Anda di halaman 1dari 20

PRESENTASI KASUS

glaucoma absolut oculo dextra sinistra

Disusun Oleh : Rizki Anjar Pinanggih 110.2002.248 FK YARSI

Pembimbing : Dr. Donny Aldian, Sp.M

DEPARTEMEN MATA RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO JAKARTA 2008

STATUS PASIEN ILMU PENYAKIT MATA RSPAD GATOT SOEBROTO JAKARTA


Nama NIM Fak. Kedokteran I. : Rizki Anjar Pinanggih : 110.2002.248 : Yarsi

IDENTITAS Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Pekerjaan Agama : Ny. S : 70 tahun : Perempuan : Jagakarsa Jakarta Selatan : Ibu Rumah Tangga : Islam

II.

ANAMNESIS Dilakukan secara autoanamnesis dan alloanamnesis dengan anak pasien pada tanggal 15 Juli 2008 Keluhan Utama : Mata Kanan tidak dapat melihat sejak 1 tahun yang lalu dan mata kiri tidak dapat melihat sejak 4 bulan yang lalu tanpa disertai mata merah. Keluhan tambahan : Kedua mata sering pusing sebelah. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke Poli Mata RSPAD dengan keluhan penglihatan kedua mata tidak dapat melihat. Mata kanan dirasakan tidak dapat melihat sejak 1 tahun yang lalu dan mata kiri dirasakan tidak dapat melihat sejak 4 bulan yang lalu tanpa disertai mata merah. Pasien mengaku mula-mula yang dirasakannya adalah kedua penglihatannya menjadi kabur dan menurun secara perlahanlahan karena didiamkan akhirnya kedua mata tersebut tidak dapat melihat sama sekali yang didahului oleh mata kanan. Dahulu pasien mengaku bila berjalan pasien sering tersandung-sandung. Pasien juga sering merasakan merasakan pegal dan kepala

pegal di daerah mata dan kepala pusing sebelah namun tidak disertai mual dan muntah. Lebih dari 5 tahun yang lalu pasien merasakan melihat seperti kabut, tetapi pasien tidak pernah memeriksakan ke dokter. Pasien mengaku selama ini tidak pernah menggunakan kacamata. Pasien mengaku mempunyai riwayat hipertensi dan penyakit gula. Riwayat pemakaian obat malaria dan TBC disangkal oleh pasien. Riwayat Penyakit Dahulu : - Hipertensi - DM - Trauma Mata : ada : ada sejak tahun 2004 : tidak pernah : Tidak ada anggota keluarganya yang

Riwayat Penyakit Keluarga

menderita sakit seperti yang dialami pasien. III. PEMERIKSAAN FISIK A. Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Tanda vital Kepala Mata THT Thorak Abdomen Ekstremitas KGB : tampak sakit sedang : compos mentis : TD: 140/90 mmHg RR: 20x/menit Nadi: 82x/menit Suhu: afebris

: mesochepal, rambut beruban, distribusi merata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikhterik : tidak diperiksa : tidak diperiksa : tidak diperiksa : akral hangat : tidak ada pembesaran

B. Status Oftalmologikus 1. Keterangan Visus Okulo Dextra Okulo Sinistra Nol Tidak dapat dikoreksi Tidak ada Tidak ada Tidak ada Baik ke semua arah Hitam Simetris Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada 10 mm Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

- Tajam penglihatan Nol - Koreksi Tidak dapat dikoreksi - Addisi - Distansia pupil - Kacamata lama 2. Kedudukan Bola Mata - Eksoftalmus - Endohtalmus - Deviasi - Gerakan bola mata 3. Super Silia Tidak ada Tidak ada Tidak ada Baik ke semua arah

- Warna Hitam - Letak Simetris 4. Palpebra Superior dan Inferior - Edema Tidak ada - Nyeri tekan Tidak ada - Ektropion Tidak ada - Entropion Tidak ada - Blefarospasme Tidak ada - Trikiasis Tidak ada - Sikatriks Tidak ada -Fissura palpebra 10 mm - Ptosis Tidak ada - Hordeulum Tidak ada - Kalazion Tidak ada - Pseudoptosis Tidak ada 5. Konjungtiva Tarsalis Superion dan Inferior - Hiperemis - Folikel - Papil - Sikatrik - Anamia - Kemosis 6. Konjungtiva Bulbi - Injeksi konjungtiva - Injeksi siliar - Injeksi subkonjungtiva - Pterigium - Pinguekula - Nervus pigmentosus Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

