaran : CMC/ GCS: E4M6V5

Tekanan Darah : 110/70 mmHg Frekuensi Nadi : 72 x/menit, teraba kuat angkat Frekuensi Nafas : 20 x /menit Suhu : 39,6o C

Sianosis (-), pucat (-), ikterik (-)

Pemeriksaan sistemik Kulit : teraba hangat, petekie positif dengan rumple leed

Mulut : bibir dan mukosa mulut basah Tenggorokan : tonsil T1-T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis Dada : jantung dan paru dalam batas normal Abdomen : I : distensi tidak Ada

Au : bising usus (+) normal Per : timpani Pa : supel, nyeri tekan + di epigastrium Ekstremitas : akral hangat, refilling kapiler baik Pemeriksaan Laboratorium : Hb : 14,7 g/dl

Hematokrit : 48 % Eritrosit Leukosit : 5,42 juta/ mm3 : 6.000/ mm3

Trombosit : 135.000/mm3

3. Assesment (penalaran klinis) : DHF adalah infeksi demam akut yang disebabkan oleh 4 serotype virus, termasuk genus Flavirus disebut virus dengue. Merupakan virus yang paling banyak menginfeksi manusia dengan penyebaran diseluruh dunia pada daerah tropis dan hangat, dimana iklim sesuai dengan vector yang utama yaitu aedes aegypti. Demam dengue ditandai dengan demam yang tidak spesifik. Di Indonesia didapatkan bahwa virus terbanyak adalah serotype 3 lalu disusul dengan 2, dimana serotype 3 memberikan gejala klinis dan komplikasi paling berat. Merupakan penyakit demam akut yang ditandai dengan demam yang tinggi, uji tourniquet positif, manifestasi perdarahan lain berupa petekie, ekimosis, purpura, perdarahan mukosa, hematemesis atau melena, hepatomegali, trombositopenia, hemokonsentrasi dan

perembesan plasma. Bila kriteria diatas disertai manifestasi kegagalan sirkulasi berupa nadi lemah dan cepat, tekanan nadi menurun (< 20mmHg), hipotensi (sesuai umur), kulit dingin dan lembab, dan pasien tampak gelisah maka disebut sebagai DSS.

Tiga keadaan utama patofisiologi yang terjadi : 1. aktivasi sisten komplemen sehingga dikeluarkan zat anafilaktik yang menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah ekstravasasi plasma darah ke extra vaskuler kekurangan volume plasma darah hipovolemia bisa menjadi shock 2. 3. Agregasi trombosit yang menyebabkan trombositopenia keadaan homeostatic yang tidak normal akibat dari gangguan vaskuler karena kerusakan endotel pembuluh darah yang menyebabkan aktivasi system pembekuan darah kelainan koagulasi

Manifestasi Klinis Demam Dengue Gejala klasik dari demam dengue ialah gejala demam tinggi mendadak, kadang-kadang bifasik (saddle back fever), nyeri kepala berat, nyeri belakang bola mata, nyeri otot, tulang, atau sendi, mual, muntah, dan timbulnya ruam. Ruam berbentuk makulopapular yang bisa timbul pada awal penyakit (1-2 hari ) kemudian menghilang tanpa bekas dan selanjutnya timbul ruam merah halus pada hari ke-6 atau ke7 terutama di daerah kaki, telapak kaki dan tangan. Selain itu, dapat juga ditemukan petekia. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan leukopeni kadang-kadang dijumpai trombositopeni. Masa penyembuhan dapat disertai rasa lesu yang berkepanjangan, terutama pada dewasa. Pada keadaan wabah telah dilaporkan adanya demam dengue yang disertai dengan perdarahan seperti : epistaksis, perdarahan gusi, perdarahan saluran cerna, hematuri, dan menoragi. Demam Dengue (DD). yang disertai dengan perdarahan harus dibedakan dengan Demam Berdarah Dengue (DBD). Pada penderita Demam Dengue tidak dijumpai kebocoran plasma sedangkan pada penderita DBD dijumpai kebocoran plasma yang dibuktikan dengan adanya hemokonsentrasi, pleural efusi dan asites.

Demam Berdarah Dengue (DBD) Bentuk klasik dari DBD ditandai dengan demam tinggi, mendadak 2-7 hari, disertai dengan

