Anda di halaman 1dari 10

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN MELINJO DALAM MENDUKUNG PERCEPATAN PENERAPAN INOVASI TEKNOLOGI DI PEDESAAN Linda Yanti Balai Pengkajian

Teknologi Pertanian Jambi ABSTRAK Tanaman melinjo (Gnetum gnemon.L) merupakan salah satu komoditas potensial di provinsi Jambi. Total produksi melinjo pada Tahun 2004 mencapai. 5.905 ton. Bagian tanaman melinjo yang memiliki nilai ekonomi tinggi adalah buah melinjo. Kandungan gizi buah melinjo tua antara lain terdiri dari karbohidrat (63,23%), lemak (2,66%), protein (17,39%) dan sejumlah vitamin. Berdasarkan kandungan gizinya, berbagai jenis produk olahan melinjo dapat diolah dari buah melinjo tua seperti emping melinjo dan kerupuk melinjo. Selama ini pengolahan produk melinjo yang sudah menembus pasar ekspor yang diutamakan dalam bentuk emping melinjo, dimana pengolahannya dilakukan secara tradisional. Disisi lain beberapa jenis produk olahan melinjo seperti emping stik melinjo, chips melinjo dan tepung melinjo (produk antara) punya peluang untuk dikembangkan baik dalam skala industri rumah tangga maupun menengah. Pengembangan inovasi teknologi pengolahan produk melinjo tersebut di pedesaan diharapkan dapat meningkatkan mutu, daya saing dan nilai tambah.
Kata kunci : Melinjo, inovasi, teknologi, pengolahan, mutu

PENDAHULUAN Melinjo (Gnetum gnemon L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang prospektif dikembangkan, karena buahnya digunakan sebagai bahan baku pengolahan emping melinjo yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Disamping buahnya pemanfaatan melinjo meliputi; batang (sebagai bahan bangunan) daun dan bunga untuk sayuran dan berbagai produk olahan lainnya (Risfaheri, 1990 ; Penebar Swadaya, 1995). Kegunaan lain yang tidak kalah penting yaitu melinjo sebagai salah satu tanaman Multi Purpose Tree Species (MPTS) yang cukup resisten terhadap bahaya kebakaran, karena percabangan pohonnya panjang serta kandungan air batang yang cukup tinggi, sehingga melinjo dianjurkan ditanam untuk mencegah kebakaran hutan (Otsuka et al., 2002). Dilaporkan juga bahwa tanaman melinjo cocok dikembangkan untuk tanaman penghijauan di lahan lahan kritis ataupun sebagai tanaman pelindung (Ruhnayat et al., 1996). Penyebaran tanaman melinjo hampir meliputi seluruh wilayah Indonesia termasuk di provinsi Jambi. Luas tanaman melinjo di Jambi mencapai 2.917 ha dengan produksi 5.905 ton (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2004). Ekspor emping melinjo dari provinsi Jambi telah menembus pasar Malaysia, Singapura dan Brunei. Namun demikian dengan masuk era pasar bebas menyebabkan posisi produk Indonesia akan tersingkir dari pasar Internasional. Oleh sebab itu mutu produk olahan melinjo (emping

