Anda di halaman 1dari 14

IV-2

Lebar jenjang timbunan dirancang untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan pemadatan diatasnya dan tidak mengganggu kegiatan pengangkutan material timbunan. Analisis kemantapan lereng timbunan dilakukan dengan menggunakan metode analisis Bishops. Hasil analisis kemantapan lereng timbunan menunjukkan faktor keamanan dari lereng keseluruhan yang dirancang adalah FK = 1,43 yang berarti lereng timbunan berada dalam kondisi yang aman. Perhitungan ada pada lampiran C. Karena dalam perhitungan kemantapan lereng timbunan digunakan nilai terendah dari parameter geoteknik material, dengan teknis penimbunan dan pemadatan yang baik, maka dapat diharapkan material timbunan memiliki karakteristik geoteknik yang lebih baik dari nilai terendah tersebut, yang berarti faktor keamanan yang dicapai dapat meningkat. Apabila tidak dilakukan pemadatan dengan baik maka diharapkan nilai faktor keamanan lereng masih dalam kondisi aman. Kemiringan lereng secara keseluruhan < 200 ini selain pertimbangan dari hasil perhitungan juga dimaksudkan untuk memudahkan operasional alat-alat mekanis dalam melakukan pemadatan dan spreading top soil di daerah lereng inpit dump. Selain itu cukup landainya lereng agar run of water cukup lambat yang bertujuan untuk mengurangi erosi yang disebabkan oleh run of water diatas lokasi eks back filling di eks pit Arjuna. Geometri lereng timbunan ditunjukan pada gambar 4. 1.

180

GAMBAR 4.1 DIMENSI LERENG KESELURUHAN

IV-3

IV. 2 Lokasi Back filling Mengingat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara mengenai reklamasi dan pascatambang. Penjelasan lebih rinci mengenai Undang-Undang ini dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 78 tentang reklamasi dan pascatambang. Eks pit Arjuna di PT Putra Muba Coal diakhir penambangan meninggalkan lubang bukaan bekas tambang. Lubang ini berpotensi menimbulkan dampak negatif lingkungan jangka panjang. Analisis mengenai dampak lingkungan yang dimiliki oleh setiap perusahaan pertambangan batubara, ditekankan bahwa lubang-lubang bukaan bekas tambang harus ditutup melalui kegiatan reklamasi dan revegetasi lahan. Peraturan mengenai reklamasi dan pascatambang yang meliputi penimbunan kembali overburden ke lubang bukaan bekas tambang dengan metode back filling dari setiap perusahaan pertambangan dibuat berdasarkan hasil dari konsultasi dengan instansi Pemerintah, instansi Pemerintah provinsi dan/atau instansi pemerintah kabupaten/kota yang membidangi pertambangan mineral dan batubara, instansi terkait lainnya, dan masyarakat. Berdasarkan prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pertambangan salah satunya back filling harus memuat penjaminan terhadap stabilitas dan keamanan timbunan di daerah bekas tambang (back filling) dan juga pemanfaatan lahan bekas tambang ini sesuai dengan peruntukannya. Pascatambang di pit Arjuan akan diperuntukan sebagai lahan bercocok tanam kembali. Jadi penjaminan terhadap keamanan lereng timbunan menjadi faktor yang sangat penting. PT Putra Muba Coal memiliki 1 buah Waste Dump Area (WDA) yang diluar pit tempat yang gunanya untuk menampung overburden dari boxcut periode penggalian tahun pertama dan tahun kedua. Dari hasil perhitungan kemantapan lereng di lokasi rencana penambangan, maka harus disesuaikan dengan aplikasi design tambang yang akan direncanakan. Untuk perencanaan timbunan yang akan diaplikasikan, maka perlu juga diperhatikan faktor air