muka kemerahan. Keluhan seperti anoreksia, sakit kepala, nyeri otot, tulang, sendi, mual, dan muntah sering ditemukan. Beberapa penderita mengeluh nyeri menelan dengan farings hiperemis ditemukan pada pemeriksaan, namun jarang ditemukan batuk pilek. Biasanya ditemukan juga nyeri perut dirasakan di epigastrium dan dibawah tulang iga. Demam tinggi dapat menimbulkan kejang demam terutama pada bayi. Bentuk perdarahan yang paling sering adalah uji tourniquet (Rumple leede) positif, kulit mudah memar dan perdarahan pada bekas suntikan intravena atau pada bekas pengambilan darah. Kebanyakan kasus, petekia halus ditemukan tersebar di daerah ekstremitas, aksila, wajah, dan palatumole, yang biasanya ditemukan pada fase awal dari demam. Epistaksis dan perdarahan gusi lebih jarang ditemukan, perdarahan saluran cerna ringan dapat ditemukan pada fase demam. Hati biasanya membesar dengan variasi dari just palpable sampai 2-4 cm di bawah arcus costae kanan. Sekalipun pembesaran hati tidak berhubungan dengan berat ringannya penyakit namun pembesar hati lebih sering ditemukan pada penderita dengan syok. Masa kritis dari penyakit terjadi pada akhir fase demam, pada saat ini terjadi penurunan suhu yang tiba-tiba yang sering disertai dengan gangguan sirkulasi yang bervariasi dalam berat-ringannya. Pada kasus dengan gangguan sirkulasi ringan perubahan yang terjadi minimal dan sementara, pada kasus berat penderita dapat mengalami syok.

Laboratorium Trombositopeni dan hemokonsentrasi merupakan kelainan yang selalu ditemukan pada DBD. Penurunan jumlah trombosit < 100.000/pl biasa ditemukan pada hari ke-3 sampai ke-8 sakit, sering terjadi sebelum atau bersamaan dengan perubahan nilai hematokrit. Hemokonsentrasi yang disebabkan oleh kebocoran plasma dinilai dari peningkatan nilai hematokrit. Penurunan nilai trombosit yang disertai atau segera disusul dengan peningkatan -nilai hematokrit sangat unik untuk DBD, kedua hal tersebut biasanya terjadi pada saat suhu turun atau sebelum syok terjadi. Perlu diketahui bahwa nilai hematokrit dapat dipengaruhi oleh pemberian cairan atau oleh perdarahan. Jumlah leukosit bisa menurun (leukopenia) atau leukositosis, limfositosis relatif dengan limfosit atipik sering ditemukan pada saat sebelum suhu turun atau syok. Hipoproteinemi akibat kebocoran plasma biasa ditemukan. Adanya fibrinolisis dan ganggungan koagulasi tampak pada pengurangan fibrinogen, protrombin, faktor VIII, faktor XII, dan antitrombin III. PTT dan PT memanjang pada sepertiga sampai setengah kasus DBD. Fungsi trombosit juga terganggu. Asidosis metabolik dan peningkatan BUN ditemukan pada syok berat. Pada pemeriksaan radiologis bisa ditemukan efusi pleura, terutama sebelah

kanan. Berat-ringannya efusi pleura berhubungan dengan berat-ringannya penyakit. Pada pasien yang mengalami syok, efusi pleura dapat ditemukan bilateral.

Sindrom Syok Dengue (SSD) Syok biasa terjadi pada saat atau segera setelah suhu turun, antara hari ke 3 sampai hari sakit ke-7. Pasien mula-mula terlihat letargi atau gelisah kemudian jatuh ke dalam syok yang ditandai dengan kulit dingin-lembab, sianosis sekitar mulut, nadi cepat-lemah, tekanan nadi < 20 mmHg dan hipotensi. Kebanyakan pasien masih tetap sadar sekalipun sudah mendekati stadium akhir. Dengan diagnosis dini dan penggantian cairan adekuat, syok biasanya teratasi dengan segera, namun bila terlambat diketahui atau pengobatan tidak adekuat, syok dapat menjadi syok berat dengan berbagai penyulitnya seperti asidosis metabolik, perdarahan hebat saluran cerna, sehingga memperburuk prognosis. Pada masa penyembuhan yang biasanya terjadi dalam 2-3 hari, kadang-kadang ditemukan sinus bradikardi atau aritmia, dan timbul ruam pada kulit. Tanda prognostik baik apabila pengeluaran urin cukup dan kembalinya nafsu makan. Penyulit SSD : penyulit lain dari SSD adalah infeksi (pneumonia, sepsis, flebitis) dan terlalu banyak cairan (over hidrasi), manifestasi klinik infeksi virus yang tidak lazim seperti ensefalopati dan gagal hati.

Diagnosis DHF (WHO 1997) 1. Demam akut 2-7 hari, bersifat bifasik. 2. Terdapat minimal 1 manifestasi perdarahan yang biasanya berupa : uji tourniquet positif petekia, ekimosis, atau purpura Perdarahan mukosa, saluran cerna, dan tempat bekas suntikan Hematemesis atau melena

3. Trombositopenia < 100.00/ml 4. Terdapat minimal 1 tanda kebocoran plasma yang ditandai dengan Peningkatan nilai hematrokrit > 20 % dari nilai baku sesuai umur dan jenis kelamin. Penurunan nilai hematokrit > 20 % setelah pemberian cairan yang adekuat Nilai Ht normal diasumsikan sesuai nilai setelah pemberian cairan. Efusi pleura, asites, hipoproteinemi

SSD Definisi kasus DBD ditambah gangguan sirkulasi yang ditandai dengan : Nadi cepat, lemah, tekanan nadi < 20 mmHg, perfusi perifer menurun Hipotensi, kulit dingin-lembab, dan anak tampak gelisah.

