Anda di halaman 1dari 14

12345678901234567890123456789012345678901234567890123456789012345678 BAB V FOSIL DAN GEOLOGI STRUKTUR

5.1. Fosil Fosil (bahasa Latin: fossa yang berarti menggali keluar dari dalam tanah ) adalah sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup yang menjadi batu atau mi neral. Fosil adalah semua sisa, jejak, ataupun cetakan dari manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan yang telah terawetkan dalam suatu endapan batuan da ri masa geologis atau prasejarah yang telah berlalu. Fosil makhluk hidup terb entuk ketika makhluk hidup pada zaman dahulu (lebih dari 11.000 tahun) terjeb ak dalam lumpur atau pasir dan kemudian jasadnya tertutup oleh endapan lumpur. Endapan lumpur tersebut akan mengeras menjadi batu pada sekeliling makhluk hidup yang terkubur tersebut. Dari fosil yang ditemukan, yang paling banyak jumlahnya adalah yang sangat lembut ukurannya seperti serbuk sari, misalnnya foraminifera, ostracoda dan radiolarian. Sedangkan hewan yang besar biasanya h ancur bercerai- cerai dan bagian tertentu yang ditemukan sebagai fosil. Bentuk fosil ada dua macam yaitu fosil cetakan dan jejak fosil. Fosil cetakan terja di jika kerangka makhluk hidup yang terjebak di endapan lumpur meninggalkan bek as (misalnya tulang) pada endapan tersebut yang membentuk cetakan. Jika cet akan tersebut berisi lagi dengan endapan lumpur maka akan terbentuk jejak f osil persis seperti kerangka aslinya. Berdasarkan ukurannya, jenis fosi l dibagi menjadi: Macrofossil (Fosil Besar) dipelajari tanpa menggunakan alat bantu, Microfossil (Fosil Kecil) dipelajari dengan alat bantu mikroskop, Na nnofossil (Fosil sangat kecil) dipelajari menggunakan bantuan mikroskop khu sus. Fosil kebanyakan terdapat pada batuan sedimen. Fosil tidak selalu dalam bentuk sisa jasad, tetapi dapat pula dalam bentuk hanya berupa telapak kaki su atu hewan. Syarat pertama agar dapat menjadi fosil yaitu, suatu organisme set elah mati harus segera bebas serta terlindung dari proses pembusukan, peru sakan, dan pelarutan (Anonim, 2012). 1. Jenis-jenis Fosil Menurut ahli paleontologi ada beberapa jenis fosil tetapi secara umum ada dua macam jenis fosil yang perlu diketahui, yaitu: fosil yang merupakan b agian dari organisme itu sendiri dan fosil yang merupakan sisa-sisa aktifita snya. a. Fosil yang berasal dari organisme itu sendiri Tipe pertama ini adalah binatang itu sendiri yang terawetkan atau tersim pan, dapat berupa tulangnya, daunnya, cangkangnya, dan hampir semua yang ters impan ini adalah bagian dari tubuhnya yang keras. Dapat juga berupa binatang nya yang secara lengkap tersimpan. Misalnya fosil Mammoth yang terawetkan karen a es, ataupun serangga yang terjebak dalam amber (getah tumbuhan). b. Tipe fosil yang merupakan sisa-sisa aktifitasnya Fosil jenis ini sering juga disebut sebagai trace fossil atau fosil jeja k, karena yang terlihat hanyalah sisa-sisa aktifitasnya. Jadi ada kemungkinan f osil itu bukan bagian dari tubuh binatang atau tumbuhan itu sendiri. Adapun jeni s fosil jejak antara lain yaitu coprolite (fosil bekas kotoran binatang) dan trail and track (fosil bekas jejak langkah binatang). Penyimpanan atau peng awetan fosil cangkang dapat berbentuk cetakan, berupa cetakan bagian dal am (internal mould) dicirikan dengan bentuk permukaan halus atau external mould dengan ciri permukaan yang kasar. Keduanya bukan binatangnya yang te rsimpan, tetapi hanyalah cetakan dari binatang atau organisme itu. Selain itu ada lagi beberapa jenis fosil, antara lain: a. Fosil yang berupa fragmen, dimana fragmen ini bias mengalami perubaha n dan ada yang tidak bisa mengalami perubahan.

b. Fosil tidak berubah, pada fosil ini organisme yang terawetkan pada kom posisi semula tidak mengalami perubahan. c. Fosil berubah, pada fosil ini komposisi fosilnya telah mengalami perubaha n. Perubahan itu dapat berupa: 1) Permineralisasi: bagian-bagian organisme yang porous terisi oleh mineral-mineral sekunder. 2) Replacement: Mineral sekunder mengganti semua material fosil yang asli. 3) Rekristalisasi: butiran halus di mineral asli menyusun kembali pada kristal yang lebih besar dari material sebelumnya. d. Fosil jejak atau bekas, tidak semua fosil terawetkan dalam bentuk yang sia p dikenal, sering hanya bukti bukti tidak langsung dari jejak fosil yang ada untuk diintepretasikan, macamnya yaitu: 1) Track, Trail, dan Burrow: track adalah jejak berupa tapak, trail adalah jejak berupa seretan, sedangkan burrow berupa jejak galian dar i organisme penggali. Coprolite gambar 5.1. 2) Mold, Cast dan Imprint: mold ialah cetakan yang terbentuk oleh fosil, dimana fosil tersebut terlarutkan seutuhnya. Cast ialah mold yan g terisi oleh mineral sekunder membentuk jiplakan secara kasar m irip dengan fosil asli. Imprint biasanya terbentuk bila organisme terc etak di dalam sedimen halus, atau lumpur, dan akhirnya terlepas. 3) Cuprolite adalah fosil yang berupa kotoran dari hewan. Dari kotor an itu dapat diketahui makanan, tempat hidup dan relatifnya. Kemu ngkinan cuprolite ini terendapkan di pasir, sebab jika terendapkan di lumpur pasti kotoran itu akan menyatu sehingga tidak ada wujudnya ka rena wujud kotoran itu tidak ada yang padat atau mengandung cairan. Bia sanya fosil ini kebanyakan berwarna coklat serta berbentuk tidak teratur. Copro lite berasal dari kata kopros dalam bahasa yunani yang berarti kotora n. Coprolite dapat dihasilkan oleh semua organisme baik invertebrata maupun vertebrata. Mempelajari ini erat kaitannya dengan bentuk anatomi dari pencernaan serta jenis makanan yang sering dimakan oleh organisme punah itu. 4) Fosil kimia adalah fosil yang berupa keadaan kimia pada masa lampa u seperti jejak asam organik. e. Fosil indeks adalah fosil yang digunakan sebagai penunjuk waktu geologi. Fosil ini meliputi dua keadaan, yakni sebagai berikut. 1) Fosil yang mempunyai kisaran yang panjang ialah fosil terda pat pada beberapa batuan yang berasal dari beberapa zaman geologi ya ng berurutan. 2) Fosil dengan kisaran yang pendek ialah fosil yang hanya terda pat pada batuan yang berasal dari satu zaman geologi tertentu saja at au bahkan hanya berasal dari sebagian zaman tertentu. (Jannah, 2012). 2. Proses Terbentuknya Fosil Fosil terbentuk dari penghancuran organisme yang pernah hidup. Hal ini sering terjadi bila tumbuhan atau hewan terkubur dalam lingkungan yang bebas oksigen. Kebanyakan fosil terbentuk di dasar danau, sungai atau laut, di mana pasir dan lumpur bisa dengan cepat menutup dinosaurus yang mati dan mulai mengawetkannya. Apabila binatang mati di daratan kering, kemungkinan besar mereka akan dimakan atau membusuk begitu saja. Sedangkan terbentuknya fosil di lautan bisa terjadi tiga kemungkinan. Setelah makhluk hidup mati dan tenggela m ke dasar laut, secara bertahap menjadi karang, tetapi bagian tubuhnya mungkin berubah secara kimiawi, atau mungkin membentuk cetakan dalam sebuah lubang. Terbentuknya fosil di daratan dapat dilihat dalam uraian sebagai beriku t. a. Pertama-tama hewan hancur dan mati.