dan produk lainnya) harus lebih ditingkatkan melalui perbaikan teknologi pengolahan yang tepat dan dapat menjamin kestabilan mutu dan keamanan serta daya saingnya. Pada umunya masalah utama yang dihadapi pada pangan tradisional, mutu yang rendah, kurang higienis dalam proses pengolahan, penampilan kurang menarik serta kurang modal (Thahir, 2004 dan Darmawan, 2004). Dalam upaya mendapatkan produk yang memenuhi standar mutu, kendali mutu harus dimulai dari penanganan pasca panen, proses pengolahan dan penyimpanan serta kemasan. Buah melinjo setelah dipanen biasanya tidak langsung digunakan, tetapi disimpan sebagai persediaan bahan baku. Penyimpanan yang terlalu lama akan mengakibatkan penurunan mutu buah melinjo. Oleh sebab itu diperlukan penanganan dan teknologi yang tepat agar buah tahan disimpan lebih lama tanpa mengalami penurunan mutu yang berarti. Salah satu alternatif untuk itu adalah dengan mengolah melinjo menjadi tepung melinjo yang relatif lebih tahan disimpan dan juga dapat digunakan dalam berbagai jenis makanan sebagi substitusi tepung terigu ataupun penambah cita rasa (Hasnelly, 2002). Untuk memperbaiki proses pengolahan antara lain dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi pengolahan alat semi mekanis (Hanafi, 1997). Keuntungan pengolahan secara semi mekanis atau mekanis antar lain dapat menjaga keseragaman produk dan kestabilan mutunya. Disamping itu juga untuk meningkatkan nilai tambah, cita rasa serta keragaman produk agar dapat bersaing di pasaran dilakukan penganekargaman produk olahan melinjo. Beberapa produk olahan selain emping yang prospektif dikembangkan menunjang agroindustri di provinsi Jambi antara lain emping stik, kerupuk melinjo dan chips melinjo serta porduk lainnya yang bernilai ekonomi (Yanti, 2002). Sehubungan dengan itu, tulisan ini membahas pasca panen melinjo, komposisi kimia dan nilai gizi, teknologi pengolahan emping, emping stik, kerupuk melinjo, chips melinjo dan produk olahan setengah jadi (tepung melinjo) serta peluang pengembangan agro industri melinjo di provinsi Jambi. Diharapkan melalui bahasan tersebut dapat menjadi alternatif peningkatan mutu dan keragaman produk yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan petani melinjo di provinsi Jambi. KOMPOSISI KIMIA DAN NILAI GIZI PRODUK OLAHAN MELINJO Melinjo mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi, disamping mengandung karbohidrat juga mengandung lemak, protein, mineral dan vitamin. Daun melinjo muda merupakan sumber vitamin A ((Hartoyo, 1998). Pada buah melinjo tua kandungan serat kasarnya cenderung meningkat, bisa mencapai 2.67%, sedangkan pada buah melinjo muda hanya sekitar 1.02%. Kandungan zat gizi lainnya seperti kadar air, abu, protein, lemak dan karbohidrat cenderung menurun (Tabel 1).

Tabel 1. Komposisi kimia buah melinjo dan produk olahan Bagian Komposisi Kimia (%) melinjo Air Abu Protein Lemak Serat Kasar
Daging buah 11.36 2.35 muda Daging buah 11.94 1.88 setengah tua Daging buah 12.04 2.01 tua Emping 12.96 1.76 mentah Emping 6.44 2.20 goreng Sumber : Basrah et al., (1993) 17.73 15.43 17.39 15.59 16.30 3.73 3.09 2.66 4.22 8.42 1.02 1.59 2.67 0.96 1.24

Karbohidrat
63.81 66.07 63.23 64.13 64.40

Dilihat dari kandungan gizinya, produk olahan melinnjo disamping menambah cita rasa dan keragaman pangan tradisional juga memberikan kontribusi gizi untuk dikonsumsi. Demikian juga halnya dengan susunan dan jumlah asam amino yang terkandung dalam produk olahan emping melinjo cukup lengkap. Menurut rekomendasi FAO, pada produk olahan melinjo hanya ada dua jenis asam amino yang jumlahnya lebih rendah yaitu asam amino metionin dan fenil alanin (Tabel 2). Tabel 2. Kandungan asam amino emping melinjo
Asam Amino
Isoleusin Leusin Lysin Metionin Fenilalanin Threonin Triptofan Valin Arginin Histidin Alanin Asam aspartat Asam glutamat Glisin Prolin Serin

Emping Mentah (mg/gN)


275 456 350 74 188 313 169 425 494 94 263 675 994 275 244 356

Emping Goreng (mg/gN)


275 438 331 75 181 288 163 413 463 94 244 663 956 263 244 331

Rekomendasi FAO (mg/gN)


250 440 340 220 380 250 65 310 -

Sumber : Direktorat Gizi (1979) Keberadaan dan jumlah nutrisi tersebut dalam produk olahan melinjo dipengaruhi oleh penanganan bahan baku, kondisi proses serta perlakuan pengemasan dan penyimpanan yang memadai dan dapat menjamin kestabilan mutu.

PASCA PANEN BUAH MELINJO Pemetikan buah melinjo dilakukan saat buah sudah tua yang ditandai dengan warna kulit luar bewarna merah tua. Pasca panen melinjo meliput ; pengupasan kulit luar, pengeringan, sortasi dan penyimpanan.