Derajat spektrum klinis DHF dibagi sebagai berikut (WHO 1997) 1. Derajat I (ringan) : manifestasi perdarahan teringan yaitu uji rumple leed positif, 2. Derajat II (sedang) : ditemukan perdarahan spontan dengan kebocoran plasma (peningkatan hematokrit) 3. Derajat III (berat) : terjadi saat suhu menurun antara hari ke-3 sampai ke-7, pasien mulai gelisah, terdapat tanda-tanda renjatan dini. 4. Derajat IV (sangat berat) DSS: tanda syok yang berat (nadi tidak terba dan tekanan darah tidak terukur)

Tatalaksana Pada dasarnya terapi DBD adalah bersifat suportif dan simtomatis. Penatalaksanaan ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran plasma dan memberikan terapi substistusi komponen darah bilamana diperlukan. Dalam pemberian terapi cairan,hal

terpenting yang perlu diperhatikan adalah pemantauan baik secara klinis maupun secara laboratoris. Terapi nonfarmakologis meliputi: tirah baring dan pemberian makanan dengan gizi yang cukup, lunak dan tidak mengandung zat atau bumbu yang mengiritasi pencernaan. Protokol pemberian cairan sebagai komponen utama penatalaksanaan DHF dewasa mengikuti 5 protokol, mengacu pada protokol WHO. Lima kategori tersebut yaitu: 1. Penanganan tersangka DHF 2. Pemberian cairan pada tersangka DHF diruang rawat 3. Penatalaksanaan DHF dengan peningkatan hematokrit >20% 4. Penatalaksanaan perdarahan spontan pada DHF dewasa 5. Tatalaksana sindrom syok dengue pada dewasa

Penanganan tersangka DHF :

Pemberian cairan pada tersangka DHF diruang rawat:

Dengan volume cairan kristaloid per hari yang diperlukan : (Pan American Health Organization: Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever: Guidelines for Prevention and Control. PAHO: Washington, DC, 1994: 67)

1500 + 20 x (BB dalam kg -20)

Penatalaksanaan DHF dengan peningkatan hematokrit >20%

Penatalaksanaan perdarahan spontan pada DHF dewasa

Tatalaksana SSD pada dewasa

Pasien dapat dipulangkan apabila : 1. Keadaan umum /kesadaran dan hemodinamik baik, serta tidak demam 2. Pada umumnya Hb, Ht dan jumlah trombosit dalam batas normal serta stabil dalam 24 jam, tetapi dalam beberapa keadaan, walaupun jumlah trombosit belum mencapai normal (diatas 50.000) pasien sudah dapat dipulangkan. 3. Apabila pasien dipulangkan sebelum hari ketujuh sejak masa sakitnya atau trombosit belum dalam batas normal, maka diminta kontrol ke poiliklinik dalam waktu 1x24 jam atau bila kemudian keadaan umum kembali memburuk agar segera dibawa ke UGD kembali.

4. Plan : Diagnosis : Observasi febris hari ke II susp. DHF grade I Pengobatan : IVFD RL 25 gtt/menit makrodrip + drip neurobion 1 amp/24 jam Inj ranitidin 1 amp/ 12 jam Inj ondansetron 1 amp/ 8jam Paracetamol tablet 500 mg 3-4 x 1 Vitamin C 2 x 1 tab Banyak minum

Rencana Pemeriksaan Selanjutnya : Pemeriksaan Hb, Ht, Trombosit pada hari ke II rawatan Kontrol Vital Sign per 8 jam Awasi tanda tanda perdarahan spontan

Pendidikan : Kepada orangtua/ pengasuh pondok pesantren dijelaskan mengenai penyakit ini dan cara mencegahnya. Apabila ada anggota keluarga/ santri yang menunjukkan gejala demam dengan adanya tanda kebocoran cairan segera bawa ke rumah sakit. Pencegahan pada penyakit ini sangat penting karena faktor resiko penyakit ini adalah faktor lingkungan dimana keluarga/ lingkungan pondok pesantren harus menjaga kebersihan lingkungan dengan cara 3M (menguras bak, menutup tempat

penampungan air, menimbun barang-barang bekas yang dapat menjadi sumber jentik nyamuk) yang merupakan faktor kunci meningkatnya kasus ini. Konsultasi : Perlu dilakukan konsultasi kepada spesialis penyakit dalam apabila terdapat tanda-tanda kebocoran plasma dan tanda-tanda syok yang dapat mengancam jiwa.