Anda di halaman 1dari 11

PEMANFAATAN SIFAT SABUN DALAM MENURUNKAN TEGANGAN PERMUKAAN AIR

MAKALAH

Mia Tria Novianti Radityo Pangestu Syahrul Mubarak Atika Nurwidyaningtyas

140210120002 140210120050 140210120056 140210120058

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PADJADJARAN 2013

Pemanfaatan Sifat Sabun dalam Menurunkan Tegangan Permukaan Air

1.

Tegangan Permukaan Tegangan permukaan zat cair merupakan kecenderungan permukaan zat cair

untuk menegang, sehingga permukaannya seperti ditutupi oleh suatu lapisan elastis. Selain itu, tegangan permukaan juga diartikan sebagai suatu kemampuan atau kecenderungan zat cair untuk selalu menuju ke keadaan yang luas permukaannya lebih kecil yaitu permukaan datar atau bulat seperti bola, atau singkatnya didefinisikan sebagai usaha yang membentuk luas permukaan baru. Dengan sifat tersebut zat cair mampu untuk menahan benda-benda kecil di permukaannya, contohnya pada silet. Massa silet menyebabkan permukaan zat cair sedikit melengkung ke bawah. Lengkungan itu memperluas permukaan zat cair namun zat cair dengan tegangan permukaannya berusaha mempertahankan luas permukaannya sekecil mungkin.

Gambar 1.1. Tegangan permukaan pada air Pada bagian dalam zat cair, molekul-molekul zat cair mengalami gaya (interaksi) dengan molekul-molekul lainnya dari segala arah. Sedangkan pada bagian permukaan zat cair, molekul-molekul hanya ditarik oleh molekul-molekul lain yang ada di permukaan air dan molekul-molekul yang ada di bawahnya. Hal ini yang menyebabkan permukaan zat cair menjadi tegang.

Gambar 1.2. Molekul-molekul pada bagian dalam dan permukaan zat cair Tegangan permukaan merupakan fenomena menarik yang terjadi pada zat cair (fluida) yang berada dalam keadaan diam (statis). Tegangan permukaan () didefinisikan sebagai gaya (F) per satuan panjang (L) yang bekerja tegak lurus pada setiap garis di permukaan fluida.

Permukaan fluida yang berada dalam keadaan tegang meliputi permukaan luar dan dalam (selaput cairan sangat tipis tapi masih jauh lebih besar dari ukuran satu molekul pembentuknya), sehingga untuk cincin dengan keliling L yang diangkat dari permukaan fluida 2L dapat ditentukan dari pertambahan panjang pegas halus penggantung cincin (dianometer) sehingga tegangan permukaan fluida memiliki nilai sebesar :

dengan : = tegangan permukaan (N/m) F = Gaya (N) L = Panjang permukaan selaput fluida (m)

Tabel 1.1. Macam-macam zat cair dan besar tegangan permukaannya Zat cair yang bersentuhan dengan udara Air Air Air Air Air Air Air sabun Minyak Zaitun Air Raksa Oksigen Neon Helium Aseton Etanol Gliserin Benzena Suhu /oC 0 20 25 60 80 100 20 20 20 -193 -247 -269 20 20 20 20 Tegangan Permukaan /dyne.cm-1 75,60 72,80 72,20 66,20 62,60 58,90 25,00 32,00 465,00 15,70 5,15 0,12 23,70 22,30 63,10 28,90

Tegangan antarmuka adalah gaya per satuan panjang yang terdapat pada antarmuka dua fase cair yang tidak bercampur. Tegangan antarmuka selalu lebih kecil daripada tegangan permukaan karena gaya adhesi antara dua cairan tidak bercampur lebih besar dari pada adhesi antara cairan dan udara.

2.

Detergen Pada umumnya kita mencuci pakaian dengan bantuan air sebagai media

pembersih.

Namun

ternyata

air

mempunyai

tegangan

permukaan

yang

menjadikannya sulit menembus dan membasahi serat pakaian. Selain itu, dibutuhkan

pula suatu bahan yang bersifat non polar untuk mengikat kotoran pada kain pakaian. Sehingga selain menggunakan media air, kita menggunakan bantuan zat-zat pembersih seperti detergen yang akan menurunkan tegangan permukaan air, memperluas permukaannya serta mengikat kotoran yang ada. Struktur molekul dari salah satu komposisi detergen yang membuat detergen menjadi lebih efektif dalam menurunkan tegangan permukaan dibandingkan pelarut non polar lainnya.