1. Pengupasan kulit luar Pengupasan kulit melinjo di tingkat petani pada umumnya masih menggunakan cara manual yaitu dengan menggunakan pisau ( (Yanti, 2000). Cara pengupasan lain yang juga bersifat tradisional yaitu pembusukan dengan merendam dalam lumpur atau tanah lembab selama 3 4 hari. Kelemahan dengan cara ini yaitu memakan waktu yang lebih lama dan kapasitas rendah, sdangkan dengan pembusukan akan menurunkan kualitas dan tidak tahan disimpan lama (Sumangat et al., 1996). Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa pengupasan dengan perendaman dalam larutan KOH encer dapat meningkatkan kecepatan pengupasan yaitu sekitar 18 detik untuk 100 gram buah melinjo, sedangkan secara manual mencapai 6.5 menit untuk jumlah buah yang sama (Wiriatno dan Shinta, 1984). Upaya lain untuk meningkatkan kualitas biji melinjo kupasan adalah dengan menggunakan alat semi mekanis, dengan cara ini disamping lebih cepat kualitas melinjo dapat dipertahankan. Penggunaan alat ini perlu diperhitungkan dari segi ekonomis, mengingat pengrajin melinjo sebagian besar masih bersifat skala rumah tangga dengan modal yang terbatas. 2. Pengeringan Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air biji melinjo mencapai 20 25% agar tahan disimpan lama (untuk stok bahan baku), tidak mudah diserang jamur dan pengganggu lainnya. Cara pengeringan dapat dilakukan dengan penjemuran dibawah matahari, kering angin dan alat pengering buatan dengan sumber panas kompor atau bahan bakar kayu (Sumangat et al., 1996). Waktu pengeringan cara mekanis (pengeringan buatan) lebih cepat yaitu 2 3 jam dan tidak tergantung pada cuaca. 3. Sortasi Tujuan sortasi dilakukan untuk memisahkan biji melinjo kupasan (klatak) utuh dari bji rusak atau busuk dan dipilih ukuran biji yang relatif seragam (Hartoyo, 1998). Sortasi dilakukan dengan dipilih secara manual atau dengan menggunakan ayakan bambu (Yanti, 2002). Biji melinjo yang berkualitas ditentukan oleh umur panen dan penanganan pasca panen yang baik. 4. Penyimpanan Biji melinjo yang sudah disortasi dapat digunakan langsung untuk diolah menjadi berbagai bentuk produk olahan atau disimpan sebagai stok bahan baku. Cara penyimpanan menggunakan karung palstik, keranjang atau ditumpuk diatas lantai (Yanti, 2002). Untuk penyimpanan dalam jumlah besar, kapasitas gudang penyimpanan biasanya sekitar 10 20 ton dengan lama penyimpanan 2 3 bulan (Setiawan, 1983). TEKNOLOGI PENGOLAHAN MELINJO Dalam upaya perbaikan kualitas, tampilan dan daya saing melinjo di pasaran saat ini berbagai alternatif teknologi pengolahan melinjo mulai banyak ditawarkan baik secara tradisional maupun mekanis. Namun demikian teknologi pengolahan secara tradisional masih tetap menjadi pilihan, mengingat biaya produksi dapat ditekan dan memiliki citarasa yang unik, tetapi harus memperhatikan mutu, baik dari pemilihan bahan baku, selama proses maupun penyimpanan. Saat ini ada beberapa produk yang prospektif untuk dikembangkan selain emping melinjo yaitu, kerupuk melinjo, emping stik melinjo dan chips melinjo.