- Kista dermoid 7. Sistem Lakrimalis

Tidak ada

Tidak ada

- Punctum lakrimalis - Tes Anel 8. Sklera - Warna - Ikterik 9. Kornea - Kejernihan - Permukaan - Ukuran - Sensibilitas - Infiltrat - Ulkus - Perforasi - Arkus senilis - Edema - Tes Placido 10. Bilik Mata Depan - Kedalaman - Kejernihan - Hifema - Hipopion - Efek Tyndall 11. Iris - Warna - Kripte - Bentuk - Sinekia - Koloboma 12. Pupil - Letak - Bentuk - Ukuran - Reflek cahaya langsung - Reflek cahaya tak langsung 13. Lensa - Kejernihan - Letak - Shadow Test 14. Badan Kaca - Kejernihan 15. Fundus Okuli

Terbuka Tidak dilakukan Putih Tidak ada Keruh Licin 12 mm Baik Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada Tidak dilakukan Dangkal Jernih Tidak ada Tidak ada Tidak dilakukan Coklat kehitaman Jelas Bulat Tidak ada Tidak ada Di tengah Bulat lebar Sulit diukur Positif Positif Keruh Ditengah Negatif Tidak dapat dinilai

Terbuka Tidak dilakukan Putih Tidak ada Keruh Licin 12 mm Baik Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada Tidak dilakukan Dangkal Jernih Tidak ada Tidak ada Tidak dilakukan Coklat kehitaman Jelas Bulat Tidak ada Tidak ada Di tengah Bulat lebar Sulit diukur Positif Positif Keruh Ditengah Negatif Tidak dapat dinilai

a. Papil - Bentuk - Batas - Warna b. Makula Lutea - Refleks - Edema c. Retina - Perdarahan - CD ratio - Rasio A/V - Sikatrik 16. Palpasi - Nyeri tekan - Masa tumor - Tensi okuli - Tonometri Schiotz 17. Kampus Visi - Tes Konfrontasi

Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Tidak ada Tidak ada Normal/palpasi Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Tidak ada Tidak ada Normal/palpasi Tidak dilakukan Tidak dilakukan

IV.

RESUME Pasien perempuan berusia 70 th dengan keluhan kedua mata tidak dapat melihat tanpa disertai mata merah, keluhan kedua mata tidak dapat melihat dirasakan perlahan-lahan. Terdapat juga keluhan rasa pegal di daerah mata dan kepala pusing sebelah namun tidak disertai mual dan muntah. Lebih dari 5 tahun yang lalu pasien juga merasakan melihat seperti kabut. Pasien mempunyai riwayat hipertensi dan penyakit gula. Status Generalis Status Oftalmologikus Keterangan Okulo Dextra Nol Keruh Ada Dangkal Keruh Okulo Sinistra Nol Keruh Ada Dangkal Keruh : Tekanan darah 140/90 mmHg

Visus Tajam penglihatan Kornea Kejernihan Edema Bilik Mata Depan Kedalaman Lensa Kejernihan

Fundus Okuli Papil Makula lutea Retina Palpasi Tonometri Schiotz Kampus Visi Tes Konfrontasi Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Tidak dilakukan Tidak dilakukan Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Tidak dilakukan Tidak dilakukan

V.

DIAGNOSIS KERJA - OD : Glaukoma Absolut - OS : Glaukoma Absolut

VI. VII.

DIAGNOSIS BANDING PEMERIKSAAN ANJURAN - Tonometri - Genioskopi

VIII.

PENATALAKSANAAN - Medikamentosa: - Menghambat produksi akuos humor (beta blockers) : Timolol maleat 0,5% 2 kali 1 tetes sehari ODS - KSR tablet 3 kali 1 - Glaucon 3 kali 250 mg - Anjuran : pasien rutin control tiap 3 bulan

IX.