b. Hewan itu mulai membusuk (hanya pada bagian yang lunak saja). Hewan it u kini hanya tinggal tulangnya saja. c. Semakin lama hewan itu tinggal tulangnya saja, semakin tertimbun dan terk ubur tanah, pasir, atau lumpur. d. Setelah beribu-ribu tahun lamanya, tanah, pasir, atau lumpur itu berubah menjadi batu, sehingga tulang itu ikut berubah menjadi batu. e. Pergantian cuaca dan erosi membuat fosil muncul di permukaan. Fosiliasi dapat terjadi melalui beberapa proses yaitu: a. Penggantian, penggantian mineral pada bagian yang keras dari organism e seperti cangkang. Misalnya cangkang suatu organisme yang semula terdiri dari kalsium karbonat digantikan oleh silika. b. Petrifaction, bagian lunak dari batang tumbuhan diganti oleh presipit asi mineral yang terlarut dalam air sedimen. c. Karbonisasi, daun material tumbuhan yang jatuh ke dalam lumpur rawa, te rhindar dari oksidasi. Dan pada saat diagenesa, material itu diubah menjadi cetakan karbon dengan tidak mengubah bentuk asalnya. d. Pencetakan, pada saat diagenesa sisa binatang atau tumbuhan terlarut , sehingga terjadilah rongga seperti cetakan (mold) yang bentuk dan besarnya sesuai dengan benda aslinya. Apabila rongga ini terisi oleh mineral maka t erbentuklah hasil cetakan (cast) binatang atau tumbuhan tersebut. (Jannah, 2012). 3. Pemanfaatan Fosil Fosil penting untuk memahami sejarah batuan sedimen bumi. Subdivisi d ari waktu geologi dan kecocokannya dengan lapisan batuan tergantung pada fosil. Organisme berubah sesuai dengan berjalannya waktu dan perubahan ini digunaka n untuk menandai periode waktu. Sebagai contoh, batuan yang mengandung fosil graptolit harus diberi tanggal dari era paleozoikum. Persebaran geografi fosil memungkinkan para ahli geologi untuk mencocokan susunan batuan dari bagian-bagi an lain di dunia. Dan fosil sangat penting dalam dunia pertambangan dan perminya kan. Adapun kegunaan fosil dalam kaitannya dengan ilmu geologi yaitu: a. Mementukan umur relatif batuan Fosil dapat digunakan untuk menentukan umur relatif suatu batuan yang terdapat atau terkandung dalam fosil. Batuan yang berasal dari suatu jam an tertentu mengandung kumpulan fosil yang tertentu, yang lain dari fosil ya ng terkandung dalam batuan yang berasal dari jaman geologi yang lain. b. Menentukan korelasi batuan Dengan diketahui fosil yang diketemukan, maka dapat disimpulkan bahwa beberapa daerah yang disitu ditemukan fosil yang sama, maka lapisan bat uan pada daerah tersebut terbentuk pada masa yang sama. Fosil penting untuk me mahami sejarah batuan sedimen bumi. Subdivisi dari waktu geologi dan kecocokanny a dengan lapisan batuan tergantung pada fosil. Organisme berubah sesuai dengan berjalannya waktu dan perubahan ini digunakan untuk menandai periode wakt u. Persebaran geografi fosil memungkinkan para ahli geologi untuk mencocok an susunan batuan dari bagian-bagian lain di dunia. c. Mengetahui evolusi makhluk hidup Para ahli paleontologi, setelah meneliti isi fosil dari lapisan bat uan batuan yang berbeda-beda umurnya berkesimpulan bahwa batuan yang lebih tua mengandung fosil yang lebih sedikit, bentuknya lebih primitif. Semakin muda umur batuannya, isi fosilnya semakin banyak dan strukturnya semakin canggih. Dari sini kemudian para ahli tersebut berkesimpulan bahwa organisme yang pernah ada di bumi kita ini mengalami perkembangan, mulai dari sederhana menunju ke bent uk yang lebih kompleks dalam waktu yang sangat lama. Hal ini yang kemudian dikembangkan oleh ahli biologi sebagai teori evolusi organisme. d. Menentukan keadaan lingkungan dan ekologi Dengan meniliti fosil, dapat ditentukan keadaan lingkungan dan ekologi yan g ada ketika batuan yang mengandung fosil terbentuk. Persyaratan terbentuk nya fosil: 1) Adanya badan air.

