Anda di halaman 1dari 25

Islam Agamaku, Allah Tuhanku, Muhammad Rasulku

(Bantahan atas Tulisan Islam : Sebagai Antitesis Agama)


Oleh : mahfuzbudi@yahoo.com

Kartun-kartun yang tak relevan


Menarik sekali membaca tulisan sarjana teknik EENS berjudul Islam sebagai
Antitesis Agama yang saya peroleh melalui Scribd. Sebenarnya karya Anda bisa menjadi
lebih menarik lagi kalau tidak disertai karikatur yang tidak ada hubungannya dengan
tulisan Anda sendiri.
Karikatur pertama dari The Christian Science Monitor (TCSM) menunjukkan
seorang bersenjata yang shalat dengan membelakangi kiblat, sementara saudara-
saudaranya seagama yang ada di kiri kanan dan muka belakangnya justru shalat ke arah
yang seharusnya. Artinya, ada satu (gelintir) umat Islam yang bertindak justru bertolak
belakang dari ajaran agamanya di tengah banyak (gelintir) umat Islam lain yang masih
lurus dalam menjalankan agamanya. Tidak ada yang dapat saya ungkapkan kecuali
ucapan terima kasih kepada Anda dan TCSM yang dengan jernih mampu memahami
bahwa si pria bersenjata benar-benar bagian minoritas dari umat Islam yang tersesat dan
tak mampu memahami ajaran Islam yang sebenarnya.
Karikatur kedua tentang pidato Paus Benediktus XVI yang, maaf, saya sendiri
tidak tahu persis seperti apa bunyi lengkapnya, tapi kira-kira kalau dilihat dari
gambarnya, telah menyulut kemarahan umat Islam, dan membuat Paus menyampaikan
maaf.
Karikatur ketiga tentang seorang pria dengan kain ditutupkan ke wajah dan
kepalanya menebas tangan kartunis. Dalam kenyataannya tak ada kartunis yang dipotong
tangannya meskipun ia telah menghina Nabi Muhammad (bukan Muhamat!). Sepelekah
jika Nabi yang dimuliakan umat Islam dilecehkan oleh seorang kartunis? Pandangan saya
pribadi : ya, sepele. Sebab kehormatan dan kemuliaan Nabi Muhammad sedikit pun tidak
berkurang karenanya. Dalam hal ini saya menilai umat Islam memang terlalu reaktif.
Begitu saja kok marah. Kalau saya jadi kartunis di media, yang akan saya lakukan
sederhana saja. Saya akan buat pula gambar Paus dengan visual pelecehan yang sama.
Impas kan?
Karikatur keempat cuma pengulangan dari karikatur ketiga, dan si radikal muslim
marah-marah karena Nabi yang sangat dihormatinya dihina. Karikatur kelima juga terkait
dengan kartun Nabi, dan yang digambarkan disitu adalah persiapan nuklir Iran. Iran ya
Iran, Islam ya Islam. Jadi apa hubungannya, ya?
Karikatur terakhir seorang ekstremis (pembom bunuh diri maksudnya, ya?)
digambarkan menyerang yang ada salib-salibnya. Apa iya ada kisah nyata seperti itu?
Sepanjang yang kita ketahui, pembom bunuh diri ada di sejumlah negara yang sedang
dilanda perang, dan namanya juga perang, mereka membalas dengan melakukan serangan
bunuh diri. Cuma apa ada ya, pastor atau yang pakai-pakai salib yang diserang dengan
sengaja dengan metode itu? Yang diserang biasanya kelompok yang dinilai sebagai
lawannya, dan umumnya militer. Kalau ada yang pakai-pakai salib terbunuh bukan
karena dia pakai salib, tapi karena dia kebetulan ada di lokasi target serangan. Apa
bedanya dengan tentara Israel menyerang Hamas, dan sejumlah bocah-bocah yang
sedang lucu-lucunya ikut terbunuh. Atau tentara Israel memang sengaja membunuhi bayi-
bayi dan anak-anak kecil itu? Kan, nggak?!
Setelah membahas kartun saya ingin membahas tulisan Anda yang sangat bernas.
Seperti apa Anda menulis, seperti itu jugalah saya membahasnya.

Saya kutipkan pengantar Anda :

“Salah satu keuntungan hidup di masyarakat yang heterogen adalah kita punya
kesempatan untuk mengenal banyak iman kepercayaan lain dan punya
kesempatan untuk memilih. Kondisi heterogen ini juga yang membuat saya
tertarik untuk mengenal berbagai ajaran agama dengan tujuan agar dapat
menentukan pilihan yang tepat. Tentu pada akhirnya saya harus memilih satu
jalan. Itu berarti saya harus menolak jalan-jalan yang lain. Tidak hanya itu, saya
juga harus mampu mempertanggungjawabkan secara dewasa mengapa saya
memilih satu jalan dan menolak banyak jalan yang lain. Pengalaman hidup dan
berbagai pergolakan iman akhirnya menuntun saya memilih Katolik sebagai jalan
kebenaran yang saya yakini.”

Di sini terlihat kita berangkat dari titik tolak berbeda. Saya beruntung tak pernah
mengalami pergolakan iman, dan beruntung tak perlu bingung-bingung memilih sebab
orang tua saya sudah memilihkan Islam sebagai agama buat saya. Saya ikuti pilihan
mereka, dan setelah dewasa saya pelajari agama saya dengan lebih intens, dan kemudian
saya sadar betapa tepatnya pilihan mereka. Islam memberikan ketenangan kepada saya,
jiwa dan raga.
Klaim Anda bahwa Katolik agama universal tidak akan saya gunakan di sini,
sebab bagi kami umat Islam, agama universal itu, ya, Islam. Jadi daripada
membingungkan, dalam jawaban ini Katolik disebut Katolik, Islam disebut Islam.

Penciptaan Iblis

“Dalam teologi Yudeo-Kristian, Tuhan yang Maha Baik tidak mungkin


menciptakan iblis sejak semula. Tuhan hanya menciptakan para malaikat. Ini
berbeda kontras dengan teologi Islam yang mengatakan bahwa iblis diciptakan
dari api, dengan demikian Islam mengakui bahwa Tuhan sendirilah yang
menciptakan iblis.Atau dengan kata lain Tuhan sendiri yang telah menciptakan
sumber segala kejahatan.”

Begitulah yang Anda sebut. Bukan main! Tapi Anda setengah benar. Berangkat
dari penuturan Anda selanjutnya, kita dapat menyimpulkan bahwa dalam ajaran agama
Katolik, iblis itu awalnya adalah malaikat yang sok pintar lalu memberontak.
“Malaikat pemberontak ini kehilangan segala kekudusan dan kemuliaan sebagai
malaikat lalu berubah menjadi iblis dan dibuang dari surga”, begitu Anda tulis.
Pertanyaannya, sebelum Lucifer jadi iblis, dia adalah malaikat. Yang menciptakannya
sebagai malaikat, siapa ya? Yang membuatnya bisa punya pikiran “sok pintar” siapa?
Atau, apakah mungkin Tuhan menciptakan zat atau wujud malaikat saja, tapi pikirannya
tidak? Pikiran malaikat tercipta begitu saja?
Mari kita bandingkan kisah yang sama dalam al-Qur’an :
Dan ingatlah ketika Allah berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu
kepada Adam maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin,
maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan
turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada Allah, sedang mereka
adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi
orang-orang yang zalim.(Q.S. 18 : 50).

Jelas, Allah sebagai Khalik (Pencipta) menciptakan makhluk (yang diciptakan).


Makhluk ada yang halus dan ada yang kasar.1 Makhluk halus adalah jin dan malaikat.
Makhluk kasar adalah manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Jadi yang diciptakan
Allah saat itu ada dua : jin dan malaikat. Lalu Allah menciptakan Adam, makhluk
bertubuh kasar pertama yang Dia canangkan sebagai makhluk terbaik dan termulia yang
Dia ciptakan. Lalu dua makhluk pertama, yaitu jin dan malaikat Dia perintahkan bersujud
kepada Adam. Kalimat aslinya dalam ayat al-Qur’an itu adalah fasajadu (bersujud) dan
jangan ditafsirkan menyembah. Ini kurang lebih sama dengan tradisi sungkem kepada
orang tua bagi masyarakat Jawa. Sungkem bukan berarti menyembah orang tua tapi
sebagai manifestasi rasa hormat kepada mereka. Ternyata ada di antara jin yang menolak
perintah bersujud itu Itulah Iblis.
Secara prinsip kisahnya sama. Bedanya hanyalah iblis dalam ajaran Katolik
awalnya malaikat, sedang iblis dalam ajaran Islam awalnya, dan seterusnya, adalah jin.
Tuhan menciptakan sumber segala kejahatan? Benar, cuma tidak lengkap. Yang
lengkap ialah Tuhan menciptakan sumber segala kejahatan dan sumber segala kebaikan,
lalu kita manusia dikarunia akal dan dengan akal itu kita memilih : mau kejahatan atau
mau kebaikan? Inilah yang paling sesuai dengan kenyataan, bahwa manusia di dunia,
terlepas dari apa agamanya, ternyata ada yang memilih jalan kejahatan dan ada yang
memilih jalan kebaikan.
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (Q.S. 90 : 10). Dan hak bagi
Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan
jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang
benar). (Q.S.16 : 9)
Dalam ajaran Islam, semua yang ada di langit dan di bumi, apa pun itu, adalah
ciptaan-Nya. Iblis pun ciptaan-Nya. Tugasnya (baca : takdirnya) pada akhirnya menguji
keimanan jin dan manusia, sebab kalau Allah mau Dia bisa saja jadikan semuanya baik-
baik saja, lalu semuanya mati dan masuk surga. Selesai. Ternyata tidak, sebab
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan (=menciptakan kan?) setan-setan itu sebagai
pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman” (Q.S. 7 : 27).
Lagi-lagi pertanyaannya : Menurut iman Katolik, yang menciptakan langit dan
bumi dan segala isinya—yang baik dan yang jahat—siapa? Apa iya Tuhan menciptakan
yang baik –baik saja, lalu yang jahat tercipta sendiri? Kalau begitu apa fungsi akal
manusia dalam iman Katolik?
Dalam Islam, akal manusia berfungsi untuk memilih. Manusia bebas memilih
mau berbuat baik atau mau berbuat jahat. Tetapi setiap perbuatan ada konsekuensinya.
Allah sudah tentukan aturan-aturan kehidupan manusia dalam kitab suci-Nya, dan sudah
tentukan pula konsekuensi-konsekuensi dari setiap tindakan, baik semasa di dunia,
apalagi setelah di akhirat kelak.
1
Halus dan kasar dalam pengertian fisiknya.
Kejatuhan Manusia

Tentang kejatuhan manusia yang Anda sampaikan, dimana Adam dan Hawa ditipu
iblis lalu dikeluarkan dari Firdaus, tak perlu saya tanggapi sebab kisahnya sama saja
dengan yang ada dalam Al-Qur’an. Karena sama, :
“berarti Al-Qur’an telah mencomot ajaran-ajaran para nabi sebelumnya sehingga
dapat mengklaim dirinya sebagai pembawa dan pelurus seluruh ajaran para
nabi, sekaligus penutup rangkaian kitab suci para nabi. Kalau jaman sekarang
tindakan semacam ini sudah dikategorikan sebagai pembajakan, yaitu sebuah
tindakan kriminal yang layak mendapat hukuman.”