PROGNOSIS OD Ad vitam Ad fungisionam Ad sanationam : : : Malam Malam Malam OS Malam Malam Malam

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI Glaukoma adalah suatu penyakit mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan intra okular yang dapat menyebabkan atrofi syaraf optik dengan ekskavasasi diskus optik yang memiliki ciri khas hilangnya lapang pandang pada penderitanya. Glaukoma dapat juga didefinisikan sebagai kondisi gangguan mata yang disebabkan oleh peningkatan tekanan di dalam bola mata, sehingga menyebabkan kerusakan syaraf optik, yang memicu penurunan daya penglihatan. Derajat peningkatan tekanan bola mata tidaklah sama pada kedua bola mata, dan beberapa orang dapat mentoleransi peningkatan ini dalam waktu yang lama sedangkan pada orang yang berbeda dapat mengakibatkan kebutaan. Glaukoma merupakan penyakit yang mengakibatkan kerusakan syaraf optik yang berlangsung progresif yang biasanya diawali dengan hilangnya daerah lapang pandang pada bagian perifer. Jika glaukoma tidak segera didiagnosis dan diobati dapat menimbulkan kebutaan. Tekanan intra okuler (TIO) yang tinggi dikatakan sebagai gejala glaukoma yang tersering, tapi bukan gejala utama karena glaukoma dapat saja terjadi walaupun tekanan intra okulernya normal. Normalnya TIO adalah sekitar <21 mmHg. Peningkatan TIO hingga >22 mmHg merupakan faktor penting pada glaukoma. Kerusakan akibat glaukoma mulai terjadi apabila TIO meningkat 2x lipat dari normalnya. Glaukoma absolut adalah suatu keadaan akhir semua jenis glaukoma (glaukoma sudut sempit dan glaukoma sudut terbuka) yang tidak terkontrol. Pada keadaan ini sudah terjadi kebutaan total akibat tekanan bola mata memberikan gangguan fungsi lanjut. Dengan timbulnya setiap serangan yang tidak mendapat pengobatan, keadaan menjadi bertambah buruk sampai menjadi buta. Pada stadium ini tanda kongesti tidak ada, kecuali injeksi episklera dan injeksi perikornea.

ETIOLOGI Bilik anterior dan bilik posterior mata terisi oleh cairan encer yang disebut humor aqueus. Dalam keadaan normal, cairan ini dihasilkan didalam bilik posterior, melewati pupil masuk kedalam bilik anterior lalu mengalir dari mata melalui suatu larutan. Jika aliran cairan ini terganggu (biasanya karena penyumbatan yang menghalangi keluarnya cairan dari bilik anterior maka akan terjadi peningkatan tekanan. Peningkatan tekanan intraokuler akan mendorong perbatasan antara saraf optikus dan retina dibagian belakang mata. Akibatnya pasokan darah ke saraf optikus berkurang sehingga sel-sel sarafnya mati. Karena saraf optikus mengalami kemunduran, maka akan terbentuk bintik buta pada lapang pandang mata. Yang pertama terkena adalah lapang pandang tepi, lalu diikuti oleh lapang pandang sentral. 3 faktor menentukan TIO pada glaukoma : 1. Produksi aquos humor meningkat 2. Resistensi ekskresi akuos (paling sering) 3. Peningkatan tekanan vena episklera. Sebagian orang ada yang menderita glaukoma namun masih memiliki tekanan didalam bola matanya normal, penyebab dari tipe glaukoma semacam ini diperkirakan

adanya hubungan dengan kekurangan sirkulasi darah di daerah saraf/nervus opticus mata. Meski glaukoma lebih sering terjadi seiring dengan bertambahnya usia, glaukoma dapat terjadi pada usia berapa saja. Risiko untuk menderita glaukoma diantaranya adalah riwayat penyakit glaukoma di dalam keluarga (faktor keturunan), suku bangsa, diabetes, migraine, tidak bisa melihat jauh (penderita myopia), luka mata, tekanan darah, penggunaan obat-obat golongan cortisone (steroids)