2) Adanya sumber sedimen anorganik dalam bentuk partikel atau senyawa terlarut. 3) Adanya bahan tumbuhan atau hewan (yang akan menjadi fosil). Fosilisasi merupakan proses penimbunan sisa-sisa hewan atau tumbuhan ya ng terakumulasi dalam sedimen atau endapan-endapan baik yang mengalami peng awetan secara menyeluruh, sebagian ataupun jejaknya saja. Terdapat beberapa syarat terjadinya pemfosilan yaitu antara lain: 1) Organisme mempunyai bagian tubuh yang keras 2) Mengalami pengawetan 3) Terbebas dari bakteri pembusuk 4) Terjadi secara alamiah 5) Mengandung kadar oksigen dalam jumlah yang sedikit 6) Umurnya lebih dari 10.000 tahun yang lalu. Kendala pemfosilan yaitu saat organisme mati (bangkai) dimakan oleh organi sme lain atau terjadi pembusukan oleh bakteri pengurai. Suatu contoh tempat y ang mendukung terjadinya proses fosilisasi adalah delta sungai, dasar danau, atau danau tapal kuda (oxbow lake) yang terjadi dari putusnya suatu meander. Bahan-bahan yang berperan dalam fosilisasi, diantaranya: 1) Pertrifaksi, berubah menjadi batu oleh adanya bahan-bahan: silika, kalsium karbonat, FeO, MnO dan FeS. Bahan itu masuk dan mengisi lubang sert a pori dari hewan atau tumbuhan yang telah mati sehingga menjadi keras at au membatu menjadi fosil. 2) Proses Destilasi, tumbuhan atau bahan organik lainnya yang telah mati den gan cepat tertutup oleh lapisan tanah. 3) Proses Kompresi, tumbuhan tertimbun dalam lapisan tanah, maka di air dan gas yang terkandung dalam bahan organik dari tumbuhan itu tertekan keluar ole h beratnya lapisan tanah yang menimbunnya. Akibatnya, karbon dari tumbuha n itu tertinggal dan lama kelamaan akan menjadi batubara, lignit dan bahan b akar lainnya. 4) Bekas gigi, kadang-kadang fosil tulang menunjukan bekas gigitan hewan ka rnivora atau hewan pengerat. 5) Koprolit, bekas kotoran hewan yang menjadi fosil. 6) Gastrolit, batu yang halus permukaannya ditemukan di dalam badan hewan ya ng telah menjadi fosil. 7) Liang di dalam tanah, dapat terisi oleh batuan dan berubah sebagai fosil, merupakan cetakan. 8) Pembentukan Kerak, hewan dan tumbuhan terbungkus oleh kalsium karbonat yang berasal dari travertine ataupun talaktit. 9) Pemfosilan di dalam Tuff, pemfosilan ini jarang terjadi kecuali di daera h yang berudara kering sehingga bakteri pembusuk tidak dapat terjadi dan P emfosilan dengan cara pembekuan, hewan yang mati tertutup serta terlindung lapisan es dapat membeku dengan segera. Oleh karena dinginnya es maka tid ak ada bakteri pembusuk yang hidup dalam bangkai tersebut. 5.2. Geologi Struktur Geologi struktur adalah bagian dari ilmu geologi yang mempelajari tentang bentuk (arsitektur) batuan sebagai hasil dari proses deformasi. Adap un deformasi batuan adalah perubahan bentuk dan ukuran pada batuan sebagai ak ibat dari gaya yang bekerja didalam bumi. Secara umum pengertian geologi stru ktur adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk arsitektur batuan sebagai bagian dari kerak bumi serta menjelaskan proses pembentukannya. Bebera pa kalangan berpendapat bahwa geologi struktur lebih ditekankan pada studi me ngenai unsur-unsur struktur geologi, seperti perlipatan (fold), rekahan (fr acture), patahan (fault), dan sebagainya yang merupakan bagian dari satuan tektonik (tectonic unit), sedangkan tektonik dan geotektonik dianggap sebagai suatu studi dengan skala yang lebih besar, yang mempelajari objek-objek geologi seperti cekungan sedimentasi, rangkaian pegunungan, lantai samudera, dan sebagainya. Geologi struktur adalah studi mengenai distribusi tiga dimen si tubuh batuan dan permukaannya yang datar ataupun terlipat, beserta susuna

n internalnya. Geologi struktur mencakup bentuk permukaan yang juga dibahas pada studi geomorfologi, metamorfisme, dan geologi rekayasa. Dengan mempel ajari struktur tiga dimensi batuan dan daerah, dapat dibuat kesimpulan mengenai sejarah tektonik, lingkungan geologi pada masa lampau dan kejadian deformasinya. Hal ini dapat dipadukan pada waktu dengan menggunakan ko ntrol stratigrafi maupun geokronologi, untuk menentukan waktu pembentukan struktur tersebut. Secara lebih formal dinyatakan sebagai cabang geologi y ang berhubungan dengan proses geologi di mana suatu gaya telah menyebabkan t ransformasi bentuk, susunan atau struktur internal batuan ke dalam bentuk, susunan atau susunan intenal yang lain. Geologi struktur juga dapat didefinisi kan sebagai ilmu yang mempelajari tentang proses tektonik beserta hasilnya. Proses tektonik berhubungan dengan gaya endogen bekerja pada kulit bumi sehingga kulit bumi mengalami deformasi. Lipatan, kekar, sesar, bentang alam pr imer merupakan contoh hasil gaya yang bekerja pada kulit bumi. Secara sederha na, geologi struktur mempelajari arsitektur kulit bumi akibat deformasi. S truktur geologi adalah struktur perubahan lapisan batuan sedimen akibat ke rja kekuatan tektonik, sehingga tidak lagi memenuhi hukum superposisi. Di sampi ng itu, struktur geologi juga merupakan struktur kerak bumi, produk dari def ormasi tektonik. Cabang geologi yang menjelaskan struktur geologi secara deta il disebut geologi struktur. Deformasi yang telah terjadi pada kerak bumi, yang kita amati sekarang ini adalah jejak deformasi yang telah terjadi beberapa rat us atau juta tahun yang lalu dan sebagai geologi struktur. Dalam geologi str uktur, deformasi yang terjadi akibat gaya tektonik dikelompokkan sebagai str uktur sekunder dan dibedakan dari struktur yang terbentuk pada saat atau sebel um batuan terbentuk dinamakan struktur primer (Anonim, 2013). 1. Proses Pembentukan Struktur Geologi a. Proses Pembentukan Lipatan Menurut Sekundar Asikin pada tahun 1978, lipatan adalah bentuk lengkung su atu benda yang pipih atau lempeng, dapat disebabkan oleh dua macam mekanism e, yaitu buckling (melipat) dan bending (melengkung). Pada gejala buckl ing atau melipat, gaya penyebab adalah gaya tekan yang arahnya sejajar den gan permukaan lempeng, sedangkan pada bending atau melengkung gaya utaman ya mempunyai arah yang tegak lurus pada permukaan lempeng. Gaya perlipat an pada umumnya terjadi pada lapisan batuan sedimen. Sebelum suatu urutan batuan sedimen mengalami perlipatan, batuan tersebut diendapkan dalam ke adaan yang mendatar. Tetapi ada kalanya juga sudah mempunyai timbulan-timbu lan, hal ini disebabkan oleh keadaan cekungannya yang sifat permukaannya ti dak rata. Kemudian sejak saat pengendapannya, lapisan-lapisan sedimen terse but telah pula mengalami tekanan- tekanan atau tarikan-tarikan oleh gaya -gaya berasal dari dalam. Kebanyakan berupa gaya tekan atau shearing. Denga n kata lain sedimen tersebut secara terus menerus mengalami perubahan sepa njang sejarah pembentukkannya, dan mengakibatkan terjadinya lipatan-lipatan berukuran besar ataupun kecil. Lipatan yang berukuran besar dapat mencap ai berkilo-kilo meter untuk melaluinya, sedangkan yang berukuran kecil han ya beberapa meter sampai sentimeter. b. Proses Pembentukan Sesar Kadang-kadang deformasi berlangsung cukup cepat untuk diamati dan diukur. Untuk memudahkan pengamatan deformasi kerak bumi, dapat digolongkan menjadi da lam dua kelompok besar, yaitu gerakan mendadak yang mengakibatkan terjadinya rek ahan, dimana bagian kerak tiba- tiba bergerak beberapa sentimeter atau beber apa meter dalam hitungan menit atau jam. Dan yang lamban serta bertahap termas uk deformasi ductile. Geraknya tetap menerus tetapi tidak disertai hentaka n. Gerakan mendadak melibatkan rekahan pada batuan regas (brittle). Rekahan pada batuan di mana terjadi pergeseran di sepanjang rekahan dinamakan sesar, pa tahan atau fault. Sekali rekahan mulai, maka akan timbul gesekan yang mengikuti pergeseran. Selanjutnya perlahan-lahan stress terkumpul atau tertahan selama g esekan antara kedua sisi sesar dapat mengatasinya. Kemudian mendadak terjadi