Begitulah Anda dengan sarkastis menulis. Anda faham apa yang disebut
pembajakan? Jika Anda kutip sana-sini dalam tulisan Anda lalu tidak buat catatan kaki
dan mengklaim kutipan-kutipan itu bersumber dari pemikiran orisinal Anda, berarti Anda
pembajak. Plagiat!
Al-Qur’an kitab plagiat? Bisa saja kalau di dalam Al-Qur’an itu ada isi kitab-kitab
suci sebelumnya yang diturunkan Tuhan yang juga menurunkan Al-Qur’an, dan bilang ini
murni ide Al-Qur’an. Nyatanya, Al-Qur’an menegaskan dan mengakui bahwa di dalam
Al-Qur’an itu terdapat isi kitab-kitab yang lurus.(Q.S. 98 : 3).
Umat Islam wajib mengimani kitab-kitab yang lurus, yaitu Taurat, Zabur, Injil dan
Al-Qur’an. Jika ada umat Islam yang cuma iman kepada Al-Qur’an dan menafikan tiga
kitab pendahulunya berarti ingkar (kafir). Ini dogma Islam yang disandarkan kepada
pengakuan bahwa keempat kitab suci tersebut Pengarang-nya adalah Yang Satu. Jadi
wajar saja isinya banyak yang sama, lha, Sumber-nya Yang Satu, kok.
Untuk itu tolong Anda tunjukkan dulu kitab Taurat, Zabur, dan Injil yang asli
sebagaimana yang diturunkan Allah, agar kita bisa download dari Scribd. Ingat, yang asli,
dan bukan penafsiran-penafsiran terhadap kitab-kitab tersebut. Kalau tafsir Al-Qur’an
banyak, dan namanya juga tafsir, isinya tergantung kemampuan yang menafsirkan.
Artinya tafsir Al-Qur’an bisa benar dan bisa salah. Kalau salah, ya kesalahan penafsirnya,
bukan kesalahan Al-Qur’an-nya. Dalam hal ini harus dibedakan antara Al-Qur’an karya
Allah dan aneka Tafsir Al-Qur’an karya manusia. Tafsir beda pula dengan Terjemah.
Kalau terjemah Al-Qur’an berarti arti ayat-ayatnya dalam bahasa lain; isinya cuma arti
secara harfiah. Bisakah kita memperoleh Injil dengan cara yang sama?
Umat Islam secara politis terpecah dua menjadi Sunni dan Syi’ah, dan keduanya
punya penafsiran yang berbeda terhadap isi Al-Qur’an. Tetapi Al-Qur’an-nya sendiri
sama, tak beda satu huruf pun. Tapi penafsiran manusianya terhadap apa yang dimaksud
dalam ayat-ayatnya tidak sama. Sekarang, sekali lagi, tolong Anda tunjukkan kepada
kami umat Islam, Injil yang diimani umat Katolik, Injil yang diimani umat Kristen
Protestan, kemudian terjemahan keduanya, lalu tafsir dari pakar masing-masing.
Masih menyangkut kejatuhan manusia, Anda menyatakan :

“Akibat dari tipu daya iblis dan ketidaktaatannya pada Tuhan, manusia akhirnya
kehilangan martabatnya sebagai citra Tuhan dan harus diusir dari taman Eden
(Firdaus). Inilah dosa asal yang terus-menerus menjadi bagian dari peradaban
manusia sampai akhirnya (menurut kristianitas) nanti dipulihkan kembali oleh
Yesus Kristus melalui penebusan salibNya. Teologi Islam memandang kejatuhan
Adam ini jauh berbeda, seolah-olah ini sekedar dosa biasa yang cukup
diselesaikan dengan permohonan ampun. Islam tidak menyadari konsekuensi
yang amat mendasar dari kejatuhan manusia-manusia pertama ini sehingga Islam
menolak ide-ide tentang dosa asal. Padahal konsekuensi dari dosa ini amat besar:
manusia kehilangan martabatnya sebagai citra Tuhan dan sekaligus kehilangan
kehidupan yang damai, manusia mulai hidup dalam kesusahan dan jatuh ke
dalam penderitaan dan dosa-dosa.”

Saya tidak tahu, konsekuensi yang yang Anda tulis dalam huruf kursif di atas
kalimat Anda atau kalimat kutipan dari sumber lain? Tapi karena tak ada catatan kakinya,
saya asumsikan itu asli pemikiran Anda, sebab saya yakin Anda pasti bukan pembajak.
Anda benar, Islam menolak ide tentang dosa asal jika itu diartikan sebagai dosa
warisan. Maaf, umat Islam tidak terima warisan dosa. Kalau warisan pahala, siapa pula
yang akan menolak. Tapi baiklah, agar Anda faham posisi Islam dalam hal ini, saya
kutipkan sebuah hadis qudsi yang kami imani :

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata : Rasulullah saw., bersabda :


Ketika Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggungnya
maka jatuhlah setiap jiwa dari punggungnya. Dialah yang
menciptakannya sampai hari kiamat. Dia menjadikan sinar cahaya
di antara kedua mata setiap manusia. Kemudian Tuhan
menampakkan mereka kepada Adam. Lalu Adam bertanya :
"Wahai Tuhanku, siapakah mereka?”. Allah berfirman: "Mereka
adalah keturunanmu". Adam heran terhadap kecemerlangan apa
yang ada di antara kedua matanya. Ia bertanya : "Wahai Tuhanku,
siapakah ini ?". Allah berfirman : "Ini seseorang dari umat yang
akhir dari keturunanmu, namanya Daud". Ia berkata : "Berapakah
Engkau beri umur ?". Allah berfirman : "Enam puluh tahun". Ia
berkata : "Wahai Tuhanku, tambahkanlah 40 tahun dari umurku".
Ketlka umur Adam telah habis, datanglah malaikat maut (malaikat
pencabut nyawa). Adam menolak dicabut nyawanya. Malaikat
berkata : "Bukankah kamu telah memberikannya kepada anakmu
Daud ?". ....Lalu Adam menentangnya, maka keturunannya
menentang. Adam lupa, maka keturunannya lupa, dan Adam salah
maka keturunannya salah". (Hadits di-takhrij oleh At Tirmidzi).2

Filosofi dosa yang Anda tulis memang menarik dan mengesankan, sebab gara-
gara dosa asal Adam-lah manusia kehilangan kehidupan yang damai, mulai hidup dalam
kesusahan dan jatuh ke dalam penderitaan dan dosa-dosa. Padahal Adam sudah meminta
ampun dan bertaubat, dan taubatnya pun diterima Allah. (Q.S. 2 : 37).
Masih pantaskah Anda menyalahkan Adam? Dimanakah salah Adam saat Israel
membunuhi anak-anak balita di Palestina? Dimanakah salah Adam saat George Bush
yang tamak menyerang Irak untuk menguasai minyaknya sambil berlindung di bawah

2
Achmad Sunarto, Himpunan Hadits Qudsi (T.K., Setia Kawan, 2000).
bendera penegakan HAM? Atau contoh yang saya kira pasti Anda suka : Apa salah
Adam saat Hambali cs meledakkan bom (di) Bali?
Arti dari filosofi dosa Anda adalah Anda mengingkari sifat Tuhan yang Maha
Pengampun dan Maha Pemaaf dan... teruuuuus saja dendam sama Adam. Tuhan saja
sudah memaafkannya, kok Anda tidak? Anda bikin dosa, Anda bilang itu gara-gara
Adam. Lha, kalau Anda bikin pahala, itu gara-gara siapa? Manusia hidup dalam
kesusahan, itu gara-gara Adam. Kalau manusia hidupnya sedang bahagia, itu gara-gara
siapa? Kesimpulan saya, Adam itu di mata Anda ya, cuma kambing hitam.

“Kamu tidak akan ditanya tentang dosa yang kami perbuat, dan kami pun tidak
akan ditanya tentang apa yang kamu perbuat (Q.S. 34 : 25). Tiap-tiap diri
bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya. (Q.S. 74 : 38).

Untuk mengakhiri bagian tentang kejadian manusia ini, sekarang saya pun ingin
masuk ke wilayah doktrin keimanan Anda yang sangat sensitif tanpa bermaksud
menghina tapi murni karena keingintahuan. Pertanyaan saya sederhana saja : Pada saat
Allah mengusir Adam dan Hawa dari Taman Eden, dimanakah Yesus Kristus berada?

Pemulihan Kembali

Pada pasal tentang Pemulihan Kembali, Anda menulis tentang siapa yang
keturunan Ibrahim (Abraham) dan siapa yang bukan.

“Dalam Kitab Suci sudah cukup jelas bahwa yang disebut sebagai keturunan
Abraham adalah yang berasal dari Ishak, bukan Ismael. Ishak adalah anak
perjanjian sedangkan Ismael bukan.”