10

KLASIFIKASI Glaukoma diklasifikasikan sebagai glaukoma sudut terbuka dan tertutup. Jika penyebab glaukoma diketahui, disebut sebagai glaukoma sekunder, tapi jika penyebabnya tidak diketahui disebut sebagai glaukoma primer. Lebih jelasnya glaukoma dapat diklasifikasikan sebagai berikut: I. Glaukoma Primer 1. Glaukoma sudut terbuka menahun (glaukoma simplek) Pada glaukoma sudut terbuka, akuos humor mempunyai akses menuju anyaman trabekula, yang merupakan alat drainase pada bilik mata depan. Pada glaukoma sudut terbuka, terjadi kerusakan pada trabekulum sehingga akuos humor tidak dapat lewat. 2. Glaukoma sudut tertutup Pada glaukoma sudut tertutup, pangkal iris menutupi anyaman trabekula sehingga menghalangi aliran akuos humor. Hal ini terutama terjadi pada mata dengan bilik mata depan dangkal. Glaukoma sudut tertutup dibagi atas 2 macam : a. Glaukoma sudut tertutup akut b. Glaukoma sudut tertutup kronis II. Glaukoma Sekunder Terjadi karena aliran aquos humor terganggu akibat factor eksternal, seperti kecelakaan/ trauma, obat-obatan tertentu (steroid), tumor, reaksi peradangan dan pembuluh darah yang tidak normal. Dapat berupa glaukoma sudut terbuka atau tertutup. Glaukoma sudut terbuka Pada tipe ini, aliran aquos humor memiliki jalur keluar yang lancar (ekskresi) kejaringan trabekular yang merupakan alat pembuangan aquos dibilik mata depan. Glaukoma jenis ini ditandai oleh tiga jenis kelainan, yaitu :

11

1. Peningkatan tekanan intraokuler 2. Atrofi syaraf optik yang disertai oleh peningkatan diameter optik cup, kedalaman atau keduanya. 3. kehilangan lapang pandang yang khas. Glaukoma sudut tertutup/ sempit Pada kedaan ini bagian iris menutupi jaringan trabekular sehingga aquos humor tidak berlangsung baik. Glaukoma sudut sempit meliputi beberapa mekanisme, yaitu : 1. Blokade pupil sehingga seluruh aquos humor tidak dapat melewati pupil dan terkumpul di bilik mata posterior yang menyebabkan penggembungan iris kearah bilik mata anterior dan mengakibatkan sumbatan 2. Mekanisme blockade langsung bilik mata anterior oleh iris 3. Penambahan besar atau adanya edema badan siliaris yang dapat mendorong bagian iris kearah jaringan trabekular. Glaukoma sekunder dapat disebabkan oleh : -

Perubahan lensa Kelainan uvea Trauma Bedah Rubeosis


Steroid dan lain-lain.

III.

Glaukoma Kongenital Jenis glaukoma ini jarang terjadi, dimana sudut bilik mata depan terbentuk secara tidak normal sejak lahir. Orang tua akan meluhat bayinya sebagai berikut : Bola mata tampak lebih besar dari normal, kornea tidak jernih, takut melihat cahaya dan keluar air mata bila melihat cahaya. Dapat pula dibagi menjadi : primer atau infantile Glaukoma yang menyertai kelainan congenital lainnya.

12

IV.

Glaukoma Absolut Merupakan akhir dari semua macam glaukoma yang disertai kebutaan total. Apabila disertai nyeri yang tidak tertahan, dapat dilakukan cyclocryoterapi untuk mengurangi nyeri. Seringkali enukleasi merupakan tindakan yang paling efektif. Apabila tidak disertai nyeri, maka bola mata dibiarkan.