lagi pergeseran. Jika stress tetap ada, perulangan penumpukan stress yang dia khiri dengan pergeseran mendadak terjadi berulang kali. Meskipun gerakan sesar besar sampai beberapa kilometer, tetapi jarak tersebut merupakan jumlah dari gerakan mendadak yang kecil-kecil. Setiap gerak mendadak dapat menimb ulkan gempa. Pergerakan mendadak pada litosfer biasanya disertai dengan gemp a bumi. c. Proses Pembentukan Kekar Kekar mungkin berhubungan dengan sesar besar atau oleh pengangkata n kerak yang luas, dapat tersebar sampai ribuan meter persegi luasnya. Umumn ya dijumpai pada batuan yang regas. Kebanyakan kekar merupakan hasil pembubungan kerak atau dari kompresi atau tarikan (tension) yang berkaitan dengan se sar atau lipatan. Ada kekar tensional yang diakibatkan oleh perlepasan beban atau pemuaian batuan. Kekar kolom pada batuan vulkanik terbentuk oleh tegasan ya ng terjadi ketika lava mendingin dan mengkerut. Pada lapisan-lapisan sedimen terutama batupasir, sering terdapat kekar-kekar yang bervariasi arahnya. Rekahan ini terbentuk selama terjadi penimbunan dan litifikasi yang akan tetap tertutup selama tertimbun di kedalaman. Karena erosi dan tersingkap, sedikit pendinginan dan kompresi relief memungkinkan rekahan agak terbuka. Pada beberapa daerah, kekar mengontrol pola aliran sungai, terutama pada al iran- aliran sekundernya. Kekar juga mempunyai nilai ekonomis. Dapat mempe rbesar permeabilitas yang penting bagi migrasi dan menampung air tanah dan mi nyak bumi. Larutan hidrotermal yang berasosiasi dengan intrusi batuan beku mengalir sepanjang kekar dan mengendapkan mineral-mineral sepanjang dinding keka r, membentuk urat-urat mineral (mineral veins). Konstruksi besar, seperti bendun gan, sangat perlu memperhatikan sistem kekar pada batuan. Selain mempengaru hi daya dukung batuan, kekar juga dapat menimbulkan masalah kebocoran. Me nurut Ragan pada tahun 1973, kekar adalah suatu fracture (rekahan pada batuan) yang relatif tidak mengalami pergeseran pada bidang rekahnya. Kekar dapat di sebabkan oleh terjadinya gejala tektonik maupun non-tektonik. Menurut Davis pada tahun 1982 menyatakan bahwa kekar biasanya sering digunakan untuk menunjuk kan perubahan secara relatif terus-menerus dari retakan (fracture), merupa kan sebuah bidang yang telah mengalami pergerakan secara tidak terlihat. Sangat kecilnya pergerakan yang menghasilkan kekar sehingga dapat menimbulkan gerusan sejajar (shear parallel) pada permukaan kekar, perubahan volume y ang tegak lurus terhadap permukaan kekar, pengurangan volume yang tegak lur us terhadap permukaan kekar yang sebenarnya merupakan menghilangnya materi al atau gabungan dari ketiga faktor tersebut. d. Proses Pembentukan Ketidakselarasan Proses terbentuknya ketidakselarasan adalah sebagai berikut: 1) Pembentukan batuan tua. 2) Adanya erosi dan pengangkatan. 3) Pengendapan batuan yang lebih muda. 2. Struktur Geologi a. Struktur Primer Geologi Struktur Struktur Primer ialah sturktur yang terbentuk pada saat proses pengendapan atau pada saat batuan terbentuk, contohnya : perlapisan, Laminasi, greded bedd ing, ripple mark, dan lain-lain. Struktur primer sangat penting sebagai pe nentu kedudukan atau orientasi asal suatu batuan, terutama dalam batuan sedimen . Yang termasuk dalam struktur primer geologi struktur adalah struktur-st ruktur pada batuan sedimen, seperti bidang perlapisan, lapisan bersus un (graded bedding) dan lapisan silang siur (cross bedding). Sedangka n pada batuan beku adalah rekahan-rekahan yang terbentuk akibat pendinginan, dinamakan kekar kolom (collumnar joint). Kekar itu berbentuk segi enam dan me manjang berbentuk prisma. 1) Struktur Perlapisan Batas antara satu lapisan dengan lapisan lainnya disebut struktur pe