Terserahlah kalau begitu yang ditulis dalam kitab suci Anda. Saya tak berani
mengomentari kitab suci yang saya tak pernah baca. Pegangan saya dalam hal ini adalah
apa yang disampaikan Al-Qur’an :

“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu saling berbantah tentang Ibrahim, padahal
Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak
berfikir? (Q.S. 3 : 65).

Dari Israel Menjadi Berkat Untuk Semua Bangsa

“Setelah melalui penantian dan persiapan yang panjang, akhirnya berkat


pamungkas itu muncul berupa inkarnasi Tuhan sendiri dalam diri Yesus Kristus,”
begitulah Anda tulis.
Saya anggap ini kalimat paling penting yang menegaskan posisi dan status Yesus
Kristus sesuai keyakinan Anda. Sayang sekali, saya pun tak bisa mengomentarinya sebab
Islam tak mengenal ajaran tentang inkarnasi. Pengetahuan yang saya miliki cuma bisa
menyimpulkan inkarnasi Tuhan pastilah bukan Tuhan, sebab Anda pun menulis
sesudahnya : ”Melalui kematian di kayu salib Yesus telah menebus dosa-dosa manusia”,
lalu Anda pun menambahkan, “Bagi Agama Universal, ketuhanan Yesus adalah fondasi
yang menjadi dasar bagi seluruh ajarannya.”
Inilah pengakuan Anda yang paling pas sebenarnya, kalau Anda mau :
Yesus Kristus adalah inkarnasi Tuhan. Inkarnasi Tuhan pasti bukan Tuhan, sebab
inkarnasi Tuhan itu telah mati di kayu salib.
Inilah yang tak masuk di akal kami umat Islam : Masak Tuhan bisa mati? Dan
Anda seratus persen benar saat menyatakan lahirlah Islam dengan Alquran yang lengkap
dengan misi : penyangkalannya akan ketuhanan Yesus. Cuma Anda pun seratus persen
salah saat menyebut, “Dan akhirnya lahirlah Islam dengan Alquran yang lengkap dengan
misi utama Iblis: penyangkalannya akan ketuhanan Yesus.”
Yakinlah, kalimat inilah yang bisa membuat darah Anda tumpah oleh “teroris”
Islam. Anda mau objektif, tapi Anda sendiri terjebak dalam kalimat-kalimat vulgar. Nanti
kalau Anda diserang, Anda bilang orang Islam teroris. Tapi Anda sendiri yang cari
penyakit. Baru Anda lho, musuh Islam yang saya tahu berani menyebut Tuhan yang
diimani umat Islam, yakni Allah, sebagai Iblis. Ingin beken seperti Salman Rushdie, ya?
Tuhan kami umat Islam adalah Allah yang Esa. Tapi Anda telah menyebut-Nya
sebagai iblis.
Mari kita teruskan! Anda pun menulis :

“Berkat Tuhan yang tadinya secara eksklusif hadir dalam sejarah bangsa Israel
sekarang mulai menyebar dan dibagikan kepada bangsa-bangsa lain melalui
sarana yang baru, keturunan Abraham menurut roh, yaitu Gereja.”

Darimana logikanya, gereja itu keturunan Abraham menurut roh? Cobalah Anda
jelaskan dulu, baik versi Anda, maupun versi kitab suci yang Anda imani.
Anda pun menulis :

“Setidaknya Islam punya kesempatan untuk mendapat legitimasi sebagai bagian


dari agama keturunan Abraham juga. Tidak masalah kalau di Kitab Suci
sebelumnya sudah disebutkan bahwa keturunan Abraham adalah yang berasal
dari Ishak bukan Ismael, yang penting kalau terus-menerus dipromosikan
(didakwahkan) dengan agresif lama-lama orang juga percaya.”

Ini bagian paling lucu, dalam arti harfiah, dari tulisan Anda. Anda hendak
mengesankan umat Islam (atau agamanya?) sibuk cari legitimasi untuk diakui sebagai
agama keturunan Abraham juga. Punya bukti nggak tentang “kesibukan” Islam itu? Kalau
punya, bagi-bagi dong. Jika satu jari menuding ke satu arah, maka pasti tiga jarinya
menuding ke diri sendiri. Jika dalam kitab suci Anda disebut Ismail bukan keturunan
Ibrahim, biarlah. Itu tak akan mengubah sejarah yang menyebut Ismail dan Ishak adalah
anak-anak Ibrahim dari dua istri yang berbeda.
Kalau Anda ingin tahu sikap Islam tentang “kesibukan” yang Anda tuduhkan,
serta “kepinginnya” Islam memperoleh legitimasi itu begini bunyinya :

..."Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa
yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang
diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari
Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun diantara mereka dan Kami
hanya tunduk patuh kepada-Nya".(Q.S. 2 :136)

Rancangan Para Penipu Dan Pemberontak

“Perlu diingat, Yesus tidak pernah berbicara dan mengeluh, soal adanya
penyelewengan pada kitab-kitab Taurat. Artinya, sampai dengan jaman Yesus
kitab-kitab Taurat yang ada adalah benar dan tidak diselewengkan isinya. Dan
ternyata memang tidak pernah ada bukti bahwa isi kitab-kitab Taurat yang ada
pada jaman Yesus berbeda dengan isi kitab-kitab Taurat yang ada pada masa
sesudahnya, bahkan sampai sekarang. Jadi dimana letak pemalsuan dan
penyelewengannya? Ini sudah cukup membuktikan bahwa isu penyelewengan
Kitab Suci yang disebarkan Muhamat dan Alquran hanya sekedar fitnah yang
dilakukan untuk mendapatkan legitimasi bagi kehadiran Alquran. Ironis memang,
Islam ternyata bukan agama yang dilandasi oleh kebenaran tapi justru oleh
kebohongan dan fitnah.”

Anda perlu punya dua Taurat untuk sampai kepada kesimpulan di atas. Taurat
zaman Yesus, dan Taurat cetakan paling mutakhir. Tanpa alat bukti yang dua itu, semua
pernyataan Anda di atas adalah...omong-kosong. Silakan Anda tunjukkan dulu keduanya.
Jika Anda tak bisa menunjukkannya, maka sesungguhnya Andalah pembohong dan
pemitnah itu. Ironis memang.
Cukup banyak kisah dalam Al-Qur’an yang mengisahkan tentang Nabi Musa dan
Taurat-nya. Nama Muhammad sendiri hanya empat kali disebut dalam Al-Qur an. Nama
Adam dan Isa jauh lebih banyak disebut, masing-masing 25 kali. Bahkan nama Musa
paling banyak disebut. Bisa-bisa ratusan halaman jika saya kutipkan di sini kisah tentang
Musa. Dan saya pun akan menjadi orang Islam yang sok pintar jika jika saya klaim saya
faham kisah-kisah itu semua.
Saya hanya akan ungkapkan sebagian yang saya pernah baca :

Allah berfirman: "Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu (hai Musa)
sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri. (Q.S.20 : 85).
Dia menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan sebenarnya;
membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat
dan Injil, (yang) menjadi petunjuk bagi manusia....(Q.S. 3 : 3-4).

Lalu Anda pun menyimpulkan :

“Orang bisa saja beropini bahwa Islam membawa kebenaran. Tapi sejujurnya
kalau anda memeriksa seluruh ajaran Islam, tidak ada kebenaran baru yang
dibawa oleh Islam yang tidak ada di Agama Universal.”

Kami,umat Islam, nampaknya pantas mendukung kesimpulan Anda. Sebagaimana


kutipan ayat Al-Qur’an yang paling akhir di atas, Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an
membenarkan kitab yang diturunkan sebelumnya, yang dalam konteks ayat di atas :
Taurat dan Injil. Jadi Anda betul, tidak ada kebenaran baru. Sebab kebenaran itu tidak
bersifat lama atau baru. Kebenaran itu sifatnya mutlak, dalam arti apa yang dibenarkan
Allah dalam Taurat, ya, pasti Dia benarkan pula dalam Injil, dan pasti Dia benarkan pula
dalam Al-Qur’an. Wong, Pengarang-nya Satu kok.
Kalau zaman Nabi Musa dan Nabi Isa, Allah memerintahkan manusia untuk
menyembah-Nya, dalam zaman Nabi Muhammad sampai sekarang pun, Allah tetap
memerintahkan hal yang sama. Sebab itulah kebenaran.
Cuma kalimat Anda di atas pun, sebenarnya kalau Anda mau jujur, adalah
pengakuan batin Anda bahwa Islam itu membawa kebenaran. Cuma kebenarannya tidak
baru. Iya kan? Akui sajalah, kawan.
“Hal baru yang sebenarnya dan misi utama dari munculnya Islam adalah
penyangkalan ketuhanan Yesus.” Lagi-lagi Anda benar.

Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani
berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah ucapan mereka dengan mulut
mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati
Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?(Q.S. 9 :30)

Jadi kalau Anda sudah mengakui kebenaran usang—katakanlah begitu—yang


dibawa Islam, terima jugalah hal baru yang dibawanya. Sebab “hal baru” itu adalah
koreksian terhadap “hal lama”.

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu
mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain
Allah?." Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa
yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau
mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri
Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib." Aku tidak
pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku
(mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku
menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah
Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha
Menyaksikan atas segala sesuatu. (Q.S. 5 : 116-117).