1. Emping Melinjo Emping melinjo merupakan jenis makanan ringan yang diolah dari biji melinjo yang sudah tua (Hartoyo, 1998). Sebagian besar masyarakat sudah sangat mengenal makanan ini dengan rasa yang khas dan gurih setelah digoreng. Pada prinsipnya pengolahan emping melinjo baik secara tradisional maupun mekanis sama, perbedaan hanya pada penggunaan alat (Gambar 1). Keuntungan pengolahan secara semi mekanis atau mekanis (pada industri menengah) antara lain hasil emping mempunyai ukuran yang relatif seragam, kebersihan terjamin, kualitas lebih baik (Yanti, 2002). Kualitas emping melinjo ada tiga macam yaitu : 1. Kualitas I (Emping super) dengan ciri ciri : bentuk dan ukuran seragam, lempeng tipis dan rata, warna agak putih/bening 2. Kualitas II dengan ciri ciri : bentuk dan ukuran relatif seragam, lempengan tipis tapi kurang rata, warna putih kekuningan 3. Kualitas III dengan ciri ciri : bentuk dan ukuran tidak seragam, lempengan agak tebal dan tidak rata, warna kekuningan dan tidak mengkilat Keunggulan emping kualitas super ditentukan oleh pemilihan bahan baku yang berkualitas (berukuran besar, sudah tua dan utuh) dan prosesnya terkendali (memakan waktu lebih lama) dan memerlukan pengerjaan yang telaten. Emping dengan kualitas tersebut dipasaran memiliki harga paling tinggi, yaitu mencapai Rp. 25.000.per Kg (berdasarkan harga saat ini).
Biji melinjo Pengupasan kulit luar (alat pengupas) Penjemuran (dengan alat pengering) penyangraian Pengupasan kulit keras Pemipihan biji melinjo (alat semi ekanis) Penjemuran/ Pengeringan Emping melinjo Pengemasan

Gambar 1. Diagram alir pengolahan emping melinjo 2. Emping Stik Melinjo Merupakan salah satu produk olahan melinjo dengan tampilan lebih menarik. Proses pengolahan sangat mudah dapat dilakukan secara tradisional maupun mekanis. Tahap pengolahan secara lengkap dapat dilhat pada Gambar 2.

Biji melinjo Pengukusan Penambahan bumbu (garam, gula, cabe & air) Penggilingan Penipisan Pencetakan bentuk stik (ukuran 1 cm) Penjemuran/ Pengeringan Stik melinjo Pengemasan

Gambar 2. Diagram alir pengolahan emping stik melinjo 3. Kerupuk Melinjo Kerupuk melinjo dibuat dari campuran tepung melinjo (biji melinjo kering yang dihaluskan) dengan pencampuran beberapa macam bumbu seperti cabe, bawang, garam atau bahan lainnya untuk menambah citarasa (gambar 3). Untuk menghasilkan kerupuk melinjo dengan hasil yang optimal biasanya ditambahkan tepung tapioka dengan perbandingan 1:2 (Basrah et al., 1993).
Biji melinjo kering Penggilingan Tepung melinjo Pembuatan adonan (tapioka 1:1, air & bumbu) Pengukusan (Selama 20 menit) Pencetakan (ukuran garis tengah 4 cm) Penjemuran/ Pengeringan Kerupuk melinjo Pengemasan

Gambar 3. Diagram alir pengolahan kerupuk melinjo

4. Chips Melinjo Chips melinjo merupakan produk hasil olahan lanjut melalui proses ekstrusi sehingga akan menyebabkan perubahan bentuk dari wujud bahan bakunya. Bahan yang digunakan antara lain tepung melinjo, tapioka, margarin, air, garam dan bumbu lainnya sesuai selera (Sri, 1997). Proses pengolahan chips melinjo meliputi pembuatan adonan kemudian di ekstrusi dengan ekstruder, selanjutnya dikemas untuk dipasarkan. Saat ini chips melinjo belum banyak dipasarkan, tetapi melihat trend pasar yang berkembang, produk ini sangat potensi diusahakan mengingat produk sejenis dari bahan baku lain sudah banyak dipasarkan (seperti dari bahan baku kentang dan jagung).
Biji melinjo kering Penggilingan Tepung melinjo pembuatan adonan (tapioka, garam, margarin & air) Ekstrusi (dengan ekstruder) Chips Melinjo Pengemasan

Gambar 4. Diagram alir pengolahan chips melinjo 5. Tepung Melinjo Pengolashan melinjo menjadi tepung merupakan salah satu alternatif untuk memperpanjang masa simpan melinjo sebagai produk setengah jadi (sebagai bahan baku). Disamping lebih tahan disimpan, tepung melinjo dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan sehingga dapat meningkatkan nilai tambah produk melinjo. Tepung melinjo memiliki protein yang rendah (7-9%) sehingga cocok dijadikan sebagai substitusi tepung terigu dalam pengolahan kue kering (cookies). Hal ini dikarenakan tepung dengan kandungan protein tinggi akan mengakibatkan tektur keras dan penampilan kurang menarik (Hasnelly, 2002). Pada prinsipnys proses pengolahan tepung melinjo adalah dengan pengeringan sampai kadar air biji mencapai 7 - 12%. Tahap selanjutnya biji melinjo kering (klatak) digiling sampai jadi tepung dan siap digunakan untuk berbagai jenis pengolahan kue kering (cookies). Penggunaan tepung melinjo dalam pengolahan kue kue kering disamping dapat menambah cita rasa, juga menjadikan tampilan produk melinjo lebih menarik.