rlapisan. Bidang perlapisan dapat terjadi karena adanya perbedaan fisik antara lapisan, seperti warna, besar butir dan atau jenis batuan antara dua lapisan, contohnya laminasi, graded bedding, cross bedding dan ripple mark. a) Laminasi, merupakan suatu karakter paling khas dari sedimen berbutir halus, terutama batu lanau dan serpih. Laminasi muncul sebagai perselinga n material yang berbeda besar butir atau komposisinya. Laminasi umumnya memiliki ketebalan 0,5 1,0 mm. b) Graded Bedding merupakan satuan sedimentasi yang ditandai oleh perubaha n ukuran partikel penyusun secara berangsur dari bawah ke atas, dimana partik el paling kasar terletak di bawah dan partikel paling halus terletak di at as. Terjadi jika dalam suspensi mengandung berbagai ukuran partikel, yan g terendapkan terlebih dahulu adalah partikel terbesar, disusul oleh yang lebih kecil dan seterusnya. Partikel yang sangat halus mungkin masih ada di dalam suspensi dan akan mengendap beberapa lama kemudian. Hasilnya adalah endapan yang susunan pertikelnya mengecil ke atas. Pe milahan pertikel tergantung pada ukuran besar butir. Susunan demikian da pat pula terjadi akibat melemahnya kecepatan arus. Saat arus melemah, pert ikel yang berat atau besar akan mengendap lebih dulu dan selanjutnya par tikel yang kecil atau ringan akan mengendap setelahnya. c) Cross Bedding, merupakan struktur khas dari pasir atau material granular non kohesif apapun komposisinya. Suatu lapisan cross beeding dapat memil iki ketebalan mulai dari 3 mm hingga lebih dari 30 mm. Endapan ini terdir i dari butiran yang lebih besar dari lanau dan merupakan hasil pengendap an oleh arus turbulen dalam aliran sungai, angin atau gelombang lau t. Partikelpartikel akan terkumpul pada bagian depan lereng, beru pa lapisan-lapisan miring antara 300 sampai 350. Arah kemiringan lapis an silang siur menunjukkan arah arus pada saat pengendapan terjadi. Cross bedding tersebar luas di banyak lingkungan. Lingkungan dimana gerakan a ir cukup cepat dan cukup dalam untuk mengembangkan bentuk-bentuk gelombang skala besar jatuh ke dalam tiga pengelompokan alami, yaitu: sungai, pesisir, dan laut. Cross bedding juga dapat memberitahu banyak kepada ahli geologi te ntang suatu daerah seperti di zaman purba. Arahnya yang menukik me nunjukkan zaman purba. Jenis dan kondisi sedimen dapat memberitahu a hli geologi tentang jenis lingkungan (penyortiran, komposisi, dan pembulata n). Mempelajari analogi modern yang dapat memungkinkan ahli geologi untuk menarik kesimpulan tentang lingkungan purba. Zaman purba dapat ditentuk an dengan melihat bagian lintas dari seperangkat cross bedding. Namun , untuk mendapatkan pembacaan yang benar, sumbunya harus terlihat. Hal ini bisa mengakibatkan salah tafsir karena bukit menukik ke hilir seme ntara lembah menukik ke hulu. d) Ripple Mark, merupakan sebuah struktur berskala kecil. Panjang gelomban gnya hanya beberapa sentimeter dan tingginya hanya beberapa milimeter yang terbentuk akibat aktivitas erosional. Pembentukan struktur ini berasal dari adanya suatu arus, misalnya arus an gin membawa material-material pasir sebagai material transportasi kemudi an dengan mekanisme pergerakan arus yang khas mengendapkan material transpor tasi tadi pada sisi bagian depan suatu ripple. Pengertian ripple itu sendi ri adalah suatu bentukan struktur yang menunjukan adanya undulasi berjarak teratur pada permukaan pasir atau permukaan perlapisan batupasir. 2) Struktur Sedimen Pengertiannya sangat luas, meliputi penampakan dari perlapisan normal te rmasuk kenampakan konfigurasi perlapisan atau juga modifikasi dari perl apisan yang disebabkan proses baik selama pengendapan berlangsung maupun s etelah pengendapan itu berhenti. Contohnya yaitu: Load Cast, Flute Cast, dan Mud Crack. a) Load cast merupakan struktur sedimen yang diakibatkan oleh perubaha n (deformasi) yang ditimbulkan oleh beban yang ada diatasnya. Dengan k ata lain, load Cast ialah lekukan yang timbul pada permukaan lapisan akibat

beban yang ada diatasnya. b) Flute cast merupakan bentuk gerusan pada permukaan lapisan yang bentukny a seperti seruling. c) Mud crack merupakan bentuk retakan poligonal pada permukaan lapisan lumpur. 3) Struktur Aliran Lava Lava yang disemburkan tidak ada dalam keadaan homogenya. Hal itu dalam p erjalanannya menuju permukaan selalu terjadi perubahan seperti komposisi, kad ar gas, kekentalan dan derajat kristalisasi. Struktur aliran ini juga dijumpai pada batuan perlapisan-perlapisan digambarkan dengan perbedaan-perbedaan dalam komposisi atau tekstur mineralnya. Struktur aliran dapat pula berbentuk sanga t halus dan disebut tekstur aliran. Dan untuk dapat melihatnya diperluk an mikroskop, memperlihatkan tekstur aliran pada batuan yang berupa pengarah an dari mineral-mineral tertentu seperti plagioklas. Bentuk mineral dalam batua n yang mempunyai bentuk memanjang atau pipih akan condong untuk mengarah menjadi sejajar dengan arah aliran lava pada waktu itu. b. Struktur Sekunder Geologi Struktur Struktur Sekunder ialah struktur yang terbentuk setelah batuan yang bersan gkutan terbentuk, contoh: perlipatan, magma menerobos lapisan batunya, kekar , sesar, lipatan, dan lain-lain. Struktur sekunder penting untuk mengetahu i bentuk-bentuk dari permukaan bumi yang dihasilkan oleh gerak-gerak yang ada da ri dalam bumi. Struktur Sekunder yang terbentuk setelah batuan terbentuk ada lah lipatan, sesar, kekar, dan Ketidakselarasan. Berikut penjelasan masin g- masing struktur pada struktur sekunder geologi struktur. 1) Lipatan Lipatan dapat merupakan pelengkungan lemah yang luas, bisa lebih dari ratusan ribu kilometer sampai yang sangat kecil yang berskala mikroskopis. Lipatan sangat mudah dilihat pada batuan yang berlapis dan merupakan hasil defo rmasi ductile akibat kompresi dan shear stress. Pada strain rate sangat rendah dari di atas brittle- ductile transition, batuan dapat terlipat meskipun dekat dengan permukaan. Lipatan adalah perubahan bentuk dan volume pada batu an yang ditunjukkan dengan lengkungan atau melipatnya batuan tersebut akibat p engaruh suatu tegangan (gaya) yang bekerja pada batuan tersebut. Pada u mumnya refleksi pelengkungan ditunjukkan pada perlapisan batuan-batuan s edimen atau foliasi pada batuan metamorf. Lipatan dapat dibagi lagi berda sarkan porosan lipatan atau garis sumbu dan bentuknya, sebagai berikut : a) Lipatan Paralel adalah lipatan dengan ketebalan lapisan yang tetap. b) Lipatan Similar adalah lipatan dengan jarak lapisan sejajar dengan s umbu utama. c) Lipatan disharmonik adalah lipatan yang tidak teratur karena lapisann ya tersusun dari bahan-bahan yang berlainan. d) Lipatan Ptigmatik adalah lipatan terbalik terhadap sumbunya. e) Lipatan chevron adalah lipatan bersudut dengan bidang planar. f) Lipatan isoklin adalah lipatan dengan sayap sejajar yang disebabk an oleh tekanan yang terus menerus. g) Lipatan klin bands adalah lipatan bersudut tajam yang dibatasi oleh per mukaan planar. h) Lipatan tegak adalah lipatan yang garis sumbunya membagi secara simetris atau sma besar antara antiklin dan sinklin. i) Lipatan miring adalah lipatan yang garis sumbunya tidak simetris, membentu k sudut. j) Lipatan menggantung adalah lipatan mirip lipatan miring tetapi bagian puncaknya terdorong sangat tinggi sehingga bentuknya seperti menggantung . k) Lipatan rebah adalah lipatan yang tertekan terus menerus menyebab kan puncaknya melandai seperti rebahan. l) Lipatan kelopak adalah lipatan yang bagian dalamnya bekerja daya tekanan dan sayap tengah tidak menjadi tipis. Gerakan yang berasal dari bumi yang menyebabkan atau menimbulkan