Sekarang adalah tugas Anda untuk menunjukkan kepada kami, umat Islam, bahwa
ada ayat, atau pernyataan tegas, dalam Injil, yang menunjukkan bahwa Nabi Isa (Anda
menyebutnya Yesus Kristus), telah memerintahkan kepada umat manusia untuk
menyembahnya, karena sesungguhnya dialah Tuhan itu. Pernahkah Nabi Isa mengklaim
dirinya Tuhan? Tunjukkanlah dan sekaligus tolong Anda bantah kutipan berikut :

:“And this is eternal life, that they know Thee the only true God, and Jesus Christ
whom Thou hast sent.”( John 17:3)

Dan yang berikut :


“And having said this, Jesus said again: ‘I confess before heaven, and call to
witness everything that dwelleth upon the earth, that I am a stranger to all that men have
said of me, to wit, that I am more than a man. For I am a man, born of a woman, subject
to the judgement of God; that live here like as other men, subject to common miseries.’”
(Injil Barnabas 94 : 1)
Oh, maaf. Ini rupanya sudah dibuang dari Injil, ya? Kalau yang ini, bagaimana?
“Listen, O Children of Israel, the Lord God is but a Single Lord.” (Mark 12:29)

Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan
kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan
kepadamu,terkutuklah dia.( Gal.1:8 ).

Ya, terkutuklah Injil fabricated (bahasa Indonesianya : rekayasa) yang Anda


percayai saat ini, yang telah membutakan mata Anda dari kebenaran sebagaimana
disampaikan Allah dalam keempat kitab-Nya, Zabur, Taurat, Injil, dan Al-Qur’an, bahwa
hanya Dia-lah Tuhan yang Satu, yang layak disembah. Dia-lah Tuhan yang disembah
Adam. Dia-lah Tuhan yang disembah Abraham. Dia-lah Tuhan yang disembah Daud.
Dia-lah Tuhan yang disembah Musa. Dia-lah Tuhan yang disembah Yesus. Dia-lah Tuhan
yang disembah Muhammad. Dia-lah Tuhan yang kusembah. Dia-lah Tuhan yang tidak
kau sembah, Aak EENS!

Alquran, Kitab Suci Pamungkas?

“Ini masih dapat mengundang perdebatan karena kitab Alquran yang kita kenal
sekarang ini ternyata usianya belum melampaui satu abad. Alquran ini adalah
Alquran edisi Mesir yang dicetak pada tahun 1924, salah satu diantara beberapa
versi Alquran yang beredar di kalangan muslim.”

Demi Allah! Inilah pernyataan paling pandir dari semua argumentasi Anda. Al-
Qur’an itu bisa dicetak dimana saja, Tuan Pandir! Ada cetakan Mesir, ada cetakan
Bangkok, ada cetakan Cirebon, ada cetakan Makkah, ada cetakan Semarang, ada cetakan
Karachi, ada cetakan Beirut.
Tapi nanti dulu, jangan-jangan Anda memang Tuan Cerdas, saat mengatakan
“salah satu di antara beberapa versi”. Cara untuk membuktikannya sederhana saja, seperti
yang di atas tadi. Tolong Anda tunjukkan agar bisa kita download bersama bahwa
ternyata di dunia ini memang ada beberapa versi Al-Qur’an. Sanggup? Kalau sanggup,
kita acungi jempol, dan kita bahas lebih lanjut. Kalau tak sanggup, Anda harus rela
dipanggil Tuan Pandir yang Sok Pintar.
Tidak ada Al-Qur’an Lama dan Al-Qur’an Baru, bahkan tidak ada Al-Qur’an
Sunni dan Al-Qur’an Syi’ah. Tapi kata Anda, “Bagi kristianitas, Kitab Suci (PL & PB)
adalah Sabda Tuhan yang benar dan otentik. Di sini saja ketahuan Anda tak paham kitab
suci Anda sendiri. Tak perlu lagi Anda uji mana yang paling benar, Al-Qur’an atau Injil.
Cukup Anda uji dulu mana yang paling benar : PL atau PB! Sebab logika orang waras
mengatakan mustahil dua-duanya benar. Kalau PL benar, untuk apa ada PB? Kalau PB
yang benar, buanglah PL itu ke tong sampah, sebab PB itu berarti antitesis dari PL.
Kayak Orde Baru dengan Orde Lama, gitu lho, jangan disatukan!
Anda pun memisalkan Al-Qur’an bagaikan uang palsu yang dicetak 1.500 tahun
lalu dan saat ditemukan sekarang, tetap sajalah ia uang palsu yang bernilai sejarah. Baik,
bagaimana kalau Injil yang Anda yakini saat ini juga adalah uang palsu cetakan 2.000
tahun lalu dan ditemukan pula saat sekarang? Apa karena Injil lantas ia berubah jadi uang
asli? Pertanyaan saya sederhana saja : Injil aslinya dalam bahasa apa? Bisa tunjukkan
barangnya, nggak? Bisa baca, nggak?
Awal-awal tulisan Anda, sepertinya Anda memang seorang yang sangat cerdas
dan kritis, tapi makin ke bawah tulisan Anda, makin ketahuan juga kualitas intelektual
dan sekaligus kualitas keimanan yang Anda miliki. Jika Anda hendak mengkritisi agama
lain, kritisi dulu agama sendiri. Anda sendiri menulis “ tentu saja tidak bijaksana kalau
menggugat klaim pihak lain hanya berdasarkan klaim sepihak,” nyatanya Anda sendiri
yang berbuat begitu.
Anda belum temukan kriteria yang tegas menentukan mana kitab suci buatan
Tuhan dan mana yang bukan?
Kriterianya (salah satu), telusuri sejarah bahwa setiap kitab suci pasti diturunkan
Tuhan kepada manusia dengan perantaraan seorang manusia yang Dia pilih di antara
hamba-hambaNya yang memenuhi syarat untuk menyebarluaskan isinya. Maka Dia pilih
empat manusia saja sebagai utusan-Nya yang diserahi tugas untuk itu. Kepada Daud Dia
turunkan Zabur, kepada Musa Dia turunkan Taurat, kepada Yesus dia turunkan Injil atau
Bibel, kepada Muhammad Dia turunkan Al-Qur’an. Lagi-lagi pertanyaannya : kepada
siapa Dia turunkan PL & PB yang jadi kitab suci Anda itu? Kepada Yesus? Salah! Yesus
dapat Injil, kok. Cuma satu : Injil! Kesimpulannya, kitab suci Anda itu bukan dari Tuhan.
Berarti kitab suci Anda palsu!
Membaca kalimat-kalimat Anda tentang klaim Al-Qur’an dengan bahasa yang
sangat merendahkan Allah (bukan Muhammad!), apa boleh buat tak bisa saya balas
dengan hal yang sama. Sebab bagi kami, umat Islam, keimanan kami tidak utuh apabila
kami tidak beriman kepada para Rasul Allah termasuk Isa dan kitab Injil yang diturunkan
Allah baginya. Seandainya kami mengingkari eksistensi Isa sebagai Rasul Allah dan
mengingkari Injil sebagai kitab Allah, maka kami akan sama dengan Anda. Kafir! Tapi
soal PL & PB, karena memang tak ada dalam Al-Qur’an, tak berhargalah untuk saya
bahas. Sikap kami umat Islam jelas :

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga
kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al-Qur’an yang diturunkan
kepadamu dari Tuhanmu." Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu
(Muhammad) akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan
dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang
kafir itu. (Q.S. 5 : 68)

Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami
iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan
Kami jadikan dalam hati orang- orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih
sayang. Tetapi mereka mengada-adakan rahbaniyyah, (kerahiban) padahal kami
tidak mewajibkannya kepada mereka untuk mencari keridhaan Allah (dengan
jalan demikian), lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang
semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara
mereka pahala, (tetapi) banyak di antara mereka orang-orang fasik. (Q.S. 57: 27)
.
Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan
Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) semua ayat (keterangan), mereka
tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka,
dan sebahagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain.
Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu
kepadamu, sesungguhnya kamu termasuk golongan orang-orang yang
zalim.(Q.S.
2:145).

Anda pun menulis :

“Bagaimana rasanya mendengarkan kisah hidup dan ajaran Yesus dari kitab-
kitab yang ditulis oleh saksi mata dan orang-orang yang hidupnya begitu dekat
dengan Yesus sendiri DIBANDINGKAN dengan mengenal Yesus dari uraian
seorang Muhamat yang hidup 5 abad setelah Yesus dan secara geografis berada
jauh dari tanah Palestina, yang kemungkinan besar hanya mengetahui kisah Yesus
dari cerita-cerita atau kabar burung? Mana yang anda anggap lebih kredibel dan
layak dipercaya? Gunakan akal sehat anda untuk menjawab pertanyaan sederhana
ini!”

Inilah hasil dari penggunaan akal sehat : Seorang bernama EENS mengakui
bahwa kitab suci yang dipercayainya dan dipujanya mati-matian serta diklaimnya sebagai
berasal dari Tuhan, ternyata isinya didasarkan kepada kitab-kitab yang ditulis oleh saksi
mata dan orang-orang yang hidupnya begitu dekat dengan Yesus sendiri. Artinya, kitab
sucinya tidak berasal dari Tuhan. Tuan Pandir silakan teriak : Kitab suci saya, saya akui
buatan manusia!!!

Lalu dari Anda lagi.

“Tapi sekalipun benar bahwa 'fakta-fakta ilmiah' semacam itu tidak mungkin
diketahui Muhamat sendiri, hal itu tidak otomatis berarti bahwa Alquran berasal dari
Tuhan, bisa saja berasal dari kekuatan dan sumber adikodrati / supranatural lain. Jadi
klaim semacam ini juga tidak berarti apa-apa.”

Kata “bisa saja” membuat bagian ini menjadi isu atau gosip dari orang yang
berfikiran dangkal dan tak mampu berargumentasi. Boleh Anda tambahkan begini : “Bisa
saja berasal dari jin, bisa saja berasal dari kuntilanak, bisa saja berasal dari Mossad, bisa
saja berasal dari EENS, bisa saja dicomot Muhammad dari internet, bisa saja...,bisa
saja....” Caaa...pek, deeh!