PELUANG PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN MELINJO Teknologi pengolahan melinjo di Provinsi Jambi sebagian besar masih dilakukan secara tradisional dan bersifat skala usaha rumah tangga terutama pengolahan emping melinjo, sehingga produktivitas rendah dan mutu beragam (Yanti dan Sigid, 2000). Sementara itu komoditi ini cukup prospektif dikembangkan, hal ini dapat dilihat dari total volume ekspor emping yang mencapai 6.735 ton dengan nilai 10.801.89 US$ pada Tahun 2002 (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, 2002). Pengembangan teknologi pengolahan melinjo secara tradisional, perbaikan pengolahan dan penganekaragaman produknya pada masa mendatang mempunyai peluang yang baik seiring dengan terbukanya era pasar bebas dan adanya upaya pemerintah mengangkat dan mempromosikan jenis pangan tradisional lokal maupun nasional. Disamping itu adanya mobilitas penduduk yang tinggi saat ini, baik antar daerah maupun negara memacu perluasan pasar tersebut. Untuk mengembangkan pasar produk pangan tradisional harus memperhatikan beberapa aspek penting yaitu ; mutu, selera konsumen, masa simpan, desain kemasan, harga, ketersediaan produk dan promosi. Aspek lain yang tidak kalah penting yaitu masa simpan produk harus lebih lama, sebagai contoh untuk pasar ekspor masa simpan minimal 8 bulan dan untuk pasar dalam negeri berkisar 1 2 bulan (Darmawan, 2004). Ada beberapa cara dapat dilakukan untuk meningkatkan masa simpan produk, antara lain dengan pengawetan, penggunaan kemasan dan sebagainya. Disamping itu disain dan tampilan kemasan harus diperbaiki sehingga menarik bagi pembeli. Dari beberapa hasil penelitian dan kajian yang telah dilakukan untuk perbaikan penanganan bahan baku di tingkat petani yang dapat diaplikasikan antara lain alat pengupas kulit melinjo dan untuk pengolahan alat pemipih semi mekanis. Kedua alat tersebut dapat dibuat sesuai dengan kapasitas produksi dan biayanya tidak terlalu mahal serta dapat menghasilkan produk dengan mutu yamg lebih baik. Untuk alat pemipih emping melinjo dengan tipe rotary manual dapat meningkatkan kemampuan kerja mencapai 1.7 kg/jam (Hanafi, et al., 1997). Sedangkan produk lain yang berpeluang untuk dikembangkan pada skala pengolahan kelompok tani antara lain emping stik dan kerupuk melinjo, karena secara teknis mudah dilakukan. Untuk industri menengah yaitu berupa chips melinjo yang membutuhkan biaya lebih besar untuk pengadaan alat (ekstruder). KESIMPULAN Terbukanya era pasar bebas dan mobilitas penduduk yang tinggi antar kota dan negara membuka peluang pasar produk melinjo lebih luas lagi baik untuk lokal maupun ekspor. Oleh karena itu upaya perbaikan teknologi pasca panen, pengolahan, pengemasan yang lebih baik, tampilan yang menarik serta promosi perlu dilakukan agar produk melinjo di pasaran dapat bersaing dengan produk lain dan juga mengangkat citra pangan tradisional dari wilayah Jambi. Teknologi pengolahan tradisional masih dapat dilakukan, tetapi harus memperhatikan mutu produk akhir, seiring dengan itu secara bertahap perlu dikembangkan alat pengolahan mekanis yang dapat menjamin kestabilan mutu dan meningkatkan produktivitas.