Gambar 2.1. Grafik pengaruh tegangan permukan air dengan penambahan surfaktan (sebelum CMC), metanol, etanol, gliserol dan aseton Secara umum, komposisi yang terkandung dalam detergen terdiri dari 3 komponen diantaranya adalah : 1) Surfaktan merupakan zat aktif permukaan yang berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan air dan mengikat kotoran 2) Builder merupakan zat pembentuk yang berfungsi meningkatkan efisiensi surfaktan untuk mencuci dengan cara menonaktifkan mineral penyebab kesadahan air 3) Aditif merupakan bahan tambahan detergen untuk membuat produk lebih menarik, misalnya: pewangi, pemutih, dll, berhubungan langsung dengan daya cuci detergen Surfaktan merupakan suatu molekul dengan rantai hidrokarbon panjang dengan gugus ujung bersifat polar atau ionik. Bagian rantai hidrokarbon dari molekul

ini bersifat hidrofobik dan larut dalam cairan non polar, sedangkan gugus ujung polar/ionik bersifat hidrofilik dan larut dalam air

Gambar 2.2. Bentuk Molekul Surfaktan Berdasarkan klasifikasinya, surfaktan dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu surfaktan yang larut dalam minyak dan surfaktan yang larut dalam air. Surfaktan yang larut dalam minyak adalah senyawa organik yang memiliki rantai panjang umumnya mempunyai gugus polar yang khas seperti COOH, OH, CONH2, NH2, SO3H, SH, dan garam-garam dari gugus karbosilat dan sulfonat. Senyawa-senyawa ini umumnya tidak menurunkan tegangan permukaan cairan, tetapi menurunkan tegangan antarmuka minyak-air. Sedangkan surfaktan yang larut dalam air adalah surfaktan yang ujung ion bersifat hidrofilik seperti surfaktan anionik, surfaktan kationik, surfaktan nonionik atau netral dan surfaktan amfoterik, bergantung pada sifat dasar gugus hidrofiliknya. Berdasarkan muatannya terdapat empat kategori surfaktan, yaitu: Anionik Surfaktan anionik merupakan surfaktan yang dapat membentuk ion negatif atau anion. Contohnya adalah alkyl benzene sulfonate (ABS), linier alkyl benzene sulfonate (LAS), alpha olein sulfonate (AOS). Kationik Surfaktan kationik merupakan surfaktan yang dapat membentuk ion positif atau kation. Contohnya adalah garam amonium.

Non ionik Surfaktan non ionik merupakan surfaktan yang tidak membentuk ion negatif maupun positif sehingga bersifat netral. Contohnya adalah nonyl phenol polyethoxyle.

Amfoter Surfaktan amfoter merupakan surfaktan yang dapat membentuk ion positif maupun negatif. Contohnya adalah acyl ethylenediamines. Namun efektifitas detergen dalam menurunkan tegangan permukaan mulai

berkurang saat penambahan surfaktan telah melewati batas CMC. Critical micelle concentration (CMC) didefinisikan sebagai suatu titik saat konsentrasi berlebih surfaktan dapat menyebabkan terbentuknya koloid Micelle. Penambahan lanjutan surfaktan akan menghasilkan Micelle lebih banyak dari molekul-molekul surfaktan yang telah ada. Micelle tersebut terbentuk karena bagian-bagian polar atau non polar suatu molekul surfaktan berikatan dengan bagian-bagian polar atau non polar dari molekul-molekul surfaktan lain yang ada di sekitarnya sehingga efektivitas kerja surfaktan berkurang baik dalam menurunkan tegangan permukan maupun kemampuan mengikat kotorannya.

Gambar 2.3. Pembentukan Micelle dari molekul surfaktan Selain itu, kenaikan suhu dapat menurunkan tegangan permukaan karena saat dipanaskan molekul-molekul air akan merenggang dan interaksi antarmolekulnya akan mengecil sehingga ketegangan permukaan pada air pun berkurang. Inilah

sebabnya mencuci dengan air hangat akan lebih bersih dibandingkan dengan air biasa.

Gambar 2.4. Grafik pengaruh suhu terhadap tegangan permukaan

3.