PATOFISIOLOGI Setelah glaukoma ini diderita beberapa lama, mata menjadi degeneratif. Pada sklera timbul stafiloma sklera anterior, pada daerah sklera antara kornea dan equator bola mata, yang berwarna biru. Kornea keruh tertutup vesikel, yang kemudian menjadi bleb, bila bleb ini pecah kemudian menjadi ulkus kornea, oleh infeksi sekunder dapat terjadi perforasi kornea, iridosiklitis, endoftalmitis, panoftalmia dan berakhir sebagai ptisis bulbi. Kadang-kadang didapat keadaan dimana penutupan sudut bilik mata depan, terjadi intermiten. Perjalanan penyakitnya berupa serangan-serangan yang hilang timbul. Sesudah setiap serangan, sudut bilik mata depan tidak terbuka kembali seperti semula. Biasanya pada mata tersebut didapatkan sinekia anterior perifer, atrofi iris, serta penyebaran pigmen iris dibalik mata depan, yang juga menempel pada kornea. Peningkatan tekanan didalam mata (intraocular pressure) adalah salah satu penyebab terjadinya kerusakan saraf mata (nervus opticus) dan menunjukkan adanya gangguan dengan cairan di dalam mata yang terlalu berlebih. Ini bisa disebabkan oleh mata yang memproduksi cairan terlalu berlebih, cairan tidak mengalir sebagaimana mestinya melalui fasilitas yang ada untuk keluar dari mata (jaringan trabecular meshwork) atau sudut yang terbentuk antara kornea dan iris dangkal atau tertutup sehingga menyumbat/memblok pengaliran daripada cairan mata. Pada kebanyakan orang, kerusakan saraf mata ini disebabkan oleh peningkatan tekanan didalam bola mata sebagai akibat adanya hambatan sirkulasi atau pengaliran cairan bola mata (cairan jernih yang membawa oksigen, gula dan nutrien/zat gizi penting lainnya kebagian-bagian mata dan juga untuk mempertahankan bentuk bola mata). Pada sebagian pasien kerusakan saraf mata bisa juga disebabkan oleh suplai darah yang kurang ke daerah vital jaringan nervus optikus, adanya kelemahan struktur dari saraf atau adanya masalah kesehatan jaringan saraf.

13

GEJALA KLINIS Mata yang keras, buta (visul nol), ada yang dolorosa (nyeri) dan non dolorosa (tidak nyeri). Rasa sakit kadang-kadang hilang. Tapi jika timbul serangan terasa sangat nyeri. Tekanan intraokuler : sangat tinggi Pupil : sangat lebar, warna kehijauan, tidak bergerak pada penyinaran Iris : atrofis, tipis, kelabu Kornea terlihat keruh Bilik mata depan: dangkal, keruh oleh sel pigmen iris Fundus : pengurangan dan atrofi papil saraf optik.

Dapat disertai keadaan seperti 1. Injeksi siliar 2. Edema kornea 3. Bilik mata yang dangkal 4. Pupil lebar 5. Iris ektropion 6. Penggaungan dan papil saraf optik yang total 7. Rubeosis iris 8. Keratopati bula

PEMERIKSAAN Pemeriksaan dasar pada glaukoma terdiri atas pemeriksaan tekanan bola mata, pemeriksaan nervus optikus dan lapang pandang. Jika dua dari tiga hasil pemeriksaan tersebut tidak normal maka diagnosis glaukoma sudah dapat ditegakan Alat bantu diagnosa pada pemeriksaan glaukoma absolut 1. Tonometri 2. Gonioskopi 3. Oftalmoskopi

14

Tonometri Tonometri diperlukan untuk mengukur besarnya tekanan intraokuler. Ada 3 macam tonometeri : 1. Cara Digital Paling mudah, tetapi tidak cermat, sebab pengukurannya berdasarkan perasaan kedua jari telunjuk kita. Tinggi rendahnya tekanan di catat sebagai berikut : Tio Tio Tio Tio = = = = N (normal) N + 1 (agak tinggi) N 1 (agak rendah) N + 2 (tinggi), dan sebagainya

2. Cara Mekanis/ Tonometer Schiotz Tidak begitu mahal, dapat dibawa ke mana mana, mudah mengerjakannya. Penderita terbaring tanpa bantal, matanya ditetesi pantokain 1 2 % satu kali. Suruh penderita memihat lurus ke atas dan letakkan tanometer di puncak kornea. Jarum tonometer akan bergerak di atas skala dan menunjuk pada satu angka di atas skala tersebut.

3. Tonometri dengan Tonometer Aplanasi Dari Goldman Alat ini selain cukup mahal, juga memerlukan slitlamp yang juga cukup mahal, pula tidak praktis. Tetapi meskipun demikian, di dalam komunikasi internasional secara tidak resmi, hanya tonometri dengan aplanasi tonometer sajalah yang diakui.