Sebuah Kriteria Obyektif


Saya ikuti kriteria obyektif Anda : Raja Samaratungga, Shah Jehan, dan Gustave
Eiffel, benar dan obyektif sebagai pembangun Candi Borobudur, Taj Mahal dan Menara
Eiffel. meskipun ketiga orang ini mungkin tidak pernah bersusah-payah dan berkotor-
kotor meletakkan batu-batu ataupun tiang-tiang untuk mendirikan apa yang nanti disebut
sebagai karya besar mereka. Lalu,

“Alkitab (PB & PL) adalah sungguh-sungguh berasal dari Tuhan. sekalipun para
penulis-penulisnya adalah manusia yang menulis dengan cara-cara dan pemikiran
yang tampak sangat manusiawi, di balik semua itu ada Sang Pengarang Agung
yang memberikan inspirasi dan menjadi pengarang sesungguhnya. Para nabi,
imam-imam dan penulis kitab-kitab suci yang mungkin tidak pernah kita ketahui
persis siapa hanyalah pekerja-pekerja yang bahu-membahu membangun sebuah
karya agung bernama Alkitab. Tapi akan muncul sanggahan bahwa analogi serupa
juga dapat diterapkan pada Alquran: bukan Muhamat dan para pengikutnya yang
mengarang Alquran tapi Tuhan sendiri melalui malaikat Gabriel yang
membisikkan segala sesuatu yang harus dituliskan di Alquran.”

Analoginya tidak sama. Mulai bagian ini saya sudah dimasuki unsur kasihan
melihat pemahaman yang Anda miliki tentang Islam dan merasa perlu sedikit berbagi
penjelasan. Tetapi tetap dalam kerangka garis kebencian yang telah Anda tanamkan
sendiri kepada Islam.
Sebuah buku, kitab, atau karya tertulis apa pun, sebaik, seindah dan sebermanfaat
apa pun isinya, adalah karya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam kehidupan
manusia, apabila kita tidak tahu persis siapa yang menulisnya. Ada buku yang sangat
lengkap dan bermanfaat tentang konstruksi bangunan pencakar langit lengkap dengan
hitungan-hitungan teknisnya yang sangat rinci—Anda insinyur kan?—tapi tidak ketahuan
siapa yang mengarangnya. Anda bersedia mengutipnya? Bersedia mempraktekkan
isinya?
Seperti itukah PB & PL yang Anda ikuti itu? Sebuah karya banyak manusia yang
tak jelas asal-usulnya dari zaman ke zaman? Apakah semua manusia yang bahu-
membahu itu manusia yang baik dan berniat baik? Darimana Anda bisa menjamin? Kenal
saja, kagak!
Al-Qur’an asal usulnya jelas. Dari Allah. Anda boleh nyeletuk : Ah, itu kan klaim
sendiri. Disinilah unsur keimanan itu diperlukan. Imani dulu, baru selidiki, ini prinsip
Islam!
Sejarah mencatat Nabi Muhammad adalah seorang yang buta huruf, dan seperti
yang sedikit Anda fahami, menerima wahyu dari Allah dengan perantaraan malaikat
Jibril. Sejarah juga mencatat, saat itu masyarakat Makkah adalah pemuja sastra lisan dan
penghafal dengan daya ingatan yang kuat. Sampai sekarang pun, sistem pendidikan di
Saudi Arabia dan sejumlah negara Arab lebih banyak mengandalkan sistem hafalan. Lalu,
ayat demi ayat Al-Qur’an yang diterima Muhammad dia sampaikan kepada sahabat-
sahabatnya. Para sahabat ini (semua punya nama dan riwayat) ikut menghafal apa yang
mereka dengar, di samping ada yang menuliskannya.
Di samping itu ada perintah Al-Qur’an agar umat Islam senantiasa membaca Al-
Qur’an dan mengulang-ulangnya; sebuah perintah yang kemudian menjadi tradisi di
seluruh masyarakat Muslim.
Lalu dalam suatu peperangan, Perang Yamamah, 70 penghafal al-Qur’an
terbunuh. Ini mencemaskan para sahabat dan dimulailah upaya menghimpun Al-Qur’an
pada periode Abu Bakar Shiddiq, dimana tugas itu dibebankan kepada seorang sahabat
Muhammad yang masih muda dan cerdas, Zaid ibn Tsabit. Muhammad sendiri telah
wafat kala penghimpunan awal itu dilakukan.
Hasil penghimpunan yang diperoleh Zaid dikumpul dan itulah yang diwariskan
kemudian kepada Khalifah Umar bin Khattab, pengganti Abu Bakar, dan kemudian
kepada Khalifah Utsman bin Affan. Di samping Zaid, sahabat yang lain pun melakukan
hal serupa, dan keseluruhan naskah (disebut mushaf) dari berbagai sumber itu disusun
kembali oleh Zaid dibantu Abdullah Ibn Az-Zubair, Sa’id Ibnul Ash dan Abdurrahman
Ibnul Harits Ibn Hisyam, atas perintah Khalifah Utsman. 3
“Jika kalian berbeda bacaan dengan Zaid Ibn Tsabit pada sebagian ayat Al-
Qur’an, maka tuliskanlah dengan dialek Quraisy, karena Al-Qur’an diturunkan dengan
dialek tersebut!”, begitu perintah Utsman.4
Adakah perbedaan sebelumnya? Ada, yaitu perbedaan dalam dialek, dan itulah
yang diselesaikan melalui penghimpunan tersebut, yang kemudian sampai sekarang
diakui adanya tujuh dialek dalam pembacaan Al-Qur’an. Sekali lagi, dialek; bukan teks.
Setelah selesai, disalin ulang dan atas perintah Utsman disebarkan ke seluruh
dunia Islam kala itu sebanyak empat kopi, sedang naskah selainnya diperintahkan
dibakar. Itulah yang dikenal sebagai Al-Qur’an Mushaf Utsmani, dan itulah yang
disepakati oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia sampai saat ini.
Bisakah terjadi perbedaan antara isi Al-Qur’an Mushaf Utsmani dengan apa yang
diterima Muhammad dari Allah? Secara teoretis bisa, karena yang menghimpunnya
manusia biasa. Tetapi kemungkinan tersebut sangat kecil mengingat proses
penghimpunan dan penyusunannya melibatkan sebagian besar sahabat yang
menerimanya langsung dari Rasulullah Muhammad.
Di samping itu metode yang digunakan hingga sampai ke susunan yang dikenal
saat ini, meski pada waktu itu tidak dimaksudkan demikian, ternyata sesuai dan dapat
dipertanggungjawabkan berdasar metode ilmiah paling mutakhir sekalipun. Misalnya,
dengan membandingkan hafalan beberapa sahabat tentang ayat yang sama, dan menerima
mana yang paling mayoritas. Menolak hafalan dari sahabat yang dikenal punya karakter
pelupa atau karakter tidak baik lainnya dalam kehidupan sehari-hari, semisal diketahui
pernah berbohong meski cuma sekali. Rasa-rasanya itulah batas kemampuan manusia
dalam menyaring kebenaran hingga saat ini sebagaimana diaplikasikan dalam penelitian-
penelitian ilmiah.
Jelas sangat jauh berbeda dengan PB & PL Anda, yang penyusunnya saja Anda
tidak kenal. Darimana Anda tahu semua orang baik tanpa ada metode penyaringan
sumber yang jelas? Anda sendiri mengakui ada pendeta-pendeta jahat semisal Arius yang
sangat cerdas dan berpengaruh!
Tapi, ah, “lihat saja sistematika penyusunan Alquran yang begitu berantakan
berupa kumpulan ajaran, cerita, perintah-perintah yang diulang-ulang tanpa arah yang
jelas,” kata Anda pula.

3
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penulisan Al-Qur'an Dan Pengumpulannya, dikutip
dari http://assunnah-qatar.com/index.php?option=com_content&task=view&id=262&Itemid=144.
4
Ibid.
Ada sebuah buku baru yang mampu menjelaskan “keberantakanan” ini, yang bagi
seorang dengan latar belakang eksakta seperti Anda, akan lebih mudah memahaminya,
yakni buku Matematika Alam Semesta : Kodetifikasi Bilangan Prima dalam Al-Qur’an.5
Saya kutipkan sebagian :
Struktur Utama : Struktur matematis Al-Qur’an sangat bervariasi, tetapi yang
penting diperlihatkan adalah adanya struktur bilangan prima kembar 19.
Struktur Pertama : Struktur pertama berhubungan dengan jumlah surat dan
banyaknya juz dalam al-Qur'an. Jumlah surat di dalam al-Qur'an adalah 114. Angka 114
adalah angka ajaib, karena bilangan prima ke-114 adalah 619, dan 114 adalah (6 x 19).
Bilangan 619 merupakan prima kembar dengan pasangan 617. Kita ketahui pula, isi al-
Qur’an terbagi dalam 30 juz. Angka 30 adalah bilangan komposit yang ke-19, yaitu: 4, 6,
8, 9,10,12,14, 15, 16, 18, 20, 27, 22, 24, 25, 26, 27, 28, 30.
Struktur Kedua : Al-Qur'an terstruktur dalam bentuk 6 x (10 + 9), yaitu 60 surat
dengan nomor ayat-ayat yang genap, dan 54 surat dengan nomor ayat-ayat yang ganjil.
Contohnya surat 1 (al-Fatihah) dengan 7 ayat berarti surat dengan jumlah ayat ganjil.
Surat 2 (al-Baqarah) dengan 286 ayat merupakan surat dengan jumlah ayat genap.
Prof. Abdullah Jalghoom dari Yordania menemukan suatu ketentuan paritas
dengan kondisi di atas; jumlah ke-60 surat dengan ayat-ayat genap adalah 3.450 atau (345
x 10) dan jumlah ke-54 surat dengan ayat-ayat ganjil adalah 3.150 atau (345 x 9). Total
jumlah nomor surat adalah 6.555 atau (345 x 19). Dari sisi matematis, bilangan tersebut
adalah 1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6+7+....+114=6.555.
Dengan demikian, nomor surat dan jumlah ayat-ayatnya tidak dapat dipertukarkan
- jika tertukar - struktur di atas tidak berlaku. Misalnya, Surat al-Fatihah ditukar
tempatnya dengan Surat al-Baqarah maka jumlah ayat-ayat yang genap menjadi 3.449
dan jumlah ayat-ayat yang ganjil menjadi 3.151.
Struktur Ketiga : Parity check juga ditemukan dalam pembagian nomor surat
dengan jumlah ayatnya-menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Al-Qur'an dengan
114 surat terbagi rata susunannya menjadi dua bagian:
Pertama, terdapat 57 surat yang homogen, di mana nomor suratnya sama dengan
jumlah ayat yang dikandungnya, yaitu genap-genap atau ganjil-ganjil . Contoh Surat al-
Fatihah dengan nomor surat 1 atau ganjil, jumlah ayat yang dikandungnya juga ganjil,
yaitu 7 ayat. Contoh lain Surat al-Baqarah : Nomor surat 2 atau genap, jumlah ayat 286
atau genap pula. Surat homogen ini seluruhnya, jumlah nomor surat dan jumlah ayatnya
adalah 6.236, atau sama banyaknya dengan jumlah ayat al-Qur'an seluruhnya!
Kedua, 57 surat yang heterogen, di mana nomor suratnya berlawanan dengan
jumlah ayatnya, yaitu genap-ganjil atau ganjil-genap. Misalnya, Surat Ali 'Imran, nomor
surat 3 atau ganjil, jumlah ayat 200 atau genap. Jumlah nomor surat dan jumlah ayat dari
ke-57 surat yang heterogen ini adalah 6.555 atau sama dengan jumlah nomor surat dari 1
sampai dengan 114, (1+2+3+4+....+114).
Bila kedua kelompok surat ini dijumlahkan akan menghasilkan bilangan prima: 6.236 +
6.555 =12.791, bilangan prima ke-1.525. Struktur ini merupakan enkripsi antara jumlah nomor
surat dengan jumlah ayat al-Qur'an.