bentuk-bentuk tertentu disebabkan karena adanya gaya tegangan yang terdapat di kerak bumi disebut gaya endogen. Gejala tektonik merupakan bagian dari gaya endogen. Tektonisme adalah tenaga yang berasal dari kulit bumi yang menyebabkan perubahan lapisan permukaan bumi, baik mendatar maupun vertikal . Sedangkan, tenaga tektonik adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi ya ng menyebabkan gerak naik dan turun lapisan kulit bumi. Gerak itu meliputi gerak orogenetik dan gerak epirogenetik. Gerak orogenetik adalah gerak yang dapat menimbulkan lipatan dan patahan serta retakan disebabkan karena gera kan dalam bumi yang besar dan meliputi daerah yang sempit serta berlangsung dala m waktu yang singkat, dan gerak epirogenetik adalah gerak yang menyebabkan muk a bumi naik dan turun karena gerak bumi yang sangat lambat serta meliputi d aerah yang luas. Lipatan dapat dibagi menjadi dua berdasarkan bentuk lengk ungan, yaitu antiklin dan sinklin. Antiklin merupakan punggung lipatan yang kem iringan kedua sayapnya ke arah saling berlawanan dan saling menjauh (bentuk conc av dengan cembung ke atas). Bagian tengah dari antiklin disebut inti anti klin. Sinklin merupakan lembah lipatan yang kemiringan kedua sayapnya menuju k e suatu arah dan saling mendekat (bentuk concave dengan cekung mengarah ke atas). Bagian tengah dari sinklin disebut inti sinklin. Pada lipatan ada ya ng dinamakan bidang porosan dan porosan lipatan. Bidang porosan adalah bidang yang membelah antara sayap lipatan menjadi dua. Porosan lipatan adalah g aris potong antara bidang porosan dengan permukaan lapisan atau bisa dikatak an bahwa porosan lipatan adalah garis sumbu pada lipatan. Di dunia ini ba nyak terdapat daerah lipatan yang memperlihatkan bentukan topografi yang jela s, lipatan yang terkenal adalah Sirkum Pasifik dan Alpina. Kedua lipatan tersebut mempunyai kelanjutan di Indonesia. Lipatan Alpina di Indonesia berupa sistem pegunungan Sunda yang terbentang di Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Maluku, dan berakhir di Pulau Banda. Lipatan ini merupakan bus ur dalam Indonesia yang bersifat volkanis dan busur luar yang non vulkanis . Demikian pula dengan lipatan Sirkum Pasifik dari Filipina bercabang ke K alimantan dan Sulawesi dan seterusnya. Lalu pada halaman berikutnya a kan dijelaskan struktur beserta hukum, bentuk, dan mekanisme terjadinya. a) Struktur Lipatan Struktur lipatan merupakan salah satu struktur geologi yang paling umum dijumpai pada batuan sedimen klastik, dan sering pula ditemukan pada batuan vulkanik dan metamorf. Salah satu ciri khas batuan sedimen klastik adalah dij umpainya bidang perlapisan batuan yang terbentuk pada saat sedimentasi. Apabil a kita perhatikan pada singkapan batuan di lapangan bidang perlapisan tereb ut mempunyai bidang kedudukan yang bervariasi, hal ini tergantung pada tekton ik yang melatarbelakanginya. Terdapat beberapa definisi lipatan menurut ahli geo logi struktur, antara lain: (1) Hill (1953) Lipatan merupakan pencerminan dari suatu lengkungan yang mekanismeny a disebabkan oleh dua proses, yaitu bending (melengkung) dan buckling (melipat) . Pada gejala buckling, gaya yang bekerja sejajar dengan bidang perlapisan, sedangkan pada bending, gaya yang bekerja tegak lurus terhadap bidang permukaa n lapisan. (2) Billing (1960) Lipatan merupakan bentuk undulasi atau suatu gelombang pada batuan perm ukaan. (3) Hob (1971) Lipatan akibat bending, terjadi apabila gaya penyebabnya agak lurus terha dap bidang lapisan, sedangkan pada proses buckling, terjadi apabila gaya penyebabnya sejajar dengan bidang lapisan. Selanjutnya dikemukakan pula bah wa pada proses buckling terjadi perubahan pola keterikan batuan, dimana pada bagian puncak lipatan antiklin, berkembang suatu rekahan yang disebabkan a kibat adanya tegasan tensional (tarikan) sedangkan pada bagian bawah bida ng lapisan terjadi tegasan kompresi yang menghasilkan Shear Joint. Kondisi

ini akan terbalik pada sinklin. (4) Park (1980) Lipatan adalah suatu bentuk lengkungan (curve) dari suatu bidang lapi san batuan. Dimana setiap lengkungan itu memiliki tingkat elastisitas yang kuat. Jika tidak elastis, bentuk itu akan berubah menjadi pat ahan. Jadi, semakin besar lipatan maka semakin besar pula tingkat elastisitasnya, sebaliknya semakin kecil lipatan maka semakin kec il pula tingkat elastisitasnya. b) Mekanisme Terjadinya Flexures adi (1) (2) (3) (4) Terdapat beberapa mekanisme terbentuknya lipatan yang dapat dibagi menj empat, yaitu: Pemendekan (buckling) Pembengkokan (bending) Aliran fleksur (flexural flow) Aliran pasif (passive flow)

Masing-masing mekanisme tersebut disertai gelincir lengkukan (flexural s lip) yang paling banyak terdapat di antara tiap lapisan batuan yang berbeda, karena perbedaan sifat batuan tiap satuan lapisan tersebut, seperti perbeda an kekompakan tiap tubuh batuan, yang akan menyebabkan adanya garis-garis d i bidang kontak kedua batuan. Pada struktur sesar, hal ini disebut dengan c ermin sesar. Tenaga yang mengenai suatu lapisan batuan, akan mengubah bentuk lapisan men jadi sebuah lipatan sesuai ketahanan atau kekompakan komposisi batuan. Gera kan yang berasal dari bumi yang menyebabkan atau menimbulkan bentuk-bentuk t ertentu disebabkan karena adanya gaya tegangan yang terdapat di kerak bumi disebut gaya endogen. Gejala tektonik merupakan bagian dari gaya endogen. c) Bentuk Lipatan secara Morfologi (1) Concentric fold (lipatan konsentris atau lipatan paralel) adalah sebutan untuk perlapisan dimana jarak-jarak (tebal) tiap lapisan yang terlipat teta p sama. (2) Similar fold adalah sebutan untuk perlipatan dimana lapisanlapisan yang terlipat atau dilipat dengan bentuk-bentuk yang sama sampai ke dal am. Antiklin maupun sinklin ukurannya tidak banyak berubah ke dalam maupu n ke atas. (3) Supratenuous fold adalah lipatan yang terbentuk karena adanya perbeda an kompaksi sedimen pada saat pengendapan terjadi di punggung bukit. d) Bentuk Lipatan berdasarkan Intensitas (1) Open fold merupakan lipatan yang lapisannya tidak mengalami penebal an atau penipisan karena deformasi yang lemah. (2) Closed fold merupakan lipatan yang lapisannya mengalami penebal an atau penipisan karena deformasi yang kuat. (3) En enchelon fold merupakan beberapa lipatan yang sifatnya lokal dan sal ing overlap satu dengan yang lain. (4) Drag fold merupakan lipatan-lipatan kecil yang terbentuk pada sayap-s ayap lipatan yang besar akibat terjadinya pergeseran antara lapisan kom peten dengan lapisan tak kompeten (5) Culmination dan depression merupakan lipatan-lipatan yang menunja m pada arah yang berbeda, sehingga terjadi pembubungan dan penurunan (6) Anticlinorium merupakan antiklin mayor yang tersusun oleh beberap a lipatan yang lebih kecil (7) Synclinorium merupakan sinklin mayor yang tersusun oleh beberapa lipatan kecil. e) Bentuk Lipatan Berdasarnya Besar Kemiringan (1) Bentuk recumbent fold utamanya diperlihatkan dengan posisi axial plane y