Aneka produk olahan melinjo lainnya seperti emping stik melinjo, kerupuk dan chips melnjo perlu dikembangkan melalui penerapan teknologi spesifik lokasi dan didukung oleh lembaga lembaga terkait dalam hal pembinaan dan pendanaan sehingga dapat membantu pengembangan agroindustri melinjo di Provinsi Jambi. DAFTAR PUSTAKA Basrah, E.A., Dadang, Solechan dan A. Djakaria. 1993. Penelitian Komposisi dan Sifat Fisika Kimia Biji Melinjo dan Produk Olahannya. Laporan Hasil Penelitian. BBIHP. Bogor. Darmawan, T. 2004. Potensi, Peluang dan Kendala Bisnis Pangan Tradisional. Prosiding. Peningkatan Daya Saing Pangan Tradisional. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Bogor. Dinas Perindustrian dan Perdagangan. 2002. Realisasi Ekspor Provinsi Jambi Tahun 2002. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi. Jambi Dinas Petanian Tanaman Pangan. 2004. Data Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Tahun 2003. Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Jambi. Direktorat Gizi, 1979. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. Hanafi, H., E. Masbulan dan Y. Soelaeman. Pengujian Alat Pascapanen Melinjo dalam Pembuatan Emping di Pedesaan.1997. Prosiding. Sistem Usahatani Konservasi Mendukung Pengembangan Kawasan Perbukitan Kritis Daerah Istimewa Yogyakarta. Bagian Proyek Penelitian Terapan Sistem DAS Kawasan Perbukitan Kritis. Badan Litbang Pertanian. Yogyakarta. Hartoyo. 1998. Membuat Emping Melinjo. Kanisius.Yogyakarta. Hasnelly. 2002. Penganekaragaman Teknologi Pengolahan Melinjo. dalam CakrawalaSuplemen. Pikiran Rakyat Khusus IPTEK. Bandung Nainggolan, K. 2004. Strategi Kebijakan Pangan Tradisional Dalam Rangka Ketahanan Pangan. Prosiding.Peningkatan Daya Saing Pangan Tradisional. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Bogor. Otsuka,M., Sumantri, Kuspriyadi and Syaharudin .2002. Review of the Participatory Forest Fire Prevention Programs in Jambi and West Kalimantan, Indonesia. In Communities in Flames. Proceedings of an International Conference on Community Involvement in Fire Management. Penebar Swadaya. 1995. Melinjo. Budidaya dan Pengolahan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Risfaheri. 1990. Prospek Pengembangan Melinjo Indonesia. Medkom. Puslitbangtri. Bogor. Ruhnayat, A., A. Dhalimi, CH. Syukur dan A. Djisbar. 1996. Teknik Budidaya Melinjo Untuk Keperluan Konservasi Lahan. Prosiding Seminar dan Temu Lapang. Teknologi Konservasi Air Berwawasan Agribisnis pada Ekosistem Wilayah Sumatera Barat. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Bogor. Setiawan.Y.Y. 1993. Laporan Outposting Emping Melinjo di Kabupaten Pandeglang dan Serang. BBIHP. Bogor. Soetanto,E. 1998. Membuat Emping Stik Melinjo. Kanisius. Yogyakarta. Sri, M.F.1997. Mempelajari Karakteristik Chips Ekstrudat Biji Melinjo (Gnetum gnemon. L) dengan Penambahan Tapioka dan Margarin. Skripsi. Fateta. IPB. Bogor. Sumangat, D., M.P. Laksmana, T. Hidayat dan Eddi I.1996. Pemanfaatan Teknologi Pascapanen Buah Melinjo di Lahan Kritis Danau Singkarak. Prosiding Seminar dan Temu Lapang. Teknologi Konservasi Air Berwawasan Agribisnis pada Ekosistem Wilayah Sumatera Barat. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Bogor. Thahir, R. 2004. Program Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pangan Tradisional Untuk Mendukung Ketahanan Pangan. Prosiding. Peningkatan Daya Saing Pangan Tradisional. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Bogor. Yanti,L. dan Sigid H. 2000. Identifikasi Kendala dan Prospek Pengembangan KUBA Kasang Pudak (Emping Melinjo). Jurnal Agronomi. Universitas Jambi. Vol 4. No. 2. Jambi. Wiriatno dan Shinta, D.S.1984. Pengembangan Emping Melinjo. Laboran Penelitian. BBIHP. Bogor. Yanti. L. 2002. Pengaruh Bahasa dan Jenis Ilustrasi Pada Buklet Terhadap Peningkatan Pemahaman Petani Tentang Pendayagunaan Melinjo (Kasus di Desa Kasang Lopak Alai Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi). Tesis Program Pascasarjana. IPB. Bogor.

10