57 SURAT HOMOGEN 57 SURAT HETEROGEN

5
Karya Arifin Muftie (Bandung : Kiblat Buku Utama, 2004).
No. Jumlah No. Jumlah
NAMA SURAT surat Ayat NAMA SURAT surat Ayat
Al Fatihah (Pembukaan) 1 7 Al-Imran (Keluarga Imran). 3 200
Al-Baqarah (Sapi Betina). 2 286 Al Maidah (Hidangan). 5 120
An-Nisa' (Wanita). 4 176 Al-An'am (Binatang Temak). 6 165
At Taubah (Pengampunan). 9 129 AI-A’raf (Tempat Tertinggi). 7 206
Al-Anfal (Rampasan
Hud (Hud) 11 123 Perang). 8 75
Ar-Ra'd (guruh) 13 43 Yunus (Yunus) 10 109
Ibrahim 14 52 Yusuf (Yusuf) 12 111
Al-Hijr 15 99 Maryam 19 98
An-Nahl (Lebah). 16 128 Thaha 20 135
Al-Isra' (Memperjalankan di
Malam Hari) 17 111 Al-Anbiya' (Nabi-nabi) 21 112
AI-Mu'minun (Orang-orang
AI-Kahfi (Gua). 18 110 yg Beriman) 23 118
AI-Hajj (Haji). 22 78 Asy-Syu'ara' (Para Penyair). 26 227
An-Nur (Cahaya). 24 64 Luqman 31 34
Al-Furqan (Pembeda). 25 77 Ya Sin 36 83
Ash-Shaffat (Yang Bersaf-
An-Naml (Semut). 27 93 saf). 37 182
AI-Mu'min (Orang yang
AI-Qashash (Cerita-cerita). 28 88 Beriman). 40 85
Fushshilat (Yang
AI-'Ankabut (Laba-laba). 29 69 Dijelaskan). 41 54
Ar-Rum (Bangsa Romawi) 30 60 Asy-Syura (Musyawarah). 42 53
As-Sajdah (Sujud). 32 30 Ad-Dukhan (Kabut). 44 59
Al-Ahzab (Golongan yang Al Ahqaaf (Bukit-bukit
Bersekutu). 33 73 pasir) 46 35
Saba' (Kaum Saba). 34 54 Muhammad 47 38
Fathir (Pencipta). 35 45 AI-Fath (Kemenangan). 48 29
Shad 38 88 AI-Hujurat (Kamar-kamar). 49 18
Az-Zumar (Rombongan-
rombongan). 39 75 Qaf (Qaf). 50 45
Adz-Dzariyat (Angin yg
Az Zukhruf (Perhiasan). 43 89 Menerbangkan) 51 60
A!-Jatsiyah (Yang Berlutut). 45 37 Ath-Thur (Bukit). 52 49
AI-Waqi'ah (Hari Kiamat) 56 96 An-Najm (Bintang). 53 62
AI-Hadid (Besi). 57 29 AI-Qamar (Bulan). 54 55
AI-Mujadilah (Wanita yg Ar-Rahman (Yang Maha
Mengajukan Gugatan). 58 22 Pemurah) 55 78
AI-Munafiqun (Orang-orang
Munafik). 63 11 AI-Hasyr (Pengusiran). 59 24
At-Taghaabun (Hari 64 18 AI-Mumtahanah (Perempuan 60 13
Ditampakkan Kesalahan2). yg Diuji).
AI-Tahrim (Mengharamkan). 66 12 Ash-Shaff (Barisan). 61 14
AI-Qalam (Pena). 68 52 Al Juma'ah (Hari Jum'at} 62 11
AI-Ma'arij (Tampat-tampat
Naik). 70 44 Al-Thalaq (Talak). 65 12
Al-Jin (Jin). 72 28 AI-Mulk (Kerajaan). 67 30
Al-Muddatstsir (Orang yang
Berkemul). 74 56 Al Haqqah (Hari Kiamat) 69 52
An-Naba' (Berita Besar). 78 40 Nuh (Nuh). 71 28
AI-Muzzanmmil (Orang
'Abasa (la Bermuka Masam). 80 42 yang Berselimut). 73 20
At-Takwir (Menggulung). 81 29 AI-Qiyamah (Hari Kiamat). 75 40
AI-A'Ia (Yang Paling Tinggi) 87 19 AI-Insan (Manusia). 76 31
A!-Ghasyiyah (Hari AI-Mursalat (Malaikat yang
Pembalasan) 88 26 Diutus). 77 50
An-Nazi'at (Malaikat-
AI-Balad (Negeri) 90 20 malaikat yg Mencabut). 79 46
Asy-Syams (Matahari) 91 15 AI-lnfithar (Terbelah). 82 19
Adh-Dhuha (Waktu Matahari AI-Muthaffifin (Orang-orang
Sepenggalah Naik). 93 11 yang Curang). 83 36
Alam Nasyrah (Melapangkan) 94 8 Al-Insyiqaq (Terbelah). 84 25
Al-Qadr (Kemuliaan) 97 5 AI-Buruj (Gugusan Bintang). 85 22
Ath-Thariq (Yang Datang di
Al-Bayyinah (Bukti) 98 8 Malam Hari). 86 17
AI-Qari'ah (Hari Kiamat) 101 11 AI-Fajr (Fajar) 89 30
At-Takatsur (Bermegah -
megahan) 102 8 Al-Lail (Malam) 92 21
Al 'Ashr (Masa) 103 3 At-Tin (Buah Tin) 95 8
Al-Fil (Gajah) 105 5 Al-'Alaq (Segumpal Darah) 96 19
Quraisy (Suku Quraisy) 106 4 Az-Zalzalah (Kegoncangan) 99 8
AI-Ma'un (Barang-barang yang Al- 'Adiyat (Kuda Perang yg
Berguna) 107 7 Berlari Kencang) 100 11
Al-Lahab (Gejolak Api) 111 5 Al Humazah (Pengumpat) 104 9
AI-Ikhlash (Memurnikan AI-Kautsar (Nikmat yang
Keesaan Allah) 112 4 Banyak) 108 3
AI-Kafirun (Orang-orang
AI-Falaq (Waktu Subuh) 113 5 Kafir) 109 6
An-Nas (Manusia) 114 6 An-Nashr (Pertolongan) 110 3
3.30 3.25
3 2.933 2 3.303
6.236 6.555

Struktur Keempat : Berpasangan sempurna dan simetris. Pemilihan angka 114


sangat luar biasa. Kita akan mendapatkan jumlah surat yang sama banyaknya, yaitu
masing-masing 38 surat. Partisi kiri dan kanan, atau kelompok 1 dan 3, jumlah nomor
surat menghasilkan bilangan,yang simetris sempurna sama banyaknya, dan merupakan
kelipatan 19, yaitu (19 x 114). Sedangkan partisi tengah menghasilkan bilangan kelipatan
19, yaitu (19 x 117). Partisi sebelah kiri adalah bilangan yang dapat dibagi habis oleh 2,
tetapi bila bilangan tersebut juga dapat dibagi oleh angka 3, maka ia masuk ke partisi
tengah. Sedangkan partisi kanan, adalah bilangan yang tidak dapat dibagi 2 dan atau 3,
atau juga merupakan sisanya. Lihat tabel berikut :

SURAT AL-QUR'AN TERBAGI MENJADI 3 PARTISI SIMETRIS

Tidak dapat Dapat dibagi


Dapat dibagi 2 Dapat dibagi 3
2&3

38 surat bernomor: 3, 6, 9,
38 surat bernomor: 2, 4, 8, 38 surat bernomor: 1, 5, 7,
12,
10, 14, 16, 20, 22, 26, 28, 32, 11,
15, 18, 21, 24, 27, 30, 33,
13, 17, 19, 23, 25, 29, 31,
36,
39, 38, 40, 44, 46, 50, 52, 56, 35,
39, 42, 45, 48, 51, 54, 57,
37, 41, 43, 47, 49, 53, 55,
60,
58, 62, 64, 68, 70, 74, 76, 80, 59,
63, 66, 69, 72, 75, 78, 81,
61, 65, 67, 71, 73, 77, 79,
84,
82, 86, 88, 92, 94, 98, 100, 83,
87, 90, 93, 96, 99, 102,
104, 106, 110, 112. 85, 89, 91, 97, 95, 101, 103,
105,
107, 109, 113.
108, 111, 114.

Jumlah 2.166 Jumlah 2.223 Jumlah 2.166


(19 X 114)! (19 x 117) (19 X 114)!