ang horisontal, walupun tidak murni horisontal memang. Sudut yang dibentu k oleh axial plane ini sendiri berkisar antara 00-100. (2) Bentuk inclined fold ditunjukkan oleh posisi axial plane yang miring dan membentuk sudut 100-700. (3) Bentuk upright fold merupakan sudut yang dibentuk adalah 700-900 yang i tu berarti posisi dari axial plane tersebut hampir vertikal. Walaupun sebagian besar dari struktur lipatan memiliki antiklin maupun sinklin yang relatif membulat, ada juga beberapa dari struktur lipatan tersebut yang taja m serta bersiku- siku. Struktur yang demikian ini disebut dengan chevron f olds. Gambar 5.15. Sesar oblique 2) Sesar Sesar adalah suatu rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran sehingga terjadi perpindahan antara bagian-bagian yang berhadapan dengan arah yang sejajar dengan bidang patahan. Hal ini terjadi apabila blok batuan yan g dipisahkan oleh rekahan telah bergeser sedemikian rupa hingga lapisan bat uan sedimen pada blok yang satu terputus atau terpisah dan tidak bersambungan lagi dengan lapisan sedimen pada blok yang lainnya. Sesar diklasifikasik an berdasarkan atas kemiringan (dip) dari bidang sesar dan arah gerak relatifn ya menjadi sesar normal (normal fault), sesar naik (reverse fault) dan sesar me ndatar (strike slip fault). Dari ketiga jenis ini berkembang beberapa jenis, sep erti sesar oblique, sesar translasi, dan sesar gunting. Penentuan blok yang ma na sebagai foot wall dan hanging wall ditentukan dari posisi bidang sesarnya. Hanging wall relatif berada di atas bidang sesar, sedangkan foot wall rel atif berada di bawah bidang sesar. a) Sesar Normal (Normal Fault) Sesar normal disebut juga sesar turun yang disebabkan oleh tensional s tress yang seolah-olah menarik atau memisahkan kerak. Seperti halnya juga bi la kerak mengalami gaya dari bawah. Sesar normal didefinisikan sebagai ses ar yang hanging wall-nya relatif turun terhadap foot wall. Atau sebaliknya, d apat dikatakan foot wall relatif naik terhadap hanging wall. Umumnya, dua atau lebih sesar normal dengan jurus yang sejajar dan kemiringan yang berlawan an membentuk segmen tinggian dan amblesan pada kerak. Blok yang turun dinamaka n graben atau rift, jika dibatasi oleh dua sesar normal. Dan half graben bila pe lengseran hanya pada satu sesar normal. Blok yang naik di antara dua sesar no rmal dinamakan horst. Sesar normal dikenali juga sebagai sesar gravitasi. Beberapa sifat penting dari sesar normal adalah sebagai berikut. (1) Kemiringan (dip) bidang sesar (lebih dari 450). (2) Jejak sesar pada peta hampir lurus. (3) Mempunyai gawir atau dinding sesar. (4) Gores-garis (slicken sides). (5) Keterdapatannya berjajar seperti anak tangga (step fault). (6) Sering memperlihatkan reverse drag. (7) Merupakan sesar antitetik (anthitetic fault). b) Sesar Naik (Reverse Fault) Sesar Naik adalah sesar dimana salah satu blok batuan bergeser ke arah at as dan blok bagian lainnya bergeser ke arah bawah di sepanjang bidang sesarnya. Sesar naik berkembang karena compression stress. Gerak pada sesar naik terjadi jika blok hanging wall relatif naik terhadap blok foot wall. Sesar naik terjadi karena kerak memendek. Bila kemiringan bidang s esarnya lebih kecil dari 450 dinamakan sesar anjakan (thrust fault). Pada umumn ya berasosiasi dengan perlipatan kuat, akibat gaya kompresi horizontal yang san gat kuat pada kerak bumi. Thrust fault berkembang dari lipatan yang kemu dian tersesarkan. Thrust fault banyak dijumpai pada pegunungan lipatan. Beber apa sifat penting dari sesar ini di antaranya adalah sebagai berikut. (1) Terdapat pada daerah tekanan (kompresi), yaitu di pegunungan lipatan (yang berusia muda).

(2) Terdapat pada daerah dengan endapan sedimen yang tebal, geosinklin. (3) Gerakan gesernya lebih cepat daripada proses pengikisan. nnya dapat bercampur dengan breksi sesar. (4) Memiliki gejala struktur seretan (drag) dan pembentukan ekunder. (5) Jalur sesarnya dapat berupa melonite (zona hancuran), atau kadang-kadang bidang licin dengan gores-garis

yaitu Hasil sesar-

daerah rombaka sesar s

gouge, breksi (slicken sides).

c) Sesar Mendatar (Strike Slip Fault) Sesar mendatar sering juga disebut sebagai sesar geser. Terjadinya adalah akibat bekerjanya shear stress dengan arah gerak utama sesar ini ad alah horisontal dan sejajar dengan bidang sesarnya. Pergerakan lateralnya ditentukan dengan melihat bidang sesarnya. Jika pengamat berdiri di depan blo k sesar yang bergerak ke arah kanannya, maka sesar mendatar tersebut namanya se sar mendatar menganan atau sesar mendatar dextral. Atau dikatakan juga rig ht lateral slip fault. Dan sebaliknya bila blok di depan pengamat bergerak ke kiri nama sesar mendatar mengiri atau sesar mendatar sinister (left late ral slip fault). Contoh sesar mendatar besar yang terkenal adalah sesar San Andr eas di California, Amerika Serikat. Pada umumnya sesar mendatar besar merupakan batas lempeng atau kejadiannya berkaitan dengan aktifitas pergerakan lempeng. Oleh karena itu, kebanyak an aktif (masih bergerak sampai saat ini meskipun sangat lambat). Meskipun geraknya tidak teramati, tetapi pengaruhnya jelas. Sepanjang sesar sering t erjadi gempa bumi dan tanah longsor. Sesar mendatar yang merupakan batas lempeng dan berkaitan dengan pemekaran lempeng namanya sesar transform. Bebera pa sifat penting dari sesar mendatar adalah sebagai berikut. (1) Kemiringan bidang sesar curam sampai dengan tegak. (2) Ukuran panjang dan lurus, mudah dikenali pada foto udara. (3) Di permukaan merupakan jalur erosi yang kuat, terjadi pengger usan dan pengubahan dengan lebar hingga ratusan kilometer. (4) Membentuk bagian seperti depresi-depresi yang berkaitan dengan penyimp anan secara merencong. (5) Diikuti struktur penyerta berupa rekahan dan lipatan. d) Sesar Oblique Pergeseran sesar ini adalah gabungan antara vertikal dan horisontal. Gaya-gaya yang bekerja menyebabkan sesar mendatar dan sesar normal. Perge seran miring relatif, sebenarnya terhadap bidang sesar. Untuk penamaan sesa r ini dipakai kombinasi istilah dip slip dan strike slip. Sehingga mendef inisikan sesar oblique membutuhkan komponen strike maupun dip. Beberapa s esar oblique terjadi dalam rezim transtensional dan transpressional, yang la in terjadi di mana arah perpanjangan atau pemendekan perubahan selama deformas i namun sesar sebelumnya yang terbentuk tetap aktif. e) Sesar Translasi Sesar ini biasanya mengalami pergeseran sepanjang garis lurus. Han ging wall relatif naik terhadap foot wall, dengan kemiringan bidang sesa r besar. Umumnya sesar normal dan sesar naik pergerakannya hanya vertikal jadi disebut sesar dip-slip. Gambar 5.17. Kekar f) Sesar Gunting Pergerakan dari sesar ini juga sama dengan sesar oblique yaitu horizontal dan vertikal. Sesar yang pergerakannya berhenti pada titik tertentu sepanja ng jurus sesar. Gaya yang bekerja sama dengan sesar normal. 3) Kekar