Gelembung Sabun Gelembung sabun berbentuk bola karena adanya suatu gaya tarik menarik

yang disebut tegangan permukaan yang menarik molekul-molekul air sekuat mungkin antara sejumlah partikel adalah ketika mereka membentuk sebuah bola. Di antara semua bentuk yang mungkin (kubus, piramida, bongkahan tak beraturan dan lain-lain), bola memiliki luas sebelah luar paling kecil. Setelah melepaskan sebuah gelembung dari pipa tiup atau dari salah satu peralatan lebih modern, tegangan permukaan membuat lapisan tipis air sabun mencari luas permukaan yang sekecil mungkin. Maka terjadilah sebuah bola. Andaikata secara tidak dengan sengaja gelembung diperangkapkan (udara didalamnya), air sabun akan terus menyusut membentuk sebuah titik bola padat, seperti yang terjadi pada air hujan. Akan tetapi udara di dalam mendorong ke arah luar, menahan selaput air. Semua gas memberikan tekanan pada wadah penyimpanan mereka karena mereka terdiri atas molekul-molekul terbang bebas yang terus

membentur apa pun yang menghalangi. Dalam sebuah gelembung, gaya-gaya tegangan permukaan ke arah dalam pada selaput air diseimbangkan dengan tepat oleh gaya mendorong keluar oleh udara dari dalam. Jika ada perbedaan sedikit saja, gelembung akan mengeceil atau mengembang sampai keduanya sama besar. Saat meniupkan udara lebih banyak untuk membuat gelembung lebih besar akan sama dengan menambahkan tekanan udara di sebelah dalam. Yang dapat dilakukan oleh selaput air untuk mengimbangi kenaikan tekanan ke luar adalah memperluas permukaannya. Ini dapat menyebabkan bertambah besarnya gaya-gaya tegangan permukaan ke arah dalam. Maka gelembung itu secara serentak memperbesar ukurannya. Namun dalam proses tersebut selaput air semakin tipis, akhirnya selaput tadi tidak memiliki cadangan air lagi untuk memperluas permukaan. Akibat gelembung pun meletus. Bahan utama gelembung adalah air dan sabun. Sabun, deterjen, dan segala jenis pembersih lainnya selalu terdiri dari 2 bagian. Bagian yang senang dengan air dan bagian yang senang dengan minyak. Pada kasus gelembung, lapisan tipis air dilapisi oleh lapisan tipis sabun. Bagian yang senang air pada sabun akan menangkap molekul air, sedangkan bagian yang senang minyak akan berhadapan dengan udara.

Gambar 3.1. Gelembung sabun Suatu gelembung pecah karena bahan pembentuknya (sabun atau air) menguap. Penyebab lain adalah bersentuhannya gelembung dengan permukaan benda yang kering. Hal ini disebabkan benda kering mengambil bagian dari sabun atau air dari gelembung. Selain itu, gelembung sabun juga dapat pecah saat melawan gaya angin yang cukup kuat.

Gambar 3.2. Gelembung tidak pecah saat ditusuk dengan jarum yang basah Untuk membuat gelembung sabun tahan lama, kita dapat menambahkan gliserin dan corn syrup. Fungsi penambahan dua zat ini adalah untuk mempertebal lapisan gelembung sabun sehingga lapisan air atau sabun tidak mudah pecah karena menguap atau penyebab-penyebab lainnya.

Gambar 3.3 Super soap bubble

DAFTAR PUSTAKA

Isbi. 2010. Apakan Yang Dimaksud dengan Surfaktan. http://webkimia.blogspot. com/2010/10/apa-yang-dimaksud-dengan-surfaktan.html Petrucci, Ralph H., William S. Harwood, F. Geoffrey Herring & Jeffry D. Madura. 2008. Kimia Dasar: Prinsip-Prinsip dan Aplikasi Modern Edisis Kesembilan Jilid 2. Diterjemahkan oleh Suminar Setiati Achmadi. Erlangga: Jakarta Ratna. 2010. Bahan Tambahan dalam Detergen dan Penggunaannya.

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_xi/bahan-tambaha n-dalam-detergen-dan-kegunaannya/ Sinaga, Debora Tresia. 2011. Tegangan Permukaan. http://deboratresiasinaga. blogspot.com/2013/06/tegangan-permukaan.html Suryaningrum, Irnazia. 2012. Mengapa Gelembung Sabun Berbentuk Bulat. http://www.chem-is-try.org/tanya_pakar/mengapa-gelembung-sabun-berbent uk-bulat/ Tang, Muhamad & Veinardi Suendo. 2011. Pengaruh Penambahan Pelarut Organik Terhadap Tegangan Permukaan Larutan Sabun. Institut Teknologi Bandung (ITB): Bandung Tro, Nivaldo J. 2011. Chemistry: A Molecular Approach Second Edition. Pearson Prentice Hall: New York