IV-4

tanah karena hal ini akan mempengaruhi faktor saturasi dari material yang ada, sehingga nilai tekanan air pori akan bertambah, yang dapat mengurangi kekuatan material pembentuk teras dan mengurangi stabilitas lereng. Berdasarkan hasil perhitungan kemantapan lereng timbunan maka dapat disimpulkan bahwa keseluruhan adalah : tinggi H = 24 m, dan sudut lereng 180, sedangkan lereng tunggal timbunan adalah tinggi H = 8 m, dan sudut lereng 200 dengan faktor keamanan FK = 1,43. Penimbunan yang dilakukan bertahap dengan pemberian berm setelah penimbunan pada tahap awal dan kemudian baru dilakukan penimbunan tahap selanjutnya. Berdasarkan pertimbangan ekonomis dan lingkungan yang dilakukan PT Putra Muba Coal maka kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup akan menerapkan metode back filling, artinya material hasil penggalian dari suatu area penambangan, diisikan kembali pada area yang telah ditambang. Penerapan metode back filling sekaligus diintegrasikan dengan program reklamasi tambang. Hal ini akan memberikan keuntungan, karena akan mereduksi jarak angkut overburden dan biaya reklamasi tambang dari daerah tersebut. Pada tahap awal lapisan batuan penutup yang telah dibongkar akan dipindahkan ditempat penimbunan di luar tambang. Tahap selanjutnya akan ditimbun dilubang bekas tambang (inpit dump). Dengan menggunakan metode penimbunan di area bekas tambang serta pengaturan elevasi dan bentuk timbunan yang mendekati kondisi aslinya, diharapkan tidak terjadi perubahan topografi atau bentang alam yang signifikan akibat dari kegiatan penambangan tersebut. Material overburden ditempatkan kembali untuk mengisi lubang bekas tambang melalui metode back filling dan pada penggalian awal yang ditempatkan di tempat penimbunan di luar lubang galian tambang. Penerapan metode back filling sekaligus terintegrasi dengan program reklamasi tambang. Tahap akhir dari metode back filling ini adalah menutupnya dengan lapisan tanah pucuk pada bagian atasnya kemudian segera diikuti dengan kegiatan revegetasi terutama pada lahan-lahan yang tidak akan dimanfaatkan lagi untuk kegiatan selanjutnya.

IV-5

Sesuai dengan Peraturan Menteri Energi Dan Sumberdaya Mineral Nomor 18 Tahun 2008 tentang Reklamasi dan Penutupan Tambang maka kegiatan reklamasi wajib dilaksanakan paling lambat satu bulan setelah tidak ada kegiatan pada lahan yang terganggu. Pada tahun pertama operasi penambangan, pemindahan tanah akan diarahkan ke Waste Dump Area sedangkan pada tahun-tahun selanjutnya, pemindahan tanah akan dilakukan secara back filling kearah bekas tambang yang sudah diambil batubaranya. Sketsa tambang PT Putra Muba Coal dapat dilihat pada dibawah ini (gambar 4. 2).
U

SKETSA TAMBANG PT PUTRA MUBA COAL

LEGEND

: VOID PIT : WDA

: ROADS : LOADING

(Sumber : PT . Putra Muba Coal, 2012)

GAMBAR 4. 2 SKETSA TAMBANG PT PUTRA MUBA COAL

IV-6

Pit Arjuna terletak berdampingan dengan pit Nakula dan pada saat penelitian dilakukan hanya pit Nakula yang masih aktif melakukan penambangan batubara. Eks Pit Arjuna pada akhir penambangannya menyisakan lubang bukaan, lubang bukaan ini yang sesuai ketentuan peraturan harus ditutup kembali. Tujuan utamannya adalah mengurangi lubang bukaan bekas tambang di eks Pit Arjuna. Selain dari itu, alasan pemilihan eks pit Arjuna dijadikan sebagai inpit dump adalah jarak antara eks pit Arjuna dan pit Nakula yang lebih dekat jika dibandingkan dengan jarak ke waste dump area. Jarak dari loading point ke eks pit Arjuna adalah 1,07 km sedangkan ke Waste Dump Area adalah 1,3 km. Inpit dump di eks pit Arjuna ini diharapkan perubahan topografi di eks pit Arjuan tidak akan terlalu signifikan dibandingkan dengan topografi awal saat sebelum dilakukan penambangan. Berikut aktifitas inpit dump di eks pit Arjuna (gambar 4. 3).