15

Tekanan bola mata ini, untuk satu mata tak selalu tetap, tetapi : Pada bernafas ada fluktuasi 1 2 mmHg Pada jam 5 7 pagi paling tinggi, siang hari menurun, malam hari menaik lagi Hal ini dinamakan variasi diurnal, dengan fluktuasi 3 mmHg. Genioskopi Gonioskopi adalah suatu cara untuk memeriksa sudut bilik mata depan dengan menggunakan lensa kontak khusus. Dalam hal glaukoma, gonioskopi diperlukan untuk menilai lebar sempitnya sudut bilik mata depan. Dengan cara yang sederhana sekali, seorang dokter dapat mengira-ngira tentang lebar sempitnya suatu sudut bilik mata depan, yaitu dengan menyinari bilik mata depan dari samping dengan sentolop. Iris yang datar akan disinari secara merata. Ini berarti sudut bilik mata depan terbuka. Apabila iris tersinari hanya sebagian, yaitu terang di bagian lampu senter tetapi membentuk bayangan di bagian lain, kemungkinan adalah bahwa sudut bilik mata depan sempit atau tertutup. Pada semua pasien glaukoma harus dilakukan pemeriksaan sudut bilik mata. Biasanya dikerjakan memakai lampu celah dengan lensa kontak yang ada cermin atau prismanya. Tidak dilakukan pengobatan apapun sebelum dilakukan gonioskopi.

16

Oftalmoskopi Yang harus diperhatikan adalah papil, yang mengalami perubahan penggaungan (cupping) dan degenerasi saraf optik (atrofi). Yang mungkin disebabkan beberapa faktor : Peninggian tekanan intraokuler, mengakibatkan gangguan perdarahan pada papil, sehingga terjadi degenerasi berkas- berkas serabut saraf pada papil saraf optik. Tekanan intraokuler, menekan pada bagian tengah optik, yang mempunyai daya tahan terlemah dari bola mata. Bagian tepi papil relatif lebih kuat dari bagian tengah terjadi penggaungan pada papil ini. Memang sampai saat ini patofisiologi dari penggaungan dan atrofi ini masih diperdebatkan terus, kita harus waspada terhadap adanya ekskavasio glaukoma bila : Terdapatnya penggaungan lebih dari 0.3 diameter papil, terutama bila diameter vertikal lebih besar daripada diameter horizontal. Penggaungan papil yang tidak simetris antara mata kanan dan mata kiri. Pada stadium permulaan tentu sukar untuk menentukan apakah ekskavasi yang terlihat itu glaukoma atau bukan. Ada baiknya bila kita bandingkan kedua papil dari mata kanan dan mata kiri. Kita gambarkan ekskavasinya sehingga dapat dibandingkan dengan keadaan pada pemeriksaan berikutnya.

17

Optic disc changes in glaucoma

12/4/2007

33

Tanda penggaungan : Pinggir papil bagian temporal menipis. Ekskavasi melebar dan mendalam tergaung, sehingga dari depan tampak ekskavasi melebar, diameter vertikal lebih besar dari diameter horizontal. Bagian pembuluh darah di tengah papil tak jelas, pembuluh darah seolah olah menggantung di pinggir dan terdorong ke arah nasal. Jika tekanan cukup tinggi akan terlihat pulsasi arteri. Tanda atrofi papil : Termasuk atrofi primer, warna pucat, batas tegas, lamina kribrosa tampak jelas Pada pembuluh darah dapat ditemukan : Pulsasi arteri, pembuluh darah diskus optikus yang terekspos, pergeseran kearah nasal (nasalisasi), dilatasi vena

18

PENATALAKSANAAN Pengobatannya umumnya simptomatis. Pengobatan in ditujukan terutama pada rasa sakitnya dengan jalan: o o o o o o PROGNOSIS Semakin dini deteksi glaukoma maka akan semakin besar tingkat kesukesan pencegahan kerusakan mata. Prognosis glaukoma absolut buruk, karena pada stadium ini dapat menyebabkan kebutaan pada mata. Diamox (untuk menurunkan tekanan bola mata), pilokarpin (0,5-6%) memberikan efek 4-6 jam Analgetik dengan sedativa Suntukan alkohol retrobulber 90% sebanyak 0,5 ml Penyinaran dengan sinar beta pada badan siliar, untuk menekan fungsi badan siliar, diberikan 100-150 rad dalam 4-5 kali penyinaran Cyclocryoptherapy dengan cryo Enukleasi bulbi (pengangkatan bola mata dari rongga orbita)

19

20