Struktur Kelima : Hanya ada 19 surat, tidak lebih tidak kurang-dari 114 surat-di
mana jumlah nomor surat dengan nomor ayatnya merupakan bilangan prima, seperti
tercantum dalam tabel berikut :

No Surat No surat No ayat Jumlah


1 AI-Anfal (Rampasan Perang) 8 75 83
2 Ad-Dukhan (Asap) 44 59 103
3 AI-Hujurat (Kamar-kamar) 49 18 67
9 Ath-Thur (Bukit) 52 49 101
5 AI-Qamar (Bulan) 54 55 109
6 AI-Hasyr (Pengusiran) 59 24 83
7 AI-Mumtahanah (Perempuan yg 60 13 73
Diuji)
8 AI-Jumu'ah (Hari Jum'at) 62 11 73
9 AI-Mulk (Kerajaan) 67 30 97
10 AI-Insan (Manusia) 76 31 107
11 AI-Mursalat (Malaikat yang Diutus) 77 50 127
12 AI-Infithar (Terbelah) 82 19 101
13 AI-Buruj (Gugusan Bintang) 85 22 107
14 Ath-Thariq (Bintang Penembus) 86 17 103
15 AI-Lail (Malam) 92 21 113
16 At-Tin (Buah Tin) 95 8 103
17 Az-Zalzalah (Kegoncangan) 99 8 107
18 AI-Humazah (Pengumpat) 109 9 118
19 An-Nashr (Pertolongan) 110 3 113

Masih ada dua struktur lagi, tapi akan sulit Anda fahami sebab terlalu teknis bagi
seorang non-Muslim seperti Anda. Tetapi jika penasaran, cari saja buku dimaksud.
Cukuplah dengan menyimpulkan bahwa “keberantakanan” sistematika penyusunan Al-
Qur’an, ya, seperti di atas itulah. Dan harap maklum, misteri ini sendiri di kalangan kami
umat Islam pun barulah terpecahkan belakangan ini. Meski selama ini bagi kami pun
tetap jadi tanda tanya, tapi karena telah didahului dengan iman, kami mempercayai
seutuhnya bahwa Al-Qur’an itu memang kalam Allah. Sehingga tepatlah tantangan Al-
Qur’an kepada Anda :

Dan jika kamu tetap dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan
kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat saja yang semisal Al-
Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-
orang yang benar.(Q.S. 2 : 38).

Anda dan uskup-uskup Anda tak akan sanggup melawan Allah, karena :... Dia
menghitung segala sesuatu satu per satu (Q.S. 72 : 28).
Kira-kira sudah bisakah angka-angka ruwet di atas meyakinkan Anda kalau Al-
Qur’an itu berasal dari Allah? Kalau belum kita tambahkan sedikit lagi :
Kalimat Bismillahirrahmaanirrahim dalam huruf Al-Qur’an terdiri dari 19 huruf,
yang apabila dipisah akan terdiri dari kata-kata bi, ism, Allah, al-Rahmaan, al-Rahim.
Pada keseluruhan Al-Qur’an kata ism disebut 19 kali, kata Allah 2.698 kali (=142 X 19),
kata al-Rahmaan 57 kali (=3 X 19), dan kata al-Rahim 114 kali (=6 X 19).6 Ini tetap
terkait dengan angka-angka ruwet sebelumnya yang menunjukkan bahwa penyusunan Al-
Qur’an ditetapkan Allah melalui sistematika bilangan prima, sekaligus menunjukkan

6
M.Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an, (Bandung : Mizan, 2007), h. 143-144.
benarnya apa yang dilakukan Zaid dan kawan-kawan dibawah koordinasi Khalifah
Utsman.
Tapi yang sebenarnya lebih menarik, termasuk bagi kami umat Islam, adalah fakta
bahwa semua kata-kata dalam Al-Qur’an sesuai dengan Q. S. 67 : 3 berikut : Kamu
sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang
tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak
seimbang?
Inilah sebagian buktinya :

Kata Arti Antonim Arti Sama-sama


tertera sebanyak
(...kali)
Al-hayah Kehidupan Al-maut Kematian 145
Al-harr Panas Al-bard Dingin 4
An-naf’ Manfaat Al-fasad Mudlarat 50
Ash-shalihat Kebajikan As-sayyi’at Keburukan 167
Kata Arti Sinonim Arti
Al-‘ujub Bangga Al-ghurur Angkuh 27
Al-harts Membajak Az-zira’ah Bertani 14
Al-Qur’an Al-wahyu 70
Al-jahr Nyata Al-‘alaniyah Nyata,jelas 16

Dan inilah keseimbangan yang lebih khusus :


Kata al-yaum (hari) berulang sebanyak 365 kali dalam Al-Qur’an. Dalam setahun
ada berapa hari, Tuan EENS? Kata jamaknya adalah ayyam dan yaumain. Kedua kata ini
jika dijumlah berulang sebanyak 30 kali. Sebulan berapa hari, Tuan EENS?
Kata syahr dan jamaknya asyhur (bulan) berulang sebanyak 12 kali. Dalam
setahun ada berapa bulan, Tuan EENS?
Anda menyebut kitab suci Anda terdiri dari “kumpulan kitab-kitab suci yang
ditulis dalam jaman yang berbeda-beda oleh manusia atau kelompok manusia yang
berbeda-beda namun keseluruhannya mampu menampilkan satu konsep dan visi yang
utuh.”
Apa maksudnya kumpulan kitab suci? Dari Zabur sampai Injil? Jika itu yang
dimaksud, Al-Qur’an yang paling tegas mengakui isi ketiga kitab suci sebelumnya, dan
seperti saya kemukakan di atas sebelumnya, pengakuan itu secara eksplisit ada dalam Al-
Qur’an.
Lalu tentang “kelompok manusia yang berbeda-beda”? Beda apanya? Karakter?
Niat? Motif? Apa konsep dan visinya?

“Alkitab itu dikarang pada waktu-waktu tertentu, dan pengarang-


pengarangnya memang manusia juga, yang terpengaruh oleh keadaan
waktunya dan oleh suasana di sekitarnya dan oleh pembawaan
pengarang itu sendiri. Naskah-naskah asli dari Kitab Suci itu sudah
tidak ada lagi. Yang ada pada kita hanya turunan atau salinan. Dan
salinan itu bukannya salinan langsung dari naskah asli, melainkan
(salinan) dari salinan dan seterusnya. Sering di dalam menyalin Kitab
Suci itu terseliplah salah salin."7

Sejak awal tulisan, yang paling dominan Anda tegaskan adalah doktrin ketuhanan
Yesus? Itukah konsep dan visinya? Tahu apa Daud soal Yesus? Tahu apa Musa soal
Yesus? Anda tahu konsep dan visi Islam, yang juga ada dalam Injil yang saya kutipkan di
atas? Kita kutip ulang : “Listen, O Children of Israel, the Lord God is but a Single
Lord.” (Mark 12:29). Dalam bahasa Al-Qur’an itu disebut Tauhid. Dalam bahasa
Pancasila itu disebut Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Sekarang perhatikanlah Alquran, fakta-fakta amat jelas menunjukkan bahwa


Alquran hanyalah sebuah karya yang muncul pada satu jaman dan ditulis oleh
satu kelompok manusia. Tidak lebih dan tidak kurang,” kata Anda.

Anda sangat benar dalam hal ini, dan itulah alasannya mengapa Al-Qur’an tetap
terjaga orisinalitasnya sampai detik ini, dan itulah alasannya mengapa PB & PL Anda
menjadi karya yang paling mudah dipalsukan.
Siapa saja yang punya konsep dan visi yang sama dengannya, sebut saja kalau itu
konsep dan visi tuhan, lalu masukkan ke kitab itu. Jika seperti itu logikanya, maka kitab
suci Anda adalah sesuatu barang yang tak kunjung usai, tak kunjung tuntas, sebab siapa
saja boleh menambah-nambahinya asal konsep dan visinya sama.
Saya punya visi ingin membangun Indonesia dengan konsep saya. Anda punya
visi ingin membangun Indonesia dengan konsep Anda. Karena visinya sama-sama ingin
membangun Indonesia, konsepnya disatukan saja, atau dianggap satu? Kalau begitu
teriaklah : Bubarkan partai-partai!
Pada bagian-bagian akhir, Anda mengajak melihat Alkitab (bukan PL & PB lagi
istilah yang Anda gunakan)

“Keseluruhan Alkitab sesungguhnya adalah sebuah narasi besar yang berpusat


pada ide-ide karya keselamatan. Dan hebatnya: materi yangdigunakan untuk
membangun narasi besar ini bukanlah imajinasi TAPI kenyataan sejarah.
Abraham adalah manusia yang hadir dalam sejarah, Yusuf yang membawa
saudara-saudaranya ke Mesir adalah fakta sejarah, kisah keluarnya bangsa Israel
dibawah pimpinan Musa adalah fakta sejarah, Daud dan Salomo juga manusia-
manusia yang eksis dalam sejarah. Demikian juga Yesus Sang Mesias yang
disalibkan dan bangkit adalah suatu kenyataan sejarah. Sungguh luar biasa:
keseluruhan kisah-kisah nyata mereka membentuk sebuah narasi besar karya
keselamatan yang utuh dan sempurna.Pertanyaan kritisnya: siapakah yang mampu
membangun narasi besar semacam ini dengan menggunakan sejarah manusia
sebagai bahannya? Tidak ada satu manusiapun yang sanggup menguasai dan
mengendalikan jalannya sejarah. Dengan demikian akal sehat akan membimbing
kita untuk menerima fakta ini: Tuhan sendirilah yang telah mengarang Kitab Suci
dengan menggunakan sejarah manusia sebagai bahan utamanya dan para nabi
serta penulis-penulis Kitab Suci sebagai pekerja-pekerjaNya.”