(Sumber : PT . Putra Muba Coal, 2012)

GAMBAR 4. 3

AKTIFITAS INPIT DUMP DI EKS PIT ARJUNA IV. 2. 1 Rancangan Design Back filling Lokasi back filling berbatasan langsung dengan perkebunan masyarakat dan daerah rawa. Penambangan didaerah tersebut

IV-7

mengakibatkan berkurang luas rawa sehingga volume air yang dapat ditampung oleh rawa tersebut menjadi berkurang. Pembuatan design harus mempertimbangkan faktor air yang berada di daerah rawa jika terjadi curah hujan cukup tinggi tidak menggenangi perkebunan masyarkat tersebut. Perencanan final design inpit dump di eks pit Arjuna harus melalui beberapa proses pertimbangan teknis yaitu dari keamanan lereng timbunan, jumlah overburden yang akan ditimbun di lubang bukaan bekas penambangan eks pit Arjuna dan juga jarak antara tempat loading point pengupasan overburden dengan tempat penimbunan inpit dump. Langkah-langkah pembuatan design Back filling dengan menggunakan Software Minescape 4.118 adalah sebagai berikut : 1. Penyiapan base topografi (gambar 4. 4) dari lokasi yang akan dilakukan back filling. Elevasi terendah topografi di Pit Arjuna ini adalah 12 m. Garis berwarna putih menunjukan boundary dari design inpit dump eks pit Arjuna.

boundar y

GAMBAR 4. 4 TOPOGRAFI PIT ARJUNA 2. Setelah pembuatan boundary maka langkah selanjutnya adalah pembuatan geometri bench (gambar 4. 5). Geometri bench ini merupakan penggambaran dari hasil perhitungan kemantapan lereng dengan tinggi bench 8 m, lebar bench 5 cm, dan single slope 200. Untuk pembuatan tinggi dan slope bench adalah klik

IV-8

Draw > Project. Kotak input elevasi dan projection angle diberi nilai 20, ini menerangkan polygon boundary akan diproyeksikan pada elevasi 20 m dengan sudut 200. Sedangkan untuk pembuatan lebar bench klik Draw > Offset, isikan 5 pada tex box offset normal yang menunjukan lebar bench 5 m. Klik Project dan offset hingga mencapai ketinggian yang direkomendasikan berdasarkan data geoteknik.

GAMBAR 4. 5 GEOMETRI BENCH DESIGN INPIT DUMP 3. Langkah selanjutnya adalah pembuatan triangle dari topografi dan design back filling (gambar 4. 6). Pembuatan triangle ini diperlukan untuk perhitungan volume dari design yang telah dibuat. Langkah pembuatan Triangle klik Model > Triangle > Design. Kotak input dan output untuk pemilihan dan pembuatan layer baru. Pada gambar dibawah ini warna biru menunjukan topografi dan rainbow menunjukan design back filling.

GAMBAR 4. 6perhitungan volume 4. Pada langkah yang keempat ini adalah tahap TRIANGLE DESIGN

IV-9

dari design (gambar 4. 7). Langkahnya klik Reserves > Triangle Volumes, kemudian menentukan layer yang akan dijadikan sebagai bottom yaitu topografi dan top yaitu design back filling. Setelah semua diisi maka klik OK.

GAMBAR 4. 7 LANGKAH PERHITUNGAN VOLUME 5. Untuk melihat berapa volume dari design adalah dengan mengklik Minescape Explorer > Table Files > Generic > pilih nama yang menjadi inisial yang telah dibuat (gambar 4. 8).

GAMBAR 4. 8 OUTPUT VOLUME Berdasarkan perhitungan keamanan lereng timbunan maka dihasilkan sebuah design back fillng dengan luas 19,46 ha dan

IV-10

kapasitas timbunan untuk overburden sebesar 3.032.498,44 ccm (gambar 4. 9). Tahap selanjutnya dalam pembuatan perencanaan back filling di eks pit Arjuna adalah pembuatan sequence. Sequence ini sangat penting karena akan mempermudah pengontrolan sampai ke final design back filling eks pit Arjuna. Perencanaan sequence di eks pit Arjuna dibagi menjadi empat sequence dan dimulai dari bawah keatas.
U

Skala 1 : 3000 GAMBAR 4. 9 FINAL BACK FILLING EKS PIT ARJUNA Sequence I penimbunan di eks pit Arjuna dimulai dari elevasi 12 m ke 20 m dengan menimbun hampir setengah dari luas area pada elevasi 12 m. Sequence I memiliki kapasitas timbunan overburden

IV-11

sebesar 702.919,96 ccm. Berikut bentuk gambar dari sequence I back filling di eks pit Arjuna (gambar 4. 10).