Kekar atau joint adalah rekahan-rekahan pada batuan, pada umumnya lur us, planar dan tidak terjadi pergeseran atau struktur retakan yang terbentuk pada batuan akibat suatu gaya yang bekerja pada batuan tersebut dan belum mengalami pergeseran. Kekar pada umumnya terdapat sebagai rekahan tensional dan tidak ada gerak sejajar bidangnya. Kekar membagi-bagi batuan yang tersi ngkap menjadi blok-blok yang besarnya bergantung pada kerapatan kekarnya. D an merupakan bentuk rekahan paling sederhana yang dijumpai pada hampir semua ba tuan. Biasanya terdapat sebagai dua set rekahan, yang perpotongannya memb entuk sudut berkisar antara 45 sampai 90 derajat. Berdasarkan cara terjadinya (genesa), kekar diklasifikasikan menjadi dua, yaitu shear joint (kekar gerus) dan tension stress (tegasan tarikan). a) Shear Joint Shear joint (kekar gerus) terjadi akibat adanya tegasan tekanan ( compressive stress). Karakteristiknya adalah sebagai berikut. (1) Bidang pergerakan lurus dan rata, permukaan licin, menyusun semua b idang-bidang batuan. (2) Terjadi akibat stress yang cenderung untuk menggelincir satu sama la in, searah bidang sesar. (3) Apabila terjadi cermin sesar belum berarti telah terjadi pergese ran akibat kompresi, tetapi mungkin terjadi pergerakan sesudahnnya. b) Tension Stress Tension Stress (tegasan tarikan) yaitu kekar pada batuan yang terjadi aki bat pengurangan atau hilangnya tekanan. Dibedakan menjadi dua, yakni sebagai be rikut. (1) Extension joint, terjadi akibat pemekaran atau tarikan dengan ciri-ci ri yaitu bidangnya tidak rata, terjadi akibat stress yang cenderung untuk me mbelah dengan cara menekan pada arah yang berlawanan dan kedua dindingn ya akan saling menjauh. (2) Release joint, terjadi akibat terhentinya gaya yang bekerja. Berdasarkan geometrinya, kekar diklasifikasikan menjadi strike joint, dip joint, oblique joint, joint set, dan joint system. 4) Ketidakselarasan Ketidakselarasan adalah suatu konsep dalam stratigarafi yang membahas te ntang hubungan yang tidak normal antara lapisan batuan satu dengan yang lain. Ketidakselarasan identik dengan sedimentasi, dimana konsep ini bisa menjela skan tentang proses sedimentasi, endogen dan eksogen yang terjadi se belumnya melalui jenis ketidakselarasan yang terbentuk. Untuk memahami ko nsep tentang ketidakselarasan, untuk memahami dahulu konsep yang sebalikn ya yaitu keselarasan. Selaras dalam stratigrafi artinya teratur, bururuta n, dan menerus. Lapisan dikatakan selaras jika lapisan tersebut dapat diendapkan secara teratur, belum mengalami deformasi, mengikuti hukum sup erposisi (lapisan dibawah lebih tua dari lapisan diatasnya) dan umurnya me nerus atau tidak terjadi renggang umur antar lapisan. Ketidakselarasan dibagi menjadi tiga macam yaitu sebagai berikut. a) Angular uncomformity Ketidakselarasan yang terbentuk akibat adanya sudut antara lapisan yan g tua dengan lapisan yang lebih muda atau permukaan yang menghubungkan dua lapi san sedimen. Sedimen yang terbentuk terlebih bahulu mengalami proses pelipatan sehingga memiliki sudut tertentu kemudian tererosi, lapisan sedimen yan g lebih muda kemudian terbentuk diatasnya. Angular unconformity dicirikan ole h adanya beda dip yang sangat tajam antara perlapisan di atas dan perlapisan di bawah. Gambar 5.20. Angular Unconformity Gambar 5.21. Disconformity

c) Noncomformity Adanya batuan kristalin (beku atau metamorf) yang berbatasan langsung de ngan batuan sedimen. Gambar 5.22. Nonconformity 3. Kaitan Pembelajaran Geologi Struktur Dengan Pertambangan Geologi sebagai ilmu yang mempelajari bumi, mempunyai peranan penting d idalam bidang pertambangan terutama dalam penataan lingkungan daerah pert ambangan, yang kajian utamanya adalah membahas karakteristik fisik dan kimi awi lingkungan pertambangan yang meliputi aspek-aspek Klimatologi, Geom orfologi, Geologi, dan Hidrogeologi. Bentuk roman muka bumi (bentang alam) yang sesuai untuk suatu kawasan pertambangan ditentukan berdasarkan has il pengamatan terhadap lansekap lapangan yang meliputi relief, kemiring an lereng, ketinggian daerah (elevasi), pola pengaliran sungai, litologi, d an struktur geologi yang berkembang. Pembukaan kawasan pertambangan pada daer ah dengan morfologi curam atau terjal perlu ditunjang oleh beberapa kegia tan geologi teknik atau hidrogeologi seperti pemeliharaan stabilitas lereng (slope stability) dan penirisan (dewatering), untuk menghindari terja dinya longsor atau runtuhan akibat dibukanya jalan (road cuts) dan sistem penam bangan yang diterapkan. Dalam suatu operasi pertambangan, perlu dipertimbangkan faktor dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh pengambilan tanah penutup, batuan dan mineral-mineral ekonomis. Anonim, html). Diakses pada tanggal 22 Oktober 2013 Pukul 20.00 WITA.