7
DN Mulder, Pembimbing ke Perjanjian Lama (TK, TP, 1963) h. 12-13, sebagaimana dikutip dari
Pendapat Para Ilmuwan Non-Muslim tentang Bibel dan Al-Qur’an, pdf. dari Scribd.com.
Satu alinea di atas asli dari Anda. Cuma Anda pun mau mengaburkan sejarah
dengan tidak menyatakan bahwa Muhammad dan Al-Qur’an yang diturunkan Allah
padanya adalah juga kenyataan sejarah.
Anda boleh tidak suka dengan Islam, tapi kalau Anda manusia yang berakal, Anda
tidak bisa menafikan bahwa Muhammad adalah kenyataan sejarah. Itulah yang membuat
kitab suci Anda saya sebut barang yang tak kunjung usai. Anda sendiri adalah kenyataan
sejarah. Kita semua umat manusia adalah kenyataan sejarah. Kenapa Anda sembunyikan
kebenaran itu?
Mohon maaf jika saya kembali meminjam kalimat Anda :

“Dengan demikian dalam komunitas global kehadiran banyak agama dengan


beragam visi sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi. Manusia harus menerima kenyataan
bahwa kemajemukan agama adalah realitas masa lalu yang segera hilang ditelan
perjalanan sejarah. Tugas agama-agama lokal dan parsial sudah saatnya berakhir, untuk
itu perlu kita sampaikan ucapan terima kasih pada agama-agama masa lalu itu dan
menempatkan mereka pada bagian yang cukup terhormat dalam panggung sejarah umat
manusia. Sayang sekali tidak banyak orang yang siap menerima kenyataan ini.”

Dengan fakta-fakta yang saya kemukakan, Anda siap?

Islam Dan Visi Peradaban Global

“Islam tidak memiliki gambaran ideal peradaban manusia yang damai. Ketika
Gereja merujuk Kerajaan Surga sebagai gambaran ideal peradaban manusia, Islam
tidak memiliki rujukan apa-apa untuk visi peradabannya selain peradaban teoritis
yang disebut Darul Islam.

Pertanyaan saya, kenapa Darul Islam Anda sebut peradaban teoretis dan Kerajaan
Surga sebagai gambaran ideal. Itu bukan perbandingan yang sepadan. Yang benar,
katakanlah Darul Islam, yang sesungguhnya sebuah konsep politik, merupakan peradaban
teoretis, maka Kerajaan Surga Anda yang sebenarnya konsep teologi, haruslah aplikatif
atau peradaban yang telah mewujud. Anda sudah mulai rancu dalam memahami konsep
yang Anda buat sendiri. Mungkinkah kerajaan surga Anda terwujud di dunia? Mungkin,
tapi utopis. Mungkinkah Darul Islam terwujud? Sudah! Ini kisah zaman abad pertengahan
Islam tatkala kekuasaan politik umat Islam membentang dari Andalusia sampai Asia
Tengah.
Inilah bukti tentang kepengecutan mayoritas penganut agama Anda di Barat sana
dan ternyata Anda ikuti. Kalau membicarakan Islam selalu mencontohkan Islam yang
disebarluaskan dengan pedang yang berlumur darah, tetapi ketika kolonialisme Barat
memasuki wilayah Asia dan Afrika, disebut bahwa yang menjajah adalah Belanda,
Portugis, Inggris, Italia, Spanyol. Padahal apa motif penjajahan itu? Penyebaran agama
Kristen (termasuk Katolik) yang berlindung atas nama nation-state. Kalau Indonesia
tidak dijajah Belanda dan Portugis, Anda tak pernah tahu Katolikisme. Sekarang, bangga
lagi punya agama yang sama dengan penjajahnya.
Kalau Anda mau obyektif kalimat Anda harus begini : Barat versus Timur-Islam
versus Katolik-Arab versus Eropa. Sebab Anda jangan mengingkari sejarah Indonesia :
Katolik masuk ke Indonesia dengan berlindung di balik baju nation-state kolonialis.
Apakah Islam masuk ke Indonesia dengan tujuan penjajahan? Sejak SD disebut
masuknya dengan tujuan perdagangan sambil menyebarkan ajaran Islam, atau
diistilahkan pacific-penetration. Anda justru yang memutarbalikkan fakta.
Saya sadar saya sedang berhadapan dengan seorang manusia Indonesia yang
sangat terkagum-kagum dengan Barat sebagaimana dibuktikan dengan karikatur-
karikatur yang dimuat, yang karena sedemikian kagumnya sampai kehilangan
kekritisannya terhadap persoalan bangsanya. Seorang pemuja kolonialisme sekaligus
penentang terorisme. Sekian abad dijajah bangsa Kristen atas nama Belanda apa itu
bukan terorisme? Buka matamu, orang buta!
Sejarah Islam terpaksa dikembangkan dengan pedang sebagai bentuk pembelaan
diri terhadap serangan fisik suku Quraisy. Islam tak pernah mengajarkan perang kecuali
untuk kepentingan membela diri, dan itulah yang telah dilakukan oleh Muhammad yang
kami cintai dan kami puji namanya setiap hari dalam ibadah ritual kami.
Muhammad punya kewajiban dari Allah untuk menyebarkan ajaran Islam, dan ia
melakukannya dengan dakwah: menyeru dan mengingatkan. Tapi orang-orang kafir yang
didatanginya marah dan menyerang secara fisik. Tidak ada yang bisa dilakukannya
kecuali membela diri. Bahasa lain untuk membela diri adalah : balas menyerang! Dan itu
jugalah yang dilakukan setiap orang apabila ia diserang. Tak usah Muhammad, si EENS
saja akan membalas apabila dipukul orang. Bukankah Anda lihat saya juga membalas
serangan Anda yang sangat kejam terhadap agama saya?
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi)
janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-
orang yang melampaui batas....Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi,
ketaatan itu semata-mata hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (memerangi kamu)
maka tidak ada permusuhan lagi kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (2 : 190).

Artinya, jika Anda berhenti menyebarkan fitnah dan penghinaan terhadap Islam,
maka saya pun akan berhenti memusuhi Anda. Jika Anda tidak berhenti memelintir ayat-
ayat suci agama kami, sebagaimana Anda lakukan terhadap Q.S. 9: 29) :
Anda kutip : “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan
tidak (pula) kepada hari kemudian…sampai mereka membayar Jizyah dengan patuh
sedang mereka mereka dalam keadaan tunduk”. (Qur’an 9:29)
Apa susahnya Anda kutip utuh, toh ayatnya pendek. Apa maksud Anda
menyembunyikan redaksi : dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh
Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah),
(yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar
jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. Dimana kejujuran Anda
sebagai umat Yesus? Kecuali anda seorang yang plin-plan, tidak punya pendirian, atau
agak pengecut! (Maaf, kalimat terakhir itu punya Anda yang saya pinjam).

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka
dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. (Mat. 28:19).
Dengan semangat yang Anda sebutkan, barangkali doktrin inilah yang
menyebabkan bangsa Indonesia terjajah sekian abad. Sebab orang Belanda menafsirkan
pergilah menjadi jajahlah. Itulah konsekuensi pilihan yang tidak wajib yang Anda
sebutkan.

Pada bagian terakhir, Anda menulis :

“Sementara itu sejak awal sejarah Islam, penyebaran agama selalu diikuti oleh
tindakan ekspansi kekuasaan politik. Entah agama digunakan sebagai alat
kekuasaan atau sebaliknya kekuasaan dijadikan alat bagi penyebaran agama. Yang
jelas tak pernah ada masa yang cukup signifikan dimana Islam dapat berkembang
tanpa bantuan kekuasaan politik. Selanjutnya penerapan hukum-hukum Islam
(syariah) juga membutuhkan dukungan politik. Akibatnya Islam tidak pernah
disebarkan murni sebagai sistem religius, tapi juga sekaligus sistem politik.
Agama dan politik dalam Islam seringkali merupakan satu paket. Tidak percaya?
Tantanglah kaum muslim untuk menyebarkan Islam tanpa bantuan kekuatan
politik (dalam berbagai bentuknya), sampai kiamat mereka tidak akan mampu!”

Terima kasih. Tak usah ditantang. Beginilah jadinya jika diri kita dijadikan
standar dalam menilai pihak lain. Seorang Katolik bernama EENS alias St John of
Damascus (atau of Bandung?) yang punya faham sekularisme, yang gereja urus gereja,
politik urus politik, hendak menyekularkan pula agama orang lain yang nyata-nyata tak
pernah memisahkan urusan pribadi dengan urusan masyarakat. Urusan masyarakat,
caranya? Politik! Kekuasaan!
Cuma itulah hipokritnya. Urusan agama (gereja) terpisah dari urusan negara
(politik), tapi orang-orangnya mencaleg juga; bikin partai juga. Dasaaaar...munafik!

Pada bagian akhir Anda menyebut :


Yang bisa kita lakukan adalah menunjukkan fakta wajah Islam yang sebenarnya
dan sekaligus menunjukkan jalan kebenaran yang sejati, yaitu Katolik yang telah
diciptakan Tuhan bagi manusia sejak jaman Abraham dan keberadaannya tidak
pernah terputus sampai hari ini. Meski ini tidak akan mengubah Islam, tapi
mungkin akan mengubah jumlah pengikutnya sehingga ancaman Islam menjadi
tidak berarti. Lebih dari itu sudah bukan wewenang kita lagi.

Sekali lagi terima kasih. Tulisan Anda menyadarkan saya tentang betapa benarnya
apa yang disampaikan Al-Qur’an tentang Anda :

Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka
ataukah kamu tidak memberi peringatan, mereka tidak akan beriman.(Q.S. 36 :
10)

...Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan


menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena
kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
mereka perbuat.(Q. S. 35 :8)
Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin),
seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat
mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka
tidakkah kamu mengambil pelajaran (dari perbandingan itu)? (Q.S. 11:24)

Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai


suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak
mempunyai sesuatu pegangan," padahal mereka sama-sama membaca Al Kitab.
Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan
mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari Kiamat,
tentang apa-apa yang mereka perselisihkan.(Q.S. 2 : 113)

Pada akhirnya,

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu
mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah
petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka
setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung
dan penolong bagimu.(2 : 120).

Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah,


Tuhan sekalian alam.(Q.S. 6 : 162)

Maha Benar Allah, Tuhanku, dengan segala firman-Nya.