Skala 1 : 3000 GAMBAR 4. 10 SEQUENCE I BACK FILLING EKS PIT ARJUNA Setelah sequence I selesai maka tahap selanjutnya adalah sequence II. Sequence II ini melanjutkan dari sequence I yaitu pembuatan plate pada elevasi 20 m dan juga membuat timbunan ke elevasi 28 m yang memiliki kapasitas timbuan material sebesar 1.569.167,80 ccm. Berikut bentuk gambar dari sequence II back filling di eks pit Arjuna (gambar 4. 11).

IV-12

Skala 1 : 3000 GAMBAR 4. 11 SEQUENCE II BACK FILLING EKS PIT ARJUNA Selanjutnya sequence III memiliki kapasitas volume timbunan overburden sebesar 2.304.445,10 ccm. Dengan membuat plate elevasi 28 m dan sebagian elevasi 36 m. Berikut design dari sequence III back filling di eks pit Arjuna pada gambar 4.12. Sequence terakhir yaitu sequence IV yang merupakan design final dari back filling di eks pit Arjuna memiliki kapasitas 3.032.498,44 ccm yang dimulai pada elevasi 12 m 36 m.

IV-13

Skala 1 : 3000 GAMBAR 4. 12 SEQUENCE III BACK FILLING EKS PIT ARJUNA Berikut penyajian secara tabel sequence dan volume dari tiaptiap masing sequence. Volume material memiliki satuan compacted cubic meter yang berarti material telah dilakukan pemadatan dengan menggunakan alat compactor. Volume back filling dapat dilihat pada tabel IV. 2.

TABEL IV. 1 VOLUME OVERBURDEN BACK FILLING ELEVASI SEQUENCE LUAS VOLUME (Meter) BACK FILLING (ha) OVEBURDEN(ccm) I II III IV 19,46 19,46 19,46 19,46 20 28 36 36 702.919,19 1.569.167,80 2.304.445,10 3.032.498,44

WAKTU Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV

IV-14

Selain pertimbangan mengenai keamanan lereng timbunan inpit dump, pola aliran air di lokasi back filling eks pit Arjuna juga harus diperhatikan. Pola aliran air ini menjadi sangat penting karena lokasi back filling eks pit arjuna berbatasan langsung dengan perkebunan karet dan kelapa sawit warga sekitar. Terdapat sebuah cekungan rawa diantar lokasi timbunan back filling dengan perkebunan warga. Daerah rawa ini tidak mengalir karena aliran air yang sebelumnya ada telah tertutup akibat aktivitas pertambangan. Pencegahan pertama yang dilakukan untuk menguranginya adalah dengan pembuatan parit diantara lokasi timbunan tambang dengan perkebunan masyarakat namun sewaktu curah hujan tinggi pencegahan tersebut tidak bisa berfungsi banyak karena ada beberapa pohon karet maupun pohon sawit dibagian terluar yang dekat dengan tambang terendam air. Pembuatan saluran air di lokasi back filling eks pit Arjuna dimaksudkan untuk mengalirkan air permukaan menuju ke mian sump di pit Nakula. Hal ini terintegrasi dengan perencanaan penyaliran tambang dalam penangan air yang berada area tambang dan daerah sekitar sehingga terhindar dari genangan air tersebut. Pola aliran air permukaan dapat dilihat pada gambar 4. 13.

IV-15

GAMBAR 4. 13 POLA ALIRAN AIR DI LOKASI BACK FILLING EKS PIT ARJUNA Keterangan tanda panah : : aliran air dari cacthment area Back filling : saluran air : aliran air permukaan dari tanah yang belum dibebaskan : aliran air dari Rawa